Lifter Beprestasi Kota Malang, Sofyan Listianto


Peraih dua medali emas dan satu perunggu di kelas snatch, clean and jerk di Pra PON XIX Jabar, Sofyan Listianto tak pernah membayangkan akan menjadi atlet angkat besi (lifter). Saat kecil, lifter dari Kota Malang yang akan membela Jatim ini disibukkan dengan perjuangan membantu sang ibu Djumiati dan kakak Bambang Hermanto membiayai kebutuhan sekolah dirinya dan kedua adiknya,  Choirul Anwar dan Choirul Abidin.
Keluarga ini harus berjibaku dengan biaya pendidikan karena ayahnya yang juga tulang punggung keluarga Syafii, meninggal karena kencing manis. Sofyan dan keluarganya bertahan hidup dengan menjadi penjual kue pukis dan tempe. Sesekali, ia dan saudaranya menjadi ojek payung di terminal Arjosari di kala musim hujan.
“Bapak meninggal waktu saya masih SD. Sedangkan adik-adik waktu itu masih kecil. Kami sulit k makan dan jajan. Jadi saya dan kakak yang pada waktu itu juga masih SD tergerak untuk membantu meringankan beban ibu,” ujarnya kepada Malang Post.
Sofyan kecil tak pernah berfikir  namnya akan masuk dalam jajaran atlet lifter terbaik di Indoneia. Perkenalan dengan cabor angkat besi berawal dari ajakan tetangga di kampung pada tahun 2005 yang juga kawan dari kakaknya, Muslimin yang merupakan pelatih Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, Angkat Besi seluruh Indonesia (PABBSI) cabang Kota Malang.
“Awalnya saya hanya iseng. Cuma ikut latihan saja dan sekadar ingin membetuk otot,” katanya.
Namun nasib siapa yang tahu. Muslimin kala itu membujuk Sofyan untuk berlatih secara serius. Caranya, dengan mengiming-imingi Sofyan uang untuk membeli Play Station yang kala itu menjadi barang mewah di kalangan remaja. Strategi tersebut ternyata cukup manjur. Sofyan yang masih SMP mulai tertarik dan bermimpi menjadi juara. Demi sebuah Play Station.  
 “Zaman itu, Play Station booming banget. Saya tak punya uang untuk membeli, bahkan hanya menyewa pun tidak bisa. Paling cuman dengar cerita dari teman gimana asiknya main Play Station. Akhirnya saya terbujuk untuk latihan dan mengikuti pertandingan,” tuturnya.
Latihan dengan disiplin keras akhirnya mengantarkan Sofyan meraih medali emas pertama di event Kejurnas yang diselenggarakan di Pasuruan. Dari kemenangan inilah akhirnya Sofyan memiliki keinginan untuk selalu menjadi juara. Tidak lagi karena hadiah  atau bonus yang diperoleh, namun keinginan untuk menjadi kebanggaan, dan mengubah kehidupan keluarganya.
Namun demikian, keinginan Sofyan ternyata tak disambut baik oleh ibunya waktu itu. Sang ibu yang takut dengan masa depan Sofyan, bersikeras menyuruhnya berhenti mengangkat barbel. “Ibu sempat melarang lantaran takut kalau saya tua nanti akan menjadi lemah karena cedera, atau bahkan lumpuh karena salah mengangkat beban. Namun karena tekad kuat saya kuat untuk menjadi lifter, lama-lama ibu luluh,” tambahnya.
Walaupun begitu, langkah Sofyan menjadi lifter profesional tidak langsung berjalan mulus. Selain latihan, untuk seorang lifter juga harus memenuhi kebutuhan protein tubuhnya. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat Sofyan tidak bisa mengonsumsi protein hewani. Padahal daging adalah sumber protein yang menjadi menu wajib seorang lifter. Tak mau menyerah, Sofyan pun mencari akal agar tetap bisa memakan daging.
“Saya mengumpulkan uang, dari uang saku maupun kerja serabutan berjualan pukis ataupun ojek payung. Setelah uang terkumpul, seminggu sekali saya meminta dimasakkan daging,” katanya.
Sebagai lifter, prestasi yang ditorehkan Sofyan Listianto sangatlah banyak. Di tahun 2011 misalnya, dia berhasil membawa tiga medali emas di Porprov Kediri. Sedangkan ditahun 2014 dia meraih medali perak di Kejurnas Jogja. “Sebenarnya masih banyak lagi, tapi saya sudah lupa berapa banyak dan pada tahun berapa. Terakhir yang saya ingat, di Kejurnas yang dihelat di Bandung pada Oktober 2015 saya dapat tiga emas di angkatan snatch, clean and jerk di angkatan 175 sampai 180 kg,” lanjut laki-laki kelahiran 27 juni 1990 ini.
Torehan prestasi demi prestasi akhirnya membawa Sofyan pada kehidupan yang layak. Dari kiprahnya sebagai lifter, menjadikan penghasilan tersendiri yang mengangkat kehidupannya dan keluarga menjadi lebih baik. “Alhamdulilah dari bonus-bonus yang saya dapatkan di setiap pertandingan, akhirnya saya dapat membantu ekonomi keluarga. Dengan itu saya bisa memperbaiki rumah, sepeda motor, dan jika rezeki saya terkumpul Insya Allah ingin memberangkatkan ibu ke tanah suci,” harap alumni SMK PGRI Singosari ini.
Baginya, menjadi lifter adalah panggilan bagi jiwa. Ia tak memungkiri semua kehidupan layak yang dia rasakan sekarang ini berasal dari lifter. Bahkan menurutnya, jika tak dikenalkan Muslimin untuk menjadi seoarang lifter, mungkin sekarang hidupnya akan berakhir sebagai ojek payung di Terminal Arjosari.  
“Saya akan terus berlatih dan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Semoga saya dapat menjadi andalan Indonesia di kejuaraan lifter dunia. Saya ingin sekali mengibarkan dan menyanyikan lagu kebangsaan di Olimpiade Jepang nanti,” harapnya.
Untuk mengapai asanya itu, Sofyan akan berusaha dan berlatih dengan disiplin agar nantinya meraih kemenangan seperti yang ditargetkan Koni Jatim di PON XIX Jabar. Dia percaya, dengan usaha dan doa yang telah dilakukannya, target emas akan dia dapatkan. Terlebih dia punya keinginan mulia dari bonus yang akan dia dapatkan.
“Saya hanya ingin membahagiakan ibu. Kalaupun waktu untuk beribadah haji masih lama, di waktu dekat saya ingin umrah bersama ibu yang selalu mendoakan kesuksesan saya,” tandasnya. (Yuyun Wahyu K/han)