Kaya karena Keberagaman, Dikenal juga dengan Batik Encim

PEKALONGAN, sebuah kota di pesisir utara di Jawa Tengah menyimpan banyak kekayaan budaya. Malang Post beruntung menjadi bagian dari  Sampoerna A Kretek Trip To Pekalongan melalui program Writers & Journalist Trip untuk mengeksplorasi  kekayaan budaya daerah itu, 3-5 Maret lalu.
Klenteng Po An Thian,  Pekalongan  Rabu, 4 Maret lalu sibuk sejak pagi. Hari itu adalah hari perayaan Cap Go Meh, yakni masa terakhir perayaan Imlek. Gan Tek Tjiang, seorang tokoh umat sangat sibuk di tengah perataan itu namun tetap ramah melayani pertanyaan rombongan wartawan.
“Nanti siang kirab. Setiap tahun kami adakan kirab saat Cap Go Meh. Tujuannya untuk kesejahteraan Pekalongan,” kata pria ramah yang biasa juga disapa Susanto itu. “Biasanya kelenteng identik dengan orang-orang Chinese. Tapi di kelenteng ini terbuka. Siapa saja silakan datang,” sambunganya.
Kirab Cap Go Meh di Pekalongan merupakan tradisi turun temurun. Bahkan menurut Susanto, kebiasaan kirap saat Cap Go Meh sudah diadakan sejak kelenteng itu dibangun pada 1882.
Di antara ribuan orang yang sibuk menyiapkan kirab, tampak di antaranya sejumlah warga pribumi. Tak ada sekat di antara mereka. Canda dan obrolan mengalir seperti mereka sesama saudara dekat.
Sutrisno, salah seorang warga pribumi Pekalongan merupakan salah satu dari sejumlah warga yang ikut sibuk menyiapkan kirab. Saban tahun ia selalu berpartisipasi melancarkan kirab itu.
“Saya tidak hitung sejak kapan. Tapi sudah lama, setiap Cap Go Meh ya bantu di kirab. Warga Pekalongan juga tahu kalau saat Cap Go Meh pasti ada kirab,” kata pria 55 tahun itu.
Ia tak merasakan adanya perbedaan antar etnis. Kendati tak ikut berdoa dalam kelenteng, Sutrisno tahu siapa saja dewa yang ada dalam tempat ibadah itu. Saat masuk dalam kelenteng, Sutrisno dan warga lainnya pun berusaha menghormati tempat ibadah itu.
“Di sini yang penting kebersamaan. Saling menghargai, semuanya sama kok, sama baiknya,” kata dia meyakinkan.
Setelah melakukan persiapan sejak pagi, tibalah saatnya kirab. Wakil Wali Kota Pekalongan, H Achmad Alf Arslan Djunaid memberi sambutan. “Kirab ini menghadirkan kerukunan. Peserta kirab berasal dari berbagai etnik. Inilah contoh kerukunan,” kata orang nomor dua di Pemkot Pekalongan itu.
Beberapa jam sebelum kirab dimulai, warga sudah memenuhi jalan-jalan protokol Kota Pekalongan. Salah satunya di Jalan Blimbing di kawasan yang dulunya disebut Pintu Dalem itu. Mereka berjubel menyaksikan para dewa dari kelenteng yang dikirab.
Dewa utama di kelenteng Po An Thian pun ikut dikirab. Namanya Dewa Sin Djien Kong atau Dewa Pertanian. Selain itu terdapat juga dewa lainnya seperti Dewa Keselamatan juga ikut dikirab, dan seketika itu jadilah sebuah tontonan massal terbuka yang disaksikan publik.
Kebersamaan masyarakat saat kirab Cap Go Meh merupakan salah satu contoh ikatan kebudayaan antara masyarakat. Pekalongan merupakan sebuah daerah yang menjadi simpul persahabatan antar budaya. Warga tak gagap dengan yang namanya perbedaan.
Mengeksplore kekayaan budaya Pekalongan tak lengkap jika tak mendalami batik yang berkembang di daerah ini. Batik Encim merupakan salah satu batik ciri khas Pekalongan.
Meskipun begitu, batik encim tak serta merta hadir. Terdapat proses panjang sejak periode 1850-1860 dimana motif batik mengalami metamorfosa lantaran dipengaruhi oleh datangnya bangsa asing seperti Cina dan Belanda.
Pada fase tahun 1850-1860, produksi batik terus berkembang. Melihat perkembangan batik pada waktu itu, membuat orang-orang Cina yang berjiwa wiraswasta  cepat menangkap peluang, melakukan berbagai inovasi dan berkecimpung di dunia batik.
Pada tahun 1920, seorang Cina,  Oei Soe Tjoen, tinggal di Kedungwuni, Pekalongan menjadi seorang perajin batik yang terkenal. Batik karya Oei Soen Tjoen dikenal  halus dan terkenal sebagai batik encim.  
Hingga kini, batik Oei Soen Tjoen masih bertahan. Liem  Poo Hiem, 58 tahun merupakan salah seorang pelanjut batik encim. Wanita yang kadang dipanggil dengan Prisilia Hindrawati ini memproduksi sendiri dan menjual batik encim karyanya dengan aneka ragam harga. Jika pasaran umum ia memproduksi batik dengan harga Rp 200 ribu, namun untuk pasaran tertentu ia membatik dengan harga Rp 12,5 juta. “Yang harga Rp 12,5 juta itu dibuat sekitar satu tahun,” ucapnya. Tapi ada juga  batik yang dibuat selama tiga atau empat tahun lamanya. Hanya saja ia tak menyebut berapa harganya.
Mahalnya harga batik karena lamanya proses pembuatan. Selain itu pengerjaannya lebih halus dan butuh ketalatenan. Motifnya pun beragam, terdapat batik dengan motif dewa-dewa.
Karena butuh ketelatenan dan dikerjakan ekstra hati-hati, selama pengerjaan atau proses batik maka perokok tak disarankan berada di sekitar produksi batik. “Kalau terkena rokok ya nggak laku. Kan bisa sobek, sementara proses pembuatannya dalam satu kain motif, tak boleh berbeda,” katanya. (vandri battu/han)