Achmad Fauzi, Perajin dan Kolektor Keris Asal Pakis


BENDA PUSAKA : Acmad Fauzi menunjukan keris pusaka koleksinya peninggalan zaman Majapahit

Saat ini sudah sangat jarang ditemui pembuat keris pusaka. Namun ada salah satu pesohor pembuat keris di di Kabupaten Malang, namanya Achmad. Keris buatannya tidak hanya diburu pecinta keris asal tanah air tapi juga dipesan warga Australia, Belanda dan Suriname. Warga RT 05 RW 02 Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis ini juga dikenal sebagai kolektor benda pusaka.
Tidak susah menemukan rumah Achmad Fauzi. Semua warga tahu keberadaan pria ini. Masuk gang sejauh 100 meter dari jalan raya, tampak rumahnya yang masih belum jadi sepenuhnya. Saat Malang Post datang di rumah itu, terlihat ada lorong kecil di sebelah rumah sebagai akses menuju ke belakang rumah, tempat pembuatan keris.
Di sana, tampak Fauzi tengah serius mengutak-atik keris dan menyambut Malang Post penuh dengan senyuman. Ia lalu menceritakan awal mula menjadi kolektor keris yang dilakukan sejak 1998. Keris yang dia koleksi Fauzi mulai dari zaman Kahuripan. Dia juga memiliki Tombak Dapur Biring Lanang Pamor Raja Majapahit peninggalan Majapahit. “Dulu saya beli tombak ini, seharga Rp 130 juta,” ujarnya kepada Malang Post.
Sedangkan beberapa pusaka lain seperti Sangkelat Lhuk dan pedang peninggalan zaman sejarah juga dimilikinya.Dia mendapatkannya dari berbagai daerah, sepeti Bali, Jogja, Surakarta dan Semarang, dari sesama kolektor maupun pecinta benda pusaka.  Saat ini, dia telah mengoleksi sekitar 700 keris maupun benda pusaka peninggalan kerajaan.
Sedangkan untuk keris buatannya, sudah tidak terhitung. Diperkirakan Fauzi sudah membuat lebih dari 1.500 keris pesanan. Pria asal Dampit ini menjelaskan, dalam ranah kajian budaya, keris memiliki arti penting. Yaitu memberikan edukasi dan nilai. Sebab karena keris mengandung filosofi tentang nilai-nilai luhur budaya Jawa.
Misalnya, keris yang diberi nama Dapur Brojol dari Kerajaan Majapahit. Maknanya, jika seseorang ingin sukses, maka harus memulai dari nol. Ibaratnya seperti pertumbuhan seorang bayi menuju dewasa. Selain itu, ada beberapa keris yang struktur bentuknya juga memberikan pelajaran hidup.
”Macam-macam, tergantung modelnya, tetapi yang saya pelajari filosofinya dari kerajaan-kerajaan di Jawa Timur,” tegas dia. Baginya, bentuk keris yang rata-rata seperti menunduk dan tidak lurus 90 derajat itu mengartikan bahwa manusia sejatinya harus rendah hati atau tidak boleh sombong.
”Keris, pada zamannya merupakan senjata paling canggih dan mahakarya raja-raja zaman terdahulu. Sehingga sekarang perlu diberi tempat agar benda pusaka tersebut menjadi saksi sejarah dan warisan budaya Indonesia,” terangnya.
Membuat keris tidaklah mudah. Tergantung dari tingkat kesulitan ukiran maupun lekukan dari keris tersebut. Paling lama, Fauzi membuat keris hingga sebulan. Sedangkan harga keris termahal yang pernah ia jual mencapai Rp 300 juta, untuk keris pesanan warga Suriname.
Kepada Malang Post, ia mengungkapkan bahan utama keris antara lain, meteor, nikel, besi jarod dan meteor nanta. Dari semua bahan tersebut, menurut Fauzi, yang paling mahal adalah meteor nanta yang harganya Rp 40 ribu per gram. “Satu keris membutuhkan bahan meteor nanta senilai Rp 4 juta,” imbuhnya.
Meski perajin keris, Fauzi tidak ingin disebut empu. Dia sudah cukup senang dengan nama tenarnya, Nur Bursa Keris. Lantaran dia sering menjual keris butannya melalui media online. “Kalau menyandang status empu itu sangat berat. Harus sosok benar-benar yang menjiwai,” tuturnya.
Meski demikian, dia tetap berharap kelak nantinya ada generasi penerus yang mencintai keris. Tidak hanya cinta, juga melestarikan dengan menyandang status sebagai perajin keris. Apalagi dia juga saat ini membina anak muda yang ingin belajar menjadi perajin keris.(binar gumilang/han)