Ratu BMX Asia Tenggara

IDOLA : Masih muda, prestasi telah berderet-deret. Tapi itu tak membuat Elga Kharisma Novanda berpangku tangan. Ia terus berlatih secara rutin dan disiplin.

SEWAKTU masih remaja, Elga sudah bikin kejutan sekaligus mengharumkan Indonesia. Karena prestasinya di dunia balap sepeda, Merah Putih berkibar di berbagai negara. Kini di usia yang masih muda, warga Sawojajar ini sudah tercatat  di BMX Group World Cycling Center yang bermarkas di Switzerland.
Elga sudah tidak asing lagi bagi para pecinta olahraga balap sepeda kelas BMX. Di usia 22 tahun, gadis tomboi ini meraih  gelar Ratu BMX Asia Tenggara berkat kemenangannya di SEA Games Myanmar BMX 2013. Dari situlah namanya sering diperbincangkan masyarakat kawasan Asia tenggara.
Balap sepeda memang sudah akrab bagi Elga sejak masih duduk di bangku SMP.  Berawal dari iseng, ternyata menghantarkannya menjadi sosok yang mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan internasional. Bahkan saat ini, dia tergabung dalam BMX group World cycling center di Switzerland.
“Awalnya saya ikut om saya, Sugeng Trihartono, mantan pembalap sepeda nasional BMX yang kini jadi pelatih. Sambil menunggunya melatih, saya iseng-iseng main sepeda BMX. Eh kok keterusan jadi suka, lantas jatuh cinta,” ujarnya kepada Malang Post.
Namun kiprahnya di dunia sepeda bukanlah tanpa rintangan. Elga kecil sempat galau karena berbagai macam angannya. “Awalnya saya ingin menjadi pemain sepak bola, dan juga motor cross. Tapi entah kenapa ketika saya asyik menjajal sepeda-sepada itu ada rasa keinginan untuk mengulanginya,” tutur dia.
Sejak saat itu setiap hari ia ingin terus berlatih di arena dan menunjukkan keseriusannya di dunia balap sepeda. Melihat potensi anaknya yang sangat menjanjikan, kedua orangtuanya Bambang Irianto dan Eny Khusnul Chotimah tertarik  membelikannya sepeda.
“Sepeda saya yang pertama dibeli dengan harga empat juta. Itu hadiah dari kedua orangtua. Mungkin karena mereka kasihan lihat saya latihan dengan sepeda pinjaman,” tambah alumnus SMKN 9 Malang.  
Tak ingin mengecewakan orang tuanya, Elga rajin berlatih dengan keras. Latihan setiap hari dilakukannya demi menembus impian menjadi pembalap sepeda yang handal. Tiga bulan selang waktunya berlatih, orang tuanya yang juga  official ISSI Kota Malang tak  meragukan kemampuan Elga. Mereka mengikutsertakan Elga pada sebuah kejuaraan  yang digelar di  Malang. Baru sekali tampil, Elga langsung mendapat medali emas.
“Dari situlah akhirnya saya memantapkan hati untuk menekuni dunia balap sepeda. Seperti ada panggilan hati untuk dapat mengibarkan Merah Putih di negara lain. Dari situ saya pun semakin getol latihan dan ikut kejuaraan,” lanjutnya.
Tahun 2010 merupakan awal kiprahnya di dunia BMX Internasional. Elga yang saat itu sempat minder karena merasa belum mahir menguasai sepedanya ternyata menembus juara pertama di Singapore 2010 Youth Olympic Games. Dari prestasi yang gemilang tersebut, ia  mendapat beasiswa ke markas UCI (Uni Sepeda Internasional) Swiss.
“Saya sangat gembira mendapatkan beasiswa tersebut. Meskipun pada waktu itu saya belum mahir berbahasa Inggris, saya cuek saja. Toh juga saya percaya kalau nantinya bisa karena terbiasa,” jelasnya.
Tak sampai disitu, prestasi Elga semakin gemilang saat menghadapi ajang pertamanya di SEA Games 2011 di Indonesia. Tak tangung-tangung dia yang pada saat itu merupakan atlet termuda, berhasil memboyong medali emas. Setahun kemudian, Elga juga tampil gemilang di PON 2012 Riau. Di tahun selanjutnya, pada SEA Games Myanmar,  Elga kembali meraih emas. Tak hanya prestasi di Asia tenggara saja. Di kejuaraan dunia dia mampu berbicara banyak dan menjadi juara di UCI C1 Event BMX, Wintherthur Switzerland tahun 2015.
"Pastinya senang, dan bangga karena bisa meraih medali kebanggan di kelas internasional. Ini tidak semata-mata berhasil begitu saja. Karena ingin meraih prestasi yang gemilang, saya harus rela jauh dari orang tua. Tak ada waktu yang saya sia-siakan untuk bermain-main. Karena saya ingin berada di puncak, maka saya harus bekerja keras,” tambahnya.
Namun menjadi atlet tak selamanya berada di puncak kejayaan. Seperti halnya saat cedera yang memang bagi semua atlet, itu merupakan ancaman terbesar bagi karirnya. Disaat seperti itu, Elga tak lantas menyerah. Dukungan dan doa dari orang-orang disekitarnya menjadikan obat tersendiri baginya. “Mereka yang menguatkan saya, tanpa mereka saya tak mampu menjadi seperti ini,” imbuhnya. (mga/van)