Dua Pekan Muhadjir Effendy Jadi Mendikbud

Pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam reshuffle beberapa waktu lalu, sempat memicu tanda tanya. Mengapa Anies Baswedan diganti? Ketika tidak ada kebijakannya yang mendesak dan meresahkan masyarakat. Kondisi itulah yang mengiringi Muhadjir Effendy saat mengemban amanah sebagai Mendikbud. Muhadjir sendiri menyadari keraguan yang muncul di masyarakat terhadap dirinya. Meski demikian, menjawab permintaan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo, Muhadjir mantap melangkah untuk membuat pendidikan lebih maju. “Banyak yang bertanya, mengapa Pak Anies diganti. Padahal kebijakannya cenderung sukses,” ujarnya saat menghadiri acara di UMM, Sabtu (7/8). Muhadjir tak ingin mempolemikkan hal tersebut. Ia mencoba menjawab amanah itu dengan bekerja sebaik mungkin. Ia pun percaya segala sesuatu yang terjadi tak lepas dari takdir Allah SWT. Hal itu pula lah yang ia sampaikan kepada mantan Rektor Universitas Paramadina itu saat momen perpisahan. “Saya ucapkan kepada Pak Anies saat, pasti ada sesuatu yang besar dengan keluarnya Anda (dari Mendikbud) yang sedang dirancang Allah, ada sesuatu yang besar pula yang sedang dirancang Allah dengan masuknya saya,” ucapnya. Pria yang pernah menjadi wartawan kampus itu mengaku, perjumpaan dan perpisahan dengan Anies Baswedan berlangsung mesra. Muhadjir meyakini, ada hal baik dalam setiap perpisahan dan pertemuan, keluar dan masuknya orang baru dalam kementerian. “Ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Jangan pernah melupakan dan mempercayai takdir Tuhan,” imbaunya di hadapan seluruh peserta. Sebagai seorang menteri, Muhadjir mengakui ada hal berbeda dengan ketika ia masih menjabat sebagai akademisi.“Sebagai menteri tentunya tidak boleh pegang visi misi sendiri, harus berjalan sesuai arahan presiden,” ujarnya di hadapan publik. Ia mengatakan, berbeda dengan saat ia menjadi seorang akademisi. Ketika masih menjabat sebagai rektor, Muhadjir bisa “seenaknya” menetapkan sebuah kebijakan. “Nah yang nggak enak ini kan mereka yang berada di bawah rektor. Sekarang terbalik, saya yang mendapat perintah dari presiden, di bawahnya presiden,” urainya diikuti gelak tawa peserta yang hadir. Meski banyak bertugas di DKI Jakarta, Muhadjir belum berencana memindahkan istri dan anak-anaknya untuk turut serta pindah ke ibu kota. “Biarlah saja mereka belajar di Kota Malang, nanti saya akan sering pulang ke Malang dalam satu atau dua bulan sekali,” janjinya. Sejak dilantik sebagai Mendikbud pada 27 Juli 2016, Muhadjir baru pulang ke Malang pada 6-7 Agustus lalu. Dalam waktu yang pendek tersebut, ia langsung beranjangsana ke beberapa tempat di Malang Raya. Mulai dari pertemuan dengan kepala daerah Malang Raya, hingga menghadiri acara di UMM dan UM, kampus tempatnya mengabdi. Selama kunjungan tersebut, tak ada yang berbeda dan berubah dari Muhadjir Effendy. Ia tetap seperti dulu, sosok yang suka bercanda dan melontarkan joke-joke ringan. Muhadjir juga menyapa dan berbincang dengan teman-teman lamanya dengan menggunakan bahasa Jawa. Bahkan ia sempat berkomentar “koyok medayoh ae” saat melihat penyambutan yang diberikan untuknya waktu berkunjung ke UM. “Lha sekarang kan sudah jadi menteri,” ucap Wakil Rektor I UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd menanggapi celetukan spontan Muhadjir. Audiens dan rombongan yang hadir pun hanya tersenyum mendengar komentar Mendikbut. (alfinia permata sari/han)