Malang Post

Features


Komunitas Perkawinan Campuran yang Ingin Tetap Eksis

Lama hidup di negara orang, sekaligus mendapatkan pasangan hidup, bukan lantas mengurangi kecintaannya terhadap tanah air. Nani Arwati Panginda dan Gerrit Bontes, salah satu pasangan suami istri (pasutri), namun beda negara. Merasa sebagai kaum minoritas, mereka mendirikan Komunitas Perkawinan Campur (KPC) Flamboyan. Bagaimana lika-liku komunitas tersebut dan sumbangsih terhadap daerah?

Tidak terlalu sulit mencari rumah pasutri, Nani Arwati Panginda (48) dan Gerrit Bontes (72). Hampir semua orang di Jalan Flamboyan Kelurahan Songgokerto Kota Batu, kenal dengan keluarga Bule, demikian sapaan warga setempat, tersebut.
Apalagi rumah itu, cukup besar, untuk ukuran di kawasan sekitar. Bercat putih dan bersebelahan dengan masjid Taubah. Jadi, sangat mudah mencarinya.
Nani, tampak sumringah ketika ditemui hari ini. Terlihat keluarga kecil ini, baru selesai menghadiri pernikahan kerabatnya. Bahkan Nani masih lengkap dengan pakaian resmi. Termasuk suami dan anaknya yang belum sempat mengganti baju pestanya dengan baju santai.
Tanpa canggung, dia langsung bercerita awal mulanya KPC Flamboyan ini. KPC sendiri lahir tahun 2001 silam. Saat ini sudah ada 36 anggota pasangan suami istri atau perkawinan campur.
‘’Ada yang suaminya dari Australia, Belanda, Jerman, Italia, Skotlandia, Amerika, dan Swiss. Sementara istri-istrinya adalah asli Indonesia,’’ kata Nani didampingi sang suami, Gerrit Bontes di ruang depan rumahnya.
Awalnya, komunitas ini hanya sebatas ngumpul bareng dan arisan setiap sebulan sekali. Ketika bertemu itu, mereka yang rata-rata pernah tinggal di negara sang suami, selalu bertukar cerita, seputar kehidupan di negara orang.
Tak heran ketika berkumpul, masakan yang disajikan, biasanya masakan negara asal sang suami. Sehingga, komunitas ini menjadikan momen itu, sebagai ajang mengenang saat-saat menjalani hidup disana.
Tidak dipungkiri, sebagian masyarakat menilai, komunitas ini hanyalah dipakai ajang hura-hura. Akan tetapi, seiring berputarnya waktu,  mulai tumbuh kepedulian sosial dari anggota. Seperti memberikan bantuan bagi korban Gempa Aceh, Gunung Merapi dan terakhir Gunung Sinabung serta Gunung Kelud.
Tidak hanya itu, KPC justru pernah membangun klub belajar gratis
bahasa asing. Serta menjadi guide dan memperkenalkan kekayaan alam di Indonesia, seperti halnya di Kota Batu dan Malang.
Tapi, hal tersebut tidak berjalan lama. Anggota KPC silih berganti atau ada yang kembali ke negara asal sang suami. Angotanya selalu baru dan berubah.
Perempuan dengan dua anak ini mengakui, tidak mudah memang hidup dan kembali ke Indonesia dengan status suami beda negara. Karena, harus mengurus segala persyaratan. Seperti mengurus surat Kepemilikan Izin Tetap. Oleh karenanya, KPC Flamboyan memilih membangun komunikasi dengan KPC Melati Jakarta.
Tujuannya, untuk berjuang bersama mendapatkan hak dan kewajiban hukum. Terutama bagi pasangan suami istri yang campuran. Apalagi mereka sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif. Terutama sebelum tahun 2006. Pasangan berbeda negara, dipersulit untuk berkarya, dibatasi bekerja dan hal-hal lainnya.
‘’Baru setelah tahun 2006, ada aturan yang membuat kami lebih bebas berkarya. Termasuk mendukung program-program pemerintah,’’ tandasnya.
Nani pun sudah membuktikan hal itu. Dia selalu membangun silaturrahmi dengan orang kampung, dan membuktikan jika dirinya tidak seperti anggapan masyarakat, yang hanya sekadar foya-foya dan hidup hura-hura, karena bersuamikan orang asing.
Anak-anaknya pun, sengaja tidak disekolahkan di sekolah Internasional. Harapannya, untuk mengajarkan kepada mereka agar supaya bisa cepat sosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Ditambah agar supaya anak-anaknya bisa belajar bahasa Indonesia dan Bahasa daerah.
‘’Mereka hanya membutuhkan waktu dua bulan di sekolah, untuk bisa berinteraksi dan fasih belajar bahasa Indonesia. Tidak ada diskriminasi bagi keluarga kami dari masyarakat, justru mereka welcome,’’ paparnya. Kalau pun ada yang dikhawatirkan, adalah status anaknya yang masih dwi warga. Sehingga, rasa cemas dan bingung selalu menyelimuti setiap hari. ‘’Bagaimana masa depan mereka nanti, itu yang kami sedang obrolkan sesama keluarga campuran. Supaya, ada keringanan terhadap kami,’’ lanjutnya.
Sembari menunggu status tersebut, KPC ingin mendukung program pemerintah Kota Batu. Apalagi, status Batu sebagai Kota WIsata. Seperti sewaktu alm Imam Kabul, masih menjadi wali kota.
‘’Jaman Wali Kota Batu, alm Imam Kabul, kami selalu dilibatkan dalam menyambut tamu wisatawan asing. M ulai dari mengenalkan budaya, adat sampai tempat-tempat wisata,’’ urainya.
Karenanya dalam waktu dekat, mereka akan bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Kota Batu, Mistin. Mereka ingin mendukung gerakan mengeksplore kekayaan wisata alam di Kota Batu. Seperti konsep desa wisata dan keanekaragaman alam yang alami.
‘’Alangkah baiknya, jika pengelola desa wisata (masyarakat) fasih bahasa asing. Misal bahasa Belanda dan Inggris. Supaya komunikasi dengan wisatawan lebih nyaman, dan kami ingin sekali terlibat dalam mewujudkan hal tersebut,’’ ungkap perempuan sarjana Akuntansi di Belanda ini.
Nani yang lahir di Surabaya menuturkan, selama 12 tahun hidup di Belanda, termasuk salah satu WNI yang tampil dalam Indonesian Tradisional Dance (ITD), yang dikemas dengan penampilan kesenian dan budaya.  Wajar kalau dia sering dimintai bantuan travel untuk mengenalkan dan memaparkan lebih jauh tentang Indonesia.
Sementara itu, Gerrit Bontes mengaku senang dan nyaman berada di Indonesia. Sebab, suasana di Kota Batu mengingatkan dengan kampong halaman.
Bedanya, jika di Belanda, peraturan kehidupan lebih ketat, di Indonesia lebih enjoy dan tidak terlalu ketat. ‘’Iklimnya enak dan daerahnya bagus. Ditambah lagi masyarakatnya yang sangat menjunjung gotong royong dan menghargai sesama. Sekalipun saya bukan warga Indonesia, ‘’ katanya menambahkan  sang istri. (miski al madurain)

Melihat Istana Santri ‘Khusus’ Rehabilitasi Mental Tumpang

Tidak hanya RSJ Sumberporong-Lawang, yang siap menampung caleg depresi, pasca mengalami tekanan, akibat kalah dalam pertarungan Pileg, 9 April lalu. Pondok Pesantren (Ponpes) Rehabilitasi Mental Az-Zainy Desa Pandanajeng-Tumpang pun, siap menerima caleg yang butuh penyembuhan. Bagaimana lokasi itu? Berikut tulisannya.

Mengunjungi Ponpes Az-Zainy, sangatlah mudah. Menggunakan jalur alternatif lintas Selatan ke arah Malang Timur, akan langsung dijumpai arah menuju ke Desa Pandanajeng.
Sekitar 10 menit melintasi lokasi jalan yang sudah hotmik tersebut, pandangan mata akan langsung tertuju pada bangunan megah di kiri jalan dengan pintu gerbang dengan arsitektur timur tengah. Lokasi seluas 1,5 hektare itulah, yang merupakan istana santri ‘khusus’ rehabilitasi mental Ponpes.
Sebutan istana bagi warga sekitar, selain bangunan yang sangat berbeda dengan kondisi sekitar, juga karena luas lahan yang digunakan. Dari total lokasi itu, melingkar bangunan seolah saling menyambung.
Sementara di bagian tengah, dibuat layaknya halaman dengan ditumbuhi pohon palem. Tidak ubahnya bangunan timur tengah. Tempat salat berjamaah pun, seolah menjadi satu bagian dari bangunan yang melingkar.
Areal itulah, yang saat jam-jam tertentu atau di luar menjalankan ibadah atau rehabilitasi, akan didapati sejumlah santri ‘khusus’. Sebutan itu muncul, seiring rawat inap dan menghilangkan kesan kurang bersahaja kepada mereka yang membutuhkan rehabilitasi.
‘’Mereka yang melakukan rehabilitasi di sini, dari bermacam-macam gangguan mental. Mulai karena narkoba, stress hingga gila bawaan,’’ kata pendiri sekaligus pemilik Ponpes Rehabilitasi Mental Az-Zainy, Gus Zain Baik.
Menyinggung caleg yang mengalami depresi, Abi, panggilan akrab Gus Zain Baik, yang dikarunia dua anak itu menerangkan, pada dasarnya mereka (Caleg) itu butuh penenangan hati. Termasuk didalamnya, juga penenangan jiwa. Tatkala kedua unsur itu mampu diatasi, besar kemungkinan tidak akan mengalami gangguan mental.
‘’Di sini, ada dua metode yang digunakan dalam mengatasi caleg seperti itu. Pertama, konsultasi tidak langsung. Bisa dengan telepon atau datang layaknya silaturahmi dan kembali pulang. Khusus yang konsultasi tidak langsung, nantinya akan diberi air asma’. Air ini didapat setelah melakukan zikir dan wirit. Selain metode ini, yang bersangkutan atau caleg juga diminta saat tengah malam melakukan zikir. Cukup setengah jam dan dilakukan dengan rutin, pastinya hati akan terasa tenang,’’ ungkap Gus Zen.
Khusus konsultasi tidak langsung, terang Gus Zen, saat ini dia  sudah menangani sekitar 10 caleg. Namun untuk nama-namanya, dia menolak menyebut. ‘’Tidak etis. Mereka telepon dan mengatakan tentang kegagalannya mencalon. Dari situ, minta doa. Santri ‘khusus’ tersebut, tidak hanya dari Malang Raya,’’ paparnya.
Bila dalam konsultasi tidak langsung, masih belum menemui ketenangan jiwa, caleg diarahkan untuk melakukan konsultasi langsung. Saat rehabilitasi inap ini harus dilakukan, biasanya keluarga calon santri ‘khusus’ akan melihat fasilitas.
Khusus yang satu itu, pengurus Ponpes sudah mensiapkan segala sesuatunya. Mulai ruang VVIP yang kerahasiaan santri ‘khusus’ terjaga dengan baik, hingga pada fasilitas di dalamnya.
Seperti televisi atau tempat tidur, semua sudah disediakan untuk santri ‘khusus’. Yang jelas, tanpa mengurangi rehabilitasi dengan banyak zikir, santri ‘khusus’ akan dilayani dengan baik.  
‘’Karena butuh ketenangan jiwa yang khusus, untuk ruang VVIP pengurus menyediakan empat ruang. Sementara untuk ruang VIP, disediakan sekitar enam ruang. Dari dua ruang itu, semua identitas dirahasiakan. Bahkan, santri ‘khusus’ akan menempati ruang masing-masing dengan penyembuhan yang nyaris sama. Selain dua ruang itu, juga ada ruang standart,’’ katanya seraya menjelaskan, untuk dua ruang pertama tersebut memiliki sedikit berbedaan dan layanan.
Disinggung mengenai metode rehabilitasi yang dilakukan, Gus Zen mengurai, santri ‘khusus’ akan dilakukan pengobatan yang dikemas secara Islami. Seperti, minum air yang sudah diberi asma’.
Untuk pasien baru, biasanya di totok peredaran darahnya agar lancar. Kemudian, bersama-sama salat berjamaah. Lalu, melaksanakan doa dan zikir setiap bulan. Bahkan, untuk santri ‘khusus’ yang parah, diajarkan kembali menulis, membaca dan berhitung hingga sampai konseling bersama dengan santri ‘khusus’.
‘’Selama rehabilitasi, santri ‘khusus’ akan diajak untuk melaksanakan kegiatan Islami. Mulai majelis taklim yang dikerjakan setiap sore dan isya’ atau usai salat berjamaah, majelis zikir yang dilakukan habis subuh. Lalu, istighotsah tiap bulan yakni pada Jumat Paling bersama 5 ribu jamaah, hingga wisata religi di halaman ponpes,’’ ungkap seraya mengatakan, selama menangani rehabilitasi mental, biasanya santri ‘khusus’ hanya butuh waktu dua sampai enam bulan, akan kembali normal. (sigit rokhmad)  

Ketika Kantor Polisi Menjadi Lokasi Ujian Nasional

Ujian Nasional (UN) untuk SMA-SMK-MA dan Paket C, kemarin serentak dilaksanakan. Di Kabupaten Malang, total peserta ujian 20.153 siswa. Semuanya mengikuti ujian di sekolah masing-masing. Namun ada satu siswa yang terpaksa mengerjakan UN, di Mapolres Malang. Dia adalah SG, pelajar salah satu SMK PGRI di Kecamatan Kromengan.

Jarum jam tangan, pagi kemarin, tepat pukul 07.00. Di balik pintu ruang tahanan Polres Malang, berdiri seorang pemuda. Memakai seragam sekolah, atasan biru dengan kombinasi putih dan bawahan celana hitam. Dia tidak memakai sepatu atau alas kaki apapun. Raut wajahnya terlihat tegang. Namanya berinisial SG, 19 tahun.
Saat itu, dia sedang bersiap diri untuk mengikuti ujian nasional. Pelaksanaan ujian, tidak dilakukan di sekolah tempatnya menimba ilmu, tetapi di Polres Malang. SG terpaksa mengikuti UN di Polres Malang, karena sedang menjalani masa tahanan. Dia ditahan sejak 5 April lalu karena perbuatan asusila.
Sekitar lima menit persiapan, dengan didampingi dua orang guru, satu pengawas serta petugas dari kepolisian, SG lalu dibawa ke ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA). Dia mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia di ruang Kanit UPPA Iptu Sutiyo SH Mhum. Nomor peserta ujiannya 27-159-027-6.
Di dalam ruangan, hanya ada SG dan seorang pengawas saja, Mahendra Bayu. Guru atau yang lainnya, tidak diperkenankan masuk karena ditakutkan mengganggu konsentrasi. Di luar pintu, dijaga seorang Polwan yang merupakan penyidik pembantu di UPPA.
‘’Semua alat untuk mengerjakan soal (pensil dan penghapus) termasuk kartu peserta, dibawakan guru,’’ tutur SG sebelum memulai mengerjakan soal.
Tepat pukul 07.30 setelah diberi penjelasan tentang pengisian soal, SG memulai mengerjakan soal UN. Pemuda yang tinggal di Jalan Plasemen Kromengan ini, hanya menundukkan kepala memandangi naskah soal.
Dia berusaha untuk konsentrasi, meskipun dalam hatinya, ada perasaan menyesal karena tidak bisa mengikuti UN di sekolah dan kumpul dengan teman-temannya.
Selama dua jam, SG mengerjakan UN yang berjumlah 50 soal. Tepat pukul 09.30 sesuai jadwal, ujian berakhir. Setelah selesai, dia lalu keluar ruangan Kanit UPPA dan duduk di kursi depan penyidik. Kepada Malang Post, SG mengaku grogi dan takut saat mengerjakan UN.
‘’Saya grogi dan takut tidak lulus. Mengerjakan ujian sendirian tidak enak. Lebih enak bareng dengan teman-teman di sekolah,’’ katanya dengan perasaan menyesal dan kedua mata berkaca-kaca.
Dari 50 soal yang dikerjakannya, SG mengaku hanya sekitar 50 persen saja yang bisa dikerjakan. Lebihnya, dia mengatakan kesulitan untuk mengerjakan. Salah satunya soal tentang penulisan sebuah alamat. ‘’Sebetulnya senang karena masih bisa ikut UN. Tapi takut tidak lulus,’’ ujarnya.
SG menuturkan, dalam menghadapi ujian nasional, tidak banyak waktu yang dipersiapkan. Hanya dalam waktu dua hari saja, dia belajar di balik terali besi. Buku yang digunakan untuk belajar, dibawakan oleh keluarganya. Termasuk seragam sekolah untuk mengikuti ujian. ‘’Saya hanya dibawakan empat buku untuk belajar. Mudah-mudahan saya bisa lulus,’’ harapnya sambil menitikkan air mata.
Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta, menuturkan, hak untuk tersangka SG ini tetap diberikan. Meskipun menjalani masa hukuman, tetapi dia diberi kesempatan untuk belajar.
‘’Kami siapkan ruang khusus kepadanya untuk ujian. Buku pelajaran untuk belajar juga sudah dibawakan keluarganya,’’ jelas Adi Deriyan.
Sugianto, guru Teknik di SMK PGRI, tempat SG sekolah menuturkan, sekolah terus memberian motivasi belajar supaya mentalnya tidak jatuh. ‘’Kami terus berikan motivasi kepadanya untuk terus berusaha supaya lulus. Sebetulnya SG ini di sekolah anaknya baik,’’ kata Sugianto. (agung priyo)

Mengintip Pesanggrahan Menghafal Qur’an Gratis di Krebet

Belajar mengaji, memang tidak mudah. Apalagi sampai hafal Alquran. Butuh kemauan serta niat. Di Jalan Raya Desa Krebet Kecamatan Bululawang, ada pesanggrahan menghafal Alquran secara gratis. Bahkan, ketika lulus, bisa mendapatkan bea siswa, jika ingin melanjutkan sekolah. Seperti apa ?

Sepintas orang tidak akan tahu, jika di Jalan Raya Krebet Kecamatan Bululawang (utara PG Krebet Baru Bululawang), ada Pesantren Tahfidz Putra Gratis, untuk menghafal Alquran. Namanya Pesanggrahan Qur’an Al – Arifie.
Pesanggrahan ini diasuh oleh Gus Ahmad Rofiq Hidayat, yang juga pengasuh di Pesantren Miftahul Ulum Desa Ganjar Kecamatan Gondanglegi. Gus Rofiq ini, juga salah satu qori’ dalam acara rutin Semaan Alquran Jantiko Mantab untuk daerah Malang dan sekitarnya.
Dari luar, orang yang tidak tahu, menganggap pesanggrahan hanya sebuat bengkel ban mobil. Karena di depan ada ruko yang memang membuka usaha jual beli ban. Usaha ban tersebut, milik donatur Pesanggrahan Qur’an.
Pesanggrahan Qur’an ini, berada di belakang bengkel ban. Jalan masuk ke pesanggrahan, lewat pintu samping yang menjadi satu dengan pintu bengkel. Di belakang, ada dua bangunan rumah dengan halaman cukup luas. Bangunan yang mepet dengan sawah itu, yang merupakan Pesanggrahan Qur’an.
Saat masuk ke halaman ini, terdengar beberapa suara orang mengaji. Suara yang terdengar dari kedua telinga ini, seakan langsung menyejukkan hati dan pikiran. Cuaca yang sebelumnya terasa panas, seperti langsung dingin dengan sendirinya. Apalagi melihat beberapa santri yang menyambut dengan penuh ramah.
‘’Pesanggrahan Qur’an ini usianya masih baru. Berdiri tahun 2012 lalu. Kami masih merintis untuk membesarkan Pesanggrahan Qur’an, yang memang kami prioritaskan untuk anak duafa dan yatim piatu,’’ tutur Gus Rofiq.
Semula saat baru berdiri, santri yang belajar menghafal Alquran hanya ada tiga. Namun sekarang sudah ada 17 santri. Mereka tidak hanya dari Malang. Ada dari Madura, Jakarta dan Jawa Barat.
‘’Kami tidak mencari banyak santri. Tetapi santri yang betul-betul punya niatan. Karena semua yang mau belajar kami terima. Tetapi ketika setahun kelihatan tidak ada niatan, kami keluarkan,’’ paparnya.
‘’Tujuan kami mendirikan Pesanggrahan Qur’an ini, karena melihat orang yang hafal Aquran sekarang ini hampir tidak ada. Dan karena ingin menjadikan manusia sukses dunia akhirat dengan berhati Alquran,’’ sambungnya.
Pembelajaran menghafal Alquran ada metode teknis yang diterapkan di pesanggrahan ini. Setiap harinya, santri diwajibkan untuk menghafal satu lembar. Setiap hari mulai pukul 14.00 sampai pukul 19.00, satu persatu santri harus menghadap Gus Rofiq untuk ‘menyetor’ hafalan ayat qur’an. Jika tidak hafal, santri akan ditegur dan denda Rp 1000. Denda yang terkumpul tersebut, akan dikembalikan kepada santri dengan bentuk Alquran atau keperluannya yang lain.
‘’Mereka istilahnya tidak hanya setor hafalan satu lembar itu saja, tetapi juga mengulangi lagi hafalan sebelumnya mulai dari awal. Dan itu terus setiap hari. Karena targetnya setahun harus hafal 10 jus. Dan tiga tahun santri harus sudah lulus menghafal Alquran,’’ jelasnya.
Bagi yang lulus menghafal Alquran, jika ingin langsung bekerja akan dicarikan pekerjaan dengan membuka usaha sendiri. Tetapi jika yang ingin melanjutkan sekolah atau kuliah, seperti yang lulusan SMP atau SMA akan dicarikan bea siswa untuk melanjutkan sekolah.
‘’Minimal kami akan mengusahakan untuk mendapatkan ijazah yang lebih tinggi dengan kejar paket. Karena lulusan penghafal Alquran nantinya pasti akan dibutuhkan,” paparnya. (agung priyo)
Last Updated on Sunday, 13 April 2014 13:41

Jadi Tempat Curhat Artis, Salah Poles Bisa Seperti Banci

Pesatnya perkembangan dunia fashion dan tata rias, membuat profesi make up artist menjadi profesi yang kian menantang. Saat ini, profesi tersebut mulai terangkat dan muncul di Kota Malang, sebagai penentu penampilan model dan artis, dari balik layar. Seperti yang digeluti oleh Olivia Stephani, owner Mozha Beauty Academy.

Saat Malang Post menemui Olivia Stephani di kediamannya, Jl Simpang Dieng No. 3, ia tampak membereskan berbagai alat rias di meja kerjanya. Siang itu, Olivia baru saja menyelesaikan kelas terakhir untuk siswanya di Mozha Beauty Academy.
Layaknya wanita yang berkecimpung di dunia kecantikan, penampilan Olivia, walaupun kasual, namun tetap enak dilihat. Menggunakan rok hitam selutut dan kaus oblong berwarna merah yang chic. Rambutnya yang lurus sebahu, dicat cokelat terang, cocok dengan warna kulitnya yang putih.
Meski berdomisili di Kota Malang, bukan berarti karirnya sebatas make up artist lokal. Beberapa even nasional di kota-kota besar lain, terutama Jakarta dan Surabaya, sukses atas profesionalitasnya di belakang panggung.
Kepada Malang Post, Olivia menjelaskan profesi yang ia tekuni tersebut. Menurutnya, seorang make up artist adalah penentu level percaya diri sang model, artis atau tokoh yang dilayaninya.
‘’Make up artist memang memiliki selera sendiri, tapi bagaimana hasil akhir karyanya, harus ia sesuaikan dengan selera klien yang bersangkutan. Yang penting, di kamera ia tetap tampak indah,’’ ujar alumnus Rever Academy, Puspita Martha dan Make Up Forever, Singapura, ini.
Menekuni dunia kecantikan sejak usia remaja, membuat Olivia kenyang asam garam dunia make up. Wanita yang berulang tahun setiap 18 Januari tersebut , banyak menceritakan pengalamannya selama menjadi make up artist.
Menurut kisahnya, dari semua public figure yang ia garap, pengalaman bersama Indah Kalalo, Donita, dan VJ Marissa Nasution, adalah yang paling berkesan. Ketika tengah dipoles, ada-ada saja topik seputar wanita yang dicurhatkan kepada Olivia oleh selebritis-selebritis nasional itu.
‘’Meski di TV terkesan sebagai aktris yang pendiam, ternyata pembawaan Donita ramah dan seru. Kepada saya, ia curhat masalah kesehatan. Kalau Indah Kalalo, seringnya sharing rekomendasi pilihan bulu mata yang bagus,’’ ujar wanita yang memulai kecintaannya terhadap dunia backstage sejak berdomisili di Surabaya tersebut.
Menariknya, lanjut Olivia, dalam dunia make up artist, tingkat kesulitan dalam merias seorang model atau artis, sangat detail. Jenis kulit, warna kulit, hingga tingkat sensitivitas kulit model, sangat mempengaruhi hasil make up.
Tentang wajah, seorang make up artist berbeda dengan make up biasanya. Klien dengan paras terlalu cantik, rupanya juga menjadi ‘kendala’ tersendiri bagi seorang make up artist.
Olivia sendiri punya pengalaman menarik saat memoles wajah VJ Marissa Nasution. Aktris pemeran Vivi dalam film Get Married 2 ini berkali-kali mengingatkan Olivia untuk tidak memoles wajahnya terlalu tebal.
‘’Marissa termasuk selebritis yang sadar wajahnya sangat tajam. Matanya, bibirnya, dagunya, alisnya, dan semua sudut wajahnya sangat cantik, sampai-sampai saya bingung mau diapakan. Kalau keliru polesan, orang yang terlalu cantik bisa seperti banci,’’ ujar pecinta busana kasual tersebut.
Dari berbagai even di luar kota yang melibatkannya, Olivia mengakui semuanya memberikan tantangan yang tidak kecil. Selain menyesuaikan make up dengan karakter yang dibawakan klien, juga mengenai sempitnya waktu yang disediakan untuk me-make up mereka.
Suatu ketika pada sebuah acara di Surabaya, beberapa menit menjelang tampil pada sebuah acara, wanita yang menyukai warna peach tersebut  harus memoles wajah selebritis muda, Gita Gutawa.
Meski dikejar jarum jam, Olivia harus tetap memasang wajah kalem. Sebab, jika ia terlihat tergesa-gesa, klien pun akan berpikir bahwa sang make up artist tidak maksimal dalam memoles wajahnya, sehingga kepercayaan dirinya berkurang.
‘’Sebenarnya, tantangan terberat setiap make up artist adalah waktu yang sebentar. Dalam setiap even, kami tidak pernah mendapat jatah waktu panjang untuk bekerja. Kerenanya, kami dituntut untuk bisa menyulap wajah dalam hitungan menit,’’ ujar wanita yang menjadi langganan Lenny Ivylen, perancang busana nasional terkemuka, ini seraya tertawa kecil. (laili salimah)

Page 1 of 29

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »