Founder Sego Bungkus, Tia Maulana

 
“Berbagi tidak harus menunggu sukses, tapi bisa dimulai dari hal sepele yang kebanyakan orang mungkin menganggapnya tidak penting,” inilah sepenggal misi yang diemban Tia Maulana, founder Sego Bungkus yang hingga detik ini tak pernah kapok berbagi dengan banyak orang membutuhkan yang ada di sekitarnya.
Sama halnya dengan orang yang ingin mencapai sebuah angan dan cita-cita, terjun dalam bidang sosial ternyata juga tidak selamanya mulus. Ada begitu banyak cerita lucu bahkan miris yang sempat dilalui Tia untuk tetap menebarkan virus cinta berbaginya itu. Selain sempat pernah ditipu oleh event organizer, ia bahkan pernah ditipu oleh orang yang nyatanya benar-benar telah ia tolong.
“Dari situlah saya dan teman-teman banyak melakukan evaluasi, dan akhirnya kami mampu bertahan sampai sekarang. Selain Malang, beberapa kota seperti Klaten, Bali, Jakarta, Surabaya, dan banyak kota lain juga kami rangkul sampai sekarang,” katanya pada Malang Post ketika ditemui di kantor miliknya yang berlokasi di kawasan Jl. Cokelat, kemarin.
Dia bercerita, ia bersama rekan Sego Bungkus ketika itu memang sempat ditipu oleh seorang yang memang mendapat bantuan darinya. Dengan semangat yang berkobar dan tanpa memperhatikan sisi lain, ia mencoba memberi bantuan dalam bentuk yang tidak biasa. Beberapa keluarga yang didapatinya tidur di emperan toko dan mengaku berasal dari luar kota itu pun ia rangkul dengan layanan yang tidak biasa.
Keluarga tersebut diinapkannya di sebuah hotel, dan coba ia make over dengan dandanan serta baju yang cakap. “Keluarga ini ngakunya dari Blitar,” lanjut Tia. Tanpa ada sedikitpun rasa curiga, keluarga ini pun dipulangkannya ke Blitar menggunakan jasa travel dan sedikit rupiah yang menurutnya merupakan modal untuk dibuat di tempat asalnya itu.
Namun di tengah perjalanan, keluarga itu merampok sang sopir travel dan merampas HP serta sejumlah uang. Sayangnya lagi, mereka kembali ke Malang dan melakukan aktivitasnya yang sama. Dari kejadian itu, ia tak sedikitpun merasa kecewa, tapi mendapat banyak pelajaran baru.
“Itulah tadi, memang tidak ada salahnya berbagi dengan hal yang mewah, tapi tak salah juga jika berbagi itu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat,” tambah istri Agung Sulistyo ini.
Menurutnya, dengan pengalamannya itu ia dan tim Sego Bungkus memilih kembali berbagi dengan sangat sederhana. Poin utamanya adalah berbagi kebahagian, terutama bagi anak-anak yang kurang beruntung. Pelajaran moral mulai menjadi konsentrasi utama yang coba ditularkan kepada anak-anak.
“Sekarang kami lebih konsentrasi pada anak-anak yatim non panti yang memang tidak banyak mendapat perhatian dari masyarakat. Karena keberadaan mereka tidak jarang tak tampak, dan hidup bersama saudara atau neneknya,” jelas Tia.
Anak-anak, dari kalangan manapun sungguh berhak mendapat sebuah kebahagiaan. Mereka yang kurang beruntung secara finansial, mungkin terkadang merasa kurang percaya diri karena tidak pernah merasakan sensasi nonton film di dalam bioskop. Selain itu, ketika menonton TV, anak-anak itu tentu sangat mengidolakan seseorang untuk dapat ditemui suatu saat nanti. Dari hal yang terlihat biasa-biasa saja inilah ia mencoba merangkul anak-anak yatim yang memang kurang beruntung.
“Kami sengaja mengagendakan kegiatan charity bersama dengan para artis atau tokoh kenamaan. Dari pada saya hanya memberi ia uang Rp 100 ribu, besok atau lusa dia pasti lupa, tapi kalau diberi pengalaman baru, mereka akan sangat senang, dan termotivasi,” urainya.
Profesinya sebagai Managing Director Barrat Enterprise, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang event organizer juga menjadi alasan, kenapa ia memilih melebarkan kegiatannya dengan menggandeng banyak tokoh kenamaan. Dengan harapan, anak-anak itu dapat merasakan adrenalin menonton konser dan bertemu dengan orang yang sangat mereka idolakan.
Dengan pengalaman itu, lanjut Tia, anak-anak akan menjadi lebih termotivasi. Mereka tidak hanya sekadar mengurai mimpi kecil, tapi akan berfikir untuk menjadi seperti apa yang mereka lihat. Karena menurutnya, anak-anak itu tentu memiliki segudang potensi yang sangat sayang jika diabaikan begitu saja.
“Sayangnya mereka tidak tahu akan dibawa kemana potensinya itu agar bisa lebih berkembang. Dengan ini harapannya anak-anak bisa lebih semangat,” tambahnya.
Sederet artis yang sempat membantunya melakukan kegiatan sosial itu seperti musisi kenamaan Piyu Padi, solois Barsena Bestandhi, dan MC kondang seperti Vega Darmayanti dan Gading Marteen, serta pelawak Aming. Sederat tokoh kenamana ini menurut Tia sama sekali tak dibayar dan ikhlas menghibur anak-anak.
“Karena saya juga bergelut di dunia entertain dan manajemen artis, jadi saya tahu jadwal mereka. Dengan mudah saya meminta bantuan kepada mereka, dan selalu mendapat sambutan baik,” terangnya.
Dengan kegiatan yang coba ia tularkan kepada banyak rekannya itu, besar harapannya untuk dapat memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Ke depan, ia berharap bisa bersinergi dengan pemerintah untuk dapat merangkul mereka yang kurang beruntung. Karena menurut pengalamannya, orang-orang itu tidak hanya membutuhkan bantuan finansial semata. Melainkan dukungan moral untuk dapat mengubah kebiasaannya itu dengan kebiasaan baru yang lebih bagus.
“Sekarang kami selalu bersinergi dengan aparat daerah, perusahaan dan banyak donatur, tapi pemerintah secara formal dirasa masih sangat sulit. Karena kegiatan kami ini tidak jarang dianggap sangat memanjakan, padahal kami tidak pernah memberikan uang sepeserpun,” tutup perempuan ramah ini. (pipit/han)