Budi Daya Beras Merah dan Hitam dengan Sistem Revogia

APRESIASI tinggi yang diberikan Kementerian Pertanian melalui Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementrian Pertanian RI, pada pencanangan kecamatan PHT (pengendalian hama terpadu) menuju kecamatan organik di Kecamatan Lawang pada Rabu lalu, tidak sebatas pujian kosong. Salah satu jejaring petani PHT di wilayah yang memiliki 10 desa dan dua kelurahan itu, mampu membudidayakan beras organik merah dan hitam dengan sistem penanaman revogia.

Mengunjungi lokasi budi daya yang terletak di Dusun Barek, Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang, wartawan koran ini harus menempuh jarak yang lumayan jauh ke arah Timur dari pusat keramaian Kecamatan Lawang. Selama melintasi areal persawahan di kanan-kiri jalan, banyak ditemui tanaman seperti Kenikir, Matahari, Kemangi, Wijen hingga Gude, yang sengaja ditanam di setiap pematang sawah atau galengan sawah, mulai Dusun Paras, Desa Mulyoarjo hingga Dusun Barek.
Sejumlah tanaman yang biasa dijumpai di lokasi pekarangan itulah, yang selama ini dinamai penanaman revogia. Tanaman yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata memiliki keunggulan dalam mengusir hama tanaman mulai belalang, tikus, penggerak batang hingga walang sangit. Bahkan, hanya tinggal menyesuaikan kondisi lahan persawahan, tanaman yang mudah dicari tersebut bisa menjadi bagian dalam mendukung budi daya beras organik alias tanpa menggunakan pestisida kimia.
“Saya mulai memakai sistem penanaman revogia sejak tahun 2013. Saat itu, melalui petugas pengamat hama kecamatan, diberitahu agar mencoba menanam tanaman berbunga yang usianya semusim dengan padi untuk menghalau hama tanaman padi. Karena untuk mencari beberapa tanaman tersebut sangat mudah, akhirnya dicoba. Seketika itu, hama tanaman pun menjadi mangkir dari padi,” kata Ketua Jejaring Petani PHT Kecamatan Lawang, Kemin Hardianto.
Keuntungan dari sistem penanaman revogia, terang bapak dua anak ini, tidak hanya pada serangan hama yang bisa dilawan. Namun, dari hasil panen yang diperoleh selama setahun pun mengalami peningkatan yang cukup lumayan. Termasuk, masa panen padi tidak mengalami hambatan atau kendala.
“Khusus padi hitam yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan 5,5 ton GKP (gabah kering panen) per hektar, sekarang bisa mencapai 7 ton. Hal serupa juga terjadi pada beras merah, yang sebelumnya hanya bisa menghasilkan 6,5 ton per hektar, sekarang mampu sampai 8 ton dalam sekali panen. Sedangkan masa panen padi, tetap tiga kali setahun,” ujar suami dari Nur Isnaini itu.
Masih menurut Kemin, selain pada hasil panen tanaman padi, keuntungan lain menggunakan sistem revogia juga saat tanaman-tanaman yang ditaruh di pematang itu, memasuki masa panen. Karena masa panen padi dan panen revogia sama, maka seperti tanaman Kenikir, Matahari, Kemangi, Wijen hingga Gude, pun bisa dimanfaatkan untuk tambahan sayur-sayuran. Kecuali, tanaman Matahari yang bisa diambil untuk kwaci.
Selain pada manfaat itu, sejumlah tanaman itu juga bisa dioptimalkan untuk pupuk hijau atau daun-daunan. Upaya mendukung kecamatan organic ini sudah dilakukan selama dua tahun terakhir.
“Agar tanaman revogia bisa tumbuh dan berhasil dalam mengantisipasi hama, saya biasa menanamnya dengan jarak antara 50 cm per tanaman,” paparnya.
Disinggung mengenai budi daya berasnya, Kemin menjelaskan, sengaja memiliki beras merah dan hitam untuk ditanam, karena memiliki sisi herbal dari padi yang dihasilkan. Apalagi harga jual beras ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan beras biasa atau putih.  
“Saat harga beras putih naik, harga beras hitam dan merah, pun sama mengalami kenaikan. Seperti sekarang, untuk beras merah harganya Rp 20 ribu dan beras hitam seharga Rp 25 ribu per kilogram. Meski harganya cukup mahal, namun pangsa pasar untuk hasil panennya sudah banyak. Selain Jatim yang rata-rata membeli langsung ke rumah, kawasan lain seperti Sumatera, Kalimantan, Papua hingga warga Indonesia di Arab Saudi, pun memesan beras saya,” ujarnya.
Pria berkumis itu menambahkan, ada beberapa khasiat yang bisa dirasakan konsumen dari beras yang dihasilkannya itu. Seperti beras hitam untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, memperbaiki sel hati, mencegah gangguan fungsi ginjal, tumor, diabetes hingga asam urat. Bahkan, juga berkhasiat untuk anti oksidan, membersihkan kolesterol dalam darah hingga membantu pembentukan sel baru.
“Kalau beras merah, bisa membantu pencegahan sembelit, membantu diet, mencegah penyakit saluran pencernaan, meningkatkan perkembangan otak, menurunkan kolesterol darah, mencegah kanker hingga baik untuk menyehatkan jantung,” terangnya. (sigit rokhmat/han)