Pengrajin Gamelan yang Produknya Tembus Nasional


TEKUN : Hari Murjianto yang sangat tekun membuat gamelan dan berbagai macam alat music Jawa lainnya
 
KEBERADAAN pengrajin gamelan di Kabupaten Malang saat ini sangat langka. Salah satu yang bertahan yakni Hari Mujianto, warga Desa Kedungpendaringan, Kecamatan Kepanjen. Selama 20 tahun lebih, pria berusia 56 tahun tersebut konsisten membuat pesanan gamelan yang secara rutin dikirim di keluar pulau seperti Irian Jaya, Kalimantan dan Sulawesi.
 
Bagi mayoritas masyarakat Jawa, mungkin mengenal jenis gamelan seperti kendang, gong, gambang dan bonang. Padahal, masih terdapat beberapa jenis alat musik tradisional khas masyrakat Suku Jawa ini. Seperti demung, siter, peking dan kempul yang juga menjadi bagian dari Gamelan. Seluruh jenis alat musik tradisional tersebut, mampu dibuat oleh Hari Mujianto.
Buktinya, di rumah yang juga sebagai tempat pembuatan gamelan tersebut di Perum, Candra Utama, Desa Kedungpendaringan, Kecamatan Kepanjen, berjejer rapi semua jenis alat music tradisional itu. Kondisinya memang ada yang baru setengah jadi, hampir jadi dan ada pula yang tinggal melakukan finishing seperti melapisinya dengan kuningan.  
Selain itu, terdapat pula beberapa plat besi, kayu dan besi kuningan, yang merupakan bahan utama pembuat gamelan, tampak berserakan di belakang rumah Hari Mujianto. Tidak hanya itu, juga terdapat las yang dipergunakan untuk membuat gamelan. Saat itu, dia juga disibukan dengan membuat gamelan. Maklum, dia menerima pesanan sangat banyak dari masyarakat.
“Pertengahan tahun seperti sekarang ini, banyak yang memesan gamelan kepada saya. Karena dipergunakan untuk pertunjukan jaranan yang akan tampil pada pawai bersih desa,” ujarnya kepada Malang Post, mengawali pembicaraan. Pesanannya semakin bertambah banyak, ketikan para dalang berbondong-bondong memesan gamelan untuk pertunjukan wayang.
Apalagi mulai pertengahan tahun hingga akhir tahun, pertunjukan wayang memang laris manis . “Dalang Ki Gondo Buwono, juga memesan gamelan dari saya,” imbuhnya. Selain dalang, kata dia, sanggar kesenian, sekolahan hingga partai politik memesan gamelan buatannya. Lantaran alat music tradisional ini, memang merupakan media yang cocok untuk memberikan edukasi.
“Kalau parpol, biasanya memesan gamelan ini pas kampanye pilkada maupun pilihan legislative. Kalau sanggar dan sekolahan ini, tiap tahun selalu memesan,” terang kakek dua cucu ini.
Saat membuatkan pesanan untuk pertai politik, dia memiliki pengalaman yang tidak terlupakan. “Ada pesanan dari suatu partai politik, yang nantinya gamelan tersebut akan disumbangkan ke sekolahan. Tapi, syaratnya, ukiran kayu gamelan tersebut harus berwarna tertentu sesuai dengan warna partai. Padahal, pakem warnanya memang merah,” terang pria kelahiran Wlingi ini.
Meski demikian, dia tetap membuatkan dan mewarnai kayu gamelan tersebut, seperti yang dkiinginkan. “Aneh memang, bila diberi warna lain. Tapi, tetap saya warnai sesuai dengan pesanan, daripada nanti tidak dibayar,” ucapnya sembari tertawa.
Sedangkan gamelan yang dipesan, tergantung permintaan. Tepatnya, gamelan yang dibuat, bisa dalam satu jenis alat saja, maupun lengkap seperti dipergunakan pertunjukan wayang. Bila satu set, maka pemesan harus merogoh kocek dalam-dalam sebesar Rp 50 juta.
“Sedangkan waktu pembuatannya selama satu bulan. Jadi, tidak bisa dibuat mendadak, satu bulan sebelum dipergunakan, harus pesan terlebih dahulu,” tuturnya.  Sedangkan proses yang paling sulit membuat gamelan, dia menyebut harus membentuk kenong atau bejolan di atas gong besar. Selain itu, juga harus melapisi kuningan yang membutuhkan waktu lama dan ketelatenan.
“Selain itu, harga lapisan kuningan juga sangat mahal. Sehingga, saat melapisi kuningan di gamelan itu, harus berhati-hati,” terangnya. Pada kesempatan itu, dia juga bercerita tentang mitos gamelan yang selalu digaungkan oleh para dalang. Tepatnya, saat membuat galemlan, harus pada malam hari serta disediakan kembang tujuh rupa dan kemenyan.
“Kalau yang pesan dalang, saat malam hari tempat saya ini selalu bau wewangian. Pekerja saya yang sebanyak lima orang, mengeluh bau wewangian itu. Apalagi, saya dan pekerja memang tidak percaya mitos tersebut. Namun, mau tidak mau harus diikuti permintaan dalang itu,” paparnya. Lanjut dia, biasanya gamelan yang sudah dipesan memang dilakukan jamasan.
Jamasan maupun pencucian benda pusaka itu, dilakukan di waktu-waktu tertentu pada tanggal jawa. Terlepas dari itu, dia tetap bersyukur usahanya dapat berkembang dengan baik. Apalagi gamelan buatannya telah tembus keluar pulau. Yang dipikirkan saat ini, yakni generasi penerus pembuat gamelan di Kabupaten Malang saat ini sangat minim.  
Maka dari itu, dia menginginkan kepada pemerintah, supaya turut memikirkan pengrajin gamelan yang sudah jarang inio. Apalagi, keberadaan perajin sepertinya sangat penting, un tuk uri-uru kebudayaan tradisional. Terlebih usaha gamelan sangat menjanjikan.
“Saya juga membrikan pelatihan kepada pelajar dan mahasiswa bagaiman membuat gamelan. Dengan harapn, kelak nantinya ada yang meneruskan usaha pembuat gamelan ini,” pungkasnya. (Binar Gumilang)