Imamatul Maisaroh, yang Hari Ini Berpidato di Philadelphia Amerika Serikat


Dua hari ini, Anda mungkin menerima broadcast via WhatsApp tentang srikandi Indonesia, Imamatul Maisaroh, asal Gondanglegi Malang yang akan berpidato di panggung politik Amerika Serikat.  Dia akan berpidato di hadapan puluhan ribu delegasi dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat yang digelar di Philadelphia, Pennsylvania, AS.

Pelarian dari rumah majikan karena sering mendapat siksaan lah, yang menjadi awal perjalanan karier Imamatul Maisaroh. Dia kini menjadi salah satu anggota Dewan Penasehat Perdagangan Manusia Presiden Barrack Obama. Pidato tersebut akan dilakoni Ima hari ini, bersama belasan senator dan pembicara bergengsi lain, di panggung utama Stadion Wells Fargo.
Di ajang itu, Partai Demokrat AS secara resmi akan memilih Hillary Rodham Clinton sebagai kandidat presiden dan Senator Tim Kaine sebagai wakil presiden, dalam Pemilihan Presiden AS pada November 2016 nanti.
Ima, sulung dari tiga bersaudara, pasangan Turiyo (54) dan Alimah (50) ini kelahiran Malang 26 Maret 1980. Adiknya, Daulatus Saadah dan Haris Susana. Mereka asli warga Dusun Krajan, RT24 RW03, Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran.
"Ima anak pertama saya. Dua saudaranya juga perempuan dan sudah berumah tangga," kata Alimah dan Turiyo, sembari menunjukkan bukti ijazah MTs milik Imamatul Maisaroh.
Dulu, Ima bukan termasuk anak yang pandai. Dia juga tidak mengenyam pendidikan sampai tinggi. Ibu tiga anak tersebut, hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Ulum Kecamatan Pagelaran. Ia kemudian melanjutkan ke SMA Khoiruddin Gondanglegi. Di sana ia hanya bersekolah setahun karena dinikahkan oleh kedua orangtuanya.
"SMA hanya setahun, setelah itu saya nikahkan. Tetapi karena tidak cocok, usia perkawinannya hanya 5 bulan saja lalu bercerai," cerita Alimah.
Sejak bercerai, Ima ingin sekali bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Kemudian ia mendaftarkan diri pada salah satu Perusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Malang. Ima lalu menjalani training atau praktek kerja lapangan (PKL) pada Bu Yanti, warga Malang.
Hanya dua bulan PKL, Ima ditawari bekerja di Amerika. Kebetulan ada saudara Bu Yanti, yang membutuhkan pembantu. Mendapat tawaran kerja dengan gaji menggiurkan, Ima pun menyetujui.
"Saya harus menebus ijazah Ima di PJTKI, karena tidak jadi berangkat ke Hongkong. Biaya untuk menebus saat itu sebesar Rp 600 ribu. Uang dari tabungan kami dari hasil pertanian sayur," ujar Alimah yang diamini suaminya.
Pada 1997, Ima pun berangkat ke Los Angeles. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada warga keturunan Amerika Serikat. Namun bayang-bayang untuk mendapatkan gaji besar, saat itu hanya mimpi saja. Bukannya gaji yang diterima, malah sebuah siksaan.
"Selama hampir tiga tahun, anak saya tidak pernah digaji. Dan selama itu juga, tidak pernah mengirim uang kepada kami," tuturnya.

Cerita orangtuanya ini, sama dengan pengakuan Imamatul Maisaroh, seperti yang dikutip dari www.indonesianlantern.com. Selama tiga tahun, Ima harus bekerja lebih dari 12 jam. Hampir setiap hari, dia menjalani siksaan dan pukulan dari majikannya, pengusaha interior designer asal Indonesia yang bermukim di Los Angeles. Untuk kesalahan kecil yang dibuatnya, Ima harus menerima pukulan dan tamparan berkali-kali. "Sampai sekarang, bekas luka di kepala masih bisa dilihat," kata Ima.
Pada tahun 2000, Ima yang sudah tidak tahan lagi dengan siksaan, nekat menyisipkan sebuah notes kecil berisi 'Permintaan Tolong’, kepada sesama pembantu, seorang penjaga bayi tetangganya. Tetangga inilah, yang menolong Ima melarikan diri dari rumah majikannya, dan mengantarkan ke kantor Coalition to Abolish Slavery & Trafficking (CAST).
"Saat melarikan diri, anak saya ditolong oleh orang Amerika," ucap Alimah. Selama tinggal di rumah penampungan kaum gelandangan, Ima juga disekolahkan selama tiga tahun. Termasuk juga bekerja di perkantoran CAST. "Sekolahnya seperti kursus. Siang bekerja, malam harinya sekolah. Sejak saat itu, Ima mulai kirim uang kepada kami," ucapnya.
Saat kabur dari rumah majikannya, Ima tidak membawa paspor, sebab paspor ditahan oleh majikan selepas ia tiba di Amerika Serikat. Agar paspornya dikembalikan oleh majikan, Ima berpura-pura pulang ke Indonesia. Ditemani seorang agen FBI, Ima bertemu dengan majikannya di Bandara LAX. Ia juga dipasang alat penyadap untuk merekam seluruh pembicaraan.
Ketika bertemu, majikannya memberinya tiket pesawat sekali jalan ke tanah air dan berjanji mengirim uang gajinya, setelah Ima tiba di Malang. Gaji itu, tidak dibayarkan majikannya, karena Ima tidak pulang ke Malang. Dan meski mendapat siksaan, tetapi Ima memilih tidak menuntut majikannya yang berlaku kasar tersebut.
Menurut Ima, FBI tidak bisa melakukan penahanan majikannya, karena tidak ada tuntutan dari Ima. Apalagi menurutnya, proses tuntutan cukup berbelit dan membutuhkan saksi mata yang jelas. Padahal aksi kekerasan yang dialami Ima terjadi di dalam rumah tanpa diketahui banyak orang.  
‘’Lagipula bekas-bekas luka saya dianggap kurang menunjukkan luka serius, meski terdapat bekas luka di kepala,’’ jelas Ima.
Hikmah dari pengalaman pahit yang dialaminya tersebut, ternyata menjadikan Imamatul menjadi wanita karir. Sebagai aktivis, ia kerap kali diundang ke berbagai pertemuan tingkat tinggi di Washington DC. Ima pun pernah bertemu dengan para pejabat tinggi seperti Menteri Luar Negeri John Kerry, bahkan Presiden Barrack Obama.
Pada 2012, Ima dipercaya menjadi staf CAST. Ima menjabat sebagai koordinator para korban Perbudakan dan Perdagangan Manusia CAST. Kemudian pada Desember 2015, Ima diangkat menjadi anggota Dewan Penasehat Perdagangan Manusia Presiden Barrack Obama, bersama 10 anggota lainnya. Ia diminta memberi saran dan masukan ke Presiden Obama, untuk memberantas perdagangan manusia. Tercatat 40 ribu sampai 45 ribu orang menjadi korban perdagangan manusia di Amerika Serikat.
Bersama tiga anggota lain, Imamatul dipercaya menangani dua dari lima masalah utama. Yakni soal pendanaan dan sosialisasi para korban perdagangan manusia.
Imamatul Maisaroh, kini memiliki tiga anak. Anak pertama Aisyah Peres dan kedua Leonardo adalah keturunan dari seorang warga Meksiko yang menjadi suami kedua Ima. Sedangkan anak ketiganya, Ivana, adalah hasil dari perkawinan ketiganya dengan pria asal Bandung, bernama Dian.
"Selama ini, setiap bulan selalu berkirim uang. Ketika kami minta uang yang dibutuhkan, juga diberi. Anak-anaknya sempat kami rawat, tetapi beberapa bulan lalu diambil untuk dibawa ke Amerika Serikat. Rumah yang kami tinggali ini, juga sebagian besar dibantu oleh Ima saat membangun. Termasuk juga telah memberangkatkan kami umrah sekitar dua tahun lalu," papar kedua orangtuanya.(agung priyo/han)