Prajurit Profesional, Manunggal Bersama Rakyat

Foto : Letkol Arm Agus Hadi Waluyo, SAP

SEJAK 3 Juni 2016 lalu, tongkat komando Danmenarmed 1 Divisi Infanteri 2 Kostrad dipegang Letkol Arm Agus Hadi Waluyo, SAP. Agus yang pada Oktober nanti menyandang pangkat kolonel ini serius memperhatikan profesionalisme prajurit dan satuan yang dipimpinnya. Ini demi keberhasilan tugas pokok TNI dalam operasi militer untuk perang maupun  operasi militer selain perang.
Tanggungjawab yang diemban Letkol Arm Agus Hadi Waluyo tidaklah ringan. Namun demikian, Pamen TNI AD yang pernah tugas belajar di India pada 1997 dan Australia pada 2004 serta tugas Ops di Kongo pada 2005 ini tetap menjalankan semua tugas dengan ikhlas dan tanggungjawab.
Resimen Artileri Medan (Menarmed) 1 yang Agus pimpin berkekuatan 1.561 prajurit, tersebar di tiga batalyon dan mako resimen. Tiga batalyon itu masing-masing, Yonarmed 1 Roket/Ajusta  Yudha di Singosari,  Yonarmed 12 Caesar/Angicipi Yudha bermarkas di Ngawi dan Yonarmed 11/76/  Guntur Geni di Magelang. Sedangkan markas Resimen Armed (Menarmed)  1 berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang.
Menarmed 1 merupakan satuan yang memiliki persenjataan canggih. “Kita memiliki alat utama sistem persenjataan (alutsista)  baru dan canggih. Dalam memberikan bantuan tembakan sudah setara dengan komunitas senjata internasional,” jelas Agus.
Lulusan Akmil 1995 ini mengungkapkan beberapa alutsista canggih yang dipercayakan kepada satuan yang dipimpinnya itu. Contohnya roket Astors II MK-6 jenis Multiple Launch Rocket System (MLRS). “Selain itu juga memiliki meriam 155 Caesar. Ini merupakan meriam berkaliber 155 dengan presisi yang baik atau kemampuan ketepatan dan kemampuan mobilitas yang tinggi,” paparnya.
Memimpin satuan dengan alutsista canggih dan prajurit yang mencapai 1.561 orang, Agus menjunjung tinggi profesionalisme prajurit. Pria ramah kelahiran Bandung, 22 Agustus 1973 ini selalu menekankan enam hal penting pada prajurit di satuan yang dia pimpin tersebut. Yakni pertama, taqwa. "Landasan moral keimanan ketaqwaan merupakan benteng pribadi dalam melaksanakan tugas. Prinsip saya, orang yang beriman dan bertaqwa maka dia memiliki benteng diri yang kokoh dalam melaksanakan tugas dan kehidupan bermasyarakat," urainya.
Kedua lanjut mantan Dandim Flores Timur, NTT itu, yakni prinsip disiplin. Disiplin adalah modal dasar dan ciri khas prajurit. Ia selalu menanamkan displin secara batiniah  dan lahiriah. Sehingga disiplin berdasarkan keikhlasan dalam semua bentuk kegiatan.
"Ketiga, moral prajurit. Kekuatan moral prajurit merupakan sebuah keharusan, hal itu sebagai sikap militansi yang tangguh, punya loyalitas dan dedikasi, integritas dalam setiap tugas.  Moralitas itu cermin dari militansi  prajurit," tandas Agus.
Keempat lanjut dia, Profesional memiliki kapasitas dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan dan fungsinya dengan baik. Kelima soliditas  dan jiwa korsa. Ini merupakan bagian dari tugas dan menanamkan jiwa kebersamaaan. "Karena kita bekerja dalam suatu sistem. Tentu harus ada jiwa korsa dalam arti yang positif," terangnya. "Dalam diri mu, ada diri saya dan ada diri kita semua. Ketika seorang sakit, semua sakit begitu juga salah seorang bahagia, maka semua bahagia," sambung mantan Pabandya-1 Dalkuad-PNS Spaban VI/Bin PNS SPERSAD ini.
Sedangkan point keenam yang selalu diamanatkan kepada prajurit yakni, rakyat adalah rohnya prajurit. "Seorang prajurit harus mencintai dan dicintai rakyat. Karena itu harus punya kemampuan bersosialiasi dengan masyatakat, mampu menjalin kebersamaan dengan masyarakat," paparnya.
Agus juga selalu mengajak prajurit disatuannya untuk terus mengasah empat kemampuan dasar militer. Pertama yakni, jago perang. Artinya, bisa menjalankan tugas  sebaik-baiknya. Kedua, prajurit harus jago tembak, ketiga, jago bela diri. "Khusus bela diri, semua prajurit wajib sabuk hitam Yongmodo," katanya. "Keempat yakni harus memiliki fisik prima. Punya kesamapataan yang baik sehingga siap ditugaskan kapanpun dan dimana saja," lanjut mantan Pabandya -2/Kompres Spaban I/ Ren SPERSADini.

Dalam memimpin prajuritnya, Agus memiliki kiat-kiat tersendiri. Ia selalu melihat lalu mendasarkan tingkat kematangan prajurit. Artinya tak menyamaratakan semua prajurit namun melihat kematangan prajurit dalam menjalankan tugas.
"Dengan demikian, saya sebagai komandan, bapak dan juga manejer. Hal tersebut sangat penting sebab siapa saja bisa menjadi komandan tapi tidak semua bisa menjadi pemimpin," beber mantan Danyonarmed 10/2/1 Kostrad itu.  
Upaya-upaya pembinaan prajurit terus dilakukan. "Pembinaan prajurit sesuai komando atas dan disesuaikan dengan program  latihan yang sudah terstandarisai baik itu latihan perorangan maupun tingkat satuan. Dari kemampuan-kemampuan ini dikombinasikan dengan latihan terpadu kecabangan lain," jelas Agus yang pernah bertugas sebagai Kadeppengmilum Pusdikarmed.
Berbagai hal yang disebutkan itu demi penguatan kemampuan operasi militer untuk perang. Sebab, Menarmed 1 yang merupakan jajaran Divisi Infanteri 2 Kostrad memiliki tugas pokok memberikan bantuan tembakan secara terus menerus dalam operasi militer untuk perang.
Disisi lain, Menarmed 1 juga melakukan operasi militer selain perang. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai penugasan. Salah satu contohnya yang dilakukan Yonarmed 12 Caesar Angicipi Yudha dalam Satgas Pamrahwan di Maluku dan Maluku Utara, sejak Februari 2016 sampai Desember 2016 mendatang.
Selain itu, Yonarmed 11/76 Guntur Geni baru saja menyelesaikan tugas sebagai Satgas Pamtas RI/RDTL pada 13 Juli 2016. Penugasan yang berlangsung selama sembilan bulan tersebut di wilayah Timor Barat, NTT. Yakni Kabupaten TTU, Belu dan Malaka serta Kabupaten Kupang yang berbatasan dengan Timor Leste.
"Dalam menjalankan tugasnya menjaga perbatasan NKRI di Timor Barat, terjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Satuan kami mendapat kepercayaan dari masyarakat karena adanya kebersamaan dengan masyarakat setempat," ungkap Agus.
Buktinya, selama menjalankan tugas sebagai Satgas Pamtas RI/RDTL, masyarkat menyerahkan 74 pucuk senjata rakitan, baik itu laras panjang maupun laras pendek.
Hal yang sama juga terjadi di Maluku dan Maluku Utara. Kemanunggalan dengan masyarakat diwujudkan melalui berbagai kegiatan. Prajurit Menarmed 1 bahkan mengajar layaknya guru saat di Timor Barat (NTT), Maluku dan Maluku Utara. "Ini suatu kemampuan tersendiri. Prajurit ditugaskan menjalankan tugas sesuai perintah dan mendapatkan hasil," kata mantan Pasiops Kodim 0201/BS Dam  I/ Bukit Barisan tersebut.
Lebih lanjut, Agus yang pernah berdinas sebagai Danramil 16/TM DIM 0201/Kodim 0201/BS Dam I/Bukit Barisan ini menambahkan, prajurit Menarmed I juga pernah menjalankan tugas pemadaman asap di Kalimantan Tengah dalam penugasan Satgas Asap.
"Selain itu membantu penanganan bencana alam, dalam hal ini penanganan pasca erupsi Gunung Kelud. Operasi kemanusiaan dalam bentuk penanganan bencana alam membantu BNPB,"  ungkap mantan  Kasi 2/Ops Yonarmed 2 Dam I/Bukit Barisan.
Belakangan, di Mako Menarmed 1 juga  berlangsung berbagai kegiatan hasil sinergi dengan sejumlah komponen masyarakat. Diantaranya perkemahan Pramuka dan pelatihan MOS sejumlah lembaga pendidikan. Disinilah ditanamkan nilai-nilai dan prinsip bela negara, semangat nasionalisme hingga pembekalan kedisplinan sejak dini.
Suami dari Yuliana Hasibuan ini secara terus menerus menjalankan fungsi  pembinaan  satuan agar selalu siap operasional. Aspeknya yakni melakukan pembinaan organisasi,  personil, pembinaan material, pembinaan latihan,  pembinaan piranti lunak dan pembinaan pangkalan. "Indikatornya terletak pada dua hal. Pertama,  tampilan prajurit dan kedua yakni tampilan satuan.  Sehingga nyaman, indah dan tertata. Muaranya untuk kesiap-siagaan operasional," pungkas ayah dari Almira Salzabila Kusuma Dewi dan Alliyah Rachel Robbanii ini. (van/sir)