Tidak Menyangka Deni Melakukan Pemukulaan Kepada Anaknya

SUASA duka menyelimuti Jalan Lowokdoro Gang 3, RT 06 RW 04, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun Kota Malang. Salah satu rumah sederhana, yang masuk di dalam gang kecil, merupakan tempat tinggal dari Deni, 32 tahun, ayah yang tega menyiksa anak kandungnya bernama Kasih Rahmadani, 7 tahun hingga meninggal.

Masyarakat sekitar, tampak berbondong-bondong melayat ke rumah sederhana itu. Kebetulan di dalam rumah itu, ditinggali orang tua tersangka Deni, bernama Munali 69 tahun dan Kasiyem, 63 tahun. Dua orang pria paruh baya itu, tampak meladeni dengan sabar, para pelayat yang memadati rumahnya saat itu. Meski baru dirundung duka.
Tetesan air mata, tampak mengucur dari mata Kasiyem, ketika menceritakan kejadian kepada para pelayat. Saat mengetahui kedatangan Malang Post, Kasiyem dengan ramahnya mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Saat itu, Kasiyem mengaku tidak mempunyai firasat apap-apa sebelumnya, terkait bakal terjadinya peristiwa ini.
“Saat ketemu terakhir dengan kedua cucu saya dua hari yang lalu, juga tidak ada perasaan apa-apa,” terangnya kemarin. Dia menjelaskan, selama ini, kedua cucunya itu baik-baik saja. Bila nakal, maka hal itu merupakan suatu yang biasa. Menurutnya, nakal anak-anak seusia tersebut, merupakan nakal yang lumrah. Salah satunya ingin bermain.
Selain itu, tidak pilih kasih maupun perlakuan khsus yang diberikan kedua cucunya itu. Perlakuan yang sama, diberikan dengan 12 cucunya yang lain. Naamun, dia menyoroti anaknya bernama Deni. Apa yang dilakukan Deni, di luar perkiraan sebelumnya. Padahal, dia selama ini dikenal baik dan pendiam.
Namun, Munali tidak menampik, ada sesuatu yang berbeda, usai tersangka pulang dari Sulawesi tersebut. “Dia kan selama setahun ini, sudah ditinggalkan istrinya tanpa alasan yang jelas. Dia juga tidak tahu dimana istrinya tersebut. Mungkin saja, ini adalah penyebab utamanya,” terang bapak yang mempunyai delapan ini.
Dijelaskannnya, Deni merupakan anak keempat dari delapan anaknya yang lain. Dia juga dikenal pendiam. Serta bila terdapat masalah, disimpan sendiri. Meski sudah melakukan perbuatan keji itu, dia tetap memaafkan anak kesayangannya itu. Dia berharap kepada Deni, supaya mengambil hikmah dari peristiwa ini.
“Sebagai orang tua, tentunya tetap memaafkan. Bagaiamanpun itu juga, dia adalah anak saya,” imbuhnya. Sedangkan jenazah dari Kasih Rahmadani, sudah dikuburkan pada Sabtu (21/2) malam, usai dilakukan otopsi. Jenazah dimakamkan di Tmpat Pemakaman Islam, yang tidak jauh dari rumahnya tersebut.
Sedangkan anak lainnya dari tersangka yakni Dina Marselina, masih ikut bersama kakek neneknya. Dia juga sempat merasakan penyiksaan berupa pemukulan dari ayah kandunga tersebut. Bahkan, dia melihat adiknya dipukul membabi buta. Perisitwa yang dialaminya, membuat Dina mengalami trauma.
Untuk itu,. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang, memberikan pendampingan dan perlindungan terhadap saksi serta korban. Menurut Pendamping P2TP2A Kabupaten Malang Ummi Khoirotin, siap melakukan pendampingan terhadap Dina Marcelina.
“Kami sudah diminta UPPA Satreskrim Polres Malang, melakukan pendampingan kepada korban tersebut,” ujarnya terpisah. Sedangkan pengembalian psikis dan trauma dari korban tidak mudah. Karena dapat dipastikan, korban mengalami trauma yang berlebihan. Korban diperkirakan takut terhadap laki-laki.
Karena telah melihat perbuatan membabiu buta yang dilakukan oleh ayak kandungnya tersebut. “Untuk itu, perlu dilakukan trauma helling untuk menyembuhkannya. Hal ini tentunya tidak mudah. Selain itu, selama terapi, harus dilakukan pendampingan langsung oleh keluarganya,” terang wanita berjilbab ini.
Sedangka pihaknya siap memberikan pendampingan itu, hingga korban benar-benar sembuh total. Hingga tidak mengalami trauma berlebihan dan ketakutan yang tinggi. (Binar Gumilang)