Malang Post

Features


Biasa Jadi Imam Masjid Kampung, Tahun Ini Khatib di Kampus

Lebaran Ala Rektor UB Prof Dr M. Bisri
KAMPUNG Penanggungan, Kecamatan Klojen Kota Malang dan masjid kecil di dalamnya menjadi tempat yang tak terpisahkan bagi Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr M Bisri dalam merayakan lebaran. Setiap tahun, rektor yang besar sebagai Arek Malang (Arema) itu biasa menjadi imam dan khatib di masjid yang ada di kampungnya. Tahun ini, kebiasaan bertahun-tahun ini terpaksa berubah. Karena Bisri harus menjadi khatib salat Idul Fitri di Kampus UB yang dipimpinnya.
Seorang wanita ramah mempersilakan Malang Post duduk di ruang tamu bagian samping dari rumah besar milik Bisri yang ada di RT 3 RW 4 Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Malam itu jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sang pemilik rumah kebetulan baru bisa ditemui usai melaksanakan salat tarawih. Bisri yang sedang menerima tamu di ruang utama tak lama kemudian menyapa Malang Post yang sudah menunggu di ruangan lain. Wanita ramah yang menyapa kali pertama rupanya adalah sang istri, Hj Titik Winarni.
”Tahun ini saya jadi khatib di UB, diminta untuk menggantikan Prof Yogi Sugito (mantan rektor UB, red) yang sedang di luar negeri,” ungkap Bisri membuka obrolan.
Sepanjang percakapan, beberapa kali Bisri dan istri bercanda lepas dan hangat. Mereka mampu menghadirkan suasana betah bagi tamu yang datang ke sana. Sejak ketiga anak mereka beranjak dewasa, Bisri dan istri sehari-hari lebih sering tinggal hanya berdua saja. Apalagi dengan kesibukannya menjabat sebagai rektor UB, rumah tersebut sering sepi. Sang istri sekali waktu ikut mengurusi butik yang ada di depan gang rumah mereka untuk memanfaatkan waktu di kala Bisri sibuk dengan tugasnya.
Sembari menyilakan menikmati suguhan di meja tamu, Bisri mengisahkan bagaimana kebiasaan berlebaran di keluarga tersebut. ”Karena saya ketua takmir masjid di kampung sini, jadi kalau lebaran ya salatnya di masjid itu. Tak jauh dari sini, hanya sekitar 200 meter saja dari rumah,” kata Bisri disambut anggukan sang istri.
Usai salat dan menjadi imam di masjid tersebut, biasanya ia menggelar open house dengan tetangga kampungnya. Rumah besarnya pun tak pernah sepi hingga malam hari di lebaran pertama. Tetangga datang bersilaturahmi sambil mencicipi aneka masakan sang istri yang dihidangkan spesial. Biasanya ada hidangan soto dan ketupat untuk para tamu yang datang. Tak lupa minuman kesukaan Bisri juga dihidangkan, yaitu es teler.
”Kalau lebaran saya suka disiapkan es teler, bisa dimakan rame-rame,” kata dia.
Selain minuman segar, buah kurma juga selalu tersedia. Tetangga kanan kiri pun akan beramai-ramai memakan buah yang khas di bulan puasa itu. Anak ke 6 dari 10 bersaudara ini juga punya agenda khusus berkumpul dengan keluarga besarnya. Karena orang tua Bisri maupun sang istri sudah tiada, tak ada agenda khusus ke kota lain. Hanya saja ada tradisi kumpul keluarga besar yang dilaksanakan di tempat berbeda setiap tahunnya. Tahun ini rencananya Bisri dan keluarga besar akan berwisata ke kota pahlawan.
”Saya malas pergi jauh, jadi tahun ini ingin kumpul di Surabaya saja. Hobi saya memang mengajak keluarga jalan-jalan, makan dan santai. Momen lebaran biasanya kami manfaatkan untuk ngumpul,” bebernya. Sayangnya ada satu adik Bisri yang seringkali tak bisa ikut berkumpul saat lebaran karena kesibukannya, dialah Gus Lukman yang mengasuh pondok pesantren Bahrul Maghfiroh.
Sosok orang nomor satu di UB ini memang tak berubah meski sudah menduduki jabatan tinggi. Ia tetap sederhana dan merakyat. 40 tahun besar di Penanggungan, melahirkan perasaan sayang yang amat dalam dengan area tersebut. Meski akses jalannya kurang nyaman untuk kendaraan roda empat, toh Bisri tak pernah punya keinginan untuk pindah dari sana. Setiap sudut yang ada di kampung itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya dari dosen biasa yang pernah mencicipi bisnis perumahan, hingga memimpin kampus sebesar UB.
”Bagi saya tinggal di kampung ini lebih berharga, saat saya tua masih banyak tetangga kanan kiri yang bisa diajak bicara. Kalau di perumahan sulit bertemu tetangga,” kata dia.
Meski secara kepribadian tak ada yang berubah, namun tak bisa dipungkiri kalau ada banyak perubahan jadwal rutinitas yang dilakukan Bisri. Termasuk kebiasaan menjadi imam salat tarawih di masjid dan musala yang ada di dekat rumahnya, tak bisa dilakukan lagi tahun ini. Kebiasaan lain yang berubah adalah rutinitasnya pulang di siang hari untuk sekadar makan masakan sang istri dan istirahat salat.
”Sekarang belum bisa adaptasi, beberapa rutinitas jadi tidak bisa dilakukan lagi. Memimpin kampus sebesar UB membutuhkan waktu ekstra,” tukasnya.
Meski tantangannya besar, Bisri justru merasa bahagia. Karena tak ada waktu untuknya bersantai dan lengah. Itu artinya ia berpeluang membuat UB menjadi lebih besar lagi. (lailatul rosida)

Bak Bang Toyib, Tiap Lebaran Tak Pernah Pulang

Masinis KA Yang Selalu Lebaran di Jalan
MEREKA pengantar pemudik yang paling setia. Tapi mereka tak pernah mudik. Mirip sekali dengan tokoh Bang Toyib dalam lagu dangdut yang tak pernah pulang. Hal ini lantaran tanggung jawab mereka amat berat, yakni mengantar ratusan penumpang Kereta Api (KA).
Ya, mereka adalah para masinis KA. Jelang Lebaran hingga hari Lebaran tetap bekerja membawa rangkaian gerbong berisi ratusan penumpang ke tempat tujuan. Itulah kisah para masinis kereta api (KA) pada setiap Lebaran.
Turun dari kabin masinis di lokomotif KA, sejumlah pria berseragam putih dengan pangkat dipundak bergegas  ke Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Crew KA Malang.
Sebagian lagi memeriksa kesehatan lalu bersiap-siap naik loko. Sedangkan beberapa pria lain menunggu jadwal keberangkatan kereta sembari membaca jadwal. Itulah suasana markas masinis yang terletak di area  Stasiun Besar KA Kota Baru, kemarin siang. Di kantor sederhana itulah, 33 orang masinis dan 31 asisten masinis selalu bersiap sebelum naik loko untuk membawa rangkaian gerbong.
M. Choiri merupakan salah seorang masinis yang sedang bersiap menunaikan tugasnya kemarin siang. Pria 27 tahun ini sudah bekerja sebagai masinis selama enam tahun. “Dari enam tahun bekerja, lima kali lebaran tidak libur,” katanya.
Lebaran nanti ia kembali tak libur lantaran saat itu harus menjadi masinis KA Gajayana, tujuan Malang-Jakarta. “Pas lebaran nanti saya jadi masinis KA Gajayana sampai Madiun. Istirahat antara delapan sampai 10 jam, terus kembali ke Malang dengan tugas masinis  KA Gajayana Lebaran,” terang alumnus Diklat Fungsional Masinis, Jogjakarta ini.
Karena lebaran nanti tak libur, Choiri sudah memboyong istri dan dua anaknya ke rumah mertua di Bangil. Ia akan menyempatkan waktu merayakan lebaran bersama keluarga saat senggang.
Choiri baru total sehari di rumah dalam suasana lebaran bersama keluarga pada enam hari kemudian. Itu pun bukan cuti melainkan mengisi waktu libur rutinnya pada setiap hari Sabtu.
Hari raya tak dirumah, ia tak merasa terasing. Pasalnya keluarganya sangat mendukung tugas sebagai seorang masinis. Choiri justru selalu bersemangat dalam bekerja dan menikmati pekerjaannya itu.
“Saya senang karena bisa membawa pemudik pulang ke kampung halaman mereka untuk merayakan lebaran bersama keluarga,” ucap pria asli Bangil ini.
Memiliki tanggungjawab membawa ratusan pemudik, Choiri harus bekerja professional. Jangan sekali-kali lalai dalam menjalankan tugas. Karena itu, dia dan teman-temannya sesama masinis selalu memanfaatkan senggang untuk istirahat.
“Masinis itu harus konsen, fokus, displin, kondisi pria dan tak boleh mengantuk. Harus patuh semboyan seperti kecepatan di jalan. Kalau lalai, akibatnya bisa fatal,” kata alumnus SMKN 1 Bangil ini. “Ya kalau lalai bisa terjadi kecelakaan, soalnya harus kosentrasi saat ada persilangan kereta,” sambungnya.
Tak lupa pula, barang wajib bawaan masinis di atas kabin lokomotif tak boleh ketinggalan.  “O 100, Lembar Harian Masinis (LHM)  dan buku riwayat lokomotif harus selalu pegang,” terang pria ramah ini.
Choiri lalu menjelaskan, O 100 yakni buku table  panduan masinis. Dalam buku inilah tertera kecepatan kereta di semua area stasiun yang dilewati. LHM juga memiliki fungsi vital. Karena dalam LHM terdapat catatan kecepatan yang harus dikurangi hingga kondisi rel yang dilintasi.
”Sedangkan buku riwayat lokomotif berisi tentang kondisi lokomotif dan dibawa oleh masinis siapa saja,” terang pria yang semula tak pernah bercita-cita menjadi seorang masinis ini.
Ketika sedang bertugas di kabin masinis, masinis tak boleh menggunakan handphone atau alat komunikasi lainnya. Selama perjalanan, handphone disimpan di tas yang dibawa.
“Saat sedang mengoperasikan kereta, alat komunikasi yang tersedia untuk masinis berupa radio lokomotif. Fungsinya alat penghubung antara masinis dengan pengendali pusat perjalanan kereta api,” kata dia. Karena harus berkutat dengan radio lokomotif, masinis tak punya kesempatan berkomunikasi dengan handphone atau alat komunikasi lainnya.
Choiri tidak sendirian. Teman-temannya yang bertugas sebagai masinis juga mengalami nasib yang sama. Namun mereka tak pernah kehilangan semangat. Profesionalisme dijunjung tinggi demi kenyamanan perjalanan penumpang yang menggunakan jasa kereta api.
Kepala UPT Crew KA Malang, Sutamto mengatakan, melayani pemudik merupakan sebuah kehormatan bagi masinis. Selama ini, 33 masinis dan 31 asisten masinis yang stand by di Stasiun KA Kota Baru selalu setia pada profesi mereka. Mereka tak menngeluh walau bekerja disaat lebaran.
Saat Lebaran nanti, 29 masinis tetap bekerja. Sedangkan sisanya, empat orang libur. Empat masinis yang libur bekerja itu bukan cuti. “Itu libur rutinnya. Dalam sehari, terdapat empat sampai lima orang yang libur,” kata Sutamto.
Pria 40 tahun ini pernah lima tahun bertugas sebagai masinis. Dan sepanjang lima tahun menjadi masisnis itu dia tak lebaran di rumah. Kini ia belum tahu apakah akan mudik ke Solo untuk bertemu istri dan tiga anaknya saat Lebaran nanti.
“Kami baru boleh mudik pada tujuh hari setelah lebaran. Tapi itu belum tentu,” pungkasnya sembari tersenyum.(vandri battu/ary)

Tekan Tombol, Pesan Terkirim ke Server, Bantuan Datang

Pelecehan seksual dan penganiyaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), khususnya wanita, membuat resah sekelompok mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) asal Universitas Brawijaya (UB), Ema Lutfiana dan Hanifah Rosyada. Keduanya lalu berdiskusi hingga memunculkan ide brilian untuk menciptakan alat yang mampu meminimalisir kekerasan dari majikan.

Saat mendapat majikan yang bagus, hidup TKI di luar negeri bisa terjamin dengan baik. Tak hanya dari segi upah, mereka pun terkadang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui kursus atau media yang lain. Hanya saja, jarang ada majikan yang begitu baik. Sebaliknya, yang sering terdengar adalah majikan semena-mena dan suka menyiksa TKI.   
"Banyak TKI yang kesulitan menghubungi orang lain melalui ponsel. Malah, beberapa orang kami dengar dilarang menggunakan ponsel ataupun dirampas majikannya," ujar Hanifa kepada Malang Post kemarin.
Belum lagi, ponsel menyulitkan mereka karena untuk menggunakannya, dibutuhkan upaya lebih. Harus mengetik lebih dulu ketika ingin SMS, butuh waktu bicara saat menelepon, tempat dan waktu pun terkadang tidak bisa terdeteksi kalau para TKI hanya menggunakan ponsel. Bagaimana orang lain bisa membantunya dengan segera, bila butuh waktu lama untuk mengetahui keberadaannya?.
"Akhirnya muncullah ide untuk membuat alat dengan bentuk kecil, dengan efisiensi dalam penggunaan yang akan mempermudah TKI menggunakannya," tegas gadis asal Lamongan  ini. Menurutnya, diskusi sekitar awal tahun 2013 itu hanya angan-angan di luar keinginan untuk menjadikannya kenyataan.
Alat pendeteksi itu berbentuk mini dan dibuat mudah dalam menggunakannya. Majikan dibuat tidak tahu menahu, kalau pekerjanya memiliki alat yang bisa menghubungi seseorang. Berarti, harus ada tempat aman, bebas dari jangkauan orang lain. Ditemukanlah jawabannya, celana dalam!
Bila di dalam celana dalam, para TKI tidak perlu repot-repot menggunakan ponselnya. Majikan pun tidak mungkin memeriksa sampai ke wilayah privasi itu. Apalagi, alat pendeteksi TKI itu hanya perlu dioperasikan dengan satu tombol. Jadi, ketika TKI menekan tombol tersebut, koordinat tempat dan waktu saat dia menekan tombol tersebut akan dikirimkan ke servernya.
Server pun bisa disetting. Menurut Hanifa, lebih baik server ditaruh pada kedutaan besar (Kedubes) Indonesia di negarat terkait. Hingga, Kedubes bisa terus memantau keberadaan para TKI. “Jadi, ide kami baru sampai di situ saja. Tidak terpikir akan melanjutkannya sampai tahap pematangan, apalagi pembuatan,” sahut gadis berkerudung ini.
Sangat kebetulan, tiba-tiba diskusi mereka bertepatan dengan waktu pendaftaran PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa) di UB. Muncullah ide dari sepasang sahabat itu untuk membawa ide mereka ke PKM, mereka sepakat lalu membentuk tim sebagai prasyarat mengikuti PKM.
“Jelas kami tidak bisa menjadikan angan-angan tersebut jadi kenyataan bila tidak ada tenaga ahli lain, khususnya di bidang elektro. Karena itulah, kami minta bantuan teman lain dari Fakultas Teknik (FT) UB jurusan elektro untuk membantu,” sahutnya.
Muhammad Irfan Maulana dan Septian Iswanjaya, jadi pilihan. Keduanya menjadi partner yang mengurusi pembuatan mesin. Selain itu, direkrut pula seorang lainnya, Deviana Hadriati, adik tingkat Ema dan Hanifa. Mulailah kelima anak muda ini, dengan rasa optimis mematangkan ide tersebut.
Sesaat setelah tim terbentuk, disusun proposal rancangan pembuatan alat yang akhirnya dinamai Error (Emergency Reporter on Underwear). Sekilas namanya menunjukkan kejanggalan, karena lebih berkonotasi negatif. Tapi siapa kira, justru Error bisa membuka lebar kesempatan bagi tim yang diketuai Hanifa itu meraih juara di Pimnas (Pekan Imiah Nasional) 2014. Proposal Error diterima Dikti dan mereka didanai untuk mewujudkan ide, sehingga tak berhenti dalam angan-angan.
“Dikti memberikan kami dana sebesar Rp 9.250.000 untuk mulai membuat Error pada Februari 2014 lalu. Kami langsung mulai pembuatan,” sahutnya bersemangat. Evaluasi, pengumpulan informasi, pencarian komponen dan tibalah saat perakitan.
Rupanya, proses yang harus dilalui tidak semudah yang dibayangkan. Kendala demi kendala bermunculan. Hebatnya, hal itu tidak menyurutkan semangat lima calon penerus bangsa ini. Justru mereka semakin terpacu mewujudkan angan-angannya.
Berkali-kali timnya harus melakukan perbaikan alat. Kendala terbesar ialah mencari komponen alat di pertokoan. Sebab untuk menciptakan alat sebesar chip, dibutuhkan komponen yang hanya dimiliki militer. "Akhirnya kami memilih komponen elektronik kategori toys. Komponen tersebut berukuran makro. Jadi alat kami juga tidak bisa sekecil yang kami harapkan," jelas Hanifa.
Akibat kesulitan mencari komponen dengan ukuran kecil, akhirnya Error berukuran agak besar. Meski begitu, tidak berarti Error jadi tidak efisien. Ukurannya tetap pas untuk para TKI dan menyembunyikannya di celana dalam. Chip itu berukuran sekitar 5x5 cm dengan tebal kurang dari 1 cm. Hanya membutuhkan tempat berukuran saku, untuk menaruhnya di celana dalam.
Cara kerjanya, lanjut Hanifa, Error ditaruh di bagian pinggir celana dalam, sehingga otomatis tertutup oleh pakaian. Ketika dalam keadaan mendesak, TKI tinggal menekan tombol yang ada pada Error. Selanjutnya, dalam 10-15 detik, koordinat tempat beserta waktu penekanan akan terkirim ke server. Sistemnya seperti SMS, jadi pengiriman informasi tidak membutuhkan waktu lama.
Hingga sekarang, Error tetap masih dalam perbaikan. Khususnya untuk memadatkan ukuran agar lebih kecil. Untuk kemampuan, Error sendiri sudah melalui uji coba. Mesin inovatif tersebut, beroperasi dengan baik. Sesuai dengan rencana tim Hanifa di awal.
"Rencana pengembangan akan selalu kami lakukan. Bila memang berhasil, rencananya akan kami buat sekuran chip, kemudian menggunakan sensor. Jadi TKI lebih mudah menggunakannya bila dalam kondisi terdesak," kata Hanifa.
Error masih dalam tahap monitoring evalusi dari Dikti. Bila lolos pada tahap tersebut, karya yang bermanfaat meminimalisir jumlah kekerasan TKI ini, akan dikompetisikan di Pimnas 2014. "Pengumumannya Agustus tahun ini. Kami tetap optimis bisa melaju ke Pimnas, meski persaingannya pasti sangat berat," pungkas wanita berusia 22 tahun itu. (Muhamad Erza Wansyah/han).

Di Balik Perburuan Lisensi Klub Arema Cronus

Arema Cronus sedang berburu lisensi klub dari PT Liga Indonesia dengan predikat sangat memuaskan. Lisensi itu akan menjadi “SIM” untuk berlaga di ISL 2015. Di balik perburuan lisensi klub itu, Divisi Media Officer, menjadi staf klub yang paling sibuk. Bahkan para staf harus lembur hingga pukul 3 pagi untuk menyusun berkas lisensi. Seperti apa kerja kerjas para staf, di balik keseriusan berburu lisensi?

Jalan Kertanegara tak lagi riuh redam. Dinginnya udara malam Kota Malang menyeruak. Lampu Taman Bentoel Trunojoyo seakan enggan berpijar. Taman di depan kantor Arema biasanya berisik oleh suara tawa anak-anak. Tapi, malam itu ayunan hanya berdecit-decit ditiup semilir angin.
Jayanto, penjaga kantor Arema, masih terjaga. Matanya merah, tapi dipaksa tetap terbuka. Televisi menjadi pengalih perhatian dari rasa kantuk yang menyerang. Jaket tipis yang dikenakannya tak mampu menahan dingin. Udara yang menyelip masuk dari celah-celah pintu juga yang mencegahnya tidur.
Suasana yang lebih gaduh, terdengar di lantai 2. Di situ, terletak kantor Divisi Media Officer Arema. Musik punk indie mengalun keras dari lantai 2. Lampu-lampu neon putih masih menyala sebagian. Di tengah suara hentakan musik, staf Media Officer tampak sibuk di depan komputer masing-masing.
Ryan Meidi “Ambon” Wijaya tampak sibuk memilih berkas-berkas. Taufik “Oyex” menghembuskan nikotin dari lubang hidungnya dan meneruskan ketikan di depan monitor. Begitu juga Taufik Soleh, Sinyo dan Heru Tri Mulyono yang tampak sibuk di dalam kantor Divisi Media Officer.
Malam hari tidak menyurutkan atmosfer kerja. Suasana lembur membuat udara sedikit terasa pengap. Oyex melepas kaus dan bertelanjang dada sambil terus mengetik. Segelas kopi yang telah terminum separuh, juga jadi minuman terbaik malam itu.
Mata mereka merah semua, terasa pedas. Mungkin, tengkuk juga sudah terasa diganjal kayu. Keringat tipis yang membasahi dahi tak dihiraukan. Semua fokus pada komputer dan berkas-berkas yang berceceran di meja. Kring, kring, kring. Alarm berbunyi.
Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. “Waktunya sahur,” begitu ujar Ryan. Para staf lainnya langsung menghentikan gerakan tangannya. Hembusan napas besar keluar. Seperti lega, para staf langsung berhenti dari pekerjaannya. Staf Media Officer bergerak dari kursi duduknya.
Berdiri sambil melakukan gerakan senam. Peregangan karena duduk terlalu lama di depan komputer. Lima staf Media Officer sangat sibuk dan dikejar waktu. Sebab, Arema sedang berburu lisensi klub dari PSSI/PT Liga Indonesia dengan predikat sangat memuaskan.
Para staf Media Officer, kebagian tugas untuk menyelesaikan berkas yang harus diserahkan kepada tim penilai dari PSSI dan PT Liga Indonesia. Divisi Media Officer diserahi tugas ini, karena ahli dalam hal desain dan publikasi. Berkas-berkas lisensi klub, disusun dengan gaya yang lebih menarik untuk memberi kesan yang lebih baik ketimbang klub lain. Karena diburu waktu, para staf bekerja lembur hampir setiap hari, selama satu minggu. Bahkan, lembur kerja untuk finishing berkas lisensi klub, dilakukan hingga pukul setengah tiga pagi.
“Sekitar semingguan, kita kerja dari siang sampai pagi. Kalau siang, kita kerja normal, lalu dilanjutkan dengan finishing lisensi klub. Kita sering sahur di kantor, karena memang harus mengerjakan tugas hingga dini hari,” tegas Ryan kepada Malang Post.
Menurut alumnus ITN Malang itu, kerja lembur dilakukan karena Arema harus berangkat ke Jakarta Senin lalu (21/7) untuk menyerahkan berkas lisensi ke PT Liga Indonesia, melalui Direktur Arema Ruddy Widodo. Sampai hari ini, Ruddy masih berada di Jakarta.
Divisi Media Officer diberi mandat karena berkas lisensi lebih banyak menampilkan foto-foto. “Foto-fotonya lengkap, mulai dari infrastruktur stadion, inventaris, pemain, akademi, lalu administrasi personel sampai foto kantor pun kami pasang di berkas lisensi, harus selengkap dan sebagus mungkin,” sambungnya.
Saat kondisi badan sudah tidak memungkinkan, para staf pun selonjoran di kursi atau sofa kantor Divisi Media Officer hingga pagi hari. Setelah itu, bangun dan langsung melanjutkan pekerjaan normal. Tidak heran, sebagian staf Arema sempat kurang tidur karena harus lembur tiap hari.
Kerja mereka juga bertambah di malam hari, karena harus membagi energi dengan finishing Aremagazine. “Kita juga bagi tugas untuk menyelesaikan majalah Arema. Untung saja semuanya sudah finish sesuai deadline, meskipun mengorbankan waktu tidur,” tambahnya.
Meski demikian, tugas mereka sudah selesai. Sekarang, Arema sedang menantikan penilaian dari PT Liga Indonesia terkait lisensi untuk main di ISL 2015 tahun depan. “Semoga saja, lemburan kami sampai malam hari terbayar lunas dengan nilai sangat memuaskan,” tutupnya.(fino yudistira/han)

Sebarkan Undangan Pernikahan, Meninggal Dunia Saat Hendak Apel

Polres Malang berduka. Salah satu perwira menengah (Pamen), Kompol Gatot Suseno SH meninggal dunia kemarin pagi. Kapolsek Gondanglegi ini berpulang ke rahmatullah, saat hendak mengikuti apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2014 di halaman Mapolres Malang. Seharusnya bulan depan, Gatot menikahkan putri sulungnya, namun takdir sudah menjemputnya.

Pemakaman Gatot Suseno, sekaligus menjadi babak baru bagi kehidupan Elsandy Meta Wedhayanti putri sulungnya. Gadis cantik ini, menjalani akad nikah di depan jasad sang ayah, kemarin. Sesuai  tradisi jawa, ada kepercayaan bahwa apabila jenazah sudah dimakamkan harus menunggu tahun berikutnya (satu tahun) untuk melangsungkan pernikahan.
Bukan karangan bunga tanda selamat menempuh hidup baru yang berjajar. Namun puluhan karangan bunga tanda duka, berdiri mengelilingi sebuah rumah besar bercat cokelat muda di Jalan Sido Utomo Kelurahan Ngadilangkung Kepanjen.
Karangan bunga bertulis ucapan bela sungkawa dikirim dari beberapa orang. Mulai Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono, Kapolres Malang sampai Kapolsek di jajaran Polres Malang. Sementara di sisi selatan rumah berdiri sebuah tenda warna biru-putih yang dipersiapkan untuk para pelayat.
Beberapa anggota polisi berkumpul di teras sejumlah rumah warga. Mereka menunggu upacara pemakaman Kompol Gatot Suseno SH, yang akan dimakamkan di TPU Ngadilangkung Kepanjen.
Di dalam rumah, AKP Sri Widya Ningsih, istri almarhum terlihat shock. Meski terlihat tabah, namun Kanit Binmas Polsek Turen ini tak kuasa menahan air mata. Beberapa kerabat, saudara serta rekan kerja almarhum juga turut hadir. Mereka seakan masih tidak percaya, kalau mantan Kapolsekta Blimbing ini akan berpulang lebih cepat.
Upacara proses pemakaman yang seharusnya dimulai pukul 15.00, molor sekitar satu jam. Ini karena menunggu kedatangan Satria Arifian, dari Jakarta. Satria adalah calon menantu almarhum yang akan menikah dengan anak sulungnya Elsandy Meta Wedhayanti pada bulan Agustus 2014 nanti.
Kedatangan Satria sengaja ditunggu, karena akan langsung dinikahkan di depan jenazah, sebelum jenazah almarhum dimakamkan.
"Kalau tidak dinikahkan sekarang, maka pernikahan mereka harus ditunda satu tahun," ujar salah satu perwira polisi.
Ya, pernikahan memang harus tetap berjalan. Selain waktu dan tanggal yang sudah ditentukan, undangan pernikahan juga sudah terlanjur disebarkan. Bahkan, kemarin pagi sebelum menghembuskan nafas terakhir dan apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2014 dilaksanakan, almarhum Kompol Gatot Suseno SH, sempat menyebarkan undangan pernikahan anaknya kepada para Kapolsek dan Kapolres Malang.
"Tadi beliau (almarhum Gatot Suseno) sempat membawa undangan pernikahan anaknya yang akan dilangsungkan pada bulan Agustus nanti," tutur Kapolsek Sumbermanjing Wetan, AKP Farid Fathoni yang dibenarkan Kapolsek lainnya.
Akad nikah kedua mempelai dilangsungkan sederhana dengan disaksikan langsung Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta. Setelah mengucapkan ijab qobul, dan dilanjutkan dengan doa, AKP Sri Widya Ningsih langsung menangis dan menutupi wajahnya dengan kerudung putih. Kapolres Malang terlihat membisikkan kata kepada kedua mempelai supaya sabar dan menerima dengan ikhlas.
"Tadi pagi sebelum apel gelar pasukan, saya masih bertemu dengan almarhum. Dia kelihatan sehat dan ceria. Saya sempat bertanya apakah sehat, dia menjawab sehat-sehat saja. Bahkan dia juga sempat bergurau dengan anggota yang lain. Selain itu saya juga sempat mengatakan kalau beliau salah seragam. Karena Kapolsek yang lain memakai seragam PDL (pakaian dinas lapangan) namun beliau memakai seragam PDH (pakaian dinas harian) sendiri," terang Adi Deriyan Jayamarta kepada Malang Post, sembari meminta supaya ikut mendoakan almarhum.
Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samsul Hidayat salah satu saksi yang sempat melihat almarhum Kompol Gatot Suseno SH, pingsan sebelum akhirnya meninggal dunia. Pagi itu sekitar pukul 08.30, setelah gladi apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2014, dia bersama almarhum, Kapolsek Pakisaji AKP Amung Sri Wulandari serta Kabag Ren Kompol Tutik sempat ngobrol dan bercanda di bawah tenda.
Namun tak lama kemudian, almarhum terlihat merasakan kesakitan dan kemudian jatuh pingsan. Almarhum kemudian dibawa ke RS Wava Husada Kepanjen. Meski sempat mendapat perawatan, almarhum menghembuskan nafas terakhirnya. Para Kapolsek yang merasa kehilangan turut berduka.
Mereka membuat status dalam blackberry, ucapan selamat jalan kepada sahabat serta senior terbaiknya. Selamat jalan Kompol Gatot Suseno SH, semoga amal ibadah diterima disisi-Nya dan segala kesalahan diampuni.(agung priyo/ary)

Page 1 of 46

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »