Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Tulis Wo (w) Man, Hadirkan Kisah PSK Sampai Perselingkuhan


Merlyn Sopjan pulang kampung. Tokoh transgender bernama asli Aryo Pamungkas ini membawa oleh-oleh, sebuah karya buku inspiratif setelah vakum menulis sejak 10 tahun lalu.
Mantan Ketua Ikatan Waria Malang ini memberikan karya literatur yang diharapkannya dapat menjadi karya yang dapat menginsipirasi warga masyarakat yang masih memandang kaum “terpinggirkan” sebelah mata. “Sebenarnya di buku ketiga ini, saya mau menghilangkan image saya sebagai penulis yang selalu mengangkat isu kaum transgender. Di buku “Wo (w) Man” ini, saya menghadirkan kisah-kisah hidup nyata baik dari diri saya maupun kawan saya tentang kehidupan keras yang mereka jalani,” jelas Merlyn anggun dalam balutan mini dress hitam dalam event “Malang Sejuta Buku” di Taman Krida Budaya, Selasa (2/1/17).

Sejak buku “Perempuan Tanpa V” diluncurkan 2006 lalu, Merlyn banyak berpikir dan mengamati berbagai kehidupan manusia yang memiki banyak sisi gelap. Seperti isu seks, kekerasan, human trafficking sampai pada perselingkuhan suami istri. Menurutnya, kehidupan gelap tersebut nyatanya dialami oleh banyak manusia saat ini, terlepas dari apapun gender, kalangan dan derajat mereka.
“Seperti tulisan berjudul “Blackberry” di buku ini, menceritakan kelamnya kehidupan anak remaja di Kota Malang yang saking inginnya memiliki BB pada saat itu, ia sampai ia rela menjual dirinya sendiri,” jelasnya.

Cerita nyata itu ditulisnya pada Juni 2009, dimana saat itu fenomena smartphone Blackberry tengah naik daun. Saat banyak orang berlomba-lomba ingin memilikinya, bagaimana pun caranya.
Menurutnya, ia pantas menuangkan dan membuka kisah itu kepada masyarakat sebagai sebuah pengetahuan. Bahwa, fenomena seperti itu benar ada dan terjadi. Ia juga mengupas mengapa hal tersebut terjadi.

Buku yang baru ia launching sekitar dua bulan lalu di Jakarta ini, juga menceritakan sebuah kisah nyata lain soal pengakuan kawannya yang memilih menjalani kehidupan sebagai pekerja seks komersial, untuk menghidupi keluarganya sendiri.
“Saya mengamati. Saya tangkap momen dan fenomena itu di buku ini. Karena, ternyata tidak hanya kaum waria ataupun transgender yang cenderung dimarjinalkan. Tetapi mereka yang tidak sesuai standar sosial seperti PSK juga ikut dikucilkan, padahal mereka sebenarnya terpaksa melakukan hal tersebut,” papar alumnus Institut Teknologi Nasional Malang ini.

Please publish modules in offcanvas position.