Bagikan Hasil Panen ke Janda dan Orang Tak Mampu


Ada pemandangan berbeda dari sosok Kasie Fungsional Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, Jianto. Senin hingga Jumat, boleh jadi ia nampak necis mengenakan seragam dinas. Tetapi di hari Minggu, seluruh atribut pejabat Dindik itu lepas. Berganti dengan kaos oblong dan celana pendek. Tempat yang ia kunjungi bukan lagi kantor dinas, melainkan sawah sebrang rumah yang ia miliki semenjak awal 2000.
Berbekal cangkul dan sabit, pria yang pernah bekerja di perusahaan real estate di Surabaya itu menengok sawahnya seluas yang 1.000 meter. Bapak dari dua puteri cantik itu telah memiliki sawah itu, tepat satu tahun setelah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Berkah dari kepemilikan sawah tersebut, Jianto tidak pernah menggunakan gajinya untuk kebutuhan pangan inti keluarga, seperti beras dan lauk pauk berupa telur ayam kampung, telur bebek, maupun daging ayam dan bebek. Semua itu ia dapatkan dari kegigihannya mengelola sawah dan peternakan miliknya.
“Gaji saya untuk kebutuhan lain, kalau beras bisa ambil dari sawah, telur ayam dari peternakan, sayur mayur juga ada beberapa dari polybag,” ceritanya kepada Malang Post.
Jianto memaparkan, dalam sekali panen, sawahnya bisa menghasilkan beras sebanyak 400 kilogram. Dengan jumlah sebanyak itu, ia tidak menjual sedikitpun hasilnya. Dari hasil panen itu, Jianto bisa membagi-bagikan kepada orang kurang mampu, rekan-rekan kantor, dan juga kepada tetangga-tetangganya yang janda. Pria asal Tulungagung itu menganggap, sawah yang ia miliki adalah amanah dari Tuhan, sehingga hasilnya pun harus menjadi manfaat kepada semua orang.
“Biasanya untuk stock kebutuhan keluarga kami ambil 10 kilo, untuk stock sampai panen depan, sisanya saya berikan kepada orang-orang,” tukasnya.
Mengenai jumlah pasti siapa saja yang telah dibantu lewat pengelolaan sawah itu, Jianto bungkam. “Yang jelas, sisanya saya berikan ke orang-orang per satu kilogram,” tuturnya. Beras dengan jenis IR-64 itu juga dirasa lebih sehat, ketimbang beras yang dijual di pasaran. Pasalnya, Jianto menggunakan pupuk dari kotoran bebek dan ayam dari peternakannya.
Di tengah gempuran perkembangan perumahan, Jianto tak ingin merelakan sawahnya hilang begitu saja. Ini karena aliran untuk menghidupkan sawah di wilayahnya relatif bagus, sehingga ia merasat sayang apabila nanti sawahnya harus diganti dengan bangunan rumah.
Soal keputusannya untuk tetap bertani, di luar tugas menjabat sebagai Kasie Fungsional, tak lepas dari latar belakangnya sebagai anak dari pasangan petani. “Saya ini anak petani asli, lahir di desa sebagai petani, jadi ilmu bertani sudah ada di benak saya semenjak kecil,” terang anak terakhir dari enam bersaudara itu.
Bahkan, ia mengisahkan, ketika pulang kampung saat libur kuliah, Jianto benar-benar memanfaatkan waktunya untuk membantu sang ayah menggarap sawah. Ketika mendekati panen, ia juga membantu sang ayah menjual beras-berasnya. Hasil dari penjualan itu ia bawa ke Kota Malang dan dimanfaatkan untuk membayar kuliah.
“Jadi saya selalu bilang sama mbok (ibu), kalau sudah mau mendekati bayar kuliah saya jual beras, untuk bayar kuliah dan mencukupi kebutuhan hidup selama di kota,” tuturnya. Kerasnya hidup ia tularkan kepada kedua puterinya.
Pria lulusan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) tahun 1994 itu mengungkapkan, ia tidak memiliki sapi untuk membajak, oleh karena itu ia membutuhkan jasa dan bantuan orang lain. Namun untuk urusan menanam bibit padi, PNS yang menjabat di usia ke-34 itu melakukannya sendiri. “Terkadang saya ajak anak. Supaya mereka merasakan susahnya mencari uang,” terangnya.
Saat ini, Jianto telah memiliki sawah seluas 1.000 meter, ditambah peternakan ayam seluas 300 meter. (alfinia permata sari/han)