Dapat Julukan karena Selalu Bawa Oleh-oleh Gethuk

TAK ADA Aremania yang tidak mengenal sosok Joko “Gethuk” Susilo. Dia adalah legenda hidup Arema yang sampai saat ini masih mengabdi kepada klub berjuluk Singo Edan. Meski demikian, lika liku perjalanan karir dari pemain hingga jadi pelatih tidak banyak diketahui Arek-Arek Malang yang baru lahir medio 2000-an. Berikut, cerita penuh tawa dan sedih dari sosok Gethuk.
 
Pertandingan sepak bola era Galatama konon keras dan penuh dera. Hanya ada dua tipikal pemain yang bisa bertahan dalam sepak bola zaman dulu. Pemain yang keras, kuat dan tidak gentar bertarung seperti defender garang Kuncoro atau pemain lincah, gesit dan cerdik layaknya winger I Made Pasek Wijaya. Ada satu nama lagi yang masuk dalam kategori pemain yang kedua, yakni Joko “Gethuk” Susilo.
Pada masanya, Gethuk adalah pemain yang lincah dan gesit. Dia berposisi sebagai striker. Pelatih kelahiran Cepu itu dikaruniai kecerdikan dalam menghadapi defender-defender yang lebih besar, kasar dan kuat. Pada masanya, Gethuk mendapat julukan super-sub, karena kalah pamor ketimbang striker Arema saat itu, Singgih Pitono.
Gaya mainnya, konon hampir mirip dengan striker Arema saat ini yang juga berjuluk super-sub, yakni Sunarto. Meski demikian, karir Gethuk tidak berawal dari Arema. Dia mengawali karir junior di Blora. Pelatih kelahiran 12 September 1970 tersebut tumbuh dalam bayang-bayang Arseto Solo serta Petrokimia yang jadi tim Galatama paling top di Jawa Timur dan Jawa Tengah saat itu.
Tahun 1989, dia masuk tim menengah dari Surabaya, Niac Mitra. Dua musim lamanya, Gethuk menimba ilmu sepak bola dari Niac Mitra. Tahun 1991, Gethuk beralih ke Mitra Surabaya selama satu musim saja. Nama Joko Susilo saat itu masih belum dikenal dunia sepak bola nasional. Baru pada tahun 1992, Gethuk masuk ke klub kebanggaan Kota Malang, yang awalnya dilatih M Basri.
Dari situ, nama Joko Susilo mulai melambung. Terutama, setelah M Basri pergi dari Arema, dan diambil alih oleh Gusnul Yakin. Meskipun tak seproduktif Singgih, Gethuk melekat di hati Aremania karena gaya permainannya yang seperti kancil, cerdik dan sulit ditebak. Bukan rahasia lagi apabila Sunarto, striker Arema sekarang dipadankan dengan gaya main Gethuk pada masa kejayaannya bersama Arema juara Galatama 1992.
Gethuk yang diwawancarai Malang Post di mess Arema Jalan Buring, mengakui, kondisi Arema saat itu tidak seenak sekarang. “Gaji mana pernah lancar. Makan pun seadanya. Nasinya banyak, sambelnya satu cowek besar, sedangkan lauknya tempe yang dijatah untuk setiap pemain, hehehe,” tandas Gethuk sembari mengenang masa lalunya bersama Arema.
Gethuk pun membeberkan, kondisi Arema saat juara Galatama begitu pas-pasan meski diperkuat pemain-pemain hebat semacam Mecky Tata, Imam Hambali, Kuncoro, Singgih Pitono hingga Aji Santoso. Kondisi tim Arema era Galatama, menyedihkan. Selain gaji yang tidak jelas, bus pemain punya kondisi buruk.
“Atap bus sering bocor kalau kena hujan. Saat tur, kita sering pakai bensin campur dorong untuk sampai di tempat tujuan. Kalau minyak oli bus habis, kita ganti dengan air sabun atau minyak goreng. Pintu bis lepas, kaca depan pecah, sampai-sampai supir pakai helm kalau nyetir, haha,” kenangnya.
Bonus jadi juara Galatama pun tidak sementereng namanya. Uang total juara hanya Rp 250 ribu. Hadiah TV tidak untuk semua pemain. Selama empat tahun lamanya, Gethuk membangun reputasi sebagai striker pujaan Aremania yang berjiwa singa. Panggilan Gethuk pun didapat saat berkostum Arema.
Ceritanya, Joko Susilo masih pulang kampung ke Cepu ketika kompetisi libur. Saat kembali ke Malang, Joko selalu membawa gethuk sebagai oleh-oleh untuk para pemain dan ofisial tim. Karena sering membawa oleh-oleh gethuk, akhirnya Joko Susilo mendapat julukan Gethuk sampai sekarang.
Setelah empat tahun berkostum Arema, nama Gethuk mulai diperhitungkan di kancah sepak bola Indonesia. Tahun 1996 ia hijrah ke PSM Makassar. Dia sempat tampil di Liga Champion Asia. Tahun 1997, dia berpindah ke Persija Jakarta. Namun, karena reformasi dan kerusuhan, kompetisi mandeg.
Setelah kerusuhan reformasi mereda, Gethuk pulang kampung ke kota yang membesarkan namanya, Malang. Dia berkostum Arema hingga tahun 2003, dan pensiun sebagai pemain Arema. “Saya tidak pernah bisa berhenti berterima kasih kepada klub ini, suporter Aremania, dan orang-orang yang memberi saya kesempatan main bola di Arema. Karena itu, saya rasa tidak ada tempat bagi saya selain hidup di Arema. Selama saya kuat, saya akan mengabdi buat klub ini,” tambahnya.
Pengalamannya sebagai pemain, membuatnya makin matang sebagai pelatih. Karena punya bakat sebagai pelatih, dia cepat menangkap ilmu dari pelatih-pelatih senior, semacam M Basri, Gusnul Yakin, Daniel Roekito, Henk Wueillem hingga Suharno. Dia juga sudah magang kepada pelatih-pelatih top seperti mendiang Miroslav Janu, Robert Albert hingga Rahmad Darmawan.
Kini, setelah menyerap ilmu-ilmu dari para pelatih jempolan, Gethuk siap mencurahkan energi dan hidupnya agar Arema tetap berjaya di kompetisi sepak bola Indonesia.(fino yudistira/han)