Ahmad Nufiandani, Pemain Arema yang TNI AD


PILIHAN: Ahmad Nufiandani dan kedua orang tuanya. Dia sempat menghilang dari Arema saat memutuskan mendaftar menjadi TNI AD.

Pernah menorehkan caps bersama Arema Cronus, lalu menghilang karena lebih memilih karier sebagai prajurit TNI, tahun ini Ahmad Nufiandani kembali menjajal peruntungan di Bumi Arema. Kedatangannya ketika turnamen sudah berjalan, sempat menimbulkan tanda tanya. Namun dalam waktu cepat, dia mendapat kepercayaan dari tim pelatih, bahkan menjadi pemain muda dengan sinar paling terang di klub pujaan Aremania saat ini.
Ya, Dani, sapaan akrab pria asal Kandangan ini, datang ketika Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 Presented by IM3 Ooredoo berjalan tiga laga. Di detik-detik terakhir pendaftaran pemain, namanya bercokol sebagai pemain ke-27 Arema. Dia seakan menjadi penyelamat bagi tim dan pelatih, yang sedang goyang karena ditinggal dua nama andalan di sektor sayap, Dendi Santoso dan Antoni Putro Nugroho karena cedera.
Eskpetasi padanya pun langsung tinggi. Pasalnya, ketika membela Arema tahun lalu, dia bermain bagus, meskipun bukan dalam kompetisi resmi. Hasilnya, dia mendapat panggilan timnas U-22 untuk membela Indonesia  di kualifikasi Piala Asia 2016.
Setelah kualifikasi selesai dan Indonesia gagal lolos, Dani tidak lagi kembali ke Arema. Keputusan besar dan mengejutkan diambil oleh pemuda yang mengawali karier sepak bola profesionalnya di Persijap Jepara tersebut. Dia memilih mengikuti seleksi menjadi TNI AD, meskipun statusnya masih sebagai pemain Arema. Medio Oktober 2015, manajemen Arema pun merestui dan tidak menyertakannya dalam helatan Piala Jenderal Sudirman (PJS).
Namanya pun bak hilang ditelan bumi. Dani yang harus menjalani pendidikan selama enam bulan, juga tidak tampak dalam skuad PS TNI. Pemain berusia 20 tahun ini kalah bersaing. Arema pun sudah move on dan mengandalkan nama lain seperti Dendi Santoso dan Esteban Vizcarra.
Hingga akhirnya, ketika TSC 2016 bergulir dan badai cedera menimpa Singo Edan. Nama Dani, ditarik kembali ke Arema, karena pendidikannya sudah selesai dan dia tinggal menunggu pembaretan saja. Selain itu, putra pasangan Mofid dan Yayuk Indaryati itu, justru bermain untuk PS AD.
Begitu mendapatkan penawaran dari manajemen Arema, dia tidak berpikir panjang. Apalagi, dari kesatuannya tidak melarang dan justru memberikan rekomendasi. Keputusannya kembali diambil, karena tidak ada permasalahan dengan pekerjaan bagi pria yang kini telah menyandang gelar Sersan tersebut. “Ya saya senang bisa kembali ke Arema. Tim ini sudah tidak asing bagi saya,” beber Dani.
Dani pun memulai kesempatan keduanya di Arema. Melawan Gresik United, adalah laga perdananya. Dia langsung bermain dari menit pertama dan aksinya mengundang kekaguman sang pelatih. Di pekan-pekan selanjutnya, Dani tetap bermain dan hanya sekali absen karena alasan strategi.
Dia sukses menjawab dan menggantikan peran Dendi Santoso. Sekilas, gaya main Dani tak jauh berbeda dengan Dendi. Sama-sama lincah dari sayap, punya kecepatan dan jago drible sehingga lawan kesulitan merebut bola darinya.
“Tetapi saya tidak hanya bermain di sayap kanan. Saya bisa di winger kiri atau playmaker,” tegasnya.
Mantan pemain PSIS Semarang ini mengakui, cepatnya dia beradaptasi, karena sudah kenal dengan Arema. Sekalipun banyak pemain baru, dia juga masih mengenal banyak anggota skuad klub kelahiran 1987 itu. Selain itu, dia mengakui, persaingan di Arema, sangat fair.
“Di sini pelatih benar-benar melihat kemampuan pemain di lapangan. Line up ditentukan berdasarkan performa ketika latihan,” papar dia kepada Malang Post.
Hal itu yang memotivasi dia untuk memberikan yang terbaik bagi klub, tanpa khawatir adanya persaingan. Tak terkecuali, jika Dendi dan Antoni ataupun Ahmad Bustomi, kembali dari cedera. “Saya malah berharap mereka segera sembuh. Tim bisa lebih ramai dan makin banyak pemain, berbagai taktik bisa dijalankan,” urai dia panjang lebar.
Ditambah lagi, pelatih sangat memotivasi dan memberikan kesempatan bagi pemain muda. Di Arema saat ini, selain dirinya, juga ada Ryuji Utomo yang sering mendapatkan kesempatan turun. “Milo (Milomir Seslija, Red) juga disiplin. Sehingga, semuanya benar-benar serius. Itu bagus bagi pemain muda seperti saya,” tambahnya.
Terkait skill, dia mengakui semua diperoleh melalui kerja keras. Dia, bukan terlahir dari keluarga sepak bola. Ayahnya guru bahasa Inggris dan ibunya merupakan guru SD. “Saya hanya suka sepak bola sejak kecil. Bermain dari kampung ke kampung. Setelah itu, saya coba ikut SSB,” imbuhnya.
Setelah itu, kariernya juga tidak hanya di Kediri. Dia memilih ke Jepara dan Semarang, sebelum akhirnya berlabuh di Malang bersama Arema. (stenly rehardson/han)