Malang Post

Features


Tradisi Wayang Krucil Peninggalan Majapahit di Lereng Gunung Katu

Share
Masyarakat Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, sampai saat ini kukuh mempertahankan wayang Krucil. Warga dusun di lereng Gunung Katu itu percaya bahwa tradisi wayang tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tercatat, wayang itu telah diwariskan hingga keturunan ke delapan.

Wayang Krucil tersebut kini disimpan dan dirawat dengan rapi di rumah Saniyem atau Mbah Yem di Dusun Wiloso. Dipilihnya Mbah Yem sebagai pewaris atau perawat wayang Krucil, bukan tanpa alasan. Sebab beliau adalah keturunan dari Mbah Pandrim, tokoh kesenian di jaman Majapahit yang membawa wayang krucil hingga ke lereng Gunung Katu tersebut.
Di bandingkan wayang kulit, ada perbedaan mendasar dari wayang krucil. Diantaranya, adalah bahan yang digunakan oleh wayang ini, yaitu kayu khusus atau jenis pule atau cendana. Jumlah dari wayang ini, total ada sekitar 82 wayang dengan nama atau karakter yang sudah melekat di masing-masing wayang.
Seperti, Mbah Gimbal dengan bentuk atau karakter wayang yang memiliki rambut di bagian kepala, Sabdopalon, Mbah tandur hingga Adipati Minak. Sementara alur cerita yang biasa dimainkan, menceritakan mulai kerajaan Majapahit, Demak, Malang, Majapahit, Banyuwangi, Tuban, Madura hingga sampai negara tetangga seperti Malaysia dan Myanmar.
Selain beberapa perbedaan itu, saat menampilkan wayang ini, pun terbilang sangat hati-hati. Seperti saat menceritakan peperangan atau pertempuran, wayang satu dengan wayang lain tidak bisa bersinggungan secara langsung. Sementara dalam setiap penampilan, menggunakan dua layar yang memisahkan dalang dan wayang.
Yang sangat mistik dari wayang Krucil, setiap setahun sekali atau pada tanggal 1 syawal, menjadi kewajiban pewarisnya untuk menampilkan wayang-wayang ini dalam suatu cerita lakon. Karenanya, tiap pada satu syawal, di rumah Mbah Yem akan dipadati warga hingga tokoh masyarakat dan pejabat, untuk menyaksikan pagelaran itu.
“Ini sudah melekat sejak keturunan pertama. Pantangannya, ketika satu syawal tidak dikeluarkan untuk ditampilkan, maka wayang-wayang ini seolah marah. Dampaknya, ada saja musibah yang akan dialami pewaris,” kata bagian informasi Wayang Krucil, Karaharjo.
Ditambahkan pria yang akrab Mbah Harjo, sebenarnya tidak hanya itu hal mistik dari Wayang Krucil. Saat akan mengeluarkan satu persatu wayang suatu misal, harus disuguhi dupa ratus. Suguhan itu, juga harus diberikan saat akan mengembalikan wayang.
“Saat akan menampilkan wayang ini, pun harus ada suguhan khusus. Selain dupa ratus, juga harus menyalakan menyan, sajen hingga melakukan kenduri dahulu. Ketika suguhan ini tidak diberikan, maka ada saja musibahnya. Sebaliknya, ketika suguhan ini lengkap, cuaca yang awalnya mendung, pun bisa tiba-tiba terang saat wayang-wayang ini akan ditampilkan,” paparnya.
Kejadian lain yang tidak kalah sakralnya, yaitu ketika salah satu tokoh di wayang krucil, secara sengaja diisengi. Mbah Gimbal yang sosoknya memiliki rambut, pernah suatu ketika rambutnya ditarik. Siapa sangka, ternyata dari bagian kepala atau rambut yang melekat itu dicabut, keluar darah.
“Ini memang tidak masuk akal. Namun, saya saksi hidupnya. Bahkan, orang yang melakukan iseng itu, sampai ditemui dalam mimpinya,” kata Mbah Harjo.
Dia menambahkan, hal sakral lainnya juga saat memasukkan kembali wayang Krucil. Karena masing-masing ada pakem atau posisinya, itu tidak bisa sembarangan ditaruh dalam suatu peti.
Karena wayang Krucil termasuk peninggalan budaya yang salah satunya ada di Kabupaten Malang, tidak sedikit yang tertarik untuk memilikinya. Bahkan, beberapa kepala daerah sangat ingin memiliki wayang ini.
Sementara itu, agar keberadaan wayang ini tetap eksis, setiap warga sekitar pun saling bahu membahu untuk tetap melestarikan. Salah satunya, dengan menjadi salah satu personil di wayang krucil. Mengingat, tidak ubahnya wayang kulit, sebagai pengiring dari setiap pementasan wayang, juga diikuti gending atau tabuhan dari alat-alat kesenian. (sigit rokhmad)
 
comments

Bule Pencinta Indonesia, Senang Lakukan Aksi Sosial

Share
15 Tahun Thea Nelson berdomisili di Indonesia. Wanita asal Washington DC,  Amerika Serikat  itu mendalami negeri ini dengan cara berbeda. Ia menjadi relawan sosial di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

Hidup untuk sesama adalah pilihan wanita 37 tahun ini. Tiga tahun terakhir, Thea Nelson bersama suami, Hengky Dotulong serta  dua buah hatinya, Gregor dan  Gavin tinggal di kawasan Dieng. Kota Malang menjadi pilihan walau  sang suami memiliki bisnis yang berpusat di Bali.
“Saya ibu rumah tangga,” ucapnya dengan Bahasa Indonesia yang fasih.  Ia merasa nyaman tinggal di kota pendidikan ini. Sebelumnya, Thea pernah tinggal di Yogyakarta dan Bali. “Malang sejuk, lebih tenang. Mau kemana-mana dekat. Cocok untuk membesarkan anak-anak,” sambungnya tentang alasan memilih tinggal di Kota Malang.
Di balik kenyamanannya menjadi warga Malang, Thea memilih berbagi waktu untuk kegiatan sosial. Saat ini dia  menjadi relawan di Yayasan Sadar Hati di Jalan  Ogan. Tugasnya mengajar untuk kelompok anak-anak yang dibentuk yayasan tersebut.
“Di situ saya bantu mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak berusia 5 sampai 11 tahun,” terangnya tentang tugas di Yayasan Sadar Hati.
Waktu belajarnya setiap Sabtu. Ia juga menjadi motivator belajar Bahasa Inggris. “Caranya belajar harus selalu menyenangkan. Jangan dibuat serius,” sambungnya.
Menjadi relawan sosial sudah menjadi bagian dari jalan hidup Thea. Ia tertarik dengan berbagai kegiatan sosial saat pertama kali tinggal di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Karena itulah ketika pertama kali datang ke Malang, ia langsung mencari aktivitas sosial yang bisa ditekuni.
“Tidak enak kalau hidup untuk diri sendiri karena lebih baik bisa melakukan sesuatu untuk sesama,” katanya tentang alasan tertarik menjadi relawan sosial.
Ia tak mencari keuntungan finansial di semua kegiatan sosialnya. Menjadi relawan sosial dijadikannya sebagai media untuk refreshing. “Sata merasa senang. Saya bisa punya banyak kenalan,”  ucapnya bersemangat.
Tak hanya itu saja, Thea juga menjadi ‘pengajar’ di Toasmaster Malang. Di komunitas inilah Thea belajar bersama. Toasmaster merupakan sebuah komunitas belajar bahasa Inggris dan public speaking. Di komunitas ini pula, ia bekerja secara suka rela.
Tak hanya mengajar, Thea juga memberi motivasi tentang pentingnya menguasai Bahasa Inggris. Ia juga motivator public speaking. Soal mengajar bukan hal baru bagi wanita ramah ini. Sebab ia pernah menjadi dosen Bahasa Inggris di Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Tak hanya berbagi ilmu, Thea juga aktif di komunitas  Rhesus Negatif (RH-). Ini merupakan komunitas pendonor darah untuk golongan darah yang cukup langka itu. Di Indonesia hanya sedikit orang yang memiliki darah golongan RH- ini, namun membutuhkan donor yang cukup demi keberlangsungan hidup mereka saat sakit.
“Saya ikut di komunitas ini untuk membantu sesama yang membutuhkan golongan darah RH- . Biasanya kalau ada yang butuh golongan darah ini, kami ditelepon untuk donor darah,” katanya.
Di kalangan komunitas RH- sudah mengetahui para pemilik darah golongan ini. Jadi  harus siap-siap donor darah kapan pun saat dibutuhkan. “Ya saya suka melakukan ini. Biasanya kalau ada yang butuh, kami langsung donor darah ke PMI,” ucapnya sembari memuji PMI Kota Malang yang menurutnya sangat nyaman.
15 tahun tinggal di Indonesia, Thea sudah berkeliling negeri ini. Ia juga pernah memberi motivasi belajar bahasa melalui program Newspaper in Education (NIE) bekerjasama dengan Jakarta Post dan Chevron.
Tak hanya menyukai aktivitas sosial, ia juga pencinta alam. Hobinya menyelam dan mendaki gunung. “Ya yang terdalam dan tertinggi,” terang dia tentang hobi menantang itu.
Sejumlah gunung pernah didakinya. Mulai dari Arjuno, Gunung Lawu, Gunung Kerinci, Gunung Agung, Gunung Rinjani dan  Gunung Penanggungan. Untuk selam, Thea sudah menyelam di berbagai lautan. Mulai dari Pantai Kondangmerak dan berbagai spot di Sulawesi, Lombok  hingga Pulau Komodo. (van/han)
 
comments

Di Balik Penangkapan Terduga ISIS di Kota Malang (2/habis)

Share
"Braak!" tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Sebanyak 13 anak yang berada di yayasan tersebut langsung terkejut dan berdiri. Jefri Rahmawan, sang pengajar yayasan Helmi langsung berdiri menghampiri sekitar enam pasukan Densus 88 yang masuk paksa. Aksi pasukan burung hantu ini, terjadi di yayasan Helmi Jalan Mega Mendung 30 RT 5 RW 6, Pisang Candi, Sukun, Kota Malang.


Peristiwa penggeledahan Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang menyisakan trauma mendalam bagi sejumlah murid yang berada di sana saat penggeledahan. Petugas dengan rompi hitam, bermasker, helm dan bersenjata laras panjang ini membuat belasan murid yang sedang belajar di sana berteriak ketakutan dan menangis.
Betapa tidak? Para murid itu ditodong senapan laras panjang di depan mukanya. Jefri berusaha menghentikan pasukan berlogo burung hantu ini. Namun menurutnya mereka tidak menggubris upaya dia. Pasukan langsung masuk begitu saja dan masuk ke ruang belajar para murid.
"Ujung senapan langsung ditodongkan ke anak-anak," aku Jefri kepada Malang Post dengan nada kesal.
"Anak-anak langsung takut dan menangis. Paling hanya ada dua anak yang tidak menangis," tambahnya.
Tidak terima dengan perlakuannya terhadap para murid di sana, Jefri protes. Dia sempat „adu mulut“ dengan seorang petugas. Hingga pada akhirnya, para murid untuk sementara dipindah ke rumah yang ada di depan yayasan, selagi pasukan Densus 88 menggeledah yayasan.
Di rumah tetangga itu, para murid pun menangis. Sementara pengajar wanita bercadar berusaha menenangkan sejumlah murid yang menangis itu. Informasinya, juga ada seorang Polwan yang ikut menenangkan para murid.
"Sampai sekarang mereka masih ada yang trauma. Tadi (kemarin, red) saya lihat ada yang melamun di depan pintu," ujar Jefri tidak terima.
Bahkan, lanjutnya, ada yang sampai bertanya kepada Jefri, "Polisi kok jahat?" kata Jefri menirukan muridnya.
Saat Malang Post datang ke yayasan tersebut, memang masih ada sejumlah murid yayasan yang sedang bermain-main di halaman depan yayasan. Saat melihat kedatangan Malang Post, mereka tampak bingung dan menghindar.
Ketika ingin diwawancarai, tidak satu pun dari mereka yang bersedia untuk diajak bicara. Mereka lebih bersembunyi di balik pengajar wanita yang bercadar atau menghindar dan masuk ke yayasan.
Jefri mengaku kecewa dengan kelakuan pasukan Densus 88 yang menodongkan senapan ke arah anak-anak. Menurut Jefri, perlakuan Densus 88 kurang sopan.
Sementara Ketua RT 5 RW 6, Happy Akhfadhi memang membenarkan kalau para murid di yayasan tersebut ketakutan. Meski begitu, dia mengatakan kalau sebenarnya polisi sudah melakukan upaya persuasif dan memberitahu pihak Jefri untuk mengosongkan tempat karena akan ada penggeledahan.
Akan tetapi, kedatangan Happy bersama sejumlah polisi malah disambut tidak hangat. Penghuni yayasan yang terdiri dari dua orang, Jefri dan seorang pengajar bercadar, malah memarah-marahi Happy.
"Kami dimarahi, mereka bilang anak-anak merasa diteror. Saya diajak balik sama polisi. Ya sudah, saya balik. Tidak lama, Densus 88 datang dan mendobrak pintu yayasan," jelasnya.
Mengenai upaya prosedural ini dibenarkan Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata saat dihubungi terpisah, kemarin. Menurutnya, semua prosedur sudah dilakukan sebelum aparat mendobrak pintu dan mulai melakukan penggeledahan. Yakni dengan upaya persuasif.
"Sebelumnya kan sudah didatangi, tapi tidak dibuka. Ya sudah, Densus 88 akhirnya mendobrak," tegasnya.
Mantan Kapolres Lumajang ini juga yakin, kalau tidak mungkin ada pasukan Densus 88 yang berani menodongkan senapan ke anak-anak. "Densus 88 itu tim yang terlatih. Tidak mungkin melakukan itu," katanya.
Menurutnya, tim Densus sudah melakukan pemetaan dan pertimbangan yang matang sebelum memutuskan masuk ke pondok tersebut. Semua perencanaan dilakukan dengan prosedur yang sesuai.
"Tidak ada Densus menodongkan senjata pada anak-anak. Yang ada anak-anak itu disuruh menangis oleh orang dalam di sana. Densus tidak ngawur dalam menjalankan prosedur," ujarnya.
Bisa diartikan, Singgamata menegaskan ada tangis settingan saat Densus gelar operasi itu. Singgamata menilai, seluruh aparat keamanan di Kota Malang sampai sekarang terus memerangi ISIS. Sehingga, jangan sampai ada orang-orang yang terpengaruh cerita orang yang memiliki keterkaitan dengan kelompok Islam garis keras ini. "Kita semua sepakat memerangi ISIS," pungkasnya.(muhamad erza wansyah/ary/habis)
 
comments

Dari Bom Borobudur hingga Panglima ISIS Abu Jandal

Share
Sejak 1979 Kelompok Radikal Tumbuh di Malang
Malang ternyata sudah tak asing dengan Kelompok garis keras maupun radikal. Bahkan sejak tahun 1979-an, kota ini pernah didatangi Komando Jihad. Yang paling menggegerkan, keterlibatan kakak beradik Husein bin Alhabsy  dan Abdul Kadir bin Ali Alhabsyi sebagai tersangka pengebom Candi Borobudur tahun 1985.
Nyatanya hingga hari ini, masih ada saja warga Malang yang bergabung dengan kelompok radikal. Gerakan radikal di Malang mulai tercatat ketika kelompok Warman sebagai gerombolan Komando Jihad, melakukan perampokan di IKIP Malang untuk pengumpulan Fa’i atau dana perjuangan tahun 1979. Lantas pada tahun 1984 terjadi ledakan dahsyat di Malang. Tepatnya 24 Desember 1984 malam, ketika gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang, Jawa Timur, meledak.
Rentetan peristiwa selanjutnya pada Januari 1985 Candi Borobudur di Jawa Tengah terjadi sembilan ledakan. Serangkaian peristiwa itu terkuak ketika warga Malang tewas saat membawa bom pada 16 Maret 1985. Bom itu meledak di dalam bus Pemudi Express  yang melintas di Desa Sumber Kencono Kota Banyuwangi, Jawa Timur. Rombongan itu hendak meledakkan bom ke Kuta Bali.
Pelaku tewas adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Pelaku Hidup Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari pelaku hidup inilah terkuak jaringan teror dari Malang.
Otaknya saat itu disebut bernama Muhammad Jawad alias Ibrahim diduga warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur. Hebatnya sampai sekarang dia belum tertangkap. Yang sempat dipenjara adalah Husein bin Ali Alhabsyi dengan hukuman seumur hidupm namun 23 Maret 1999 mendapat grasi. Ia dulu beralamat Jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang. Serta adiknya Abdul Kadir bin Ali Alhabsyi hukuman 20 tahun, saat menjalani 10 tahun mendapat remisi.
Pada tahun 2005, Malang kembali dikejutkan dengan penggerebekan dr Azahari di Kota Batu. Dedengkot Jamaah Islamiah yang bertanggung jawab atas bom Bali itu tewas. Belakangan persembunyiannya di Batu terkuak dari kesaksian pengikutnya. Ya,  Kholili alias Yahya warga Jl. Jodipan Wetan RT 12 RW 06 Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pada 9 November 2005 dia ditangkap sebagai ia kurir dr Azahari, bebas bersyarat 6 Agustus 2014.
Baru-baru ini kembali muncul nama Panglima ISIS asal Malang.  JEJAK panglima perang ISIS, Salim Mubarok Attamimi masih tertinggal di Bumiayu, Kedungkandang. Panglima  perang yang sedang geriliya di Suriah itu pernah tinggal di sekitar Jalan Terong, RT 06, RW 03, Bumiayu.
Ingatan warga sekitar Jalan Terong masih segar tentang sosok pria yang dikenal dengan nama Abu Jandal itu. Kini  warga kembali menyebut nama Ustad Salim ketika Densus 88 Polri menciduk Achmad Junaedi dan Tonori di Bumiayu.  
Apalagi dua pria tersebut merupakan karib yang diduga terkait jaringan ISIS. Tempat tinggalnya pun tak berjauhan. Cak Ju, sapaan akrab  Achmad Junaedi kontrak di Jalan Labu. Tonori ber-KTP di Jalan Terong. Jarak dua alamat tersebut tak berjauhan.
Tahun 2009 lalu, Abu Jandal kontrak di sebuah rumah di Jalan Terong. Rumah itu merupakan salah satu dari lima rumah yang membentuk pemukiman sendiri. Mereka eksklusif. Warga nyaris tak mengetahui aktifitas mereka.
Juli 2009 lalu, Abu Jandal disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh yang mengundang pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abubakar Ba’asyir. Tokoh garis keras itu diundang untuk memberi ceramah di Bumiayu. Persisnya di sekitar Jalan Terong.
Saat itulah warga Bumiayu mulai bersikap. “Warga menolak keras. Disini sempat  ramai. Akhirnya mereka tak berani mendatangkan Abubakar Ba’asyir,” cerita salah seorang warga Bumiayu kepada Malang Post.
Saat itulah warga mulai curiga bahwa Abu Jandal sedang menyebarkan ajaran tertentu.  Akhirnya tahun 2010, dia hengkang dari pemukiman di Jalan Terong. “Itu rumahnya masih ada. Sekarang dikontrak orang,” kata warga lainnya.
Menurut catatan warga, Abu Jandal yang kala itu dikenal sebagai Ustad Salim pindah ke Sukun. Namun mereka tak tahu persis lantaran ia tak pamit dan tak pernah membuat surat keterangan pindah penduduk.
“Dulu disini (di Jalan Terong) dia jual minyak wangi. Tapi sering mengadakan pengajian,” kata sumber Malang Post yang mengikuti jejak Ustad Salim selama kontrak di Jalan Terong.
Pengajian yang digelarnya tak terbuka untuk umum. Rata-rata diikuti warga luar Bumiayu. Sejumlah anak kecil juga sempat ikut serta. Ustad Salim yang pernah jadi artis youtube itu juga kerap memberi ceramah pada malam hari. Jumlahnya sedikit, hanya sekitar lima sampai tujuh orang.
“Dia cuci otak. Makanya disini ada yang berubah,” kata warga lainnya. Perubahan sikap itu terasa dari cara bergaul warga  yang tinggal di pemukiman eksklusif. Disebut pemukiman ekskulif karena mereka berkomunitas sendiri. Jumlahnya sekitar lima sampai enam rumah. Rumah Tonori merupakan bagian dari  pemukiman eksklusif itu.
Mereka tidak ikut pengajian yang diadakan warga kampung. Bahkan mereka punya langgar sendiri. Rumah Tonori persis bersebelahan dengan langgar tersebut.
“Waktu ada warga kampung yang meninggal, hanya satu orang saja yang datang takziah. Lainnya tidak,” kata sejumlah warga sembari menolak menyebut nama. Karena tak membaur, maka semakin menguatkan kecurigaan mereka. “Ya intinya ajaran mereka berbeda. Gak sama seperti pada umumnya warga disini,” sambungnya. Gaya hidup eksklusif itu  masih tampak hingga kemarin,
Belakangan warga semakin tahu tentang sosok Abu Jandal saat muncul di youtube belum lama ini. Abu Jandal atau Ustad Salim memang pernah bikin heboh melalui youtube . Betapa tidak, dalam tayangan empat menit itu dia menantang Panglima TNI dan Polri untuk perang.  
Ketua RT 06, RW 03, Bumiayu, M Sahid  mengaku pernah mendengar bahwa Salim yang belakangan dikenal sebagai Abu Jandal pernah tinggal di wilayahnya. “Menurut informasi yang saya dapat, dia (Abu Jandal) diusir dari sini karena tidak cocok sama warga. Tapi saya tidak tahu tidak cocoknya kenapa,” katanya.
Sahid memang baru dua tahun domisili  di Jalan Terong. Saat dia pindah ke wilayah RT 06, RW 03, Salim atau Abu Jandal  sudah meninggalkan Jalan Terong.  
Kini Sahid membuat kebijakan di wilayahnya itu, termasuk  untuk ‘pemukiman eksklusif’ di Jalan Terong. “Kalau ada tamu  1 x 24 jam, wajib lapor. Saya sudah sampaikan,” tandasnya.
Lurah Bumiayu, Siswanto Heru Suparnadi yang ditemui terpisah mengaku pernah mendapat informasi soal jejak Abu Jandal diwilayahnya itu. “Saya baru Januari bertugas sebagai lurah Bumiayu, jadi saya tak tahu secara persis. Tapi menurut informasi, Salim pernah tinggal di tempat itu (sekitar Jalan Terong),” katanya. 
comments

Jalani Hidup dengan Filosofi Pohon, Tak Henti Menebar Inspirasi

Share
Arif Setyo Budi, B-Boy (sebutan untuk penari breakdance) yang satu ini memang luar biasa. Di balik kekurangan fisiknya, Arif memiliki talenta yang tak terduga. Selain piawai gerakan ekstrim breakdance, Arif rupanya juga jago akting. Terbukti, Arif bisa terpilih menjadi aktor terbaik dalam festival film pendek SMK Muhammadiyah 5 (SMEAMU) Kepanjen, beberapa waktu lalu.

Saat ditemui Malang Post, Arif tengah mengatur nafas setelah mengayuh sepeda fixie birunya. Dia mengayuh sepeda kesayangannya itu, dari rumahnya di Jl S Supriyadi, Sukun, menuju sebuah franchise di kawasan Jl Soekarno-Hatta, Kota Malang. Jarak jauh, bukan menjadi halangan untuk Arif menjalani hobi bersepedanya itu meski hanya berkaki satu.
Turun dari sepeda, Arif lekas mengambil tongkat penyanggah yang ia gantung di sepeda fixie itu. Ya, tongkat tersebut sudah sejak 6,5 tahun lalu ia gunakan. Pasca kecelakaan di sebuah perusahaan plastik di Sidoarjo September 2007 silam, Arif hidup dengan satu kaki.
Namun, hidup dengan kekurangan tersebut tak membuat Arif terjerat dalam kekecewaan mendalam. Malah, sejak menjadi pria berkaki satu ini, Arif memiliki motivasi baru untuk terus berkarya. Salah satunya, dengan menjadi seorang B-Boy. Sampai-sampai, kini dia mendapat julukan Arif Oneleg karena kondisi fisiknya tersebut.
Karir menari pria kelahiran 15 Mei 1987 ini, sudah tidak perlu diragukan lagi. Arif sudah sering menoreh prestasi di dunia breakdance. Mulai dari juara II LA Break 2011 tingkat Jatim, juara I LA Break 2012 tingkat Jatim. Sampai masuk 48 besar dalam ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia Mencari Bakat (IMB) 3.
Berkat bakat menarinya itu, Arif juga pernah menjadi satu dari dua orang terpilih yang diundang Dubes Amerika untuk Indonesia untuk hadir sebagai peserta Workshop Dance Kontemporer yang diselenggarakan oleh Dance Ability, lembaga seni tari kontemporer Amerika yang namanya sudah mendunia, pada Mei 2013 lalu.
Tidak hanya itu, pria yang kesehariannya menjadi pengusaha warnet ini, juga punya bakat di bidang videografi dan fotografi. Arif juga terus aktif di berbagai komunitas, seperti Akar Tuli, Malang Breakin, serta komunitas sepeda pancal.
Akan tetapi, Arif tidak membayangkan kalau dia bisa masuk ke dunia perfilman. Apalagi, dia berperan sebagai aktor utama di film tersebut. Profilnya yang sempat dimuat di Harian Malang Post, membuat dia dipanggil untuk menjadi pemeran utama dalam film Menembus Batas, film yang dibuat dalam rangka mengikuti SMEAMU Indie Movie Award (SINEMA) 2015.
Terlebih, dalam ajang ini, Arif mendapat penghargaan sebagai Aktor terbaik, mengalahkan nominasi lainnya. "Saat dipanggil saya tidak menyangka. Waktu pembacaan pemenang kategori pemeran terbaik dipanggil Menembus Batas. Waktu itu saya bingung dan malah tidak ikut maju. Waktu dipanggil crew, 'mas sampean ikut maju. Ini kan penghargaan buat sampean,' baru saya ngeh," jelas Arif.
Arif mengaku bingung saat harus memberi kata sambutan. Sama sekali tidak ada persiapan saat itu. "Saya tanya ke crew, mau ngomong apa," katanya seraya tertawa kecil. "Kata teman-teman disuruh ucapan terima kasih begitu, ya saya katakan saja," lanjut Arif.
Pria ramah ini mengaku, sampai sekarang dia tidak menyangka akan menjadi pemegang gelar akting terbaik. Sebab, sebelumnya Arif tidak pernah sama sekali merambah dunia akting. Saat pertama kali dihubungi oleh crew film Menembus Batas, Arif bahkan bingung dan sedikit takut, apakah dia bisa berakting layaknya bintang film profesional.
Kebetulan, sutradara membuat cerita di film ini, mengadopsi kisah nyata dari Arif. "Crew film ini menghubungi saya melalui facebook dan twitter setelah membaca profil saya di Malang Post. Saya diajak untuk menjadi pemeran utama. Karena saya ingin berbagi cerita ke orang lain, saya terima saja," kata Arif.
Rupanya dunia perfilman ini cukup sulit bagi Arif, terutama dalam menghafal skript dan mengatur ekspresi. Kesulitan tersebut, dia rasakan saat syuting. Berkali-kali Arif harus mengulang adegan per adegan karena ekspresinya saat itu kurang maksimal.
Untungnya, kisah dalam film Menembus Batas tidak jauh berbeda dengan kehidupan Arif. Dalam film tersebut, dikisahkan kalau Arif merupakan korban kecelakaan lalu lintas. Peristiwa kecelakaan tersebut, membuat Arif ayahnya meninggal dunia. Sedangkan Arif, harus kehilangan satu kakinya.
Arif hidup bersama ibunya yang menjadi penjual brownies keliling. Setiap hari, dia datang ke kios-kios untuk menitipkan brownies buatan tangan ibunya tersebut. Untuk mendatangi satu per satu kios ini, Arif juga mengayuh sepeda fixie kesayangannya itu.
Hingga pada suatu hari, Arif melihat ada kompetisi dance. Keinginan untuk mengikuti kompetisi tersebut dimulai. Demi mengikuti kompetisi tersebut, Arif mulai berlatih tari. Ibunya sempat melarang, karena khawatir terjadi sesuatu pada anak satu-satunya itu. Namun, Arif keputusan Arif bulat untuk ikut kompetisi ini.
Disinilah drama kehidupan Arif dimulai. Selama ikut latihan, ada saja ujian yang menimpanya. Seorang peserta, berusaha menjatuhkan semangat Arif dengan membuat mental Arif jatuh. Dia menyinggung kekurangan fisik Arif. Kalimat tidak mengenakkan, selalu dilontarkan kepadanya. Seperti "kalau mimpi jangan tinggi-tinggi", "kamu tidak bisa menang dengan kondisimu seperti itu".
"Itu yang memerankan teman main saya, biasanya kami bercanda. Saat berperan seperti itu, seringkali kami tidak kuat menahan tawa dan akhirnya adegan diulang," tutur lulusan SMK Nasional Malang ini.
Kisah berlanjut. Ditengah tekanan dari si pemeran antagonis ini, ada satu wanita yang menyupport Arif untuk tetap semangat mengikuti kompetisi itu. Inilah membuat motivasi Arif kembali muncul. Arif terus berlatih keras. Hingga pada hari-H Arif benar-benar ikut dalam kompetisi tersebut.
Tidak berjalan mulus, saat menunjukkan performa terbaiknya di hari-H, Arif malah terjatuh. Alhasil, Arif gagal menjadi juara dalam kompetisi tersebut. Meski begitu, dia mendapatkan sebuah penghargaan dari panitia karena usahanya.
Secara garis besar, kisah di film dengan yang asli memang mirip. Hanya saja ada beberapa yang berbeda, seperti kecelakaan lalu lintas dan kesehariannya menjadi seorang penjual brownies. Namun bagi Arif, dia mampu menjiwai perannya karena apa yang diceritakan, tidak jauh berbeda dengan semangat yang dia miliki.. "Jadi saya cukup bisa menjiwainya," jelas Arif.
Pesan yang disampaikan dalam kisah Arif ini, sama dengan misi Arif selama ini. Dia ingin membuktikan, bahwa keterbatasan fisik bukan halangan seseorang untuk terus berkarya. Dia bersyukur, dengan film ini dia berharap orang lain dengan keterbatasan fisik seperti dirinya, bisa bangkit dan menjadi apa yang mereka harapkan.
“Karya-karya siswa SMEAMU, memang bagus-bagus. Semoga bisa mendapat yang terbaik," katanya.
Seperti apa yang selama ini dilakukan Arif. Ia aktif di berbagai komunitas. Di setiap kesempatan acara, Arif selalu mengemban misi untuk mengajarkan kepada orang lain bahwa keterbatasan, hanyalah ujian semata. Terlebih untuk para penyandang disabilitas, bersama komunitas akar tuli, Arif sampai sekarang masih aktif untuk menebar inspirasi.
Film Menembus Batas, rencananya akan kembali diikutkan dalam beberapa film pendek festival di luar negeri. "Salah satunya kalau tidak salah di London. Saya hanya berharap film ini bisa menjadi inspirasi banyak orang. Satu bulan lalu, Arif juga dipanggil salah satu stasiun televisi swasta nasional untuk mengikuti program reality show Panggung Impian. Di situ, dia menemukan filosofi baru tentang hidupnya. Dia sebut filosofi tersebut, sebagai filosofi pohon. Pohon, jelasnya, meskipun berdiri dengan satu kaki, dia mampu hidup dan menopang ranting dan daun-daun di atasnya.
Sama seperti kisahnya, meski berdiri di atas satu kaki, Arif percaya kalau dia mampu hidup layaknya orang normal. "Keterbatasan ini tidak akan menghentikan saya untuk menari dan berkarya," pungkasnya. Arif Setyo Budi, akan terus menjadi inspirasi bagi orang banyak. (muhamad erza wansyah)
comments

Page 1 of 31

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »