Malang Post

Kriminal


Kasus Selingkuh Anggota Dewan Segera Disidang

Share
Lukito Eko Purwandono, saat klarifikasi bersama BK DPRD Kabupaten Malang, bulan Januari yang lalu

KEPANJEN – Kasus dugaan perselingkuhan anggota DPRD Kabupaten Malang,  Lukito Eko Purwandono segera disidang di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Hal itu menyusul
berkas pemeriksaan di  Satreskrim Polres Malang dinyatakan P21 alias lengkap oleh Kejaksaan Negeri Kepanjen, kemarin.
Kanit Idik IV, Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo SH Mhum mengatakan, setelah dinyatakan lengkap, maka berkas tersangka akan diserahterimakan ke jaksa penuntut umum (JPU). “Rencananya pada hari Rabu pekan depan, berkas tersangka akan kami serah terimakan ke JPU,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, tidak hanya berkas tersangka Lukito Eko Purwandono yang akan diserah terimakan. Berkas tersangka Itje Permatasari, istri dari pengusaha Sukma Raharja juga diserahkan kepada kejaksaan.
“Setelah kami serahkan  ke kejaksaan, proses selanjutnya terkait kasus ini ada pada JPU tersebut,” terang perwira pertama (pama) dengan satu balok di pundaknya itu. Proses selanjutnya yang dia maksud adalah  untuk segera menyidangkan. Artinya, JPU harus sesegera mungkin mendaftarkan perkara tersebut ke PN Kepanjen.
Dikatakannya, melalui persidangan nantinya tugas dari JPU untuk membuktikan bahwa kedua tersangka  melakukan perbuatan melanggar hukum. “Pembukitan benar tidaknya terkait kasus ini, nantinya akan diketahui melalui persidangan. Tentunya dalam persidangan itu, nantinya akan diketahui fakta-fakta terkait kasus tersebut,” urainya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya,  Loekito Purwandono dilaporkan berselingkuh dengan istri pengusaha Sukma Rahahrja, bernama Itje Permatasari. Laporan perselingkuhan itu mencuat akhir tahun lalu. Sebelumnya, sempat diselesaikan melalaui Badan Kehormatan (BK) DPRD Kabupaten Malang. Namun, BK akhirnya memberikan rekomendasi untuk dibawa ke ranah hukum.  (big/van) 
comments

Butuh Uang, Curi Motor Kakak Ipar

Share
Tersangka RS, saat diperiksa oleh penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang, kemarin

KEPANJEN - Remaja berusia 17 tahun, berinisal RS, warga Dusun Gentong RT 01 RW 02, Desa Purwosari, Kecamatan Singosari  harus mendekam di sel Polres Malang. Pasalnya, dia mencuri motor Yamaha Mio N 677 HC milik Anderas, kakak iparnya sendiri.
Ia  ditangkap petugas awal pekan kemarin di Jalan Raya Lawang  saat hendak menuju Pandaan, Pasuruan. “Tersanggka kami jerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian pemberatan. Ancaman hukumannya lima tahun kurungan penjara,” ungkap Kanit Idik IV Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo SH M.Hum kepada Malang Post.
Sutiyo menjelaskan, pelaku melakukan aksinya awal bulan Mei lalu. RS nekat walau tinggal serumah dengan kakak iparnya. Dia memanfaatkan keadaaan rumah yang sepi. Berbekal kunci bodong yang dimilikinya, RS  berhasil membuka kunci motor lalu membawa kabur ke Lawang.
“Kakak iparnya lalu melaporkan tersangka ke petugas Polisi  dan kemudian dilakukan penyelidikan,” terangnya.
Berdasarkan  hasil penyelidikan, pelaku sempat diketahui kabur ke Pasuruan. Pada hari Minggu (17/5) yang lalu, petugas mendapat  informasi tersangka berada di rumah salah seorang temannya di Lawang. Setelah dari rumah temannya dan hendak kembali ke Pandaan, Pasuruan, petugas bergegas menangkap tersangka.
“Karena masih di bawah umur,  tersangka diproses di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak,” tuturnya.
Di depan penyidik, pelaku  mengaku  nekat mencuri sepeda motor milik kakak iparnya sendiri lantaran butuh uang. Apalagi dia putus sekolah dan tak bekerja.
“Awalnya motor itu mau saya jual. Tapi dipakai teman saya di Pandaan,  Pasuruan. Tapi hingga saat ini belum dikembalikan,” tuturnya.  Setelah dibekuk Polisi, dia mengaku kapok melakukan kejahatan. (big/van) 
comments

Penangkapan Tersangka Sudah Sesuai Aturan

Share
Saksi kedua belah pihak, saat menyampaikan keterangannya pada Majelis Hakim, dalam persidangan kemarin.

Polisi Dituduh Siksa Tahanan
KEPANJEN–Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, kembali menggelar lanjutan sidang praperadilan yang melibatkan Kapolsek Kepanjen, Kompol Sulistyo Nugroho, kemarin. Saksi dari termohon berdebat dengan kuasa hukum pemohon di depan hakim. Hingga perang mulut itu terpaksa dihentikan oleh hakim praperadilan.


Dalam sidang itu, Kuasa Hukum Kompol Sulistyo Nugroho, yakni Iptu Sutiyo SH Mhum, juga menolak semua tudingan dari pemohon, tersangka dugaan pencurian, Dony Setiawan.
“Bahwasanya termohon menolak seluruh dalil pemohonan pemohon. Kecuali yang secara nyata dan tegas diakui kebenarannya oleh termohon,” ujar Sutiyo, saat membacakan jawaban termohon kemarin.
Menurutnya, pemohon selaku penyidik Polsek Kepanjen, diberikan kewenangan sesuai undang-undang, untuk menyidik tersangka.
Dijelaskannya, hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 111 KUHAP UU No 8 Tahun 1981, tentang penyidikan dan proses hukum terhadap tersangka. “Dalam pasal itu pada ayat dua, kepolisan mempunyai kewenangan memproses hukum tersangka, setelah menerima penyerahan pelaku kejahatan dari mayarakat,” paparnya.
Sedangkan selama proses pemeriksaan dan penyidikan, dipastikan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Termasuk menolak dengan secara tegas, tudingan dari pemohon, yakni telah melakukan penyiksaan terhadap tersangka Dony Setiawan.
Sebagaimana disampaikan oleh Kuasa Hukum Pemohon, Kusdaryono SH, bahwa kliennya Dony Setiawan, telah dilakukan penyiksaan oleh penyidik di dalam tahanan. “Apa yang disampaikan oleh kuasa hukum pemohon itu, tanpa ada dasar dan bukti. Termasuk menolak bukti berupa foto yang disampaikan dalam persidangan,” terangnya.
Menurutnya, bukti berupa foto itu, tidak bisa dijadikan alat bukti dalam persidangan. Karena keberadaan foto yang disampaikan oleh kuasa hukum pemohon, tidak jelas asal usulnya. Dalam sidang itu, kedua belah pihak menghadirkan saksi.
Pemohon menghadirkan saksi Sugeng Hambali, yang sebagai ayah tersangka Dony Setiawan.
Sedangkan termohon menghadirkan saksi penyidik tersangka Dony Setiawan, yakni Supriyono. Dalam sidang tersebut, sempat terjadi perdebatan antara saksi termohon, Supriyono dengan kuasa hukum pemohon, Kusdaryono SH, Perdebatan itu yakni, keluarnya surat penetapan tersangka dan surat perintah penangkapan.
“Bagaimana bisa klien saya ditetapkan sebagai tersangka, kalau pada kenyataan dihajar oleh warga dan diserahkan ke Polsek Kepanjen,” tegas Kusdaryono.
Setelah perdebatan itu, pada akhirnya dihentikan oleh Hakim H. A Ellion SH MH. Pada sidang selanjutnya yang diselenggarakan hari ini, masih akan mendengarkan keterangan para saksi.
“Pada sidang besok (hari ini, Red), kami akan menghadirkan saksi ahli,” imbuh Kusdaryono.
Dia tetap bersikukuh, bahwa prosedur penangkapan kliennya adalah salah. Utamanya dalam hal penyiksaan yang dilakukan oleh oknum penyidik Polsek Kepanjen, terhadap kliennya.(big/ary)
comments

Nyalip Truk, Mahasiswi Asal Prigen Tewas Terlindas

Share
MALANG – Ika Saraswati, warga Dusun Dinoyo, Kecamatan Prigen, Pasuruan, tewas tertabrak truk, Rabu (20/5/15) siang. Ika tewas ketika sedang mengendarai sepeda motor bernopol N 6269 AAD di depan SPBU Gadang atau depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang.
Ika mengendarai kendaraannya itu bersama temannya, Falincia Nur Mardiah Sari (20), warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Mereka berdua merupakan teman kuliah. Falincia selamat dan dirawat di RS Panti Nirmala. Sedangkan Ika, oleh warga dibawa ke kamar jenazah di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).
Berdasarkan keterangan saksi mata, saat itu Ika sedang melintas dari arah selatan menuju ke Kota Malang. Ketika melintas di depan lokasi kejadian, kendaraan Siti terhalang truk bernopol K 1752 BH. Truk tersebut disopiri Balehanar (45), warga Pati, Jawa Tengah.
Ika lalu menyalip truk yang mengangkut tebu dari Pabrik Gula Krebet, Kabupaten Malang dari sebelah kiri. Saat itu juga sepeda motor yang dikendarainya oleng dan membuatnya terjatuh ke sebelah kanan. Seketika itu, tubuh Ika terlindas ban belakang truk tadi. Kepala dan setengah tubuhnya remuk.
"Kalau kepala yang dibonceng (Falincia) membentur ke aspal saat kecelakaan tadi," ungkap Rahmat Hidayat, saksi mata yang ada di lapangan kemarin.
Falincia pingsan dan tidak sadarkan diri. Warga langsung membawanya ke RS Panti Nirmala untuk dirawat. Terpisah, Kepala Unit Laka Lantas Polres Malang Kota, Ipda Budi Yunaedi membenarkan identitas korban kecelakaan maut tersebut. "Identitas itu berasal dari kartu identitas yang mereka bawa," kata Budi.
Pascakejadian tersebut, polisi berusaha menghubungi keluarga korban. Dia juga memastikan kartu identitas yang ditemukan. Sementara ini, polisi juga masih memastikan kartu identitas milik korban dengan menghubungi keluarga korban kecelakaan di depan Kantor Kementerian Agama, Rabu siang. Sebab, polisi juga menemukan KTP atas nama Siti Fatonah, warga Pandaan, Kabupaten Sidoarjo. Fotokopi ini ada dalam tas yang diduga milik korban.
Sementara identitas pemilik sepeda motor Honda Vario  N 6269 AAD yang dinaiki korban atas nama Indri Wahyuni.  "Kami akan memastikan kartu identitas yang kami temukan. Sekarang (kemarin) kami coba menghubungi keluarga korban," tegas Budi. (erz/udi)
 
comments

Propam Periksa Kapolsek dan Anak Buahnya

Share
MALANG – Anggota Polsek Kepanjen berinisial L dan TM yang diduga menyiksa tahanan bernama Dony Setiawan diperiksa Propam Polres Kepanjen. Termasuk Kapolsek Kepanjen Kompol Sulistiyo Nugroho yang juga sudah menjalani pemeriksaan internal. Hal itu ditegaskan Kapolres Malang, AKBP Aris Haryanto, kemarin.
Kapolres menegaskan pasti ada sanksi kepada anggota Polsek Kepanjen berinisial L dan TM, jika memang terbukti melakukan penganiayaan terhadap Dony Setiawan, tahanan kasus dugaan pencurian. Apa sanksinya, masih menunggu hasil pemeriksaan dari penyidik Propam Polres Malang.
“Kita lihat dulu nanti hasil pemeriksaannya seperti apa. Bila memang ditemukan ada pelanggaran yang dilakukan oleh anggota, pasti akan ada sanksinya. Bisa kode etik atau pelanggaran disiplin,” terang Aris Haryanto.
Perwira dengan pangkat dua melati ini mengatakan, bahwa permasalahan tersebut akan terus ditindaklanjuti.
“Sekarang kami masih menunggu pemeriksaan beberapa saksi, termasuk mencari bukti pendukung tuduhan yang diarahkan kepada anggota. Jika memang terbukti, pasti akan ada tindakan tegas berupa sanksi dari kami,” tegas mantan Waka Polres Malang ini.
Kapolsek Kepanjen, Kompol Sulistiyo Nugroho, ketika dikonfirmasi tidak mau memberikan komentar soal penganiayaan yang dituduhkan, hingga membuatnya di praperadilan oleh Dony Setiawan. Ia mengatakan, sedang menggantikan tugas Kapolres Malang, menghadiri rapat paripurna di DPRD Kabupaten Malang.
“Maaf saya masih di DPRD, mewakili Kapolres Malang,” ujarnya. Padahal saat dikonfirmasi itu, rapat paripurna masih belum dimulai.
Sementara itu, penganiayaan terhadap tahanan mendapat tanggapan dari Komisi A bidang hukum. Zia Ulhaq, Wakil Ketua Komisi A, menilai bahwa tindakan aparat penegak hukum yang melakukan penganiayaan itu, sama sekali tidak dibenarkan. Kejadian ini harus menjadi evaluasi aparat kepolisian sebagai penegak hukum.
“Dengan kejadian ada tahanan yang diduga dianiaya oleh polisi, sebagai aparat penegak hukum, maka harus ada evaluasi. Pihak kepolisian harus transparan kepada pihak keluarga, dalam memberikan keterangan terkait luka lecet dan memar yang dialami tahanan tersebut. Termasuk juga harus transparan dalam proses penangkapan, pengurungan dan dakwaan,” papar Zia Ulhaq.
Ia mengatakan, bahwa DPRD Kabupaten Malang, tidak memberikan imbauan. Tetapi di era keterbukaan ini, polisi harus bisa mengedepankan azas kehati-hatian dan bersifat adil dalam menegakkan keadilan. Hak seorang tersangka atau tahanan, tidak boleh diabaikan oleh polisi. Karenanya, dalam penyelidikan atau penyidikan, tidak boleh ada perlakuan kasar hanya untuk mendapatkan pengakuan.
Apakah Komisi A akan melakukan pendampingan ? Politisi dari Partai Gerindra ini mengatakan, untuk pendampingan pihaknya harus menunggu ada pengaduan. Makanya ia berharap keluarga korban untuk mengadukan ke Komisi A.
“Kalau memang keluarga mengadu, maka kami akan memanggil pihak kepolisian untuk meminta klarifikasi. Sama ketika ada anggota kami yang diadukan ke polisi, pihak kepolisian juga minta klarifikasi. Sebab jika ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk bagi penegak hukum,” tandasnya.(agp/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL