Malang Post

Kriminal


Selfie, Dua Siswa SMKN 13 Malang Hilang di Coban Baung

Share
MALANG – SMK Negeri 13 Malang sedang berduka. Dua pelajar sekolah yang beralamat di Jalan Villa Bukit Tidar Malang, dikabarkan hilang Sabtu (28/3) lalu. Keduanya tenggelam dan terbawa arus di Coban Baung, Purwodadi, Pasuruan. Hingga Minggu malam kemarin, tubuh kedua pelajar tersebut masih belum ditemukan.
Heri Suwarsono, Kepala Seksi Pelayanan PMI Kota Malang, dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan kalau saat ini masih dilakukan proses pencarian. Delapan tim PMI Kota Malang sudah diterjunkan untuk melakukan pencarian.
“Kami dapat informasi kemarin (Sabtu, red). Saat itu juga langsung melakukan koordinasi. Tadi pagi (kemarin, red) delapan tim langsung kami terjunkan untuk bergabung dengan Basarnas dan tim SAR lainnya,” ujar Heri Suwarsono.
Asnawi, anggota tim Basarnas semalam saat dikonfirmasi mengatakan, kalau tim SAR gabungan masih melakukan pencarian. Termasuk semalam pencarian dilakukan dengan memantau di bawah air terjun.
“Malam ini (semalam, red) tim masih melakukan koordinasi. Proses pencarian tetap berlanjut, dengan memantau di bawah air terjun,” kata Asnawi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kedua korban tenggelam tersebut diketahui bernama M Reza Ardiansyah (17), warga Perum Villa Sengkaling Blok 9K10 Malang, serta Syarif Hidayat (16), asal Wonogiri Jawa Tengah. Sebelum dikabarkan hilang, keduanya bersama lima orang temannya rekreasi ke Coban Baung. Kebetulan hari itu, Reza dikabarkan juga sedang merayakan ulang tahun.
Mereka berangkat dengan mengendarai sepeda motor, pada Sabtu pagi. Setiba di lokasi kejadian, kedua korban serta lima temannya langsung menuju lokasi air terjun. Mereka foto-foto di bawah air terjun. Saat sedang asyik selfie inilah, kedua korban jatuh terpeset lalu tenggelam.
Kelima temannya yang mengetahui tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani menolong karena kondisi arus sungai cukup deras. Teman-temannya hanya bisa menyaksikan sembari berteriak minta tolong pada warga sekitar.
Kepala SMK Negeri 13 Malang, Husnul Chotimah ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler semalam, tidak banyak berkomentar. Ia tidak bersedia memberikan statemen apapun. “Maaf mas, saya tidak bisa memberikan statemen apapun. Tolong hargai ya, karena kejadiannya masih belum jelas,” katanya.
Sementara itu, Dody Widya Afiat orangtua Reza saat dihubungi, masih belum banyak memberikan keterangan. “Ini saya bersama rombongan masih mau ke lokasi untuk mengecek kebenarannya,” jawabnya singkat, sembari menutup telepon. Ketika dihubungi kembali, tidak diangkat meskipun terdengar nada sambung.(mg12/agp)
 
comments

Korban Jambret Zainul Bertambah

Share
MALANG – Masih ingat dengan Zainul Arifin, pelaku jambret kebal senjata yang ditangkap beberapa waktu lalu ?. Korban penjambretan yang dilakukan warga Jalan Gadang Gg 21 C ini Malang bertambah. Kali ini korban yang melapor adalah Ikadia Novita, 28 tahun, warga Jalan Trunojoyo, Kecamatan Gondanglegi.
Korban diketahui sebagai seorang guru pegawai negeri sipil. Ia menjadi korban jambret di Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, pada 18 Maret 2015 lalu sekitar pukul 15.00. Namun kejadian tersebut baru dilaporkan kemarin. Sebab pasca dijambret, Ikadia harus dirawat di rumah sakit. Ia mengalami luka di kepala setelah jatuh dari motor.
“Laporannya baru kami terima. Sebelumnya saat kejadian korban memang belum melapor karena kondisinya masih sakit. Diketahui kalau Ikadia ini, menjadi salah satu korban jambret yang dilakukan Zainul, berdasarkan barang bukti yang kami temukan dari tangan tersangka,” terang Kapolsekta Kedungkandang, Kompol Putu Mataram.
Dengan ada tambahan satu korban penjambretan ini, maka total ada sembilan TKP jambret yang dilakukan Zainul Arifin, selama bulan Maret ini. Rinciannya di wilayah Kecamatan Sukun ada empat TKP, Kecamatan Kedungkandang ada tiga TKP. Kecamatan Klojen serta Blimbing, masing-masing satu TKP.
Peristiwa jambret yang dialami Zainul ini, berawal saat korban naik motor sendirian. Ia berniat pulang ke rumahnya. Ketika melintas di lokasi, motor korban dipepet dua pelaku yang berboncengan sepeda motor. Salah satu pelaku, langsung menarik tas berisi laptop, dua HP serta dompet berisi identitas penting.
Mungkin saking kuatnya tarikan yang dilakukan pelaku ini, membuat korban terjatuh dari motor. Kepalanya membentur median jalan. Sedangkan pelaku saat itu berhasil kabur membawa tas milik korban.
“Sampai saat ini, kami masih mengembangkan kasusnya. Karena masih ada pelaku yang belum tertangkap. Termasuk korban penjambretan yang dilakukan oleh Zainul Arifin ini, diperkarakan masih ada lagi,” jelasnya.(agp/nug)
comments

Tabrak Pohon, Dua Tewas

Share
MALANG – Jangan ngebut di jalan raya. Peristiwa kecelakaan yang dialami dua pengendara motor, pada Jumat (27/3) lalu ini bisa menjadi pelajaran. Keduanya tewas setelah motor yang dikendarai menabrak pohon yang ada di pinggir jalan raya.
Peristiwa pertama terjadi di Jalan MT Haryono Malang, sekitar pukul 02.50. Kejadian ini dialami oleh Wahyu Cahya Adi Pradana, 24 tahun, seorang mahasiswa asal Cibeber, Kota Cilegon. Ia tewas setelah motor Yamaha Vixion A 2053 VH menabrak pohon serta taman di pinggir jalan.
Berawal ketika Wahyu mengendarai motor seorang diri, melaju dari arah utara ke selatan. Ia melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Ketika melintas di lokasi, tiba-tiba motor yang dikendarai oleng.
Karena tidak bisa menguasai kendaraan, motor itu menabrak pohon dan taman di pinggir jalan. Tubuh Wahyu pun terpelanting, dan kepalanya membentur median jalan. Saking parahnya luka di kepala, membuat korban meninggal dunia di lokasi.
Peristiwa kedua terjadi Jalan Perum Araya depan rumah Blok L1, sekitar pukul 16.00. Korbannya adalah Hari, 65 tahun, warga Desa Watugede, Singosari. Korban yang mengendarai motor Honda nopol L 2726 R, menabrak pohon palem yang ada di pinggir jalan.
Ceritanya saat itu Hari yang naik motor sendirian, melaju dari timur ke barat dengan kecepatan cukup tinggi. Ketika melintas di lokasi, motor oleng ke kiri dan langsung menabrak pohon palem. Akibatnya korban mengalami luka di kepala dan meninggal dunia saat dalam perawatan.
“Keduanya sama-sama mengalami kecelakaan tunggal. Untuk kendaraan mereka sudah kami amankan sebagai barang bukti,” ujar Kanitlaka Polres Malang Kota, Ipda Budi Djoenaidi S.(agp/nug)
comments

Helmi dan Salim adalah Teman

Share
Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang, sejak beberapa hari terakhir dikabarkan memiliki keterkaitan erat dengan Islamic State Iraq and Syiria (ISIS). Penggeledahan yang dilakukan Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, membuat warga sekitar resah dengan keberadaan mereka.
Malang Post (M) secara ekslusif menemui Jefri Rahmawan (J), penghuni sekaligus pengajar di yayasan ini. Didampingi dengan pengajar lain, Ummu Bariroh (U), kemarin (28/3/15) untuk melihat pandangan mereka soal ISIS dan hubungan yayasan ini dengan Helmi M Alamuddin, tersangka ISIS yang ditangkap Densus 88 pada Rabu (25/3/15) lalu.
Sekilas tentang Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang. Yayasan ini memiliki sekitar 25-30 anak didik. Sebagian menetap, sebagian lagi punya rumah. Ada enam pengajar, terdiri dari lima perempuan dan satu laki-laki, termasuk Jefri dan Ummu. Sebelumnya, yayasan ini disinyalir menjadi tempat penampungan anak-anak yang orang tuanya sudah pergi ke Suriah. Berikut wawancara Malang Post dengan Jefri dan Ummu :
M: Sejak kapan yayasan ini berdiri?
J: Sejak pertengahan tahun lalu. Saya ingat, yayasan ini didirikan pada hari ke-10 Ramadan tahun kemarin. Yayasan ini tempat belajar anak-anak untuk membaca dan menghapal Alquran.
M: Apa hubungan yayasan ini dengan Helmi?
J: Pak Helmi merupakan pimpinan di yayasan ini. Dia sering ke sini untuk memantau keadaan yayasan. Dua sampai tiga hari sekali ke sini. Anak-anak kenal baik dengan dia.
M: Kapan dan dimana Anda mulai kenal dengan Helmi?
J: Saya bertemu dia sekitar pertengahan tahun lalu di sebuah pengajian dan sejak saat itu sering bertemu. Pada akhir tahun lalu, saya diajak menjadi pengajar di yayasan ini. Karena kurang percaya diri, akhirnya saya ajak Ummu juga, untuk ikut mengajar. Ummu salah satu alumni pondok pesantren di Kota Malang.
U : Iya, saya diajak dan saya terima.
M: Anda mengajar di sini, apakah mendapat upah?
J : Dalam Islam, untuk mengajarkan Alquran tidak perlu minta dikasih upah. Kalau ada diterima, kalau tidak ada tidak apa-apa.
M : Helmi sendiri, apa rutin memberi upah kepada Anda? Kalau boleh tahu, berapa nominalnya ?
J : Alhamdulillah, Pak Helmi memberikannya secara rutin. Untuk nominal relatif. Saya pikir tidak perlu disebutkan.
M: Oke. Apa yayasan ini memiliki sebuah jaringan atau link dengan lembaga lain?
J: Saya tidak banyak tahu. Tapi, yang saya tahu yayasan ini di bawah Lembaga Sosial Pendidikan Abu Bakar As-Sidiq. Lembaga ini milik Pak Helmi. Di sini, adalah unit pendidikan. Ada unit-unit lainnya.
M: Unitnya di Sekitar Malang saja? Apa saja?
J : Saya tidak tahu banyak. Saya hanya tahu di sini saja.
M: Kabarnya, yayasan ini menjadi penampungan orang-orang yang akan dikirim ke Suriah dan siswa di sini adalah anak-anak dari orang tua yang pergi ke Suriah. Apa benar?
J: Tidak benar. Di sini kami hanya mengajarkan anak-anak membaca dan menghapal Alquran. Anak-anak di sini adalah mereka yang memang ingin belajar ke sini. Ada yang tinggal di asrama, ada yang sekolah di luar tapi setiap sore ke sini.
M: Lalu, apa hubungan yayasan ini dengan Salim Attamimmi (panglima ISIS, red) alias Abu Jandal?
J: Tidak ada hubungannya. Ustadz Salim dulu juga membuka yayasan di sini sebelum kami. Ini rumah kontrakan. Setelah kontrakan beliau habis, Pak Helmi yang menempati yayasan ini. Kami diajak untuk mengajar.
M: Lalu hubungan Helmi dengan Salim?
J: Setahu saya mereka memang teman. Tapi kami tidak pernah tahu apa yang mereka bicarakan.
U: Saat kami kenal Pak Helmi, Ustadz Salim sudah tidak di sini.
M: Sebelumnya apa ada kejadian aneh sebelum penangkapan Helmi?
U: Kami malah kaget. Tahu-tahu diberi tahu keluarga, Pak Helmi ditangkap. Sebelumnya tidak ada yang mencurigakan. Memang ada sedikit keanehan, saat itu beliau keluar tidak pamit. Padahal biasanya pamit.
J: Waktu itu juga ada Pak Mul (pemilik rumah, red). Mereka berdua habis berbincang-bincang.
M: Pak Mul itu siapa? Apa dia warga Malang?
J : Dia pemilik rumah ini. Kami menyewa ke dia. Dia warga Malang, tapi saya lupa rumahnya di mana.
M: Tapi apa Anda pernah bertemu dengan ustadz Salim
J: Saya pernah ikut pengajiannya di Masjid Al-Ghifari (Soekarno Hatta). Saat itu, Ustadz Salim menjadi pembicara bersama ulama lain dari luar negeri.
M: Apa dia sering menjadi pembicara di sana?
J: Ustadz Salim jadi penceramah kalau ada tabligh akbar saja. Saya lupa kapan. Saya hanya sekali bertemu dengan beliau.
M: Apa yang dia sampaikan dalam ceramah?
J: Dia saat itu ceramah paling terakhir. Jadi dia mengatakan, apa yang ingin disampaikan sudah dijelaskan oleh penceramah sebelumnya. Intinya, semua ajaran itu harus kembali ke Alquran.
U: Dia berpesan kepada penceramah lain dalam menyampaikan jangan menyembunyikan  kebenaran. Sampaikan Alquran, melihat keadaan sebelum bertindak. Agar amanah menyampaikan risalah dengan tidak menyembunyikan kebenaran.
M: Oh iya, kabarnya Pak Helmi pernah pergi ke Suriah. Apa Anda pernah mendengar hal ini?
U: Kami tidak tahu kabar itu. Sejak yayasan ini berdiri pada pertengahan tahun lalu. Pak Helmi selalu ada di yayasan ini.
J : Jangan selalu kait-kaitkan dengan ISIS. Sekalipun misalnya beliau ke sana, bisa saja untuk memberi bantuan kepada anak-anak. Pak Helmi baik dengan anak-anak. Jangan tiba-tiba dikaitkan dengan ISIS.
M: Mungkin ini pertanyaan yang agak sensitif. Pandangan Anda mengenai ISIS sendiri seperti apa?
J : Pandangan saya terhadap ISIS. Saya kembali ke surat Al-Hujurat ayat 6 (Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu, red). Kita juga harus teliti, kami belum pernah ke sana. Bisa jadi iya, bisa jadi enggak. Saya belum melihat sendiri.
U: Saya ingin menambahkan. Pandangan saya terhadap ISIS, kembali ke  Al Baqarah ayat 256 (Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, red). Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam.
M: Warga di sini menilai yayasan ini cukup tertutup. Kenapa ?
J : Saya pikir itu karena full kegiatan. Kalau Jumat waktu mepet. Ya, di sini kita full kegiatan.
U :Tapi kita satu minggu sekali keluar kampung sambil mengaji Alquran. Di sini juga rumah-rumah besar dan jarang keluar.
M: Jika seandainya Anda diberi kesempatan untuk ke Suriah, apa Anda mau ?
J : (Sambil tertawa). Kesempatan apa, saya rasa tidak mungkin ada kesempatan.
M: Oh, oke kalau begitu. Terima kasih.
J dan U : Iya, sama-sama. 
comments

LP Lowokwaru Miliki Sembilan Narapidana Terorisme

Share
MALANG – Kejaksaan memindahkan teroris internasional ke Malang dengan pesawat komersil Sriwijaya Air, kemarin. Hebatnya, tak ada satu pun penumpang tahu bahwa mereka satu pesawat dengan teroris. Salah satu penumpang yang dibikin shock adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara.
Made sapaan akrabnya sama sekali tidak menyangka jika kemarin dia berada satu pesawat dengan Khairul Ikhwan alias Heru alias Koko alias Agus Wae. Teroris yang terlibat dalam rencana peledakan Kedutaan Besar (Kedubes) Myanmar, gereja di Solo dan Markas Polres Cirebon.
Made yang kemarin baru saja datang usai melakukan tugas dinas di Jakarta. Dia ini baru tahu jika satu pesawat dengan teroris, setelah pesawat Sriwijaya Air yang ditumpanginya landing di Bandara Abdul Rahman Saleh.
“Saya kaget juga saat di terminal bandara Abd saleh (pintu keluar) banyak polisi dan wartawan. Setelah saya tanya sama teman wartawan ternyata ada tersangka teroris yang datang,’’ katanya.
Menurut Made, selama perjalanan dalam pesawat sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Bahkan, orang-orang di dalam pesawat  juga tampak normal. “Tidak ada orang yang diborgol seperti tersangka, tidak ada yang berpakaian polisi. Semuanya tampak seperti penumpang biasa saja,’’ tambahnya, yang mengatakan penerbangannya dari Jakarta-Malang sangat normal, dan tidak delay. “ Take off dari Bandara Sukarno Hatta pukul 06.15 landing tadi pukul 08.00 WIB,’’ tandasnya.
Narapidana terorisme tersebut kemudian dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IA Lowokwaru, Kota Malang. Petugas langsung membawanya ke LP Lowokwaru dengan mobil tahanan milik Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang.
Khairul tiba di LP Lowokwaru sekitar pukul 08.30 WIB dan turun dari mobil tahanan tanpa pengawalan dari Datasemen Khusus (Densus) 88. Hanya ada beberapa orang dari kepolisian dan kejaksaan yang turut mendampinginya. Khairul, datang menggunakan baju koko warna putih berpeci hijau.
Khairul, merupakan pindahan dari Rutan Mabes Brimob Kelapa Dua, Depok, Dia divonis lima tahun penjara lantaran terbukti melanggar Pasal 15juncto Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003. "Dia sudah menjalani hukuman sekitar satu tahun," kata Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Malang Mohamad Iryan Muhidin Saleh kemarin.
Iryan membenarkan bahwa Khairul terlibat dalam rencana pengeboman Kedubes Myanmar.  Dia ditangkap pada akhir 2013 lalu bersama sejumlah anggota kelompoknya di Bekasi. "Dia dipisahkan dengan kelompoknya. Berbahaya jika tetap bersama," katanya.
Sementara Kepala LP (Kalapas) Lowokwaru, Tholib yang dihubungi terpisah menyebut, pengawasan terhadap narapidana terorisme di LP Lowokwaru tidak akan berbeda dengan narapidana lain. Namun, lanjut Tholib, Khairul harus menjalani penilaian dini untuk mengetahui kepribadian, latar belakang, kelakukan, dan kasusnya.
Treatment tersebut, akan dilakukan paling lama 15 hari. Setelah profil diketahui, baru narapidana tersebut ditempatkan di ruang tahanan. "Kita akan melakukan pendekatan keagamaan sebagai pembinaan," jelas Tholib.
Dengan masuknya Khairul, teroris di LP Lowokwaru ini bertambah menjadi sembilan orang. Sebelum Khairul, teroris jaringan Abu Roban, William Maksum yang dipindahkan pada 12 Januari 2015. William kini bersama dengan empat anggota kelompoknya, yaitu Budi Utomo, Wagiono, Agung Fauzi  dan Sutrisno. Mereka dikirim ke Lowokwaru pada 7 Juli 2014.
Sedangkan tiga lainnya, adalah Agung, yang terlibat kasus terorisme di Makassar, serta Fadli Sadama dan Tamrin yang terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan.(erz/ira/ary)
comments
Last Updated on Saturday, 28 March 2015 17:25

Page 1 of 57

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »