Bunda Lita dan Bimbel Gratis Omah Sinau Utami


CERIA: Susiasih Damalita, pendiri Bimbel gratis Omah Sinau Utami (OSU) ini selalu menebar keceriaan kepada setiap anak yang ada di sekitarnya

Dari yang mulanya berjualan gorengan untuk memasukkan kedua anaknya ke bimbingan belajar (Bimbel), Susiasih Damalita dengan tekad kuat mampu mendirikan Bimbel gratis di pinggiran Kota Malang. Bermodal menjual tanah untuk kemudian dibelikan tanah lain, perempuan yang akrab disapa Bunda Lita ini mendirikan Omah Sinau Utami (OSU).
Ditemui di rumahnya Jl. Danau Gita Sawojajar Malang, Lita dengan ditemani kucing kesayangannya menceritakan bagaimana awal hatinya tergerak melakukan kegiatan luar biasa ini. Sama seperti orang tua lain, ia sangat ingin kedua anaknya mendapat tambahan jam pelajaran di luar lingkungan sekolah. Namun, rasa kaget tak dapat ditutupi ketika tahu nominal untuk memasukkan putra putrinya ke lembaga Bimbel ternyata tidak sedikit.
“Sangat mahal, apalagi kedua anak saya waktu itu menginginkan masuk untuk periode satu tahun,” katanya sembari menerawangi kisahnya dulu.
Berbekal tekad dan kemauan kuat, ia pun berjualan gorengan untuk menambah isi dompet demi masa depan kedua anaknya. Setelah dana mencukupi, dengan senyum lega dan perasaan plong, ia pun melangkahkan kaki kembali ke tempat Bimbel, untuk melunasi segala pembiayaan.
Seolah tak ingin anak-anak lain merasakan apa yang ia rasakan, Lita akhirnya bertekad mendirikan bimbel gratisnya itu. OSU mulanya hanya berbentuk tanah lapang, sebelum akhirnya berdiri kokoh sebagai sebuah bangunan seperti sekarang. Tanah lapang itu dulunya dipakai ibu-ibu untuk pelatihan hydroponic dan bermain anak-anak.
“Ketika ada waktu luang, saya dan kedua anak saya pasti menyempatkan bermain ke sana,” tambahnya.
Modal yang digunakan untuk mendirikan OSU ini awalnya adalah dari hasil penjualan tanah miliknya. Kala itu, tanahnya dihargai Rp 10 juta yang kemudian ia gunakan untuk kembali membeli tanah baru senilai Rp 33 juta. Sudah jelas, uang hasil jual tanahnya itu kurang, ia pun memutuskan menggunakan tabungannya untuk menutupi kekurang itu.
Karena dana untuk mendirikan bangunan belum ia dapat, ia pun membiarkan tanah lapang itu. Setelah 10 tahun lamanya, ia serasa meretaskan telur karena impiannya segera terwujud. Di tahun 2013 Lita mendapat suntikan dana dari sahabatnya Helianti Utami, sebesar Rp 45 juta yang didapat secara bertahap.
Dana itu masih jauh dari cukup, tapi ia menjadi lebih semangat lagi dan kembali mengeluarkan tabungan yang tadinya akan ia gunakan untuk memperbaiki rumahnya, untuk membangun OSU.

Sebagai bentuk syukur dan terima kasih, Lita pun mengabadikan nama sang sahabat sebagai nama Bimbel ini. “Sengaja diabadikan dalam nama OSU,” terangnya.
Lita sendiri dianggap ’aneh‘ karena mementingkan membangun OSU dibandingkan memperbaiki rumahnya sendiri. Ternyata bukan hanya pandangan miring yang ia peroleh dalam perjalanan mendirikan Bimbel ini. Dana yang awalnya akan digunakan sebagai finishing OSU raib karena ditipu oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Peristiwa terjadi ketika ia mendapat penawaran investasi untuk menebus sebuah mobil idaman dengan harga mencapai puluhan juta. Tapi sayang, ternyata emas yang ia investasikan dengan nilai Rp 15 juta dibawa kabur sang penipu. Sementara ia dan temannya pun sempat harus berurusan dengan polisi karena mobil yang ditebus secara patungan itu, merupakan mobil rental.
“Saya dulu nggak mikir ulang, dan berfikir uang saya itu akan bernilai lebih besar setelah mobil yang saya dan teman saya tebus itu dijual kembali. Tapi yang ada malah berurusan sama pihak berwajib,” tambah ibu dua anak ini.
Dengan pengalaman itu, ia pun menjadi lebih berhati-hati dan merasa bersyukur karena uangnya sedikit-demi sedikit dikembalikan. Setelah tertipu, Lita pun tak putus asa, dan rizki baru pun selalu mengalir. Hingga akhirnya bangunan OSU berdiri dengan kokoh dan selalu memberi keceriaan bagi anak-anak di sekitar.
“Luar biasa, karena mereka adalah anak-anak pintar. Yang datang tak hanya warga sekitar, tapi juga dari desa sebelah,” beber perempuan berhijab ini.
Kegiatan belajar mengajar pun akhirnya dapat berjalan seusai bangunan berdiri. Ia bersama anak dan juga relawan yang berasal dari komunitas maupun mahasiswa yang peduli dengan pendidikan anak-anak, setiap hari mengajar dengan gratis.
Setiap harinya, anak-anak dijadwalkan belajar dalam waktu berbeda. Sejak pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB kegiatan belajar dilakukan bersama anak-anak SD, berlanjut dari jam lima sore sampai enam sore untuk anak SMP, dan setelah maghrib kegiatan dilakukan bersama anak-anak SMA.
Setelah berjalan setahun. Masalah kembali menghampiri di tahun ke dua, yaitu kurangnya relawan yang memang memilih pulang kampung setelah lulus dari kuliah. Mencari relawan sangat sulit, hingga di tahun berikutnya, kegiatan belajar tidak seaktif di tahun pertama.
Beruntung, awal tahun ini ia kembali dipertemukan dengan banyak orang luar biasa dan kembali menghidupkan OSU. Bahkan, secara istimewa ia pun mendapat kunjungan dari komunitas 1001 buku dan banyak komunitas hebat lainnya dari wilayah Malang Raya. Sejak saat itu, Bimbelnya ini pun bertransformasi. Tidak hanya sebagai tempat Bimbel, tapi juga taman baca masyarakat untuk lebih meningkatkan minat baca mereka.
Lita dan OSU pun sekarang ditunjuk sebagai Koordinator Taman Baca Masyarakat (TBM) wilayah timur. Ia juga tergabung dalam Persatuan Pengkisah Muslim Indonesia yang mengajarkan kebajikan kepada anak-anak menggunakan objek cerita. “Karena anak-anak berhak mendapat pendidikan, dan dunia ini sangat indah dengan penerangan ilmu,” pungkas perempuan yang juga bekerja dalam Kantor Kearsipan Pusat Universitas Negeri Malang ini. (Pipit Anggraeni/han)