Trauma Lihat Adegan Perang dan Darah, Bercita-cita Jadi Dokter

Martin, 49 tahun warga Lowokdoro, kelurahan Kebonsari, kecamatan Sukun, Kota Malang tak bisa melupakan kenangan sesaatnya bersama Dina Marselina, 8 tahun, kakak kandung Kasih Ramadani, anak berusia 7 tahun yang menjadi korban pembunuhan sadis sang ayah. Ibu dari tiga anak ini, merupakan wanita yang menemani Dina tidur pada malam sebelum Dina dijemput Dinas Sosial (Dinsos) Malang dan dibawa ke tempat tinggal barunya.
"Tadi malam saya tanya, kalau sudah tinggal sama Walikota (HM Anton), terus disekolahkan, Dina mau jadi apa? Terus Dina jawab, katanya mau jadi dokter. Lucu sekali waktu dia menjawab itu. Yah, saya doakan saja dia sukses dan jadi anak sholehah," ujar Martin saat mengingat kembali percakapannya bersama Dina Marselina pada Senin (2/3/15) malam lalu, menjelang tidur.
Martin yang rumahnya tepat berada di timur rumah kakek-nenek Dina, Munali dan Kasiyem, memang selalu menjadi tempat singgah Dina saat dia bosan berada di rumah kakek dan neneknya. Bahkan, beberapa hari ke belakang, sejak kasus pembunuhan adik kandungnya, Dina lebih sering bermalam di rumah Martin ketimbang kakek neneknya.
Sebelumnya, Martin dan suaminya Tulus, 53 tahun, sempat mengasuh adik Dina, Kasih Ramadani sekitar 1,5 tahun. Karena itu, ketika mengetahui Kasih menjadi korban pembunuhan ayahnya sendiri, Martin dan Tulus kaget dan langsung membawa Dina ke rumahnya. Sejak saat itulah, hubungan Dina dan Martin menjadi lebih akrab.
Menurut Martin, Dina memang terkesan pendiam. Tapi dibandingkan dengan adiknya, Dina lebih banyak bicara. Martin yang juga membuka toko bangunan ini mengaku, setelah kasus yang menimpa adiknya, Dina sering datang ke dia untuk menemaninya menjaga toko, sambil sesekali bercanda.
Martin sendiri mengaku sudah tahu jika kemarin (3/2/15) Dina akan dijemput Dinsos. Sebab, pada Senin malamnya beberapa orang Dinsos memang sudah mengajak keluar Dina untuk membelikan seragam SD untuknya. Martin mengatakan, setelah diajak keluar oleh Dinsos, Dina teriak-teriak kepusingan.
"Katanya kepalanya pusing, pusing banget, sambil teriak-teriak begitu. Tapi itu tidak lama, kalau kami duga ya karena Dina ini kan tidak biasa naik mobil ber-AC. Waktu diajak beli seragam, dia naik mobil AC, makanya dia mengaku pusing. Mungkin mabuk," kata Martin seraya tersenyum kecil, mengingat kejadian tersebut.
Sebenarnya, kata Martin, dia dan suaminya Tulus, sudah khawatir dengan kondisi psikologis yang dialami Dina. Martin dan Tulus beberapa kali melihat Dina melakukan tingkah aneh yang menunjukkan dia trauma. Kejadian terakhir yang mereka ingat adalah saat Dina menonton TV di rumahnya Senin lalu. Saat itu, Dina menonton film Mahabarata sendirian.
Mulanya, Martin dan Tulus membiarkan saja Dina menonton film asal India tersebut. Tapi, tidak lama kemudian mereka dikejutkan dengan posisi Dina yang memojok ke dinding dan tampak ketakutan. Ditanyai kenapa, sambil terus membuang wajahnya dari TV Dina berkata "Tadi ada perang, terus ada darah-darah," kata Martin menirukan Dina. "Mungkin dia trauma, soalnya waktu ayahnya pukul kasih, Dina ada di lokasi," lanjut Martin.
Tulus juga mengakui kekhawatirannya terhadap trauma yang dialami Dina. Karena itu, Tulus berterima kasih kepada Dinsos karena sebelum dibawa ke tempat barunya, Dina dibawa lebih dulu diajak ke psikolog untuk mendapatkan penanganan. Tulus mengatakan, dirinya selalu teringat Kasih, saat melihat Dina.
"Mirip, tingkah lakunya juga mirip.Tapi, Dina lebih banyak bicara daripada Kasih. Kalau kasih pendiam. Dua-duanya sama-sama baik dan pintar. Bahkan, ibu (Martin) sering salah panggil. Kadang-kadang, Dina dipanggil Kasih oleh Ibu," kata Tulus sambil tertawa kecil.
Kini, setelah Dina dibawa ke tempat tinggalnya yang baru bersama Walikota Malang HM Anton, Martin dan Tulus berharap, Dina bisa menjadi anak sholehah dan lebih pintar. Apalagi, Dina akan melanjutkan sekolahnya. Sejak Dina sering tinggal bersama keluarga Tulus, Dina sudah diajarkan bolak-balik tentang menulis dan dia bisa.
"Saya yakin, nanti dia akan jadi anak yang sukses. Kita sudah ajarkan dia apa-apa disini, semuanya bisa," kata Tulus. Martin menambahkan, "Saya tadi malam (Senin) juga sempat berpesan kepada Dina, kalau kangen Umi (panggilan Dina ke Martin), minta ke pak Wali untuk diantar ke sini. Kalau nanti saya kangen Dina, saya yang akan main ke sana. Pokoknya, saya berpesan ke Dina kalau dia jangan lupa sama kami sekeluarga di sini. Dia pun mengangguk-angguk," kata Martin mengharu biru.
Sekarang, Dina tinggal di tempat tinggal barunya. Hanya saja, istri Abah Anton, Hj Dewi Farida Suryani enggan mempublikasikan dimana tempat tinggal Dina yang baru. Sebab, berdasarkan saran dari psikolog, sementara ini Dina tidak boleh menjadi pusat perhatian masyarakat.
Sementara suasana di rumah Munali dan Kasiyem masih hening. Kasiyem enggan memberi komentar banyak mengenai Dina. Sebab, dia masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpa keluarganya. Kasiyem bahkan mengaku tidak bisa tidur selama 3 hari karena kepalanya pusing.
Biasanya, kata Kasiyem, Dina menjadi teman main anaknya yang terkecil yang masih duduk di kelas VI SD, Diki Sarif Ramadhon. "Biasanya ya sama dia (Diki). Saya tinggal disini cuma sama bapak (Munali) dan dia (Diki),"katanya.
Sedangkan Munali sendiri, juga tak berkomentar banyak mengenai penjemputan Dina oleh Dinsos Malang. Saat Malang Post mendatangi kediamannya kemarin, Munali mengaku sedang sakit. "Saya sedang darah tinggi dan habis ini harus istirahat dulu," pungkasnya.
Meski begitu, pada Sabtu (28/2/15) lalu, keduanya sempat mengatakan mereka berdua senang karena Walikota Malang HM Anton dan istrinya Hj Dewi Farida Suryani mau mengasuh Dina. Dia berharap, dengan pengasuhan tersebut masa depan Dina lebih terjamin. "Kapolsek (Sukun) sama Pak Camat (Sukun) juga menawarkan, tapi Dina menolak, Waktu Walikota yang mengajak, dia mau," kata Munali Sabtu lalu. Dina sendiri pada hari yang sama, juga mengatakan dia mau tinggal bersama Abah Anton. "Kalau sama pak Wali, mau," kata Dina singkat. (muhamad erza wansyah/han)