Malang Post

Features


Menelusuri Prostitusi Elit di Kota Malang (1)

PROSTITUSI elite di Kota Malang tak pernah mati.  Bahkan ‘bisnis lendir’ kelas atas itu tumbuh subur dengan layanan yang lebih  berani dan  menggiurkan. Untuk menjamah para perempuan cantik itu  haruslah merogoh saku dalam-dalam. Keberadaan dan praktik mereka pun sangat rapi. Bagaimana potret terkini prostitusi elit di kota pendidikan ini? Berikut hasil  penelusuran tim Malang Post yang dilakukan sejak bulan Maret lalu.


Sebuah hunian eksklusif di kawasan Soekarno Hatta tampak tenang seperti hari-hari  biasanya. Sebuah mobil Hyundai Getz dan Honda Jazz bernopol cantik melaju pelan layaknya warga di hunian berakses terbatas tersebut.  
Rina (bukan nama sebenarnya), 21 tahun  adalah pemilik  Getz. Sedangkan mobil Jazz milik Marcella,juga bukan nama sebenarnya, berusia  21 tahun. Dua perempuan  cantik berkulit mulus itu bukan warga di hunian eksklusif itu. Namun sebagian waktu mereka dihabiskan di tempat tersebut.
Di tempat itulah tim Malang Post berkenalan dengan mereka setelah sebelumnya dihubungkan seorang  sahabat  Rina dan Marcela, sebut saja Mia namanya. Di tempat itu pula jadi ‘markas’ mereka. Dan dari tiga sahabat karib itulah, wajah  prostitusi berkelas di Malang diungkap.
“Mau acara mas?” tanya Marcella sembari bercanda saat dikenalkan Mia. “Nih ada tiga. Tinggal  pilih saja. Kalau mau acara sama semuanya bisa kok,” sambung Mia sembari bercanda mencairkan suasana.
Acara adalah istilah umum yang biasa digunakan untuk transaksi seks diantara wanita panggilan di kota ini. Istilah itu  sebenarnya istilah umum yang digunakan semua kelas wanita panggilan. Namun  yang membedakan yakni   service, latar belakang mereka dan tarif sekali acara.
Soal latar belakang, Mia, Rina dan Marcella bukan datang dari kalangan ‘’ecek-ecek’’.  Mereka juga pandai  menyamarkan diri. Tiga sahabat karib alumni sebuah SMK negeri di Malang  itu merupakan anak model. Mia dan Rina yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka misalnya pernah aktif di agency model yang sama. Marcella yang pernah jadi salah satu model foto oleh sejumlah fotografer di Malang dalam sebuah acara hunting foto tercatat sebagai  mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri.
Tak hanya tiga orang itu saja, anggotanya sekitar 8 orang. Karena itulah mereka sering menyebut diri sebagai sebuah geng. Lima lainnya di luar kota, yakni di Surabaya dan Jakarta. Di dua kota besar itu, bekerja sebagai wanita panggilan kelas atas.
“Yang di Jakarta dan di Surabaya itu ikut germo. Kalau disini (Malang) gak ikut germo. Ngapain ikutan kayak gitu, rugi. Banyak potongannya,” kata Mia sembari tertawa. Namun Mia bisa mendatangkan mereka ke Malang jika sedang banyak acara. “Tapi aku bukan gituan lho (mami),” sambungnya membela diri.
Karena kalangan berkelas, tarifnya pun mahal.  Tarif sekali acara dipatok Rp 1,5 juta. Itu jika sudah kenal dan rutin menggelar acara bareng.  Tapi jika bagi orang baru dan pemakainya adalah pejabat,  tarif sekali acara berbeda. Yakni bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.
“Tarifnya emang beda, ya itu sekali main. Kita kan bukan anak SPG. Kalau SPG-an gitu bisa murah,” terang wanita tinggi semampai ini. Selain itu, mereka juga membatasi tempat ‘acara’. “Pokoknya  jangan di situ ( menyebut dua hotel short time di Malang),” katanya lalu menyebut sejumlah hotel di kawasan tertib lalu lintas di Kota Malang sebagai tempat nyaman chek in.
Hunian eksklusif yang sedang ditempati Mia juga kerap dijadikan sebagai tempat chek in. Tak hanya Mia saja, teman-temannya bisa menggelar acara di tempat tersebut.  Bahkan tempat yang sedang ditempatinya biasanya yang direkomendasikan untuk lokasi acara. Jika ada yang mengadakan acara di unit yang ditempatinya, maka ia akan mengalah.
Tempat tinggal Mia jadi saksi liarnya kehidupan seks kelas elite di Kota Malang. Ia pernah menggelar pesta seks bersama seorang  pengusaha asal Jakarta.  “Waktu itu aku ngundang ke sini. Dia   minta temanku. Ya udah ku panggil dua teman ku. Kita acara disini. Ya pesta seks dong,” katanya lalu tertawa.
Ia lalu mendeskripsikan apa yang dilakukan mereka. Si pria tanggung asal Jakarta itu diservice tiga wanita sekaligus. “Enggak gilir. Ya langsung tiga orang sekalian. Tahulah,,, masing-masing diposisi enak. Orangnya kelainan,  ha ha ha…” ucap Mia sembari tertawa ngakak.
Lantas berapa tarifnya?  “15 juta dibagi anak tiga. Orangnya masih sering ke Malang. Tapi biasanya minta diacarakan sama teman-teman ku,” katanya.
Berbiaya tinggi sekali acara, praktis mereka berkantong tebal. Rina dan Marcella misalnya, bisa beli mobil dari hasil bisnis jual diri. Untuk menyamarkan kekayaannya di depan orang tua, mereka menjalankan bisnis jual pakaian dan sepatu secara online. “Tapi ini sungguhan kok mas. Aku juga jualan sepatu,” kata Marcella sembari menunjukan bisnis online di ponselnya.
Kendati terlibat di dunia prostitusi elite, Rina, Mia dan Marcella pandai menjaga diri. Mereka tak suka clubbing. Hari-harinya lebih banyak untuk perawatan tubuh di pusat kecantikan dan kebugaran. Jangankan minuman berlakohol, rokok saja tak mereka sentuh. “Apalagi narkoba, waaah gak mau,” kata Mia.  
Menjaga tubuh menjadi prioritas. Karena itu, tak akan menemukan satu pun tato di tubuh mereka. Tempat dan waktu nongkrong pun sangat terbatas.
Pergaulan pun tak sembarangan. Mereka tak pernah mau kumpul dengan geng lain. “Kalau sama anak-anak di candi xxxxx (beberapa kos di jalan candi-candi) itu beda kelas. Males sama mereka, sendiri-sendirilah,”  tambah Rina.
Lantas bagaimana dengan beberapa geng di kawasan jalan candi-candi, Blimbing? Di kawasan tersebut juga terdapat beberapa rumah kos yang terkenal sebagai tempat tinggal cewek bispak. Bagaimana caranya agar bisa menggunakan jasa mereka? Siapa saja pengguna jasa syahwat para cewek bispak elite itu?  Ikuti hasil penelusuran Malang Post berikutnya….  (Tim/bersambung)

Kaget Naik Kursi VVIP,Tidak Pikirkan Gaji

KECINTAAN luar biasa besar kepada bahasa Arab    berhasil mengantarkan  Drs Ahmad Fuad Effendy MA menjadi tokoh tingkat internasional.  Dosen Universitas Negeri Malang (UM) ini   dipilih  sebagai  dewan pembina dalam King Abdullah bin Abdul Aziz International Center dibawah naungan kerajaan Saudi Arabia.
Malang Post akhir pekan kemarin  mendatangi rumah yang beralamatkan di Perum Landungsari Asri, Kabupaten Malang. Tidak lama, berdiri setelah menekan bel seorang laki-laki paruh baya menggenakan pakaian batik membuka pintu. “Silahkan masuk,’’ ajaknya.
Dialah Ahmad Fuad Effendy. Sosoknya memang  sangat sederhana. Alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo  pada  tahun 1965 ini kemudian mengungkapkan  kiprah dirinya dalam organisasi internasional tersebut. “Dari kecil kami  memang diajarkan kedua orang tua untuk cinta Al Quran.  Karena itu, isi dari Al Quran kami pelajari dengan tekun. Mulai dari rangkaian hurufnya, bahasa, bahkan  sejarah dan kehidupan bangsa Saudi Arab selalu  kami dalami tiada henti,’’ paparnya.
 Lantaran itulah, kakak kandung dari Emha Ainun Najib ini sengaja  memilih sekolah madrasah untuk pendidikan SD dan SMP nya. Sedangkan untuk SMA nya, ayah  lima anak ini memutuskan untuk  belajar  di Ponpes Gontor Ponorogo. Setelah itu, kecintaannya dengan bahasa Arab pun berlanjut  dengan  mengambil jurusan Sastra Arab di IAIN Yogyakarta.
Sebagai mahasiswa Sastra Arab dirinya tidak hanya puas dengan duduk dan mendengarkan dosen mengajar. Sebaliknya,  pria ramah ini juga ikut melakukan pengkajian bahasa Arab. Dari aktifitas pengkajian-pengkajian tersebut namanya mulai dikenal.
“Sejak mahasiswa kami sering melakukan kegiatan di luar kampus, untuk melakukan berbagai pengkajian bahasa Arab,’’ katanya sembari mengatakan saat kuliah dia dan beberapa rekannya juga sempat menerbitkan beberapa majalah berbahasa Arab.
Pada tahun 1976, atau 3 tahun setelah lulus, dari IAIN Yogyakarta, suami dari Uthiyatul Udhiyah ini mulai mengabdikan diri menjadi pengajar di UM, dengan mata kuliah Sastra Arab. Seperti pada saat kuliah, selain mengajar pria ini juga sibuk melakukan kegiatan aktif di masyarakat. Tentu saja, kegiatan aktif tersebut tetap berkaitan dengan pengkajian Al Quran. Mulai dari menggelar pengkajian rutin di masjid-masid hingga menjadi pengasuh Pengajian Padang Bulan.
 “Untuk pengkajian diadakan secara rutin. Kami membahas tentang Sasta Arab, Tafsir, Kebudayaan Arab dan Islam selalu dibahas dalam berbagai pertemuan,’’ katanya.
Hingga kemudian tahun 1999 lalu, anak pertama dari 15 bersaudara ini bersama dengan teman-teman pengajar Bahasa Arab se Indonesia mendirikan ikatan pengajar Bahasa Arab. Kumpulan pengajar Bahasa Arab ini dinamakan Ittihadu Mudarrisil Lughah Arabiyah (IMLA). Di organisasi tersebut, Fuad menjabat sebagai ketua umum. “Organisasi ini cukup memiliki banyak kegiatan. Kami selalu mengadakan seminar baik dalam negeri maupun internasional yang dihadiri lebih dari 20 negara,’’ urainya.
Berbagai kiprah dan keaktifan seperti    inilah  kemudian mendapat penilaian positif dari pihak King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center, Saudi Arabia.Bahkan, dia dipercaya untuk menjadi salah satu dewan pembina organisasi berskala internasional ini untuk periode 2014-2017.
 “ Pada bulan Juni 2013 saya dapat telepon dari pihak Kerajaan Arab Saudi. Di pembicaraan telepon itu saja diminta mengirimkan Curiculum Vitae (CV),’’ katanya. Saat itu Fuad sama sekali tidak menyangka, jika dirinya dipilih sebagai Dewan Pembina. Sebaliknya dia menyangka akan mendapat undangan haji. “Lha kok musim hajinya selesai saya kok tidak dipanggil-panggil. Jadi perkiraan undangan haji pun pupus,’’ katanya sembari tersenyum.
Dia baru menyadari, setelah Januari 2014 lalu. Setelah pihak kerajaan kembali menelpon, dan mengatakan dirinya sebagai anggota dewan pembina King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center, Saudi Arabia.
 “Jelas kaget. Apalagi saat itu saya diminta langsung terbang ke Saudi Arab,’’ kenangnya. Meskipun masih dalam nuansa tidak percaya, namun Fuad tetap berangkat. Apalagi semua akomodasi penerbangan hingga penginapan ditanggung oleh pihak kerajaan. “Saya naik pesawat  Garuda Airlines dengan kursi VVIP. Terus terang saya sempat kaget  sebab itulah  kali pertama saya naik kursi VVIP,’’ katanya dengan tersenyum.
Selama di  Saudi Arab, pihak kerajaan juga menempatkan dirinya  menginap di hotel super megah. “Saat itu tidak hanya saya saja yang diundang. Tapi ada 8 orang lagi. Yaitu 5 orang dari Arab, 2 dari Afrika, dan 1 Eropa. Kami diinapkan di hotel yang sama,’’ katanya.
Lalu apa saja tugasnya setelah dirinya dilantik? Fuad pun mengaku tugasnya antara lain  melakukan evaluasi kinerja dan mengesahkan perbagai program kerja King Abdullah Bin Abdulaziz International Center. Selain itu, mereka  juga melakukan rapat 5 kali dalam setahun. Rapat pertama di Riyadh sudah dilaksanakan bulan Maret lalu, dan pada bulan Juli akan datang rapat kerja di Jakarta.
Meskipun berkumpul dengan  pengurus dari berbagai negara, Fuad mengaku tidak ada masalah. Karena dalam setiapkali pertemuan kerja, bahasa yang digunakan para Dewan Pembina lainnya adalah bahasa Arab.  “Tanggal 1-5 April lalu saya dari Arab menghadiri undangan dari King Faishal Center For Research and Studies.Yang jelas hamper setiap bulan sekali saya sekarang harus terbang ke Arab Saudi,’’ katanya.
Apakah juga menerima gaji?  Pria yang menempuh S2 jurusan Sastra Arab, IAIN Jakarta ini hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Dia menyatakan menjadi dewan pembina di King Abdulah Bin Abdulaziz International Center,  sudah menjadi capaian tertinggi dirinya. Lantaran itulah, diapun sama sekali tidak mengharapkan gaji. “Saya sama sekali tidak mengharapkan. Saya terpilih di organisasi itu saja sudah sangat bangga,’’ katanya sembari mengatakan meskipun tak digaji dirinya tetap berusaha dengan baik dan ikhlas.(Ira Ravika)

Bareng Seniman 28 Negara, Ajarkan Kalap Sebagai Power Tari

KESENIAN bantengan bersinar di Kota Batu akhir-akhir ini. Salah satu tokoh bantengan di Kota Batu adalah Agus Riyanto, warga Jalan Brantas Kota Batu. Agus bukanlah tokoh bantengan di Kota Batu saja, tetapi sudah banyak pengalaman bermain di luar negeri sekaligus melakukan atraksi bersama orang-orang warga negara asing.
Sosoknya kalem, badan agak gemuk sedangkan rambutnya sedikit gondrong. Dari sosoknya yang kalem itu bisa berubah menjadi garangan jika dia sudah memegang pecut atau cemeti di tangan kananya. Dalam satu kali sabetan cemeti ribuan bantengan bisa langsung datang dan melakukan atraksi bersama-sama.
Itulah sosok Agus Riyanto, salah satu tokoh bantengan yang sudah malang melintang di berbagai negara untuk atraksi. Sabetan cemeti dengan suara sedikit mennggelepar adalah sebuah bentuk komando kepada ribuan bantengan segera beratraksi. Dengan komando cemeti itu juga bantengan Kota Batu berhasil memecahkan rekor MURI untuk kategori terbanyak dalam pertunjukan di Stadion Brantas Kota Batu, beberapa waktu. Jumlah peserta bantengan massal itu hampir 2000 orang untuk pemecahan rekor MURI.
"Saya juga sangat berterima kasih Pemkot Batu menjunjung kesenian bantengan ini dari seni kampung menjadi kesenian khas Kota Batu," tegas Agus Riyanto singkat.
Berbagai negara pernah disinggahi dalam sebuah atraksi bantengan. Negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand sudah biasa disinggahi. Sedangkan negara lain, misalnya Jepang, Australia dan New Zealand. Dalam setiap atraksi, dia pasti gandeng bersama pelaku kesenian-kesenian lokal di negara setempat.
"Saya tampil di Thailand dan Malaysia, akhir 2013 lalu. Itu pengalaman paling gress dan sebelum sudah ke Jepang, Australia dan New Zealand. Asyiknya, atraksi di Malaysia itu diikuti pelaku seni dari 28 negara. Saya datang ke sana karena mendapat undangan," tegas bapak tiga anak ini.
Satu hal yang bisa dipetik dari pertunjukan keluar negeri, mereka sangat menghargai kesenian bantengan itu. Dia juga menjelaskan, mereka yang bersama-sama melakukan atraksi di luar negeri juga kreator tari di negaranya masing-masing.
Mereka memiliki keinginan besar mempelajari seni bantengan karena ada saat-saat kalap. Bukan sisi negatif yang diambil, tetapi dari sisi positif.
Saat mereka kalap, ada power besar dalam berkreasi setiap gerakan. Dengan power yang kuat itu, mereka bisa melakukan gerakan lebih menjiwai.
"Power saat kalap ikut dipelajari pelaku seni luar negeri. Power itu yang dimanfaatkan mereka saat melakukan atraksi bantengan ataupun tari. Itu karena mayoritas pelaku seni yang ikut dalam pertunjukan bersama, juga pencipta tari di negaranya masing-masing," kata Agus.
Karena pengalaman seperti itu, dia juga memiliki keinginan bantengan yang sudah dijadikan kesenian khas Kota Batu semakin mendunia. Bisa saja pelaku-pelaku bantengan asal luar negeri diundang ke Batu untuk atraksi bersama. Langkah seperti ini sangat manjur untuk menjadikan Batu sebagai kota wisata internasional," tambahnya.
Pihaknya juga ingin menepis isu-isu miring tentang bantengan. Bantengan menyebabkan orang kalap dan menjadi kesenian yang menakutkan. Kesenian jika dikemas secara apik akan memberikan penampilan yang luar biasa.
Dia menjelaskan, bantengan memiliki filosofi gotong royong. Bantengan adalah simbul kekuatan dalam sebuah gotong royong yang mampu mengalahkan pelaku macanan hingga monyet. Dalam kesenian bantengan, macanan dan monyet adalah simbol keangkaramurkaan yang semua itu bisa dikalahkan banteng.
Agus sendiri mengenal bantengan sejak kecil. Dia dapat ilmu itu dari kakeknya yang juga pendekar bantengan. "Kakek yang mengajari saya sejak kecil. Baru tahun 2006, kami mengadakan kegiatan Bantengan Nuswantoro. Bantengan Nuswantoro merupakan pagelaran seni bantengan yang diikuti oleh berbagai komuntas bantengan di Kota Batu," kata Agus. (febri setyawan)

Iroel, Pelukis Pensil Warna dengan Karya Senilai Ratusan Juta

Malang punya pelukis pensil warna kaliber nasional. Namanya, Chairul Sabarudin. Akrab disapa Iroel. Pria kelahiran Malang domisili Bantaran, mampu menghasilkan karya senilai hingga ratusan juta. Belum ada seniman asli Malang, yang mampu bersinar dan konsisten di tangga kesuksesan dunia seni lukis pensil warna, seperti yang dilakukan Iroel.
 
Tatapan lukisan harimau ini, tajam. Bola mata bulat hitam si macan, menembus lembaran kanvas lukisan. Sorot pandangnya tenang namun awas. Lidah merahnya menjulur ke bawah, mencari pelepas gerah.
Si macan sedang haus. Tapi, dahaganya tak mengurangi kewaspadaan.
Sambil terus memandang keluar kanvas, si macan meneruskan minumnya. Kumis putihnya hampir menyentuh air, melengkung seperti kumis anak kucing yang menikmati kesenangan. Tapi, telinganya terangkat. Layaknya parabola. Si macan seperti menyebar sinyal lewat kupingnya yang dikerumuni bulu-bulu putih.
Kuping tajamnya seperti bicara. Satu saja bunyi aneh tertangkap telinganya, si macan akan menghentikan minum dan mencakar oknum penganggu dengan kuku runcing. Bulu-bulunya begitu rapi. Garis-garis cokelat yang berjajar, seperti padang rumput savana yang menguning.
Loreng hitam menyembul di sana-sini, bergelombang seperti awan hitam. Bulu loreng si macan, membungkus kekuatan otot-ototnya. Punggungnya terlihat keras. Siku kaki si macan pun tegas dan kuat. Si macan seperti bicara, siapa mendekat, langsung disikat. Seperti itulah pengambaran Malang Post saat melihat karya seni lukisan pensil warna dari Chairul Sabarudin.
Sekilas, hasil karya Iroel, sapaan akrabnya ini, seperti foto. Namun, begitu didekati, gambar macan ini adalah lukisan. Dengan media pensil warna, Iroel yang asli Malang, begitu detail dalam melukis hewan predator ini. Iroel menggambarkan si macan dengan begitu halus.
Garis bulunya lembut namun tegas. Lalu, kekuatan warna untuk menggambarkan macan secara nyata, juga jadi keistimewaan gambar ini. Tiap goresan pensil warna di atas kanvas, makin menghidupkan sosok macan yang digambar oleh Iroel. Karya ini hanyalah satu dari puluhan lukisan Iroel yang menggunakan pensil warna.
Ya, pelukis yang tinggal di daerah Bantaran, Blimbing itu, merupakan pelukis pensil warna paling top yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. Belum ada karya lukis dengan media pensil warna di Indonesia, yang bisa menyamai level karya Iroel. Dengan mengandalkan detail, pelukis kelahiran 1968 itu, memberi soul atau nyawa bagi lukisan pensil warnanya.
Iroel menjelaskan, lukisan macan yang dibuatnya awal tahun 2014, adalah lukisan latihan. ‘’Ini adalah lukisan latihan. Saya belajar teknik baru dalam melukis pakai alat pensil warna yang saya modifikasi. Makanya lukisan macan minum air ini, gak ada judulnya, alias untitled,’’ terangnya kepada Malang Post.
Hasil gambar yang begitu detail dan berkelas ini, ternyata cuma gambar latihan yang mempergunakan pensil warna pendek yang sudah tidak terpakai.
Alumnus Seni Rupa Universitas Negeri Malang ini menjelaskan, 95 persen hasil lukisan macan minum air ini, tidak menggunakan pensil baru. Iroel memanfaatkan pensil-pensil bekas. Ia mengelupas batang kayu pensil, menyisakan bagian batang warna. Setelah dikelupas, batang warna yang pendek-pendek itu dimasukkan dalam alat khusus.
Alat tersebut adalah penghapus elektronik, yang dimodifikasi agar bisa jadi pensil elektrik. Batang berwarna itu dibebat kertas tipis, dan diselipkan di pucuk penghapus elektrik. Setelah itu, alat elektrik tersebut dipakai menggambar macan minum air yang tanpa judul tersebut.
Iroel hanya menggunakan pensil warna untuk melakukan finishing lukisan si macan. Seniman yang juga anggota galeri seni nasional Zola Zolu di Bandung tersebut mengungkapkan, ia menghemat banyak biaya dengan menggunakan pensil bekas yang tak terpakai. Biasanya, ia menghabiskan sekitar 100 pensil warna baru, untuk lukisan dengan lebar 1 x 2 meter seperti si macan.
Jika ditotal, maka biaya yang dihabiskan untuk 100 pensil warna adalah Rp 3 juta. Satu lukisan seperti si macan, juga harusnya menghabiskan minimal 100 pensil warna baru. Tapi, karena hanya memakai pensil bekas, Iroel mampu meminimalkan biaya, dengan hasil yang sangat berkelas.
‘’Saya menghabiskan banyak sekali pensil bekas. Mungkin pensil bekas bisa mencapai 400 buah, atau setara 100 pensil warna baru. Kalau diuangkan, harusnya habis Rp 3 juta untuk satu karya. Tapi karena bekas jadi pensil barunya hanya untuk finishing saja,’’ tegas adik kandung Indra Aswan, pencari keadilan yang biasa berjalan kaki ke Jakarta, tersebut.
Untuk menggarap lukisan si macan tanpa nama, Iroel menghabiskan waktu sekitar 3 minggu. Meskipun Iroel sudah belasan tahun jadi seniman, tepatnya sejak tahun 1990, ia selalu menghadapi kesulitan yang sama dalam setiap karya pensil warna.
Menurut maniak film ini, melukis pensil warna beda dengan cat air atau cat minyak. ‘’Kesulitan utamanya adalah, menutup bidang lebar dengan ujung runcing. Lukisan saya selalu memakai kanvas besar, sedangkan ujung pensil tak lebih lebar dari setengah millimeter. Tentu saja itu punya tingkat kesulitan sendiri. Harus ekstra sabar,’’ tutur Iroel.
‘’Tangan saya juga jadi dempal sebelah. Tangan kanan saya lebih besar dari tangan kiri saya. Belasan tahun saya mengarsir dengan pensil, jelas saja otot tangan kanan saya mrengkel sebelah, hahaha,’’ kata Iroel sambil tertawa.
Namun, perjuangan serta tingkat kesulitan pensil warna yang mendetail seperti karya Iroel, juga tidak murahan. Dengan gaya realis beraliran simbolis, Iroel sudah membangun reputasi sebagai pelukis pensil warna tersohor di Indonesia. Satu karyanya, dihargai dengan nilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Lukisan si macan yang tanpa nama dan hanya jadi lukisan latihan, harganya diatas Rp 50 juta. ‘’Ya kurang etis menyebut harga. Tapi memang lukisan saya untuk saat ini tak pernah dijual di bawah harga Rp 50 juta. Meskipun lukisan macan adalah lukisan latihan, tetap saja saya buat karya yang laku dijual. Hehe. Beberapa karya juga ada yang di atas Rp 100 juta,’’ tegas Iroel.
Saat ini, Iroel sedang mengerjakan proyek untuk pameran di Art Bazaar Jakarta, bulan Juli 2014. Art Bazaar adalah ajang pameran seniman top nasional dan internasional. Dalam Art Bazaar, tidak ada karya seni yang nilainya murah. Semua karya yang dijual di Art Bazaar mahal. Iroel sendiri sudah dua kali ikut Art Bazaar dan laris manis.
Tahun ini adalah tahun ketiganya di Art Bazaar. Pelukis yang sudah 7 tahun bergabung dengan galeri seni Zola Zolu Bandung itu bakal memamerkan lima karya terbaiknya untuk dipertontonkan kepada para borjuis dan kolektor yang tak pikir harga dalam berburu karya seni. Hasil lukisan Iroel di Art Bazaar dihargai mulai Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta.
‘’Insya Allah karya saya bakal ikut di Art Bazaar bulan Juli. Salah satu karya saya berjudul Splash, digambar di atas kanvas ukuran 1,9 x 2,5 meter. Sudah 85 persen,’’ tutup pelukis yang sudah jadi langganan majalah seni internasional itu. (fino yudistira)
Last Updated on Saturday, 19 April 2014 12:44

Komunitas Perkawinan Campuran yang Ingin Tetap Eksis

Lama hidup di negara orang, sekaligus mendapatkan pasangan hidup, bukan lantas mengurangi kecintaannya terhadap tanah air. Nani Arwati Panginda dan Gerrit Bontes, salah satu pasangan suami istri (pasutri), namun beda negara. Merasa sebagai kaum minoritas, mereka mendirikan Komunitas Perkawinan Campur (KPC) Flamboyan. Bagaimana lika-liku komunitas tersebut dan sumbangsih terhadap daerah?

Tidak terlalu sulit mencari rumah pasutri, Nani Arwati Panginda (48) dan Gerrit Bontes (72). Hampir semua orang di Jalan Flamboyan Kelurahan Songgokerto Kota Batu, kenal dengan keluarga Bule, demikian sapaan warga setempat, tersebut.
Apalagi rumah itu, cukup besar, untuk ukuran di kawasan sekitar. Bercat putih dan bersebelahan dengan masjid Taubah. Jadi, sangat mudah mencarinya.
Nani, tampak sumringah ketika ditemui hari ini. Terlihat keluarga kecil ini, baru selesai menghadiri pernikahan kerabatnya. Bahkan Nani masih lengkap dengan pakaian resmi. Termasuk suami dan anaknya yang belum sempat mengganti baju pestanya dengan baju santai.
Tanpa canggung, dia langsung bercerita awal mulanya KPC Flamboyan ini. KPC sendiri lahir tahun 2001 silam. Saat ini sudah ada 36 anggota pasangan suami istri atau perkawinan campur.
‘’Ada yang suaminya dari Australia, Belanda, Jerman, Italia, Skotlandia, Amerika, dan Swiss. Sementara istri-istrinya adalah asli Indonesia,’’ kata Nani didampingi sang suami, Gerrit Bontes di ruang depan rumahnya.
Awalnya, komunitas ini hanya sebatas ngumpul bareng dan arisan setiap sebulan sekali. Ketika bertemu itu, mereka yang rata-rata pernah tinggal di negara sang suami, selalu bertukar cerita, seputar kehidupan di negara orang.
Tak heran ketika berkumpul, masakan yang disajikan, biasanya masakan negara asal sang suami. Sehingga, komunitas ini menjadikan momen itu, sebagai ajang mengenang saat-saat menjalani hidup disana.
Tidak dipungkiri, sebagian masyarakat menilai, komunitas ini hanyalah dipakai ajang hura-hura. Akan tetapi, seiring berputarnya waktu,  mulai tumbuh kepedulian sosial dari anggota. Seperti memberikan bantuan bagi korban Gempa Aceh, Gunung Merapi dan terakhir Gunung Sinabung serta Gunung Kelud.
Tidak hanya itu, KPC justru pernah membangun klub belajar gratis
bahasa asing. Serta menjadi guide dan memperkenalkan kekayaan alam di Indonesia, seperti halnya di Kota Batu dan Malang.
Tapi, hal tersebut tidak berjalan lama. Anggota KPC silih berganti atau ada yang kembali ke negara asal sang suami. Angotanya selalu baru dan berubah.
Perempuan dengan dua anak ini mengakui, tidak mudah memang hidup dan kembali ke Indonesia dengan status suami beda negara. Karena, harus mengurus segala persyaratan. Seperti mengurus surat Kepemilikan Izin Tetap. Oleh karenanya, KPC Flamboyan memilih membangun komunikasi dengan KPC Melati Jakarta.
Tujuannya, untuk berjuang bersama mendapatkan hak dan kewajiban hukum. Terutama bagi pasangan suami istri yang campuran. Apalagi mereka sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif. Terutama sebelum tahun 2006. Pasangan berbeda negara, dipersulit untuk berkarya, dibatasi bekerja dan hal-hal lainnya.
‘’Baru setelah tahun 2006, ada aturan yang membuat kami lebih bebas berkarya. Termasuk mendukung program-program pemerintah,’’ tandasnya.
Nani pun sudah membuktikan hal itu. Dia selalu membangun silaturrahmi dengan orang kampung, dan membuktikan jika dirinya tidak seperti anggapan masyarakat, yang hanya sekadar foya-foya dan hidup hura-hura, karena bersuamikan orang asing.
Anak-anaknya pun, sengaja tidak disekolahkan di sekolah Internasional. Harapannya, untuk mengajarkan kepada mereka agar supaya bisa cepat sosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Ditambah agar supaya anak-anaknya bisa belajar bahasa Indonesia dan Bahasa daerah.
‘’Mereka hanya membutuhkan waktu dua bulan di sekolah, untuk bisa berinteraksi dan fasih belajar bahasa Indonesia. Tidak ada diskriminasi bagi keluarga kami dari masyarakat, justru mereka welcome,’’ paparnya. Kalau pun ada yang dikhawatirkan, adalah status anaknya yang masih dwi warga. Sehingga, rasa cemas dan bingung selalu menyelimuti setiap hari. ‘’Bagaimana masa depan mereka nanti, itu yang kami sedang obrolkan sesama keluarga campuran. Supaya, ada keringanan terhadap kami,’’ lanjutnya.
Sembari menunggu status tersebut, KPC ingin mendukung program pemerintah Kota Batu. Apalagi, status Batu sebagai Kota WIsata. Seperti sewaktu alm Imam Kabul, masih menjadi wali kota.
‘’Jaman Wali Kota Batu, alm Imam Kabul, kami selalu dilibatkan dalam menyambut tamu wisatawan asing. M ulai dari mengenalkan budaya, adat sampai tempat-tempat wisata,’’ urainya.
Karenanya dalam waktu dekat, mereka akan bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Kota Batu, Mistin. Mereka ingin mendukung gerakan mengeksplore kekayaan wisata alam di Kota Batu. Seperti konsep desa wisata dan keanekaragaman alam yang alami.
‘’Alangkah baiknya, jika pengelola desa wisata (masyarakat) fasih bahasa asing. Misal bahasa Belanda dan Inggris. Supaya komunikasi dengan wisatawan lebih nyaman, dan kami ingin sekali terlibat dalam mewujudkan hal tersebut,’’ ungkap perempuan sarjana Akuntansi di Belanda ini.
Nani yang lahir di Surabaya menuturkan, selama 12 tahun hidup di Belanda, termasuk salah satu WNI yang tampil dalam Indonesian Tradisional Dance (ITD), yang dikemas dengan penampilan kesenian dan budaya.  Wajar kalau dia sering dimintai bantuan travel untuk mengenalkan dan memaparkan lebih jauh tentang Indonesia.
Sementara itu, Gerrit Bontes mengaku senang dan nyaman berada di Indonesia. Sebab, suasana di Kota Batu mengingatkan dengan kampong halaman.
Bedanya, jika di Belanda, peraturan kehidupan lebih ketat, di Indonesia lebih enjoy dan tidak terlalu ketat. ‘’Iklimnya enak dan daerahnya bagus. Ditambah lagi masyarakatnya yang sangat menjunjung gotong royong dan menghargai sesama. Sekalipun saya bukan warga Indonesia, ‘’ katanya menambahkan  sang istri. (miski al madurain)

Page 1 of 30

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »