Usaha Warga Kampung Genitri Kembalikan Jati Diri

Sorak sorai pergelaran budaya Kampung Genitri yang belakangan ramai dibicarakan ternyata tidak hanya pada perayaan peringatan jelang hari raya kemerdekaan RI saja. Warga RW 04 Jalan Pisang Candi Barat Kelurahan Pisang Candi Kecamatan Sukun Kota Malang mengadakan kegiatan ini, dipicu cerita mengenai sebuah pohon.
Saat bertamu ke kediaman Ketua RW 04 Pisang Candi Barat, Gatot Eko Setiaji, untuk mengetahui terbentuknya pergelaran budaya yang diadakan empat hari sejak Rabu (3/8/16) ini, Malang Post mendapat cerita tentang sebuah pohon yang konon dulu tumbuh subur di wilayah Pisang Candi Barat. Pohon itu bernama Genitri atau Jenitri.
“Ya, dulu sekali sebelum kemerdekaan RI, di sini subur sekali pohon genitri. Makanya wilayah ini dulu dinamai kampung Genitri,” ungkap Gatot.
Sambil sesekali memperhatikan warganya merakit berbagai stand tradisional yang akan dipamerkan  di depan rumahnya, ia kembali mengungkapkan bahwa saat ini pohon genitri yang tersisa di wilayah Pisang Candi Barat hanya ada tiga pohon saja.
Gatos menjelaskan, pohon Genitri merupakan pohon berbatang tegak, berkayu bulat, berkulit kasar dan dapat menghasilkan bunga yang menghasilkan biji dengan banyak guna. Namun karena tinggal tiga pohon yang tersisa akibat pergeseran zaman, warga pun menjaga benar-benar pohon tersebut.
 “Ada dua masih tumbuh dekat sungai dibawa salah satu RT disini. Satunya baru saja saya tanam dekat pekarangan lahan kosong dekat salah satu rumah warga,” imbuh Gatot.
Hal inilah yang menjadi satu alasan utama warga RW 04 menggelar pergelaran budaya tersebut dengan mengembalikan memori zaman dahulu, bermain di bawah pohon genitri seperti nenek moyang mereka. Gatot menyebutkan berbagai khasiat ataupun kegunaan biji genitri yang sudah diketahui turun temurun oleh warga sekitar. Salah satunya untuk menghilangkan stres, anti bakteri, menstabilkan tekanan darah dengan cara biji direndam ke dalam air dan diminum.
“Ini saya contohkan, taruh biji-biji genitri ini di semua sela jari kaki, tunggu beberapa menit. Jika merasa sakit berarti Anda sedang memiliki penyakit dalam,” tutur Gatot sambil memberikan beberapa biji buah genitri pada Malang Post.
Selain itu, pria yang mengaku warga asli kampung genitri ini mengatakan, biji genitri seringkali dimanfaatkan warga dulu untuk dipakai sebagai bahan gelang, kalung dan tasbih. Dulu warga juga kerap kali memanfaatkan pohon sebagai tempat berteduh saat pulang dari sawah, ataupun memakai batang pohon sebagai bahan bangunan. Namun, hal tersebut tidak dapat kembali dirasakan oleh warga kampung genitri saat ini.
Intinya, Gatot melanjutkan, pergelaran ini menjadi momen mengenang masa lalu yang tanpa beban dapat dijalani orang zaman dulu secara sederhana. Harapannya, semangat gotong royong yang kian ditinggalkan, dapat berkunjung kembali dalam kehidupan sosial warga RW 04 Pisang Candi Barat. Seluruh warga pun harus mau terlibat.
“Ada sekitar seribu lebih warga yang terlibat dalam pergelaran budaya tempo dulu ini. Karena RW 04 terdiri dari 12 RT. Jadi, kami semua sepakat terlibat mulai dari pengisi pentas, membangun stand-stand makanan tradisional sampai pada hal terkecil seperti keamanan, semua dari warga sendiri,” papar pria paruh baya ini.
Benar saja, ketika Malang Post menyisiri pergelaran budaya kampung genitri, terlihat bukan hanya warga saja yang ikut terlibat. Mahasiswa yang tinggal di wilayah Pisang Candi Barat yang kebetulan kos di sana pun turut terlibat.
Wilayah Pisang Candi memang memiliki banyak rumah kontrakan dan kos-kosan bagi mahasiswa, terlebih mahasiswa Universitas Merdeka Malang (Unmer) yang memang berada tepat di lingkungan kelurahan Pisang Candi. “Iya, ini saya bantu ibu kos jualan cenil, kebetulan acaranya di depan kos, jadi ikut bantu. Belum pernah saya terlibat di acara seperti ini, jadi sangat senang lah,” tutur mahasiswi asal Prigen saat ditemui di sela kegiatan.
Yang menarik lagi, saat pergelaran dimulai, di antara pukul 18.00 sampai selesai setiap harinya warga pun terlihat memakai pakaian ala orang tempo dulu. Perempuan memakai jarik, para lelakinya mengenakan peci ataupun sarung yang sengaja diselempangkan di bahu.
Jika mampir, masyarakat pengunjung pun dapat sejenak berdiam melihat pertunjukan seni yang dipertontonkan di panggung utama. Seperti tari-tarian tradisional, permainan zaman dulu, dongeng ataupun pertunjukan wayang kulit sambil menikmati jajanan tradisional yang dijajakan warga sepanjang jalan. Kian menambah semangat melestarikan budaya dalam jati diri. (sisca Angelina/han)