Malang Post

Features


Asah Jiwa Wirausaha Siswa, PD Berjualan di Kelas

Share
Menengok Business Center SMKN 1 Singosari
Sejak 2013 lalu, SMKN 1 Singosari memiliki Business Center,  mirip toko yang menjual berbagai macam produk. Di tempat ini, para siswa belajar menjadi entrepreneur. Mereka tidak sekadar datang dan menjadi pelayan siswa lain yang berbelanja, tapi juga wajib menjanjakan produk yang ada di tempat lain.
Tidak jarang siswa-siswi sekolah tersebut keluar masuk kelas sambil membawa nampan berisi makanan, kue atau produk-produk lain. Penuh percaya diri, mereka menawari satu persatu siswa yang melintas agar tertarik membeli.
Saat menjajakan makanan, para siswa ini tidak merasa rendah diri, bahkan dengan langkah tegap mereka akan mendatangi kerumunan siswa lain, untuk menawarkan produk yang dibawa. “Kalau ditolak sering, maksudnya teman-teman enggan membeli. Tapi kami tetap semangat, toh kami tidak mengeluarkan modal dari kegiatan ini, karena semua produk yang kami bawa dari Business Center,’’ kata Ida Royani, salah satu siswa SMKN 1 Singosari.
Yang membuat para siswa semakin semangat mengembangkan jiwa bisnisnya, karena mereka mendapatkan keuntungan dari setiap kegiatan jual beli yang dilakukan. Ya, nominalnya memang tidak seberapa. “Meski untungnya kecil, tapi kami puas karena dengan jerih payah yang kami lakukan mampu menghasilkan sesuatu,’’ kata Ida tersenyum.
Ida mengatakan, jiwa bisnisnya muncul sejak dia mendapat ilmu kewirausahaan. Saat itu salah satu gurunya mengajarkan tentang bagaimana bisa menjual produk, tentang komunikasi saat berjualan, menghadapi konsumen hingga pelajaran tentang administrasi. Memang ilmu itu tidak bisa langsung diterimanya. Ida dan beberapa temannya wajib melawan rasa malu, saat menjajakan produk pertama kali. Namun upaya itu berhasil, lambat laun, Ida mulai berani.
“Pertama ya berjualan dengan teman-teman, paling tidak dengan dua tiga orang dulu. Tapi lama kelamaan mulai berani, seperti tadi saya menjual makanan ringan sendiri, masuk ke kelas-kelas, dan ke ruang guru. Alhamdulillah laku banyak,’’ kata Ida.
Senada, Yanuar mengatakan keberadaan Business Center sangat membantu, terutama dalam praktik berwirausaha. “Kami beruntung, memiliki gedung ini, karena kami bisa melayani siswa dan masyarakat luar. Dengan gedung dan ilmu yang kami dapat, betul-betul mampu membangkitkan semangat kami untuk berwirausaha,’’ urainya lalu mengatakan, selain berjualan saat jam istirahat, dia juga berjualan setelah pulang sekolah, bahkan di sela-sela belajar kelompok.
“Kalau di sekolah jualannya produk-produk untuk kebutuhan sekolah, kalau pulang sekolah berjualan sesuai yang diminta teman,’’ tambah pemuda yang juga melayani penjualan pulsa ini.
Humas SMKN 1 Singosari  Dra Dijah Nastiti mengatakan, Business Center ini merupakan cita-cita dari sekolah, tidak sekadar memberikan ilmu agar anak tidak hanya sekolah atau kerja setelah lulus, tapi juga memiliki jiwa entrepreneur. “Ya begitu, para siswa ini belajar tidak hanya menuntut ilmu, tapi juga belajar entreprenuer. Tujuannya jelas, begitu lulus nanti mampu berwirausaha dengan baik,’’ katanya. Business Center, dikatakan Dijah, satu struktur dengan koperasi. Hanya saja, jika koperasi hanya melayani siswa, Business Center dibuka untuk umum.
Wanita berkerudung ini mengatakan, Business Center ini didirikan untuk memberikan fasilitas siswa dalam mengaplikasikan keahlian bisnis yang dimiliki. Dia mengakui, problem para usahawan pertama adalah rasa takut. Mulai dari takut modal, takut gagal dan takut ketemu orang. Di gedung yang dikelola oleh SMKN 1 Singosari ini siswa mendapatkan brain wash, sehingga muncul keberanian, percaya diri dan kreativitas.
“Ya itulah salah satu alasan kami mendirikan Business Center. Kami mengajarkan anak-anak untuk berani menghadapi orang lain, dan berani menciptakan sesuatu, untuk kemudian dijual kepada orang lain,’’ tambahnya.
Saat kali pertama berdiri, Dijah mengatakan tidak banyak yang merespon. Para siswa tidak banyak yang tertarik. Bahkan, saat para guru mengajak dan memberikan motivasi, mereka tetap enggan untuk berjualan. Lebih-lebih, mereka mendapat ejekan atau cemohan dari siswa lain, karena berjualan di sekolah.
Tapi itu dulu. Tiga bulan setelah gedung ini berdiri, para siswa mulai berdatangan. Mereka tidak sekadar menjaga, tapi langsung meminta barang untuk dijajakan. Saat ini bisnis yang ada di Business Center kian maju pesat. Bahkan di masa datang, tidak hanya produk luar saja yang dijual, tapi produk dari dalam seperti kerajinan tangan, mananan buatan siswa pun bisa dijual. “Kami ingin yang berbeda, dan menciptakan anak-anak siap berwirausaha,’’ tandasnya.(ira ravika/han)
comments

Dapat Julukan karena Selalu Bawa Oleh-oleh Gethuk

Share
TAK ADA Aremania yang tidak mengenal sosok Joko “Gethuk” Susilo. Dia adalah legenda hidup Arema yang sampai saat ini masih mengabdi kepada klub berjuluk Singo Edan. Meski demikian, lika liku perjalanan karir dari pemain hingga jadi pelatih tidak banyak diketahui Arek-Arek Malang yang baru lahir medio 2000-an. Berikut, cerita penuh tawa dan sedih dari sosok Gethuk.
 
Pertandingan sepak bola era Galatama konon keras dan penuh dera. Hanya ada dua tipikal pemain yang bisa bertahan dalam sepak bola zaman dulu. Pemain yang keras, kuat dan tidak gentar bertarung seperti defender garang Kuncoro atau pemain lincah, gesit dan cerdik layaknya winger I Made Pasek Wijaya. Ada satu nama lagi yang masuk dalam kategori pemain yang kedua, yakni Joko “Gethuk” Susilo.
Pada masanya, Gethuk adalah pemain yang lincah dan gesit. Dia berposisi sebagai striker. Pelatih kelahiran Cepu itu dikaruniai kecerdikan dalam menghadapi defender-defender yang lebih besar, kasar dan kuat. Pada masanya, Gethuk mendapat julukan super-sub, karena kalah pamor ketimbang striker Arema saat itu, Singgih Pitono.
Gaya mainnya, konon hampir mirip dengan striker Arema saat ini yang juga berjuluk super-sub, yakni Sunarto. Meski demikian, karir Gethuk tidak berawal dari Arema. Dia mengawali karir junior di Blora. Pelatih kelahiran 12 September 1970 tersebut tumbuh dalam bayang-bayang Arseto Solo serta Petrokimia yang jadi tim Galatama paling top di Jawa Timur dan Jawa Tengah saat itu.
Tahun 1989, dia masuk tim menengah dari Surabaya, Niac Mitra. Dua musim lamanya, Gethuk menimba ilmu sepak bola dari Niac Mitra. Tahun 1991, Gethuk beralih ke Mitra Surabaya selama satu musim saja. Nama Joko Susilo saat itu masih belum dikenal dunia sepak bola nasional. Baru pada tahun 1992, Gethuk masuk ke klub kebanggaan Kota Malang, yang awalnya dilatih M Basri.
Dari situ, nama Joko Susilo mulai melambung. Terutama, setelah M Basri pergi dari Arema, dan diambil alih oleh Gusnul Yakin. Meskipun tak seproduktif Singgih, Gethuk melekat di hati Aremania karena gaya permainannya yang seperti kancil, cerdik dan sulit ditebak. Bukan rahasia lagi apabila Sunarto, striker Arema sekarang dipadankan dengan gaya main Gethuk pada masa kejayaannya bersama Arema juara Galatama 1992.
Gethuk yang diwawancarai Malang Post di mess Arema Jalan Buring, mengakui, kondisi Arema saat itu tidak seenak sekarang. “Gaji mana pernah lancar. Makan pun seadanya. Nasinya banyak, sambelnya satu cowek besar, sedangkan lauknya tempe yang dijatah untuk setiap pemain, hehehe,” tandas Gethuk sembari mengenang masa lalunya bersama Arema.
Gethuk pun membeberkan, kondisi Arema saat juara Galatama begitu pas-pasan meski diperkuat pemain-pemain hebat semacam Mecky Tata, Imam Hambali, Kuncoro, Singgih Pitono hingga Aji Santoso. Kondisi tim Arema era Galatama, menyedihkan. Selain gaji yang tidak jelas, bus pemain punya kondisi buruk.
“Atap bus sering bocor kalau kena hujan. Saat tur, kita sering pakai bensin campur dorong untuk sampai di tempat tujuan. Kalau minyak oli bus habis, kita ganti dengan air sabun atau minyak goreng. Pintu bis lepas, kaca depan pecah, sampai-sampai supir pakai helm kalau nyetir, haha,” kenangnya.
Bonus jadi juara Galatama pun tidak sementereng namanya. Uang total juara hanya Rp 250 ribu. Hadiah TV tidak untuk semua pemain. Selama empat tahun lamanya, Gethuk membangun reputasi sebagai striker pujaan Aremania yang berjiwa singa. Panggilan Gethuk pun didapat saat berkostum Arema.
Ceritanya, Joko Susilo masih pulang kampung ke Cepu ketika kompetisi libur. Saat kembali ke Malang, Joko selalu membawa gethuk sebagai oleh-oleh untuk para pemain dan ofisial tim. Karena sering membawa oleh-oleh gethuk, akhirnya Joko Susilo mendapat julukan Gethuk sampai sekarang.
Setelah empat tahun berkostum Arema, nama Gethuk mulai diperhitungkan di kancah sepak bola Indonesia. Tahun 1996 ia hijrah ke PSM Makassar. Dia sempat tampil di Liga Champion Asia. Tahun 1997, dia berpindah ke Persija Jakarta. Namun, karena reformasi dan kerusuhan, kompetisi mandeg.
Setelah kerusuhan reformasi mereda, Gethuk pulang kampung ke kota yang membesarkan namanya, Malang. Dia berkostum Arema hingga tahun 2003, dan pensiun sebagai pemain Arema. “Saya tidak pernah bisa berhenti berterima kasih kepada klub ini, suporter Aremania, dan orang-orang yang memberi saya kesempatan main bola di Arema. Karena itu, saya rasa tidak ada tempat bagi saya selain hidup di Arema. Selama saya kuat, saya akan mengabdi buat klub ini,” tambahnya.
Pengalamannya sebagai pemain, membuatnya makin matang sebagai pelatih. Karena punya bakat sebagai pelatih, dia cepat menangkap ilmu dari pelatih-pelatih senior, semacam M Basri, Gusnul Yakin, Daniel Roekito, Henk Wueillem hingga Suharno. Dia juga sudah magang kepada pelatih-pelatih top seperti mendiang Miroslav Janu, Robert Albert hingga Rahmad Darmawan.
Kini, setelah menyerap ilmu-ilmu dari para pelatih jempolan, Gethuk siap mencurahkan energi dan hidupnya agar Arema tetap berjaya di kompetisi sepak bola Indonesia.(fino yudistira/han)
comments

Saat Kepala Daerah Bangga Menjadi Pilot. . .

Share
MALANG – Silaturahmi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), se Bakorwil Malang yang digelar Badan Koodinasi wilayah (Bakorwil) Malang di Lanud Abd Saleh kemarin lain dari pada yang lain. Itu karena seluruh kepala daerah dan wakil serta beberapa tamu undangan mengenakan pakaian penerbang. Tidak terkecuali Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, yang datang mewakili Gubernur Jatim Sukarwo, yang juga memakai pakaian penerbang berwarna orange.
Penggunaan pakaian penerbang ini memang baru kali pertama ini dilakukan oleh para bupati dan walikota. Itu sebabnya, begitu berada di  hanggar Skadron 32 tempat silaturahmi tersebut digelar, para Bupati dan Walikota serta tamu undangan ini pun langsung sibuk foto-foto.
“Ini pertama saya menggunakan pakaian penerbang. Senang, seperti penerbang betulan,’’ kata Bupati Malang H Rendra Kresna kemarin.
Penampilan Rendra pun kian keren, karena dia juga melepaskan sepatu pantofel serta kopyah dan menggantinya dengan boots serta topi ala penerbang.
Senada wakil Walikota Batu Ir Punjul Santoso, juga mengaku bahagia dengan pakaian penerbang  pemberian Danlanud Abd Saleh Marsma Sungkono ini.  Itu sebabnya, saat diminta mengganti baju safari dengan pakaian penerbang, Punjul  pun langsung semangat. “Dulu cita-cita saya menjadi pilot, sekarang kesampaian, meskipun hanya memakai seragamnya saja,’’ kata Punjul sembari tersenyum. Lantaran sangat bahagia, Punjul terus action saat wartawan mengabadikan gambarnya.  “Udah mirip Bruce Willis belum,’’ katanya dengan gaya melipat tangan di dada bak di film Armagedon.
Kebahagiaan para bupati dan wakil bupati ini kian memuncak, lantaran panitia juga mengajak mereka terbang menggunakan pesawat Hercules C-130. Dengan semangat, para bupati serta walikota dan undangan ini menuju tempat pesawat Hercules dengan nomor penerbangan A-1332 ini terparkir. Tanpa menunggu aba-aba, mereka pun langsung masuk, serta menempati tempat duduk di pesawat. “Wah ternyata dalamnya Hercules ini seperti ini ya,’’ kata salah satu pejabat.
Dia pun langsung memasang sabung pengaman. Tapi tidak sedikit dari mereka yang tegang. Wajar, karena umumnya mereka baru kali pertama naik Hercules.
Penerbangan pesawat yang dipiloti langsung oleh Komandan Skadron 32 Letkol Pnb Reza Raneza ini melintasi seluruh wilayah Bakorwil Malang.  Saat itu juga, masing-masing pemilik wilayah melihat daerahnya dari atas.  
“Kami sengaja menggelar silaturahmi  ini berbeda dengan biasanya. Penerbangan yang diikuti oleh para pemimpin daerah ini bertujuan, agar mereka mampu melakukan sinergi untuk membangun daerah, agar lebih maju,’’ kata Kepala Bakorwil Malang Ir Eddy Santoso.
Dia mengatakan, silaturahmi ini pihaknya mengangkat isu transportasi dan pariwisata. “Seperti diketahui, pariwisata di Jawa Timur ini sangat pesat kemajuannya. Tapi jika tidak diimbangi dengan infrastruktur yang memadai, lambat lain akan menurun. Itu sebabnya, dalam forum ini mari kita bersama-sama untuk bersinergi, membangun dan mendukung pembangunan infrastruktur, agar pariwisata kita semakin maju,’’ urainya.
Dia pun berjanji, kegiatan silaturahmi ini tidak berhenti hanya di Lanud Abd Saleh, tapi di masa mendatang kegiatan silaturami ini akan dilaksanakan dengan tuan rumah yang berbeda. “Sekarang tuang rumahnya Kabupaten Malang, tiga bulan nanti tuan rumahnya bisa di Banyuwangi atau Jember,’’ tandasnya.
Sementara Saifullah Yusuf sangat mengapresiasi kegiatan ini. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengatakan kemarin merupakan hari yang istimewa. “Karena hari ini istimewa, menggunakan pakaian penerbang, memberikan sambutannya pun harus pakai kacamata hitam,’’ katanya sembari mengaku sangat bahagia.
Dalam sambutannya kemarin, pria ini juga sangat antusias berbicara soal pariwisata. Sejauh ini, Jatim kerap kali menjadi jujugan wisatawan, tidak hanya dari mancanegara, tapi juga wisatawan lokal. “Makam pun menjadi potensi wisata di Jatim. Ini sangat luar biasa. Dengan adanya forum ini, saat kepala daerah mampu bersinergi, maka mereka wilayah Jatim ini akan semakin maju. Mari kita bersama-sama berfikir untuk membangun infrastruktur, dan menjadikan wilayah Jatim ini lebih baik,’’ tandas Gus Ipul.
Kegiatan silaturahmi ini berlanjut dengan kegiatan pengenalan menembak. Memang tidak semua yang hadir itu mau memegang senjata, tapi dari sekian banyak pimpinan daerah, mereka cukup jitu dalam menggunakan senjata. Termasuk Rendra yang mampu mengumpulkan point 36, lantaran amunisinya menembus sasaran yang disediakan.
Kegiatan silaturahmi berakhir dengan acara ramah tamah, serta penyerahan bantuan kepada siswa berprestasi dan masyarakat kurang mampu di lingkungan Lanud Abd Saleh.(ira/han)
comments
Last Updated on Tuesday, 24 February 2015 13:20

Tidak Menyangka Deni Melakukan Pemukulaan Kepada Anaknya

Share
SUASA duka menyelimuti Jalan Lowokdoro Gang 3, RT 06 RW 04, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun Kota Malang. Salah satu rumah sederhana, yang masuk di dalam gang kecil, merupakan tempat tinggal dari Deni, 32 tahun, ayah yang tega menyiksa anak kandungnya bernama Kasih Rahmadani, 7 tahun hingga meninggal.

Masyarakat sekitar, tampak berbondong-bondong melayat ke rumah sederhana itu. Kebetulan di dalam rumah itu, ditinggali orang tua tersangka Deni, bernama Munali 69 tahun dan Kasiyem, 63 tahun. Dua orang pria paruh baya itu, tampak meladeni dengan sabar, para pelayat yang memadati rumahnya saat itu. Meski baru dirundung duka.
Tetesan air mata, tampak mengucur dari mata Kasiyem, ketika menceritakan kejadian kepada para pelayat. Saat mengetahui kedatangan Malang Post, Kasiyem dengan ramahnya mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Saat itu, Kasiyem mengaku tidak mempunyai firasat apap-apa sebelumnya, terkait bakal terjadinya peristiwa ini.
“Saat ketemu terakhir dengan kedua cucu saya dua hari yang lalu, juga tidak ada perasaan apa-apa,” terangnya kemarin. Dia menjelaskan, selama ini, kedua cucunya itu baik-baik saja. Bila nakal, maka hal itu merupakan suatu yang biasa. Menurutnya, nakal anak-anak seusia tersebut, merupakan nakal yang lumrah. Salah satunya ingin bermain.
Selain itu, tidak pilih kasih maupun perlakuan khsus yang diberikan kedua cucunya itu. Perlakuan yang sama, diberikan dengan 12 cucunya yang lain. Naamun, dia menyoroti anaknya bernama Deni. Apa yang dilakukan Deni, di luar perkiraan sebelumnya. Padahal, dia selama ini dikenal baik dan pendiam.
Namun, Munali tidak menampik, ada sesuatu yang berbeda, usai tersangka pulang dari Sulawesi tersebut. “Dia kan selama setahun ini, sudah ditinggalkan istrinya tanpa alasan yang jelas. Dia juga tidak tahu dimana istrinya tersebut. Mungkin saja, ini adalah penyebab utamanya,” terang bapak yang mempunyai delapan ini.
Dijelaskannnya, Deni merupakan anak keempat dari delapan anaknya yang lain. Dia juga dikenal pendiam. Serta bila terdapat masalah, disimpan sendiri. Meski sudah melakukan perbuatan keji itu, dia tetap memaafkan anak kesayangannya itu. Dia berharap kepada Deni, supaya mengambil hikmah dari peristiwa ini.
“Sebagai orang tua, tentunya tetap memaafkan. Bagaiamanpun itu juga, dia adalah anak saya,” imbuhnya. Sedangkan jenazah dari Kasih Rahmadani, sudah dikuburkan pada Sabtu (21/2) malam, usai dilakukan otopsi. Jenazah dimakamkan di Tmpat Pemakaman Islam, yang tidak jauh dari rumahnya tersebut.
Sedangkan anak lainnya dari tersangka yakni Dina Marselina, masih ikut bersama kakek neneknya. Dia juga sempat merasakan penyiksaan berupa pemukulan dari ayah kandunga tersebut. Bahkan, dia melihat adiknya dipukul membabi buta. Perisitwa yang dialaminya, membuat Dina mengalami trauma.
Untuk itu,. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang, memberikan pendampingan dan perlindungan terhadap saksi serta korban. Menurut Pendamping P2TP2A Kabupaten Malang Ummi Khoirotin, siap melakukan pendampingan terhadap Dina Marcelina.
“Kami sudah diminta UPPA Satreskrim Polres Malang, melakukan pendampingan kepada korban tersebut,” ujarnya terpisah. Sedangkan pengembalian psikis dan trauma dari korban tidak mudah. Karena dapat dipastikan, korban mengalami trauma yang berlebihan. Korban diperkirakan takut terhadap laki-laki.
Karena telah melihat perbuatan membabiu buta yang dilakukan oleh ayak kandungnya tersebut. “Untuk itu, perlu dilakukan trauma helling untuk menyembuhkannya. Hal ini tentunya tidak mudah. Selain itu, selama terapi, harus dilakukan pendampingan langsung oleh keluarganya,” terang wanita berjilbab ini.
Sedangka pihaknya siap memberikan pendampingan itu, hingga korban benar-benar sembuh total. Hingga tidak mengalami trauma berlebihan dan ketakutan yang tinggi. (Binar Gumilang)
comments

Semarak Bazar Batu Mulia dan Akik di Cafe UM

Share
BAGI para pecinta batu akik, nampaknya bacan dan bulu macan bukan hal yang asing didengar telinga. Ya, kedua batu ini sekarang sedang banyak digemari masyarakat. Termasuk di Malang, keduanya menjadi incaran para kolektor, sampai pemuda yang sekadar ingin bergaya.

Hal  tersebut  di Bazar Batu Mulia dan Akik, Café Universitas Negeri Malang (UM), Jl Veteran, Kota Malang, kemarin (21/2/15). Sejumlah penggemar dan pecinta batu akik, mengerumuni  stan-stan koleksi batu akik yang berjejer di sana. Ada ratusan jenis batu yang dipamerkan dari para pengrajin, penjual sampai kolektor semata.
Tapi diantara seluruh jenis batu tersebut, bacan dan bulu macanlah yang paling digemari. Keunikan kedua batu ini bisa membuat mata pemburu batu akik silau. Bacan merupakan batu berwarna hijau dari Sulawesi. Ciri-ciri batu tersebut, bila di laser corak air dan minyak akan tampak dari batu tersebut.
Sedangkan batu jenis bulu macan, digemari karena keunikan batu yang memiliki corak loreng seolah bulu macan ini. Batu bulu macan, berserat seperti emas. Sekarang, batu asal Jawa Timur ini mulai digandrungi, tapi keberadaannya sekarang sudah langka.
Harga kedua batu tersebut sangat beragam, mulai dari ratusan ribu sampai puluhan juta. Bagi para pengrajin, penentuan harga batu ini sesuai dengan selera konsumen atau pembeli. Seperti misalnya Retno Dwi Astuti, penjual batu akik di Singosari ini mengaku pernah menjual batu bacan dengan harga yang sangat tinggi.
"Waktu itu saya jual bacan ke orang sampai Rp 25 juta. Pembelinya memang sangat antusias," ujar Retno kepada Malang Post saat sedang menjaga stan batu akiknya, kemarin. Ditambahkan, dia juga pernah menjual bulu macan dengan harga di atas Rp 4 juta.
Penjual sekaligus pemilik stan lainnya, Ahmad Ja’far juga mengatakan kalau harga batu akik ini tidak bisa ditentukan. Terkadang, kata Ja’far, batu jelek sekalipun bisa dihargai mahal bila pembeli memang suka. Meski begitu, para pemburu dan pembeli juga harus jeli dalam memilih batu akik. Sebab, bisa-bisa malah mendapat batu akik palsu.
Ja’far mengatakan, untuk mengetahui mana batu akik asli dan palsu, bisa dilihat saat batu tersebut disorot senter. Jika saat disorot batu menyala, tandanya batu tersebut asli. Bila tidak, artinya palsu. "Semakin menyala, harganya semakin mahal," ungkap Ja’far.
Ketua Panitia Bazar, Agus  tersebut mengatakan, batu akik zaman sekarang memang sedang ngetrend di berbagai kalangan. Padahal, banyak masyarakat menganggap kalau batu akik ini hanya digunakan oleh para dukun. Namun kenyataannya sekarang tidak demikian, para pemuda berusia 20 tahun ke atas saja sudah banyak yang minat.
"Ya banyak digemari. Fungsi juga berubah, dulu fungsinya mensugesti batu tersebut untuk melindungi diri pemakai, keluarga dan lainnya. Sekarang, karena banyak digemari jadi banyak yang mengkomersilkan," ujar Agus.
Meski begitu, dia tidak masalah dengan komersialisasi batu akik ini. Hanya saja, dia berharap agar masyarakat bisa melestarikan batu akik yang berasal dari kekayaan negara. "Saya harap pemerintah juga tidak menggolongkannya sebagai barang mewah sehingga kena pajak," pungkas Agus. (erza wansyah)
comments

Page 1 of 25

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »