Kiev Rocik, Band Anak Desa Tanpa Sinyal


MALANG POST - Malam itu suhu Kota Wisata Batu sangat dingin menusuk tulang, tapi suasana di dalam gedung Graha Pancasila yang di dalam kompleks Balai Kota Among Tani terasa hangat. Saat itu, para mantan wartawan dan karyawan Jawa Pos yang tergabung dalam Cowas (konco lawas) tengah mengadakan reuni di gedung tersebut. Lima anak belia yang tergabung dalam Kiev Rock membuat suasana menjadi sangat bergairah. Mereka adalah anak-anak yang berasal dari desa, yang kata Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, sinyal saja tidak bisa masuk.

BANYAK yang beranggapan lima anak muda ini adalah pemain band musik keras seperti anak muda umumnya, yang sulit diterima telinga generasi tua. Ternyata tidak, mereka mengawali dengan lagu Indonesia Pusaka yang diaransemen dengan music rock. Pada tahap ini para hadirin masih biasa, menganggap lagu yang akan ditampilkan pasti khas anak muda, musik keras, cepat dan memekakkan telinga. Sebelumnya para audiens yang usianya rata-rata di atas l50 tahun itu dimanjakan dengan tembang lawas yang menghanyutkan.
Meskipun sudah banyak yang uzur, saat mendengar intro yang dimainkan gitaris band belia ini, mereka mulai tersentak. Ya, suara musik itu sangat khas dan akrab di telinga anak muda tahun 70-an. Lima pemain band asal Desa Areng-areng Junrejo itu tengah membawakan lagu yang sangat akrab di telinga hadirin, terutama penggemar musik rock lawas. Tepuk tangan pun menggema di dalam gedung yang sangat megah itu saat band tersebut mengumandangkan lagu Smoke on The Water dari Deep Purple.
Bukan hanya bertepuk tangan, mereka ikut menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama cepat lagu yang dimainkan band rock yang menjadi idola anak muda tahun itu. Mereka lupa dengan ketuaannya. Di bagian depan, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko duduk satu meja bersama Komisaris Malang Post Imawan Mashuri, Dirut Malang Post Juniarno Djoko Purwanto dan Ketua Cowas Dhimam Abror tak henti mengikuti irama musik keras tersebut. ‘’Lagu ini terkenal saat itu saya masih SMP, ‘’ kata Imawan.
Eddy Rumpoko bukan hanya senang dengan tampilan anak-anak mudanya itu, tapi juga menikmati lagu bernada tinggi yang ditampilkan vokalis Prita. Selain Prita, band ini beranggotakan Elsa (gitar), Tiara (bass), Khafid (keyboard) dan  Kevin (drum). Bukan hanya Smoke on the Water yang memukau hadirin, lagu-lagu lain yang ditampilkan band ini mampu membawa pendengarnya kembali ke masa muda saat mereka gandrung pada Deep Purple. ‘’Padahal mereka itu anak-anak desa yang tidak ada sinyal HP,’’ ujar Eddy.
Kegemaran Eddy pada band ini rupanya ditularkan kepada para tamunya. Dia ingin menunjukkan bahwa anak muda Kota Wisata Batu tidak kalah dengan anak muda yang lain, meskipun mereka tinggal di desa. Mereka boleh tetap tinggal di desa tapi mereka harus tetap mengikuti perkembangan, termasuk dalam bidang musik. Dalam beberapa kali acara, Eddy mengajak Kiev Rock ini tampil menunjukkan kebolehannya bermain musik rock.
Mereka memainkan rock bukan seperti anak muda kebanyakan, tapi pilihannya pada rock klasik, terutama Deep Purple. Maka usai menyanyikan Smoke on the Water, Ketua Cowas Dhimam Abror tampil ke depan sambil bertanya, apakah mereka bisa membawakan Soldier of Fortune, Prita menjawab siap. Ini merupakan salah satu lagu Deep Purple yang sangat terkenal, bahkan sampai sekarang postingan lagu tersebut sudah dilihat lebih dari 25 juta kali di Youtube. Suasana dalam gedung pun gemuruh dengan tepuk tangan dan teriakan generasi tua tersebut. Mereka lupa bahwa mereka sudah tua.
Selain menyanyikan lagu Deep Purple, band anak desa ini juga menampilkan beberapa lagu ciptaan sendiri yang berirama rock. Saat sesi foto bersama, mereka mengiringi dengan Highway Star yang berirama lebih cepat dengan nada yang tinggi. Suara Prita bisa mengikuti teriakan Ian Gillan, vokalis Deep Purple yang terkenal dengan suara yang melengking. Mereka tidak bisa dibandingkan dengan band idola – yang saat berjaya mereka masih belum lahir– tapi semangatnya luar biasa. Petikan gitarnya masih jauh dari Ritchie Blackmore, petikan bassnya masih belum sebanding dengan Roger Glover, permainan keyboardnya masih belum menjangkau maestro John Lord. Tapi, gebukan drum Kevin mengingatkan penggemar Deep Purple pada Ian Paise.(nun)