Aifiya Kurniawati, Atlet Gulat Putri Asli Malang


Menyerah sepertinya menjadi kata haram untuk Aifiya Kurniawati, atlet gulat putri asal Malang. Pengalamannya jatuh bangun dalam membangun tiap tahap prestasi yang diraih, menjadikannya pribadi pantang menyerah dalam melakukan segala hal.
Fia, sapaan akrabnya, menceritakan perjalanannya hingga sekarang dengan ramah. Perempuan kelahiran 1999 ini memang harus melalui medan perjuangan yang tak mudah, untuk mendapatkan prestasi. Salah satunya adalah medali emas Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Jabar 2015.  “Saya dari kecil diajarkan untuk mengejar apa yang saya inginkan, tidak boleh menyerah ketika ada halangan yang menghadang,” paparnya.
Meski demikian, Fia mengaku saat pertama kali dirinya menekuni dunia olahraga gulat, tidaklah semulus yang dikira. Ia sempat mengalami perasaan minder dan dikucilkan oleh teman sesama atlet dikarenakan usianya yang masih muda dibandingkan yang lain.
Fia bergabung perdana dalam klub atlet gulat putri pada 2012, saat dirinya masih duduk di kelas dua SMP. Di sasana latihan yang berada di Pakisaji tersebut, Fia sempat merasa sendirian.  “Ya kebanyakan atlet sudah dewasa, ada yang SMA, mahasiswa sampai yang gede-gede lah. Saya paling kecil sendiri, itu yang bikin saya minder. Apalagi kekuatan mereka juga besar.  Makanya saat itu, saya sering nangis sendiri,” kenang Fia.
Walaupun sempat merasa minder dan sendirian, Fia tidak mau menyerah. Kekalahan dalam bertanding juga tak membuatnya putus asa ataupun mundur, bahkan semakin menempa dirinya untuk lebih kuat. Ia kalah, sedih, tapi lalu bangkit lagi. Lambat laun, Fia mulai terbiasa dengan kekalahan dan mampu belajar menjadi lebih baik lagi dari setiap pertandingan yang diikuti.
Dalam perjalanan itu, ia juga mulai bisa membaur dengan atlet yang lain. Mereka dan pelatih lah yang seringkali memberikan semangat di kala ia dalam kondisi down. Rasa ketidakpercayaan diri dan merasa dikucilkan pun, lambat laun sirna dari pikiran Fia. “Ya ternyata, setelah mengenal teman-teman atlet dengan lebih baik, tidak ada kesengajaan untuk mengucilkan. Itu perasaan saya saja,” ujarnya.  
Setelah sempat mengalami banyak kekalahan, Fia mulai mendisiplinkan dirinya sendiri. Ia juga mempunyai target untuk semua hal yang dilakukan. Jika saat pertama kali masuk dunia gulat, ia hanya berlatih dua sampai tiga kali seminggu, maka ia mulai meningkatkan frekuensinya.  “Sekarang satu hari minim dua kali latihan, “ tandas anak sulung dari dua bersaudara ini.
Dia mendapatkan prestasi pertama berupa medali perunggu pada kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Surabaya tahun 2012. Saat itu, Fia mengikuti kompetisi gulat di kelas 56 kilogram Bebas Putri. Walaupun perunggu, namun Fia sangat bangga dan senang dengan prestasi pertamanya itu. “Pengalaman mendapat medali pertama itu nggak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sebab itu adalah awal dari perjalanan prestasi saya lainnya,” ujar Fia.
Apa yang dipikirkan Fia kala itu, ternyata benar adanya. Ia mulai menanjaki puncak prestasi saat mengikuti kejuaraan daerah (Kejurda) di Lamongan pada 2014. Fia yang mewakili Malang memboyong medali emas di kategori gulat kelas 60 kilogram bebas putri.
“Di sini saya mulai yakin kalau saya bisa, dan tidak akan ada halangan apapun yang dapat membatasi saya untuk meraih lebih banyak prestasi,” tegas Fia bersemangat.
Gadis kelahiran 30 Agustus ini mengatakan, medali emas tersebut kemudian membawanya ke berbagai medali emas lainnya. Seperti pada Popda Gresik pada tahun 2014, dia juga mendapatkan emas di gulat kelas 60 kilogram bebas putri.
Selain itu, ia juga meraih emas dalam kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Provinsi (Porprov) di kelas 63 kilogram bebas putri. Yang terakhir, emas juga diboyong Fia pada Popnas 2015 lalu di Jawa Barat di kategori gulat kelas 60 kilogram.
Prestasi demi prestasi tersebut, menurut Fia dapat diraih atas dukungan kedua orang tuanya.  “Saya lahir dengan latar keluarga sederhana. Mereka alasan saya untuk terus berjuang. Saya hanya ingin bapak ibu bangga, itu saja,” imbuhnya.
Dengan hasil dari prestasi tersebut, Fia dapat meringankan beban orang tuanya dengan membiayai sekolahnya sendiri, dari hasil bonus prestasi yang ia dapatkan. Saat ini, Fia menempuh pendidikan di SMAN Olah Raga Jawa Timur di Sidoarjo.  SMA yang menjadi rujukan sekolah penghasil atlet berprestasi di Jawa Timur tersebut dapat dengan mudah dimasuki Fia karena prestasi seabrek yang ia miliki.
Fia berharap dapat menyekolahkan tinggi adik perempuannya yang saat ini masih SMP. “Ya dia nggak mau ikuti jejak saya jadi atlet, tidak apa-apa lah. Dia punya cita-cita sendiri, pasti akan saya dukung,” tutur alumnus SMP 20 Malang ini.
Gadis yang mengaku menggemari atlet gulat asal Jepang, Kaori Icho ini melanjutkan, untuk menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan orang tua, kuncinya hanyalah satu, yaitu pantang menyerah.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika semua orang percaya dan berusaha,” tegas Fia. Ia berharap pelajar seusianya harus lebih mengenal diri sendiri dan meraih cita-cita selagi masih bisa.
“Intinya jangan pernah menyerah, ambil segala kesempatan untuk membaggakan kedua orang tua dan bangsa sendiri,” pungkas Fia. (sisca angelina/han)