Usung Harimau dari Madiun Jadi Komik Pendek Terbaik

Aji Prasetyo, komikus Malang yang namanya sudah melanglang buana di dunia komik Indonesia kembali menorehkan prestasi. Lewat karya komik pendeknya yang berjudul “Harimau dari Madiun”, Ia meraih penghargaan prestisius bagi komikus Indonesia, Kosasih Award pada bulan Agustus 2016 ini, dalam kategori Komik Pendek Terbaik. Saat ditemui Malang Post, pria kelahiran Pasuruan ini dengan semangatnya menceritakan asal muasal komik pendek Harimau dari Madiun tersebut yang kembali mengangkat namanya sebagai komikus andal yang diakui di Indonesia. “Anda pernah dengar nama Sentot Prawirodirdjo? Jarang dengar kan? Dia itu salah satu panglima perang di Perang Diponegoro jaman itu. Inilah maksud dari Harimau tersebut,” ungkap Aji sambil menawarkan Malang Post sajian minuman di kafe Komika, miliknya di Jalan Jakarta No 34. Sentot Prawirodirdjo sendiri merupakan panglima yang saat perang Diponegoro akhirnya membelot dan memilih bergabung di pihak Belanda. Terdengar sedikit janggal terdengar cerita Aji mengenai sosok Sentot yang ternyata membelot tetapi malah menjadi inspirasi tokoh komik miliknya tersebut. Usut punya usut ternyata, sosok Sentot sendiri menurut Aji merupakan sosok heroik yang ceritanya tidak diketahui banyak orang dan jarang tertulis dalam buku seajarah. “Sentot melakukan hal tersebut untuk melindungi rakyatnya sendiri pada jaman itu. Sisi cerita Sentot inilah yang saya angkat dalam komik Harimau dari Madiun itu. Kisahnya ini sudah melalui riset yang saya lakukan sebelum dibuatkan komik,” tutur penulis komik “Hidup Itu Indah” ini. Lebih lanjut Aji menuturkan bahwa sosok Sentot banting stir menyerah kepada kaum Belanda pada jaman itu merupakan salah satu langkah politis yang ia lakukan untuk mengakhiri penderitaan masyarakat yang terimbas perang tak berujung dari perjalanan Perang Diponegoro. Di mana, apa yang dilakukan Sentot tidaklah jauh berbeda dengan situasi politik dan sosial di masyarakat Indonesia sendiri. Pada intinya, kemiskinan dan kelaparan yang terjadi pada sebuah bangsa merupakan sebuah keputusan politik dari pihak yang berwenang. “Dari jaman VOC sampai Freeport, intervensi asing tetap menjadi akar permasalahan politik dan sosial bangsa kita. Saya melihat situasi perang Diponegoro sama dengan yang terjadi sekarang. Di mana masih ada kesenjangan,” ungkap pria yang bergabung dalam pengurus nasional lembaga seni budaya muslim PBNU ini. Dalam komik Harimau dari Madiun tersebut, Aji ingin mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada masa lalu, sedang terjadi pada jaman saat ini. Hal ini menyiratkan bahwa Aji sendiri sedang mengkritisi pemerintahan sendiri. Ia menyebutkan bahwa merupakan hal yang wajar ketika warga asli Papua menginginkan kemerdekaannya sendiri karena merasa tidak diperhatikan dan tidak disejahterakan. “Bukannya saya mau mendukun gerakan separatis, tetapi apa yang mereka lakukan hampir sama dengan peristiwa Perang Diponegoro yang merupakan buah dari aksi protes masyarakat terhadap kerajaan Keraton yang tidak mensejahterahkan warganya malah membawa masuk Belanda untuk berdagang,” papar pria berkaca mata ini. Komik pendek “Harimau dari Madiun” ini pun menjadi salah satu kritik sosial bagi pemerintahan. Dimana, jika masyarakat terus menerus berada dalam situasi tertekan dan tidak dimajukan, kejadian seperti Perang Diponegoro pada masa lampau sangat mungkin terjadi pada masa kini. Lebih lanjut, pria yang pernah mewakili Indonesia dalam Frankfrut Bookfair di Jerman pada tahun 2015 ini mengungkapkan bahwa dirinya akan tetap konsisten mengangkat isu politik, sosial maupun lingkungan dalam setiap karyanya. “Seniman komik seperti saya juga memiliki tanggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat. Terlebih sebagai kontrol sosial,” imbuhnya. Ia menyebutkan bahwa karya seniman sebagai kontrol sosial yang diyakininya tersebit menyadur filosofi seni ala leluhur yang berbunyi “tontonan kuwi mesti dadi tuntunan”. Di mana sebuah karya apapun bentuknya bukan hanya dihasilkans sebagai tontonan saja, melainkan harus dapat menjadi sebuah tuntunan bagi semua orang yang melihat. Maka dari situlah tujuan berseni akan didapatkan. Aji yang juga pembentuk komunitas tukang tutur ini pun juga menceritakan bahwa dirinya sempat beberapa kali berususan dengan aparat keamanan karena karyanya yang dinilai provokatif dan selalu mengangkayt isu sensitive seperti agama. “Buku komik pertama saya yang judulnya ‘Hidup Itu Indah’ sempat diprotes habis-habisan oleh salah satu ormas agama karena saya memang mengakat tema tentang fundamentalisme agama di Indonesia. Sekaligus covernya juga memang agak berani,” jelas pria yang pernah menjalani studi di Universitas Negeri Malang tersebut. Namun, dirinya tidak gentar ia tetap konsisten menerbitkan bukunya tersebut. Dan mendapatkan sambutan positif oleh masyarakat se Indonesia. Dimana saat ini cetakan ketiga dari buku tersebut sudah akan dikeluarkan kembali. Hal inilah yang ia harapkan dari komikus muda di Indonesia yang menurutnya masih belum berani menunjukkan karya sebagai kontrol sosialnya. “Memang kebanyakan saat ini komikus muda, ataupun seniman muda lainnya masih suka cari aman dengan mengangkat tema populer dan kekinian sesuai permintaan pasar. Tetapi, bagi yang memiliki jiwa ingin maju, jangan takut keluarkan saja kritik dan idemu,” tegasnya. Dengan nada yang halus nan tegas ia kemudian menambahkan, bahwa seniman tidaklah mengharapkan penggemar yang banyak, cukup yang fanatik saja walaupun sedikit. Karena karya akan selalu diingat dan diteruskan dan diteruskan jika memang itu bernilai dan menyentuh jiwa masyarakat. (Sisca Angelina/ary)