Sulap Ikan Lele Jadi Minuman Segar Tradisional

Junaedi Wibowo Kembangkan Gastronomi  Perikanan

Siapapun tahu dawet, minuman segar tradisional yang digemari orang. Tapi pernahkah kita terpikir mengolah ikan lele sebagai dawet? Di tangan Junaedi Wibowo, ikan lele mampu berevolusi menjadi produk minuman.

Dawet Lele namanya. Minuman tersebut kini mulai dikenal banyak masyarakat. Itu terbukti, sedikitnya 500 cup Dawet Lele terjual di stand Pasar Tani yang dibuka sejak dua minggu terakhir di area Lapangan Rampal.
“Alhamdulillah, mulai dikenal, jadi warga tidak ragu untuk membeli,’’ kata pria ini.
Kepada Malang Post, pria 29 tahun ini menyebutkan Dawet Lele merupakan salah satu bentuk inovasi dari usaha yang ditekuninya sejak 2012 lalu. Semula, Junaedi menceritakan jika dia membuka usaha aneka olahan lele. Mulai dari abon lele, kerupuk lele dan kripik lele.  Jenis olahan ini diterima masyarakat. Terbukti, tiga bulan berdiri, olahan makanan dari lele ini kian beragam variannya.
“Awalnya hanya tiga varian olahan lele. Melihat respon masyarakat cukup bagus, saya pun membuat iseng menambah variannya, dengan kripik kulit lele, dan rengginang   lele,’’ kata pria ini.
Meskipun sudah cukup banyak varian, Junaedi tidak berhenti berinovasi. Yang semula dia hanya fokus mengolah lele sebagai bahan makanan, dia mulai berinovasi membuat lele menjadi bahan minuman. “Saat berpikir itu, tiba-tiba saya milhat rombong dawet di Jalan Semeru. Baru kemudian saya terinspirasi membuat minuman dawet dari lele,’’ tambah pria ini.
Junaedi tidak butuh lama untuk mewujudkannya inovasi barunya. Dengan penuh semangat dia mulai mengumpulkan bahan.  Tentu saja, bahan pertama yang dikumpulkan adalah lele. “Kebetulan kami juga memiliki budidaya lele di belakang rumah, sehingga waktu ide itu muncul, saya tidak kesulitan bahan,’’ katanya.
Lele yang baru diambil dari tambak tersebut disembelih, kemudian diambil daging segarnya. Daging segar tersebut lantas dihancurkan. Dan selanjutnya diolah atau dicetak layaknya bentuk dawet. Kreasi awal itu sempat gagal. Penyebabnya, daging segar itu tidak bisa dicetak. Bau amis kas ikan lele juga tidak hilang. “Kan tidak mungkin saya menyajikan minuman berbau amis. Jadi setelah itu saya pun terus belajar dan mencoba,’’ urainya.
Hingga akhirnya, Junaedi pun mendapatkan komposisi yang pas untuk usaha barunya itu. Daging lele legar lebih dulu dicuci menggunakan air es. Air es digunakan selain untuk menghilangkan bau amis, juga untuk memisahkan lemak dari daging. Selanjutnya, daging tersebut diproses.  “Suremi namanya,’’ kata pria ini menyebutkan, nama untuk memroses daging segar lele tersebut.
Kendati menjadi bahan utama, tapi untuk membuat dawet dia tetap butuh tepung beras sebagai bahan dasarnya. Setelah dicampur dengan rata, dawet pun dicetak. “Sederhana kok, yang susah itu saat proses awal saja, karena kita harus tahu daging lele ini betul-betul bersih, dan tidak ada lemak yang menempel,’’ urainya.
Untuk menyajikannya, tidak berbeda dengan dawet-dawet lain, seperti ada santan dan gula. “Sebelumnya saya hanya menciptakan rasa original, tapi sekarang sudah ada beberapa varian rasa seperti nangka, durian dan tape singkong,’’ kata alumni SMKN 1 Singosari ini.
Junaedi sendiri mengaku, saat dawet lele itu tercipta, dia tidak langsung menjualnya. Selama satu minggu dawet lele ini menjadi konsumsi keluarganya. Ini dilakukan untuk tes, selain rasa  kandungan dawet juga dipantau.  “Satu minggu kami mengkonsumsi, dan tidak merasakan dampak apapun. Selanjutnya, membawa dawet tersebut untuk uji lab,’’ kata Junaedi, yang memanfaatkan laboratorium Universitas Brawijaya sebagai tempat uji kandungan gizinyanya. “Begitu petugas lab mengatakan aman, dan kandungan gizinya keluar, saya pun berani mengenalkan kepada masyarakat,’’ yang mengatakan Dawet Lele kali pertama dikenalkan saat event Parade Pangan Nusantara.
Nama Dawet Lele pun terus melejit. Bahkan, karena terus dikenal, Junaedi pun kerap mendapat undangan dan memberikan pelatihan kepada masyarakat. Pria ini sama sekali tidak takut bersaing, sebaliknya dengan banyak orang yang bisa membuat Dawet Lele dia justru makin senang. Alasannya, dengan usaha yang digeluti tersebut bisa mengentaskan kemiskinan. “Ilmu kan tidak boleh disimpan sendiri, tapi harus dibagi. Ini menjadi kepuasan saya,’’ katanya.
Sementara selain membuat olahan lele dan terus berinovasi, membuat olahan lele, pria ini juga mulai menciptakan mesin-mesin untuk olahan lele. Seperti mesin membuat abon. Dengan bekal ilmu yang dipelajarinya saat duduk di bangku sekolah, mesin-mesinnya juga mampu terjual. “Semuanya disyukuri. Semua usaha itu bisa kita lakukan jika kita memiliki niat di awal, dan tidak takut memulai, itu saja. Untuk modal itu tidak perlu dipikir,’’ jelasnya.
Seluruh produknya telah dipatenkan dengan nama Lazzis tersebut. “Sekarang saya punya tiga outlet untuk penjualan Dawet Lele, yaitu di rumah Jalan Teluk Bayur di Pasar Besar dan di Kota Batu. Semuanya rame, Alhamdulillah,’’ ungkapnya.
Bukan itu saja, Junaedi juga mengatakan, dia  banyak juga menerima pesanan pembuatan mesin dari kolega-koleganya. Sementara untuk olahan lele buatannya, selain sudah banyak di jual di Malang, juga sudah banyak dijual di luar daerah, seperti Surabaya, Jogjakarta, Bali dan Lombok.(ira ravika/ary)