Dewi Endah Sari, Jawara Guru Prestasi Jawa Timur


Proses mendidik, bagi Dewi Endah Sari bukan hanya sekadar soal transfer teori dari guru dan murid. Bukan pula soal papan tulis, hafalan rumus, tugas dan ulangan. Tetapi lebih itu, mendidik adalah tantangan tentang bagaimana proses belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sekaligus merajut untaian kisah antara guru dan para siswa semakin rekat.
Berdasarkan keyakinannya tersebut, Dewi lalu mencoba menggabungkan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pengembangan model pembelajaran Think Per Share (TPS). Dari perpaduan dua model tersebut, guru biologi SMAN 1 Kota Malang melahirkan sebuah metode pembelajaran Kwarbi, yaitu kartu kwartet biologi.
Kwarbi yang diterapkan Dewi kepada anak didiknya ini memanfaatkan kartu sebagai media pembelajaran. Dalam kartu tersebut ada satu teori yang penjabarannya dibagi menjadi empat konsep berbeda. Ia lalu membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan satu dari empat konsep yang paling utama, untuk dipelajari dalam tim mereka. Di bawah penjelasan tersebut juga ada satu gambar, yang merupakan contoh dari rangkaian konsep di atasnya.
Dewi mencontohkan teori pembahasan tentang Gymnospermae yang memiliki empat konsep pembahasan, yakni cycadophyta, pinophyta, gnetophyta dan gynkgophyta. Masing-masing kelompok akan mendapat jatah satu konsep untuk dipelajari dan dijelaskan kepada rekan-rekan mereka dari kelompok lain.
“Misal kartu pertama, yang diberi warna kuning adalah pembahasan tentang cycadophyta untuk kelompok pertama. Kelompok ini yang harus mempelajari tentang cycadophyta lalu mempresentasikan ke teman-teman dari kelompok lainnya,” ujar perempuan yang akan berangkat dalam ajang guru prestasi tingkat nasional, Agustus mendatang. Dalam kompetisi tersebut, Dewi masih akan membawa Kwarbi yang membawanya hingga menjadi juara pertama guru prestasi jenjang SMA tingkat Jawa Timur.
Meski demikian, ia mengungkapkan awalnya sempat merasa penelitiannya sangat sulit. Sebab, sebelumnya tidak semua guru mempunyai penelitian tindakan kelas yang memadukan dua komponen antara PTK dan TPS.
Menurut guru kelahiran Bandung, 6 April 1966 tersebut, metode TPS menuntut guru mengarahkan siswa bertindak aktif dan kooperatif. Sebab, siswa memegang peranan utama dalam teori yang mereka dapatkan, meski tetap dalam panduan dan pengawasan langsung dari Dewi.
“Karena begitu dapat kelompok dan kartunya, anak-anak harus mencari teorinya. Di sini, di samping mendapat teori juga melatih sistem kerjasama dan mental percaya diri untuk mempresentasikan hasil pencarian mereka ke kelompok lain,” jelasnya.
Awalnya, juri kompetisi guru berprestasi sempat tidak menyetujui penelitian Dewi. “Sebab dalam benak para juri, penelitian kwartet hanya untuk bermain, tidak ada hubungannya dengan belajar,” ungkap ibu dua anak itu.
Namun setelah mendengarkan penjelasan rinci tentang metode tersebut, juri pun berubah 180 derajat. Buah karya pendidik yang telah mengabdi semenjak tahun 1989 itu mendapat pujian dari dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang menjadi juri dalam kompetisi tersebut. Pasalnya, banyak guru yang mempunyai kwartet tetapi digunakan untuk permainan, bukan untuk proses pembelajaran.
“Mungkin ada guru yang hanya melakukan TPS saja tapi tanpa PTK, tidak ada nilai plusnya. Kalau bisa memadukan maka akan menjadi nilai plus,” ujarnya. Oleh karena itu, Kwarbi karya perempuan yang telah menjadi guru di SMAN 1 Kota Malang semenjak tahun 2002 itu mendapat nilai plus.
Malahan, kwarbi karya Dewi akan diusulkan dosen tersebut kepada mahasiswanya, untuk diterapkan saat proses praktek kerja lapangan mengajar ke beberapa sekolah. “Dosen tersebut mengatakan, dari penelitian saya akan diusulkan ke mahasiswanya untuk membuat kwartet satu seri berisi 32 kartu, dengan delapan judul,” kenangnya.
Menurut Dewi, hasil dari penerapan metode belajar menggunakan kwarbi cukup dahsyat. Siswa dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada konsep dunia tumbuhan dan hewan di kelas SMA. Sebenarnya, selain biologi, metode belajar menggunakan kartu kwartet dapat diterapkan di semua mata pelajaran, seperti IPS maupun bahasa. Semua tergantung dari kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan teori.
“Karena dari interaksi tersebut akhirnya memancing pertanyaan dari kelompok lain, akhirnya timbul diskusi dan memancing rasa kritis dari masing-masing siswa,” ujarnya. Dewi merasa metode yang ia terapkan cocok dengan penerapan Kurikulum 2013. Sebab, dalam metode yang ia tonjolkan sesuai dengan salah satu metode kurikulum tersebut, yakni metode sintaks yang meminta siswa aktif mencari jawaban atas teori yang diberikan guru. (alfinia permata sari/han)