Habiskan 17 Kapolres, Tidak Mau Pindah, Bingung Cari Pengganti

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Ipda Subandi. Di kalangan polisi, semuanya sudah mengenalnya sebagai Kanit Identifikasi Polres Malang Kota. Perannya sangat penting untuk membantu mengungkap pelaku tindak kejahatan melalui olah tempat kejadian perkara (TKP). Ia bekerja bagaikan Detektif Conan demi menemukan pelaku tindak kejahatan sebenarnya.

Sabtu (7/3) pagi lalu, Ipda Subandi terlihat sibuk. Ia duduk di ruang kerjanya, persis di belakang ruang Humas Polres Malang Kota, ia serius menghadap layar komputer. Tangan kanan memegang dan menggerakkan mouse sesekali. Sedangkan tangan kirinya membolak-balikkan tumpukan kertas.
Di sela kesibukannya, Subandi masih mau menerima kedatangan Malang Post. Sekalipun sebelumnya sama sekali tidak ada janji. Ini karena ia memang dekat dengan para jurnalis. “Ini lagi menyelesaikan pekerjaan. Tetapi tidak apa-apa, kita sambil ngobrol santai saja,” ujar Subandi.
Subandi, adalah polisi yang paling lama bergelut dengan identifikasi. Mulai 1984 setelah lulus pendidikan sampai sekarang ini. Total sudah 31 tahun lamanya, ia pun sudah menghabiskan 17 Kapolres. “Mungkin di Indonesia, saya yang paling lama bertugas di bagian identifikasi,” tuturnya.
Sebelum menjadi Kanit Identifikasi, Subandi terlebih dahulu menjadi anggota. Saat itu Kanit Identifikasi dipimpin oleh Serma (Bripka) Jasmo. Pria berusia 54 tahun ini, ditugaskan di bagian identifikasi karena keahliannya dalam fotografi serta menggambar. Dulu semasanya, jarang sekali ada yang mempunyai keahlian seperti yang dimiliki Subandi.
“Saat masuk menjadi anggota identifikasi, saya sama sekali tidak tahu apa itu identifikasi. Tetapi saya terus belajar. Selain belajar pada pimpinan, juga secara otodidak dengan membaca-baca buku soal forensic serta olah TKP,” terangnya.
Selama menjadi anggota identifikasi sampai sekarang, sudah puluhan dan bahkan ratusan mayat yang ditangani. Termasuk ratusan kasus kejadian di wilayah hukum Polres Malang Kota.
Setelah 14 tahun menjadi anggota identifikasi, pada 1998 Subandi akhirnya diangkat menjadi Kanit Identifikasi. Saat menjadi kanit, pangkatnya sudah Serma (Bripka). Setelah menjadi kanit, ia terus menularkan ilmu identifikasi. Tidak hanya pada anggota identifikasi, tetapi juga seluruh anggota Reskrim di jajaran Polres Malang Kota.
Penyaluran ilmu identifikasi, melalui latihan rutin setiap tiga bulan sekali. Tujuannya, selain berbagi ilmu sekaligus untuk mengasah insting dan mengurangi tingkat kesalahan. “Selain itu, juga terus mengingatkan ilmu identifikasi yang saya miliki,” katanya.
Melakukan olah TKP atau identifikasi tindak kejahatan, tidak semudah yang dibayangkan seseorang. Karena melakukan olah TKP harus menguasai teori segitiga TKP. Yaitu harus bisa menghubungkan antara korban, tersangka dengan barang bukti.
Olah TKP juga harus bisa mengidentifikasi siapa pelaku, modus pelakunya seperti apa, barang buktinya apa, termasuk motifnya. “Makanya anggota identifikasi harus memiliki intelektual tinggi, insting dan keuletan. Termasuk sekarang ini harus bisa menguasai IT, karena proses identifikasi sudah menggunakan sistem digital dan komputerisasi,” papar bapak lima anak ini.
Proses olah TKP, juga harus teliti dan benar. Karena hasil olah TKP digunakan untuk pembuktian kasus dan tidak ada unsur rekayasanya. Makanya ketika mendapat laporan ada tindak kejahatan, tim olah TKP harus bisa datang ke lokasi secepat mungkin. Ini untuk menghindari kerusakan TKP oleh ulah masyarakat.
“Melakukan olah TKP tidak terbatas dengan waktu. Bagi saya, pantang pulang sebelum mendapatkan hasil,” katanya sembari membagikan nomor telepon kepada masyarakat, yang membutuhkan olah TKP ketika terjadi suatu tindak kejahatan. Yaitu di nomor 081-333276466.
Sekalipun sudah lama bergelut dengan identifikasi, Subandi mengaku tidak akan pernah bosan. Ia tidak mau pindah tugas ke bagian lain. Termasuk tidak ada pimpinan yang memindahkan tugasnya ke bagian lain. Padahal masa tugasnya tinggal 4 tahun, karena pada usia 58 tahun Subandi harus pensiun. Yang dipikirkan, dia harus bisa mencari pengganti yang kemampuannya melebihi dirinya.
“Saya tidak pernah bosan. Karena bagi saya kalau tidak mencintai pekerjaan, maka tidak akan mendapatkan hasil. Sebab bisa mengungkap kasus melalui identifikasi yang saya lakukan, senangnya sangat luar biasa,” jelas pria ramah ini.
Yang membuat dirinya bangga sampai sekarang ini, keberhasilannya membaca sidik jari gembong teroris Dr Azhari, saat Tim Densus 88 menggerebek persembunyiannya di Kota Batu. Saat itu, Subandi dibutuhkan oleh Mabes untuk melakukan identifikasi sidik jari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa pria yang tewas tertembak adalah Dr Azhari.
Selain itu, Subandi juga sukses mengangkat pembuktian melalui telapak kaki. Padahal selama ini umumnya tim identifikasi melakukan pembuktian lewat sidik jari. “Ada tiga kasus yang saya angkat lewat telapak kaki. Yaitu kasus pencurian di gedung Bioskop Merdeka dan dua kasus pembunuhan,” sambungnya.(agung priyo/han)