Malang Post

Features


Tiara, Arek Malang yang Tembus Indonesian Idol Junior

Share
Kau alasan ku bernyanyi
Alasan kunikmati
Indahnya hari
Yang hadir dalam hidupku

Itulah reffrain lagu dari Zahra, alumnus ajang pencarian berbakat anak Idola Cilik, yang dinyanyikan oleh Mutiara Naycilla Puteri Pradiastuti alias Tiara. Arek Malang yang beberapa waktu lalu mampu mengundang decak kagum juri Indonesian Idol Junior dan membuatnya berkompetisi dalam lingkup nasional di Jakarta. Juri Regina Ivanova, Titi DJ, Irvan Nat, dan Daniel Mananta pun kagum, dengan sosok Tiara yang semangat dan mempunyai misi agar anak yang memiliki kekurangan, menjadi percaya diri.
Ya, Tiara merasa dia memiliki kekurangan karena saat ini harus menjadi kidal. Bukan keinginannya, namun kondisi itu karena kesalahan fatal ketika dia dilahirkan. ”Tangan saya tersangkut di jalan lahir dan dua sarafnya patah,” ujar Tiara, ketika itu di depan empat juri.
Wajahnya yang tegar, sebenarnya tidak menyiratkan bila dia memiliki kekurangan. Bahkan, juri pun tidak mengetahui bila gadis cilik berusia sembilan tahun ini pernah mengalami kejadian yang membuat dia menjadi kidal. Terlebih, ketika dia bernyanyi, nadanya mulus tanpa ada sedikit pun yang sumbang, dan tembakannya di nada tinggi pas.
”Saya tidak boleh patah semangat dan bisa memberi contoh buat teman-teman yang lain jangan ragu bila memiliki kemampuan,” terang gadis cilik yang kini tinggal di Kecamatan Lowokwaru ini.
Menjadi satu-satunya wakil dari Malang beradu suara di Idol Junior, membuat Tiara bangga. Dia tidak minder dengan keadaannya, malahan dia mampu bertahan hingga babak spektakuler sebelum terhenti di 11 besar. Kecewa, namun dia mengambil banyak hal positif dari kompetisi itu. ”Yang jelas bisa memberi inspirasi juga untuk teman-teman lain,” tambah bungsu dari tiga bersaudara ini.
Percaya diri Tiara ini berkat motivasi dari orang terdekat, sang ibu bernama Bertha Dewi Radiastuti. Sang mama, menurut Tiara selalu memotivasi dia, sejak dia kecil. Dia tidak boleh patah semangat, atau menyesal dengan kekurangannya. Hal itu pun dibuktikan dengan pilihan lagunya yang kerap menyentuh hati, ditambah dengan penghayatan istimewa dari Tiara.
Selain Alasan, gadis yang kini duduk di bangku kelas 3 SDN Kauman 1 tersebut juga menyanyikan lagu Jangan Menyerah dari D’Masiv. Satu yang diyakininya, apa yang dia sampaikan lewat lagu, sama halnya dengan motivasi Tiara.
Termasuk lagu spesial untuk mama yang selalu mendampinginya. Iya, sesuai dengan pengakuan Bertha yang berbincang dengan Malang Post, dia harus memberikan perhatian ekstra untuk sang anak. ”Kekurangan dia waktu kecil, membuat saya harus lebih memperhatikan dia. Terutama memotivasinya,” terang dia.
Bertha pun sedikit menceritakan proses Tiara ketika lahir. Dengan berat sekitar 4,1 kg, ketika lahir terlalu besar dan membuat tangannya tersangkut di jalan lahir. Itulah yang membuat Tiara tidak bisa maksimal menggerakkan tangannya. Padahal, setelah proses kelahiran, perjuangan untuk memulihkan gadis penyuka barbie ini pun sangat maksimal.
Tinggal di Paiton kawasan Situbondo, sang ibu rela menempuh perjalanan pulang pergi selama enam jam untuk mengantar sang anak berobat di Surabaya. Tidak hanya itu, pengobatan pun pernah dilakukan hingga ke Bandung, baik medis maupun non medis. ”Pokoknya sudah lengkap, tetapi hasilnya sekarang ini, Saya sangat mensyukuri, tinggal memotivasi Tiara saja agar selalu percaya diri,” urai perempuan berusia 46 tahun ini.
Bertha menyampaikan, bakat menyanyi Tiara ditemukan oleh sang guru ketika masih duduk di TK. Ketika aktivitas melipat kertas, Tiara bernyanyi kecil dan didengarkan sang guru. Ternyata nadanya pas, dan itu disampaikan kepada Bertha. Hasilnya, gadis yang ketika dikarantina di Idol Junior satu kamar dengan Abby ini mengikuti beberapa lomba bernyanyi. ”Pertama kali lomba Purwacaraka di Cor Jesu, eh juara 1. Setelah itu, seringkali juara satu,” beber Bertha.
Begitu memasuki SD, akhirnya sang anak dimasukkan sekolah vokal untuk memantapkan vokalnya. Hingga akhirnya, Tiara berhasil mencapai prestasi tertinggi. ”Meski pun tidak juara, saya sangat bangga. Banyak teman di Idol Junior yang sangat berkualitas yang sangat pantas juara,” imbuhnya.
Bertha meyakinkan, akan selalu mensuport sang anak. Namun, dia tidak juga memaksakan seperti halnya ketika berkompetisi. Bila yang ditawari mau, maka berlanjut. Sebab dia mengakui, sang anak juga moody untuk berkompetisi. ”Biasa kan anak-anak. Kadang pun, ketika bernyanyi dia masih sering menawar untuk jumlah lagu yang dinyanyikan,” tambah dia, lantas tertawa.
Kembali ke sosok Tiara yang merupakan adik kandung dari Pra Addinata Graciando Putera dan Addinda Sekar Puteri ini, ternyata dia juga sosok pintar di bidang akademis. Dari kelas 1, selalu menjadi juara pertama. Hanya, ketika ikut kompetisi, dia menjadi juara ketiga. Tetapi, catatan ini sangat bagus di tengah aktivitasnya yang padat di karantina dan dia mesti belajar hanya beberapa jam saja dalam seminggu.
Selepas dari Idol Junior, dia mengakui kangen bertemu dengan teman-temannya. Terutama Abby yang merupakan teman sekamar, dan juga Vitara yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Selain itu, dia juga kangen ritual sebelum tidur, yakni menikmati sajian telur dadar dari Tante Londo, julukan ibu Abby Junior. ”Selain kangen teman-teman, kangen juga sama telur dadar Tante Londo sebelum tidur. Bisa membuat saya lebih gemuk dan bersemangat menghadapi hari esok,” pungkas Tiara, yang ayahnya bekerja sebagai pegawai PLTU di Surabaya ini.(stenly rehardson/ary)
comments

Miliki Galeri di Pakisaji, Kerap Didatangi Wisatawan Asia hingga Eropa

Share
Kabupaten Malang memiliki galeri lukisan yang cukup eksis di Pakisaji. Galeri itu dikelola Aris Setiawan, pria yang memutuskan jalan hidupnya menjadi seorang seniman perupa. Siapa sangka, galeri milik Aris juga menjadi tujuan wisatawan mancanegara dari Benua Asia hingga Eropa.

Bagi Aris, hampir seluruh waktunya dihabiskan dengan kanvas serta cat warna tersebut. Dia pun memetik hasilnya. Karyanya banyak diapresiasi masyarakat hingga wisatawan manca negara. Layaknya seorang seniman pelukis, Aris Setiawan tampil apa adanya alias natural. Berambut panjang dan mengenakan kaos lengan pendek, dia saat itu tengah asyik melukis di galerinya yang terletak di Jalan Raya Pakisaji. Tangan kanannya, memegang kuas dan asyik menggoreskan cat warna di atas kanvas yang telah berpigura.
Sesekali pria berusia 31 tahun ini, memandang sejenak karya lukisannya yang belum selesai tersebut. Ketika mengetahui kedatangan Malang Post, dia menghentikan aktivitasnya. Kemudian mempersilahkan masuk ke dalam galerinya. Di dalam galeri berukuran 6 meter x 8 meter itu, terdapat puluhan lukisan yang terpajang.
Terdapat lukisan alam maupun pemandangan, lukisan abstrak, lukisan buah-buahan, lukisan hewan dan lukisan tokoh seperti Bung Karno. “Lukisan yang saya buat, alirannya adalah realis dan natural. Artinya, lukisan itu nyata dan sesuai yang ada di dunia ini. Salah satunya adalah pemandangan,” ujarnya mengawali pembicaraan.
Puluhan lukisan itu, berbagai ukuran. Mulai dari berukuran kecil, sedang, hingga besar yakni berukuran 2,5 meter x 1,5 meter. Lukisan berukuran besar itu, diperuntukkan sebagai hiasan di dalam ruangan rumah maupun perkantoran. “Membutuhkan waktu 20 hari lebih, ketika melukis di atas kanvas ukuran besar ini,”  imbuhnya.
Selain membutuhkan waktu lama, tingkat kesulitan melukisnya juga cukup tinggi. Karena dalam proses pembuatannya, membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian. Mulai dari proses sketsa, hingga melukis atau memberi warna dibutuhkan kehati-hatian. Tidak hanya itu saja, obyek lukisannya disesuaikan dengan permintaan dari pemesan.
“Semakin sulit obyek yang dibuat, maka harga jualnya semakin mahal. Contohnya lukisan kuda yang berukuran besar ini, saya jual seharga Rp 15 juta,” kata bapak dua anak ini. Dunia lukis, merupakan hobinya sejak kecil. Bermula dari hobi itulah, ternyata bisa dijadikan profesi dan memberikan tambahan lebih baginya.
Selama menekuni hobinya itu, dia telah menghasilkan banyak karya yang diburu oleh kolektor. “Saya mempunyai galeri ini sejak sembilan bulan yang lalu,” akunya.
Sedangkan mayoritas pemesan lukisannya adalah pengusaha dari Tulungagung, Blitar dan Kediri. Wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Malang, juga menyempatkan diri mampir ke galerinya. Bahkan galerinya tersebut, juga sering kali didatangi oleh wistawan mancanegara dari berbagai negara.
Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Inggris, Belanda, Perancis dan Suriah. “Pernah suatu ketika, wisatawan asing dari Suriah membeli lukisan abstrak karya saya. Katanya, bentuknya unik dan bagus. Lukisan seperti itu, katanya tidak ada negaranya,” tuturnya. Tentunya perasaan bangga, ketika lukisannya diberi oleh wisatawan asing.
Karena hasil jerih payahnya berupa karya lukisan, diapresiasi oleh wisatawan manca negara. Selain itu, dia saat ini membawahi sekitar empat pelukis di dalam galerinya. Tujuannya, sebagai tempat para pelukis itu mengeksplorasi dan mengembangkan keahliannya. Apalagi, kualitas pelukis Kabupaten Malang tidak kalah dengan daerah lain.
“Mereka selama ini belum ada wadah sebagai pengembangan karya. Melalui galeri ini, kami ajak mereka untuk maju, kreatif dan sukses bersama-sama,” tuturnya. Melalui galeri ini dia juga semakin menegaskan, potensi lukis Kabupaten Malang bisa berkembang. Tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk mendaptakan lukisan berkualitas.
Selanjutnya, dia berharap Pemkab Malang lebih perhatian terhadap perkembanganm seni lukisan di Kabupaten Malang. Karena diakui, belum banyak even pameran lukisan di Kabupaten Malang. Padahal menurutnya, potensi pelukis Kabupaten Malang, tidak kalah dengan daerah lain dan bahkan bisa lebih berkualitas.(Binar Gumilang/ary)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
comments

Pemulung Dinoyo Pembuat Penyedap Rasa Alami Berbahan Sawi Langit

Share
Aktivitas sehari-hari sebagai pemulung tetap membuat Sumiyati mampu berkarya. Pemulung di kawasan Dinoyo ini berhasil memproduksi penyedap rasa berbahan dasar tanaman sawi langit. Karyanya pun sudah terjual hingga ke Filipina dan Australia.
Bibit tanaman sawi langit dibudi daya di depan sebuah rumah sederhana di ujung tepi  Sungai Brantas. Dari rumah ukuran 5 x 7,5 meter berdinding batu bata yang belum diplester itulah Sumiyati hidup dan berkarya.
“Tadi pagi mulung, ya dari jam setengah enam sampai jam setengah tujuh. Setelah itu siapin untuk buat penyedap rasa,” kata Sumiyati. “Ini bahannya, sawi langit. Saya budi daya sendiri,” sambung wanita 58 tahun ini sembari menunjukkan tanaman sawi langit yang ditanam di sejumlah pot.
Ibu tiga orang anak ini mulai jadi pemulung pada tahun 1987. Ia terpaksa ikut membanting tulang untuk menyokong ekonomi rumah tangganya. “Suami saya tukang becak. Saya ikut cari tambahan,” kata Sumiyati.
23 tahun memulung barang bekas, pada tahun 2010, Sumiyati bagai menemukan jalan baru dalam kehidupannya. Saat itu, dia diajak mengikuti pelatihan membuat penyedap rasa oleh sebuah organisasi.
Belajar dari tahun 2010, dua tahun kemudian Sumiyati akhirnya bisa produksi sendiri penyedap rasa alami. Nama produknya Aufa. Ia memproduksi dalam dua kemasan, yakni botol dan sachet. Sumiyati tentu tidak seorang diri, ia didampingi sebuah organisasi, Perempuan Mandiri Sumber Perubahan (Preman Super) dan seorang ibu pegiat herbal.
“Bahannya biasa saja. Dari sawi langit, bawang bombai, bawang putih, gula putih dan garam kasar,” kata Yati, sapaan akrab Sumiyati. Kendati hanya seorang pemulung, Yati tahu bagaimana caranya menjaga kualitas produknya.
“Wajan, blender, alat-alat masaknya saya sendirikan. Ini khusus, gak boleh dicampur nanti rasanya bisa berbeda,” katanya lalu menunjukkan peralatan memasak yang disimpan di sebuah lemari di ruang tamunya. “Ini kan, saya sendirikan (pisahkan),” sambungnya meyakinkan.
Yati memang tak memiliki pengetahuan secara lengkap soal industri makanan produksi rumah tangga. Namun dia paham apa yang harus dilakukan sehingga produknya bisa diterima di pasar. Misalnya ia menunjukkan tentang P-IRT. Tapi nenek tiga cucu ini tak paham kepanjangan P-IRT. “Ini (P-IRT) ada nomornya. Dulu dibuatkan di Dinas Kesehatan. Gratis kok,” katanya.
P-IRT yang dimaksudnya yakni kode Pangan Industri Rumah Tangga. Dinas Kesehatan memang menerbitkan P-IRT. Tujuannya tentang standarisasi bahan makanan olahan yang digunakan.
Pengetahuan tentang menghitung biaya produksi memang tak utuh. Tapi Yati bisa melakukannya secara baik. Ia lantas mengatakan selama ini menggunakan sistem pembukuan. “Ada catatannya, kebutuhannya berapa, buat beli apa saja, trus dijual kemana, hasilnya berapa, dibaginya kemana. Catatan saya ada kok,” katanya bersemangat.
Sebotol Aufa produksi Sumiyati dijual dengan harga Rp 30 ribu. Keuntungan yang didapat per botol yakni Rp 12 ribu. “Lainnya saya berikan ke yang bantu, kan ini juga dibantu kelompok. Juga untuk belanja kebutuhan seperti bahan sama beli gas,” paparnya.
Saat ini produksi dan  pemasarannya memang terbatas. Ia hanya memproduksi sesuai kebutuhan dan permintaan. Biasanya dipesan oleh ibu-ibu kelompok pengajian dan kenalannya dosen di beberapa perguruan tinggi.
Wanita asal Sumbermanjing Wetan ini itu kini merasa bahagia. Betapa tidak, pada tahun 2013, penyedap rasa hasil olahannya dijual ke Filipina. Saat itu diikutkan dalam sebuah pameran. “”Saya tidak ikut ke Filipina. Tapi Aufa yang dibawa ke sana. Waktu itu lakunya 12 botol,” katanya. Uang yang didapatnya dari hasil pameran di Filipina sebesar Rp 300 ribu. “Katanya harga di Filipina 150 peso. Tapi saya tidak tahu peso itu berapa. Ya iya saya tetap senang sekali, apalagi saya orang kecil,” katanya sembari tertawa.
Sebelumnya pada tahun 2012, penyedap rasa olahan Sumiyati juga terjual hingga ke Australia. Waktu itu, dibawa oleh seorang kenalannya ikut dalam pameran di Bali. “Diborong sama orang Australia. Ya sudah sampai Australia,” ceritanya girang.
Di usia senjanya, Yati semakin optimis terhadap usaha barunya itu. Apalagi Aufa menurut dia tak sekadar penyedap rasa tapi juga punya nilai kesehatan, bisa mengatasi kolesterol, asam urat, darah tinggi dan darah rendah. “Ya sudah diperiksa, katanya seperti itu (bisa atasi kolesterol, asam urat, darah tinggi dan darah rendah),” ujarnya meyakinkan.
Hanya saja untuk mengembangkan usahanya, Yati kesulitan modal. Ia tak bisa produksi secara massal karena butuh biaya besar. Selain itu untuk pemasaran juga butuh modal. “Kalau ada modal, bisa bertambah lho. Iya saya butuh modal,” katanya penuh harap.(vandri/han)
comments

Sisi Lain Kiper Arema Cronus Kurnia Meiga Hermansyah

Share
SEPAK BOLA sering diibaratkan dengan dunia malam nan glamor yang hedonis serta individualis. Namun, Kurnia Meiga Hermansyah, kiper nomor satu Arema Cronus dan timnas Indonesia, tak mau terjebak dengan semua itu. Selain menekuni profesi sepak bola, Entong dan istrinya Azhiera Adzka Fathyr atau Azizah Hermansyah, punya panggilan hati untuk berbagi dengan sesama. Diam-diam, Meiga dan Zia yang baru dikaruniai satu putri itu, sudah memiliki dua anak asuh.

Kurnia Meiga adalah kiper atraktif di atas lapangan. Saat di luar lapangan, gayanya cuek dan seperti tidak peduli. Namun, siapa sangka ternyata Meiga punya hati yang lembut dan belas kasih. Sebelum memiliki putri bersama istrinya Azhiera Adzka Fathyr, Meiga ternyata telah membesarkan dua anak asuh, bernama Asmawati dan Kurnia Sabrina Az-Zahra. Sabrina yang sekarang berusia satu tahun delapan bulan sudah ikut Meiga sejak tahun 2013. Bahkan, Asmawati kini sudah lebih dari 12 tahun diasuh oleh Meiga dan keluarganya.
Dua putri asuh Meiga punya cerita pilu. Zia, istri Meiga mengungkapkan, Sabrina adalah anak yang tidak diinginkan dari pasangan tanpa ikatan nikah. "Sabrina yang masih umur 1 tahun 8 bulan, anak dari teman sekolah adik saya. Laki-laki yang hamili tidak bertanggung jawab dan ditinggal begitu saja. Saat Sabrina mau lahir, saya, Meiga dan keluarga bikin kesepakatan untuk membawa dia dan mengasuhnya. Nama Kurnia Sabrina Az-Zahra adalah pemberian Meiga," kata Zia kepada Malang Post, kemarin.
Sabrina sekarang sedang dalam asuhan Zia dan Meiga di Malang. Sabrina menjadi kakak buat Talita, putri kandung Meiga dan Zia yang baru lahir tahun lalu. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, Meiga dan Zia membesarkan Sabrina seperti putri mereka sendiri. Pasalnya, Zia merasa terenyuh dengan nasib yang menimpa jabang bayi Sabrina. Dia heran, mengapa bayi tidak berdosa harus lahir tanpa tanggung jawab dan kasih sayang bapak ibunya.
"Karena itu, Meiga dan saya memutuskan untuk asuh Sabrina. Saya yakin, Sabrina tidak kebetulan menjadi anak kami. Allah memberikan dia karena kami dipercaya dan mampu membesarkan Sabrina. Kami yakin, dia berasal dari Allah dan akan memberi berkah serta harapan bagi keluarga kami," terang wanita kelahiran Jakarta tersebut. Meiga tidak memperbolehkan Sabrina dan Talita diasuh oleh pembantu.
Tak heran, dalam keseharian, Meiga terbiasa mengasuh dua putri kecilnya bersama Zia. "Kalau di rumah, Meiga ngurus si Talita, saya yang urus Sabrina. Begitu juga sebaliknya. Dia ingin membesarkan sendiri dua putrinya yang masih kecil ini," sambung Zia.
Cerita putri asuh pertama Meiga, juga tidak kalah miris. Asmawati berasal dari pedalaman Flores. Asmawati sudah lebih dari 12 tahun diasuh oleh Meiga dan Zia. Karena faktor ekonomi dan kendala finansial, Asmawati terpaksa terlantar di Jakarta tanpa orangtua. Momen pertemuan dengan keluarga Meiga, menyelamatkan Asmawati dari nasib menggelandang di ibu kota.
Asmawati tumbuh besar dalam keluarga Meiga di Jakarta. Setelah diasuh oleh orang tua Meiga, kini Asmawati ikut kiper jebolan diklat Ragunan itu. Sampai sekarang, Zia dan Meiga bingung menjawab berapa umur Asmawati. "Karena saat pertama bertemu Asmawati, dia sendiri tidak tahu umurnya berapa. Tidak ada akta kelahiran apalagi KK. Sekarang Asmawati sudah kuliah. Meiga membiayai kuliahnya di kampus kebidanan di Jakarta. Dia adalah pribadi yang luar biasa. Kami senang karena dia tumbuh jadi wanita yang kuat dan baik. Kami yakin dia bisa sukses dan mampu membangun hidupnya sendiri suatu saat nanti," sambung Zia.
Zia sendiri berencana untuk menambah anak asuh lagi. Meiga ingin mengasuh anak laki-laki. Ia sudah menemukan calon anak asuh di Jakarta. Anak laki-laki berumur 4 tahun yang ditinggal mati ibunya karena penyakit kanker. Ayah bocah 4 tahun ini depresi berat dan tidak mampu membesarkannya. Bocah empat tahun itu ingin diasuh oleh Meiga dan diboyong ke Malang. Namun, karena si bocah masih syok ditinggal oleh ibunya, Meiga masih mengurungkan niatnya.
"Kalau nanti si bocah diantar ke Malang dan mau jadi anak kita, ya jadi kita asuh. Kalau dia gak mau, kita gak maksa. Karena sekarang dia sedang diasuh oleh orang tua saya. Dia dekat sama orang tua saya," tutupnya.(fino yudistira/han)
 
comments

Bayi Dikremasi Tetap Utuh, Abu Tiba-tiba Menjadi Berat

Share
Kisah Mistis dan Pengalaman Petugas Kremasi
Selama beberapa waktu terakhir, krematorium acap kali menjadi jujugan korban AirAsia QZ8501 yang ingin jenazahnya dikremasi. Tidak terkecuali, Krematorium di Sentong Baru Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang. Ada banyak kisah yang dialami para petugas kremasi tersebut saat menjalankan atau seusai menyelesaikan tugas mereka.

Setahun, sepertinya waktu yang relatif cukup bagi Mujiono, 40 tahun warga Jalan Ki Ageng Gribik, Lesanpuro-Kota Malang, untuk mendapat pengalaman baru di pekerjaannya. Meski terbilang baru seumuran jagung menjadi petugas kremasi, namun pria berpenampilan subur dan dianggap paling senior itu, mengaku banyak mendapat kejadian-kejadian yang sulit diterima dengan akal sehat.
Salah satu pengalaman yang sangat diingatnya, saat melakukan pengabuan jenazah bayi yang baru berusia tiga bulan. Seperti biasa, begitu prosesi upacara kremasi selesai, jenazah yang sudah ada di dalam peti, selanjutnya dilakukan pengabuan oleh petugas kremasi atau keluarga korban.
Dengan menggunakan pengapian yang mencapai 500 derajat celcius dan dilakukan selama kurang lebih 2 jam, secara otomatis peti jenazah hingga jenazah yang di dalam peti tidak menyisakan apa-apa. Yang menurut Mujiono tidak masuk akal kala itu, setelah 2 jam dilakukan pengapian, tulang-tulang jenazah bayi mungil itu masih utuh.
Karena kejadian tidak lumrah itulah, akhirnya petugas melakukan upacara manual untuk kelancaran kremasi. Hasilnya, sekitar 1 jam setelah pengapian, tulang jenazah pun siap dilakukan pengabuan.
“Kejadian seperti itu (bayi), hampir tidak pernah terjadi. Namun, karena pada awalnya semua adalah makhluk hidup, makanya kami pun melakukan upacara sendiri. Agar apa yang kami lakukan ini juga disadari dan semata-mata adalah tugas menjalankan ibadah dari bayi itu,” kata Mujiono seraya menduga-duga, itulah alasan mengapa bayi dibilang masih suci dan tidak memiliki dosa.
Selain proses kremasi yang mengalami kejadian mistik, pria berkumis itu juga bercerita, ia pernah mengalami pengapian ngadat dan tidak mengeluarkan api. Lagi-lagi, untuk mengatasi masalah di luar nalar itu, akhirnya disiasati dengan upacara.
“Selama saya bekerja, namanya pengapian itu tidak pernah ngadat, selalu menyala. Tapi saat itu, kami dibuat bingung karena api tidak muncul. Hingga akhirnya, kami sambat (berucap dalam hati) menjelaskan kalau yang dilakukan bukan untuk tujuan buruk. Namun, lebih karena tugas atau pekerjaan. Selesai itu, pengapian langsung bisa menyala,” tambahnya menunjukkan rasa herannya.
Beberapa kejadian mistik, terang Mujiono, sebenarnya tidak hanya dialami saat proses kremasi berlangsung. Namun, saat akan mengantarkan abu jenazah kepada keluarga duka atau Yayasan Gotong Royong untuk keperluan penitipan pun terkadang masih terjadi.
Pernah suatu ketika, abu jenazah yang sudah siap antar dan biasa dimasukkan tas agar aman dan tidak jatuh, justru memiliki berat yang tidak biasa. Padahal, pengantaran abu jenazah dari Krematorium ke Yayasan, biasa sampai membawa dua pengabuan dalam sehari.
“Antara percaya dan tidak, pernah sepeda motor yang biasa saya gunakan untuk mengantar abu tidak mau menyala. Karena saya sendiri juga tahu hal-hal semacam ini, akhirnya saya sambati dalam hati kalau saya hendak mengantarkan abu jenazah, agar dibantu. Setelah sambat seperti itu, sepeda motor saya bisa jalan,” paparnya.
Selama mengkremasi jenazah korban AirAsia, Mujiono mengatakan, proses kremasi berjalan lancar. Bahkan, tidak ada kendala sama sekali. “Semua berjalan baik,” katanya. (sigit rokhmat/han)
comments

Page 1 of 67

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »