Asah Jiwa Wirausaha Siswa, PD Berjualan di Kelas

Menengok Business Center SMKN 1 Singosari
Sejak 2013 lalu, SMKN 1 Singosari memiliki Business Center,  mirip toko yang menjual berbagai macam produk. Di tempat ini, para siswa belajar menjadi entrepreneur. Mereka tidak sekadar datang dan menjadi pelayan siswa lain yang berbelanja, tapi juga wajib menjanjakan produk yang ada di tempat lain.
Tidak jarang siswa-siswi sekolah tersebut keluar masuk kelas sambil membawa nampan berisi makanan, kue atau produk-produk lain. Penuh percaya diri, mereka menawari satu persatu siswa yang melintas agar tertarik membeli.
Saat menjajakan makanan, para siswa ini tidak merasa rendah diri, bahkan dengan langkah tegap mereka akan mendatangi kerumunan siswa lain, untuk menawarkan produk yang dibawa. “Kalau ditolak sering, maksudnya teman-teman enggan membeli. Tapi kami tetap semangat, toh kami tidak mengeluarkan modal dari kegiatan ini, karena semua produk yang kami bawa dari Business Center,’’ kata Ida Royani, salah satu siswa SMKN 1 Singosari.
Yang membuat para siswa semakin semangat mengembangkan jiwa bisnisnya, karena mereka mendapatkan keuntungan dari setiap kegiatan jual beli yang dilakukan. Ya, nominalnya memang tidak seberapa. “Meski untungnya kecil, tapi kami puas karena dengan jerih payah yang kami lakukan mampu menghasilkan sesuatu,’’ kata Ida tersenyum.
Ida mengatakan, jiwa bisnisnya muncul sejak dia mendapat ilmu kewirausahaan. Saat itu salah satu gurunya mengajarkan tentang bagaimana bisa menjual produk, tentang komunikasi saat berjualan, menghadapi konsumen hingga pelajaran tentang administrasi. Memang ilmu itu tidak bisa langsung diterimanya. Ida dan beberapa temannya wajib melawan rasa malu, saat menjajakan produk pertama kali. Namun upaya itu berhasil, lambat laun, Ida mulai berani.
“Pertama ya berjualan dengan teman-teman, paling tidak dengan dua tiga orang dulu. Tapi lama kelamaan mulai berani, seperti tadi saya menjual makanan ringan sendiri, masuk ke kelas-kelas, dan ke ruang guru. Alhamdulillah laku banyak,’’ kata Ida.
Senada, Yanuar mengatakan keberadaan Business Center sangat membantu, terutama dalam praktik berwirausaha. “Kami beruntung, memiliki gedung ini, karena kami bisa melayani siswa dan masyarakat luar. Dengan gedung dan ilmu yang kami dapat, betul-betul mampu membangkitkan semangat kami untuk berwirausaha,’’ urainya lalu mengatakan, selain berjualan saat jam istirahat, dia juga berjualan setelah pulang sekolah, bahkan di sela-sela belajar kelompok.
“Kalau di sekolah jualannya produk-produk untuk kebutuhan sekolah, kalau pulang sekolah berjualan sesuai yang diminta teman,’’ tambah pemuda yang juga melayani penjualan pulsa ini.
Humas SMKN 1 Singosari  Dra Dijah Nastiti mengatakan, Business Center ini merupakan cita-cita dari sekolah, tidak sekadar memberikan ilmu agar anak tidak hanya sekolah atau kerja setelah lulus, tapi juga memiliki jiwa entrepreneur. “Ya begitu, para siswa ini belajar tidak hanya menuntut ilmu, tapi juga belajar entreprenuer. Tujuannya jelas, begitu lulus nanti mampu berwirausaha dengan baik,’’ katanya. Business Center, dikatakan Dijah, satu struktur dengan koperasi. Hanya saja, jika koperasi hanya melayani siswa, Business Center dibuka untuk umum.
Wanita berkerudung ini mengatakan, Business Center ini didirikan untuk memberikan fasilitas siswa dalam mengaplikasikan keahlian bisnis yang dimiliki. Dia mengakui, problem para usahawan pertama adalah rasa takut. Mulai dari takut modal, takut gagal dan takut ketemu orang. Di gedung yang dikelola oleh SMKN 1 Singosari ini siswa mendapatkan brain wash, sehingga muncul keberanian, percaya diri dan kreativitas.
“Ya itulah salah satu alasan kami mendirikan Business Center. Kami mengajarkan anak-anak untuk berani menghadapi orang lain, dan berani menciptakan sesuatu, untuk kemudian dijual kepada orang lain,’’ tambahnya.
Saat kali pertama berdiri, Dijah mengatakan tidak banyak yang merespon. Para siswa tidak banyak yang tertarik. Bahkan, saat para guru mengajak dan memberikan motivasi, mereka tetap enggan untuk berjualan. Lebih-lebih, mereka mendapat ejekan atau cemohan dari siswa lain, karena berjualan di sekolah.
Tapi itu dulu. Tiga bulan setelah gedung ini berdiri, para siswa mulai berdatangan. Mereka tidak sekadar menjaga, tapi langsung meminta barang untuk dijajakan. Saat ini bisnis yang ada di Business Center kian maju pesat. Bahkan di masa datang, tidak hanya produk luar saja yang dijual, tapi produk dari dalam seperti kerajinan tangan, mananan buatan siswa pun bisa dijual. “Kami ingin yang berbeda, dan menciptakan anak-anak siap berwirausaha,’’ tandasnya.(ira ravika/han)