Malang Post

Features


Terbitkan Buku di Malaysia, Jadi “Pembunuh Berantai” Saat Menulis

Share
Cerita mistis dari sang nenek, di tangan Dwi Ratih Ramadhany disulap menjadi sebuah kisah horor yang merasuki pembaca. Dara kelahiran 3 Maret 1993 ini adalah penulis berbakat yang membanggakan Universitas Negeri Malang. Betapa tidak, karya novelnya bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa melayu di Malaysia.

Bagi Ratih sapaan akrabnya, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Perasaan gelisah, jenuh, takut dan bosan, bisa ia ubah dalam baris-baris kata yang bercerita. Mahasiswi jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM) ini berani mengekspresikan diri.
Dimulai dari menulis cerpen-cerpennya, ia kini adalah penulis muda yang karyanya patut diperhitungkan. Gadis kelahiran Madura ini, sejak 2011 silam resmi menjadi mahasiswi UM. Tidak ada cita-cita, menjadi penulis muda seperti saat ini. Baru sejak pertengahan 2012, kegiatan tulis menulis mulai ia dalami dengan bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) UM.
Satu per satu cerpen ia hasilkan. Kebanyakan cerpen buatannya, beraliran horor dan mistis. Cerita-cerita horor tersebut, terinspirasi dari cerita-cerita sang nenek, Hj Djoehairiyah Ikram (76 tahun) yang ia dengarkan setiap kali pulang ke Madura. Sang nenek, bercerita mengenai hal-hal menakutkan, berbau mistis, serta berbau zaman penjajahan Belanda, maupun Jepang. Cerita-cerita sang nenek, ia tuangkan dalam sebuah tulisan.
Proses menulis cerpen horor itu terus menerus ia lakukan. Tidak tanggung-tanggung, bila sudah di depan laptop untuk menulis, Ratih bisa menghabiskan waktu seharian. Sesekali cerpennya ia kompetisikan dalam lomba-lomba tingkat lokal, maupun nasional. Alhasil, jerih payahnya dalam menulis terjawab pada 2014 awal lalu. Ia terpilih untuk menulis sebuah novel bersama dua orang penulis lain dari Aceh dan Jakarta.
Sekitar lima bulan, jadilah sebuah novel karya Ratih, bersama dua penulis lainnya, Marisa Jaya dan Rizky Novianty. Novel terbitan Gramedia itu menceritakan tentang seorang badut yang ditemukan tewas tiba-tiba. Namun, pasca kematian badut bernama Oyen itu, suasana di kampung mulai mencekam. Tragedi pembunuhan, beruntun-runtun terjadi di sana. Mulai dari situ, kisah mencekam mewarnai novel Badut Oyen.
"Banyak tragedi pembunuhan terjadi di dalam cerita tersebut. Ya, saat menulis saya membayangkan telah membunuh banyak orang dalam tulisan-tulisan saya," ungkap Ratih saat ditemui Malang Post beberapa waktu lalu.
Ditambahkan, memang Ratih senang menulis film horor, namun sebenarnya ia merupakan seorang wanita yang takut horor. "Jadi kadang-kadang, kalau saya menulis cerita horor saya suka parno sendiri," ungkapnya.
Nah, hebatnya, sekarang tak hanya masyarakat Indonesia saja yang bisa menikmati kisah dalam badut oyen. Warga dari negara lain, kini bisa menikmati cerita yang Ratih ciptakan. Sekitar 11 Juli 2015 kemarin, Badut Oyen diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia. "Waktu saya mendengar kabar itu, jelas saya tak menyangka kalau tulisan saya bisa dibaca oleh masyakat di negara lain," terangnya.
Anak dari pasangan Mohammad Farid Wadjady dan Rasmiati ini seraya berharap buku-buku tersebut bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Sudah lebih dari 30 cerpen ia hasilkan, tiga buku ia terbitkan dan berkontribusi pada enam buku antalogi yang diterbitkan secara indie, maupun komersil. Semua karya tulisnya, ia buat kurang dari tiga tahun. Buku-buku yang sudah diterbitkan, selain Badut Oyen, ada Kota Kata Kita.
"Sekarang saya juga masih mengerjakan proyek novel. Judulnya masih rahasia, rencananya novel ini selesai sebelum lebaran. Nanti, saya akan coba terbitkan," imbuhnya,
Selain sedang sibuk menggarap novel, wanita yang sudah hampir menyelesaikan masa kuliahnya ini juga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah festival menulis dan membaca internasional di Ubud, Bali, yakni Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Festival yang menghadirkan sekitar 100 penulis muda dan berbakat dari sekitar 20 negara ini, akan digelar pada Oktober-November 2015 mendatang.
Festival yang berlangsung selama lima hari ini juga akan dihadiri oleh penulis-penulis internasional. Mereka adalah penulis buku 'The Reluctant Fundamentalist' berkebangsaan Pakistan Mohsin Hamid, pemenang penghargaan 'Stella Prize 2015' Emily Bitto, profesor Mazin Qumsiyeh, seorang peneliti di Betlehem dan Universitas Birzei dan direktur Museum Sejarah Alam Palestina, Tony and Maureen Wheeler
Ratih sendiri, merupakan satu dari 16 penulis asal Indonesia yang diundang datang dan didanai. Ia berhasil melalui dua tahap seleksi yang diikuti oleh sebanyak 595 penulis dari 168 kota di 25 provinsi tersebut. Dengan mengikuti festival ini, lagi-lagi, karya Ratih berkesempatan untuk diterbitkan di luar negeri. Sebab, bagi karya terpilih nantinya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu diterbitkan dalam antologi  dwi-bahasa festival.
"Dua tahun sebelumnya saya pernah ikut ke Ini merupakan pengalaman berharga, sebenarnya menulis hanya hobi bagi saya, Itu pun terbentuk setelah saya ikut UKMP. Saya tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Saya akan terus menulis dan terus menulis," tutur wanita berambut panjang itu.
Prestasi Ratih sebenarnya sudah mulai tampak sejak beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2013, cerpen-cerpennya sering diterbitkan di media cetak nasional. Ratih juga terpilih dalam kegiatan Akademi Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu. Ratih juga pernah menjadi juara tiga nasional Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) tahun 2014 pada tangkai cerpen.
Di luar dunia tulis menulis, rupanya Ratih juga pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Sastra UM pada tahun 2014 lalu. Ya, wanita yang saat ini masih aktif di komunitas pelangi sastra ini, saat ini mengaku sedang menunggu sidang skripsinya pada minggu-minggu ini. "Setelah ini saya ingin menetap di Malang. Sudah kerasan di Malang," katanya.
Impiannya saat ini, sederhana. Ratih berkeinginan untuk terus menulis, saat gelisah, bosan, maupun jenuh. Menulis bagi Ratih adalah cara untuk menghilangkan kegelisahan tersebut. Baginya, tulisan merupakan cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Apapun yang bisa ia tulis, akan ia tulis.
"Dengan terus membaca, melakukan riset di lapangan, memperhatikan sesuatu, ataupun bertemu dan berbicara dengan orang-orang, saya ingin terus menulis. Terus mengembangkan tulisan saya dengan harapan tulisan saya bisa bermanfaat bagi para pembaca," tandas Ratih sambil berkata bahwa saat ini, dirinya mulai menjajaki genre lain selain horor.(muhamad erza wansyah/ary)
 
comments

Agustinus Tedja Buwana, Pendiri Rumah Belajar Jagalan dan Muharto

Share
Seram, kesan itu yang kali pertama berkelebatan di pemikiran ketika melihat sosok Agustinus Tedja Buwana. Rambutnya gondrong, tangan kanan kirinya bertato pula. Di balik sosoknya yang sangar, dia ternyata memiliki kepedulian luar biasa terhadap pendidikan anak-anak jalanan.

Ya, lebih dari 19 tahun, pria gondrong ini berkecimpung di bidang kemanusiaan. Salah satunya memberikan pendidikan kepada anak-anak jalanan. Relawan yang dia rangkul pun juga bukan orang sembarangan, ada beberapa yang berpenampilan mirip dirinya. Namun, meski sangar, mereka memiliki skill luar biasa di bidangnya masing-masing.
Menurut Tedja, setiap anak bangsa wajib mendapatkan pendidikan formal, setidaknya 9 tahun. Meskipun kewajiban itu kerap kali terlupakan, oleh anak-anak kaum marginal. Mereka justru memilih mencari uang untuk membantu orang tua, atau mencari uang untuk bisa jajan, dibanding mengenyam pendidikan.
Pendidikan tak menjadi prioritas. Uang yang menjadi prioritas. Dengan uang, para anak jalanan ini berpikir hidup akan menjadi lebih mudah. Bahkan dengan uang, kekuasaan pun dapat terbeli.
“Mainset inilah yang menjadi momok. Mereka adalah masa depan bangsa. Apapun statusnya, mereka harus mengenyam pendidikan  9 tahun,’’ pria yang menjabat Koordinator Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) itu.
Dengan nada meninggi, pria berambut gondrong ini mengatakan sekolah bukan hal yang mudah bagi anak-anak jalanan.
Jangankan 9 tahun, bisa lulus sekolah dasar itu sudah luar biasa. “Kami pernah mengumpulkan orang tua anak-anak jalanan, di mana keberatan mereka menyekolahkan adalah biaya. Karena sekalipun pemerintah sudah memastikan sekolah gratis, tapi masih ada sekolah yang menarik pungutan,’’ kata pria yang akrab disapa dengan nama Tedja ini.
Biaya itu menjadi beban orang tua. Apalagi, penghasilan mereka pas-pasan. Alhasil, anak-anak pun memilih turun ke jalan. Dengan panasnya terik matahari, serta asap knalpot yang sangat menyesakkan, anak-anak jalanan mencari hidup.
Fakta inilah yang membuat Tedja dan para pengurus JKJT mendirikan rumah belajar. “Dari awal kami berdiri untuk menampung dan membina anak-anak jalanan. Kalaupun mereka tidak bisa bersekolah resmi karena alasan biaya, kami memberikan wadah bagi mereka untuk mengenyam pendidikan,’’ urainya.
Ada dua rumah belajar yang didirikan oleh JKJT. Yaitu di wilayah Jagalan dan Muharto. Di rumah belajar ini, anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. “Rumah belajar tidak seperti sekolah pada umumnya. Di sini, seluruh anak bisa belajar dengan metode pendampingan. Mereka tidak dikumpulkan perkelas, tapi belajar bersama-sama,’’ kata pria asli Malang ini sembari mengatakan pembelajaran hanya dibedakan usia anak-anak, remaja dan dewasa.
Di rumah belajar ini, tidak ada guru. Tapi pendamping. Para pendamping inilah yang memiliki peran, memberikan pembelajaran kepada anak-anak binaan yang berkumpul. “Pendamping dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa, tapi juga anak-anak sini juga,’’ kata pria berambut gondrong ini, sembari meminta Malang Post tidak salah persepsi, tentang pendamping dari JKJT.
Itu karena umumnya, para pengurus atau pendamping yang terlibat di rumah belajar adalah  mereka yang memiliki tubuh penuh tato, berambut gondrong dan menggunakan pakaian seadanya.
“Meskipun punya tato banyak, berambut gondrong, tapi mereka yang melakukan pendampingan adalah mereka yang memiliki skill. Sehingga pembelajaran yang diberikan pun tidak keliru, dan ke depannya mampu menjadi bekal usaha,’’ urainya.
Dia mencontohkan keahlian para pendamping adalah, merangkai kamera CCTV, menjahit, fotografi dan lainnya. Rumah belajar dikatakan Tedja sebagai ajang para anak-anak untuk mendapatkan pengalaman, selain mendapat ilmu pengetahuian. Sehingga begitu, mereka mengikuti seluruh pelajaran yang diberikan, agar bisa membuka usaha.
Sementara untuk tempat, Tedja mengatakan tidak jarang menggunakan rumah warga. Seperti di Muharto, rumah belajar ditempatkan di rumah Sulastri salah satu warga. Di Muharto, rumah belajar digelar pukul 15.00 WIB. Rumah tersebut tidaklah besar. Bahkan bisa dibilang sempit. Untuk duduk saja, anak-anak harus berdesakan. Kondisi tersebut tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar. Itu terbukti sekali gelaran, ada 15-25 anak yang ikut belajar.
Mereka datang dengan sangat antusias, sambil membawa peralatan belajar, seperti buku dan pensil, mereka siap menerima materi pelajaran yang diberikan para anggota JKJT dan para sukarelawan.
Anak-anak ini terlihat sangat menikmati. Mereka tidak terganggu dengan tempat yang sempit, ataupun pembimbing yang badannya penuh dengan gambar tato. Sebaliknya, mereka datang dengan tulus, dengan tujuan belajar.
“Sukses itu bukan modal kuncinya. Tapi kemauan. Kalau mereka memiliki kemauan, ditambah usaha, modal itu datang dengan sendirinya,’’ tegasnya.
Dengan pendamping yang kelihatan sangar itu, tidak jarang dari mereka orang tua yang mencemooh. Bahkan, dengan terang-terangan melarang anaknya ikut, dengan alasan khawatir anaknya justru menjadi pelaku kriminal.
“Itu wajar, karena umumnya orang memandang bertato itu adalah pelaku kriminal. Tapi jangan salah, kami bertato tapi kami kaya ide. Ide-ide inilah yang kami sumbangkan kepada masyarakat,’’ tambah pria yang berkantor di Jalan Blitar no 12 ini.
Tapi untuk pendamping lain, tidak jarang ada mahasiswa yang datang membantu.
“Rumah belajar itu sifatnya sekadar menampung. Tapi kami tetap berusaha, mereka yang tidak bersekolah mengenyam pendidikan resmi. SD, SMP maupun SMA, secara gratis. Termasuk kesehatan, anak jalanan ini menjadi prioritas kami. Mereka yang sakit tidak dipungut biaya saat berobat,’’ terangnya.
Aksi sosial Tedja dengan lembaga JKJT nya memang tidak sekadar itu. Banyak aksi sosial lain yang sudah dilakukan. Diantaranya adalah mengikutsertakan anak binaannya ikut dalam nikah masal, memperjuangkan surat atau identitas dan lainnya.
Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur berdiri tahun 1996. Melewati tiga era perubahan yang akhirnya terbakukan dari semangat segelintir kepedulian insani insani muda pada perubahan dan kejadian kejadian yang dialami bangsa ini. Kepedulian itu tidak muncul dengan sendirinya kalau tidak dikarenakan oleh rasa iba muncul begitu saja pada kekurangan diri sendiri untuk berbuat bagi sesama.
Dimulai dari Jaringan Relawan Kemanusiaan Jawa Timur pada tahun 1996, kemudian menjadi Jaringan Kemanusiaan Komisi Kepemudaan Malang dan terbakukan dalam Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur pada tahun 2002.
“Kami memiliki visi komunitas kemanusiaan adalah mengangkat derajat dan hak kebersamaan untuk membantu sesama dalam lingkup giat yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada di lingkungan terdekat sampai tak terbatas. Dalam hal ini penyiapan generasi penerus untuk memiliki kepedulian pada sesama adalah utama dalam giatnya,’’ pria yang lahir tahun 1970 ini.
Sedangkan misi JKJT adalah menjadikan potensi giat kemanusiaan untuk berbuat dengan hati dan segenap keterbatasan untuk sesama. Menjadikan budaya bangsa sebagai salah satu fundamental penting dalam melaksanakan hakekat dari Pancasila dan UUD 1945. Sejak berdiri, JKJT memiliki banyak anak binaan. Bahkan, setiap tahun bertambah. Bahkan saat ini, anak binaan dari JKJT sudah mencapai 1.500 orang. Mereka tidak hanya di Kota Malang tapi berada di lingkup Jawa Timur.
“Tidak sedikit dari anak binaan JKJT sukses. Ada yang menjadi pengusaha, ada juga yang jadi PNS, atau berwiraswasta. Intinya, jika mau berjuang, mereka bisa mendapatkan yang diinginkan. Sementara kami, hanya sebagai pendukung saja,’’ tandas Tedja.(ira ravika/ary)
 
comments

Tiga Mahasiswa UMM Ciptakan Tas Pembangkit Listrik untuk Gadget

Share
Terinspirasi dari peralatan perang tentara Amerika Serikat. Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menciptakan tas elektrik pembangkit listrik. Tas ini berguna untuk mengisi daya baterai pada gadget yang dimiliki pengguna, dimana saja berada dan kapan saja.

Keberadaan gadget sekarang ini menjadi kebutuhan primer di kalangan masyarakat. Selain fasilitas dan fitur yang sangat lengkap, gadget mampu memberi ”kehidupan” tersendiri bagi penggunanya. Tingkat urgensi yang tinggi ditambah cepatnya mobilitas manusia saat ini, akhirnya membuat gadget tahan lama diburu masyarakat.
Sayangnya, canggihnya teknologi gadget tak diimbangi dengan daya tahan baterai yang tinggi. Alhasil muncullah teknologi power bank yang mampu menyuplai daya untuk beberapa gadget seperti smartphone dan tablet.
Meski begitu, penggunaan power bank juga terkendala pada pengisian daya listrik. Terkadang orang lupa mengisi daya power bank. Selain itu, pengisian daya power bank juga membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Dari masalah itulah, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yakni Basri Noor Cahyadi, Muhammad Saukani, dan Ahmad Wildanul Firdaus berkreasi membuat tas elektronik pembangkit listrik yang mampu menampung daya listrik sebesar 30.000 MAh.
Hebatnya, daya yang dihasilkan tas elektronik ini bukan berasal dari aliran listrik rumah tangga. Namun dari sinar matahari dan tekanan yang bisa didapatkan dengan mudah.

Kepada Malang Post, Basri, koordinator kelompok itu mengatakan, ia hanya membutuhkan tas punggung, dua lempengan solar cell yang mampu menghasilkan tegangan hingga 24 volt. Serta  18 keping piezoelectric yang mampu menghasilkan 900 milivolt. Dan satu regulator untuk menjadikannya sebuah tas electric siap pakai.
Meski begitu, tas itu tetap ringan dan memiliki banyak ruang layaknya tas punggung di pasaran. Mahasiswa jurusan teknik elektro itu mengaku mendapatkan ide membuat  inovasi dari peralatan perang tentara Amerika Serikat yang dilengkapi dengan solar cell.
”Biasanya memang dipakai oleh kalangan militer Amerika Serikat yang digunakan dalam misi perang di Timur Tengah. Tas itu digunakan untuk menghidupkan radio komunikasi. Karena radio itu nggak boleh mati, maka mereka butuh energi listrik yang banyak. Dari situlah akhirnya kami kepikiran bikin tas ini,” ungkap mahasiswa asal Ponorogo tersebut.
Karena solar cell dianggap masih kurang, Basri dan kawan-kawan akhirnya menambahkan piezoelectric untuk memperbesar sumber daya listrik. Jika solar cell membangkitkan listrik dengan tenaga matahari, maka piezoelectric menghasilkan tenaga listrik dari adanya tekanan.
Cara penggunaan tas electric itupun sangatlah mudah. Pengguna hanya perlu menggunakannya untuk ke kampus atau kemanapun akan pergi. Saat tas berpaparan dengan sinar surya, maka otomatis akan langsung menghasilkan energi listrik yang disimpan dalam baterai yang tersimpan di regulator.
Selain itu, tas juga bekerja dengan adanya tekanan yang dihasilkan dari pergerakan tangan dan pundak. Pergerakan itu menghasilkan tekanan ke belasan kepingan Piezoelectric. Daya yang dihasilkan dari tekanan itu juga secara otomatis akan disimpan dibaterai regulator.
”Di regulator kan ada lampu indikator. Kalau penuh empat lampu akan menyala. Dan gadget bisa langsung dicas didalam tas layaknya menggunakan power bank,” urai Basri.
Untuk memaksimalkan penghasilan daya, dua lempengan solar cell diletakkan di bagian depan tas agar mampu menangkap cahaya surya dengan mudah. Sedangkan untuk piezoelectric disematkan dalam penyangga tas untuk mendapatkan tekanan dari pundak dan punggung.
“Kalau tas dipakai kan biasanya pundak bergerak. Dari gerakan itu nanti akan menghasilkan tekanan ke piezoelectric dan akan menghasilkan listrik yang disimpan dalam baterai yang ada di regulator,” tandas alumnus pesantren Gontor tersebut.
Karena inovasinya itu, Basri dan kawan-kawan tidak hanya mampu menembus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) saja. Namun juga mendapatkan penghargaan berupa pembiayaan Hak Atas Kekayaan Intelektual dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI.
Sejumlah Rp. 15 juta digelontorkan untuk tim Basri agar bisa mematenkan produk inovatifnya tersebut.
”Untuk pendaftarannya sudah selesai kami lakukan. Kami masih menunggu hasil dan surat keterangan pemilik hak paten. Memang butuh waktu lama karena antreannya yang cukup panjang,” papar Saukani.
Nantinya, setelah hak paten ada di tangan Basri dan tim, mereka berencana akan mengkomersilkannya menjadi sebuah usaha tas elektrik. Namun, Basri sendiri mengaku masih perlu melakukan perancangan tambahan termasuk mengganti lempengan solar cell saat ini dengan yang lebih canggih lagi.
”Yang sekarang ini harganya lebih murah dan penyerapan cahaya suryanya masih kurang kuat. Ini buatan Indonesia. Kami sudah membeli solar cell yang bagus dari Cina,” ujar Basri.
Begitu juga dengan Piezoelectric, Basri dan kawan-kawan akan mencari produk yang kualitasnya lebih tinggi dari yang sekarang dipakai. Hal itu bertujuan untuk memperbesar daya yang dihasilkan oleh tas elektric tersebut.
”Kalau piezoelectric yang bagus nggak perlu beli di Cina karena di Indonesia sudah ada,” pungkas Basri.(nunung nasikhah/ary)
comments

Berbekal Ide Pengembangan Pariwisata Batu, Singkirkan Ratusan Ribu Pendaftar

Share
Awaluddin Firmansyah berfoto di depan Stasiun Shinagawa yang merupakan tertua di Jepang.

Mahasiswa ITN Malang Ikuti Perjalanan Inspirasi ke Jepang
MAHASISWA Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berkesempatan ke Jepang selama 6 hari dalam program Perjalanan Inspirasi Art Challenge. Acara ini digelar oleh salah satu perusahaan rokok dan diikuti sekitar 100 ribu pendaftar. Awaluddin Firmansyah, Mahasiswa Angkatan 2010 Jurusan Teknik Elektro ITN Malang beruntung karena bisa lolos sebagai salah satu dari 4 finalis yang dibawa jalan-jalan ke Negeri Sakura itu.
Wajah lelah masih terlihat dari mahasiswa asal Sidoarjo ini ketika bertemu wartawan Malang Post di kantor Humas ITN Malang, beberapa waktu lalu. Enam hari di Jepang dan disambung acara grand final, (10-17/6/15) cukup menguras tenaganya. Apalagi, selama di sana ia harus memotar otak untuk menghasilkan ide-ide baru dari berbagai tempat yang dikunjungi.
“Waktu itu semuanya asyik naik wahana di Disney Sea Tokyo Jepang, sementara saya sibuk berfikir ide apa yang bisa saya tulis,” ujarnya sambil tersenyum.
Aktivis Himpunan Mahasiswa Aktivis Pecinta Alam (HIMAKPA) ITN Malang ini sukses menjejakkan kaki di Jepang berkat kejeliannya. Kala itu, ada gathering di Kota Malang untuk menyosialisasikan program Perjalanan Inspirasi Art Challenge. Acara ini diikuti semua komunitas dan kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa dan lainnya. Dalam pertemuan tersebut juga dihadirkan sejumlah pembicara. Peserta di Malang langsung ditantang untuk menuliskan ide mereka, dan Awal pun memilih tentang program lingkungan yang sudah digarapnya. Ia dan teman-temannya di HIMAKPA punya program penanaman jambu biji di daerah lereng yang ada di Batu.
“Saya melihat tulisan peserta yang lain terlalu abstrak, seperti ingin membahagiakan orangtua. Waktu itu saya cukup percaya diri dengan mendaftarkan ide program lingkungan untuk pariwisata ini,” bebernya.
Program pengembangan pariwisata tersebut sebenarnya adalah program Hibah Bina Desa yang dimenangkan oleh mahasiswa HIMAKPA ITN Malang. Mereka melakukan penanaman 1300 bibit pohon jambu merah di lahan petani Dusun Lemah Putih Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
Ide itulah yang dituliskan oleh Awaluddin dan membuatnya memenangi kesempatan jalan-jalan ke Jepang.
Perjalanan inspirasi yang harus ditempuh Awal dan finalis lainnya memang bukan wisata biasa. Karena, di setiap tempat yang dikunjungi, mereka harus membuat tulisan yang inspiratif. Apa yang dirasakan, dialami dan ditemui di tempat-tempat yang dikunjungi, harus bisa dituliskan dengan baik. Sehingga kunjungan itu juga bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
 “Cukup menegangkan juga karena saya harus menyambungkan ide tulisan awal saya dengan berbagai tempat wisata dan bersejarah yang dikunjungi selama di Jepang,” ujarnya.
Ada empat kali tantangan yang harus dilalui peserta, yang di tiap tantangan itu disiapkan hadiah istimewa bagi yang menuliskan ide terbaik. Ada kacamata Oakley, jam tangan G-Shock, kamera pocket dan tas Oakley.
Tantangan hari pertama adalah seni. Rombongan berkunjung ke Kuil Kiyomizu yang terkenal dengan bangunan tanpa paku. Awal menemukan sesuatu yang unik di salah satu warisan budaya di Jepang ini. Ia melihat sebidang tanah miring di dekat kuil yang diberi sekat di sekitarnya.
“Tanah yang berbentuk lereng itu diberi sekat dari kayu untuk menjaga agar tanamannya tidak tergerus saat hujan,” ujarnya.
Ide itu menurutnya cocok diterapkan khususnya dalam penanaman pohon jambu yang lokasinya berada di lereng.
Tantangan hari ke 2 adalah determination yang berarti kegigihan. Mereka diajak untuk melihat museum Yamaha di Shizouka. Kemudian mengunjungi danau Kawaguchi. Salah satu danau tercantik di dunia ini begitu memesona, kawasannya bersih, rapi dan pemanfaatan lahannya tepat guna.
“Tak ada penebangan pohon yang percuma, kalau memang sudah cukup untuk bangunan maka pohon yang ada di sekitarnya dibiarkan tetap tumbuh,” ujar Awal.
Pada tantangan ke tiga inilah, Awaluddin sukses merebut hadiah tas merk Oakley. Kegigihannya dalam menggali sesuatu yang unik dan inovatif dianggap sebagai ide yang terbaik. Karena itu, ia layak mendapat hadiah yang telah disiapkan.
Mahasiswa asal Sidoarjo ini menuturkan, tantangan hari ke tiga laksana mimpi yang jadi kenyataan baginya. Ia bisa melihat langsung robot masa depan Asimo di Museum Miraikan. Dari Miraikan, mereka dibawa ke Toyota untuk menghadapi tantangan hari ke tiga yakni Believe yang berarti keyakinan.
“Di Toyota inilah saya melihat ada taman yang di tanahnya bukan tumbuh rumput, tapi karpet berwana hijau seperti rumput,” ujarnya.
Teknik ini dipakai untuk menjaga kelembaban tanaman yang di taman tersebut. Baginya, hal itulah yang bisa menginspirasi untuk pengembangan idenya terkait kawasan wisata jambu biji di Batu.
Pada hari ke empat, empat orang pemenang perjalanan inspirasi ini ditantang dengan tema Creativity yang menggali kreativitas mereka. Wisata yang dituju adalah Disney Sea Tokyo. Di kota super canggih ini, bukan aneka wahana yang menarik hati Awal. Melainkan pepohonan di sekitar tempat wisata yang cukup unik. Pohon-pohon tersebut diberi tiang pancang di sisinya.
“Saya bertanya kepada salah satu guide, katanya itu untuk menahan agar pohon tidak tumbuh terlalu tinggi dan tahan goncangan angin,” kata dia.
Pohon dan tiang pancang inilah yang menjadi inspirasinya di hari ke empat wisata tersebut. Bahkan, saking seriusnya, ia sampai lupa menikmati beragam atraksi menarik di tempat tersebut.
Awal mengakui, ia banyak terbantu dengan kehadiran seorang seniornya di HIMAKPA yang berkesempatan menemaninya selama di Jepang. Saking semangatnya, bahkan mereka tak berhenti berdiskusi sepanjang perjalanan.
“Kalau di bus biasanya yang lain tidur dan istirahat di kursi masing-masing, kalau saya saling adu argument dengan senior saya itu,” tuturnya.
Meski tak memenangi hadiah utama Rp 100 juta, Awal merasa sangat beruntung bisa mengikuti program tersebut apalagi bisa melihat negara maju itu. Apalagi, usai perlombaan ini masih ada banyak aktivitas yang akan dilakukannya bersama penyelenggara. Misalnya diajak menjadi pembicara dan menginspirasi pemuda lainnya di Indonesia. (lailatul rosida/red)
comments

Pelda Agus Purwanto Pernah Ajari Redfo Malang Post Trik

Share
JATUHNYA Pesawat terbang Hercules C-130 No A-1310 di Medan, pada hari Selasa (30/6), meninggalkan duka mendalam. Apalagi seluruh awak pesawat naas tersebut, berasal dari Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Salah satu kru pesawat itu, Pelda Agus Purwanto, pernah mengajari trik ketinggian pada redaktur foto (redfo) Malang Post Guest Gesang.

Satu jam sebelum kejadian, Pelda Agus Purwanto sempat update status di facebook berada di bandara Polonia Medan. Berbanding terbalik dengan suasana rumah duka di perumahan TNI AU Komplek Kertanegara. Saudara, teman dan rekan kerja korban, tampak memadati rumah dinas yang sederhana tersebut. Mereka juga tengah menunggu kedatangan jenasah korban, yang diberangkatkan dari Kota Medan, Sumatera Utara.
Dari banyak orang di rumah tersebut, ada seorang pria yang tengah sibuk mengoperasikan ponselnya. Dia adalah adik kandung almarhum Pelda Agus Purwanto, bernama Serka Dwi Supriatno. Sejenak aktivitasnya terhenti, ketika mengetahui kedatangan wartawan Malang Post. Pria berusia 43 tahun mengaku bertemu terakhir dengan kakaknya itu pada hari Senin (29/6) satu hari sebelum jatuh di Medan. Saat itu, almarhum Pelda Agus Purwanto meminta diantarkan membeli batu akik Bulu Macan. “Kakak saya ini, memang pencinta akik,” ucapnya. Setelah itu, kakaknya tersebut kembali melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat.
“Kami enam bersaudara. Sedangkan saya, anak nomor kedua. Kami berasal dari Desa/Kecamatan Karangnongko, Klaten,” imbuh Dwi Suprianto. Dari enam bersaudara itu, ketiganya memilih menjadi prajurit TNI AU dan tiga lainnya bekerja swasta.
Menjadi prajurit TNI AU, memang menjadi pilihan ketiganya. Karena bisa mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. “Kami bertiga ini, mempunyai tujuan yang sama. Yakni bekerja sekaligus mengabdikan diri kepada NKRI,” imbuhnya.
Kakaknya itu mempunyai kepribadian baik. Selain itu, Almarhum Pelda Agus Purwanto dikenal supel dan mudah bergaul. Sehingga, alamarhum yang saat ini berusia 49 tahun tersebut, mempunyai banyak teman. Menurutnya, kakaknya itu juga tidak segan mengajari para juniornya yang ada di  Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.
Termasuk almarhum Pelda Agus Purwanto juga kerap memfasilitasi para wartawan dan fotografer saat  joy flight rutin. Selama ini, berkat bantuannya, para wartawan tidak menemui kendala saat menikmati udara menaiki Hercules.
“Almarhum ini tidak sungkan membagikan ilmu yang dimiliki. Dia juga memberikan pengalaman baru, kepada masyarakat yang ingin mencoba pesawat Hercules ini,” terang sang adik.
Sementara itu, Redaktur Foto Malang Post Guest Gesang mengatakan almarhum memberikan pengalaman banyak kepada rekan-rekan media.
“Saya kenal almarhum sejak tahun 2013, ketika itu Lanud Abdulrachman Saleh mengajak rekan-rekan wartawan joy flight menggunakan pesawat Hercules. Saat itu, almarhum yang memberikan instruksi kepada kami, saat berada di dalam pesawat tersebut,” ucapnya.
Lanjut dia, almarhum sosok telaten. Dengan sabar ia memberikan instruksi kepada para wartawan selama di pesawat.
“Joy flight itu, sering diadakan. pernah juga dalam misi mengirim bantuan untuk imigran gelap,” imbuh Ges.
Saat mengirim bantuan itu, Pelda Agus Purwanto member pengalaman berharga. Dia memandu redaktur fotografer Malang Post, berjalan di atas Hercules dengan pintu belakang terbuka. Dari pintu belakang itu, Agus menyebarkan bantuan ke pinggir laut.
“Dari situ saya tahu, bahwa bantuan yang dijatuhkan dari udara, bobotnya tak boleh lebih dari 10 kilogram itu dengan perangkat sederhana,” akunya
Di bawah perlindungan Agus, Guest merasakan langsung berada di pantar Hercules. Awalnya dia mengaku ngeri, namun Agus meyakinkan bahwa pengamannya berlapis.
“Benar, di tubuh saya terpasang pengaman, yang dikaitkan ke karabiner-karabiner, aman pokoknya,” kenangnya.
Sedangkan hingga berita ini ditulis, keluarga korban tengah menunggu kedatangan jenazah Pelda Agus Purwanto. Setelah disemayamkan, jenazah tersebut rencananya akan dikebumikan di Makam Marga Baka komplek Lanud Abdulrachman Saleh.
Di tempat itu pula, nantinya akan dimakamkan empat korban tewas lainnya, akibat jatuhnya Pesawat Hercules. Mereka yakni Peltu Ibnu Kohar, Pelda Andik, Pelda Parijo dan Peltu Ngateman. Sedangkan satu jenazah lainnya yakni Peltu Yahya Komari, akan dimakamkan di TMP Untung Suropati, Kota Malang.(binar gumilang/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL