Tahu Kabar Kematian Suami dari Berita Koran

Sepak terjang Satori dan Luddin, sebagai pencuri spesialis mobil harus berakhir tragis. Mereka tewas di tangan polisi, setelah sebutir peluru masing-masing menembus dada. Keluarga tidak menyangka kalau orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, harus pergi untuk selamanya.

Air mata membasahi kedua pipi Salamah, istri Satori ketika memasuki ruang Forensik RSSA Malang. Wanita berusia 37 tahun ini tidak kuasa menahan kesedihan. Kedua matanya memerah karena terus menangis.
Namun ibu dua anak ini berusaha tegar menghadapi fakta yang terjadi. Termasuk Sari, 16 tahun, putri sulung dari dua bersaudara Satori, yang kemarin diajak ke kamar mayat. Siswi kelas XI salah satu SMA di Malang ini, terlihat lebih tabah. Sari yang masih memakai seragam sekolah pramuka, seperti sudah mengihklaskan kepergian ayahnya untuk selama-lamanya.
“Sebetulnya saya tidak ikhlas, karena anak-anak masih membutuhkannya. Sebab dua anak masih membutuhkan biaya sekolah. Yang pertama kelas XI SMA dan yang kedua kelas IV SD (10 tahun, red),” ujar Salamah, sembari mengusap air matanya.
Salamah yang memakai baju warna kuning kotak-kotak ini, mengetahui kematian suaminya dari berita koran, pagi kemarin. Warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Malang ini, lalu meminta tolong kakaknya, Sukri untuk mengecek kebenarannya. Saat dicek di Polres Malang Kota dan kamar jenazah RSSA Malang, ternyata benar Satori yang ditembak mati polisi adalah suaminya.
Ia pun langsung mengajak anak sulungnya Sari, untuk pergi ke kamar jenazah RSSA Malang. Salamah mengaku sangat kehilangan suami tercintanya. Terlebih sebelumnya, ia sama sekali tidak memiliki firasat apapun.
Sekalipun Satori jarang pulang ke rumah, namun di mata Salamah, suaminya merupakan ayah yang bertanggung jawab. Ia tidak lupa dengan kewajibannya sebagai ayah dengan menafkahi anak-istrinya.
“Selama ini, dia (Satori, red) memang jarang pulang. Karena istrinya memang banyak. Setahu saya ada tiga, dan saya istri pertama yang memiliki anak. Kalau pulang ke rumah sebulan sekali, itupun tidak sampai lama. Setelah memberi uang pada anak-anak, langsung pergi lagi,” terang ibu Haekal ini.
Soal pekerjaan, Salamah menuturkan sama sekali tidak tahu. Ia justru mengatakan suaminya seorang Lurah di Tlanakan Taruhan, Pamekasan Madura. Namun ketika dikroscek ke pihak keluarga lain, yang menjadi Lurah adalah adik Satori, yakni Samiin. Tetapi Satori diketahui selalu aktif di pemerintahan desa.
“Saya terakhir komunikasi lusa lalu (Kamis, red) melalui telepon. Itupun tidak lama hanya sekitar satu menit menanyakan kabar anak-anak saja. Saya merasa sakit dan tidak percaya jika suami sampai melakukan pencurian mobil,” tuturnya.
“Kami sebagai keluarga sudah mengikhlaskan. Selama ini memang kami jarang bertemu, mungkin karena dia (Satori) sedang sibuk. Sebelum kejadian ditembak ini, dulu Satori memang pernah ditahan di Polres Malang Kota karena kasus curanmor. Setelah itu bebas dan berhenti, saya tidak tahu lagi kalau ternyata masih mencuri,” sambung Sukri, kakak ipar Satori.
Sama halnya dengan keluarga Luddin, mereka mengetahui kematian Luddin dari berita koran. Untuk memastikan kebenaran, keluarga langsung mengecek ke kamar jenazah. Luddin meninggalkan seorang istri bernama Saniti, serta tiga anak.
“Kalau kesehariannya (Luddin, red) tidak tahu karena tidak serumah. Tetapi saya melihat orangnya sangat baik. Untuk istri serta anak-anaknya, saat ini kondisinya shock setelah mendapat kabar kematian suaminya,” papar Suliha, kakak Luddin yang mengurusi jenazahnya di kamar mayat.(agp/han)