Inovasi dengan Bakso Isi, Omzet Tembus Rp 300 Juta Per Bulan


Orang yang tak memiliki pendidikan formal tinggi juga memiliki kesempatan untuk sukses. Karsono, pria berusia 54 tahun, yang hanya lulusan SD ini menjadi bukti. Melalui kerja keras pantang menyerah, ia
sukses membesarkan bisnis bakso yang bisa meraup omzet hingga Rp 300 juta per bulan.

Warga asal Purwosari, Pasuruan ini memulai berdagang bakso pada 1992 dengan gerobak keliling yang ia buat sendiri. Siapa yang tidak pernah dengar Bakso Mercon Cak Kar, tampat makan bakso yang cukup fenomenal di Malang dengan menu bakso mercon dan bakso kejunya ini. Nama Cak Kar, diambil dari Karsono.
Cak Kar mengaku terlahir dari keluarga sangat sederhana sekali, sehingga untuk sekolah saja ia hanya mampu menamatkan pendidikan SD. “Orangtua saya hanya bisa membiayai sampai sekolah dasar, tapi saya berusaha bagaimana caranya supaya tetap belajar tapi tanpa mengeluarkan biaya,” ceritanya pada Malang Post.
Ia lalu mengikuti pendidikan pesantren gratis selama 10 tahun. “Banyak sekali ilmu yang saya dapat dari pesantren ini, terlebih ilmu agama, yang saya yakini bisa saya jadikan sebagai pedoman hidup,” ujarnya.
Setelah merasa mantap dengan ilmu yang ia dapat selama di pesantren, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah produksi bakso di Malang. “Karena bakso Malang sangat terkenal jadi saya ingin mencari peruntungan di bakso Malang,” akunya.
Pada 1984 ketika berumur 22 tahun, ia yang bekerja sebagai karyawan selalu menjajakan dagangannya di area pesantren AL-Fattah yang berlokasi masih di sekitar Jalam Kertanegara. “Hanya dengan bermodal gerobak dan bakso ikut orang, saya menjajakan dagangan dengan berkeliling,” ujarnya.
Ia pun dengan bangga mencoba mengulas tentang komentar positif warga pesantren tentang baksonya. “Warga pesantren sangat menyukai bakso saya, lalu saya belajar membuat bakso dari juragan,” tambahnya.
Dengan mata sedikit berkaca-kaca ia mengingat kembali betapa semangatnya ia dahulu melayani pelanggan baksonya. Berangkat pada saat jam makan siang, hingga pukul 9 malam ia stay di depan pondok pesantren Al-Fattah. Bukan tanpa alasan kenapa Cak Kar memilih tempat mencari nafkah di depan pesantren, pikiran lugunya kala itu, ada peluang di sana. Ia juga merasa pesantren adalah tempat yang tepat untuk mencari nafkah.
Selama delapan tahun Cak Kar bekerja sembari belajar. Ia menyerap banyak ilmu dari tempatnya bekerja. ”Walaupun hanya lulusan SD tapi saya juga ingin maju, saya ingin pintar,” ungkap Cak Kar.
Menurutnya pintar bukan saja soal ilmu pengetahuan, bukan saja soal ilmu yang didapatkan di sekolah formal, namun learning by doing jauh lebih berharga dibanding semua itu. “Tapi saya tetap mendukung pendidikan, lain dulu lain sekarang, saya pun tidak menyalahkan pendidikan formal, yang penting punya tekad,” ujarnya dengan semangat.
Akhirnya pada tahun 1992, ia memutuskan hengkang dari tempat bekerja. Bukan sekadar mencari peruntungan, Cak Kar masih konsisten untuk bergelut di bidang yang sama dengan membuat warung bakso sendiri. Dengan modal yang ia tabung selama delapan tahun terkumpul sekitar Rp 1 jutaan. Dengan modal itu, ia mendirikan warung bakso yang sederhana.
 “Modal hanya segitu, ya saya buka seadanya dulu,” akunya.
Ia meyakini, sebuah bisnis tidaklah selalu berjalan mulus dan dengan tiba-tiba sukses. Dari warung bakso sederhana itulah ia akhirnya belajar untuk terus kreatif dan melakukan inovasi.  Ia selalu mencari ide-ide baru untuk produknya, hingga akhirnya Cak Kar mendapatkan ide membuat bakso unik dan lain dari pada yang lain, yaitu bakso dengan isi.
Produk bakso pertama yang ia buat adalah bakso isi cabai yang ekstra pedas, dan diberi nama bakso mercon. “Karena bakso mercon adalah bakso pertama yang saya buat, jadi saya beri saja nama warung ini dengan sebutan Bakso Mercon Cak Kar, dengan imbuhan baksone wong Singosari, karena saya tidak melupakan sejarah, saya dulunya memulai perjuangan dari desa Singosari,” cerita pria yang telah mempunyai satu cucu ini.
“ Malang kan dingin, jadi saya rasa sangat cocok kalau makan yang hangat dan pedas,” imbuhnya menjelaskan asal muasal produk bakso mercon yang kini terkenal itu.
Ia pun tak lupa menceritakan perjuangannya untuk membesarkan warung bakso mercon miliknya ini. “Untungnya, saya bisa baca dan tulis yang akhirnya membuat saya terpikir untuk membuat ide menyebar brosur sendiri,” ungkapnya lagi.
Meski brosur tersebut tak langsung membuahkan hasil, Cak Kar tetap optimis. Akhirnya, pada tahun 2010 warung bakso mercon miliknya mulai menampakkan hasil, dan dalam waktu sekejap setelah tahun itu ia mendapatkan omzet melejit hingga ratusan juta per bulan.
Ia mengaku, selain dorongan internal dari dirinya sendiri, dukungan istrinya yang sangat luar biasa mampu membuatnya optimis dan pantang menyerah. “Dorongan orang terdekat sangatlah penting, tekanan itu penting untuk kemajuan,” ujarnya mencoba untuk memberikan sedikit motivasi.
Kini di usia yang mencapai setengah abad, Cak Kar bisa menikmati hasil kerja kerasnya. Ia membuktikan bahwa motivasi, optimisme, konsistensi  dan keyakinan sangat diperlukan untuk meraih sebuah kesuksesan. Ia mengaku, kini bisa memproduksi bakso dengan pasokan daging sapi sehari hingga 6 kwintal di hari biasa, dan 1 ton dua kwintal di hari-hari spesial seerti momen lebaran. (mgb/han)