Eny Priyantuti dan Paguyuban Dwijo Manunggal Laras


MENGHIBUR: Eny Priyantuti bersama anggota paguyuban Dwijo Manunggal Laras usai menghibur masyarakat dengan seni campursari.

Menjadi guru siswa SD, tidak menghilangkan jiwa seni Eny Priyantuti. Sebaliknya, ibu dua anak ini kian getol mengembangkan seni yang salah satu dengan mendirikan paguyuban seni campursari Dwijo Manunggal Laras. Paguyuban ini kerap tampil di layar kaca. Bahkan sejak tahun 2012 lalu, paguyuban dengan 30 anggota tersebut menjadi langganan tampil di TVRI.  
“Kami juga akan tampil lagi 4 Agustus 2016 mendatang. Ini kesekian kalinya kami menghibur masyarakat seluruh Indonesia dengan musik campursari,’’ kata Eny. Lantaran itu, Eny dan anggota paguyuban lain pun saat ini sedang sibuk latihan.
Ditemui Malang Post di rumahnya, Eny layaknya ibu-ibu pada umumnya. Ia tampil sederhana. Namun kesederhanaan itu berubah saat Eny mulai nembang. Suaranya sangat merdu, membuat siapapun yang mendengar akan terpana.
‘‘Kutho Batu Kota Pariwisata, Katon Ngeglo Biru Gunung Arjuno, Wetan Adoh Katon Gunung Semeru, Opo Kuwe Gelem Melu Aku,’’ begitulah syair lagu yang dibawakan Eny. Dia mengatakan, lagu berjudul ‘Janji Ning Kutho Batu’ ini salah satu lagu yang akan dibawakan saat tampil di TV.
Eny menceritakan, Paguyuban Seni Campursari Dwijo Manunggal Laras didirikan pada 24 April 2009. Sebelumnya, Kota Batu memiliki banyak paguyuban campursari. Namun karena kurangnya perhatian, grup campursari itu pun bubar satu per satu.
Eny yang cukup aktif di salah satu grup campursari saat itu merasa sayang, jika semuanya bubar. Dengan tekat kuat, dia pun mendirikan sendiri grup campursari. Beberapa temannya yang sebelumnya aktif di paguyuban campursari, ia ajak untuk bergabung. Meskipun awalnya ogah-ogahan, lantaran melihat musik campursari yang semakin sedikit penggemarnya, namun akhirnya mereka memilih ikut. Terlebih saat itu Eny terus memberikan semangat kepada mereka.
“Keinginan saya saat itu hanya satu, ingin mengembangkan serta melestarikan seni campursari. Saya tidak ingin seni campursari yang merupakan warisan budaya ini punah. Saya ingin anak cucu kita nanti tetap mengenal kesenian,’’ tuturnya. Nama Dwijo sendiri diambil karena basicnya adalah seorang guru. Dengan paguyuban Dwijo Manunggal Laras ini, Eny berharap bisa tetap melestarikan seni campursari.
Tahun pertama berdiri, Eny mengaku cukup susah mengelola. Karena tidak banyak job manggung. Tapi berbekal kesabaran, Eny tidak patah semangat. Dia tetap mengenalkan seni campursari kepada masyarakat.
Hingga kemudian di tahun 2011, job manggung mulai berdatangan. Tidak hanya menghibur warga di acara hajatan, tapi juga tampil di instansi-instansi militer dan pemerintahan. “Kami pernah tampil di Divisi II Kostrad, pernah juga tampil di Korem 083/Bdj, Kodim 0833/Kota Malang, Kodim 0818 Kabupaten Malang dan Kota Batu juga di Polres Malang,’’ urai Eny.
Nama Dwijo Manunggal Laras pun mulai melambung sejak saat itu. Tawaran tampil terus berdatangan ke paguyuban yang memiliki sekretariat di Jalan H Mustofa RT02 RW03, Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kota Batu itu. Bahkan satu minggu mereka bisa manggung hingga empat kali, dan membuat para anggota grup ini kewalahan.
“Kami pantang menolak job asalkan waktunya tidak bersamaan, pasti kami siap tampil,’’ tambahnya. Bukan karena honor, tapi karena ingin karyanya diapresiasi. Ya, menurut Eny, seniman tidak dipandang karena cantik atau gantengnya dia, tapi karena karyanya.
Nama Dwijo Manunggal Laras pun sampai didengar pimpinan produksi TVRI, Jawa Timur, tahun 2012 lalu. Karena semakin populer, bagian produksi TVRI pun mengundang grup ini untuk tampil. Eny dan rekan-rekannya sama sekali tidak menyangka mendapat tawaran tersebut dan menerimanya.
”Waktu itu kita membawakan tujuh lagu campursari. Dan Alhamdulillah, semuanya puas dengan penampilan kami,’’ katanya.
Tampil di TVRI menjadi pembuktian Eny dan rekan-rekannya, bahwa seni campursari layak dilestarikan. Hasilnya, mantan guru SDN Junrejo 1 ini pun kian bersemangat. Dia tidak sekadar menyanyikan lagu, tapi juga menciptakan lagu dan mengarasemennya.
Tapi yang menarik, perempuan yang pernah menjadi juara II mendongeng tingkat Jatim ini menciptakan lagu dengan syair tentang Kota Batu.  Lagu pertama yang diciptakannya adalah Alun-Alun Batu. Lagu ini mulai dikenalkan kepada masyarakat tahun 2014 lalu. Dia mengatakan banyak membuat syair tentang Kota Batu karena Dwijo Manunggal Laras lahir di kota ini, dan seluruh personelnya adalah warga kota wisata itu. Dia juga berharap dengan lagu ciptaannya itu Kota Batu pun semakin banyak dikenal di masyarakat.
Lagu lain yang Eny ciptakan adalah Janji Ning Kutho Batu dan Tak Jak Nonton. Sedikitnya sudah ada 12 lagu ciptaannya yang sudah dikenalkan kepada masyarakat. ”Khusus Tak Jak Nonton, ini lain dari pada yang lain,’’ kata wanita kelahiran tahun 1958 ini. Sebab lagu ini khusus dibuat untuk mengiringi tari sanduk yang saat ini booming di Kota Batu.
”Tari Sanduk ini dari Madura, nah kami ingin membuat ciri khas sendiri di sini, di mana lagu untuk mengiringi adalah lagu khas dan memiliki karakter Batu,’’ urainya.
Eny mengungkapkan, dia menyukai seni campursari karena kesenian ini tidak sekadar menghibur. Tapi juga banyak memiliki pesan. Lagu campursari banyak memuat tentang pitutur atau nasehat. ”Kalau saya pribadi mulai suka dengan musik atau kesenian campursari sejak SD. Sampai saat ini tidak berubah,’’ kata ibu Febrian Anandy Pudya Winata.
Sebagai orang yang mencintai seni, Eny pun tidak lupa menularkan kepada anak-anaknya. Sejak kecil dua anaknya dikenalkan musik campursari. Sekalipun tidak semua meniru jejaknya, namun mereka tetap memiliki jiwa seni. Terbukti Febrian, anak kedua Eny menjadi gitaris grup band Bian Gindas. ”Kalau di rumah dan saat kumpul, kami suka nyanyi campursari. Kami berharap, seni ini dikenal sepanjang waktu dan tetap lestari sampai kapanpun,’’ katanya.(ira ravika/han)