Emalia Iragiliati Sukarni-Lukman, Putri Pahlawan Sukarni Kartodiwirjo


Emalia Iragiliati Sukarni-Lukman, putri bungsu pahlawan nasional kemerdekaan RI, Sukarni Kartodiwirjo tidak menyalahkan masyarakat jika nama ayahnya tidak banyak tercantum dalam dokumen ataupun buku sejarah. Padahal  Sukarni Kartodiwirjo adalah salah satu tokoh muda yang berperan besar dalam terwujudnya proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 silam.
“Saya tidak menyalahkan masyarakat Indonesia atau siapapun, mencari data tentang bapak pun memang sangat sulit. Bahkan untuk diri saya sendiri,” ungkap Emalia saat ditemui Malang Post, Minggu (21/8) di kediamannya.
Hal inilah yang juga Emalia ucapkan saat menghadiri salah satu talkshow stasiun televisi nasional “Mata Najwa” di episode “Di Balik Layar Proklamasi” tepat di 17 Agustus lalu. Perempuan yang akrab disapa Mimil ini kemudian menceritakan, saat dirinya mengerjakan tulisan mengenai biografi ayahnya, sangat membutuhkan kerja keras dan waktu yang tidak sebentar.
Pasalnya, mencari data sejarah sosok Sukarni sendiri, bagi Mimil merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Dia harus rela mengejar data mulai dari arsip nasional sampai pada arsip di beberapa negara lain seperti Amerika dan Inggris soal data mengenai ayahnya sendiri.
“Ayah meninggal waktu umur 18 tahun. Belum mengerti apa-apa, yang saya tahu hanyalah saya sudah menjadi yatim piatu. Karena ibu juga sudah duluan meninggalkan kami karena sakit,” kenang Mimil.
Namun perjuangan menggali data demi data terait peran Sukarni tersebut akhirnya membuahkan hasil. Selain menjadi sebuah buku biografi berjudul “Sukarni & Actie Rengasdengklok” pada tahun 2013, pada November 2014 lalu nama Sukarni pun akhirnya diangkat dan diberikan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.
Peristiwa  Rengasdengklok, lanjut Mimil memang merupakan kejadian yang tidak akan terjadi tanpa peran tokoh muda Indonesia pada saat itu, termasuk Sukarni, ayahnya. Mimil menceritakan, peran vital ayahnya pada saat itu adalah menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa Jepang sudah kalah perang.
“Ini yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar orang. Pada saat itu, ayah menjadi staf di kantor berita radio Jepang. Siaran mengenai kekalahan Jepang secara sembunyi-sembunyi diinformasikan kepada tokoh muda lain yang akhirnya menjadi pencetus terjadinya peristiwa Rengasdengklok,” papar Mimil.
Namun, seperti yang ditulis sejarah, peristiwa yang selalu dikaitkan dengan tindakan “penculikan” Sokearno tersebut, menurut Mimil sendiri adalah tindakan heroik yang akhirnya memberikan kesempatan Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaannya.
Dalam jangka waktu yang sangat pendek, sejak Sukarni memberitakan kekalahan Jepang terhadap tokoh pemuda lain itulah yang menjadi penentu kemerdekaan RI. Saat ditanya mengenai ketidak adilan sejarah terhadap kontribusi ayahnya yang besar tersebut, Mimil selalu menjawab dengan nada tenang.
“Saya tidak pernah salahkan orang-orang yang sepertinya tidak memberikan porsi sejarah yang sepantasnya pada ayah. Ayahpun pasti tidak juga menginginkan hal tersebut, dia sangat cinta Indonesia. Apapun akan beliau lakukan, meski tidak berbalas,” imbuh Mimil.
Ia menambahkan, ayahnya pun menjadi seseorang yang mencetuskan ide penambahan salah satu bagian teks proklamasi yang bertulis “atas nama Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia”. Hal ini menurut Mimil merupakan wujud cinta ayahnya pada Indonesia.
Kecintaan ayahnya pada Indonesia sempat diragukan karena mendirikan partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), yang seringkali dikaitkan dengan tokoh komunis Tan Malaka pada tahun 1948. Pada masa itu Sukarni, sering terlibat perkelahian dengan kaum PKI sendiri dan akhirnya dijebloskan ke penjara.
“Partai itu malah sebenarnya berseberangan dengan paham komunis. Tetapi memang banyak orang salah paham dan masih sensitif terhadap paham PKI. Karena itulah ayah sempat dipenjara pada tahun 1965,” ungkap Mimil.
Saat dipenjara itulah, kondisi Sukarni yang sebelumnya memiliki penyakit gula semakin parah karena tidak terobati dengan benar. Pada tahun 1966, akhirnya Sukarni dibebaskan dari penjara dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Nasib Mimil sendiri kemudian berubah 180 derajat akibat ditinggal ibundanya, Nursjiar Machmoed dan Sukarni, ayahnya dalam jangka waktu yang berdekatan di antara tahun 70-an. “Saat itu saya yang paling kecil. Hidup melarat dan miskin sedangkan empat saudara saya ya sudah berkeluarga dan kerja. Jadi saya bingung takut putus sekolah. Tetapi ada teman bapak namanya Almarhum Jendral Sudjono Oemardani, yang bantu sekolah saya sampai bisa seperti ini,” tutur Mimil.
Mengenang sosok ayahnya, Mimil mengenangnya sebagai pribadi yang selalu mengingatkan anak-anaknya untuk mencintai tanah air, dengan memiliki intelektual dan keyakinan besar terhadap Tuhan YME.
Maka dari itu, Mimil dalam kenangan terhadap ayahnya selalu berpegang teguh pada pedoman tersebut, setiap kali mengajar pada murid-muridnya, di manapun. “Tapi selain pesan ayah yang selalu mengajarkan saya untuk percaya diri, berbakti pada negara dan selalu produktif, saya tambahkan lagi yaitu selalu update agar bisa survive dan berkontribusi,” tutup perempuan kelahiran Yogyakarta ini.(sisca angelina/han)