Malang Post

Kriminal


Sering Nonton Video Porno, ABG Perkosa Temannya

Share
KEPANJEN- AW, 16 tahun warga Dusun Lambang Kuning Desa Majang Tengah Kecamatan Dampit, sejak kemarin harus mendekam di balik sel Mapolres Malang. Remaja putus sekolah ini, berani melakukan tindak pidana asusila terhadap temannya DSB, 14 tahun, warga Kecamatan Turen, yang baru dikenalnya selama tiga hari.
Akibat perbuatan yang dilakukannya tersebut, tersangka dijerat dengan pasal 81-82 Undang-Undang (UU) No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak di bawah umur. “Ancaman hukumannya, lima tahun kurungan penjara,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Malang Iptu Sutiyo SH Mhum kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, pelaku kenal dengan korban selama tiga hari. Mulanya, pelaku dikenalkan dengan korban, melalui perantara salah seorang temannya. Saat kenal pertama kali itu, keduanya saling bertukar alamat rumah dan nomor ponsel. Pada hari Senin tanggal (26/1) dini hari kemarin, tersangka mendatangi rumah korban.
“Kemudian tersangka masuk ke dalam, lewat jendela kamar korban. Modusnya, dengan mengetuk jendela itu, kemudian dibuka oleh korban, lantaran sudah kenal,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya ini.
Lanjut dia, saat berada di dalam kamar korban itu, tersangka meengajak korban berhubungan intim. Ajakan itu ditolak korban. Tersangka memaksa dan mengancam korban, supaya mau untuk melayani nafsu bejatnya itu. Karena terdengar kegaduhan di dalam kamar anaknya, orang tua korban terbangun dari tidurnya dan bergegas menuju ke kamar anakanya itu, untuk melakukan pemeriksaan.
“Saat masuk ke dalam kamar anaknya itulah, tersangka kepergok oleh orang tuannya tengah melakukan pemerkosaan terhadap korban,” tuturnya.
Tersangka tidak bisa berbuat apa-apa. Orang tua korban membawa tersangka ke Polsek Turen untuk mempertanggungjawabkannya perbuatannya itu.
Karena kasus ini melibatkan anak di bawah umur, keesokan harinya Polsek Turen melimpahkan tersangka ke UPPA Satreskrim Polres Malang. Tersangka nekat melakukan perbuatan itu, lantaran penasaran ingin mencobanya. Sebelumnya, tersangka memang kerap sekali menonton film porno di warnet dekat rumahnya.
“Saya Cuma bilang sayang dan cinta kepada DSB. Karena tidak mau diajak berhubungan, saya paksa dan mulutnya saya tutup supaya tidak berteriak,” ujar tersangka dihadapan penyidik yang memeriksanya. (big/aim)
comments
Last Updated on Wednesday, 28 January 2015 12:02

Banyak Hutang Pilih Kendat

Share
WAGIR- Ketenangan warga Dusun Darungan RT 25 RW 09 Desa Mendalan Wangi Kecamatan Wagir, Senin malam kemarin, berubah mendadak gempar. Warga dikejutkan aksi nekat Siyono, 50 tahun, warga sekitar yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon sengon area persawahan.
“Keluarga korban, mengikhlaskan kepergiannya. Keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi pada jenazahnya,” ujar Kapolsek Wagir AKP M Yusuf kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, peristiwa yang menggemparkan warga sekitar tersebut terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, diketahui korban terrlihat terakhir pagi hari. Setelah itu, keberadaan korban tidak diketahui oleh keluarganya. Pada malam hari, seorang pencari rumput bernama Sukarlan, 45 tahun, warga sekitar sedang mencari rumput di sekitar lokasi kejadian. Dia curiga ada sosok yang menggantung di pohon sengon. Setelah didekati, ternyata sosok menggantung itu adalah mayat.
Sontak yang bersangkutan lari tunggang langgang. Dia memberitahukan apa yang ditemukannya kepada warga sekitar. Sebagian warga lainnya, memberitahukan ke perangkat desa. Oleh perangkat desa diteruskan ke Polsek Wagir. Kabar penemuan mayat itu, langsung tersebar bagitu cepatnya.
“Anggota kami yang menerima laporan itu, lalu bergegas menuju lokasi kejadian. Sesampainya di lokasi kejadian, langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Serta memintai keterangan saksi,” kata Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya.
Saat dilakukan olah TKP itu, kondisi korban diketahui sangat mengenaskan. Kepala korban terikat tali tambang sepanjang satu meter dengan lidah keluar menjulur. Korban memakai celana panjang warna hitam, kaos dalam wana biru dan hem motif kotak-kotak.
“Kami bersama petugas medis menurunkan jenazah korban dan membawanya ke Kamar Mayat RSSA Kota Malang untuk dimintai visum,” tuturnya.
Korban nekat melakukan hal itu, lantaran dililit hutang. Hal itu menurut pemeriksanaan beberapa saksi yang dilakukan oleh pihaknya. Hal itu juga dikuatkan dengan SMS terakhir yang berisi penagihan hutang maupun pinjaman dari salah satu koperasi. “Setelah kami lakukan visum, jenazah korban dibawa pulang ke rumah duka. Selanjutnya, langsung dmakamkan malam itu juga,” pungkasnya. (big/aim)
comments

Sindikat Gendam Antar Pulau Masuk Malang

Share
MALANG – Lenita (50 tahun), warga Jl Raya Gadang 19, Sukun, Kota Malang merasa iba, ketika mendengar cerita Jenna (43 tahun), warga Jl Lorong Bakar Batu, Tanjung Pinang Barat, Riau yang mengaku pindahan dari Bali. Kemarin (27/1/15) sekitar pukul 09.00 WIB, keduanya bertemu di salah satu penjual ikan di Pasar Besar Kota Malang. Lenita tidak mengira, ternyata pertemuannya dengan Jenna merupakan aksi gendam yang membuatnya mengalami kerugian sekitar Rp 60 juta.
Saat itu, Jenna menghampiri Lenita yang sedang memilih-milih ikan dan mulai bercerita tentang keluarganya yang sakit-sakitan. "Saya baru pindah dari Bali ke Malang. Sejak pindah, suami dan anak saya sakit-sakitan. Sudah diperiksa ke dokter, tapi dokter tidak bisa mendeteksi penyakitnya," ujar Lenita, menirukan Jenna saat bercerita kepadanya.
Ditambahkan, Jenna meminta rekomendasi kepada Lenita, apakah memiliki kenalan ‘orang pintar’. Lenita bingung, dia mengatakan kepada Jenna kalau dia tidak punya kenalan. Tapi tiba-tiba datang Aisah (42), warga Jalan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat menghampiri mereka berdua. Kepada mereka berdua, Aisah berkata kalau dia memiliki seorang kenalan 'orang pintar'. Tapi dia enggan mengantar Jenna sendiri, Aisah meminta Lenita untuk ikut.
"Awalnya saya tidak mau ikut. Saya bilang ya sudah, antar saja. Tapi kata wanita tadi (Aisah, red), saya harus mengantarnya. Tukang ikan juga menimpali sama, katanya sebentar saja saya antar dia. Akhirnya saya ikut. Kami pergi dengan mobil Xenia yang di dalamnya sudah menunggu sopir perempuan," lanjutnya.
Sopir perempuan yang ada di mobil itu adalah Lina Febriani (33 tahun), warga Jl Suka Damai, Madukoro Baru, Kota Bumi Utara, Lampung. Diantarlah Lenita dan Jenna, bersama Aisah ke tempat 'orang pintar' yang dimaksud. Belum lama perjalanan, tepatnya di Jl Zaenal Arifin,  mereka bertemu dengan pria yang sebutannya adalah 'engkoh'.
"Oh, itu cucu kakek yang saya maksud (orang pintar)," tambah Lenita yang kali ini menirukan Aisah. Ketiganya pun berhenti. Aisah mengajak pria bermata sipit dan berkulit putih ini untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, pria ini menelepon kakeknya, orang pintar yang mereka tuju. Tidak lama setelah pria ini berbincang-bincang di telepon, pria tersebut memberikan ponselnya ke Lenita.
Lenita mengaku, apa yang dikatakan kakek di telepon tersebut tidak jelas. Tapi saat itu, perasaan aneh menyelimutinya. Ponselnya kemudian diberikan kembali ke pria dengan sebutan 'engkoh' itu. Sejak mengangkat telepon itu, Lenita seolah menuruti apa saja yang dikatakan pria tersebut.
Engkoh berlagak menceritakan apa yang dibicarakan kakeknya. Menurutnya, dia bisa memberikan tanaman penyembuh apapun kepada Lenita, dengan beberapa syarat. Syaratnya, Lenita harus memberikan segenggam beras dan seluruh perhiasan yang ada di rumahnya. Kemudian syarat-syarat tersebut harus dibungkus koran.
"Saat itu korban menurutinya. Para pelaku pun mengantar dia ke rumahnya di Jl Raya Gadang. Korban berinisial Lnt (Lenita, red) ini langsung mengemas perhiasan tersebut. Para pelaku menunggu di luar rumah. Setelah selesai, korban diantar kembali ke kawasan pasar besar," timpal Kapolsek Sukun, Kompol Sutantyo. Saat itu, korban sudah lupa kalau tujuan awalnya mengantar Jenna ke orang pintar.
Sebelum turun dari mobil, lanjut Sutantyo, korban diberikan satu bingkisan koran. Bingkisan tersebut tidak boleh dibuka, sebelum korban sampai di rumah. Korban disuruh turun dari mobil dengan menggunakan kaki kiri dan dilarang menengok ke belakang. "Tapi karena korban sadar dan curiga, dia tidak menggubris omongan pelaku. Korban menoleh ke belakang dan mengingat nomor polisi mobil pelaku," tambah Sutantyo.
Benar saja, rupanya bingkisan yang dia pegang dari tadi berisi batu kerikil. Sementara bingkisan perhiasan, berada di dalam mobil. Lenita pun bergegas melapor ke pos polisi di Klenteng, dengan memberikan nopol dari mobil pelaku, yakni B 1135 KZV.
Mobil pelaku berhasil dihadang polisi di wilayah Kacuk, Sukun. Saat polisi menghampiri mobil ini, dua pelaku, yakni Aisah dan Engkoh melarikan diri. Aisah berhasil ditangkap karena bersembunyi di rumah warga, sementara Engkoh, tidak ditemukan. (erz/feb)
 
comments

Dollar Hingga Blanco Dalam Tas

Share
MALANG – Nampaknya, pelaku Gendam di Pasar Besar yang menyasar ke Lenita(50 tahun), warga Jl Raya Gadang 19, Sukun, Kota Malang, Selasa (27/1) kemarin, memiliki jam terbang tinggi. Saat Kepolsian Sukun memeriksa isi tas mereka, ditemukan sejumlah uang lembar asing senilai belasan juta.
"Di tas pelaku, ditemukan uang dollar Amerika, blanco Mexico, dan rupee India. Polisi menemukan perhiasan dan uang tunai sebesar belasan juta rupiah. “Barang-barang itu ada di tas milik ketiga pelaku," ungkap Kapolsek Sukun, Kompol Sutyanto kepada Malang Post di kantornya, kemarin.
Menurutnya, para pelaku sulit melakukan pengakuan. Sampai  kemarin siang, para pelaku belum mau mengaku kalau mereka melakukan aksi gendam. Saat ditanyai wartawan, mereka mengaku hanya melakukan pekerjaannya. "Pelaku agak sulit memberi keterangan, sampai sekarang kami masih melakukan pengembangan kasus," jelas Sutyanto.
Ketiga pelaku yang ditangkap Polsek Sukun adalah Jenna (43 tahun), warga Jl Lorong Bakar Batu, Tanjung Pinang Barat, Riau ; Aisah (42), warga Jl Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat dan Lina Febriani (33 tahun), warga Jl Suka Damai, Madukoro Baru, Kota Bumi Utara, Lampung.
"Itu uang hasil kerja saya, saya mau kirimkan ke anak saya di Lampung," ungkap Lina, saat ditanyai darimana uang itu berasal. Wanita berambut sebahu ini mengatakan, kalau selama ini dia bekerja sebagai sopir. "Sudah satu tahun saya bekerja disini," tandasnya.
Sementara Aisah, juga tidak mengaku kalau uang bernilai jutaan yang sekarang disita polisi itu hasil gendam. "Tidak, itu uang saya," katanya pelan sambil terus merundukkan kepala. Aisah enggan mengaku kalau dia telah melakukan gendam ke korban, Lenita.
Jenna lebih parah lagi, bukannya mengaku, dia malah memohon kepada Lenita agar dibebaskan. "Tolong, saya tidak melakukan apa-apa. Keluarga saya sakit," ujarnya memohon kepada Lenita. Saat itu juga, polisi langsung menyuruhnya diam dan berbalik badan. "Saya terserah polisi," balas Lenita.
Ketiga pelaku, sekarang diamankan beserta barang bukti berupa mobil Xenia warna silver dengan nopol B 1135 KZV, serta tas, beserta isinya. Satu pelaku lagi yang dikenal dengan sebutan "engkoh" masih buron, melarikan diri ke arah Malang Selatan.
Ketiga korban dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan. Untuk proses selanjutnya, diserahkan ke Polsek Klojen karena TKP berada di kawasan Klojen. "Masih ada barang yang dibawa pelaku, berupa gelang, cincin, uang Rp 500 ribu dan anting-anting anak saya. Total kerugian, kira-kira Rp 60 juta," jelas Lenita. (erz/feb)
 
comments

Main Facebook, Gadis Ampelgading Hamil

Share
KEPANJEN-Facebook masih jadi pemicu aksi kriminalitas terhadap anak usia di bawah umur di Kabupaten Malang. Berawal dari Facebook, Suradi, 19 tahun, warga Desa Tirtomoyo Kecamatan Ampelgading bisa merebut kehormatan Bunga (nama samaran), gadis 15 tahun asal
Ampelgading.
“Tersangka kami jerat dengan pasal 81-82 Undang-Undang (UU) No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak di bawah umur. Ancamannya hukuman selama lima tahun kurungan penjara,” ujar Kepala Unit Perlindungan, Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang Iptu Sutiyo SH Mhum kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, tersangka kenal dengan korban selama satu tahun belakangan ini. Keduanya kenal melalui situs online pertemanan Facebook. Setelah berkenalan selama satu bulan, mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kemudian, mereka berdua pun kerap kali menyempatkan diri untuk bertemu di suatu tempat.
“Sedangkan tersangka pertama kali menyetubuhi korban, pada awal tahun 2014 yang lalu di sebuah persawahan,” kata Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya ini. Dua bulan kemudian, tersangka juga menyetubuhi korban di tempat yang sama. Semenjak perlakuan tidak senonoh itu, korban lebih banyak berdiam diri.
Hingga orang tua korban curiga dan ada yang berbeda dengan anak kesayangannya. Apalagi korban tidak bisa menyembunyikan  bahwa sedang berbadan dua. Setelah didesak korban berterus terang, bahwa dirinya dihamili oleh tersangka. Tidak terima dengan hal itu, kedua orang tuanya melaporkan tersebut ke kepolisian.
“Tersangka ini kami ciduk di rumahnya. Saat dilakukan penangkapan, tersangka tidak bisa mengelak lagi dan mengakui perbuatannya tersebut,” kata Iptu Sutiyo. Sementara itu tersangka Suradi di hadapan penyidik yang memeriksanya mengatakan, melakukan hal tersebut saling suka sama suka. Dia juga berjanji akan menikahi pacarnya tersebut.
“Tapi orang tua korban tidak terima dan malah melaporkan saya. Padahal saya siap bertanggungjawab dengan menikahinya,” kata dia. Meski demikian, dia mengaku menyesal telah menyetubuhi korban hingga hamil delapan bulan. Karena berakibat dirinya saat ini dihukum dan ditahan di sel Mapolres Malang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.(big/ary)
comments

Page 1 of 236

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »