Marsam Hidayat, Sutradara Ludruk yang Kekinian


Selama ini, ludruk dikenal sebagai kesenian drama tradisional yang terkesan kuno. Namun di tangan Marsam Hidayat, kesenian tradisional asli dari Jawa Timur ini disulap menjadi lebih menarik serta kekinian. Sehingga banyak kaum muda-mudi menonton ludruk yang disutradarainya.
Kesenian ludruk tidak boleh lepas dari tiga pakem berupa gamelan Jawa, lakon yang ditampilkan dan para pemain ludruk itu sendiri. Meskipun pakemnya seperti itu, bukan lantas ludruk tidak bisa berkembang dengan baik. Buktinya, Marsam Hidayat bisa menciptakan lakon ludruk kekininian serta mengglitik dan disukai para pemuda.
Lakon ludruk yang disutradarai oleh pria berdomisili di Gondanglegi ini, juga bisa menyindir pemerintahan serta ketidakadilan. Saat ini pun dia tengah asyik menciptakan lakon ludruk yang lebih kekinian, menyesuaikan keinginan pasar. Maka dari itu, tahun 2010 lalu, dia menciptakan tim ludruk bernama Lerok Anyar.
Mayoritas pemain ludruk Lerok Anyar merupakan pemuda yang terdiri dari pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. Ketika Lerok Anyar melakukan pementasan, setidaknya lebih dari 20 pemain ludruk tampil dengan durasi satu jam. Sedangkan lakon yang ditampilkan, memang bernuansa zaman dahulu kala, namun dikemas lebih kekinian.
Hal itulah yang dilakukan oleh bapak tiga anak. Kesehariannya, memang berupaya melestarikan ludruk dan mengembangkannya menjadi rasa modern. Termasuk saat dikunjungi Malang Post di rumahnya, dia tengah asyik memikirkan tampilan ludruk termausk jalan ceritanya, agar lebih lucu dan mengundang gelak tawa.
“Contohnya Lakon Sawunggaling dan Lakon Panji, harus dikemas lebih menarik dan lucu. Hal ini diesuaikan dengan penonton saat ini, yang mayoritas para pemuda,” ujar Marsam.
Dia menyebut, lelucon yang disampaikan harus lebih smart. Termasuk juga sindiran dan kritikan yang dibawakan para lakon. Marsam dulu sempat terbawa arus dengan ludruk metode kuno. Namun, dia sadar harus berubah serta mengembangkan ludruk menjadi lebih baik lagi. Apalagi dia memang pelaku ludruk kuno.
Sejak tahun 1977,  Marsam memang telah bergelut dengan kesenian tradisional tersebut. Termasuk tampil dengan Didi Nini Towok dan Kartolo. “Saya sempat belajar ludruk di Jogja dan digurui lanngsung oleh Mas Didi Nini Towok. Kemudian, kami tampil satu panggung, sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya,” terang pria berusia 50 tahun ini.
Pada medio tahun 1988, dia lebih memfokuskkan tampilan ludruk di Malang Raya serta Jawa Timur. Saat itu, dia tampil bersama Kartolo yang merupakan roh ludruk Jawa Timur.  Marsam juga acap kali tampil di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ) dan Gedung Kesenian Gajayana. Terakhir, dia meyutradarai ludruk yang dipentaskan Didi Nini Towok di Gedung Kesenian Gajayana, akhir Agustus 2016.
“Pemiannya ya Lerok Anyar. Sedangkan mayoritas penonton merupakan pemuda dan terutama Mahasiswa Universitas Brawijaya,” terangnya.
Dia mencontohkan guyonan maupun celetukan melalui pantun “Kentang Gubis Lakone Ludruk Panjak Kendang Nabue Ndodok, Ireng Manis Tandak e ludruk, Wong lanang seng macak wedok”. “Kalau mau memakai bahasa Malangan juga boleh,” imbuhnya.
Selain itu, musik Jawa yang diiringi melalui gamelan tersebut, juga harus selaras dengan lakon yang dipentaskan. Boleh mengaresemen lebih menarik, dengan catatan tidak boleh keluar dari pakem dan tidak boleh mengubah arti dari musik Jawa yang mengiringi tersebut.
Kiprahnya selama 39 tahun dalam kesenian ludruk, membuahkan hasil manis. Hal ini dibuktikan dengan seabrek penghargaan yang diterimanya. Mulai dari Sutradara Terbaik Festival Ludruk Jatim empat tahun berturut-turut dari  2010 hingga 2013. Selain itu, ia juga membawa SMP 24 Kota Malang dan SMAN 10 Kota Malang meraih jawara dalam festival ludruk. Tepatnya pengharagaan Ludruk Penampilan Terbaik, dalam Parade Teater Daerah 2015 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
 “Alhamdulillah, antusias pelajar serta pemuda se Malang Raya melihat ludruk Lerok Anyar sangat tinggi. Antusiasme tersebut bekal mereka untuk belajar lebih mendalam tentang ludruk,” terangnya.  Dengan begitu, kata dia, regenerasi ludruk berjalan sebagaimana mestinya.  Keberadaan dan eksistensi ludruk di masa mendatang pun tetap terjamin di tangan para pemuda ini. (binar gumilang/han)