Kisah Ibu dan Dua Anaknya Hidup di Poskamling

Endang Jumariah (45 tahun), warga RT 8 RW 12 Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang tak kuasa menahan tangis saat harus sungkem ke kakak iparnya, Sri Astuti (59 tahun) yang juga merupakan warga setempat. Bersama dua anaknya Ahmad Febrianto (15 tahun) dan Yuli Anggraeni (10 tahun) ini, sempat merasakan tinggal di Poskamling setempat selama satu pekan.

Berkali-kali Endang, panggilan akrab Endang Jumariah menciumi kedua pipi Sri Atusti. Tak jarang pula terdengar ucapan kata maaf, terlontar dari mulut wanita berambut sebahu ini. Endang tidak membayangkan, kalau aktivitas rumahan yang dia lakukan di Poskamling, akan segera berakhir setelah mediasi antara dia dan para saudara iparnya di Kantor Kelurahan Bandungrejosari, Selasa (10/3/15) kemarin.
Ya, mediasi ini muncul lantaran simpati para warga melihat dua anak Endang, Febrianto dan Yuli, harus menghabiskan waktunya sehari-hari di Poskamling setempat. Mirisnya, mereka terpaksa melakukan hal itu atas dasar penyebab yang kemungkinan besar tidak dipahaminya, yaitu soal harta warisan.
Keluarga kecil ini, tinggal di rumah milik orang tua Nonot, Ngatminah dan Kasri. Pada 2011 lalu, Endang dan kedua anaknya kehilangan sang kepala keluarga. Sejak saat itulah, mereka terintimidasi karena selalu didesak oleh seluruh saudara kandung Nonot untuk keluar dari kediaman orang tua mereka dengan alasan pembagian harta.
Hingga pada beberapa waktu lalu, Mereka akhirnya diberi tempat di belakang rumah dengan kondisi yang seadanya. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah pihak keluarga suaminya sepakat memberi Endang uang Rp 10 juta, secara perlahan Endang diusir dari rumahnya.
Cara pengusiran Endang memang sangat tragis, diantaranya dengan mematikan aliran listrik dan air di rumah dengan bangunan seadanya tersebut. Bahkan, keluarga tega menggembok rumahnya, sehingga Endang dan kedua anaknya tinggal di lompongan (lorong) rumah dengan sejumlah barang yang dia punya.
Jelas hal ini membuat warga sekitar simpatik. Sebab, Endang sekarang menjanda, sedangkan dua anaknya menjadi anak yatim. Tapi, mereka diperlakukan seolah bukan bagian dari keluarga tersebut. Rasa simpati warga ini lebih besar kepada kedua anak Endang. Sebab, sekarang mereka jadi anak yatim, tapi malah dibiarkan sengsara, oleh keluarga sendiri pula.
Febri duduk di bangku SMP kelas IX (3), sedangkan Yuli masih duduk di kelas 3 SD. Saat ditemui, di poskamling kemarin keduanya tengah tertidur pulas. Melihat kondisi kedua anak ini yang sedemikian miris, karena harus tidur di lompong rumah, beserta perabotan rumahnya.
Warga geram melihat situasi tertekan yang dialami Endang, Febri dan Yuli. Mulai dari simpati warga inilah, Endang baru bisa memiliki tempat baru yang setidaknya lebih layak, yakni di Poskamling yang hanya berukuran 3x3 meter persegi saja. Sangat sempit, apalagi perabotan rumahnya dia tumpukkan di sana semua.
Selama tinggal di Poskamling, Endang bekerja serabutan sebagai pembantu rumah tangga. Hal tersebut dilakukan agar dirinya tetap memiliki penghasilan dan mampu menyambung hidupnya. Sesekali, para tetangga datang dan memberikan bantuan berupa uang tunai atau perlengkapan lain. Bila ada bantuan uang tunai, dia tabung untuk jaga-jaga kalau anaknya membutuhkan.
Satu-satunya hiburan yang dimiliki keluarga Endang, hanyalah televisi peninggalan suaminya. Untuk mandi ia harus menumpang ke tetangganya. Ia amat bersyukur para tetangga mengetahui situasi yang sedang ia alami. "Saya diizinkan menumpang kamar mandi oleh tetangga," tutur Endang seraya berkata untuk masak dia menggunakan kompor gas yang juga dia taruh di pos kamling ini.
Anak-anak Ngatminah yang tersisa tiga orang (sebelumnya lima), yaitu Sri Astuti (Sulung), Emik Suharti (Ketiga) dan Wiwik Sudebyo (bungsu). Ketiganya menjual rumah sang ibu dengan harga Rp 125 juta. Yang membuat Endang merasa tidak adil, adalah karena nilai warisan yang didapatkan anak Bungsu Wiwik Sudebyo sangat besar, bahkan mencapai Rp 50 juta. Sedangkan Endang merasa bagiannya tidak seberapa, padahal Febri dan Yuli secara keturunan merupakan ahli waris harta warisan Ngantimah.
Sementara uang Rp 10 juta yang sudah diberikan kepada Endang, adalah uang untuk mengontrak rumah. Uang memang Endang terima, akan tetapi dia enggan mengontrak karena takut uang kontrakannya hanya cukup untuk satu tahun.
Selain uang, Endang juga diberikan satu bidang tanah seluas 72 meter persegi oleh Sri Astuti. Sri menyuruh Endang untuk membangun rumah di atas tanah tersebut. Akan tetapi, Endang malah bingung, karena merasa tidak memiliki uang untuk membangun rumah. "Saya disuruh bangun rumah, tapi biaya dari mana, pasti tidak murah," ujarnya.
Meski sempat hidup sengsara, setelah mediasi yang dilakukan di kantor kelurahan Bandungrejosari kemarin (10/3/15), Endang dan kedua anaknya bisa bernafas lega. Sebab, kini mereka akan tinggal dalam rumah kontrakan. Ini sesuai dengan hasil kesepakatan dari mediasi tersebut.
Hasil mediasi yang berlangsung kurang lebih dua jam ini menyepakati kalau Sri Astuti akan memberikan satu bidang tanah berukuran 72 meter persegi kepada Endang. Selain itu, Sri juga akan memberikan uang tunai sebesar Rp 12,5 juta dimana 2,5 juta akan dipakai untuk mengontrak rumah. Wiwik Sudebyo, anak bungsu Ngatminah yang menerima harta warisan Rp 50 juta, setuju akan memberikan bantuan kepada Endang sebesar Rp 10 juta.
"Sementara ini, Endang akan kontrak rumah lebih dulu. Sambil berjalan, rumah di atas bidang tanah ini akan dibangun rumah untuk tempat tinggal Endang. Nanti, Pemerataan tanah akan dilakukan dari swadaya masyarakat. Diharapkan dari uang sisa yang ada, ditambah bantuan dari Pemkot Malang, pembangunan bisa berjalan cepat," ujar Lurah Bandungrejosari, Zainul Amali usai mediasi.
Sri Astuti saat ditanyai usai mencapai kesepakatan usai mediasi mengatakan, sudah ikhlas dengan hasil keputusan dari mediasi tersebut. Kendati demikian, dia membantah kalau telah melakukan pengusiran kepada keluarga Endang. Sebab, satu tahun sebelum Endang pindah, Sri sudah menyuruh Endang bersiap untuk beranjak dari rumah mertuanya itu.
"Saya sudah beri waktu satu tahun waktu itu, tapi dia juga tetap tidak pindah. Makanya, waktu itu saya kasih pengertian dengan mematikan listrik dan air kepadanya, agar dia paham," ungkapnya. Bahkan, kata Sri, waktu itu pihaknya juga telah mencarikan kontrakan untuk ditempati Endang. Namun, Endang menolaknya.
Sekarang, konflik itu sudah mereda. Bahkan, saat saling bermaafan dengan Endang, Sri juga turut menitikkan air mata. Dia berharap, konflik keluarga ini tidak berkepanjangan.
Endang sendiri setuju untuk pindah. Namun, usai mediasi dia masih tampak shock dan enggan untuk diwawancarai. Sebab, suasana mediasi di kantor kelurahan kemarin memang berlangsung agak panas. Terutama, oleh Sasongko, suami Sri yang kerap kali beradu argumen dengan lurah maupun pengurus RW.
"Sekarang masalah sudah clear, pihak kelurahan juga akan melakukan pengawalan agar kesepakatan ini terealisasi dengan baik," tambah Zainul Amali.
Dalam hasil kesepakatan, selain memberi bantuan terhadap Endang, Sri juga memberi bantuan kepada adik iparnya dari anak keempat Ngatminah, Mardiono. Bantuan tersebut, berupa satu bidang tanah berukuran 72 meter persegi. (Muhamad Erza Wansyah/ary)