Terapkan Ilmu Lepaskan Sapi, Mampu Tingkatkan Produksi Susu

Edy Hayatullah, Peternak Sapi Perah Penerima Beasiswa Fonterra

Selandia Baru dikenal sebagai negara yang sangat memperhatikan peternak, terutama peternak sapi perah. Karena itu, satu keuntungan besar bagi peternak asal Indonesia yang bisa belajar ke sana, untuk mendapatkan ilmu beternak sapi perah yang bagus, sehingga bisa menghasilkan susu berkualitas. Salah satu yang beruntung adalah peternak asal Kota Malang, Edy Hayatullah yang tahun lalu belajar selama lima pekan di New Zealand, sebagai penerima beasiswa Fonterra Dairy Scholarship.

Edy menerima beasiswa setelah mendaftar ke Dirjen Peternakan Kabupaten Pasuruan karena peternakan sapi perahnya berada di Nongkojajar, di kawasan lereng Gunung Bromo. “Saya mendaftar di Pasuruan, karena peternakan saya di sana,” ujar ujar pemilik Edfarm ini, mengawali cerita.  
Menurutnya, dia harus melalui beberapa persyaratan untuk menerima beasiswa tahunan hasil kemitraan antara Fonterra dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI.  Edy bersaing dengan 100 lebih peternak dari seluruh Indonesia hingga akhirnya dia terpilih menjadi salah satu dari 10 peternak sapi perah yang berhasil berangkat ke Selandia Baru.
“Untuk Jawa Timur, ada dua yang mendapatkan beasiswa. Satu lagi dari Jember,” ungkapnya.
Pasca bersaing dengan 100 orang, seleksi masih berlanjut. Tahap kedua, menurut pria berusia 35 tahun ini, dia harus bersaing dengan 20 peternak, hingga akhirnya 10 orang yang berangkat. “Tahun kemarin, yang berangkat 10 peternak dan dua petugas lapangan,” tambah dia bangga.
Sebelum berangkat ke Taratahi Agriculture di Selandia Baru tempat menimba ilmu beternak sapi perah, Edy terlebih dulu belajar di Baturaden, Jawa Tengah selama tujuh minggu. Secara keseluruhan, dia mesti meninggalkan Kota Malang sebagai tempat tinggalnya selama 12 minggu. Tetapi, beasiswa itu berlangsung dua tahap.
“Yang di Baturaden mulai April. Setelah itu pulang untuk libur puasa dan berlanjut ke Selandia Baru setelah lebaran dan berakhir di Oktober 2014,” papar Edy kepada Malang Post.
Menurutnya, banyak hal yang dia dapatkan dari Fonterra Dairy Scholarship, baik ketika belajar di Indonesia maupun di luar negeri. Setelah belajar, dia pun dengan cepat mengaplikasikan pada ternak yang dia tinggalkan kepada warga di Nongkojajar, begitu kembali ke tanah air. Mulai dari Desember 2014, dia mengubah gaya beternak sapi perahnya, dengan tujuan mendapatkan hasil perahan yang lebih banyak dan berkualitas.
“Saya langsung coba aplikasikan pada ternak saya. Beberapa sapi saya usung kembali ke Edfarm, dan beternak seperti di Selandia Baru, walaupun tidak full seperti di sana,” urai dia panjang lebar.
Ya, dia mengakui tidak bisa 100 persen meniru model peternakan sapi perah di negara yang terkenal dengan produksi buah kiwi tersebut. Pasalnya, dia terhalang dengan pembagian musim di Indonesia, serta lahan yang luas untuk melepaskan ternak. “Paling yang susah dengan penghitungan musim. Di New Zealand terbagi empat musim, sedangkan di Indonesia hanya dua,” imbuh suami dari Alfi Rahmawati tersebut.
Dia menceritakan, di New Zealand, peternak sapi sangat dihargai dan yang menjadi peternak merupakan kalangan berduit. Sebab ada ketentuan bagi peternak, yakni harus mendapatkan izin dari pemerintah, lulus dari pendidikan setara S1 dan memiliki lahan yang luas. Lahan tersebut, digunakan untuk melepas sapi dengan bebas dan memakan rumput yang juga dipelihara sang pemilik ternak.
Menurut dia, satu peternak dengan 25 ekor sapi saja, harus memiliki minimal lahan 50 hektar. Bila memiliki 100 ekor sapi, lahan harus sebesar 200 hektar. “Nah, bila tanahnya luas kan terhitung orang kaya. Itu yang berbeda dengan peternak di Indonesia,” sebutnya.
Hasilnya, hasil perahan di Selandia Baru juga sangat banyak. Rata-rata, untuk satu ekor sapi bisa menghasilkan 30-40 liter susu per hari. Bila dia membandingkan dengan sapi perahnya, hanya menghasilkan 14 liter susu per hari.
“Di Indonesia jauh tertinggal. Makanya, saya sangat beruntung bisa belajar ke sana dan sudah mulai mendapatkan hasilnya kini,” tegas dia.
Dia mengakui, untuk saat ini dia dapat menghasilkan sekitar 20 liter susu per ekor sapi setiap harinya berkat penerapan ilmu yang diperoleh. Hal ini, diakui oleh bapak satu anak tersebut, akan lebih baik lagi ketika penghitungan sudah pada masa puncak panen di periode April- Mei mendatang.
“Ya memang harus bertahap untuk mendapatkan hasil optimal. Tapi sekarang sudah diketahui kok perbedaan yang didapat,” terangnya.
Edy menambahkan, ia belajar banyak mengenai pentingnya manajemen perawatan dan kesehatan hewan ternak. Bahkan kini dia telah memiliki sistem formal untuk mencatat temperatur ternak dan produksi susu. Hal itu membantu dirinya meningkatkan kualitas susu sapiyang dihasilkan.
Tidak hanya itu, bapak satu anak ini juga belajar mengerti animal behavior dari sapi. Menurut Edy, sapi sangat menyukai tempat yang bersih. Bila di Indonesia selama ini sapi harus diikat, sekarang Edy merasa kasihan karena akhirnya sapi harus bergumul dengan sisa kotorannya sendiri. Padahal, ketika meniru konsep sapi dilepas, sang sapi akan mencari tempat yang bersih. “Pekerja di Edfarm pun akhirnya mengetahui hal itu, bahwa sapi akan memilih tempat yang bersih untuk tidur. Itu setelah saya meminta mereka melakukan observasi dan mencatat apapun yang mereka lihat setelah penerapan ilmu yang saya peroleh dari beasiswa,” terangnya.
Menantu pengasuh Ponpes Al Hikam, KH. Hasyim Muzadi ini menyampaikan, secara total dia bisa membedakan lima hal dari ilmu yang diperoleh dari beasiswa tersebut. Pertama mengenai pemberian pakan berkualitas yang ditanam sendiri seperti lamtoro, turi dan kaliandra. Yang kedua, tentang pengelompokan sapi, yakni bagaimana membedakan makanan dari sapi yang bunting, baru melahirkan dan tengah memiliki produksi susu yang besar. Lalu ketiga, dia juga melakukan recording untuk mengenali data dari sapinya. Karena itu, di peternakannya, sapi diberi kode untuk memudahkan pencatatan. “Selain itu saya juga tahu tentang replacement sapi. Mana yang harus diganti atau harus dipisah,” imbuh dia.
Pria yang hobi ngetrail ini juga mulai merasakan hasil produksi meskipun belum begitu besar.  “Masih teknis yang paling banyak. Selain itu, saya juga bisa berbagi sekarang,” tegas alumni Fakultas Pertanian UB itu.
Ya, Edy kini sering diminta keluar kota di Jawa Timur, untuk memberikan ilmu kepada peternak sapi perah dari apa yang diperolehnya, yang selama ini tidak pernah dibayangkan pria yang berdomisili di Jalan Bantaran Barat 3 tersebut.
“Saya senang berbagi, sehingga ilmu yang saya peroleh bisa juga diaplikasikan oleh peternak lain meski tidak mendapat beasiswa Fonterra. Awalnya, yang membuat orang-orang kaget saat mengetahui sapi-sapi itu tidak diikat. Mereka khawatir sapi akan hilang atau dicuri orang,” urainya kepada wartawan saat mengajak berkeliling di Edfarm Nongkojajar beberapa waktu lalu.
Padahal, saat sapi senang dan bahagia karena lebih bebas bergerak, lanjutnya, juga berpengaruh pada produksi susu. Tidak hanya itu saja, Edy akhirnya juga belajar bahwa semakin dekat jarak antara satu kehamilan dengan kehamilan yang lain akan meningkatkan produksi susu. “Pemahaman peternak tradisional, jarak kehamilan yang lama menghasilkan susu banyak. Lha padahal susu kan hasil karena sapi bunting, makanya ketika dia cepat bunting dan melahirkan, akan semakin banyak susu yang dihasilkan.” tambahnya.
Hingga saat ini Fonterra Dairy Scholarship telah melatih 22 peternak sapi perah dan dua petugas lapangan dan sekarang sedang memasuki tahap pendaftaran peserta. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi calon pendaftar, di antaranya peternak harus memiliki  pengalaman minimum 3 tahun dan memiliki setidaknya 5 ekor sapi, sedangkan petugas lapangan setidaknya sudah dua tahun memberikan pelayanan.
Menurut Direktur Scientific and Regulatory Affairs Fonterra Brand Indonesia, Afifudin, 70 persen dari peserta beasiswa angkatan 2013 melaporkan sudah mampu meningkatkan produksi dan 90 persen mengakui adanya peningkatan pendapatan.  “Sedangkan sebagian besar peternak yang mengikuti program ini tahun lalu telah memproduksi lebih banyak susu, sepertiga dari peserta telah beroperasi dengan sistem yang lebih efisien. Mereka juga melaporkan ada peningkatan pendapatan setelah mengikuti program,” urainya panjang lebar. (stenley