Malang Post

Features


Jadi Inspirator, Lebih Mudah Kritisi Pemain dengan Data

Suporter sepak bola memiliki berbagai macam cara untuk menunjukkan kecintaan kepada klub yang diidolakannya. Seperti sekumpulan lima anak muda yang tergabung dalam Arema Stats, memilih mewujudkan rasa cinta itu dengan cara kreatif dan elegan, yakni memperhatikan statistik mengenai tim kesayangannya ini dalam setiap laga serta meluncurkannya dalam suatu tulisan.
Arema Stats merupakan julukan dari Arema Statistik. Personilnya terdiri dari Brillian Sanjaya (23), Rizky Adli Putra (23), Ramaditya Putra Widigda (23), Bramasta Gelorawan (16) dan Malik Oktabrianto (23). Mereka berlima selalu duduk berdampingan di Tribun Media di Stadion Kanjuruhan ketika Arema berlaga. Malang Post berkesempatan berbincang dengan suporter kreatif tersebut, yang dalam satu tahun terakhir mencatat statistik dari setiap laga dan pemain Arema.
“Dulu kami sama dengan Aremania lainnya. Datang dalam laga Arema, mendukung di pinggir stadion, bernyanyi dan sesudahnya pulang,” ujar Koordinator dan sang pencetus Arema Stats, Brillian Sanjaya mengawali cerita.
Begitu pulang dari stadion, layaknya beberapa Aremania lain, mereka membicarakan tentang pertandingan. Mulai dari hasil akhir, kartu kuning, penguasaan bola, pemain yang menonjol sampai dengan kelemahan dari Arema. “Ya seperti komentator bola begitu, mencoba mengkritisi permainan,” sebut pria yang akrab disapa Brilli itu.
Lama-lama, mereka gemas setiap kali membicarakan Arema hingga akhirnya membicarakan statistik pertandingan. Mereka mencoba berkicau melalui fanpage Facebook dan Official Twitter yang mengatasnamakan suporter. Baik sebelum maupun setelah laga Arema. Entah itu laga resmi maupun laga uji coba. Akan tetapi dia mengakui, kicauan tersebut masih tidak seakurat dan selengkap yang dikerjakan bersama keempat temannya ketika sudah di Arema Stats.
“Dari pihak Arema no comment, wong suporter juga banyak suara. Sementara yang komentar ya sesama Aremania lain. Dari sana kami coba menggali kemampuan lebih dalam dengan membuat statistik yang akurat,” beber Brili yang disetujui oleh kedua temannya, Rizky dan Ramaditya.
Hingga akhirnya Brilli mengusulkan membuat Arema Stats, mengelolanya dengan serius untuk menyajikan data detil dalam setiap laga Arema. Mulai dari dribble, shooting, intercept, crossing, long pass, clearance, assist hingga gol yang terjadi dalam setiap pertandingan. Dari statistik tersebut, muncullah prediksi, kelemahan atau kekuatan tim, yang semuanya itu coba difloorkan melalui twitter dan blog Arema Stats.
Menurut Brilli, konsekuensi dari niat itu, maka personil Arema Stats mesti rajin datang dalam setiap laga Arema di Stadion Kanjuruhan. Tidak peduli kondisi lelah setelah bekerja atau sekolah, personil Arema Stats berganti menonton dan mengkritisi pertandingan laksana wartawan. Tidak hanya datang, masing-masing personil membawa lembaran kertas lengkap dengan bolpoin. Mereka membagi kerja, untuk satu orang mengawasi 3-4 pemain Arema, mencatat semua aktivitas di lapangan. Mata mereka seakan enggan melepas pemain yang menjadi bagian pengawasannya. Haram ada yang terlewatkan.
“Kami harus benar-benar mengawasi gerak mereka. Sedikit terlewat, ya kurang akurat data kami. Makanya, jarang sekali ada guyonan ketika sudah di pinggir stadion. Ke kamar mandi pun, harus menahan diri menunggu istirahat,” urainya.
Lambat laun, eksistensi dari Arema Stats yang memiliki akun twitter @AremaStats mendapat pengakuan. Tidak bisa dipungkiri, apa yang Arema Stats kerjakan menarik banyak pihak. Termasuk mereka yang berminat dengan datanya. Baik secara diam-diam memakainya, maupun izin terlebih dulu. Menurut pria yang juga bekerja di perusahaan konstruksi ini, Arema Stats tidak mempermasalahkan bila data statistik yang mereka share melalui twitter dan blog dipakai. Sebab, sebelumnya juga sudah meminta izin terlebih dulu dan menyertakan sumber statistiknya.
“Dari sana, nama Arema Stats pun mulai dikenal tidak hanya oleh Aremania. Tetapi lintas suporter lain. Jika ada media lokal ingin memakai statistik kami ya monggo saja. Tapi jangan lupakan sumbernya, itu kebanggaan kami,” terang dia.
Pernah pula, kompetitor Arema mencoba membeli data yang dihasilkan selama ini. Dengan tegas, Arema Stats menolaknya, sekalipun godaan uang jutaan rupiah sudah di depan mata. Yang ada di benak anak Arema Stats, tidak mungkin menyerahkan kelemahan pada musuh. Sama artinya dengan membenamkan sang klub pujaan.
Yang menarik, saat ini keberadaan Arema Stats telah menginspirasi teman suporter lain. Setidaknya, ada 4-5 kelompok suporter di Indonesia yang kini turut mengikuti jejak Arema Stats. Antara lain suporter Persija Jakarta, PSIS Semarang, Persela Lamongan dan Persis Solo untuk memiliki sekumpulan suporter yang mau membuat statistik klub kebanggaannya. “Di situ menambah rasa bangga kami. Paling tidak kami merupakan pioneer bagi kelompok suporter di Indonesia,” sebut pria asal Bandulan tersebut.
Menurut dia, ada pula yang belajar dengan kinerja dari tim Arema Stats. Padahal, diakuinya, bila mereka pun membuat statistika karena tertarik dengan analisis dari Lab Bola dan Opta. Dari sana mereka mencoba belajar dan browsing mengenai cara menulis data pertandingan dan menyajikannya, baik dalam bentuk statistik maupun tulisan layaknya berita. “Ya kami juga harus belajar. Hingga sekarang pun berusaha menyempurnakan penyajian statistik untuk pembaca,” tambahnya.
Apa yang Arema Stats sajikan menjadi bukti keseriusan mereka ketika mencintai Arema. Tidak sekadar hura-hura datang ke stadion, setelah pulang sudah tidak berbekas. Tetapi, dengan data-data, mereka bisa mengeluarkan semua hal tentang statistik Arema. Yang terpenting, mereka juga lebih mudah mengkritik Arema bila ternyata bermain tidak sesuai harapan.
“Ketika Arema main loyo, kurang determinasi, apalagi kalah, kami lebih mudah menyampaikan penyebab kelemahan, dan mencoba menganalisa yang harus diperbaiki. Dengan begitu, kritikan kami lebih berdasar,” urainya.
Kini, keseriusan personil Arema Stats pun menghasilkan banyak hal. Arema Stats telah menghasilkan Matchday Programme. Sebuah lembaran yang berisi statistik mengenai prediksi pertandingan. Porsi paling besar membahas tentang Arema, yang sedikit untuk tim lawan.
Menurut Brilli, Matchday Programme ini terinspirasi dari luar negeri. Di Inggris misalnya, setiap klub pasti menyajikan lembaran statistik tersebut sebelum laga. “Kami pernah membaca tentang aktivitas Paul Cumming yang sampai meminta kiriman Matchday Programme dari klub yang disayanginya sekalipun sudah tinggal di Indonesia. Jika di sana dijual, kami masih memberikannya gratis,” terang alumnus SMAN 7 Malang tersebut.
Matchday Programme ini masih dicetak dalam jumlah terbatas. Dalam setiap laga, sekitar 500 eksemplar. “Itupun masih terlalu banyak. Supporter di Indonesia masih belum terbiasa ada lembaran seperti ini, sayang juga jika setelah kami bagikan ternyata dibuang begitu saja,” tambah dia.
Beberapa analisis di Matchday Programme pun terbukti ketika pertandingan. Misalnya tentang kelemahan Arema yang terlalu mudah kebobolan di 45 menit kedua atau kualitas crossing yang lemah dari pemain. Termasuk juga tentang pemain, yang secara statistik menurut Arema Stats sangat mumpuni. “Kurnia Meiga kiper mumpuni, Purwaka bila main maka Arema selalu menang, atau Juan Revi yang secara statistik sangat bagus ketika diturunkan,” urai pria murah senyum ini.
Brili, Rizky dan Rama pun secara kompak mengakui, untuk saat ini belum mendapatkan apa-apa selain kebanggaan menjadi Aremania dari apa yang mereka kerjakan. Sebab, apa yang mereka kerjakan secara independen ini masih dilakukan dengan kocek pribadi. “Kalaupun ada, supporting kecil dari teman suporter lain, tetapi ya mungkin hanya cukup untuk mencetak Matchday Programme, dan asal bisa berangkat ke stadion,” jelas Rizky menimpali.
Lebih lanjut dia menyampaikan, ke depannya Arema Stats menargetkan lebih serius lagi ketika menyajikan data. Menurut Rizky, apa yang mereka kerjakan selama setahun terakhir, kini mulai membuahkan hasil. Selain pengakuan keberadaan dan keakuratan datanya, ada beberapa perusahaan yang mencoba mendekat untuk menjadi penyandang dana Arema Stats ke depan. “Keyakinan kami Arema Stats berarti bagi Arema dan Aremania. Bila menjadi pekerjaan kami, ya patut disyukuri pula. Namun yang jelas ini menjadi cara bagi kami untuk menahbiskan diri menjadi Aremania sejati, lebih elegan dan berarti,” pungkas dia, diamini dengan Brilli dan Ramaditya. (stenly rehardson/han)

Eksis karena Terinspirasi B-Boy Perancis dan Amerika

Semangat pria ini untuk terus maju patut ditiru. Keterbatasan fisik tidak menjadi hambatannya untuk berkreasi dan berprestasi. Di sela-sela waktu menjadi pengusaha Warnet, dia terus menyalurkan hobi breakdance. Meski hanya memiliki kaki kiri, namun pertunjukkannya selalu menjadi pusat perhatian penonton.
Dia adalah Arif Setyo Budi, Warga Ngangglik, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Pria ramah ini sejak 2007 mengalami keterbatasan fisik akibat insiden kecelakaan di salah satu perusahaan plastik di Sidoarjo, hingga menghilangkan kaki kanannya. Kini, dia harus berjalan menggunakan tongkat penyangga.
Bagi orang biasa, kehilangan organ tubuh membuat mereka stres karena harus menerima kenyataan tak lagi memiliki anggota tubuh yang lengkap. Tapi tidak bagi Arif. Insiden itu tak memupuskan semangatnya untuk mengekspresikan hobi ngedance.
Saat beraksi, Arif masih menggunakan tongkatnya. Dia selalu mulai bergoyang dengan gerakan kaki (footwalk). Ia kemudian melanjutkan gerakan itu sampai tingkat ekstrim, dengan melakukan gerakan freeze, down rock ataupun floor (gerakan di lantai). Lebih mencengangkan lagi, ketika melihat pria energik ini melompat dan berdiri terbalik dengan menggunakan satu tangannya.
Sesekali, Arif juga melepas tongkat penyangganya. Dia memberikan ke temannya dan beraksi dengan tangan kosong. Melihat B-Boy (sebutan untuk breakdancer) bertubuh normal sedang beraksi saja, sudah banyak mata yang berdecak kagum. Apalagi, melihat Arif yang lincahnya minta ampun itu beraksi.
Berkat bakatnya itu, dia pernah menjadi juara II LA Break 2011 tingkat Jatim dan juara I LA Break 2012  tingkat Jatim. Bahkan, pria berambut pendek ini pernah masuk 48 besar dalam kompetisi bergengsi di salah satu televisi swasta, Indonesia Mencari Bakat (IMB) 3. "Meski akhirnya tidak berhasil masuk ke babak selanjutnya," katanya terbahak-bahak kepada Malang Post saat ditemui di Dewan Kesenian Kota Malang, kemarin.
Arif pun pernah menjadi satu dari dua orang terpilih yang diundang Dubes Amerika untuk Indonesia untuk hadir sebagai peserta Workshop Dance Kontemporer yang diselenggarakan oleh Dance Ability, lembaga seni tari kontemporer Amerika yang namanya sudah mendunia, pada Mei 2013 lalu.
Prestasi Arif dimulai saat dia belajar breakdance tahun 2005. Saat itu, kondisi tubuhnya masih normal. Arif pun bisa belajar seperti B-Boy pada umumnya. Satu tahun lebih berlangsung, Arif mulai menguasai gerakan dasar. "Waktu itu masih sering latihan sama teman-teman," tandas pria yang juga tergabung dalam Komunitas Malang Breaker ini.
Seiring berjalannya waktu, Arif pun harus segera mencari pekerjaan. Diterimalah dia sebagai salah satu karyawan di pabrik plastik tersebut. Dia menjadi  pengawas mesin pengolah bahan dasar plastik. Jam kerjanya jatuh pada malam hari, hingga pagi.
Enam bulan Arif menjalani pekerjaannya seperti biasa. Hingga akhirnya ada satu mesin sedang dalam renovasi. Terdapat lubang yang diameternya tidak sampai satu meter. Lubang itu, merupakan tempat untuk teknisi mesin melihat kondisi mesin di dalamnya. Lubang tersebut, hanya ditutupi karung plastik.
"Ceritanya, waktu itu saya melihat keran pipa dekat mesin tersebut tidak tertutup rapat. Saya langsung ke sana untuk menutup keran pipa tersebut. Waktu datang, saya ingat kalau di situ ada lubang. Jadi, lubang saya langkahi. Tapi, waktu kembali saya lupa dan kaki saya masuk begitu saja," ujarnya mengisahkan.
Saat kakinya masuk ke dalam mesin, seketika itu juga hampir seluruh kaki kanannya terpotong alat berat yang mirip mixer itu. Arif pun harus tergeletak lemas melihat pendarahan tak ada hentinya.
"Waktu itu belum ada yang menolong. Teman-teman saya masih ada di bawah. Sekitar 3-4 menit kemudian, mereka baru melihat dan menolong. Saya langsung dibawa ke rumah sakit setempat," tandasnya. Dia harus kembali ke Malang dan menjalani masa pengobatan.
Setahun kemudian, tahun 2008, masa pengobatan Arif selesai. Tapi, kaki kanannya yang hanya tersisa tidak sampai 1/5 itu, menuntut dia untuk berjalan menggunakan tongkat jalan. Arif kembali beraktivitas, dibukalah Warnet di daerah rumahnya dengan modal dari pesangon pabrik plastik tempat dia bekerja.
Hingga pada suatu hari, Arif berkunjung melihat teman-temannya latihan breakdance. "Saat itu banyak yang kaget karena baru tahu. Kalau saya sih cuma ketawa-ketawa aja," ungkapnya. Melihat teman-temannya sedang bergoyang, semangat B-Boynya kembali muncul. "Saya ingin latihan lagi," kata Arif.
Keinginan besar untuk kembali menyalurkan hobinya, ditambah dengan dorongan teman-temannya, Arif mencoba untuk kembali belajar dengan kondisi tubuh seadanya. Dia berpikir, awalnya sulit untuk beradaptasi. Dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya yang sekarang. Jelas berbeda, akunya, dengan kondisi hanya satu kaki, ada beberapa gerakan yang tidak bisa dilakukan.
"Ada gerakan yang hanya bisa dilakukan dengan dua kaki. Bila saya coba dan kesulitan, saya cari gerakan lainnya yang bisa saya lakukan," ujarnya. Menurutnya, B-Boy tidak bisa memaksakan diri agar mampu melakukan banyak gerakan.
Seorang B-Boy hanya perlu menciptakan karakter dan style mereka sendiri. Dengan begitu, kreativitas akan mengalir sesuai karakternya. Barulah orang itu dikatakan B-Boy sejati. Arif sendiri, mengaku telah menemukan karakternya, dengan kreasi gerakan ciptaannya sendiri. "Ya, disesuaikan dengan kaki saya," jelasnya sambil tertawa kecil.
Inspirasinya muncul ketika menonton video di youtube. Hourth, B-Boy berkaki satu asal Perancis. Juga Tommy Lee Gunz, B-Boy asal Amerika yang juga memiliki keterbatasan fisik. "Sekarang mereka jadi inspirator saya. Toh, mereka saja bisa, kenapa saya tidak?," serunya.
Breakdance telah menjadi bagian dari dirinya. Latihan rutin dia lakukan tiap minggu. Berbagai kompetisi telah dia lalui, mulai dari tingkat regional, sampai nasional. Ada keinginan untuk terus mengembangkan bakatnya. Di usia muda, dia ingin berpikir maju, bagaimana caranya menemukan gerakan demi gerakan baru dengan kondisi tubuhnya itu.
"Sekarang ada B-Boy satu lagi di Tasikmalaya yang juga punya keterbatasan fisik, malah dia tidak punya kaki sama sekali. Tapi saya belum pernah ketemu dengan dia," tandasnya. Tidak menutup kemungkinan, lanjutnya, ada B-Boy lain tapi belum bergabung dengan wadah.
Pria ini memang tidak bisa diam. Sekarang, dia tidak hanya menggeluti usaha dan hobinya. Dia juga menjadi penggiat komunitas Akartuli, wadah tempat pemuda-pemudi tuna rungu berekspresi. Di sana, Arif mengajarkan puluhan pemuda ini menari. Mulai dari tari tradisional sampai kontemporer.
Arif juga sering menyalurkan hobinya di bidang fotografi. Karyanya juga pernah dipamerkan dalam acara yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Hebatnya, lagi, pria humoris ini rupanya juga senang bersepeda. Tidak tanggung-tanggung, sepeda yang digunakannya itu sepeda fixie. Sesekali dia gunakan sepeda fixie tanpa rem. "Ya takut juga awalnya," ujarnya.
Bagi Arif, hidup itu harus semangat dan optimis. Sekali ada niat, dia yakin manusia bisa berkembang. Terbukti, Arif kini menjadi B-Boy idola. Setiap kali dia bergabung dengan B-Boy atau seniman lainnya, justru kondisi tubuh itulah yang membuat dia mudah dikenal dan mengenal orang lain.
"Memang banyak (orang dengan kekurangan, red) yang minder. Tidak usah minder. Asal ada kemauan, apapun bisa dilakukan. Kondisi fisik tidak jadi persoalan," pesannya kepada para penyandang cacat. Di luar itu semua, melihat Arif, memberikan pelajaran yang sangat mendalam, bagaimana menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan semangat untuk maju. (Muhamad Erza Wansyah/han)

Jadi Jupel Terbaik, Gusar Tak Ada Penerus

Bagi banyak orang, menjadi juru pelihara (Jupel) candi memang bukan pekerjaan yang mudah dan  menyenangkan. Jupel yang sering disebut sebagai juru kunci juga cenderung membosankan karena setiap hari mereka hanya berkutat dengan candi. Tapi fakta tersebut  tidak berlaku bagi Suryadi. Pria 56 tahun, yang bertugas di Candi Jago Tumpang  ini justru mengaku, pekerjaannya sangat menyenangkan. Selain banyak mengenal tentang sejarah, bapak empat  anak ini juga mendapatkan pelajaran hidup dari candi yang dijaganya.

Hingga tahun ini, sudah 37 tahun, Suryadi mengabdikan diri menjadi juru kunci. Pekerjaan itu digelutinya sejak lulus SMA, setelah sang ayah lebih dulu menawarinya. "Ayah saya bernama Bambang Sutrisno, dulu pernah jadi kades di daerah Pasuruan. Kemudian memilih berhenti dan beralih sebagai Jurpel," kata Suryadi.
Kecintaan sang ayah pada candi pun menular pada Suryadi. Saat masih kecil, Suryadi kerap bermain di Candi Jago. Tentu saja dia tidak sekadar bermain atau berkeliling, tapi juga belajar hingga Suryadi muda pun menjadi pendamping Bambang. Waktu pun berlalu, Suryadi  pun kian dipercaya sebagai Jupel. Terbukti belum satu tahun mengabdi, Suryadi diangkat menjadi PNS. Resmi sebagai PNS, Suryadi kian tekun belajar. Dia juga mulai membaca relief.  "Saya paling suka dengan cerita relief Kunjara Karna. Relief ini ada di bagian candi sebelah timur laut. Karena relief ini mengajarkan kita tentang hidup," katanya sembari menambahkan ada 13 pelajaran hidup yang ada pada cerita relief Kunjara Karna.
Jika ke-13 pelajaran tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Suryadi, akan sangat bagus sebab mengajari individu tersebut untuk tidak gampang emosi.  ”Kita harus terus bersabar," urai ayah dari Dian Nuzula Artikasari ini.
Selain cerita Kunjara Karna, masih banyak cerita lain yang menarik menurut dirinya. Cerita-cerita di candi tersebut diperolehnya dari banyak literatur. Bahkan, tidak jarang dia mendapat literatur dalam Bahasa Belanda. "Kebetulan saya ini suka membaca, jadi tidak kesulitan saat melakukan penjabaran," katanya lagi.
Kegigihan dan kesetiaan Suryadi pada Candi Jago pun membuahkan hasil. Tahun 2007 lalu dia terpilih sebagai pegawai teladan, dan tahun 2012 dia mendapatkan penghargaan sebagai Jupel terbaik. "Pemilihan Jupel dilakukan setiap dua tahun sekali oleh pemerintah pusat. Kebetulan 2012 lalu saya yang dikirim, dan mendapat nomor satu. Tapi yang membuat saya bangga adalah Candi Jago Tumpang juga jadi Candi terbaik saat itu," katanya bangga.
Meskipun sudah mendapatkan prestasi terbaik, Suryadi tetap terus belajar. Tentu saja dia tidak hanya belajar tentang Candi Jago tapi candi-candi lainnya. Ini dilakukan agar saat pengunjung datang ke candi bisa mendapat penjelasan tentang candi yang dikunjunginya.
Selain itu, Suryadi juga sering menulis. Dia tidak sekadar menulis sejarah dengan literatur lain, tapi juga menulis buku. ”Bahkan ada salah satu penerbit yang mau menerbitkan buku saya, tapi saya tidak bersedia,” ujarnya.
Meskipun sudah dinobatkan menjadi Jupel terbaik, tapi masih ada yang mengganjal bagi Suryadi, yakni peran ganda Jupel. Menurutnya tidak sedikit Jupel yang memiliki peran ganda untuk mendapat keuntungan. Dia mencontohkkan di salah satu candi. Saat pengunjung hanya minta izin masuk, para Jupel tidak akan melakukan hal aneh-aneh. Tapi saat pengunjung minta izin dan minta tolong karena akan ada tirakat, Jupel pun langsung memainkan peran gandanya. "Ini kan memalukan, dan bisa merusak nama Jupel," tambahnya.
Selain itu, yang menjadi kegusaran Suryadi adalah tidak adanya pengganti. Saat ini Jupel yang ada usianya tua dan butuh regenerasi. "Regenerasi untuk kelanjutan nasib candi.Candi dibangun sebagai wujud pendermaan sesorang kepada orang yang dihormatinya. Tentu saja banyak cerita baik yang bisa digali dari candi," tandasnya.(ira ravika/han)

Arema Latihan Blusukan Perdana di Lapangan Sedayu

Arema Cronus sukses menggelar event latihan spesial di lapangan Desa Sedayu Koramil, Kamis lalu. Ratusan warga datang dan memenuhi lapangan. Skuad Singo Edan pun makin dekat dengan suporter. Di balik kesuksesan event perdana latihan di lapangan desa ini, ada Aremania Uyades yang getol memperjuangkan Arema agar bisa latihan di lapangan itu. Berikut ceritanya.

Wajah Suharno, Pelatih Arema Cronus sumringah. Skuad Arema sukses latihan blusukan desa, perdana di Lapangan Desa Sedayu, Kamis sore lalu. Suporter Singo Edan dari Desa Sedayu dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan kehadiran skuad Arema. Pemain pun mendapat motivasi baru di saat sibuk persiapan lawan PS Semen Padang di 8 besar ISL 2014.
Pertemuan langsung dengan suporter di level bawah membuat wajah para pemain segar. Pemain pun merasakan kedekatan dengan para pendukung setianya di Stadion Kanjuruhan tiap laga kandang. Pendek kata, para pemain dan tim pelatih merasakan sukses latihan dan sukses pendekatan dengan masyarakat Sedayu.
Bahkan Suharno memuji kualitas lapangan Sedayu. “Untuk ukuran lapangan desa, Lapangan Sedayu Koramil ini sangat baik. Terlihat dirawat, rumputnya hijau dan segar. Kualitas tanahnya juga baik, tidak kering. Pantulan bola normal karena tanahnya empuk,” tegas Suharno, di sela-sela latihan di Lapangan Sedayu Koramil, Kamis lalu.
Namun, di balik kesuksesan latihan di Desa Sedayu, ada sosok Aremania Uyades yang cukup repot mempersiapkan acara latihan blusukan desa ini. Dari sekian banyak surat undangan yang masuk ke Media Officer Arema, Aremania Uyades masuk kriteria sebagai suporter dengan lapangan desa berkualitas dan cukup mumpuni untuk latihan Arema.
Adalah Arie Yudhi Baskoro, Aremania Uyades yang sukses menyambungkan keinginan suporter untuk mengundang Arema ke Sedayu. Bahkan, komunikasi awal antara Arie dan Media Officer pun tidak disengaja. “Saya terkoneksi dengan Media Officer lewat Twitter. Saat Aremafc.com bikin tweet, saya carbon copy sekaligus mention, eh ternyata nyambung,” tegas Arie kepada Malang Post.
Setelah saling mention di Twitter, Arie pun mengutarakan keinginan Aremania Uyades untuk mengundang Arema latihan di Lapangan Sedayu. Pihak Media Officer, mempersilakannya. Arie datang ke kantor Arema sambil membawa surat resmi undangan untuk tim asuhan Suharno-Joko Susilo.
Tapi, ternyata bukan hanya Sedayu yang ingin mendatangkan Arema untuk latihan di lapangan desa. Banyak korwil lain juga mengirim undangan yang sama. Tapi, setelah ada survey dari Sekretaris Arema M Taufan dan Pelatih Joko Susilo, lapangan Sedayu Koramil terpilih sebagai lapangan latihan blusukan perdana Arema di tahun 2014.
“Senin (22 September) malam, saya dapat kabar bahwa Arema mau latihan di lapangan Sedayu. Langsung saya kabari dulur-dulur Aremania Uyades yang lain, untuk persiapan menyambut kedatangan Arema. Kita sibuk sekali selama tiga hari,” tandas suporter yang biasa mendukung Arema di tribun selatan Kanjuruhan ini.
Paling utama, Aremania Uyades menghubungi pengelola Lapangan Desa Sedayu agar ada proses steril. Selama tiga hari sebelum Arema latihan Kamis lalu, lapangan sama sekali tidak boleh dipakai latihan. Aremania Uyades menjaga lapangan agar kondisi rumput sempurna dan tidak rusak.
Setelah itu suporter bergerak mencari sponsor tambahan dari usaha-usaha lokal di Sedayu dan Turen. Para sponsor menyumbang peralatan olahraga seperti bola agar nama usahanya terpampang di Lapangan Sedayu. “Bola dan peralatan olahraga hasil sumbangan sponsor lokal, langsung kita berikan pada SSB Tiga Putra, yang latihan di Lapangan Sedayu Koramil,” terang Arie.
Animo Aremania Sedayu dan sekitarnya dalam menyambut Sunarto dkk, sangat besar. Bahkan, setelah latihan selesai hari Kamis sore lalu, suporter masih berusaha memburu foto bersama pemain idolanya ke rumah pemain asli Turen, Benny Wahyudi. Pasalnya, Benny menjamu rekan satu timnya di kediaman Turen.
Puluhan suporter mengikuti kendaraan Arema yang bergerak menuju rumah Benny. Secara bergantian, suporter kulonuwun ke rumah Benny untuk minta foto dengan Beto Goncalves dkk. Hal ini terjadi hingga para pemain Arema masuk kembali ke kendaraan tim dan pulang ke Malang.
Nurcholis, staf pelatih SSB Tiga Putra sekaligus panitia latihan blusukan Arema di Sedayu, mengakui besarnya animo Aremania dan warga Sedayu untuk melihat tim pujaannya dari jarak dekat. “Kehadiran Arema di Sedayu sudah jadi perbincangan sejak berita Malang Post muncul. Masyarakat sempat tidak percaya, tapi begitu melihat tim ini benar-benar datang, tentu kami sangat antusias,” tutur pria 44 tahun ini.(fino yudistira/han)
 

Perjuangan Aremania Sukseskan Latihan blusukan perdana Di Lapangan Sedayu

SUKSES : Aremania Uyades saat berfoto bersama pelatih Arema Suharno dan Direktur Arema Ruddy Widodo di kediaman Benny Wahyudi, pemain Arema asli Turen.

Arema Cronus sukses menggelar event latihan spesial di lapangan Desa Sedayu Koramil, Kamis lalu. Ratusan warga datang dan memenuhi lapangan. Skuad Singo Edan pun makin dekat dengan suporter. Dibalik kesuksesan event perdana latihan lapangan desa ini, ada Aremania Uyades yang getol memperjuangkan Arema agar bisa latihan di Lapangan Sedayu. Berikut ceritanya.

Wajah Suharno, Pelatih Arema Cronus sumringah. Skuad Arema sukses latihan blusukan desa, perdana di Lapangan Desa Sedayu, Kamis sore lalu. Suporter Singo Edan dari Desa Sedayu dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan kehadiran skuad Arema. Pemain pun mendapat motivasi baru di saat sibuk persiapan lawan PS Semen Padang di 8 besar ISL 2014.
Pertemuan langsung dengan suporter di level bawah membuat wajah para pemain segar. Pemain pun merasakan kedekatan dengan para pendukung setianya di Stadion Kanjuruhan tiap laga kandang. Pendek kata, para pemain dan tim pelatih merasakan sukses latihan dan sukses pendekatan dengan masyarakat Sedayu.
Bahkan, Suharno memuji kualitas lapangan Sedayu. “Untuk ukuran lapangan desa, Lapangan Sedayu Koramil ini sangat baik. Terlihat kalau dirawat. Rumputnya hijau dan segar. Kualitas tanahnya juga baik, tidak kering. Pantulan bola normal karena tanahnya empuk,” tegas Suharno, di sela-sela latihan di Lapangan Sedayu Koramil, Kamis lalu.
Namun, dibalik kesuksesan latihan di Desa Sedayu, ada sosok Aremania Uyades yang cukup repot mempersiapkan acara latihan blusukan desa ini. Dari sekian banyak surat undangan yang masuk ke Media Officer Arema, Aremania Uyades masuk kriteria sebagai suporter dengan lapangan desa berkualitas dan cukup mumpuni untuk latihan Arema.
Adalah Arie Yudhi Baskoro, Aremania Uyades yang sukses menyambungkan keinginan suporter untuk mengundang Arema ke Sedayu. Bahkan, komunikasi awal antara Arie dan Media Officer pun tidak disengaja. “Saya terkoneksi dengan Media Officer lewat Twitter. Saat Aremafc.com bikin twit, saya carbon copy sekaligus mention, eh ternyata nyambung,” tegas Arie kepada Malang Post.
Setelah saling mention di Twitter, Arie pun mengutarakan keinginan Aremania Uyades untuk mengundang Arema latihan di Lapangan Sedayu. Pihak Media Officer, mempersilakannya. Arie datang ke kantor Arema sambil membawa surat resmi undangan untuk tim asuhan Suharno-Joko Susilo.
Tapi, ternyata bukan hanya Sedayu yang ingin mendatangkan Arema untuk latihan di lapangan desa. Banyak korwil lain juga mengirim undangan yang sama. Tapi, setelah ada survey dari Sekretaris Arema M Taufan dan Pelatih Joko Susilo, lapangan Sedayu Koramil terpilih sebagai lapangan latihan blusukan perdana Arema di tahun 2014.
“Senin (22 September) malam, saya dapat kabar bahwa Arema mau latihan di lapangan Sedayu. Langsung saya kabari dulur-dulur Aremania Uyades yang lain, untuk persiapan menyambut kedatangan Arema. Kita sibuk sekali selama tiga hari,” tandas suporter yang biasa mendukung Arema di tribun selatan Kanjuruhan ini.
Paling utama, Aremania Uyades menghubungi pengelola Lapangan Desa Sedayu agar ada proses steril. Selama tiga hari sebelum Arema latihan Kamis lalu, lapangan sama sekali tidak boleh dipakai latihan. Aremania Uyades menjaga lapangan agar kondisi rumput sempurna dan tidak rusak.
Setelah itu suporter bergerak mencari sponsor tambahan dari usaha-usaha lokal di Sedayu dan Turen. Para sponsor menyumbang peralatan olahraga seperti bola agar nama usahanya terpampang di Lapangan Sedayu. “Bola dan peralatan olahraga hasil sumbangan sponsor lokal, langsung kita berikan pada SSB Tiga Putra, yang latihan di Lapangan Sedayu Koramil,” terang Arie.
Animo Aremania Sedayu dan sekitarnya dalam menyambut Sunarto dkk, sangat besar. Bahkan, setelah latihan selesai hari Kamis sore lalu, suporter masih berusaha memburu foto bersama pemain idolanya ke rumah pemain asli Turen, Benny Wahyudi. Pasalnya, Benny menjamu rekan satu timnya di kediaman Turen.
Puluhan suporter mengikuti kendaraan Arema yang bergerak menuju rumah Benny. Secara bergantian, suporter kulonuwun ke rumah Benny untuk minta foto dengan Beto Goncalves dkk. Hal ini terjadi hingga para pemain Arema masuk kembali ke kendaraan tim dan pulang ke Malang.
Nurcholis, staf pelatih SSB Tiga Putra sekaligus panitia latihan blusukan Arema di Sedayu, mengakui besarnya animo Aremania dan warga Sedayu untuk melihat tim pujaannya dari jarak dekat. “Kehadiran Arema di Sedayu sudah jadi perbincangan sejak berita Malang Post muncul. Masyarakat sempat tidak percaya, tapi begitu melihat tim ini benar-benar datang, tentu kami sangat antusias,” tutur pria 44 tahun ini.(fino Yudistira) 

Page 1 of 57

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »