Khadijah Azzahra, Wedding Make Up Artist Muda


Puluhan ribu follower Instagram @Khadijahazzahra menjadi saksi the power of make up dan tangan ajaib sang empunya akun yang mampu membuat para perempuan tampil lebih cantik. Lebih dari 900an postingan foto before-after menunjukkan perubahan yang benar-benar manglingi, hingga  membuat ribuan orang memberikan like dan komen positif.
Mereka semakin dibuat kagum saat tahu Khadijah Azzahra ternyata masih sangat muda, baru 20 tahun. Namun ia sudah sukses menapakkan kakinya di dunia wedding make up artist dan fashion designer. Berawal dari hobi merias diri dan mendesain bajunya sendiri, saat ini gadis cantik tersebut mampu membukukan omzet hingga lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Zahra, sapaan akrabnya, mengaku tidak ada angan-angan menjadi wedding make up artist. Semua terjadi mengalir begitu saja. Semasa menjadi siswa MTsN 1 Kota Malang, Zahra mengikuti lomba model yang digelar Majalah Nurani. Dari keterampilan dan kepiawaian bergaya ala gadis muslimah, akhirnya ia berhasil menjadi juara pertama. Sejak saat itu, dia dikontrak Nurani, dan juga menjadi model untuk beberapa produk busana dan make up.
Menjadi seorang model yang setiap harinya ditangani make up artist profesional, ternyata mampu menjadikannya sebagai sarana untuk belajar. Sadar bahwa kebutuhan untuk menjadi cantik merupakan keinginan setiap perempuan, mahasiswi Ilmu Politik Universitas Brawijaya (UB) ini melihat peluang itu. Terlebih jika menjadi cantik di hari khusus seperti wedding, ulang tahun, dan wisuda merupakan suatu keharusan.
Awalnya, gadis yang pernah menjadi Putri Kartini Malang Post 2013 itu sempat minder dengan hasil riasannya sendiri. Beberapa kali ia sempat gagal mendapatkan hasil riasan terbaik. Namun berkat kegigihannya dalam bereksperimen dan berlatih, Zahra akhirnya mampu menciptakan lukisan wajah yang khas dan dapat memepesona setiap orang yang melihatnya.
“Alhamdulilah karya pertama saya merias teman yang wisuda, diapresiasi lebih oleh teman-teman yang lain. Ada yang mengatakan make up saya berkarakter dan elegan,” tuturnya kepada Malang Post.
Dari pengalaman pertama itu, tak sedikit yang meminta dirias olehnya. Akhirnya Zahra pun memberanikan diri membuka usaha tata rias kecil-kecilan. Ia belum memiliki tempat paten, karena sebatas melayani teman-teman dan juga kerabat dekatnya saja.
“Awalnya masih dalam lingkup Malang saja, eh ternyata ada yang iseng sampai posting di medsosnya. Jadi banyak yang respon positif, dan akhirnya aku beraniin diri untuk buka wedding make up profesional. Alhamdulilah sekarang sudah sampai ke luar Jawa,” tambahnya.
Zahra mengaku, kemahirannya dalam melukis wajah tersebut juga didapatkannya dari sekolah di salah satu make up artist profesional di Jakarta. Dari situ, kemampuan make upnya semakin bertambah dan konsumennya pun semakin banyak. Mulai dari kalangan mahasiswa, pengusaha, sampai pejabat.
“Setiap bulan puluhan pelanggan baik dari Jawa maupun luar Jawa yang pakai jasa saya. Alhamdulilah mereka suka dan puas dengan hasil make up saya,” lanjutnya.
Kesuksesan yang ia dapatkan sekarang ini menuntut konsekuensi, Zahra harus merelakan masa mudanya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Ia harus disiplin dalam bekerja dan tak jarang harus berangkat dini hari untuk memenuhi tuntutan make up wedding di pagi hari. Weekend yang bagi sebagian besar anak muda dimanfaatkan untuk hang out, malah menjadi momen di mana ia mendapat klien paling banyak. Sebab acara wisuda, pesta, ataupun wedding party lebih banyak digelar di weekend. Waktu hang out dengan teman sebaya pun semakin berkurang.
 “Terkadang saya harus berangkat jam 3 pagi untuk mendandani para pelanggan. Dan sore pun alhamdulilah ada yang les make up. Kebanyakan yang les itu dari luar Malang. Belum lagi jadwal kuliah yang harus saya jalani,” tuturnya dengan tersenyum.
Tidak hanya mahir merias, gaun untuk wisuda dan wedding pun merupakan hasil dari desainnya. Hampir semua desain menunjukkan kesan mewah dan elegan. Zahra pun tak segan menjelaskan desain busana karyanya kepada Malang Post. “Ini ada desain kombinasi Eropa dan Jawa,” ujarnya sembari menunjukkan sebuah gaun yang indah.
Lebih lanjut Zahra mengungkapkan, sebagian besar dari hasil jerih payahnya tersebut telah dia investasikan. Beberapa bidang tanah, mobil, bahkan baru saja ia membeli rumah di kawasan elit Kota Malang. Namun gadis berjilbab ini mengaku, kesuksesannya  saat ini semata-mata berkat dukungan ibunya Ika Yuni Wulandari. Tanpa bantuan dan doa ibunya, dia menegaskan dirinya  bukan siapa-siapa. “Saya hanya ingin membahagiakan ummi, dengan usaha keras ini saya berharap dapat memberikan apa yang ummi mau,” pungkas gadis yang baru saja mewujudkan salah satu mimpi ibunya untuk berkeliling di lima negara Eropa, dan diakhiri dengan umrah Ramadan lalu.(mgb/han)