Mohammad Rizky Kurniawan, Pencipta Aplikasi Belajar Braille Ramah Cacat Netra


Mohammad Rizky Kurniawan, sukses menciptakan aplikasi Android untuk kaum cacat netra, Mobile Braille Touch (MBT). Dia menjadi juara dua dalam lomba Inotek yang dihelat Bappeda Kota Malang. Alumnus Fakultas Elektro Universitas Negeri Malang ini, juga sekaligus mewakili Kota Malang dalam lomba Inotek tingkat Jawa Timur. Bagaimana kiprah dan cerita di balik aplikasi yang jadi solusi untuk kaum cacat netra ini?

Mohammad Rizky Kurniawan, mungkin tidak menyangka hasil kerja selama satu setengah bulan diapresiasi secara luar biasa dalam lomba Inotek dari Pemerintah Kota Malang. Sebab, aplikasinya Mobile Braille Touch (MBT) merebut juara dua dari kompetisi inovasi dan teknologi yang dihelat Bappeda Kota Malang.
Apalagi, awalnya dia membuat aplikasi ini hanya untuk lulus skripsi di Fakultas Elektro Universitas Negeri Malang. Rizky tak menduga bahwa aplikasinya mengundang decak kagum Bappeda Kota Malang yang kini mencantumkan namanya dalam lomba Inotek tingkat Jawa Timur.
“Ide awalnya adalah untuk skripsi. Tahun 2015 saya diminta pilih judul oleh dosen. Saya mengajukan banyak judul, tapi ditolak semua. Setelah ide habis, salah satu dosen beri sumbangsih ide soal masalah huruf braille. Muncullah ide untuk buat aplikasi cacat netra,” kata Rizky ditemui Malang Post di Perpustakaan Kota Malang, siang kemarin.
Sebelum aplikasinya jadi seperti sekarang, dia melakukan beberapa kali observasi di lembaga Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang. Dia langsung terjun di tiga jenis kelas, yakni kelas persiapan, kelas dasar dan kelas keahlian. Dari hasil observasi ini, dia mendapat beberapa kesimpulan vital yang mendorongnya untuk semakin serius dalam menciptakan aplikasi buat kaum cacat netra.
“Huruf braille dasar penting yang harus dimiliki kaum cacat netra. Braille juga sarana informasi dan komunikasi. Tapi, alat belajarnya tidak bisa digunakan secara mobile. Mereka harus ada di kelas jika ingin belajar braille. Lalu, alatnya gampang rusak dan bisa melukai cacat netra,” ujar sulung dari dua bersaudara tersebut.
Dia menyebut, alat belajar braille secara tradisional, memakai paku tumpul yang rawan hilang. Selain itu, alat belajar kaum cacat netra juga sering menyakiti jari. Rizky pun menemukan, cacat netra pengguna smartphone jumlahnya sudah 25 persen dari total orang yang diobservasi di lembaga rehabilitasi tersebut.
“Menangkap isu ini, akhirnya saya bikin aplikasi Mobile Braille Touch. Dengan fitur-fitur yang memberi solusi bagi cacat netra untuk belajar braille dengan lebih mudah. Kami berikan beberapa fitur penting, seperti fitur belajar, latihan, menulis dan mengingat,” jelas pria 22 tahun tersebut.
Dia memberi demo cara pemakaian aplikasi ini. Cara pemakaiannya, memudahkan cacat netra. Smartphone dipegang dari belakang, dengan posisi handphone landskap atau tertidur. Tiga jari kanan dan kiri memegang pinggiran layar yang sudah terpasang enam menu. Untuk mengetahui apa menu tersebut tanpa harus melihat, pengguna cukup mengklik satu kali.
“Karena kita buat aplikasi ramah cacat netra, maka kami upayakan direktori menunya mengeluarkan suara. Satu klik untuk tahu apa menunya. Klik dan tahan untuk masuk dalam menu tersebut. Kami juga pasang bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di aplikasi ini,” rinci Rizky, yang menyebut semua aplikasi braille di Playstore Android, masih berbahasa Inggris.
Rizky juga memasang fitur pengaturan suara narator dalam aplikasi. Sehingga, cacat netra boleh memilih narator suara pembelajaran secara cepat atau pelan. Dia melakukan ujicoba aplikasi Mobile Braille Touch (MBT) kepada lima anak cacat netra sebelum memvalidasi aplikasi ini ke Inotek Kota Malang.
Hasilnya, lima anak tersebut sangat antusias memakai aplikasi  yang ramah cacat netra tersebut. Meskipun coding data dan penyusunan aplikasi adalah keahliannya, penyusunan huruf braille dalam aplikasi tidak mudah baginya. Dari total enam minggu pembuatan aplikasi ini, dia menghabiskan waktu untuk menyusun direktori huruf braille.
“Implementasi materi kata dan kalimatnya sulit. Mulai dari huruf, angka, kata-kata, kombinasi huruf besar atau miring. Tiap huruf kapital atau huruf kecil kan ada braille sendiri. Tanda baca, tanda komposisi dan huruf dobel, harus disusun sebaik mungkin agar memudahkan mereka,” sambung Rizky.
Begitu selesai memasang direktori kata, Rizky sudah bisa melaunching aplikasi dengan sukses, hingga meraih juara dua Inotek Kota Malang. Karya dari putra pasangan Mohammad Bakri dan Siti Mujayana tersebut, sudah tersedia secara online di Playstore Google Play Android. Dia membagikan aplikasi ini secara gratis dan tanpa advetorial.
“Saya sebar secara gratis karena saya pun secara teknis tidak menghabiskan sepeser pun untuk buat aplikasi ini. Saya sendirian dalam mengerjakan ini. Tapi, ada bimbingan akademis dari dua dosen, yakni Dr Eng Anik Handayani MT, dan bu Trianna Widyaningtyas, MT,” papar pria pemegang gelar sarjana pendidikan di bidang IT tersebut.
Dia menyebut, selain menyebarluaskan aplikasinya lewat Playstore, dia juga mendapat bantuan dari Bappeda Kota Malang, untuk memperluas penggunaan aplikasi, di lembaga tuna netra lain. “Sekarang, saya sedang kembangkan Virtual Braille Keypad, untuk makin memudahkan user,” tutup Rizky.(fino yudistira)