Pensiun dari Senior Manager, Pilih Main Kendang

Kemapanan tampaknya tidak menjadi tujuan hidup musisi musik tradisional asal Dinoyo Malang, Arif Wiwid atau yang sekarang lebih dikenal dengan John Arif “Kopi Rock”. Pemain alat musik kendang ini memiliki cerita dan perjalalanan yang tidak banyak orang kira dalam mencari arti hidup. John mengatakan, dirinya rela meninggalkan pekerjaan mapannya sebagai senior manager salah satu merek elektronik besar di dunia di Jakarta, pada 2014 lalu demi meneruskan kecintaannya untuk bermain kendang. “Saya kerja di pabrik tersebut selama 22 tahun, posisi waktu itu cukup tinggi sebagai senior manager. Tetapi namanya juga cinta, akhirnya saya lebih milih untuk meneruskan budaya sendiri, terlebih untuk melestarikan instrumen kendang,” tutur John saat ditemui Malang Post beberapa pekan lalu di Museum Musik Indonesia Malang. Selama bekerja bersama orang ini, dirinya merasa memiliki waktu yang sangat sedikit untuk mengembangkan hobinya bermain kendang. Lambat laun dia semakin melupakan keinginan untuk menabuh kendangnya. Sampai ketika seorang kawan sesama musisi musik tradisional mengajaknya mengikuti salah satu pergelaran budaya keliling Eropa yang diadakan oleh Kementerian Budaya Indonesia pada tahun 2009. Di sanalah, keseriusan John sebagai penabuh kendang semakin tertantang dan berkembang. “Di Eropa, kami mengelilingi Jerman, Italia dan Swiss. Di sana kami menyuguhkan sajian musik tradisional Indonesia hampir selama sebulan,” kenang alumnus Jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya ini. Selama satu bulan tersebut, John mengaku dirinya harus izin cuti dari pekerjaan. Dan selama berkeliling itulah, keyakinannya untuk lebih melestarikan budaya musik tradisional Indonesia semakin mantap. Pria berambut panjang ini menceritakan, di salah satu pertunjukannya di Eropa tersebut, ia sempat tertegun bahkan terharu melihat kebiasaan penonton di sana yang tidak akan meninggalkan pertunjukkan musik mereka, sampai nada terakhir berhenti. “Mereka, penonton bule-bule itu, tidak ada yang pulang sampai kita, para musisi berhenti dan selesai main. Saya sangat takjub, terharu, tertegun,” ucap John. Belum cukup ketakjuban John pada penonton di Eropa, ia pun sempat didatangi langsung oleh mahasiswa asal Eropa yang mengaku tertarik belajar budaya Indonesia karena melihat pertunjukan musik tradisional yang disuguhkannya bersama kawan-kawan musisi lain. Sepulang dari Eropa, John mengaku lebih bersemangat untuk mempelajari instrumen kendang lebih dalam lagi. Maka dari itu, di tahun 2014, ia memutuskan untuk melepaskan kehidupan sebagai senior manager. Perjalanan mencari arti hidup melalui instrument kendang, kemudian dipilih John sebagai babak lanjut hidupnya. Ia mulai mencari definisi kendang sendiri dan mulai banyak bertanya siapa yang dapat mengajarkannya tentang kendang lebih mendalam. Akhirnya, John menemukan sesosok pemain kendang asal Jakarta yang seluruh keluarganya juga seniman. Di mana bagi John, merekalah yang menjadi tutornya hingga bisa menjadi sampai sekarang. “Di situ saya belajar banyak. Sebelumnya saya biasa hanya menabuh 3 sampai 4 buah kendang, karena belajar, saya bisa menabuh 6 sampai delapan kendang. Saya juga diajari membuat kendang sendiri,” papar John. Pria yang baru saja menghibahkan satu set kendang Sunda koleksinya ke Museum Musik Indonesia Malang ini mengatakan, membuat kendang sendiri dengan bahan yang berkualitas sangatlah sulit. Ia juga menyayangkan kenyataan bahwa kendang yang diekspor ke luar negeri bahannya jauh lebih berkualitas dan bagus dibandingkan yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri. Ia sempat mengetahui saat berkunjung ke Singapura, ada sebuah set kendang asal Indonesia dalam sebuah pameran yang struktur dan bentuk fisiknya berlipat-lipat lebih bagus dari pada yang ada di Indonesia, negara asal instrumen tersebut. “Bahan yang paling bagus adalah yang terbuat dari kayu nangka. Saat ini bahan dari kayu nangka untuk kendang sangat sulit dicari, dikarenakan kayu ini banyak diekspor ke luar negeri. Sedih melihatnya,” tutur pria yang juga gemar memainkan gitar ini. Melihat hal tersebut, terdoronglah dirinya untuk juga giat mempelajari bagaimana membuat kendang sendiri. Hingga kini, John ingin membuat 50 set kendang tradisional hasil tangannya sendiri hingga dapat dimainkan dan diteruskan ke anak cucunya nanti. Pria yang pernah bermain bersama dengan Slank, dalam tur musik Slank Reog N Roll berharap, agar musisi musik tradisional jangan sampai menyerah pada keadaan. Walaupun berbagai musik modern kian menggempur. “Saat ini bukan keuntungan ataupun kemapanan yang harusnya kita cari. Tetapi bagaimana musik tradisional Indonesia yang merupakan warisan budaya ini bisa lebih berkembang dan tidak dilupakan,” tegasnya. Pasalnya, memainkan musik tradisional seperti kendang, gamelan dan lainnya tidak bisa sembarangan. Harus dimainkan dengan jiwa. “Alat musik tradisional itu penuh cerita yang hanya bisa disampaikan dengan bahasa jiwa. Karena ini memang musik jiwa,” pungkas John yang juga pemilik kafe Rock Kopi ini. (sisca angelina/han)