Malang Post

Features


Berawal dari Ijuk Atap, Rambah Pembuatan Gazebo

SANTAI: Putra pertama Muhammad Toha, M Imron Fauzi di gazebo buatan orang tuanya yang siap jual.

Bambu bagi sebagian orang menjadi tanaman yang kurang memiliki nilai jual tinggi. Namun, tidak demikian bagi Muhammad Toha, 46 tahun warga Jalan Prof M Yamin, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Berkat tangan dinginnya dalam menyulap bambu, tanaman itu kini bernilai jual tinggi.
Gazebo. Itulah salah satu karya tangan dingin dari bapak empat anak itu. Dengan memanfaatkan bahan inti dari bambu yang perbatangnya dibeli seharga sekitar Rp 20 ribu itu ia membuat usaha yang baru dirilisnya delapan bulan lalu. Hasilnya, gazebo karyanya banyak dicari masyarakat kalangan menengah ke atas.
Mengawali usahanya yang baru seumuran jagung, modal yang digunakan Toha pun terbilang kecil yakni sekitar Rp 1,5 juta. Dengan memperdayakan warga di sekitar lingkungannya antara dua sampai tiga orang, modal itu digunakan untuk membeli lonjoran (batang) bambu sebagai bahan inti gazebo.  Selain bambu biasa, untuk pondasi gazebo juga digunakan bambu jenis petung yang ukuran diameternya jauh lebih besar.
Dari bahan yang sudah dibelinya itu, satu persatu lonjoran bambu dipotong sesuai dengan fungsi dan ukuran gazebo yang akan dibuat. Dengan modal yang terbilang terbatas, ia pertama kali membuat gazebo dengan ukuran 2 meter x 2 meter. Untuk membuat itu, ia hanya melakukan pemilahan bambu untuk pondasi (bambu petung), empat tiang gazebo, dasar gazebo, sandaran dan sisi per masing-masing gazebo. Sebagai lantai atau dasar, bambu pun di potong dengan ukuran sedang.
Begitu proses pemotongan rampung, barulah satu persatu bambu yang sudah disiapkan, mulai dibentuk sesuai dengan ukuran yang akan dibuat atau dipesan customer. Dari rangkaian yang nantinya berbentuk kerangka, diteruskan dengan pemberian anyaman di tiga sisi gazebo yang dipakai untuk bersandar.
“Biasanya, pada bagian bawah akan diberi dengan anyaman gedek. Khusus yang satu ini, saya memberdayakan warga untuk membuat dan dijual ke kami. Sedangkan pada sisi atas gedek, diberi potongan bambu untuk bersandar. Sehingga, selain bisa menikmati udara segar yang masuk, pemakai bisa bersandar di dalam gazebo,” terang Toha.
Setelah kerangka dan sisi tengah gazebo selesai, proses pembuatan kemudian diteruskan pada sisi atas. Khusus yang satu itu, ia memanfaatkan ijuk (dari pohon Aren-Dodok) atap sebagai peneduh gazebo. Karena pekerjaan sehari-harinya juga menjual ijuk atap, maka bahan itu pun mudah didapatnya untuk langsung digunakan. Gazebo dengan ukuran minimalis yakni 2 meter x 2 meter, biasanya hanya membutuhkan sekitar 30 kilogram ijuk atap.
Begitu bentuk gazebo sudah rampung, tibalah pada penghalusan bentuk. Biasanya, ia mulai melakukan pengecatan hingga memberikan potongan rotan di masing-masing titik penyambungan bambu. Karena, selain perlu dipaku untuk menguatkan bentuk gazebo, rotan dimaksudkan untuk membantu pemakai agar lebih nyaman atau tidak tergores dengan sambungan bambu.
“Ketika gazebo sudah jadi, maka untuk penjualannya per satu unit minimal seharga Rp 2 juta,” katanya seraya akan mengembangkan usaha itu hingga ke kawasan Bali dan Jogjakarta.
Toha sendiri mengawali usaha barunya itu setelah melihat perkembangan kawasan perumahan dan perhotelan yang sangat tinggi di kawasan Malang Raya. Dari kesibukannya yang aktif menjual ijuk atap, munculah ide untuk mengembangkan gazebo dengan memanfaatkan banyaknya mampu yang masih mudah dibeli.
Khusus ijuk atap, pemasaran yang dilakukannya sudah menembus sejumlah lokasi wisata. Mulai Wendit, Sengkaling, Kota Batu hingga Taman Safari. Dari sejumlah potensi itu pula, pengembangan akan dilakukan secara bertahap.
“Dalam pembuatan gazebo, tingkat kesulitannya saat melakukan pemasangan atau penyambungan bambu satu ke bambu yang lain. Karena, sistem yang digunakan adalah dengan melubangi. Jadi, harus pas sehingga gazebo tidak miring,” tambahnya.
Semangat Toha dalam membuat gazebo, tidak hanya dilatar belakangi oleh permintaan pasar yang bagus dan mudahnya bahan dasar yang gampang diperoleh. Tetapi, juga pada fungsi dan daya tahan gazebo tersebut. Dalam tempo minimal 5 tahun, gazebo tidak akan mengalami kerusakan.
Sebaliknya, kalau pun gazebo tersebut rusak, maka tingkat kerusakan hanya pada ijuk atap. Sementara pada sisi-sisinya, hanya memerlukan pengecatan atau penyesuaian warna. Dengan catatan, karena gazebo yang dibuatnya berbahan dasar bambu, pada empat pondasinya diberi alat bantu sehingga tidak bersinggungan langsung dengan tanah yang berpotensi untuk keropos atau dimakan rayap. (sigit rokhmad/han)       

Ciptakan Pembuka Tutup Galon

Peneliti Remaja Wakili Indonesia di IEYI 2014
Ide terkadang datang dari arah yang tak terduga. Peristiwa sederhana yang bagi sebagian orang biasa saja, bisa menjadi awal mula penciptaan karya hebat. Seperti pengalaman dua siswa SMPN 6, Dimas Fahrizal Ramadhany dan Bening Sasmita Adam.
    Tak ada suara berisik atau gaduh di salah satu ruang kelas SMP Negeri 6 Malang. Hanya sesekali terdengar gurauan kecil dari sekelompok anak yang tergabung dalam Kelompok Ilmiah Remaja SMPN 6 Malang (KIR Spenmal). Maklum, hampir setiap ada waktu senggang, mereka disibukkan untuk mencari dan menciptakan alat baru. Sebagai anggota KIR, mereka wajib merancang konsep dan desain dari ide yang akan mereka wujudkan menjadi sebuah alat temuan baru.
Di antara sekumpulan siswa dan siswi yang tergabung dalam kelompok ilmiah tersebut, ada dua cowok yang sedikit terpisah dari teman-teman lainnya. Keduanya terlihat sangat serius mengamati alat temuannya. Ya, mereka adalah Dimas Fahrizal Ramadhany dan Bening Sasmita Adam, siswa kelas IX yang menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia asal Malang di ajang International Exhibiton of Young Inventor (IEYI) 2014. Rencananya, kompetisi dengan level internasional tersebut bakal dihelat di Jakarta pada 29 Oktober hingga 1 November.
“Saat ini memang kami sedang persiapan untuk membenahi alat temuan kami berdua ini. Hanya butuh pembenahan sedikit biar tidak ada yang miss saat kami bawa ke Jakarta nanti,” sapa Dimas kepada Malang Post.
Alat temuan mereka berdua cukup sederhana jika dilihat dari segi fisik, hanya sebuah pembuka tutup galon. Dengan rangkaian dari beberapa besi yang menjadi bahan dasarnya, mereka berdua mencoba menciptakan sebuah alat yang belum pernah diusulkan atau dipublikasikan secara umum. Namun jika dilihat secara seksama dari segi fungsi dan manfaatnya, ternyata alat temuan mereka berdua mampu membuat orang yang melihat akan kembali berpikir untuk menggunakan alat tersebut. Sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama warga Malang hampir di setiap rumahnya selalu ada galon. Saat mereka akan membuka galon, kebanyakan masih menggunakan pisau yang dapat menyebabkan luka atau cedera sewaktu-waktu.
Karena itu, keduanya menciptakan alat tersebut untuk membantu ratusan ribu atau bahkan jutaan konsumen. Meskipun alat tersebut terlihat sederhana, namun Adam dan Dimas butuh waktu lama untuk bisa menemukan inspirasi dan ide yang ternyata datang secara kebetulan. Secara tak sengaja, baik Adam dan Dimas melihat orang tuanya kesulitan saat membuka tutup galon air isi ulang.
“Waktu itu memang saya pulang dari sekolah melihat ayah kesulitan membuka tutup galon. Ayah saya hanya memegang pisau untuk membukanya. Kan bahaya juga kalo sampai tangan ayah cedera atau luka. Itulah mengapa akhirnya kita berdua sepakat untuk menciptakan alat yang lebih mudah dan aman,” papar Adam.
Setelah melalui riset hingga uji coba selama empat kali bersama pembimbing KIR Spenmal, akhirnya alat milik mereka berdua tercipta. Seusai mendapat revisi dan saran tambahan dari pembimbing, akhirnya alat tersebut diikutkan dalam kompetisi National Young Inventor Awards (NYIA) tahun 2013 lalu. Hasilnya cukup membuat mereka berdua terkejut.
“Kami waktu itu sempat nggak percaya dengan capaian yang kami raih. Tapi, Alhamdulillah LIPI selaku penyelenggara sangat mengapresiasi hasil temuan kami. Sehingga saat ini kami diberi kesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang internasional dengan alat temuan kami tadi,” ujar Dimas penuh semangat.
Alat tersebut berukuran kecil dengan tinggi hanya 7,5 cm dan diameter lubang berukuran 6,3 cm. Dalam kesempatan tersebut, Adam juga menjelaskan kepada Malang Post bahwa alat temuan mereka bisa sebenarnya dengan mudah dibuat oleh siapapun. Hanya saja, karena mereka berdua belum mendapatkan hak paten dari lembaga yang berwenang, mereka belum berani memaparkan cara pembuatannya kepada media.        
“Kami takut apabila alat temuan kami ini nantinya belum mendapatkan hak paten secara sah tapi sudah ada yang meniru dan memproduksinya dalam jumlah besar,” celoteh bocah kelahiran Jogjakarta tersebut.
Tak hanya Adam, Dimas pun juga berpikiran setelah alat temuan mereka berhasil membawa nama Indonesia di kancah internasional, dirinya berkeinginan pembuka tutup galon itu bisa segera dipatenkan. Pasalnya, jika alat tersebut sudah bisa dipatenkan secara sempurna, nantinya mereka akan mengajak kerjasama beberapa perusahaan air minum gallon.
“Mengingat alat ini memang berguna bagi masyarakat luas, khusunya bagi mereka agen penjual air isi ulang dan ibu rumah tangga yang selalu menggunakan air isi ulang sebagai kebutuhan masak atau minum. Sehingga ini perlu untuk diproduksi secara massal,” jelas cowok penyuka pelajaran Biologi tersebut.
Pembimbing ekstrakurikuler KIR SMPN 6 Malang, Sri Gilang M.S.R.P, mengungkapkan mencari ide atau menemukan sebuah temuan baru sebenarnya tak perlu harus merenung lama atau memikirkan hingga resah. Yang terpenting adalah kemampuan panca indera seseorang harus benar-benar dilatih untuk lebih sensitif.
 “Coba bayangkan jika mereka berdua tidak memiliki kemampuan dan sensitivitas yang tinggi dari organ panca indra mereka. Ayahnya yang setiap hari kesulitan membuka tutup botol tidak akan menjadi ide yang bagus untuk menciptakan sesuatau yang baru. Itulah mengapa seorang penemu atau ilmuwan terlebih anak muda perlu mendapat arahan yang tepat,” terang Gilang.
Pria lulusan Universitas Brawijaya ini juga menjelaskan perannya sebagai pembimbing bagi mereka berdua dan anak-anak KIR Spenmal lainnya tidaklah sampai mencampuri dalam hal pencarian ide dan eksekusi terhadap alat temuan dari ide mereka. Ia hanya akan mengarahkan dan membebaskan anak didiknya untuk mencari ide seluas mungkin dari kejadian-kejadian sehari-hari yang ada di sekitar.
“Tidak perlu terlalu jauh untuk mencari ide. Carilah ide yang ada di sekitar kalian dan terjadi berulang-ulang kali. Jika itu menjadi sebuah masalah, maka temukanlah solusinya. Itu yang selalu saya canangkan di benak anak-anak KIR SMPN 6 Malang ini,” pungkasnya. (healza kurnia/han)

Temukan Penanda Peradaban di Ranu Kumbolo

RANU Kumbolo menyimpan jejak perabadan masa lalu. Selain terdapat prasasti, danau yang terletak diketinggian 2.400  meter di atas permukaan laut (mdpl) itu diduga masih menyimpan tanda-tanda peradaban asalkan dieksplorasi lagi. Saat sejumlah penanda peradaban  masih tampak di sekitar danau tersebut.
Kabut tebal paling doyan menutup Ranu Kumbolo. Dingin yang menusuk tulang menjadi salah satu identitas Ranu Kumbolo selain pemandangannya yang sangat menawan. Tim Ekspedisi Samala Malang Post mengeksplorasi jejak sejarah lain dari sejumlah penanda yang tampak di sekitar Ranu Kumbolo.
Sebagian permukaan batu besar berada tak jauh dari bibir Ranu Kumbolo dan tanjakan cinta, sebuah tanjakan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Semeru. Rumput liar menutup sebagian permukaan batu vulkanik tersebut.
Bersama beberapa warga Ranu Pani, Tim Ekspedisi Samala  membersihkan batu  yang semula  hanya diduga sebagai batu biasa. Semakin dibersihkan, wajah di permukaan salah satu sisi batu muncul bekas tulisan yang sudah tersamar.
Namun goresan yang membentuk formasi tulisan masih tampak jelas. Hanya saja sudah sangat sulit dibaca. Namun jika diamati secara detail, terdapat sekitar tiga baris bekas tulisan kata atau kalimat.
“Ukuran bekas tulisan di batu ini sama seperti tulisan Pu Kameswara Tirthayatra di prasasti yang terletak di tepi Ranu Kumbolo,” kata Shuvia Rahma dan Bagus Ary Wicaksono, dua anggota Tim Ekspedisi Samala yang melakukan pengukuran jejak tulisan menggunakan meteran.
Ukuran bekas tulisan di batu vulkanik dengan tulisan di prasasti yang juga kerap disebut prasasti Ranu Kumbolo itu sekitar 5 Cm. “Tapi sayang sudah sangat samar. Ini perlu dieksplorasi lagi,” sambung Shuvia.
Tim ahli Ekspedisi Samala, Dwi Cahyono  mengakui tentang kemungkinan jejak tulisan di batu besar itu. Bahkan Dwi semula merasa terpanggil untuk mengeksplorasi jejak peradaban di batu yang dikelilingi rumput itu. “Saya menduga masih terdapat jejak peradaban di sekitar Ranu Kumbolo. Batuan yang tersebar di sekitar bisa saja bukan sekadar batuan biasa,” kata  arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) ini disembari melakukan observasi di tepian Ranu Kumbolo.
Menurut Dwi, beberapa batuan yang tersebar di sekitaran Ranu Kumbolo tak menutup kemungkinan merupakan sisa-sisa peradaban zaman megalitik. Analisanya bersandar pada keberadaan Ranu Kumbolo yang menjadi sumber air. Misalnya sumber air untuk pertanian.
Apalagi tak jauh dari Ranu Kumbolo terdapat pangonan cilik, sebuah lembah yang kemungkinan awalnya terkoneksi dengan Ranu Kumbolo. Hanya saja sekarang di sekitar lembah tersebut sudah kering karena perubahan zaman.
“Ranu Kumbolo ini sangat menarik. Butuh eksplorasi lagi yang lebih dalam untuk mengungkap jejak peradaban di sini. Kalau dieksplorasi terus dan melakukan penelitian secara intens, bisa saja menemukan petunjuk peradaban yang pernah ada di Ranu Kumbolo,” kata Dwi.
Berdasarkan pantauan Tim Ekspedisi Samala, di sekitaran Ranu Kumbolo terdapat sebaran bebatuan. Namun bukan sekadar batu vulkanik biasa yang merupakan bekas letusan Gunung Semeru. Tak jauh dari panggonan cilik terdapat juga sebuah batu yang sebagian masih tertanam. Permukaan batu tersebut datar. Tim ekspedisi Samala telah observasi kondisinya. Namun tak ditemukan bekas aksara yang tersisa.
Namun jika diamati bentuknya yang tertata, bisa saja bebatuan tersebut juga merupakan bagian dari peninggalan zaman megalitik. Hanya saja, sekali lagi, butuh penelitian yang lama untuk membuktikan dugaan-dugaan itu.
Di balik sebaran jejak peradaban di Ranu Kumbolo, masyarakat Ranu Pani memiliki cerita tersendiri. Cerita ‘dunia lain’  danau tersebut tentang ‘penghuni’ Ranu Kumbolo. Tuangkat, salah seorang pegiat budaya Ranu Pani menuturkan, penunggu Ranu Kumbolo bernama Singo Barong. Dinamai Singo Barong karena berdasarkan penglihatan mereka bentuknya menyerupai singa.
“Singo barong itu punya dua putri, yakni Puspo Dewi dan Raja Dewi. Yang Puspo Dewi itu berupa naga putih,” tuturnya. Singo Barong, kata Tuangkat, mendiami prasasti Ranu Kumbolo.
Pendaki maupun wisatawan yang berkunjung ke Ranu Kumbolo tak boleh berbuat sembarangan. Ia lantas mencontohkan, seorang pendaki pernah kemasukan Singo Barong hingga lima hari. Penyebabnya, ternyata pendaki tersebut menjemur pakaian dalamnya di prasasti. Setelah meminta maaf, akhirnya pendaki itu sadar.
Hikayat dan cerita mistis memang terdapat di berbagai tempat, termasuk di Ranu Kumbolo. Namun cerita-cerita tersebut setidaknya tetap memiliki pesan bernilai. Yakni agar berperilaku santun serta tak merusak Ranu Kumbolo dan sekitarnya. “Pendaki selalu diberitahu agar tak membuang sampah sembarangan. Bertutur dan berperilaku yang santun. Setidaknya ikut menjaga Ranu Kumbolo,” kata Tuangkat. (van/han/bersambung)

Makan Besar di Nasi Bug Matira, Ngemilnya di Ketan Legenda 1967

BANGGA : Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira, bangga kedainya didatangi Presiden Terpilih Jokowi.

Presiden Terpilih Jokowi meninggalkan kesan mendalam di Malang Raya. Selama kampanye pemilihan calon presiden beberapa waktu lalu, ia juga memiliki tempat kuliner jujukan selama di Malang.  Yakni Nasi Bug Matira di depan kantor Malang Post (Jalan Trunojoyo) Kota Malang dan Ketan Legenda 1967 di Kota Batu.


Gambaran presiden terpilih RI, Joko Widodo atau Jokowi, adalah sosok ramah, murah senyum dan sederhana. Gambaran tersebut diketahui hanya melalui  media massa, baik elektronik maupun cetak. Hal itu wajar saja, karena tidak semua orang berkesempatan bertemu langsung dengannya.
Pasangan suami istri, Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira juga memiliki pendapat serupa. Menurut mereka, mantan gubernur DKI Jakarta itu tidak berbeda seperti apa yang dikatakan di televisi. Sebab, mereka pernah bertatapan langsung dengan Jokowi.
Bagi kedua pasangan yang puluhan tahun mengelola rumah makan khas Madura ini, Jokowi merupakan sosok nan ramah, murah senyum dan akrab dengan masyarakat. Benar apa yang dikatakan televisi, bagi mereka Jokowi benar-benar ramah.
"Bahkan, waktu itu saya sarankan ambil makan sendiri. Ya, akhirnya dia ambil makan sendiri, menuang kuah sendiri dan mengambi lauknya sendiri" ujar Fauzi, panggilan akrab Achmad Fauzi kepada Malang Post kemarin.
Berdasarkan cerita dari Lelly dan Fauzi, Jokowi datang tahun 2014. Tepatnya, sebelum dirinya menjadi presiden RI. Saat itu, Jokowi sedang ada agenda di Malang untuk kampanye. Karena waktu makan siang sudah tiba, mereka mampir ke Warung Bug Matira. Jokowi datang ditemani Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko dan jajaran pimpinan PDIP.
"Banyak yang datang, saya pikir ada sekitar 60 orang datang bersama Jokowi. Waktu itu saya juga berpesan, semoga beliau menjadi presiden. Ternyata sekarang menjadi kenyataan," tandas Fauzi. Namun, pria berdarah Madura ini menyatakan kalau PR Jokowi setelah dilantik hari ini masih besar.
Menurutnya, PR terbesar bagi Jokowi ialah soal ekonomi dan korupsi. Indonesia masih belum tuntas dalam pemerataan ekonomi. Memang masih ada daerah-daerah tertentu yang kemampuan ekonomi tinggi. Tapi, lebih banyak lagi yang kesulitan untuk makan. Soal korupsi, secara implisit Fauzi menyatakan, "Soal korupsi buat apa ditanyakan lagi? Saya harap penyakit itu bisa diberantas," tegasnya.
Istri Fauzi, Lelly pun setuju dengan suaminya. Dia berharap, Jokowi bisa berhasil untuk rakyatnya. "Bukan berhasil untuk dirinya sendiri, bukan berhasil untuk keluarga dan golongannya saja. Tapi, berhasil untuk rakyatnya," jelasnya berharap.
Karena selama ini, dia beranggapan selama ini belum ada yang berhasil dengan maksimal. Yang rakyat kecil lihat, keberhasilan presiden dalam memimpin negara, belum merambat ke masyarakat kecil. Saat kampanye, menggaung-gaungkan janjinya menyejahterakan rakyatnya, ingin memperbaiki pembangunan bangsa. "Tapi toh akhirnya, rakyat masih sama saja, tidak ada perkembangan," terang wanita yang juga berdarah Madura ini.
Soal kesan terhadap Jokowi, Lelly mengatakan kalau kedatangan Jokowi tidak berbeda dengan kedatangan pejabat lain. Hanya saja, saat itu dia tahu kalau ternyata apa yang dikatakan orang dan televisi tentang Jokowi. "Memang sama seperti yang dibilang televisi, ramah dan murah senyum. Dia juga sering bertanya-tanya soal masakan khas Madura kami," pungkasnya.
Tak hanya di Kota Malang, Presiden RI terpilih, Joko Widodo, kehadirannya mampu memberikan makna yang dalam untuk masyarakat Batu. Salah satu tempat yang dikunjungi oleh Jokowi adalah Ketan Legenda 1967 yang berada di Alun-Alun Kota Batu.          
Eko Wicaksono, kasir Ketan Legenda awalnya sempat tidak percaya kalau Jokowi mau berkunjung ke warung ketan mereka. Namun karena yang menelepon adalah Sekpri Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, ia pun bergegas menelepon Sugeng Hadi, pemilik warung ketan ini.           
“Langsung Bapak (Sugeng Hadi-red) saya telepon,” ujar Eko. Waktu itu, Jokowi berkunjung ke Kota Batu sebelum pemilihan legislative (Pileg). Jokowi datang ke warung ketan ini dengan didampingi ER, panggilan akrab Eddy Rumpoko dan Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPC PDIP Kota Batu.           
Sekilas Eko melihat sosok Jokowi adalah orang yang sederhana, murah senyum dan enak untuk diajak komunikasi. Penilaian itu terlihat saat Jokowi memilih menu yang disajikan, bahasa yang dikemukakan oleh Jokowi adalah bahasa rakyat yang mudah dimengerti.           
“Beliau pesan ketan original bubuk, sama kopi serta wedang jahe,” ujar Eko ditemui Malang Post, kemarin (19/10). Melihat orang-orang di sekeliling Jokowi saat itu, semuanya cair tanpa ada kekakuan, malah terkadang terdengar gelak tawa dari meja Jokowi yang berada di sisi Timur Warung Ketan ini.           
Hal senada dikemukakan oleh Sugeng Hadi, ia melihat Jokowi adalah orang yang enak diajak berbicara, sederhana namun memiliki pengetahuan luas dalam banyak hal. Termasuk masalah ketan, Jokowi sangat paham semua proses pengolahan jajanan ini, maklum Jokowi berasal dari Surakarta.           
“Beliau memuji ketannya enak, tak kalah dengan ketan Solo,” ujar Sugeng. Hanya ada beberapa yang sedikit berbeda dari ketan solo dimana selain terdapat parutan kepala dan ditaburi bubuk kedelai diberi siraman juruh (sirup gula Jawa).           
Lain lagi kesan yang ditangkap Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPRD Kota Batu, ia melihat Presiden RI ke-7 ini sosok yang sederhana, lugu, santun, mandiri dan tidak ribet. “Walaupun waktu itu beliau seorang calon presiden, beliau mau bergaul dan berbaur dengan semua masyarakat yang Batu yang ditemui,” ujarnya.           
Ada satu hal yang paling berkesan dirasakan oleh Cahyo waktu itu. Saat itu ia sedang duduk memimpin rapat di aula Hotel Jambuluwuk (seluruh pesertanya adalah Ketua DPC PDIP se-Jatim).       
“Beliau (Jokowi) yang berada di dekat saya, mendadak jari tangannya dilipat diletakkan di paha saya sambil berucap, tolong dibantu ya mas, saya kaget, berapa sopannya beliau,” terang Cahyo.(M. Erza Wansyah/M.Dhani Rahman/ary)  

Didukung Ortu, Rela Rogoh Kocek Puluhan Juta

BERAKSI : Andhi Yulianto saat beraksi di salah satu club ternama beberapa waktu lalu.

Profesi Disc Jockey di Malang mungkin tidak terlalu menjanjikan bagi sebagian besar orang. Namun, Andhi Yulianto membuktikan bahwa dia bisa survive hidup di dunia malam lewat profesi DJ. Bahkan, pada usianya yang masih 24 tahun, Andhi sudah mampu mendirikan komunitas, manajemen dan sekolah DJ.

Nama Andhi Yulianto tidak begitu familiar di telinga clubbers Malang yang eksis di dunia malam. Namun, begitu mendengar kata Andhisouldj, clubbers pasti mengingat sosok berambut jabrik yang agak tembem, dengan aliran musik electro yang khas. Andhisouldj, merupakan nama panggung dari Andhi Yulianto, pendiri komunitas, manajemen dan sekolah DJ, Souldbeat.
Saat menemui Malang Post di Bikers Cafe sekitaran Dieng, Andhi tampak seperti mahasiswa pada umumnya. Kaos berkerah hitam, dengan celana jeans dan sepatu casual, memperkuat kesan mahasiswa. Andhi mengakui, dirinya saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMM.
“Sekarang saya masih kuliah Ilmu Komunikasi di FISIP UMM, umur masih 24,” jelas Andhi. Dengan usianya yang terhitung belia, mungkin tak ada yang menyangka bahwa dia sanggup menghandle manajemen DJ sekaligus mendirikan sekolah untuk profesi tersebut. Souldbeat, nama manajemen dan sekolah Andhi, menjadi salah satu sekolah DJ yang populer di Malang saat ini.
Andhi sekarang memiliki sekitar 20 DJ yang bergabung dalam manajemen dan sekolahnya di daerah Sukarno Hatta. Biasanya, para DJ tersebut main di beberapa tongkrongan dugem, seperti My Place Kartika Graha. Dengan usia yang masih belum seperempat abad, Andhisouldj sudah menancapkan namanya sebagai salah satu DJ sukses di Malang.
Namun, pemuda lajang itu berujar bahwa perjuangannya menuju titik ini tidak diraih dengan bersantai-santai. Walaupun awalnya hanya iseng-iseng, Andhi yang terjun di dunia DJ tahun 2010, merasakan kenyamanan pada profesi ini. Ia menjadi sangat serius menekuni profesi DJ. “Dulu saya anak dugem biasa, ngabis-ngabisin duit tapi gak ada visi. Saya pun mikir, daripada keluar duit terus, kenapa gak sekalian saya kerja di dunia malam. Akhirnya mikir jadi DJ,” ungkap Andhi.
Pemuda yang hobi main gitar itu menerangkan, dia belajar DJ selama 6 bulan dan mencoba manggung di cafe D’Lounge MOG. Satu tahun kemudian, Andhi mengikuti kompetisi DJ di Flame Executive Club. Meskipun Andhi belum mempunyai klub yang mengontrak jasanya saat itu, Andhi mampu menyabet juara 2.
“Setelah dapat juara ini, baru saya memberitahu orangtua (ortu). Dan rupanya dukungan pun diberikan oleh ortu karena saya benar-benar serius. Akhirnya, saya dibelikan beberapa aksesoris DJ untuk mendukung kerjaan saya,” terang Andhi. Restu ortu membuat Andhi makin bersemangat hidup di profesi DJ.
Prestasi demi prestasi pun berlanjut. Pada kompetisi DJ di UMM, Andhi merebut juara. Setelah mewakili Malang, dia sanggup menyabet gelar juara dan mewakili Jawa Timur untuk bertanding di level nasional. Saat bertanding di Jakarta, dia masuk 10 besar DJ terbaik dalam kompetisi DJ level nasional tahun 2011.
Dari situ, jalan untuk berkarir di dunia DJ terbuka lebar. “Saya bisa membangun jaringan dengan banyak orang. Bahkan, saya juga bertemu dengan orang label yang akhirnya menarik saya masuk. Label saya sampai sekarang adalah Jak Clubbers,” ucap penggemar Armin Van Burren, DJ asal Belanda itu.
Setelah modal jaringan dan link yang cukup kuat, Andhi memberanikan diri bikin komunitas. Sebab, dari segi alat, Andhi sudah cukup mapan saat itu. Ia mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk membeli alat musik DJ yang mendukung profesinya. “Kalau mau sukses di dunia DJ, mau tidak mau harus keluar uang banyak. Jer Basuki Mawa Beya,” ujarnya.
Komunitas yang didirikan Andhi, bernama Souldbeat. Komunitas ini mewadahi para pemuda yang ingin belajar DJ namun berbujet minim. Andhi tidak mau sendirian dalam memajukan dunia DJ di Malang. Dia pun mewadahi anak-anak yang bercita-cita jadi DJ lewat Souldbeat. Seiring berjalannya waktu, komunitas itu berubah jadi sekolah, sekaligus manajemen DJ.
Andhi sekarang memiliki banyak DJ yang tampil di klub-klub malam. Meskipun sekarang sudah mulai mapan, Andhi mengakui tidak mudah bertahan di dunia DJ. “Soalnya persaingan sangat keras. Kita harus konsisten agar klub-klub malam tetap memakai jasa kita. Ujung-ujungnya, kita harus jaga kualitas,” sambungnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menambahkan, dunia DJ terbukti mampu memperbesar link dengan orang-orang elit di Kota Malang. Pasalnya, siapapun yang masuk klub malam, pasti adalah orang dengan kantong tebal. Hal tersebut membantunya untuk meraih banyak manfaat di luar profesi DJ.
“Siapapun yang rajin ke klub malam, itu bukan orang biasa-biasa, tapi orang yang berduit. Kita pun senang karena jadi banyak teman yang bisa bantu di luar pekerjaan DJ,” tandas pemuda yang tinggal di Jalan Sukarno Hatta tersebut. Meskipun sudah mencapai titik nyaman di profesi DJ, Andhi enggan berhenti.
Sebagai DJ asli Malang, ia ingin memajukan dunia DJ Malang dengan menawarkan musik-musik berkualitas untuk clubbers. Pasalnya, Andhi menyebut bahwa aliran musik yang digemari di klub-klub malam saat ini masih terhitung kacau. “Kalau di klub yang kita pegang, mungkin masih terkontrol dengan baik. Clubbers yang biasa mendengar musik kami, mampu membedakan mana DJ yang bagus, mana yang asal-asalan,” katanya.
“Tapi, sebenarnya aliran musik Electro Dance Music (EDM) secara keseluruhan di Malang masih belum bagus, tidak seperti Bali atau Jakarta. Beruntung, clubbers sekarang didukung gadget yang bisa update musik-musik terbaru, sehingga tidak ketinggalan,” tambah DJ yang mengidolakan Martin Garric tersebut.
Ia menambahkan, komunitas DJ Malang sebaiknya mulai menghentikan aksi blok-blokan dan menghidupkan lagi Malang DJ Community. “Kalau kita bisa bergabung dan bersatu di komunitas, kita tidak akan kesulitan sosialisasi kepada clubbers. Kita juga bisa sharing musik yang berkelas untuk referensi DJ di Malang. Malang itu bisa maju kalau musiknya juga maju,” tutup Andhi.(fino yudistira/ary)
 
Last Updated on Saturday, 18 October 2014 12:34

Page 1 of 61

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »