Bripda Hendra Rahmat Perdana, Polisi Berprestasi Kota Batu

ProfilePara penjahat, jangan macam-macam jika bertemu Bripda Hendra Rahmat Perdana. Hendra sapaan akrabnya, bukanlah anggota polisi biasa. Pemuda 20 tahun asal Surabaya ini memiliki segudang prestasi. Terutama di dunia ilmu beladiri Jujitsu. Anggota Satuan Shabara Polres Batu ini pernah empat kali berturut-turut menjuarai kompetisi Jujitsu tingkat nasional. ”Saya mendapat juara satu, empat kali berturut-turut sejak tahun 2012 lalu. Terakhir saya menjuarai Unesa Open ke IX yang digelar di Golden City Mall tahun 2015 lalu,’’ katanya mengawali cerita. Dia menyabet gelar juara untuk pertandingan kelas bebas. Prestasi yang diraih Hendra ini memang tidak datang secara instan atau tiba-tiba. Prestasi tersebut diraih oleh alumni SDN Dukuh Pakis I Surabaya ini atas kerja keras dan kesungguhannya dalam berlatih. Kepada Malang Post, Hendra yang ditemui di sela-sela kegiatan pengamanan Kejuaraan Nasional IRC Powertrack di Sirkuit Paramount, Jalan Sultan Agung, Kota Batu beberapa waktu lalu menceritakan, Jujitsu bukan olah raga beladiri yang kali pertama dikenal olehnya. Ilmu beladiri pertama yang ditekuni anak pertama dari dua bersaudara ini pasangan Sunarto dan Nur Widyawati ini adalah Judo. Tahun 2010 lalu, Hendra ikut beladiri Judo atas suruhan kedua orang tuanya. Bergabung dengan Club Galaxy, Hendra yang saat itu duduk di kelas X ini awalnya cukup malas. Maklum, karena saat itu selain tak berminat, dia ikut karena suruhan dari orang tuanya. Hendra baru serius dan betul-betul ingin berlatih beladiri ini setelah mendapat pencerahan dari guru mengajinya. ”Saat itu guru ngaji saya berceramah, dalam ceramahnya beliau mengatakan seorang muslim wajib bisa beladiri, memanah dan berenang,’’ akunya. Ceramah itulah kemudian menyadarkan Hendra. Terbukti setelah mendapatkan ceramah tersebut, dia pun lebih rajin dan serius latihan Judo yang digelar di Polda Jatim. Latihan yang serius itupun memberikan hasil positif. Terbukti kurang dari setahun dia berlatih, pelatihnya pun mengikutsertakan Hendra dalam kompetisi Judo tingkat Provinsi (Piala Wali Kota Surabaya Cup). Luar biasa, di kompetisi pertamanya itu, Hendra menyabet juara tiga untuk kelas bebas. Prestasi yang diraih tersebut membuat Hendra lebih bersemangat, dan lebih serius untuk latihan. Tapi begitu, dia tidak sekadar berlatih Judo, dia juga berlatih Jujitsu. ” Tahun 2011, saya bergabung dengan club Jujitsu Dragon Fire, Surabaya. Saya ingin mengembangkan ilmu bela diri, itu saja motivasi saya,’’ bebernya. Di Judo, beladiri yang dipelajarinya sebatas gerakan membanting dan mengunci lawan, namun di Jujitsu dia bisa mempelajari pukulan dan tendangan. Keduanya dipelajari Hendra secara bersamaan. Bahkan, dia rela menghabiskan waktu bermainnya untuk berlatih kedua beladiri tersebut. ”Seminggu full latihan, jadi ya gak sempat main. Tapi saya suka dan tidak menyesal,’’ urainya. Meski berlatih dua beladiri, konsentrasi Hendra tidak terpecah. Dia betul-betul dapat menguasai dua ilmu beladiri tersebut dengan baik. Hasilnya, baru enam bulan berlatih Jujitsu, Hendra dipercaya untuk mengikuti kompetisi Jujitsu tingkat Provinsi Jatim (Piala Koni, Surabaya). Tidak disangka di kejuaraan pertamannya ini, alumni SMP Gema 45 Surabaya ini meraih juara II pertandingan kelas bebas. Prestasi ini membuat dia lebih bersemangat berlatih. Terbukti empat bulan selanjutnya saat ikut kompetisi Jujitsu Piala Wali Kota Surabaya dia kembali menyabet juara II. “Saat tahun 2011 dan 2012 ada beberapa kali saya ikut kompetisi, dan semuanya saya juara,’’ jelas Hendra. Tidak terkecuali saat dia mengikuti kompetisi Jujitsu tingkat pelajar se Jatim, dia juga menyabet juara. Hingga kemudian tahun 2013 lalu, Hendra mewakili Jatim berangkat ke Jakarta, untuk mengikuti kompetisi Jujitsu Antar Pelajar tingkat Nasional. Dia pun mendapat juara I. “Kalau disuruh menghitung berapa kali saya juara terus terang lupa, yang jelas di rumah ada puluhan medali, piala serta piagam,’’ imbuhnya. Hendra sendiri mengatakan, untuk mendapatkan prestasi tersebut tidak mudah. Dalam pertandingan saat kompetisi cedera kerap diperolehnya. Cedera paling dia ingat adalah saat pertandingan perempat final Unesa Open ke IX yang digelar di Golden City Mall. Akibat benturan yang sangat keras, rusuknya mengalami retak. Tapi demikian retaknya tulang rusuk tersebut tidak membuatnya kapok. Sebaliknya dia makin bersemangat. “Hampir setiap event selalu ada cidera, ligamen lutut kanan saya juga cidera, tangan kanan saya juga pernah retak. Ya begitulah bela diri, olah raganya keras,’’tambahnya. Tapi demikian, Hendra sendiri memiliki cerita menarik dalam kompetisi yang diikutinya. Selain cedera pada tulang rusuk yang tak terlupakan, saat pertandingan final dan penentuan juara waktunya barengan dengan dia ikut pendidikan polisi. Tapi demikian, Hendra sendiri tidak mau kosentrasinya pecah. Dia memilih untuk menyelesaikan dulu rangkaian kompetisi, baru kemudian dia berangkat pendidikan. “Unesa Open ke IX tahun 2015 lalu digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu. Sedangkan Senin saya harus berada di tempat pendidikan SPN Polda Jatim di Mojokerto. Jadi begitu pertandingan usai dan rusuk saya retak, saya langsung pulang, untuk kemudian ikut pendidikan,’’ beber Hendra. sembari tersenyum mengingat peristiwa tersebut. Hendra sendiri kehilangan moment untuk naik podium, karena dia harus pulang lebih awal. Meski berada di tempat pendidikan, Hendra tidak lupa untuk berlatih. Termasuk saat ini, saat dia sudah menjadi anggota polisi. Meskipun sangat sibuk dengan tugasnya, tapi dia tetap terus berlatih. ”Di Batu tidak ada tempat latihan untuk Jujitsu dan Judo, jadi latihannya sendiri di kontrakan,’’ katanya. Kecuali saat dia pulang, Hendra menyempatkan diri untuk berlatih dengan teman-temannya. ”Meski menjadi polisi, saya tetap ingin memperdalam ilmu beladiri Jujitsu dan Judo. Target saya adalah ikut kompetisi wakili Jatim di PON atau ikut SEAGAMES. Makanya itu, meskipun di sini tidak ada tempat latihan, saya tetap berlatih sendiri,’’ tandasnya.(Ira Ravika/ary)