Imlek dan Atlet Dansa Latin Berprestasi, Tania Christabella Tungka

Perayaan Imlek menjadi salah satu momen yang ditunggu bagi siswi SMAK St Albertus, Tania Christabella Tungka. Atlet Dansa Latin yang bolak-balik mengharumkan nama Indonesia di ranah dunia ini, selalu menunggu momen-momen Imlek, dimana dia bakal berkumpul dengan keluarga, termasuk ayahnya yang sehari-hari bekerja di Cina.
Tania, begitu panggilan akrabnya, memang sangat lihai dalam berdansa. Berbagai prestasi dia raih, mulai dari yang lokal sampai internasional.  Kelas V SD, dia sudah bisa masuk 3 besar lomba dansa di Kuala Lumpur. 3 besar pada kompetisi dansa di Taiwan, Hongkong dan Singapura berhasil dia raih. Juara skala nasional, beberapa kali dia dapatkan. Bahkan, Tania bisa mendapat beasiswa pelatihan dansa selama 2 minggu di Cina.
Meski berprestasi, tetap saja anak tunggal pasangan Lanny Budiani dan Christopher Tungka ini tidak bisa melupakan keluarganya. Apalagi saat momen Imlek.  Dia tinggal di Malang bersama dengan kakek dan neneknya, Lasi Hermanto (75 tahun) dan Yanny Kumala (72 tahun). Bagi gadis yang 4 Mei 2015 mendatang genap berusia 18 tahun ini, kakek neneknya seperti orang tua kedua. Sebab, sejak lahir dia tinggal bersama mereka di Malang.
Sedangkan Mama Tania tinggal di Surabaya sebagai pelatih dansa dan Papanya seorang karyawan swasta pada sebuah perusahaan di Cina. Sesekali Tania pulang ke Surabaya untuk bertemu sang mama. Dia juga menyempatkan waktu bersama mamanya untuk berlatih dansa. Tapi, baru 3 bulan sekali dia dapat bertemu dengan papanya, itupun bisa dilakukan dalam waktu singkat karena sang papa harus cepat kembali ke Cina.
Tania merupakan keturunan Tionghoa tulen dan tak berdarah campuran. Kendati demikian, turun temurun keluarganya sudah tinggal di Indonesia. Tania dan orang tuanya juga seorang Katolik, sedangkan kakek neneknya beragama Budha.
Suasana tempat tinggal Tania dan kakek neneknya di Jl Bareng Tengah, Bareng, Klojen, Kota Malang juga bernuansa Budha. Meski hidup dalam perbedaan, hubungan yang mereka bangun cukup harmonis. Mereka hidup dalam nuansa yang penuh dengan toleransi.
"Bahkan, kadang-kadang nenek mengantarkan saya ke gereja. Saya juga pernah ikut kakek dan nenek kalau sedang melakukan ibadah di Klenteng. Saya ikuti ritualnya, sebagai penghormatan ke leluhur kami. Sebab, saya sadari sekarang sudah jarang anak muda yang melakukan ritual itu," ujar siswi kelas XII IPS 1, SMAK St Albertus tersebut.
Menyambut Imlek ini, ada hal yang tidak akan bisa dilupakan tentang kakeknya. Ya, Imlek 2 tahun lalu merupakan yang paling berkesan baginya. Sebab saat itu Tania mengira akan merayakan Imlek tanpa kehadiran sang kakek. Ternyata prediksinya salah.
Kala itu, kakeknya sempat koma setelah didiagnosa menderita Prostat. Padahal, hanya beberapa hari sebelum tahun baru Imlek. Sambil menunggu kakeknya di RS Panti Nirmala, Tania selalu merasa cemas jika tahun sebelumnya merupakan tahun terakhir dirinya merayakan Imlek bersama kakek tercinta.
"Waktu itu Desember 2011. Natal saya lewati tanpa kakek, tahun baru masehi juga saya lewati tanpa kakek. Tapi suatu keajaiban, beberapa hari sebelum Imlek kakek sembuh. Dia sadar saat dokter memindahkannya dari ruang ICU ke kamar inap biasa. Apalagi menurut kepercayaan kami, bila ada orang sakit yang sembuh saat mendekati Imlek, dia bisa berumur panjang. Saya sangat lega dan senang," jelas gadis berambut panjang ini.
Ya, pengalaman tersebutlah yang tidak bisa dilupakan. Karena itu, sekarang setiap Imlek pasti akan dijadikan momen untuk menghormati kakek dan neneknya yang sejak kecil merawatnya. "Itu tidak akan bisa saya lupakan. Sebab saat itu saya dengan berat hati sudah mau merelakan kakek," jelasnya.
Setiap tahun, Tania juga memiliki malam Imlek yang istimewa. Lima tahun belakangan ini, ia selalu mendapat job untuk berdansa di sebuah perayaan malam Imlek. Namun sebenarnya tawaran itu malah membuatnya kecewa karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Namun pada akhirnya saat malam Imlek tersebut banyak keluarga Tania yang datang untuk melihat penampilannya. Itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya. "Iya, keluarga besar saya banyak yang senang menari. Makanya kalau saya tampil mereka banyak yang menonton. Saya sangat senang dengan itu," kata Tania.
Di hari-H Imlek, dia akan berkumpul bersama keluarga besar untuk menjalih silaturahmi, termasuk dengan kakek dan neneknya. Waktu berkumpul tersebut akan mereka habiskan untuk bercengkerama dan bertukar cerita. Bagi Tania, Imlek merupakan momen yang baik untuk membangun kekeluargaan yang hangat.
Setelah berkumpul bersama keluarga besar, waktunya para keluarga pulang ke rumah. Di sinilah momen yang ditunggu-tunggunya. Dia bersama orang tuanya bisa menghabiskan waktu bersama.  "Saya jarang berkumpul bersama. Kalau pulang ke Surabaya biasanya ketemu mama aja. Itupun kadang-kadang dipakai untuk latihan. Nah, Imlek ini saya bisa ketemu papa juga, dalam waktu yang lama pula. Itu saya manfaatkan untuk berlibur dan bersenang-senang," ucapnya.
Mama dan Papa, lanjut dia, sering bertukar cerita mengenai pekerjaan yang mereka berdua geluti. Tania pun sering berkeluh kesah tentang sekolah dan kehidupan remajanya. Sebisa mungkin, Tania tidak ingin melewatkan waktu bersama keluarganya.
Karena itu, setiap ada kesempatan berkumpul bersama kedua orang tuanya, Tania tak akan menyia-nyiakannya. Mungkin bagi orang lain berkumpul bersama keluarga saat perayaan Imlek itu sudah biasa. Namun bagi Tania, itu menjadi kado tahunan.
"Ya sudah, di luar itu kami makan-makan bersama, bagi-bagi angpao, kadang-kadang ya beri penghormatan kepada leluhur. Memang yang paling saya tunggu, ya saat berkumpul bersama Mama dan Papa. Ini besok (hari ini) saya mau ke Surabaya untuk persiapan show di malam Imlek, setelah itu baru kumpul keluarga," pungkasnya dengan wajah bahagia. (erza/han)