Ida Ayu, Peraih Juara II Pengawas SD Tingkat Nasional


Seorang pendidik pasti sadar, pengembangan kurikulum perlu diterapkan. Perkembangan zaman menuntut SDM menjadi kreatif dan kritis. Sebagai pengawas SD, Dr. Ida Yuastutik, M.Pd mencoba menggali sisi kritis dan kreatif dari semenjak dini para siswa SD. Harapannya, ketika generasi dasar ini melaju ke jenjang menengah hingga jenjang tertinggi, mereka terbiasa dengan kreativitas.

Ida mencoba membuat metode pengembangan Kurikulum 2013, yang ia beri nama Hire Order Thinking Skill (HOTS) kepada guru-guru sekolah binaannya. Para guru ia latih untuk mengajar dengan indikator tingkat berpikir yang tinggi, melalui kreasi dan penyampaian topik berbasis masalah.
“Jadi guru tidak hanya ceramah. Sudah tidak zaman lagi guru pasif. Guru harus aktif menggali sisi kreativitas dan pola pikir siswa,” terangnya kepada Malang Post.
Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN, lanjut Ida, generasi Indonesia pun harus memiliki daya saing tinggi. Hal itu bisa dilatih semenjak dini, yakni pada jenjang SD. Ia menyebutkan, paradigmanya adalah, jika anak sudah terbiasa berpikir tingkat tinggi, maka akan berlanjut ke jenjang SMP dan SMA. Jika sudah demikian, anak akan memiliki pola pikir cerdas.
Ibu empat anak itu menyontohkan langkah dari HOTS tersebut dengan metode gambar pikiran plus. Langkah pertama, guru akan menayangkan video, yang mengacu pada basis masalah. Selanjutnya, guru menerangkan dengan bantuan peraga berupa potongan gambar dari video tersebut. Kemudian siswa diajak untuk membuat peta konsep dari peristiwa yang telah disampaikan itu.
Misalkan, mengenai pembahasan tentang gerhana, ia mengatakan basis pengajaran bermula pada masalah. Kemudian berkembang menjadi pertanyaan, tentang seperti apa proses gerhana. Dalam kasus ini, guru tidak menyajikan jawaban. Sebaliknya, guru menjadi fasilitator siswa dalam menemukan jawaban.
Dengan demikian, Ida meyakini, jika anak akan menemukan sesuatu dari pengalaman dan pikiran mereka. Sedangkan peran guru adalah meluruskan. Untuk melatih kreativitas siswa, maka guru pun harus kreatif dalam mengajar. Ida juga mengajarkan agar guru mempunyai media unik dan kreatif. Misalkan dengan membuat kotak ajaib, yang digunakan guru untuk menerangkan per sub tema.
Satu kotak ajaib untuk media dengan satu sub tema, selama enam hari pembelajaran. Dari pembelajaran tersebut, akhirnya terciptalah masalah, untuk dipecahkan siswa dan juga bersamaan dengan guru.
“Ini yang disebut best learning. Guru membantu siswa untuk mendapatkan best learningnya,” terang Ida. Dengan demikian, posisi guru dan siswa dalam kelas tidak hanya sekadar berbicara dan menerangkan, bertanya dan menjawab, kemudian mengakhiri kelas.
Sebaliknya, ada proses kedekatan antara guru dan siswa. Mengajak siswa aktif dan berkontribusi pikir dalam memecahkan permasalahan, atau memahami materi yang diberikan. Buktinya, Ida banyak mendapat laporan jika siswa di sekolah binaannya, yang menerapkan metode tersebut, berkembang semakin kreatif.
Bonusnya, siswa SD semakin percaya diri dan tidak minder saat menyampaikan pendapat dan ketidak-setujuan mereka, atas pendapat rekannya. “Dengan begini, akhirnya ada interaksi aktif dan positif di dalam kelas,” ucapnya.
Hasil dari ide tersebut, Ida akhirnya berhasil menyabet juara dua sebagai pengawas berprestasi tingkat nasional, yang seleksinya berlangsung antara 12 hingga 19 Agustus 2016, lalu. Melalui ide itu, Ida akhirnya mendapat kesempatan makan siang bersama Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo beserta ibu negara.
Ide tersebut, kata istri dari Wakil Rektor II Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Wahjoedi, M.E. M.Pd, merupakan satu dari 70 penelitian yang ia ajukan saat kompetisi tingkat nasional itu. “HOTS memang yang terbaru dan yang mengantarkan saya ke ajang guru prestasi tingkat nasional, bersama dengan 70 penelitian saya yang lain,” urainya.
Perempuan kelahiran Kediri, 26 Desember 1964 lalu itu menyadari, menyandang juara pengawas prestasi kedua merupakan tanggung-jawab besar yang ia pikul saat ini. Ia pun harus dapat memberikan imbas dan pengaruh positif kepada sekolah-sekolah lain, termasuk calon pengawas prestasi yang maju ke seleksi tahun 2017.
“Tindakan kinerja saya juga harus lebih bagus, lebih bisa mengembangkan diri. Ini yang harus saya latih terus ke binaan saya,” tegasnya. (alfinia permata sari/han)