Kriminal

Malang Post

Kriminal

Kabar Peristiwa dan Kriminal terkini di Malang Raya

Sindikat Uang Palsu Digulung


Sudar Diedarkan Dipasok dari Jakarta

MALANG  – Awas, menjelang puasa dan lebaran sudah banyak beredar uang palsu (Upal) pecahan Rp100 ribu, yang dimotori oleh sindikat Jakarta serta Banyuwangi. Lima jaringan dibawahnya pun, telah digulung oleh Satreskrim Polres Malang.

Kelima tersangka yang sudah meringkuk di Rutan itu, Achmad Witono, 44 tahun warga Jalan Sultan Agung, Dusun Sempol, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari. Sugianto alias Pak To, 42 tahun, warga Jalan Kalisari, Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang.
Kemudian, Imam Slamet, 47 tahun warga Jalan Ki Ageng Gribik, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Achmad Subandiri alias Nande, 44 tahun, warga Perum Tirtasani Park Royal I, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso. Serta Ferry Suroso, 49 tahun warga Jalan LA Sucipto XIIX, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing.
Sedangkan otak sindikat ini buron.“Mereka semua kami tangkap tidak secara bersamaan, berdasarkan penyelidikan dan pengembangan,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro.
Sebelum ditangkap, ada indikasi sindikat ini sudah mengerdarkan Upal tersebut di wilayah Kota/Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Menurut Kasatreskrim Polres Malang, pengungkapan jaringan upal ini, berawal dari tertangkapnya Achmad Witono di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan. Pagi hari sebelum diringkus, Witono menerima titipan upal dari Imam Slamet sebanyak 20 lembar, dan Sugianto alias Pak To sebanyak 8 lembar.
Witono diminta mengedarkan upal tersebut, dengan modus membelanjakan ke toko. Setelah menerima upal, Witono berangkat ke Pasar Tajinan. Ia membelanjakan tiga lembar untuk membeli sebungkus rokok. “Ada tiga toko yang didatangi Achmad Witono,” ungkapnya.
Setelah berbelanja, Witono berniat pergi ke daerah lain untuk belanja juga. Namun dalam perjalanan, dia dihadang oleh warga serta perangkat desa. Warga yang menjadi korban, menangkap Witono lalu menyerahkan ke Polsek Tajinan, karena telah mengedarkan upal.
Begitu digeledah ditemukan 24 lembar upal pecahan Rp 100 ribu, uang asli sebesar Rp 258 ribu, tiga bungkus rokok serta sepeda motor Yamaha Mio yang menjadi sarana. Ketika diperiksa, Witono mengaku mendapat upal dari Imam Slamet dan Pak To.
Lantas,  polisi pun langsung memancing keduanya dan berhasil menangkap di rumah Pak To. Barang bukti yang diamankan tujuh lembar upal.
“Dari tertangkapnya Imam Slamet dan Pak To, kami beralih memburu jaringan lainnya. Malam itu juga, kami berhasil menangkap Achmad Subandri alias Nande di depan Alfamart Jalan Muharto Malang. Barang buktinya tiga lembar upal,” jelas mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini.
Kemudian, dalam pemeriksaan Nande ‘bernyanyi’ bahwa upal yang diberikan pada Imam dan Pak To, dari tersangka Ferry Suroso. Akhirnya polisi mengembangkan menangkap Ferry di rumahnya dengan bukti bukti 229 lembar upal. Ferry mengaku mendapatkan dari WY, asal Jakarta.
“Mereka berlima ini kami jerat dengan pasal 36 ayat 2 dan 3, jo pasal 26 ayat 2 dan 3 Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang,” pungkasnya.(agp/lyo)

Jenguk Anak Opname, Diciduk Polisi


MALANG - Sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Halnya, M Lutfi Nurul Adim, (25 tahun), warga Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, diringkus petugas Polsek Tumpang, setelah ngumpet lima bulan lantaran terlibat pencurian sepeda motor. Kapolsek Tumpang AKP Hari Subagiyo, membenarkan penanagkapan buronan itu.“Tersangka cukup lama bersembunyi, dan dia kami tangkap di RSSA Malang ketika menjenguk anaknya yang sedang sakit,’’ujar Kapolsek.

Dalam perkara ini, Adim kesandung curanmor Suzuki Satria FU nopol AG 5028 IA, yang dia curi bersama temannya.“Adim berperan sebagai eksekutor sekaligus mencari sasaran kendaraan yang akan dicuri,’’papar Kapolsek.   
Pencurian di wilayah Tumpang, itu dimungkinkan bukan yang kali pertama dilakukan tersangka kendati dia baru pertama kali ini berurusan dengan polisi. “ Tersangka mencuri motor satu kali di Tumpang, disusul di Kabupaten/Kota  Malang. Tak hanya itu, dia juga pernah melakukan kejahatan jambret sebanyak 4 kali,”urai Hari Subagyo. (mg12/lyo)

Vonis Kasus Narkoba Jangan Ringan


MALANG - Sejak 2015 lalu, kasus pidana umum yang ditangani Kejaksaan Negeri Malang  hingga awal tahun ini masih didominasi kasus narkotika. Data di Polres Malang Kota pun, rata-rata setiap harinya ada dua penangkapan tersangka jenis ini.
Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Kota Malang, Moh. Iryan MS, juga menyebut kasus Narkotika masih menempati jumlah terbanyak dalam berkas pidana umum, yang ditangani kejaksaan setempat.

“Narkotika memang menjadi salah satu kekhawatiran, kasusnya selalu ada setiap tahunnya dan paling mendominasi. Maka dari itu seluruh aparatur keamanan serta penegak  hukum, perlu mendukung menumpas masalah ini,” ungkap Iryan.
Menurut dia, yang saat ini perlu dikhawatirkan lebih adalah kasus narkotika yang terbilang ringan. Seperti kepemilikan atau penggunaan pil double LL (koplo). Dimana, karakteristik pil yang murah ini dapat dijangkau siapa saja.
Mantan Satgas Intelejen Kejati Jatim, ini berpendapat perlunya vonis berat bagi terdakwa Narkotik baik yang kedapatan barang bukti sedikit, maupun berjumlah banyak.
“ Dari hasil pemeriksaan di persidangan, masih banyak terdakwa Narkoba yang divonis ringan. Seharusnya lebih dipertimbangkan lagi, untuk menjatuhkan hukuman yang lebih berat. Paling tidak sesuai harapan tuntutan, apalagi bagi pengedar Pol Koplo  yang efeknya sangat berbahaya bagi anak-anak ataupun pelajar,’’tandas Iryan.
Ia berharap pengadilan mendukung pemberantasan narkoba lebih giat, dengan selalu konsisten dalam menjatuhi hukuman penjara pada terdakwa pemilik dan penjual pil koplo.
“Bahkan menurut keterangan kepolisian, pil double L ini ada yang sudah dikonsumsi anak SD. Ini kan sangat bahaya, karena itu  penegakkan hukum harusnya lebih ketat agar menimbulkan efek jera yang efektif,” pungkasnya. (ica/lyo)

Ikrar Tolak Narkoba dari Kawi


MALANG – Berbagai upaya dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang, untuk menekan peredaran narkotika. Setelah sebelumnya menggandeng komunitas supporter Aremania, kali ini beralih mengajak pecinta sepeda gunung (Gowes) untuk sama-sama menyatakan ‘Stop Narkoba’.
Pagi kemarin, berlokasi di Wisata Gunung Kawi, Desa/Kecamatan Wonosari, Kepala BNN Kabupaten Malang AKBP I Made Arjana, bersama timnya bergabung dalam event sepeda gunung bertajuk Zodiac MTB Kawi Mountain Riding’. Kehadiran tim BNN ini, untuk sosialisasi tentang bahayanya narkotika.


“Kami mengajak semua peserta, untuk bersama-sama menggelorakan semangat hidup sehat tanpa narkoba. Mari bersama-sama menyatakan stop narkoba,” ungkap I Made Arjana.
Made memberikan informasi kepada peserta gowes, terkait perkembangan peredaran narkotika saat ini. Karenanya diperlukan peran serta dari seluruh elemen masyarakat, salah satunya adalah komunitas pecinta gowes. Sebab, Indonesia saat ini dalam situasi darurat narkoba.
Ia juga menjelaskan tentang jenis-jenis narkotika dan bahayanya. Made berharap peserta untuk bersama-sama memberantas narkotika, sekaligus ikut menyampaikan informasi bahaya narkoba kepada masyarakat luas.
Event gowes yang diadakan tiga bulan sekali itu, pesertanya tidak hanya dari Kabupaten Malang saja. Melainkan diikuti sekitar 300 peserta se-Jawa Timur. Hanya saja setiap kegiatan, lokasinya  selalu berpindah-pindah.(agp/lyo)

Bisnis Menggurita, Kiprahnya Tuai Pro Kontra


MALANG – Bos Rokok Gudang Baru Ali Khosin mengakui bahwa bisnis keluarganya tak hanya di bidang rokok. Sudah jadi rahasia umum, keluarga besar Ali Khosin sebagai pemilik RS Wava Husada Kepanjen, RS Persada Malang, SPBU di Kepanjen dan sejumlah rumah makan. Penahanannya masih menjadi perbincangan menarik, dari penelusuran kepada Malang Post, kemarin, ada pro dan kontra atas kiprah Ali.
Rokok tetap menjadi kerajaan bisnis utama Ali Khosin, yang dijaga agar tak runtuh. Maklum saja, distribusi rokoknya, hampir ke seluruh wilayah di Indonesia. Dari jumlah karyawan yang dulu sedikit, saat ini sudah sekitar 3.000 karyawan.

“Motivasi saya dulu mendirikan dan membesarkan perusahaan rokok ini, karena ingin memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat. Karenanya, jangan sampai perusahaan ini tutup, karena menyangkut nasib ribuan buruh,” terang Ali Khosin, kepada Malang Post beberapa waktu lalu saat ngobrol santai.
Dari usaha rokok Gudang Baru yang dikelolanya puluhan tahun, Ali Khosin lalu mengembangkan bisnis ke sektor lainnya. Ia memiliki beberapa hektare sawah untuk tanaman padi. Termasuk juga beberapa bisnis lainnya, yang memang untuk lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Diantaranya seperti RS Wava Husada Kepanjen, RS Persada Malang, SPBU di Kepanjen serta beberapa rumah makan. Hanya saja, dulu ketika ditanya soal bisnisnya tersebut, Ali Khosin selalu merendah. Ia menutup-nutupi, dengan mengatakan kalau bisnis tersebut bukan miliknya.
Seperti RS Wava Husada Kepanjen dan RS Persada Malang, yang dikatakannya milik adiknya. “Bisnis saya hanya di rokok saja. Kalau itu (Rumah Sakit, Red), milik adik saya,” katanya merendah waktu itu.
Ditahannya Ali Khosin, Bos PR Jaya Makmur produsen Gudang Baru, menjadi bahan perbincangan warga sekitar. Ada yang merasa empati, ada juga yang menanggapinya biasa saja. Mereka seperti ‘cuek’, dengan kasus persamaan merek yang dipersoalkan oleh PR Gudang Garam.
“Namanya ditahan, ya jelas salah. Kalau tidak salah, tidak mungkin ditahan,” kata seorang warga di sekitar lingkungan pabrik dan tempat tinggal Ali Khosin, kepada Malang Post.
Pria separoh baya ini, mengaku adalah teman karib Ali Khosin, ketika mereka masih muda dulu. Ia dengan Ali Khosin, selalu bersama-sama. Kadang ia yang mencari Khosin, terkadang pula Ali Khosin yang datang mencarinya.
“Kami dulu selalu bersama. Mengaji pun bersama-sama. Saya dengan Ali beda usia setahun, lebih tua saya. Saya kelahiran 1959, kalau Ali Khosin 1960,” tuturnya.
Warga sekitar sudah mengetahui kabar ditahannya Bos Gudang Baru di LP Lowokwaru, Malang sejak 11 April lalu. Namun, reaksi warga selama ini hanya biasa saja. Mereka tidak begitu memperdulikan kabar berita itu.
Sikap warga ini, karena sikap Ali Khosin yang selama ini memang tidak begitu dekat dengan masyarakat. Ali Khosin jarang sekali bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Jangankan untuk jagongan atau sekadar ngobrol, ada undangan hajatan (tahlilan, red) pun juga tidak datang.
“Sosialisasinya dengan masyarakat selama ini kurang. Diundang tahlilan (hajatan, Red) saja tidak datang, padahal yang mengundang tetangga dempet rumahnya. Namun bagi saya itu biasa saja. Tidak seperti dulu ketika masih muda,” ujar pria beruban yang dibenarkan warga lainnya.
Ketika ada kegiatan besar di kampung, warga tidak terlalu berharap mendapat sumbangan banyak dari Ali Khosin. Meskipun Gudang Baru merupakan perusahaan rokok paling besar di Kecamatan Kepanjen, namun banyak bantuan yang diberikan.
“Ketika lebaran, mungkin warga hanya diberi kue kemasan saja. Itupun warga yang di pinggir jalan saja. Dan kalau sedang panen, warga juga dibeli beras,” ucapnya.
Namun ada juga warga yang merasa empati dengan Ali Khosin. Mereka sangat menyayangkan penahanannya. Karena, Ali Khosin tidak seharusnya ditahan kalau tidak melakukan blunder, dengan pengajuan PK (Peninjauan Kembali).
“Kenapa harus ada PK, padahal kasasi kan sudah dimenangkan oleh Mahkamah Agung. Kalau sudah begini, namanya blunder,” kata salah satu perwira polisi di Polres Malang, yang kenal dekat dengan Ali Khosin.
Ia mengatakan, bahwa Ali Khosin adalah orang yang baik. Bahkan, Ali merupakan pribadi yang ringan tangan. Ketika ada event atau kegiatan, Gudang Baru selalu menjadi sponsor dalam kegiatan tersebut. “Sangat disayangkan sekali, kasihan ia harus ditahan,” katanya.
Di kalangan buruh serta karyawan, juga merasa empati dengan penahanan Ali Khosin. Para buruh dan karyawan menilai, bahwa Ali Khosin adalah sosok pemimpin yang baik. Ia sangat peduli dengan karyawannya.
“Dia (Ali Khosin, Red) adalah pemimpin yang baik. Ia sangat memahami kami (buruh dan karyawan, red),” ungkap mereka.
PR Jaya Makmur produsen Gudang Baru ini, merupakan perusahaan rokok yang turun temurun. Pabrik rokok tersebut dikelola oleh ayahnya (alm Saman Hoedi). Hanya saja, pabrik rokok hanya sebagai sampingan saja, karena yang saat itu dibesarkan adalah produsen (pengepul) tembakau.
“Dulu merek rokoknya adalah Insan,” kata sumber Malang Post. Ali Khosin mulai belajar meracik rokok ketika masih kelas XI SMA. Setelah lulus, Ali Khosin lantas melanjutkan usaha ayahnya.
Tahun 1967 adalah awal perusahaan rokok ini berdiri. Tujuan awalnyauntuk membantu masyarakat sekitar dalam hal pemenuhan sandang pangan serta lapangan pekerjaan. Rokok merek Insan, saat itu mempekerjakan sekitar 125 orang yang berasal dari masyarakat sekitar.
Karena kebutuhan pasar yang meningkat, pada 1980 alm Saman Hoedi, mulai mempersiapan generasi penerus kepada Ali Khosin, yang merupakan anak sulung. Sepuluh tahun kemudian (tahun 1992), perusahaan rokok ini mengalami perkembangan yang pesat sehingga didirikan dua anak perusahaan.
Yaitu, PR Jaya Makmur dengan direktur utamanya H.Ali Kosin, SE dan PR Putra Jaya dengan direktur utamanya adalah H.Ali Usman, SE (adik Ali Khosin, Red). Manajemen dikelola secara profesional pula, di bawah manajemen Gudang Baru. Dari yang sebelumnya pembuatan rokok manual dengan tangan atau SKT (Sigaret Kretek Tangan), pada 1995 produksi rokok menjadi SKM (Sigaret Kretek Mesin). (agp/ary)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL