Malang Post

Features


Temukan Penanda Peradaban di Ranu Kumbolo

RANU Kumbolo menyimpan jejak perabadan masa lalu. Selain terdapat prasasti, danau yang terletak diketinggian 2.400  meter di atas permukaan laut (mdpl) itu diduga masih menyimpan tanda-tanda peradaban asalkan dieksplorasi lagi. Saat sejumlah penanda peradaban  masih tampak di sekitar danau tersebut.
Kabut tebal paling doyan menutup Ranu Kumbolo. Dingin yang menusuk tulang menjadi salah satu identitas Ranu Kumbolo selain pemandangannya yang sangat menawan. Tim Ekspedisi Samala Malang Post mengeksplorasi jejak sejarah lain dari sejumlah penanda yang tampak di sekitar Ranu Kumbolo.
Sebagian permukaan batu besar berada tak jauh dari bibir Ranu Kumbolo dan tanjakan cinta, sebuah tanjakan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Semeru. Rumput liar menutup sebagian permukaan batu vulkanik tersebut.
Bersama beberapa warga Ranu Pani, Tim Ekspedisi Samala  membersihkan batu  yang semula  hanya diduga sebagai batu biasa. Semakin dibersihkan, wajah di permukaan salah satu sisi batu muncul bekas tulisan yang sudah tersamar.
Namun goresan yang membentuk formasi tulisan masih tampak jelas. Hanya saja sudah sangat sulit dibaca. Namun jika diamati secara detail, terdapat sekitar tiga baris bekas tulisan kata atau kalimat.
“Ukuran bekas tulisan di batu ini sama seperti tulisan Pu Kameswara Tirthayatra di prasasti yang terletak di tepi Ranu Kumbolo,” kata Shuvia Rahma dan Bagus Ary Wicaksono, dua anggota Tim Ekspedisi Samala yang melakukan pengukuran jejak tulisan menggunakan meteran.
Ukuran bekas tulisan di batu vulkanik dengan tulisan di prasasti yang juga kerap disebut prasasti Ranu Kumbolo itu sekitar 5 Cm. “Tapi sayang sudah sangat samar. Ini perlu dieksplorasi lagi,” sambung Shuvia.
Tim ahli Ekspedisi Samala, Dwi Cahyono  mengakui tentang kemungkinan jejak tulisan di batu besar itu. Bahkan Dwi semula merasa terpanggil untuk mengeksplorasi jejak peradaban di batu yang dikelilingi rumput itu. “Saya menduga masih terdapat jejak peradaban di sekitar Ranu Kumbolo. Batuan yang tersebar di sekitar bisa saja bukan sekadar batuan biasa,” kata  arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) ini disembari melakukan observasi di tepian Ranu Kumbolo.
Menurut Dwi, beberapa batuan yang tersebar di sekitaran Ranu Kumbolo tak menutup kemungkinan merupakan sisa-sisa peradaban zaman megalitik. Analisanya bersandar pada keberadaan Ranu Kumbolo yang menjadi sumber air. Misalnya sumber air untuk pertanian.
Apalagi tak jauh dari Ranu Kumbolo terdapat pangonan cilik, sebuah lembah yang kemungkinan awalnya terkoneksi dengan Ranu Kumbolo. Hanya saja sekarang di sekitar lembah tersebut sudah kering karena perubahan zaman.
“Ranu Kumbolo ini sangat menarik. Butuh eksplorasi lagi yang lebih dalam untuk mengungkap jejak peradaban di sini. Kalau dieksplorasi terus dan melakukan penelitian secara intens, bisa saja menemukan petunjuk peradaban yang pernah ada di Ranu Kumbolo,” kata Dwi.
Berdasarkan pantauan Tim Ekspedisi Samala, di sekitaran Ranu Kumbolo terdapat sebaran bebatuan. Namun bukan sekadar batu vulkanik biasa yang merupakan bekas letusan Gunung Semeru. Tak jauh dari panggonan cilik terdapat juga sebuah batu yang sebagian masih tertanam. Permukaan batu tersebut datar. Tim ekspedisi Samala telah observasi kondisinya. Namun tak ditemukan bekas aksara yang tersisa.
Namun jika diamati bentuknya yang tertata, bisa saja bebatuan tersebut juga merupakan bagian dari peninggalan zaman megalitik. Hanya saja, sekali lagi, butuh penelitian yang lama untuk membuktikan dugaan-dugaan itu.
Di balik sebaran jejak peradaban di Ranu Kumbolo, masyarakat Ranu Pani memiliki cerita tersendiri. Cerita ‘dunia lain’  danau tersebut tentang ‘penghuni’ Ranu Kumbolo. Tuangkat, salah seorang pegiat budaya Ranu Pani menuturkan, penunggu Ranu Kumbolo bernama Singo Barong. Dinamai Singo Barong karena berdasarkan penglihatan mereka bentuknya menyerupai singa.
“Singo barong itu punya dua putri, yakni Puspo Dewi dan Raja Dewi. Yang Puspo Dewi itu berupa naga putih,” tuturnya. Singo Barong, kata Tuangkat, mendiami prasasti Ranu Kumbolo.
Pendaki maupun wisatawan yang berkunjung ke Ranu Kumbolo tak boleh berbuat sembarangan. Ia lantas mencontohkan, seorang pendaki pernah kemasukan Singo Barong hingga lima hari. Penyebabnya, ternyata pendaki tersebut menjemur pakaian dalamnya di prasasti. Setelah meminta maaf, akhirnya pendaki itu sadar.
Hikayat dan cerita mistis memang terdapat di berbagai tempat, termasuk di Ranu Kumbolo. Namun cerita-cerita tersebut setidaknya tetap memiliki pesan bernilai. Yakni agar berperilaku santun serta tak merusak Ranu Kumbolo dan sekitarnya. “Pendaki selalu diberitahu agar tak membuang sampah sembarangan. Bertutur dan berperilaku yang santun. Setidaknya ikut menjaga Ranu Kumbolo,” kata Tuangkat. (van/han/bersambung)

Makan Besar di Nasi Bug Matira, Ngemilnya di Ketan Legenda 1967

BANGGA : Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira, bangga kedainya didatangi Presiden Terpilih Jokowi.

Presiden Terpilih Jokowi meninggalkan kesan mendalam di Malang Raya. Selama kampanye pemilihan calon presiden beberapa waktu lalu, ia juga memiliki tempat kuliner jujukan selama di Malang.  Yakni Nasi Bug Matira di depan kantor Malang Post (Jalan Trunojoyo) Kota Malang dan Ketan Legenda 1967 di Kota Batu.


Gambaran presiden terpilih RI, Joko Widodo atau Jokowi, adalah sosok ramah, murah senyum dan sederhana. Gambaran tersebut diketahui hanya melalui  media massa, baik elektronik maupun cetak. Hal itu wajar saja, karena tidak semua orang berkesempatan bertemu langsung dengannya.
Pasangan suami istri, Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira juga memiliki pendapat serupa. Menurut mereka, mantan gubernur DKI Jakarta itu tidak berbeda seperti apa yang dikatakan di televisi. Sebab, mereka pernah bertatapan langsung dengan Jokowi.
Bagi kedua pasangan yang puluhan tahun mengelola rumah makan khas Madura ini, Jokowi merupakan sosok nan ramah, murah senyum dan akrab dengan masyarakat. Benar apa yang dikatakan televisi, bagi mereka Jokowi benar-benar ramah.
"Bahkan, waktu itu saya sarankan ambil makan sendiri. Ya, akhirnya dia ambil makan sendiri, menuang kuah sendiri dan mengambi lauknya sendiri" ujar Fauzi, panggilan akrab Achmad Fauzi kepada Malang Post kemarin.
Berdasarkan cerita dari Lelly dan Fauzi, Jokowi datang tahun 2014. Tepatnya, sebelum dirinya menjadi presiden RI. Saat itu, Jokowi sedang ada agenda di Malang untuk kampanye. Karena waktu makan siang sudah tiba, mereka mampir ke Warung Bug Matira. Jokowi datang ditemani Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko dan jajaran pimpinan PDIP.
"Banyak yang datang, saya pikir ada sekitar 60 orang datang bersama Jokowi. Waktu itu saya juga berpesan, semoga beliau menjadi presiden. Ternyata sekarang menjadi kenyataan," tandas Fauzi. Namun, pria berdarah Madura ini menyatakan kalau PR Jokowi setelah dilantik hari ini masih besar.
Menurutnya, PR terbesar bagi Jokowi ialah soal ekonomi dan korupsi. Indonesia masih belum tuntas dalam pemerataan ekonomi. Memang masih ada daerah-daerah tertentu yang kemampuan ekonomi tinggi. Tapi, lebih banyak lagi yang kesulitan untuk makan. Soal korupsi, secara implisit Fauzi menyatakan, "Soal korupsi buat apa ditanyakan lagi? Saya harap penyakit itu bisa diberantas," tegasnya.
Istri Fauzi, Lelly pun setuju dengan suaminya. Dia berharap, Jokowi bisa berhasil untuk rakyatnya. "Bukan berhasil untuk dirinya sendiri, bukan berhasil untuk keluarga dan golongannya saja. Tapi, berhasil untuk rakyatnya," jelasnya berharap.
Karena selama ini, dia beranggapan selama ini belum ada yang berhasil dengan maksimal. Yang rakyat kecil lihat, keberhasilan presiden dalam memimpin negara, belum merambat ke masyarakat kecil. Saat kampanye, menggaung-gaungkan janjinya menyejahterakan rakyatnya, ingin memperbaiki pembangunan bangsa. "Tapi toh akhirnya, rakyat masih sama saja, tidak ada perkembangan," terang wanita yang juga berdarah Madura ini.
Soal kesan terhadap Jokowi, Lelly mengatakan kalau kedatangan Jokowi tidak berbeda dengan kedatangan pejabat lain. Hanya saja, saat itu dia tahu kalau ternyata apa yang dikatakan orang dan televisi tentang Jokowi. "Memang sama seperti yang dibilang televisi, ramah dan murah senyum. Dia juga sering bertanya-tanya soal masakan khas Madura kami," pungkasnya.
Tak hanya di Kota Malang, Presiden RI terpilih, Joko Widodo, kehadirannya mampu memberikan makna yang dalam untuk masyarakat Batu. Salah satu tempat yang dikunjungi oleh Jokowi adalah Ketan Legenda 1967 yang berada di Alun-Alun Kota Batu.          
Eko Wicaksono, kasir Ketan Legenda awalnya sempat tidak percaya kalau Jokowi mau berkunjung ke warung ketan mereka. Namun karena yang menelepon adalah Sekpri Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, ia pun bergegas menelepon Sugeng Hadi, pemilik warung ketan ini.           
“Langsung Bapak (Sugeng Hadi-red) saya telepon,” ujar Eko. Waktu itu, Jokowi berkunjung ke Kota Batu sebelum pemilihan legislative (Pileg). Jokowi datang ke warung ketan ini dengan didampingi ER, panggilan akrab Eddy Rumpoko dan Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPC PDIP Kota Batu.           
Sekilas Eko melihat sosok Jokowi adalah orang yang sederhana, murah senyum dan enak untuk diajak komunikasi. Penilaian itu terlihat saat Jokowi memilih menu yang disajikan, bahasa yang dikemukakan oleh Jokowi adalah bahasa rakyat yang mudah dimengerti.           
“Beliau pesan ketan original bubuk, sama kopi serta wedang jahe,” ujar Eko ditemui Malang Post, kemarin (19/10). Melihat orang-orang di sekeliling Jokowi saat itu, semuanya cair tanpa ada kekakuan, malah terkadang terdengar gelak tawa dari meja Jokowi yang berada di sisi Timur Warung Ketan ini.           
Hal senada dikemukakan oleh Sugeng Hadi, ia melihat Jokowi adalah orang yang enak diajak berbicara, sederhana namun memiliki pengetahuan luas dalam banyak hal. Termasuk masalah ketan, Jokowi sangat paham semua proses pengolahan jajanan ini, maklum Jokowi berasal dari Surakarta.           
“Beliau memuji ketannya enak, tak kalah dengan ketan Solo,” ujar Sugeng. Hanya ada beberapa yang sedikit berbeda dari ketan solo dimana selain terdapat parutan kepala dan ditaburi bubuk kedelai diberi siraman juruh (sirup gula Jawa).           
Lain lagi kesan yang ditangkap Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPRD Kota Batu, ia melihat Presiden RI ke-7 ini sosok yang sederhana, lugu, santun, mandiri dan tidak ribet. “Walaupun waktu itu beliau seorang calon presiden, beliau mau bergaul dan berbaur dengan semua masyarakat yang Batu yang ditemui,” ujarnya.           
Ada satu hal yang paling berkesan dirasakan oleh Cahyo waktu itu. Saat itu ia sedang duduk memimpin rapat di aula Hotel Jambuluwuk (seluruh pesertanya adalah Ketua DPC PDIP se-Jatim).       
“Beliau (Jokowi) yang berada di dekat saya, mendadak jari tangannya dilipat diletakkan di paha saya sambil berucap, tolong dibantu ya mas, saya kaget, berapa sopannya beliau,” terang Cahyo.(M. Erza Wansyah/M.Dhani Rahman/ary)  

Didukung Ortu, Rela Rogoh Kocek Puluhan Juta

BERAKSI : Andhi Yulianto saat beraksi di salah satu club ternama beberapa waktu lalu.

Profesi Disc Jockey di Malang mungkin tidak terlalu menjanjikan bagi sebagian besar orang. Namun, Andhi Yulianto membuktikan bahwa dia bisa survive hidup di dunia malam lewat profesi DJ. Bahkan, pada usianya yang masih 24 tahun, Andhi sudah mampu mendirikan komunitas, manajemen dan sekolah DJ.

Nama Andhi Yulianto tidak begitu familiar di telinga clubbers Malang yang eksis di dunia malam. Namun, begitu mendengar kata Andhisouldj, clubbers pasti mengingat sosok berambut jabrik yang agak tembem, dengan aliran musik electro yang khas. Andhisouldj, merupakan nama panggung dari Andhi Yulianto, pendiri komunitas, manajemen dan sekolah DJ, Souldbeat.
Saat menemui Malang Post di Bikers Cafe sekitaran Dieng, Andhi tampak seperti mahasiswa pada umumnya. Kaos berkerah hitam, dengan celana jeans dan sepatu casual, memperkuat kesan mahasiswa. Andhi mengakui, dirinya saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMM.
“Sekarang saya masih kuliah Ilmu Komunikasi di FISIP UMM, umur masih 24,” jelas Andhi. Dengan usianya yang terhitung belia, mungkin tak ada yang menyangka bahwa dia sanggup menghandle manajemen DJ sekaligus mendirikan sekolah untuk profesi tersebut. Souldbeat, nama manajemen dan sekolah Andhi, menjadi salah satu sekolah DJ yang populer di Malang saat ini.
Andhi sekarang memiliki sekitar 20 DJ yang bergabung dalam manajemen dan sekolahnya di daerah Sukarno Hatta. Biasanya, para DJ tersebut main di beberapa tongkrongan dugem, seperti My Place Kartika Graha. Dengan usia yang masih belum seperempat abad, Andhisouldj sudah menancapkan namanya sebagai salah satu DJ sukses di Malang.
Namun, pemuda lajang itu berujar bahwa perjuangannya menuju titik ini tidak diraih dengan bersantai-santai. Walaupun awalnya hanya iseng-iseng, Andhi yang terjun di dunia DJ tahun 2010, merasakan kenyamanan pada profesi ini. Ia menjadi sangat serius menekuni profesi DJ. “Dulu saya anak dugem biasa, ngabis-ngabisin duit tapi gak ada visi. Saya pun mikir, daripada keluar duit terus, kenapa gak sekalian saya kerja di dunia malam. Akhirnya mikir jadi DJ,” ungkap Andhi.
Pemuda yang hobi main gitar itu menerangkan, dia belajar DJ selama 6 bulan dan mencoba manggung di cafe D’Lounge MOG. Satu tahun kemudian, Andhi mengikuti kompetisi DJ di Flame Executive Club. Meskipun Andhi belum mempunyai klub yang mengontrak jasanya saat itu, Andhi mampu menyabet juara 2.
“Setelah dapat juara ini, baru saya memberitahu orangtua (ortu). Dan rupanya dukungan pun diberikan oleh ortu karena saya benar-benar serius. Akhirnya, saya dibelikan beberapa aksesoris DJ untuk mendukung kerjaan saya,” terang Andhi. Restu ortu membuat Andhi makin bersemangat hidup di profesi DJ.
Prestasi demi prestasi pun berlanjut. Pada kompetisi DJ di UMM, Andhi merebut juara. Setelah mewakili Malang, dia sanggup menyabet gelar juara dan mewakili Jawa Timur untuk bertanding di level nasional. Saat bertanding di Jakarta, dia masuk 10 besar DJ terbaik dalam kompetisi DJ level nasional tahun 2011.
Dari situ, jalan untuk berkarir di dunia DJ terbuka lebar. “Saya bisa membangun jaringan dengan banyak orang. Bahkan, saya juga bertemu dengan orang label yang akhirnya menarik saya masuk. Label saya sampai sekarang adalah Jak Clubbers,” ucap penggemar Armin Van Burren, DJ asal Belanda itu.
Setelah modal jaringan dan link yang cukup kuat, Andhi memberanikan diri bikin komunitas. Sebab, dari segi alat, Andhi sudah cukup mapan saat itu. Ia mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk membeli alat musik DJ yang mendukung profesinya. “Kalau mau sukses di dunia DJ, mau tidak mau harus keluar uang banyak. Jer Basuki Mawa Beya,” ujarnya.
Komunitas yang didirikan Andhi, bernama Souldbeat. Komunitas ini mewadahi para pemuda yang ingin belajar DJ namun berbujet minim. Andhi tidak mau sendirian dalam memajukan dunia DJ di Malang. Dia pun mewadahi anak-anak yang bercita-cita jadi DJ lewat Souldbeat. Seiring berjalannya waktu, komunitas itu berubah jadi sekolah, sekaligus manajemen DJ.
Andhi sekarang memiliki banyak DJ yang tampil di klub-klub malam. Meskipun sekarang sudah mulai mapan, Andhi mengakui tidak mudah bertahan di dunia DJ. “Soalnya persaingan sangat keras. Kita harus konsisten agar klub-klub malam tetap memakai jasa kita. Ujung-ujungnya, kita harus jaga kualitas,” sambungnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menambahkan, dunia DJ terbukti mampu memperbesar link dengan orang-orang elit di Kota Malang. Pasalnya, siapapun yang masuk klub malam, pasti adalah orang dengan kantong tebal. Hal tersebut membantunya untuk meraih banyak manfaat di luar profesi DJ.
“Siapapun yang rajin ke klub malam, itu bukan orang biasa-biasa, tapi orang yang berduit. Kita pun senang karena jadi banyak teman yang bisa bantu di luar pekerjaan DJ,” tandas pemuda yang tinggal di Jalan Sukarno Hatta tersebut. Meskipun sudah mencapai titik nyaman di profesi DJ, Andhi enggan berhenti.
Sebagai DJ asli Malang, ia ingin memajukan dunia DJ Malang dengan menawarkan musik-musik berkualitas untuk clubbers. Pasalnya, Andhi menyebut bahwa aliran musik yang digemari di klub-klub malam saat ini masih terhitung kacau. “Kalau di klub yang kita pegang, mungkin masih terkontrol dengan baik. Clubbers yang biasa mendengar musik kami, mampu membedakan mana DJ yang bagus, mana yang asal-asalan,” katanya.
“Tapi, sebenarnya aliran musik Electro Dance Music (EDM) secara keseluruhan di Malang masih belum bagus, tidak seperti Bali atau Jakarta. Beruntung, clubbers sekarang didukung gadget yang bisa update musik-musik terbaru, sehingga tidak ketinggalan,” tambah DJ yang mengidolakan Martin Garric tersebut.
Ia menambahkan, komunitas DJ Malang sebaiknya mulai menghentikan aksi blok-blokan dan menghidupkan lagi Malang DJ Community. “Kalau kita bisa bergabung dan bersatu di komunitas, kita tidak akan kesulitan sosialisasi kepada clubbers. Kita juga bisa sharing musik yang berkelas untuk referensi DJ di Malang. Malang itu bisa maju kalau musiknya juga maju,” tutup Andhi.(fino yudistira/ary)
 
Last Updated on Saturday, 18 October 2014 12:34

Manajer Bank Jadi Guru Sehari, Sukses Edukasi Siswa SD-SMP Kota Malang

SUKSES: Branch Manager Bank Mandiri Cabang Malang Gatot Subroto, Dodiek S Hermawan sukses mengajar di SMPN 6 Malang dalam program Mandiri Edukasi.

PROGRAM Mandiri Edukasi yang digelar Bank Mandiri memberikan kesan mendalam pada siswa di sekolah. Seperti yang terlihat di SMPN 6 Malang Jalan Kawi pada Kamis (16/10/14). Branch Manager Bank Mandiri Cabang Malang Gatot Subroto, Dodiek S Hermawan yang bertugas mengajar sehari di sekolah tersebut sukses menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan membuat heboh para siswa.
Aula lantai dua SMPN 6 pagi itu terlihat ramai dengan ratusan siswa kelas VII. Mereka terlihat serius dengan teman sekelasnya sembari sesekali bergoyang dan bernyanyi. Dodiek yang mendapatkan tugas mengajar di sekolah tersebut sekali-kali terlihat memberikan semangat pada tiap kelas yang sedang belajar membuat yel-yel.
“Ayo semangat membuat yel-yel yaa, yang terbaik akan dapat hadiah dari Bank Mandiri,” ujar Dodiek.
Tanpa canggung, ia juga mencontohkan gerakan-gerakan menari dan ikut bertepuk tangan riuh bersama siswa. Anak-anak pun tambah semangat untuk menampilkan yel terbaiknya. Suasana semakin heboh ketika materi perbankan disampaikan oleh Dodiek. Dengan atraktif, manajer yang masih muda itu memberikan pertanyaan kepada siswa seputar perbankan.
“Ayo siapa yang bisa menebak logo apa ini,” tanya dia yang langsung disambut acungan tangan dari para siswa.
Ternyata, siswa SMPN 6 cukup pandai dan memiliki pengetahuan luas mengenai perbankan. Buktinya ketika ditanya logo ciri khas tiap bank, semua bisa menjawab dengan benar. Mulai dari logo bank BRI, BNI, Bank Jatim hingga Bank Papua.
“Di Indonesia banyak bank, kalian harus mengenalnya. Siapa yang tahu apa fungsinya bank,” tanya Dodiek.
Siswa yang berebut menjawab mendapatkan apresiasi dari tim Mandiri yang ikut hadir di sekolah. sejumlah hadiah pun diberikan kepada siswa yang langsung membuat mereka berjingkrak.
“Menurut saya orang harus menabung ke Bank karena untuk menyiapkan masa depan. Bank punya produk namanya Tabungan, Deposito dan Giro,” komentar salah satu siswa Salsa, yang langsung diganjar sebatang cokelat oleh tim Bank Mandiri.
Tak hanya mengajar dan menginspirasi siswa, kedatangan tim Bank Mandiri kemarin juga memberikan bantuan untuk sekolah senilai Rp 4 juta. Bantuan diterima oleh Heni Farida, wakil kepala SMPN 6. Ia memberikan apresiasi kepada Bank Mandiri yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
“Kami bangga karena dipilih dalam program Mandiri Edukasi ini,” ujarnya.
Menurut Heni, kegiatan tersebut melibatkan siswa kelas VII sebanyak 254 orang. Ia berharap siswa mendapatkan pengetahuan baru mengenai perbankan sekaligus bisa memberikan semangat kepada mereka untuk menjadi yang terbaik di masa depan.
Program Mandiri Edukasi adalah agenda nasional yang melibatkan jajaran direksi dan lebih dari 1000 pegawai Bank Mandiri. Mereka mengajar 31.950 pelajar SD hingga SMA serta 8.500 mahasiswa. Kota Malang adalah salah satu daerah yang mendapat program Mandiri Edukasi tahun 2014 dari Bank Mandiri. Ada 550 siswa SD hingga SMA yang ikut serta kegiatan ini. Mereka diberikan materi tentang perbankan dan peluang kerja kedepannya. Seperti diketahui, Mandiri Edukasi di Kota Malang telah sukses dilaksanakan di tiga sekolah. Yakni di SDK Santai Maria 2, SMPN 6, dan SMKN 4. (oci/red/habis)

Bank Mandiri Gelar ”Mandiri Edukasi” (1)

Area Manager Bank Mandiri (persero) Tbk Malang Hargo Suryanto foto bersama dengan siswa-siswa SDK Santa Maria II.

Terjunkan Manajer, Mengajar 150 Siswa SD di Kota Malang
SISWA diajar oleh guru di sekolah itu sudah biasa, tapi kalau yang menjadi guru adalah para manajer Bank tentunya sangat istimewa. Kemarin (16/10/14), para pimpinan Bank Mandiri di Malang mengajar di sejumlah sekolah. Yakni di SDK Santai Maria 2, SMPN 6, dan SMKN 4. Program ini adalah agenda nasional yang melibatkan jajaran direksi dan lebih dari 1000 pegawai Bank Mandiri. Mereka mengajar 31.950 pelajar SD hingga SMA serta 8.500 mahasiswa.
 
Raut gembira dan bahagia terpancar dari siswa-siswi SDK Santa Maria II ”Panderman” Malang. Mereka amat senang karena kemarin kedatangan guru yang istimewa. Yakni jajaran pimpinan dan pegawai Bank Mandiri area Malang. Kedatangan Bank Mandiri ke sekolah merupakan serangkaian acara ulang tahun ke-16 dengan tajuk “Mandiri Edukasi.

Siswa-siswa kelas 6 ini pun menyambut kedatangan Bank Mandiri dengan beberapa penampilan. Seperti penampilan bakat salah satu siswa, baik membaca puisi dan menyanyikan salah satu lagu daerah. Dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya, Mars SDK Santa Maria II hingga ditutup dengan doa bersama.

Saat pemandu acara menanyakan siapa yang ingin menjadi pemimpin dan bekerja di Bank Mandiri, sontak semua siswa baik perempuan dan laki-laki mengangkat tangannya sembari teriak “Saya, saya”. Melihat kelucuan anak-anak ini, Area Manager Bank Mandiri (Persero) Tbk Malang, Hargo Suryanto bersama pegawainya tersenyum. Pertanyaan tersebut berulang kali ditanyakan sehingga tak sedikit siswa berdiri dan mendatangi para pegawai Bank Mandiri.

Kegiatan yang berlangsung di ruang Perpustakaan ini pun penuh sesak oleh siswa. Maklum, ukuran perpustakaan di sekolah tersebut tidak terlalu besar, ditambah jumlah siswa 150 orang. Dengan lesehan atau duduk dilantai beralas karpet, siswa-siswa tampak bersemangat dan antusias mengikuti serangkaian acara.

Hargo Suryanto mengatakan, Kota Malang adalah salah satu daerah yang mendapat program Mandiri Edukasi tahun 2014 dari Bank Mandiri. Ada 550 siswa SD hingga SMA yang ikut serta kegiatan ini. Mereka nantinya akan diberikan materi tentang perbankan dan peluang kerja kedepannya.

Kendati begitu, materi yang disampaikan tidak seperti materi di siswa SMP, SMA hingga mahasiswa. “Kita selingi dengan game dan pertanyaan-pertanyaan mendasar,” katanya.

Hargo lantas menanyakan kepada siswa apa yang diketahui tentang Bank Mandiri. Lagi-lagi respon siswa sangat antusias, ada yang menjawab sebagai simpan pinjam, asuransi, kredit, hingga program lainnya. Bahkan, ada salah satu siswa mengaku setiap bulan sering ikut orangtuanya ke Bank Mandiri untuk menabung. Suasana pun makin meriah karena siswa sangat aktif bertanya.
Selain mengajar di sekolah, pada kegiatan tersebut Bank Mandiri juga menyerahkan bantuan kepada sekolah. Pria berkacamata ini menerangkan, jika bantuan yang diberikan kepada SDK Santa Maria II sebesar Rp 4 juta, untuk keperluan pengadaan buku perpustakaan. “Kami sengaja menyalurkan untuk penambahan buku di sekolah, supaya rujukan dan buku ajar bagi siswa lebih banyak,” terangya kepada Malang Post.

Sebetulnya, kata dia, kegiatan ini tidak hanya berlangsung di Kota Malang. Tapi juga dilakukan serentak seluruh Indonesia. Dimana, tahun  ini Bank Mandiri menggelontorkan bantuan bagi siswa sekolah SD hingga SMA sebanyak 31.950 (213 lembaga) dan sebanyak 8500 mahasiswa dari 17 perguruan tinggi se Indonesia. Dengan nilai bantuan keseluruhan sebesar Rp2,552 miliar.

Menurutnya, meski bantuannya tidak terlalu banyak. Minimal, dapat membantu dan menambah koleksi buku belajar siswa di sekolah. “Nilainya memang sedikit, tapi semoga bermanfaat,”ujarnya.

Mandiri edukasi ini, jelas dia, juga diselingi dengan game dan pemberian hadiah bagi siswa SDK Santa Maria. Dengan terlebih dahulu menjawab pertanyaan yang diajukan nantinya.  Materi edukasi ini pula dapat memberikan pendidikan dan kepemimpinan bagi setiap siswa.

Program yang sudah berjalan sejak tahun 2010 ini, menurutnya, telah memberi dampak positif dan banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya didunia pendidikan.  “Dengan program ini kami turut berpartisipasi dalam kemajuan pendidikan. Sekaligus membentuk karakter generasi muda supaya lebih berkompeten di masa yang akan datang,”paparnya ramah.

Ditambahkan, setiap tahun sekolah yang disasar selalu berbeda. Sehingga tidak menutup kemungkinan ditahun berikutnya, bantuan dari Bank Mandiri bentuknya berbeda. Bisa jadi, untuk pengembangan sarana prasarana hingga beasiswa bagi pelajar. “Keterlibatan direksi dan pegawai ini tidak lain untuk memperkenalkan dunia perbankan dann membuka wawasan siswa, barangkali setelah tuntas mengenyam pendidikan mereka mau berkecimpung di dunia perbankan,”tambahnya.

Kepala Sekolah SDK Santa Maria II, Suster Maria Priska Takarini mengaku senang dan bahagia atas bantuan yang diberikan oleh salah satu Bank terbesar di Indonesia. Menurutnya, partisipasi Bank Mandiri dalam dunia pendidikan benar-benar memberi dampak positif, terutama dalam hal kemajuan dan kelengkapan sarana di sekolah. “Kami sambut program Mandiri edukasi ini, selain anak didik kami dapat info soal perbankan, juga diberi bantuan buku perpustakaan,”akunya.

Maria menilai, Bank Mandiri juga memberikan satu pelajaran berharga bagi anak didiknya, yakni soal toleran dalam masyarakat. Karena, semua masyarakat diberikan kenyamanan dan dipandang sama saat bertransaksi maupun ikut serta dalam program Bank Mandiri.

Perempuan murah senyum ini berharap kedepan peran serta perusahaan dan pihak ketiga dalam dunia pendidikan semakin meningkat. Karena masih banyak lembaga pendidikan yang berjuang semaksimal mungkin dalam pengembangan kualitas, terutama di kalangan lembaga swasta.

Selain itu, gerakan Bank Mandiri dapat diikuti oleh perusahaan lainnya, baik yang bergerak di perbankan maupun industri. “Partisipasi pihak ketiga sangat dinanti oleh lembaga pendidikan,” pungkasnya. (miski/red/oci)

Page 1 of 60

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »