33 Tahun Konsisten Membuat Baju Pentas Tradisional

PEMBUAT baju tradisional yang dipergunakan untuk pementasan di Kabupaten Malang saat ini sudah sangat jarang. Salah satu yang masih bertahan adalah Warsito Wibowo asal Dusun Karangtengah Desa Glanggang Kecamatan Pakisaji. Dia menekuni pembuatan baju tradisional itu, selama 33 tahun. Bahkan karyanya mampu menembus Korea Selatan.

Seorang pria paruh baya sedang asyik meyulam sehelai kain, di rumah sederhana di Dusun Karangtengah Desa Glanggang Kecamatan Pakisaji. Dia adalah Warsito Wibowo. Jari jemarinya lihai menghiasi selembar kain warna hitam. Pria 60 tahun ini dengan seksama juga memasukan manik-manik di sehelai benang.
Lalu, dia menempelkan manik-manik itu di selembar kain berwarna hitam yang sedang dia sulam. Aktivitasnya terhenti, ketika mengetahui kedatangan wartawan Malang Post. Dengan ramah, Warsito mempersilakan Malang Postr masuk di rumahnya yang sederhana itu. Ia pun mulai mencerikatakan awal mula membuat baju tradisional dengan penuh semangat.
“Sejak tahun 1982, saya telah membuat baju tradisional ini. Karena sejak dulu, saya senang dengan benda dan kesenian tradisional,” ujarnya kepada Malang Post. Jenis baju tradisional yang dibuatnya adalah pakaian luduruk, pakaian jaranan dan pakaian ketoprak. Selain itu, beberapa aksesoris tradisional sebagai pendukung juga dia buat sendiri. Seperti blangkon, jarik, sanggul, konde, dan penak pernik khas Jawa lain. Namun fokus utamanya adalah pembuatan pakaian tradisional.
“Khususnya pakaian tradisional yang dipergunakan untuk pementasan. Seperti tarian, ludruk dan jaranan. Saya juga pernah membuat baju untuk pengantin,” papar kakek satu cucu ini.
Untuk membuat baju tradisional, ia bisa menghasilkan 10 pieces dalam waktu lima hari. Itupun, tergantung dari kesulitan bentuk yang diinginkan oleh pemesannya. Namun, untuk sanggar yang memesan banyak, dibutuhkan waktu pembuatan baju tradisional selama 1,5 bulan hingga dua bulan.
Sedangkan bahan pembuatannya terdiri dari kain batik, manik-manik, monte, bludru, deker dan bluci. Semua bahan itu didapatkan Warsito di Pasar Tradisional. “Biasanya saya membeli bahan baku pembuatannya di Pasar Besar Kota Malang. Kalau bahan bakunya sedang kosong, saya harus pesan terlebih dahulu,” terangnya.
Selain sanggar pementasan, penari, dalang hingga pengoleksi memesan baju tradisional butannya. Bahkan karyanya itu, telah banyak dipesan hingga luar pulau. Seperti Samarinda, Balikpapan, Palembang, Bontang hingga Jayapura Papua. Tidak cukup itu saja, karyanya juga pernah tembus hingga Korea Selatan.
Salah satu pemilik perusahaan PJTKI, lanjutnya, memesan baju tradisional buatannya itu untuk dikirim ke Korea Selatan. “Yang memesan namanya Bu Lestari. Katanya untuk pertunjukan ketoprak dan tari topeng di Korea Selatan. Juga sebagai oleh-oleh para TKI yang sedang kerja di sana,” kata pria asli Glanggang ini.
Meski menghasilkan suatu karya yang luar biasa, ada sesuatu yang menjadi ganjalannya saat ini. Yakni keberlangsungan dari pembuatan baju tradisional ini. Diperlukan regenerasi untuk pembuataannya. Karena dia tidak bisa seterusnya membuat baju tradisional ini. Dia khawatir, akan menghilang seiring dengan perkembangan zaman seperti sekarang. “Kami harap peran pemerintah mengalokasikan dana, untuk pembibitan generasi muda dalam hal kerajinan tradisional. Dengan begitu, keberlangsungannya akan tetap terjaga,” harapnya.
Selama ini, menurutnya, pemerintah sudah mengimplmentasikan untuk menjaga kesenian dan kerajinan tradisional. Namun, usahanya belum maksimal. Dia berharap, pemerintah terus berupaya mengembangkan kerajinan dan kesenian tradisional.
Warsito juga berpesan kepada pemuda untuk mau mencoba kerajinan dan kesenian tradisional. “Sesuatu yang tradisional, tida harus kuno dan jadul. Boleh dimodifikasi lebih menarik maupun lebih modern lagi. Asal, tidak mengubah secara ekstrem hingga mempunyai citra negatif,” pungkasnya. (Binar Gumilang/han)