Porwanas, Masihkah Menjadi Event untuk Wartawan?

Sebenarnya banyak yang tidak tahu di dunia kewartawanan ada pekan olahraga nasional, seperti PON atau kejuaraan multievent yang lain. Namanya, Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) yang diadakan tiap tiga tahun sekali. Tahun ini Porwanas diadakan di Bandung, 24 – 30 Juli 2016, sebulan menjelang PON yang digelar di Jabar. Seperti biasa, tuan rumah keluar sebagai juara umum. Wartawan Malang Post Husnun N Djuraid menuturkan pengalaman mengikuti pekan olahraga tersebut.
SAYA sudah beberapa kali ikut Porwanas, sejak di Lampung – kala itu saya memperkuat kontingen Jateng  karena saya bekerja di Jawa Pos biro Jateng/DIY – sampai yang terakhir di Bandung pekan lalu. Awalnya Porwanas dimaksudkan sebagai ajang silaturahim para wartawan seluruh Indonesia melalui kegiatan olahraga. Kita semua tahu, seberapa hebat prestasi wartawan dalam bidang olahraga, tentu tidak sehebat atlet PON atau atlet sekelas Porda atau Porprov. Dengan pekerjaan yang menguras waktu, tentu sangat berat bagi wartawan untuk bisa berprestasi dalam cabang olahraga yang diikuti. Bagi wartawan, olahraga hanya kegiatan selingan di antara kesibukan pekerjaan, sehingga sulit untuk mencapai prestasi. Olahraga sekadar sebagai physical fitness, bukan untuk mencapai prestasi.
 Ketika kali pertama digelar di Semarang tahun 1983, Porwanas murni sebagai ajang olahraga bagi wartawan. Karena yang bermain wartawan sesungguhnya, jangan harap ada permainan yang hebat, yang ada hanya permainan biasa-biasa saja, tidak menunjukkan sebuah tingkat prestasi. Tapi dalam perkembangannya, Porwanas sudah berubah arah, bukan lagi menjadi ajang olahraga bagi wartawan yang sesungguhnya, tapi sudah dimasuki nonwartawan yang mengaku sebagai wartawan. Beberapa daerah, terutama di luar Jawa, mengirim atlet setempat dalam berbagai cabang untuk ikut Porwanas. Caranya mudah, mereka diberi kartu pers, sudah bisa langsung ikut bertanding bersama wartawan yang lain.
 Sebagai wartawan yang bermain dalam cabang tenis, saya merasakan betul bagaimana tingkat permainan para lawan saya. Beberapa teman dari Jabar, DKI, Jateng, DIY dan Solo beranggapan, kalau wartawan asli mainnya pasti tidak terlalu bagus. ‘’Kalau yang main wartawan asli, paling pol ya  kayak kita ini. La,  mereka ini mainnya sudah kayak atlet nasional, apa benar mereka wartawan beneran,’’ kata Arie dari DIY, pemain tenis yang baru saja dikalahkan petenis dari Kalteng. Itulah yang terjadi, banyak PWI daerah mengambil atlet yang sudah jadi kemudian diberi kartu pers dan diikutkan Porwanas mewakili daerahnya.
Banyaknya atlet yang menjelma menjadi wartawan dadakan ini tentu meresahkan wartawan yang sesungguhnya. Kalau dari sisi prestasi, mereka pasti kalah jauh, tapi bukan cuma itu, hak wartawan untuk berkompetisi secara fair telah diambil alih orang lain. PWI Pusat rupanya mendengar keluhan tersebut. Mulai Porwanas Bandung, syarat peserta  ‘’diperberat’’ dengan mengharuskan peserta lulus UKW (Uji Kompetensi Wartawan). Syarat ini diharapkan bisa mengeliminir masuknya wartawan palsu untuk ikut dalam pertandingan. Memang ada wartawan yang tidak bisa ikut karena syarat ini, tapi jumlahnya hanya sedikit, masih banyak wartawan atlet yang bisa ikut. Kalau mereka bisa ikut, tentu sudah lulus UKW, berarti mereka sudah masuk wartawan profesional yang mumpuni dalam bidangnya.

Benarkah ?. Kalau melihat penampilan para atlet tersebut, tampaknya sulit menyebut mereka sebagai wartawan asli. Dalam cabang tenis misalnya, para raja tenis dari Kalsel, Kalteng dan Lampung, para wartawan asli meyakini mereka atlet yang diberi kartu wartawan dan kartu UKW. Ternyata para petenis itu bukan hanya terjun di Porwanas, tapi juga ikut dalam turnamen lain, terutama di tingkat provinsi setempat. ‘’Kalau petenis sekelas saya ini lawan petenis yang tiap hari bermain, tentu kalah. Mereka kan atlet di daerahnya masing-masing,’’ ujar Sukisman dari NTB yang meraih medali perunggu kelompok umur 50 tahun ke atas.
Dalam semifinal, Sukisman dan pasangannya dikalahkan para petenis dari Kalteng, sedangkan saya dan pasangan saya di semifinal dikalahkan petenis asal Kalsel. Wartawan sungguhan yang bisa berprestasi bagus hanya dari DKI, pasangan Agung S dan Ari Budi yang meraih medali emas tenis kelompok 40–49 tahun, selebihnya adalah para petenis yang diberi kartu PWI dan UKW. Hal yang sama juga terjadi pada cabang lain.(husnun)

=====/////======
Farid Fadil dan Reva Pradistira Dinobatkan Sebagai Joko-Roro Kabupaten Malang