Menangis Bawa Uang Haram ke Rumah


KETERANGAN : AKBP Hendrik N Christiaan memberikan keterangan kepada wartawan usai memeriksa PT Brantas Abipraya di Malang. (DOK/MALANGPOST)


TAHUN 1985 lalu, pangkatnya baru Sersan Dua (Serda) polisi. Dia lulus Sekolah Bintara Polri Dodiklat Mojokerto. Namun sekarang, kelahiran Desa Nuwewang, Pulau Lety, Kecamatan Serewaru, Kabupaten Maluku Tenggara sudah menyandang pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).
Karirnya makin moncer karena juga menjabat Pelaksana Harian (Plh) Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). AKBP  Hendrik N Christiaan, biasa dipanggil Pak Kris, merupakan satu warga Malang yang memiliki kisah sendiri saat bergabung ke lembaga anti rasuah itu.
Semuanya berawal ketika lulusan S1 STIBA Malang ini masih berpangkat AKP dan menjabat Kasat Narkoba Polresta Malang (kini Polres Malang Kota). “Saat itu sedang Natal tahun 2004,” katanya. Dia diperintahkan melakukan 86 (istilah meminta uang) oleh komandannya terhadap tersangka narkoba.
“Izin untuk beribadah Natal bersama keluarga, tidak bisa terlaksana. Padahal keluarga sudah menanti saya. Saya diperintahkan menunggu sampai tersangka tersebut menjual mobil untuk mendapatkan uang yang harus diterima oleh sang komandan,” tutur mantan Wakapolsekta Blimbing tersebut.
“Saya akhirnya mendapatkan uang tersebut, dan saya serahkan kepada komandan. Saya dan anggota mendapat bagian juga. Saya lalu membawa uang itu pulang ke rumah. Sampai di rumah, istri dan anak-anak sudah tidur setelah pulang Natal,” ungkap lulusan S-2 Hukum Pidana IBLAM Jakarta Tahun 2009 ini.
Melihat itu, perasaannya pun hancur karena membawa uang haram ini ke rumahnya. “Saya menangis semalaman dan besoknya saya minta didoakan pendeta agar tidak lagi di Reskoba,” lanjut suami Trisilowati itu. Satu bulan kemudian, doanya terkabul.
Seorang personalia di markasnya, membawa secarik kertas dan mencari perwira pertama yang ingin ikut seleksi ke KPK. Banyak perwira pertama yang tidak mau. Pria yang lama berkiprah di satuan reserse mulai pangkat Sertu hingga Serma ini, bertanya kepada personalia itu.
“Dia menjawab kalau kertas itu merupakan surat seleksi untuk KPK. Saya lalu mendaftar untuk seleksi tersebut,” ujarnya. Terkait tugasnya, bapak tiga anak ini mengakui bila tingkat korupsi di Indonesia sudah sangat mendarah daging. Sama seperti Tiongkok di zaman candu.
Kacamata Kuda
SECARA jujur, ia mengaku bukan hal mudah ketika berhadapan dengan calon tersangka yang notabene 'teman' sendiri atau kenalan lama. Misal pengacara asal Malang, Awang Lazuardi Embat SH yang tertangkap KPK atau polisi yang memiliki pangkat dan jabatan lebih tinggi.
“Sistem yang dibangun KPK membuat kita berintegritas dan independen. Zero tolerance betul-betul diterapkan dengan kacamata kuda,” tegas dia. Buntutnya, teror pun sering menghampiri bahkan ancaman nyata secara fisik juga pernah dihadapi  Penyidik Utama (Kepala Satuan Tugas) KPK itu.
“Baik terhadap diri saya dan keluarga. Tetapi kami sebagai makluk Tuhan menyerahkan sepenuhnya kepadaNya karena otoritas Tuhan atas kehidupan manusia,” katanya santai. Sebagai warga Malang yang berkarir di KPK, ia juga sangat mendambakan perubahan tata kelola pemerintahan di Malang Raya.
“Tata kelola pemerintahan yang berpihak kepada rakyat kecil. Pemerintahnya harus bersih dan berwibawa. Saya selalu memantau perkembangan tata kelola pemerintahan dengan prosedur penegakan hukum yang benar,” urai pria yang pernah menjabat Kaur Binops Binmas Polresta Malang ini.
Sebab itu, ia juga tidak akan main-main dengan jabatannya sebagai Plh Direktur Penyidikan KPK. Jabatan ini adalah jabatan Jenderal bintang satu.  “Lembaga memberikan tanggungjawab yang besar terhadap saya untuk mengelola Direktorat Penyidikan untuk sementara waktu,” lanjutnya.  
“Kepercayaan ini harus saya jaga untuk kepentingan bangsa dan negara. Pesan moral saya kepada warga Malang Raya, bantulah KPK dan para penegak hukum dalam melakukan upaya pembersihan atas semua perbuatan korupsi yang selama ini dilakukan,” tutup mantan anggota Peace Keeping Force Kamboja Tahun 1992/1993 dan Peace Building Bosnia Herzegovina Tahun 1999/2000. (mar)