Dini Rachmawati, Pemilik Kayyis Craftshop

Berawal dari hobi, Dini Rachmawati akhirnya keterusan menekuni kegiatan merajut yang menjadi penghasilan tambahan bagi keluarganya. Melalui produk wearable seperti sweater hingga jaket, koleksinya bahkan tembus sampai mancanegara. Namun yang menarik, dia merasa bahagia bukan karena itu saja. Dengan usahanya, Dini bisa mengajak perajut untuk bekerja sama memperoleh pendapatan dari rajutan, ditambah lagi dia bisa turut berbagi dengan anak-anak yang mempunyai kekurangan di hidupnya. Dini hobi merajut sejak remaja. Dari benang nilon, dia membuat produk fashion seperti sweater atau topi, yang akhirnya dikenakan sendiri. Setelah berkeluarga, dia pun berpikir terus menekuninya. "Berawal dari hobi saja. Ketika sudah berumah tangga, ternyata merajut yang hanya sesekali saya lakukan hasilnya ada yang meminati," ujarnya, mengawali cerita. Sampai akhirnya, dia menemukan teman yang punya minat sama dengan usaha serupa di tahun 2007. Dia pun bersemangat, karena usai berbagi cerita, hobi yang dikerjakan sambil lalu, mampu memberikan penghasilan tambahan. Ibu tiga putri ini akhirnya mulai memajang produknya melalui online, delapan tahun lalu. Dulu, Facebook masih menjadi primadona. Pesanan berawal dari kerabat Facebook. "Apalagi sejak 2009 saya aktif dengan komunitas Rajut Malang. Tidak hanya produk saya, tetapi banyak teman lain yang berbisnis rajutan," ungkap dia. Setelah itu, koleksinya pun diketahui sampai luar kota. Berawal di Jawa Timur, hingga akhirnya ke kota lain seperti Semarang, Bandung sampai Palembang. "Ya karena saya pajang di dunia maya, mungkin ada yang melihat dan tertarik. Tetapi sebagian besar memang di Jawa Timur," sebut Dini. Sampai akhirnya, kerabatnya di Jerman menjadikan koleksinya sebagai oleh-oleh. Produknya berupa jaket untuk musim dingin. "Kebetulan di sana lagi musim dingin," sebutnya. Selain itu, diakuinya, apa yang dia buat menarik perhatian customer India. Alhasil, koleksi yang dia kenalkan dengan produk bernama Kayyis Craftshop itu sampai ke dua negara tersebut. "Mungkin kalau ini kebetulan saja ada yang tertarik melihat koleksi saya," papar dia. Menurutnya, banyak permintaan yang menghampirinya. Tetapi karena yang dijual adalah handmade, kemampuannya terbatas. Untuk satu koleksi wearable dewasa, bisa dibuat sampai satu pekan bahkan lebih. Beruntung, dia tergabung dalam Komunitas Rajut Malang yang akhirnya saling membantu membuat produk. "Kalau pas ramai, ya minta bantuan teman-teman. Begitu juga sebaliknya. Yang penting warna dan bahan sama," imbuh alumnus Universitas Negeri Malang itu. Dini mengakui, teman-temannya di komunitas membuat dia mendapatkan banyak keuntungan. Termasuk kepercayaan baginya menjadi koordinator bersama 11 teman lain. "Tidak hanya untung bisnis, tetapi saya bisa belajar mengoordinir teman-teman atau mengikuti pelatihan. Selain itu, mengembangkan bisnis saya," ungkapnya pada Malang Post. Dengan anggota lebih dari 100 orang, diakuinya tidak mudah. Bahkan, kadang dia terlalu fokus pada anggota ketika persiapan pameran atau workshop, sampai lupa jika dirinya harus membuat produk pula. Entah itu pesanan atau koleksi baru. "Tetapi saya banyak keuntungan, banyak saudara dan dipercaya untuk ikut seminar. Pengetahuan bisnis UMKM pasti bertambah juga," jelas perempuan berhijab ini. Selain itu, yang tak kalah menyenangkan bagi Dini adalah dia bisa berbagi. Diakuinya, sejak tahun lalu dia bisa memperhatikan anak-anak penyandang kanker. Di momen tertentu, dia bersama rekan-rekannya, akan membuatkan hadiah rajutan kepada anak penderita kanker di salah satu rumah sakit di Malang tersebut. "Hal itu tidak ternilai harganya. Saya bisa membuat orang lain senang dengan apa yang saya buat. Misalnya untuk momen kemerdekaan ini, saya membuat hadiah topi," imbuhnya. Tidak hanya untuk anak kanker, Dini juga beberapa kali tergabung dalam Kelas Inspirasi Malang. Dia memberikan pelajaran merajut pada anak-anak Sekolah Dasar. "Hal-hal seperti itu sangat menyenangkan. Keahlian saya bisa bermanfaat untuk orang lain, meskipun tidak secara materi," tegasnya. Dini mengakui, kini dia kian bersemangat untuk membesarkan Kayyis Craftshop. Satu yang menjadi cita-citanya, mendapatkan hak merek untuk bisnisnya. (stenly rehardson/han)