Joni Boni Puff, Film Animasi yang Sukses di Malaysia


Sukses tidak harus dimaknai sebagai jabatan tinggi atau pekerjaan mentereng di perusahaan besar. Mampu mengembangkan apa yang diimpikan menjadi kenyataan serta membuat orang lain termotivasi untuk melakukan hal yang sama, juga sebuah kesuksesan. Inilah yang diyakini Adithya Yustanto.
Animator kelahiran Malang tahun 1990 ini memang belum pernah terlibat langsung dalam pembuatan film box office. Tapi ia bangga, sebab karyanya bersama rekan-rekannya yang ada di bawah bendera Mocca Studio dapat dinikmati masyarakat secara global. Sayangnya sih, penikmat karya Adith didominasi masyarakati negeri tetangga. Sedangkan orang Indonesia sendiri bisa dikatakan belum begitu mengenalnya.
“Penonton channel kami paling masih enam ribuan, tapi ketika karya kami masuk ke Monsta Channel Malaysia dan CG Bross Youtube, penontonnya malah mencapai lebih dari 400 ribu,” katanya pada Malang Post.
Karya yang dimaksud adalah Joni Boni Puff. Film animasi dengan genre action comedy. Dengan durasi lima menit selama 26 episode, penonton dibuat tergelitik dengan tingkah laku tiga kucing, Joni, Boni, dan Puff. Pada episode berjudul Pohon Mahkota Kucing, diceritakan Joni dan Boni berkelahi hebat memperebutkan pohon mahkota kucing, tempat paling nyaman dan idaman para kucing di area tersebut. Dalam perkelahian itu, Boni babak belur. Namun saat Joni hendak menandai pohon kemenangannya, tiba-tiba ia terkena senjata pamungkas Boni dan langsung tergeletak lemah. Di sisi lain, Puff melihat dari jauh saat keduanya berkelahi. Ketika Joni dan Boni tak berdaya, Puff pun langsung mendekati pohon yang jadi rebutan dan menandai pohon tersebut sebagai miliknya. Ia menang tanpa harus berkelahi.  
Cerita tersebut dikemas lucu dengan adegan action yang cukup bagus. Animasi tiga kucing itu juga dibuat lucu dan imut, dengan karakter masing-masing. Menurut Adith, pemilihan figure kucing sebagai tokoh utama dalam hasil karyanya ini karena hewan ini memang yang paling dekat dalam kehidupan manusia sehari-hari. Selain itu, berdasarkan riset yang didapatkan, kucing menjadi tokoh animasi yang paling terkenal dan banyak digemari. “Terlebih kan, target kami anak-anak,” katanya.
Uniknya, karya yang berhasil meraup keuntungan 100 kali lipat dari modal produksi itu dibuat hanya oleh empat orang. Animator hingga pengisi suara pun dilakukannya bersama ke tiga rekan lainnya.
“Cak Rowi dan Joni Boni Puff dikerjakan dalam periode yang sama dengan dua tim berbeda. Hasilnya Cak Rowi mengalami kerugian luar biasa karena penonton sedikit, tapi dalam beberapa kompetisi, Cak Rowi selalu jadi Runner Up” tambahnya.
Dia menambahkan, pihak Malaysia sempat meminta mereka untuk memproduksi lagi episode lanjutan Joni Boni Puff. Tapi karena dana yang dibutuhkan dalam produksi fim tersebut sangat besar, maka ia belum mengerjakannya. Adith sempat menyodorkan total biaya produksi kepada pihak TV. Tapi mereka pun masih keberatan untuk memberikan dana, karena totalnya mencapai miliaran rupiah.
“Bagi industri pertelevisian, dana yang kami minta masih terlalu tinggi. Sekarang kami masih mencari investor yang tepat,” tambahnya.
Kesempatan pernah meramaikan dunia animasi di negeri jiran itu membuat banyak PH kenamaan tanah air mendekati Mocca dan mengajak kerjasama. Tawaran tersebut disambut baik, tapi karena sebagian besar PH menginginkan label Mocca Studio dihilangkan, Adith dan rekannya memutuskan untuk tidak menerima tawaran tersebut.
“Buat apa saya merintis bisnis ini jika namanya harus dibuang. Jika kerjasama tersebut berdampingan dengan Mocca dan kami yang harus menyediakan SDMnya, kami sangat setuju,” tambahnya.
Tidak hanya melanglang ke Malaysia, Joni Boni Puff juga sempat membawa Adith bersama seorang rekannya menyelami pendidikan singkat di Walt Disney. Film ini menjadi juara satu dalam ajang Anifest 2015 di acara ITB Apprentice, yang hadiahnya berkunjung ke Walt Disney. Di sana ia berhasil menyerap banyak ilmu baru, yang kini coba ia kembangkan untuk diterapkan dalam bisnis yang memang membutuhkan modal besar itu.
Sebelum menuai cerita pahit dan manis di Mocca Studio, Adith harus bergulat dengan perjuangannya saat mendirikan rumah produksi itu. Ia pernah menggadaikan motor tercintanya demi mendapatkan modal dengan cara singkat.
“Dulu sok tahu, padahal rumitnya industri animasi itu sangat luar biasa. Terutama terkait dengan modal yang tidak sedikit,” terang Adith sembari diiringi tawanya.
Ia kemudian mengumpulkan modal sembari mengerjakan permintaan animasi dari berbagai perusahaan di Indonesia maupun luar negeri, yang digunakan untuk iklan dan keperluan lain. Di samping itu Adith juga memproduksi film yang kemudian diikutkan dalam berbagai kompetisi. Nah, hadiah dari kemenangan di berbagai lomba itu pulalah yang memberinya banyak tambahan modal.
Sekarang, selain menggarap satu project terbaru bersama rekan-rekan lainnya, ia pun mulai menyebarkan virus cinta animasi lokal kepada para pemuda di Malang Raya. Sering kali ia menjadi pembicara dan mengisi kelas tentang anomasi untuk mengembangkan sklill para pemuda itu.
“Bagaimana pun, sumber daya manusia (SDM) dalam industri ini menjadi yang utama,” tambah alumnus D3 Game Animasi Universitas Negeri Malang ini.
Dia menambahkan, ada banyak lulusan dari SMK di Malang Raya yang selalu merasa bingung setelah menamatkan sekolahnya. Tidak jarang pula, kemampuan yang mereka miliki masih belum maksimal. Itu sebabnya, Adith mencoba menularkan ilmu yang dimiliki dalam banyak forum. Dengan harapan, anak-anak itu akan mengenal lebih dini akan industri animasi ini, dan tertarik untuk meramaikannya. (Pipit Anggraeni/han)