Malang Post

Kriminal


Tawarkan Proyek Rp 1,2 Miliar, TNI Gadungan Diamankan

Share
MALANG – Anggota reskrim Polres Malang Kota mengamankan seorang anggota TNI gadungan, Senin (29/6) lalu. Yakni H W F Sahanaya, 59 tahun, warga Jalan Tidar. Pria ini diamankan petugas karena tuduhan melakukan penipuan terhadap Anwar S, 50 tahun, warga Kalimantan. Dari tangan tersangka petugas mengamankan barang bukti dua pasang seragam TNI AD dengan pangkat Letkol, satu kaos doreng dengan tulisan POMAD dibagian depannya, serta fotokopi surat lelang pengadaan barang jenis bantalan rel KA Mabes TNI AD.
“Tersangka ini lebih dulu diamankan oleh anggota Denpom 3/V Brawijaya, kemudian kasusnya dilimpahkan ke sini,’’ kata Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata.
Menariknya, saat diselidiki, Polres menemukan berkas kasus dengan nama Sahanaya sebagai terlapornya. “Kasusnya sama, yaitu penipuan. Sehingga malam itu juga langsung diproses,’’ kata perwira dengan dua melati di pundak ini.
Terkait penipuan yang dilakukan, Kapolres pun menguraikan awalnya dimulai dari perkenalan korban dengan tersangka di Pasuruan. Saat itu tersangka menggunakan pakaian seragam TNI dengan pangkat Letkol. Kepada korban, Sahanaya mengaku sebagai anggota Mabes TNI AD. Disela perkenalan itulah, Sahanaya menawarkan proyek bantalan rel kereta api kepada Anwar. “Proyek tersebut nilainya Rp 1.2 M,” ujarnya.
Selang 15 hari, Anwar mulai tertarik. Tanpa ragu dia menghubungi Sahanaya, dan mengutarakan keseriusannya mengikuti proses lelang.
“Saat itu tersangka mulai pasang perangkap. Kepada korban dia mengatakan keuntungan proyek ini sangat besar, bahkan bisa dua kali lipat dari modal yang dikeluarkan,’’ tambah Kapolres.
Hingga akhirnya, keduanya pun memutuskan untuk bertemu. Anwar datang langsung ke rumah Sahanaya di Jalan Tidar. Dia pun menyerahkan uang Rp 600 juta sebagai tanda jadi lelang proyek tersebut.
Namun begitu, waktu terus berlalu. Lelang proyek tidak pernah ada. Anwar yang sudah menyetorkan uang pun menanyakan kepada Sahanaya.
“Korban curiga, karena tersangka kerap mengelak dan menghindar,’’ kata Singgamata.
Hingga akhirnya, Anwar pun melapor ke Denpom 3/V Brawijaya, dan Senin malam lalu ditangkap. “Kami sengaja merilis, karena yakin ada korban lain, selain dua korban yang sudah melapor,’’ katanya.
Sementara itu kendati tidak memiliki postur layaknya anggota TNI AD, namun Sahanaya cukup meyakinkan. Itu karena dia tidak pernah lepas dari pakaian seragam TNI AD. Kemanapun dia pergi selalu menggunakan seragam baik yang doreng maupun yang polos, lengkap dengan sepatu booth. Bahkan, saking meyakinkannya, istrinya pun mengetahui jika Sahanaya adalah anggota TNI AD.
“Istrinya tadi kami panggil, dia mengaku baru tahu jika suaminya adalah warga sipil. Selama lima tahun menikah, dia tahunya tersangka adalah anggota TNI,’’ tambah Kapolres yang mengatakan, atas kasus ini pihaknya mengenakan tersangka dengan pasat 378 jo 372 KUHP, dengan ancaman minimal 5 tahun penjara.(ira/oci)
comments

Sukses Turunkan Angka Kriminalitas

Share
Malang – Angka kriminalitas yang kian menurun sejak enam bulan terakhir menjadi kado istimewa untuk  Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-69 dari Polsek Kedungkandang. Dilihat dari perbandingan tahun 2014 dan 2015, data yang ada menunjukkan penurunan hampir 50 persen  tindak kriminalitas khususnya curanmor di Kecamatan Kedungkandang.  
    Kapolsek Kedungkandang, Kompol I Putu Mataram, memaparkan beberapa upaya untuk menekan angka kriminalitas di wilayahnya. Adanya kerjasama yang signifikan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dari tiga pilar, yaitu BHABINKAMTIBMAS (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), BABINSA (Bintara Pembina desa), dan Lurah.
    “Di sini terdapat 12 kelurahan yang terdiri atas 50 persen kota dan 50 persen pegunungan. Secara global cukup aman, setiap desa atau kelurahan ada tiga pilar yaitu  Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Lurah. Diupayakan  kerja sama ini menimbulkan pembinaan kepada masyarakat untuk mencegah gangguan kamtibmas,” ungkap pria kelahiran Denpasar ini.
    Prioritas Polsek Kedungkandang dalam rangka menjaga kamtibmas khususnya pada kasus pecah kaca mobil, pencurian sepeda motor dan jambret. Hal tersebut dilakukan karena menindak lanjuti program Kapolres Kota Malang, AKBP Singgamata, untuk menekan gangguan kamtibmas dan memberikan pelayanan prima untuk masyarakat.
    Polsek yang memiliki 84 anggota ini telah melakukan mapping wilayah yang cukup rawan di Kecamatan Kedungkandang. Wilayah tersebut antara lain perumahan Sawojajar, perumahan Dirgantara, kelurahan Bumiayu, dan kelurahan Cemorokandang.
“Disamping adanya kegiatan yang bersifat pembinaan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas, ada upaya bersifat pencegahan yang dilakukan oleh unit Sabhara. Kegiatan patroli ini dilakukan pada siang dan malam hari untuk mencegah adanya balapan liar dan tindak criminal,” ujarnya.
    Keberhasilan awal tahun Polsek Kedungkandang menggagalkan aksi pencurian mobil dengan adanya kegiatan patroli sekitar jam 03.00 WIB. Satu orang berhasil diamankan oleh anggota. Kasus sabung ayam di Buring atas keluhan masyarakat juga dilakukan penangkapan terhadap pengelola judi. Selain itu, Polsek Kedungkandang juga mengamankan 4 pelaku jambret atas kerjasama masyarakat dan anggota kepolisian.
    “Semua kasus yang kami tangani sudah dilimpahkan ke kejaksaan semua, yang menjadi fokus saat ini, kami melakukukan operasi premanisme dan operasi petasan. Tadi sudah melakukan operasi dan menemukan 2 orang yang dicurigai sebagai preman. Tapi itu sudah dilimpahkan kepada Polres,” ungkap pria yang pernah bertugas di Timor Timor ini.
Untuk  mengantisipasi kejahatan, Polsek Kedungkandang rutin melaksanakan pertemuan dengan Danramil, Camat, tokoh masyarakat, Bhabinkamtibnas, Babinsa dan para Lurah. Pertemuan yang rutin dilakukan setiap bulan dan membahas permasalahan-permasalahan yang ada pada setiap kelurahan.
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-69 ini, Polsek Kedungkandang melakukan kerja bakti di lingkungan intern dan mengadakan syukuran dengan masyarakat sekitar Polsek dengan buka puasa bersama pada tanggal 2 Juli 2015.
    “Untuk kedepannya semoga kepolisian bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga masyarakat merasakan keberadaan polisi serta masyarakat ikut berperan meningkatkan keamanan. Sehingga ada kerjasama yang baik antara semua unsur untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar pria yang gemar olahraga badminton ini. (mp5/sir/oci)
comments

Raga Boleh Terkungkung, Jiwa Harus Bebas

Share
Didalam terali besi, para tahanan berlomba-lomba mendapatkan kebajikan.

Aktivitas Tahanan Berlomba Dapatkan Kebajikan
BATU - “Mawlaya Salli Wassalim da-Iman Abadan Ala Habi Bika Khairil Khalqi Kulli hi mi.” Salawat burdah ini dilantunkan dengan sangat keras oleh kurang lebih 60 tahanan yang mendekam di Rumah Tahanan Polres Batu, kemarin.
Begitu kerasnya sampai mampu menembus seluruh ruangan di Mapolres Batu. Suara ini selalu terdengar usai mereka sholat berjamaah. Diantara lorong sel yang sempit, para tahanan ini membuat shof yang rapat.
Jangan pernah berpikir mereka sholat dengan menggunakan sarung, karena mereka sholat hanya berbekal pakaian dengan celana pendek, karena celana panjang tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruangan tahanan.
Meski demikian tidak menyurutkan kekhusyukan mereka beribadah. Ada salah seorang tahanan yang biasa dipanggil dengan sebutan Abah. Tahanan kasus narkoba yang memiliki nama asli Yakub inilah yang selalu menjadi imam sholat.
Bukan hanya sholat Dhuhur, sholat Ashar, Sholat Maghrib bahkan Sholat Subuh pun para tahanan ini sholat bersama-sama.
“Mirip seperti sebuah pondok pesantren, banyak teman-teman yang di luar tidak sholat, di dalam penjara kita sholat, dengan cara ini bisa memberikan kedamaian di hati kita,” ujar Subandi, salah seorang tahanan judi.
Dalam kungkungan sel, hanya doa, wirid dan sholat yang bisa memberikan kedamaian. Dibalik terali besi, raga mereka terkungkung, hanya lewat doa dan sholat saja yang membuat jiwa mereka merasa bebas.
Antri mandi, hingga antri berjemur dibawah sinar matahari menjadi salah satu rutinitas yang selalu mereka laksanakan setiap hari. “Doa dan sholat tidak hanya menimbulkan kedamaian, tapi menjadi pengobat rindu kami kepada keluarga,” terangnya.
Bagi seorang tahanan, berada di penjara di bulan Ramadan dan Idul Fitri adalah sebuah cobaan yang besar, karena mereka harus jauh dari keluarga. Lewat ibadah yang khusyuk ini, ada sebuah harapan, sekeluar dari penjara mereka tidak perlu lagi balik ke dalam penjara.  
Iptu Budiyono, Kasat Tahti (Tahanan dan Barang Bukti) Polres Batu menjelaskan bahwa secara rutin pihaknya melakukan bimbingan mental rutin kepada para tahanan. “Satu bulan dua kali kita mendatangkan ustadz untuk memberikan tausiyah,” ujar Budiyono.
Dengan cara ini mental para tahanan lebih siap, hingga mereka menjalani cobaan tersebut dengan lapang dada. “Ada masa depan yang sudah menunggu mereka sekeluar dari penjara,” ujar Budiyono yang setiap hari selalu memberikan wejangan kepada para tahanan ini. (muh/feb)
comments

Keterangan Ahli Ringankan Lukito

Share
Dr M Sholehuddin SH, MH, ketika memberikan keterangan dalam persidangan dengan terdakwa Lukito Eko Purwandono.

MALANG – Sidang kasus perzinahan yang melibatkan anggota DPRD Kabupaten Malang Lukito Eko Purwandono, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Senin kemarin. Dalam sidang lanjutan itu, kuasa hukum terdakwa, menghadirkan Dosen Bidang Hukum Pidana dan Kriminologi Universitas Bhayangkara Surabaya, Dr M Sholehuddin SH, MH sebagai saksi adecat atau meringankan.
Kehadiran Dr M Sholehuddin SH, MH dalam persidangan, seakan memberikan angin segar bagi Lukito. Keterangannya dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sri Haryani SH, dia memberi harapan bagi Lukito untuk terbebas dari jeratan hukum pidana.
“Saya hadir di persidangan, untuk memberikan keterangan ahli pidana. Kalau saksi itu adalah yang melihat, mendengar dan mengalami sendiri. Sedangkan saya hanya memberikan keterangan ahli saja,” ungkap Dr M Sholehuddin SH, MH, seusai memberikan keterangan di persidangan.
Dalam persidangan tertutup itu, Sholehuddin menjelaskan yang dimaksud dengan tindak pidana perzinahan, adalah peraduan antara  dua kelamin laki-laki dengan perempuan, yang biasanya untuk mendapat anak. Sesuai hukum pidana, yang dinamakan perzinahan, harus terjadi persetubuhan badan. “Kalau hanya sekedar menggesekkan saja, itu bukan perzinahan,” katanya.
Kalau memang dikatakan perzinahan, lanjutnya harus dibuktikan dan sesuai dengan KUHAP. Tidak bisa hanya cukup dengan asumsi atau dugaan-dugaan saja, karena dari aspek hukum sama sekali tidak dibenarkan.
“Kalau orang laki-laki dan perempian masuk hotel, masih belum bisa dikatakan perzinahan. Karena mereka belum tentu melakukan persetubuhan. Sebab kalau laki-lakinya impoten, apa bisa melakukan perizanahan. Makanya namanya hukum harus jelas dan ketat, sekaligus harus bisa membuktikan kebenarannya,” terang Sholehuddin.
“Kecuali ada alat bukti SMS atau surat, yang menguatkan bahwa seseorang melakukan persetubuhan, baru bisa dikatakan melakukan perzinahan,” sambungnya.
Ia mengatakan, kedatangannya di persidangan untuk memberikan keterangan ahli, bukan karena dirinya kenal dengan Lukito. Sholehuddin, mengaku sama sekali tidak mengenal Lukito. Ia hanya dimintai tolong oleh temannya, yang menjadi kuasa hukum terdakwa Lukito.
“Menjadikan seseorang sebagai tersangka dan bersalah, minimal harus memiliki dua alat bukti. Kalau belum ada tidak bisa dikatakan pidana. Dari pandangan saya, kasus ini tidak ada alat bukti, semuanya hanya cerita-cerita saja. Sehingga secara hukum harus dibebaskan,” paparnya.(agp/aim) 
comments

Ditantang Berantem, Jono Pukuli Tetangga

Share
AKP Hidayat.

MALANG – Karso alias Jono, terpaksa harus merayakan lebaran nanti di balik terali besi Mapolres Malang. Warga Dusun Kasikon, Desa Wadung, Kecamatan Pakisaji ini, akhir pekan lalu diringkuk petugas Reskrim Polres Malang, karena kasus penganiayaan.
Korbannya adalah tetangganya sendiri, yaitu M Hasan, 38 tahun. Korban dianiaya dengan cara dipukul menggunakan tangan kosong, hingga mengakibatkan luka lebam di wajah serta hidungnya berdarah.
“Tersangka Karso, kami tangkap di rumahnya setelah selama sepekan menjadi buronan. Ketika diamankan, tersangka mengakui semua perbuatannya,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, aksi penganiayaan yang dilakukan Karso terhadap Hasan ini, terjadi Minggu 14 Juni lalu sekitar pukul 19.30. Penganiayaan tersebut, terjadi di depan rumah korban.
Ceritanya, malam itu dengan penuh emosi tersangka mendatangi rumah korban. Jarak antara rumah korban dengan tersangka tidak begitu jauh. Dengan nada marah-marah tersangka memanggil korban keluar rumah, lalu mengajaknya berkelahi.
Lantaran tidak tahu apa-apa, korban lantas keluar rumah untuk menemui tersangka. Namun belum sempat menanyakan persoalan, tersangka langsung memukuli korban dengan tangan kosong. Setelah puas memukuli, tersangka langsung kabur.
Sementara korban yang mengalami luka lebam dan berdarah ditolong oleh warga. Karena tidak terima, ia lantas melaporkannya ke Polres Malang. Berdasarkan laporan itulah, polisi lalu memburu tersangka dan berhasil menangkapnya.
“Tersangka kami amankan setelah mendapat informasi kepulangannya. Dalam pemeriksaan ia mengaku memukuli korban karena terpancing emosi, lantaran ditantang berkelahi oleh korban,” jelas mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini.(agp/aim) 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL