Semarak Bazar Batu Mulia dan Akik di Cafe UM

BAGI para pecinta batu akik, nampaknya bacan dan bulu macan bukan hal yang asing didengar telinga. Ya, kedua batu ini sekarang sedang banyak digemari masyarakat. Termasuk di Malang, keduanya menjadi incaran para kolektor, sampai pemuda yang sekadar ingin bergaya.

Hal  tersebut  di Bazar Batu Mulia dan Akik, Café Universitas Negeri Malang (UM), Jl Veteran, Kota Malang, kemarin (21/2/15). Sejumlah penggemar dan pecinta batu akik, mengerumuni  stan-stan koleksi batu akik yang berjejer di sana. Ada ratusan jenis batu yang dipamerkan dari para pengrajin, penjual sampai kolektor semata.
Tapi diantara seluruh jenis batu tersebut, bacan dan bulu macanlah yang paling digemari. Keunikan kedua batu ini bisa membuat mata pemburu batu akik silau. Bacan merupakan batu berwarna hijau dari Sulawesi. Ciri-ciri batu tersebut, bila di laser corak air dan minyak akan tampak dari batu tersebut.
Sedangkan batu jenis bulu macan, digemari karena keunikan batu yang memiliki corak loreng seolah bulu macan ini. Batu bulu macan, berserat seperti emas. Sekarang, batu asal Jawa Timur ini mulai digandrungi, tapi keberadaannya sekarang sudah langka.
Harga kedua batu tersebut sangat beragam, mulai dari ratusan ribu sampai puluhan juta. Bagi para pengrajin, penentuan harga batu ini sesuai dengan selera konsumen atau pembeli. Seperti misalnya Retno Dwi Astuti, penjual batu akik di Singosari ini mengaku pernah menjual batu bacan dengan harga yang sangat tinggi.
"Waktu itu saya jual bacan ke orang sampai Rp 25 juta. Pembelinya memang sangat antusias," ujar Retno kepada Malang Post saat sedang menjaga stan batu akiknya, kemarin. Ditambahkan, dia juga pernah menjual bulu macan dengan harga di atas Rp 4 juta.
Penjual sekaligus pemilik stan lainnya, Ahmad Ja’far juga mengatakan kalau harga batu akik ini tidak bisa ditentukan. Terkadang, kata Ja’far, batu jelek sekalipun bisa dihargai mahal bila pembeli memang suka. Meski begitu, para pemburu dan pembeli juga harus jeli dalam memilih batu akik. Sebab, bisa-bisa malah mendapat batu akik palsu.
Ja’far mengatakan, untuk mengetahui mana batu akik asli dan palsu, bisa dilihat saat batu tersebut disorot senter. Jika saat disorot batu menyala, tandanya batu tersebut asli. Bila tidak, artinya palsu. "Semakin menyala, harganya semakin mahal," ungkap Ja’far.
Ketua Panitia Bazar, Agus  tersebut mengatakan, batu akik zaman sekarang memang sedang ngetrend di berbagai kalangan. Padahal, banyak masyarakat menganggap kalau batu akik ini hanya digunakan oleh para dukun. Namun kenyataannya sekarang tidak demikian, para pemuda berusia 20 tahun ke atas saja sudah banyak yang minat.
"Ya banyak digemari. Fungsi juga berubah, dulu fungsinya mensugesti batu tersebut untuk melindungi diri pemakai, keluarga dan lainnya. Sekarang, karena banyak digemari jadi banyak yang mengkomersilkan," ujar Agus.
Meski begitu, dia tidak masalah dengan komersialisasi batu akik ini. Hanya saja, dia berharap agar masyarakat bisa melestarikan batu akik yang berasal dari kekayaan negara. "Saya harap pemerintah juga tidak menggolongkannya sebagai barang mewah sehingga kena pajak," pungkas Agus. (erza wansyah)