Nur Hamidah, Kreator Bumbu Pecel Nusantara


Bermula dari keseringan membuat racikan bumbu pecel untuk sang suami, Nur Hamidah berhasil memanfaatkannya menjadi penghasilan tambahan untuk keluarga. Bumbu Pecel Nusantara, produksi rumahan yang dibuatnya, kini dijual di beberapa pusat oleh-oleh di Kota Malang. Selain itu, penikmat bumbu tersebut sudah sampai ke luar negeri, seperti Saudi Arabia.
Sang suami, Nunung M. Buchori diakuinya sangat gemar makan pecel. Hingga pada suatu masa, suaminya menginginkan rasa yang berbeda dari bumbu pecel yang diracik Nur Hamidah. Rasa gurih dan bercampur manis, karena perpaduan rempah yang pas, ternyata juga sesuai selera keluarganya.
“Setelah itu, produksi pecel dimulai. Ada beberapa tetangga yang mencicipi dan katanya enak,” ujarnya, mengawali cerita.
Menurut dia, tidak sedikit yang menyarankan, untuk memasarkan bumbu pecel tersebut. Namun, karena kala itu masih awal, dia hanya menitipkan di toko-toko dekat rumahnya. Sekitar dua tahun setelah itu, di awal tahun 2000, akhirnya dia berani memutuskan menggeluti industri rumahan bumbu pecel. Dipilihnya Bumbu Pecel Nusantara, yang dikemas dalam ukuran 200 gram.
“Pasti butuh proses. Masih menunggu agar rasanya benar-benar pas, dan memikirkan pemasarannya. Itu jika ingin dijadikan bisnis,” ujar lulusan Akuntansi Universitas Negeri 11 Maret terebut.
Dalam waktu dua tahun, dia pun melakukan banyak percobaan dan penelitian. Termasuk dalam memilih bahan kacang yang menjadi bahan utama untuk Bumbu Pecel Nusantara. Karena ingin pecel buatannya tidak terkesan biasa, dipilihlah kacang Tuban.
“Ceritanya pun panjang ketika memilih Kacang Tuban. Saya harus belajar dan bertanya kepada Balitkabi, memilih kacang yang bagus,” terang dia.
Tidak hanya bagus, dia juga memilih ukurannya. Kacang Tuban tersebut, harus yang berukuran 7 mm. Jika lebih besar, akan mengubah rasa yang diinginkannya.
“Akhirnya saya mencari suplier kacang itu. Kalau mendatangkan sendiri, pembeliannya harus dalam jumlah besar. Belum lagi jika menumpuk karena kapasitas produksi yang tidak begitu besar,” beber dia kepada Malang Post.
Bisa dikatakan, bahan utama bumbu pecel tersebut premium. Dia pun tidak khawatir, meskipun cost produksi lebih mahal. “Pertimbangannya kualitas. Selain itu, bumbu pecel akan tahan lama karena dengan tingkat aflaktosin (kandungan kimia) rendah pada kacangnya,” urai dia panjang lebar.
Terbukti, apa yang diusahakannya berhasil. Sekalipun, produksi Bumbu Pecel Nusantara ini dikerjakan sebagai bisnis kedua. Sebab, dia bersama sang suami pun bergelut bisnis money changer.
Dalam satu hari, produksi bumbu pecel bisa mencapai 100 kilogram, dengan satu mesin produksi yang dimilikinya. “Tetapi tidak setiap hari juga sampai 100 kilogram. Itu ketika permintaan tinggi, seperti musim liburan dan lebaran haji,” tambahnya.
Ya, lebaran haji, sebab dia mengakui banyak yang membawa Bumbu Pecel Nusantara untuk bekal. Selain beberapa, juga dikirim ke Arab Saudi, melalui salah satu agen di Jakarta. “Biasa, ketika di luar negeri, kadang kan lidah butuh masakan yang sesuai dengan taste Indonesia. Membawa bumbu pecel salah satu solusinya,” imbuh dia.
Menurut dia, beberapa kota di Indonesia juga menjadi destinasi pengiriman produksi rumahan yang dibuat di Kelurahan Rampal Celaket tersebut. Misalnya Solo, Jogjakarta, Jakarta atau Surabaya. Ujung timur Indonesia, yakni di Papua pun masuk dalam salah satu customernya.
“Yang unik, biaya kirim ke Papua ini bisa lima kali lebih mahal dari pada harga bumbu pecelnya. Tetapi mereka mau, ya tidak masalah,” ungkap ibu dua anak tersebut.
Nur Hamidah menuturkan, bumbu pecel tersebut sebagian besar dijual di pusat oleh-oleh. Di Malang, menurut dia, hanya ada di Pia Mangkok dan Avia. “Mereka yang rutin memesan,” tambah peraih gelar Master of Marketing Universitas Brawijaya tersebut.
Meskipun malu-malu mengungkapkan berapa omset bulanan yang dihasilkannya, dia tidak menampik jika angkanya sudah menembus tiga digit dalam perhitungan juta. Untuk memproduksi bumbu pecel itu, dia sudah memiliki tujuh orang pekerja.
“Ya lumayan. Saya tidak terlalu memperhitungkan angkanya, yang penting bisa membantu orang lain juga, walaupun tidak semua suka bergelut dengan pecel,” papar dia, lantas tertawa.
Selain memiliki usaha Bumbu Pecel Nusantara, Nur Hamidah juga termasuk dikenal oleh warga di sekitarnya. Pasalnya, dia juga aktif dalam kelompok tani, sebagai Ketua KWT Tani Maju Rampal Celaket.
Dari sana, dia bersosialisasi untuk sekitar. Termasuk mengembangkan pengetahuan tentang pertanian. Di wilayahnya, beberapa tahun lalu juga dikenal sebagai daerah Kampung Strawberry.
“Sekarang Strawberry-nya sudah nggak ada. Banyak yang rusak. Coba kami ganti dengan tanaman lain,” beber dia.
Menurutnya, aktif di kelompok tani, tidak menghambatnya untuk tetap memproduksi Bumbu Pecel Nusantara. Dia senang, karena juga selalu mendapatkan ilmu baru bersama warga di sekitarnya.
“Semua masih bisa saya kerjakan. Kalau usaha, sudah jalan kan tinggal menunggu pesanan dan saya mengatur produksinya,” pungkas perempuan kelahiran Kediri tersebut.(Stenly Rehardson/ary)