Pakai Klerek sebagai Pengganti Shampo dan Pel Lantai

Malang Post, Kita manusia telah memperkosa bumi. Kalimat itulah yang diungkapkan Kristien Yuliarti saat berbicara tentang  lingkungan. Maka, ia pun rela bergelut dengan kotoran kambing dan sampah setiap hari demi menjaga bumi dan lingkungan. Ia rela disebut aneh seperti alien karena berkutat dengan hal-hal yang dianggap jorok oleh sebagian orang.
Meskipun begitu, Kristien tetap konsisten. Ia adalah aktivis lingkungan yang selalu berinovasi untuk membuat produk untuk mengembalikan kesehatan bumi.  “Membantu bumi untuk tetap sehat dimulai dari hal terkecil, yaitu diri sendiri dan lingkungan rumah tangga,” ujar Kristien.
Ia mengatakan, bumi sudah terlalu tua untuk disakiti dan di khianati. Disakiti dengan segala macam bentuk penganiayaan bumi, misalkan dengan global warming yang membuat bumi sakit. Mengkhianati bumi dengan tidak memperlakukan bumi sebagaimana mestinya.
Kristien ingin memperlakukan bumi seperti yang telah bumi lakukan kepada manusia. Ia bersama suaminya melakukan upaya untuk memperbaiki kondisi bumi sedikit demi sedikit. Karena bumi identik dengan lingkungan, ia berbuat dari hal terkecil. “Saya dan suami membuat pupuk kompos atau composing yang tujuannya memang bisa membantu perut bumi agar  tiadk terisi sampah yang tidak bisa diurai,”cerita nya.
Perempuan yang senang dengan kimia ini pun mengaku sudah menjalani aktivitas membuat composing selama tujuh tahun belakangan ini. “Sejak 2009 lalu saya sudah berfikir bagaimana caranya agar kita semua bisa memberi yang terbaik untuk bumi,” ujarnya.
Pupuk kompos yang ia buat dari sampah organik ini ia buat melalui media keranjang takakura yang ditutup rapat. Keranjang takakura merupakan keranjang untuk cucian yang ditutup rapat untuk menyimpan sampah dari bahan-bahan organik. Dengan bahan dasar bekatul atau makanan ayam, serta sekam dan kotoran kambing yang ditambah dengan ragi tempe, pupuk kompos yang awalnya berbau tidak sedap pun bisa berubah aroma menjadi aroma organik yang menyerupai bahan kimia.
“Itulah indikator keberhasilan dari bakteri pengurai yang telah dibuat dalam composing, jika bakteri pengurai berhasil terbentuk, maka aroma akan berubah dalam waktu seminggu untuk fermentasi,” jelasnya.
Ia memaparkan,  indikator lain untuk menilai keberhasilan kompos ini adalah dengan tidak adanya belatung pada tanah hasil olahan pupuk. “Kita harus hati-hati, karena pupuk ini juga rawan belatung yang bisa mengurangi khasiat ari bakteri pengurai,” tukas Kristien.
Metode composing ini sangat menyelamatkan bumi, karena sampah-sampah bekas makanan apapun bisa masuk dan terurai oleh bakteri yang pada akhirnya dijadikan sebagai penyubur tanaman.  Makanan bekas apapun, misalkan bekas sambal, duri ikan, sisa-sisa sayuran dan sebagainya, kecuali tulang ayam.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru les privat ini mengaku sesekali mendapat pesanan untuk pupuk kompos, satu keranjang kompos ia hargai Rp 135 ribu. “Harga segitu sudah bisa dibuat bertahun-tahun lamanya, karena sisa kompos bisa difermentasi ulang,” jelasnya.
Menurutnya, melakukan hal tersebut (membuat composing) memerlukan konsistensi dan komitmen. Siapa sih yang mau setiap hari bergelut dengan kotoran dan sampah. “Ya mungkin tidak semua orang bisa, namun saya dan suami bisa memulai. Kalau kita tidak ada action sama sekali, kasihan bumi,” ungkap perempuan 41 tahun ini.
Terobosan selanjutnya yang ia lakukan adalah memanfaatkan lerak yang dicairkan, atau yang orang Jawa biasa sebut dengan sebutan klerek. Lerak biasanya digunakan sebagai bahan untuk konvekasi batik tulis.  “Saya menggunakan lerak dalam urusan rumah tangga untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya,” ujarnya.
Ia menyebutkan kebutuhan rumah tangga yang ia ganti dengan lerak adalah detergen, sabun mandi, sabun cuci piring serta shampo dan sabun untuk pel lantai. Wah, nyaris semua kebutuhan rumah tangga ia ganti dengan lerak yang sudah dicairkan. Khusus untuk pel lantai, menurut Kristien, hasilnya lebih kesat dan cepat cair. Namun saat memakain lerak untuk shampo, ia mengaku baru menggunakannya selama setahun terakhir.
“Ya awalnya mikir-mikir juga, kira-kira bisa nggak ya pakai lerak untuk shampo. Saat pakai pertama kali, rambut terasa kasar, tapi itu masa peralihan dari saya yang sering pakai produk berbahan kimia. Namun lama-lama, biasa saja. Saya lalu memakai cuka apel sebagai kondisioner,” ujar Kristien sembari memamerkan rambut hitamnya yang lebat.  “Ini hasil shampo lerak,” tandasnya tersenyum.  
Perempuan yang hobi berkebun ini pun harus rela dibilang tidak mampu membeli kebutuhan rumah tangga oleh rekan sejawatnya karena menggunakan lerak.  “Saya sih cuek saja dan berikan seyuman kepada mereka, karena mereka belum sadar arti penting kesehatan lingkungan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, kini lerak cair pun bisa ia produksi dan ia jadikan sebagai penghasilan tambahan. Melalui akun jejaring sosial Facebook, Kristien berkampanye tentang manfaat lerak cair dalam penggunaan sehari-hari. Ia pun harus mengirimkan lerak ke berbagai kota dan daerah di Indonesia. “Sebab sekarang masyarakat mulai banyak yang sadar, bagaimana menjaga kesehatan dan lingkungan,” tambahnya.
Dari dua pemikirannya soal lingkungan dan bumi, ia pun kini telah aktif mengikuti komunitas-komunitas sosial yang berbicara soal lingkungan. Tak jarang pula ia diundang sebagai pembicara untuk mengampanyekan tentang lingkungan dan dampaknya terhadap bumi. Melalui pertemuan-pertemuan yang ia hadiri, Kristien selalu berpesan kepada sesama aktivis ataupun masyarakat lain untuk senantiasa menjaga bumi. “Karna kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi? dan kalau bukan sekarang kapan lagi,” tutupnya (mgb/han)