Terima Tamu dari Puluhan Negara, Patenkan Lima Corak Malangan


DIKENAL : Pasangan Sabihudin dan Ninik Wiarti pemilik usaha Batik Blimbing Malangan yang dikenal di lima benua. (FINO YUDISTIRA/MALANG POST)

Kekuatan industri rumahan sama sekali tak bisa dianggap enteng. Lihat saja Batik Blimbing Malangan yang didirikan oleh pasangan suami istri (pasutri) Sabihudin dan Ninik Wiarti. Home industry di Jalan Candi Jago tersebut sudah dikenal di lima benua. Berawal dari pelatihan batik ibu-ibu PKK yang didanai Pemkot Malang tahun 2009, Batik Blimbing kini telah jadi ikon batik non mainstream dari Kota Malang.
Malang Post berkunjung ke galeri batik Malangan milik pasutri tersebut. Dengan penuh antusias, pasangan usia 61 dan 54 tahun ini menceritakan usaha yang dirintis sejak tahun 2009 tersebut.
“Awalnya kami dapat bantuan dari Pemkot Malang untuk pelatihan batik buat PKK. Kebetulan istri yang juga guru SMK ikut. Saat itu pelatihan sukses. Dan kami diliput media sehingga pemberitaan soal acara ini meluas. Kami ambil momentum ini buat usaha batik khas Malang,” jelas Sabihudin ditemui Malang Post di ruang tamu rumahnya, kemarin siang.
Saat itu, kata Sabihudin, konflik Indonesia dan Malaysia meruncing karena negeri jiran mengklaim batik. Dengan tingginya sorotan terhadap batik nasional saat itu, dia dan istrinya memutuskan untuk membangun usaha batik. Dia belajar ke Solo dan Jogjakarta untuk melihat proses pembuatan batik konvensional.
Dua tahun membangun pondasi home industry, pasangan ini mulai moncer tahun 2012. Mereka banyak digandeng dinas-dinas di Pemkot Malang untuk ikut pameran. “Awalnya nama usaha kami adalah Batik Blimbing. Tahun 2010, istri Wali Kota Malang Peni Suparto, Hj Heri Pudji Astuti yang memberi tambahan nama Malang. Akhirnya, brand kami sekarang Batik Blimbing Malang,” kata Sabihudin.
Sebagai home industry, Batik Blimbing Malang tidak bisa meniru proses pembuatan batik konvensional di Yogyakarta dan Solo yang membutuhkan lahan besar. Sehingga, pasangan ini mengkreasi sarana prasana pembuatan batik. “Kami mengubah cara produksi batik, mulai dari mencanting, menyolet, menembok, mewarna hingga pelorotan. Kita pun pakai alat-alat modern sehingga produksi lebih efektif di lahan yang tidak luas seperti ruang depan rumah kami,” sambung kakek tiga cucu tersebut.
Dibantu 12 pegawai, proses produksi batik tulis dibuat sebersih mungkin. Bahkan, Ninik Wiarti menyebut bahwa alat canting adalah alat canting elektrik. Dia menyebut era produksi batik rumahan yang modern, tak perlu lagi memberi kesan kumuh dan kotor. Apalagi, bengkel batik Blimbing Malang sering disambangi tamu dari luar negeri.
“Saat kami studi banding ke Jogjakarta-Solo, proses pembuatan batik itu kesannya kumuh dan kotor. Kami tidak bisa menerapkan itu di rumah, yang sehari-harinya dikunjungi banyak tamu luar negeri. Sehingga, kami merevolusi proses produksi batik, dari segi sarana prasana,” papar guru bahasa Inggris SMKN 4 Malang ini.
Bukan hanya peralatan membatik saja yang diubah, Batik Blimbing Malang juga keluar dari pakem desain batik yang selama ini berkiblat pada Jogjakarta-Solo. Biasanya, batik di Jawa selalu mengusung desain parang atau kawung yang merupakan warisan era zaman kerajaan. Namun, Batik Blimbing Malang ingin lepas dari isolasi kreasi tersebut.
“Karena itu kami ingin beda dari batik-batik lain. Kami ingin sampaikan bahwa batik tidak harus motif parang atau kawung. Karena Malang belum punya batik ikonik, kami pun buat motif yang out of the box. Sampai sekarang, kami sudah patenkan lima motif batik Blimbing Malangan,” terang ibu dua anak tersebut.
Lima motif yang kini menjadi hak paten dari batik Blimbing Malangan adalah Garuda Gunungan Pancasila, Kupu Setaman, Rangkaian Matahari, Bintang Laut dan Topeng Malangan. Menurut Ninik, lima desain ini adalah motif yang paling disukai oleh para tamu dan pembeli. Sehingga, lima motif ini juga yang jadi desain yang paling sering diproduksi.
Ninik juga menyebut, satu lembar batik tulis Blimbing Malangan tidak pernah memiliki kembaran. “Kami buat seperti konsep distro. Memang, motif dasarnya sudah ada. Namun, variasi dan letak desainnya tidak sama. Kami menjaga eksklusivitas. Karena itu juga, kebanyakan pembeli batik selalu beli kain, bukan pakaian jadi. Biasanya produk kami jadi koleksi pembeli,” terang Ninik.
Dengan usia bisnis yang bisa dibilang masih muda, nama batik Blimbing Malang cepat dikenal. Bahkan, nama batik Blimbing Malangan tidak lagi hanya dikenal di level regional atau nasional. Lewat kerjasama dengan institusi pertukaran mahasiswa luar negeri dan Indonesia, batik Blimbing Malangan selalu jadi jujugan anak-anak muda dari lima benua dunia.
Ninik merinci, batik Blimbing Malang sudah menerima tamu dari puluhan negara dunia. Tamu dari penjuru Eropa, Asia, Afrika, Australia hingga benua Amerika, sudah pernah mampir di batik Blimbing Malang. Dia menyebut hanya sedikit tamu dari negara dunia yang belum pernah berkunjung ke batik Blimbing Malangan.
“Turki, Cekoslovakia, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia, sebut saja deh negara Eropa, hampir semua negara Eropa sudah. Apalagi Asia, ada dari Arab Saudi, Cina, Korea, Jepang, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura. Benua Amerika ada. Bahkan, yang dari Kenya Afrika juga ada,” tutur Ninik, sembari merinci negara-negara yang pernah kunjungi batik Blimbing Malang.
Usaha batik Blimbing Malangan ini, memakai model pemasaran dari pameran, mulut ke mulut hingga online. Dia menegaskan, pemasaran via online sangat berdampak besar terhadap perkembangan home industry ini. Dia banyak menerima pembeli domestik, bahkan dari luar Jawa Timur, seperti Batam, Bali, Riau, Palangkaraya sampai Palu.
“Kalau Jatim ya tentu Malang, Pasuruan, Sumenep, Surabaya, Sidoarjo hingga Jember. Sedangkan luar Jatim ada Semarang, Bandung, Jakarta, Bogor dan beberapa kota di Jabar. Menariknya, bahkan ada pembeli dari pusat batik, yaitu Yogyakarta-Solo,” pungkas ibu dari Aulia Rismawati dan Audie Nandra itu.(Fino Yudistira/ary)