Kriminal

Malang Post

Kriminal

Kabar Peristiwa dan Kriminal terkini di Malang Raya

Luka Bakar Terpanggang di Pembaringan

IMAM SYAFII/MALANG POST
 
LUDES : Warga membantu membersihkan rumah Tukiran di Jalan Candi Panggung Barat 27, Dusun Bokor, Kelurahan Mojolangu, Lowokwaru, usai dilalap si jago merah, Minggu kemarin.
 
MALANG – Rumah Tukiran, 55 tahun warga Jalan Candi Panggung Barat 27, Dusun Bokor, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, ludes dilalap jago merah. Penyebab amuk  api  justru akibat kelalaian sang cucu,  Lucky Biyan Sukartono, 18 tahun yang ngrokok di kamar hingga pulas tertidur.
Ironisnya, dalam kondisi pembaringan dan rumahnya terbakar,  Lucky masih tetap pulas kendati hampir sekujur tubuhnya sudah diselimuti api. Dia yang mengalami luka bakar, dilarikan ke RSSA Malang.
Tukiran menjelaskan, peristiwa berlangsung  Minggu sekitar pukul 03.00, ada kobaran api bersumber  dari kamar Lucky. “ Saat itu kondisi  gelap tertutup asap tebal. Saya masuk kamar mendobrak pintu, kemudian menyeret  Lucky keluar rumah,” ungkapnya. Ketika itu kondisi sekujur badan sang cucu, sudah dijilati api. Lucky pun langsung dilarikan ke RSSA.
Dia mengungkapkan,  bara api berasal dari kasur tempat tidur Lucky yang terbuat dari spon. “Awalnya di dalam kamar, Lucky sedang merokok. Tapi saya tidak tahu persis, soalnya kamarnya terkunci, entah dia sengaja atau tidak,” tuturnya.
Menurutnya, saat merokok Lucky dalam keadaan capek kurang istirahat sepulang kerja sebagai buruh serabutan. “Saya maklumi, namanya musibah mau gimana lagi. Semoga Lucky kalau sudah sehat akan lebih mengerti lagi,” katanya.
Rentang satu jam dalam kondisi  api masih membesar, 5 unit kendaraan Pemadam Kebakaran datang ke TKP untuk memadamkan api. Tak butuh lama, api dapat dipadamkan sekitar satu jam. Terlihat rumah korban kondisinya total ludes tak ada satupun ada barang tersisa.
“Semua barang hangus terbakar, mulai surat dan barang berharga lainnya,” akunya.
Atas kejadian tersebut, korban diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp 50 juta. Sedangkan kondisi Lucky, masih menjalani perawatan di RSSA.. Menurut Tukiran, Lucky mulai operasi sekitar pukul 10.00. “Kondisinya parah, sekujur tubuh mulai wajah, kaki, tangan dan punggung terbakar. Doakan saja  semoga cepat sembuh,” pungkasnya. (mg12/lyo)

Diancam Seumur Hidup


PUJON – M. Hanif Alamsyah, remaja yang melakukan pembunuhan terhadap temannya, Roy Franky Setiawan, 16 tahun, tidak bisa menikmati masa mudanya secara bebas. Itu karena, warga Dusun Krajan, Desa Ngabab, Kecamatan Pujon ini terancam penjara seumur hidup. Tim penyidik PPA Polres Batu mengenakan pasal 340 KUHP dan atau 338 KUHP kepada pemuda 16 tahun itu, ancaman hukuman seumur hidup.
Pasal 340 KUHP diterapkan kepada tersangka Hanif, karena siswa kelas 1,  SMA Islam Pujon ini sengaja menghilangkan nyawa korban.
“Ditemukan adanya unsur kesengajaan tersangka menghilangkan nyawa korban. Salah satu buktinya adalah pisau, yang digunakan untuk menusuk korban, diakui adalah milik tersangka,’’ kata salah satu sumber Malang Post. Pisau tersebut diucapkan perwira yang enggan disebut namanya ini dibawa tersangka dari rumahnya.
Bukan itu saja, pasal 340 KUHP juga diterapkan penyidik, karena pembunuhan tersebut telah direncanakan sebelumnya. “Tersangka merencanakan pembunuhan itu dari rumahya, saat dia terus didesak mengganti laptop milik korban. Membawa pisau tersangka mengajak korban ke ladang, dan di situ dia menusuk korban dengan pisau yang dibawanya,’’ tambah sumber tersebut.
Hal ini berbeda dengan pengakuan Hanif sebelumnya. Kepada petugas yang mengamankan dirinya usai melakukan pembunuhan, dia mengaku jika pisau tersebut adalah milik korban. Dia merebut pisau itu saat berkelahi di ladang. Saat rebutan itulah, Hanif mengaku jika pisau tersebut tertusuk di pinggang kiri korban.
”Awalnya tersangka terus mengaku jika pisau itu milik korban. Baru dini hari tadi (Minggu) dia mengakui jika pisau tersebut adalah miliknya yang dibawa dari rumah,’’ tambah petugas.
Dia juga mengatakan pisau yang menusuk pinggang kiri korban ini mengenai ginjal. Kondisi itulah yang membuat korban meninggal dunia.
Sementara itu ada beberapa isu bergulir, jika pembunuhan tersebut dilakukan Hanif bukan karena laptop, melainkan karena dipicu rebutan pacar. Tapi demikian, isu itu langsung dibantah oleh petugas.
”Tersangka jengkel karena terus didesak mengembalikan laptop milik korban. Itu isunya dari mana?,’’ kata sumber Malang Post dengan nada bertanya.
Senada juga dikatakan oleh Kasubag Humas Polres Batu AKP Waluyo. Kepada Malang Post, perwira dengan tiga balok di pundak ini menyebutkan jika pemicu pembunuhan itu terjadi karena laptop. ”Dulu tersangka meminjam laptop kepada korban. Kemudian laptop itu dijual. Korban tidak terima dan meminta tersangka mengganti. Tapi tersangka tidak punya uang untuk mengganti. Sehingga saat korban terus menagih, tersangka pun jengkel,’’ urai Waluyo menjelaskan pengakuan tersangka Hanif.
Sementara itu proses penyidikan, sumber lain di Polres Batu  tersangka Hanif ini petugas harus betul-betul bekerja keras. Itu karena petugas dituntut untuk menyelesaikan berkas penyidikan dalam waktu kurang dari 15 hari. Hal ini sesuai dengan UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
”Untuk penanganan perkaranya sesuai dengan undang-undang perlindungan anak, karena tersangka di bawah umur,’’ urainya.
Menurut Waluyo, sesuai dengan UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak penyidik hanya memiliki waktu 15 hari saja untuk melengkapi berkas perkara. ”Jika dalam waktu 7 hari berkas belum lengkap, ada masa perpanjangan penyidikan yaitu 8 hari. Dalam waktu itu petugas harus melengkapi semua berkasnya, dan menyerahkan tersangka ke Kejaksaan, untuk proses hukum selanjutnya,’’ tambah bapak dua anak ini.
Bukan itu saja, Waluyo juga menguraikan, dalam penyidikan yang dilakukan tersangka Hanif juga didampingi oleh petugas dari Balai Pemasyarakatan (BAPAS). Pihak Polres Batu sendiri sudah melayangkan surat terkait pendampingan itu. ”Kemarin Sabtu secara lisan kami sudah mengajukan untuk pendampingan. Senin (hari ini) mungkin petugas BAPAS mulai melakukan pendampingingan,’’ tandas Waluyo.
Seperti diberitakan koran ini Hanif (16), Warga Dusun Krajan, Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini mewarnai masa SMAnya dengan perbuatan kelam. Sabtu (28/5) siswa SMA Islam Pujon ini menyerahkan diri setelah membunuh temannya Roy Franky Setiawan, (16) warga Dusun Cukal, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon. Roy siswa kelas 1 SMA Hasyim Asyari, Kota Batu ini tewas dengan satu luka tusukan di pinggang kirinya. Ia digeletakkan begitu saja, dalam karung goni di tepi sungai Pring Apus I, Desa Ngabab, Pujon.(ira/ary)

Siswa SMA Bunuh Teman karena Laptop


PUJON – SMA adalah masa paling menyenangkan bagi remaja. Akan diingat sepanjang masa, katanya. Namun sepertinya Hanif (16), warga Dusun Krajan Desa Ngabab Pujon ini harus rela untuk tidak merasakan masa-masa indah itu akibat perbuatannya. Kemarin, siswa kelas 1 SMA Islam Pujon ini menyerahkan diri setelah membunuh temannya, Roy Franky Setiawan (16), warga Dusun Cukal Desa Bendosari Pujon.
Roy, yang juga siswa kelas 1 SMA Hasyim Asyari Kota Batu tewas dengan satu luka tusukan di pinggang kirinya. Ia digeletakkan begitu saja, dalam karung goni di tepi sungai Pring Apus I, Desa Ngabab Pujon. Salah satu saksi yang dimintai keterangan, Arifin mengatakan, pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 10.30. Saat itu Arifin sedang mencangkul di ladang, dan melihat Hanif serta Roy di ladang. Ia tidak mengetahui dengan jelas, namun keduanya cekcok.
”Kalau sebabnya apa, saya tidak tahu. Yang jelas keduanya bertengkar,’’ katanya.
Tidak lama kemudian, Arifin melihat mereka berkelahi. Sebagai orang tua, Arifin ingin melerai. Tapi belum sempat beranjak, Arifin melihat Roy dikejar Hanif. Dan saat itu, ia sempat berteriak minta tolong. 15 meter kemudian, Hanif dapat menangkap Roy dan terjadilah baku hantam. Tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit kemudian Arifin melihat Roy ambruk dan Hanif kabur.  ”Saya sempat memanggil Hanif, tapi dia terus pergi,’’ katanya.
Arifin lalu mendatangi Roy dan melihat kondisinya bersimbah darah. ”Korban saat itu masih hidup. Saya berusaha menolong dengan menggendongnya. Tapi karena tidak kuat, saat menggendong dia sempat jatuh,’’ kata Arifin yang mengatakan, kondisi jalan menanjak sehingga cukup berat.
Dia pun berteriak meminta tolong. Tidak lama kemudian datang Sahri dengan seorang temannya. ”Saya kaget melihat ada anak tergeletak dengan bersimbah darah. Kemudian pak Arifin mengatakan jika anak itu habis berkelahi dengan Hanif,’’ kata Sahri.
Tanpa banyak kata, Sahri dan Amin temannya serta Arifin membawa korban. Tapi kemudian, ketiganya memutuskan meletakkan korban di jalan setapak, kemudian ketiganya memilih mendatangi rumah Hanif. Sesudah itu, ketiganya memilih pulang ke rumah masing-masing. ”Kami takut, jadi setelah mendatangi rumah Hanif, kami pulang,’’ tambah Sahri.
Sementara Hanif, dalam kondisi kalut kemudian mendatangi korban. ”Dari pengakuan tersangka tadi, dia langsung kembali ke jalan setapak. Menggunakan motor milik korban sambil membawa karung warna putih,’’ kata Kaposlantas Pujon, Aiptu Sudiman yang kemarin ikut datang ke TKP.
Selanjutnya, kata Sudiman, Hanif memasukkan tubuh Roy ke dalam karung dan diletakkan di depan sadel. ”Korban kemudian menuju ke Sungai Pring Apus, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari TKP dia melakukan penusukan,’’ tambah Sudiman.
Usai membuang tubuh korban, Hanif tidak kabur. Dia menyerahkan diri ke rumah Amin Effendi, Sekretaris Desa Ngabab. ”Dia datang ke sini menggunakan pakaian Pramuka. Terlihat pucat dan tubuhnya gemetaran,’’ kata Amin.
Kepada Amin, Hanif mengatakan dia baru saja berkelahi dan mengatakan korbannya meninggal. ”Saya kaget, saya langsung menghubungi Polsek Pujon,’’ katanya.
Tidak lama kemudian, petugas datang. Kemudian membawa Hanif untuk menunjukkan ke TKP korban dibuang. ”Saat itu sudah ada warga yang menemukan. Kemudian, tubuh korban kami evakuasi untuk kemudian dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang. Sedangkan tersangka, oleh anggota langsung dibawa ke Polres Batu untuk pemeriksaan lebih lanjut,” urainya.
Sementara itu, petugas lainnya langsung melakukan olah TKP. Tidak hanya melakukan penyelidikan di tempat awal perkelahian, petugas juga menyisir seluruh area TKP. Hasilnya, petugas menemukan barang bukti pisau yang diduga digunakan tersangka untuk menusuk, kaos milik korban dan HP milik korban di sekitar TKP. ”Semua barang buktinya sudah diamankan petugas, sekarang dibawa ke Polres untuk penyidikan lebih lanjut,’’ tandas Sudiman.
Hingga berita ini diturunkan, Hanif masih menjalani pemeriksaan intensif di Unit PPA Polres Batu. ”Karena masih di bawah umur, penyidikan ditangani oleh unit PPA Polres Batu. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan,’’ kata Kasubag Humas Polres Batu AKP Waluyo.
Beberapa sumber menyebutkan, motif pembunuhan karena masalah laptop. ”Katanya karena laptop, tersangka tadi juga mengaku demikian,’’ kata Kaposlantas Pujon, Aiptu Sudiman yang kemarin sempat ikut datang ke TKP dan mengamankan  korban.
Sudiman mengatakan, tersangka mengaku meminjam laptop kepada korban. Namun laptop tersebut tidak dikembalikan tapi telah dijual oleh tersangka. ”Korban terus meminta laptopnya. Termasuk tadi, korban datang ke sekolah tersangka, dan meminta kembali laptopnya,’’ tambah Sudiman.
Karena belum bisa mengembalikan, korban pun berang. Selanjutnya korban meminta tersangka menunjukkan alamatanya. ”Oleh Hanif, korban dibawa ke kerumahnya. Saat itu sempat cekcok di rumah,’’ katanya.  Hanif lalu mengajak korban ke ladang, yang ada di dekat rumah tersangka.
”Di ladang itu terjadi cekcok lagi, hingga perkelahian,’’ tambah Sudiman.
Dari pengakuan Hanif, Roy sempat mengeluarkan pisau. Kemudian oleh tersangka direbut. ”Pengakuan tersangka, pisau itu dibawa oleh korban yang kemudian direbut oleh tersangka, dan saat berhasil merebut, pisau tersebut ditusukkan ke tubuh korban,’’ kata mantan anggota reskrim Polsek Singosari ini.
Bukan itu saja, kepada Sudiman, tersangka juga mengaku membuang mayat korban karena takut. Tapi sebelumnya, Hanif juga mengaku lebih dulu membuang pisau, pakaian, dan HP korban di area ladang tidak jauh dari tempat mereka berkelahi.  ”Kalau keterangan lebih lanjutnya silahkan langsung ke Polres,’’ tandas Sudiman..(ira/han)

Terminal Dampit Kerap Jadi Transaksi SS

MENUJU PENYENYIDIKAN: Kasatreskoba AKP Samsul Hidayat, menunjukkan barang bukti serta tersangka Witono.

MALANG – Keuntungan yang didapat, tak sebanding dengan penderitaan yang  harus dijalaninya. Namun Witono, 33 tahun ini, tetap nekad  berhadapan dengan hukum demi mengejar komisi Rp 50 ribu. Ia menjadi kurir  shabu-shabu (SS).
Imbasnya begitu pekerjaan sampingan itu tercium polisi, warga Desa Wonoagung, Kecamatan Tirtoyudo inipun, tak menyangka harus meringkuk di balik rutan Mapolres Malang, kemarin.
Bapak satu anak ini disergap petugas Satuan Reskoba Polres Malang, ketika sedang menunggu pembelinya. “Tersangka kami tangkap di sebuah warung  sekitar Terminal Dampit. Saat itu, ia sedang menunggu seseorang untuk transaksi narkotika,” ungkap Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samsul Hidayat.
Witono ditangkap setelah ada laporan dari warga  bahwa di sekitar Terminal Dampit, kerap dijadikan transaksi narkoba. Polisi yang mendapat informasi, lantas melakukan penyelidikan dan penyanggongan selama beberapa hari.
Begitu Witono muncul, petugas yang sudah mendapat gambaran ciri-ciri pelaku langsung disergap. “Semula tersangka tidak mengaku membawa narkoba. Namun setelah kami geledah dan ditemukan dua poket SS dalam bungkus rokok, tersangka akhirnya pasrah,” jelas Samsul.
Dalam pemeriksaan, Witono mengatakan hanya sebagai kurir saja. Ia disuruh oleh seorang bandar asal Kecamatan Tirtoyudo, yang kini masih diburu. “Tersangka kami jerat dengan Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” tutur mantan KBO Reskrim Polres Malang ini.
Asal pengedar atau bandar SS dari Kecamatan Tirtoyudo, itu juga mengejutkan. Bagaimana tidak, wilayah Kecamatan Tirtoyudo termasuk daerah terpencil arah timur Kecamatan Dampit, namun di wilayah yang begitu sepi ini sudah ada yang bertindak sebagai pedagang shabu.
Witono mengaku  sepoket SS tersebut, dijual dengan harga Rp 200 ribu. Setiap kali mengantarkan barang mematikan itu kepada pembeli, dia  mendapat komisi dari pengedar sebesar Rp 50 ribu.
“Saya dua kali menjadi kurir untuk mengantarkan barang. Setiap kali kirim, saya mendapat komisi Rp 50 ribu. Pekerjaan sampingan ini terpaksa saya jalani, untuk tambahan kebutuhan sehari-hari,” urai tersangka Witono.(agp/lyo)

Keracunan Massal, Sulit Ada Tersangkanya

MEMBAIK: Kapolsek Sumbermanjing Wetan, AKP Timbul Wahono, ketika mendata korban keracunan sesaat setelah kejadian. (Ist/Malang Post)
 
  TUREN – Korban keracunan massal, sudah berangsur membaik dan setelah menjalani observasi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Termasuk dua korban yang sempat dirujuk ke RS Bokor Turen.
Namun demikian, menyangkut  penyebab keracunan yang dialami 20 orang itu, masih belum bisa dipastikan. Kapolsek Sumbermanjing Wetan, AKP Timbul Wahono mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil laboratorium. Paling cepat hasil laboratorium tersebut, diketahui sepekan setelah dikirim. Apakah disebabkan  makanan rawon dan soto, atau dari makanan lainnya.
“Untuk penyebab keracunan, kami masih menunggu hasil dari Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Karena dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, sample makanan yang kami serahkan dikirim ke Surabaya,” terang Timbul Wahono.
Sembari menunggu hasil laboratorium, lanjut mantan Kapolsek Poncokusumo, ini pihaknya telah menyelidiki dengan meminta keterangan saksi-saksi. Ada empat orang saksi yang dimintai keterangan. Mereka ini adalah saksi yang memasak serta korban keracunan.
“Arah penyelidikan yang kami lakukan, adalah mencari sumber bahan makanan yang dibeli. Bahan-bahan makanan untuk rawon dan soto tersebut, dibeli dimana nantinya pedagang akan kami mintai keterangan,” ujarnya.
Disinggung untuk seluruh korban keracunan, Timbul mengatakan bahwa kondisi semua korban sudah lebih baik. Mereka telah pulang, setelah sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Sitiarjo.
Sekadar diketahui, acara selamatan desa (bersih desa, red) Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Sabtu lalu berakhir petaka. Sebanyak 20 orang tumbang secara bergantian. Mereka harus dilarikan ke Puskesmas Sitiarjo, karena mengalami keracunan.
Dugaannya, mereka mengalami keracunan setelah makan rawon dan soto yang disediakan oleh ibu-ibu PKK. Untungnya, tidak sampai ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Dari dua korban keracunan tersebut, dua diantaranya adalah balita yang berusia 3 tahun dan 5 tahun.(agp/lyo)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL