Malang Post

Features


Kreatifitas Agus Firmawan, Pelukis Asal Tumpang

Share

Kopi saat ini tak lagi hanya bisa dinikmati dengan cara diseruput. Adalah Lukman Agus Firmawan, pelukis Tumpang Kabupaten Malang, yang menawarkan cara baru menikmati kopi. Yakni dengan cara dipandang. Sebab melalui kreasi tangannya, ampas kopi mampu disulap menjadi lukisan yang indah.

Serbuk kopi rasanya memang pahit ketika dikecap sedikit dengan lidah kita. Tetapi kopi dapat dengan manisnya dilihat menggunakan mata. Pria yang lebih memilih disapa Agus ini memiliki beberapa hasil karya seni lukis yang unik. Dibilang unik, karena Agus melukis bukan dengan cat minyak ataupun media lukis wajar lainnya, melainkan menggunakan serbuk kopi.
“Ya, namanya juga seniman. Kita selalu memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain. Itu sudah seperti lagu wajib buat kami,” tuturnya saat ditemui di kediamannya di Gang Puntodewo No. 60 Tumpang Kabupaten Malang, Jumat (12/2).
Kopi yang rasanya pahit konon juga bisa menetralkan zat yang bisa menyebabkan sakit lambung atau maag. Namun di  tangan seniman Malang, Lukman Agus, ampas kopi bisa jadi karya seni yang memukau. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan ampas kopi yang berwarna coklat kehitam - hitaman sehabis diminum.
Pria berambut panjang ini, menyebut tekniknya tersebut dengan Eco Painting, karena menggunakan bahan dari alam. Ia mengatakan, Eco Painting memang saat ini menjadi tren seniman lukis dimana pun. Pasalnya, seniman pun harus juga berkontribusi dalam kelestarian alam yaitu dengan memanfaatkan sebaik-baiknya barang bekas untuk dijadikan karya seni.
"Sebelumnya saya melukis dengan air brush, tapi saya pikir air brush dapat menyebabkan polusi udara, akhirnya saya menemukan bahan untuk melukis dari alam, yaitu kopi," ujar Agus yang juga aktivis peduli lingkungan ini.
Agus tidak hanya menggunakan ampas kopi, namun juga memakai kopi yang belum diseduh dan dicampur dengan putih telur untuk merekatkan. Menurutnya dengan teknik tersebut, karakteristik lukisan yang dihasilkan akan berbeda.
Pasalnya, campuran kopi dengan putih telur dapat membuat efek lukisan timbul, lebih nyata, tidak gampang pudar dan nyata. Inilah yang membuatnya semakin menekuni melukis menggunakan media kopi dan tetap terus mengembangkannya.
"Kalau pakai ampas kopi hasilnya lebih soft, dan kopi yang belum diseduh hasilnya lebih pekat," tambah pria yang juga giat bermusik ini.
Agus kemudian menceritakan, awal mula memberanikan diri menekuni teknik melukis kopi adalah prihatin terhadap lingkungan. Dirinya yang sebelum ini selalu menggunakan teknik melukis melalui airbrush di mana mengakibatkan pencemaran udara dan lingkungan, mulai berpikir kedepan.
Pria yang juga dikenal dengan nama Joko Tebon ini memaparkan, memang benar menggunakan Airbrush lebih mudah dan dapat melukis di media apapun seperti canvas, helm, dinding dan lainnya. Namun, meninggalkan polusi. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mencari alternatif lain.
“ Sebenarnya saya sudah tertarik menggali potensi artistik kopi sebagai media lukis sejak tahun 1998. Tetapi, ia melanjutkan baru mulai berani menerapkannya di tahun 2008. Ya semenjak aktif di kegiatan aktivis lingkungan saya jadi tahu bahwa sebagai seniman pun saya harus memberikan contoh yang baik pada masyarakat,” tuturnya sembari memandagi beberapa hasil lukisannya.
Ia berujar, “Cat kopi” lebih sulit ditangani untuk melukis dibanding cat biasa. Pigmen dari kopi lebih lengket menempel pada kuas. Kendala teknis yang dihadapi pelukis juga lebih besar pada saat mengendalikan garis, nada warna (color tones) dan aliran cairan kopi pada permukaan bidang pelukisan. Pendek kata, melukis dengan kopi sangat menuntut kesabaran, ketelatenan dan keberanian bereksperimen.
Agus menerangkan, proses penciptaan lukisan “kopi pada kanvas” jelas lebih sulit daripada membikin lukisan “kopi pada kertas”. Melukis dengan kopi pada kanvas bukan saja membutuhkan teknik khusus, tapi juga peralatan yang spesial. Kuas biasa, misalnya, tidak memadai. Untuk menghasilkan efek visual yang sempurna, dirinya pun harus menyiapkan kuas tersendiri yang betul-betul cocok buat menangani tekstur spesifik kopi pada kanvas.
“Jadi, kepekaan dan kemahiran artistik yang tinggi juga sangat diperlukan dalam melukis dengan kopi. Disini saya merasa terus tertantang,” tandasnya.
Karya lukisan menggunakan serbuk kopi yang ditekuni Agus kini telah mencapai ratusan karya. Karya lukisannya tidak hanya dipamerkan di Malang saja, namun juga di Bali, Jakarta sampai Prancis. Ia kemudian berpesan, seniman harus bertanggung jawab pada karyanya, mengemban misi dan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Selebihnya, tinggal penikmat seni yang menentukan,” pungkas Agus.(Sisca Angelina/ary)

comments

15 Tahun Jadi Kolektor Botol Minuman, Berburu hingga Eropa

Share

Hobi Unik Sutono, Warga Oro-Oro Dowo Kecamatan Klojen
Hobi Sutono, warga Oro-Oro Dowo Kecamatan Klojen, terbilang unik. Pria ini, adalah kolektor botol dan kaleng minuman ringan merk Coca Cola. Hobinya ini sudah dilakukan sejak 15 tahun silam. Ia bahkan rela berburu botol dan kaleng hingga ke Benua Eropa !

Kekaguman serta rasa cinta Sutono terhadap minuman yang popular sejak tahun 1.800an ini ia wujudkan dalam banyak koleksi yang beragam. Lebih dari 200 botol Coca Cola dengan ukuran dan jenis serta banyak pernak-pernik lainnya tertata rapi hampir di setiap sudut ruangan rumah pria ramah ini. Tidak main-main, ternyata koleksinya tersebut didapat dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Asia hingga Eropa, dan proses mendapatkannya pun sangat tidak gampang.
“Sebagian besar memang limited edition dan tidak diproduksi lagi,” terangnya pada Malang Post, kemarin.
Suami dari Diana Gunawan ini menyebutkan bahwa hobinya bermula ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa, kurang lebih 15 tahun lalu. Ketika itu ia merasa bahwa Coca Cola memiliki berbagai varian yang unik. Produksi yang dikeluarkan di setiap negara selalu berbeda dan dengan ciri khasnya tersendiri. Sehingga ia memutuskan untuk mengoleksinya lebih banyak lagi.
“Ini termasuk koleksi yang murah tapi kepuasan yang saya dapatkan tidak bisa dituangkan dengan kata-kata,” tambahnya.
Banyak cerita menarik yang ia lewati sepanjang berburu koleksi dengan dominasi warna merah putih ini. Bahkan ia pernah harus mengambil sebuah poster klasik berlogo Coca Cola yang berada di tong sampah. Meskipun dalam keadaan sedikit kotor, pada akhirnya ia rela membersihkan dan membuatkannya sebuah bingkai cantik.
“Saya mendapatkan poster ini di salah satu pasar di Singapura. Banyak yang heran melihat saya, tapi saya tetap mengambilnya,” ungkapnya sambil diiringi ketawa kecil.
Bagi ayah dua anak ini, setiap koleksi yang dimilikinya tersebut memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Karena tidak hanya didapatkan dengan mmbeli di banyak pusat perbelanjaan dan pasar loak, namun juga dalam kehidupan sosialnya setiap hari.
“Ketika belanja saya pernah bertemu dengan seorang tante yang mengenakan payung merah ini (sambil menunjuk payung Coca Cola) dan saya kejar lalu saya beli,” bebernya.
Selain itu, ia juga sempat harus mendatangi sebuah rumah makan di salah satu pusat perbelanjaan di Malang hingga sepuluh kali. Kunjungannya ini dilakukan untuk mendapat sebuah tempat tisyu dengan nama dan lambang Coca Cola. Menariknya lagi, ia juga sempat membeli sebuah rak minuman yang sudah karatan. Kemudian kembali dibenahi dan ia cat.
“Rak ini saya dapat di sebuah warung di wilayah Malang Raya sini,“ kata ayah Matthew dan Damian ini.
Sekarang, rak tersebut diisi dengan banyak botol Coca Cola dan terpajang cantik di sudut ruangan tamu miliknya. Tidak hanya itu, ia juga menyebutkan bahwa dalam setiap kunjungan yang dilakukan di beberapa negara tidak kurang dari 10 varian minuman bersoda ini dibawanya pulang.
Kebiasaan ini secara tidak langsung berpengaruh pada keluarga besar dan teman dekatnya. Beberapa koleksinya ini merupakan hadiah dari isteri, orangtua, mertua, dan para sahabat. Ke dua puteranya pun beberapa kali memberi rekomendasi koleksi cantik Coca Cola ketika tengah berlibur.
“Boneka khas ini saya beli di sebuah toko mainan di Johor Malaysia atas rekomendasi anak-anak,“ ujarnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan secara rinci berbagai koleksi yang dimilikinya. Diantaranya adalah botol dan kaleng Coca Cola dari berbagai seri yang berbeda. Baik botol gelas, botol plastik, maupun kaleng kemasan. Ada juga gelas minum yang didapat di Disney Singapura. Berbagai pernak pernik mulai dari pin, mobil-mobilan, payung, tas, draft file, topi, dan mainan yang ia kreasikan sendiri. Salah satunya miniatur becak yang di dalamnya ia hias dengan botol Coca Cola.
“Topi ini saya dapat dari driver Coca Cola ketika bertemu di sebuah rumah makan,“ urainya.
Selain itu juga ada kaos perempuan berhiaskan tulisan Coca Cola dan seperangkat lipstik yang cantik. Lucunya, semua koleksi ini tidak boleh dikenakan oleh isteri tercintanya. Dan ia kenakan sebagai hiasan untuk mempercantik ruangan.
“Nggak boleh saya pakai ini,” gurau isterinya.
Sang isteri juga menambahkan, bahwa sempat kaleng berisikan minuman ini meledak kecil. Namun wadahnya tidak sampai rusak, dan masih tetap dirawat suaminya hingga sekarang. Hobi sang suami selalu ia dukung, dan beberapa kali ia turut serta dalam perburuan menyenangkan mengumpulkan pernak-pernik unik ini.
“Waktu liburan sama keluarga dan membeli minuman Coca Cola wadahnya itu tidak boleh di buang dan dibersihkan satu persatu,“ jelas perempuan berambut pendek ini.
Koleksi yang didapat dari beberapa wilayah Indonesia seperti Bali, Malang, maupun berbagai belahan negara seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Macau, Tiongkok, Australia, Jepang, Taiwan, Vietnam dan Eropa ini ke depannya akan ia buatkan sebuah ruang khusus.
“Namanya hobi, apapun pasti saya perjuangkan,“ pungkas pria ramah ini. (Pipit Anggraeni/ary)
comments

Serma Syaiful Arief di Mata Keluarga dan Rekan

Share

Memori dan kenangan semasa hidup almarhum Serma Syaiful Arief Rakhman tak akan lekang dari ingatan kolega terdekat. Meski mereka telah berpulang, keseharian dua prajurit TNI-AU itu masih tergambar jelas bagi keluarga. Haru biru orang terdekat mengiringi kepergian dua pahlawan gugur ini.

Mendung kelabu menggelayut di langit Kota Malang. Pagi kemarin, Taman Makam Pahlawan Untung Suropati hingar bingar dengan kedatangan jenazah Serma Syaiful Arief Rakhman. Iring-iringan kendaraan militer, menggaduhkan makan prajurit di Jalan Veteran.
Pengguna jalan berhenti. Kepala mereka melongok-longok di balik pagar. Jenazah Serma Syaiful Arief Rakhman, diturunkan dari mobil perkabungan. Enam prajurit TNI-AU berpakaian lengkap mengangkat peti. Dua prajurit lain di depan peti, membawa foto terbaru almarhum yang sudah berpangkat Serma.
Rombongan perwira yang sudah tiba duluan, langsung bergerombol di tanah lapang dekat lubang makam. Mereka berbaris, menyambut jenazah yang dikelilingi bunga-bunga dukacita. Anggota keluarga Serma Syaiful, melangkah gontai di belakang iringan.
Satu persatu, para prajurit menata barisan. Lainnya, ikut membantu di sekitar lubang makam. Suara Danlanud Abd Saleh, Marsma TNI RM Djoko Seno Putro menggaung saat memberi salam perpisahan buat prajurit yang kini jadi pahlawan.
“Kita merasa kehilangan. Semangat, serta juang baktinya patut jadi contoh dan teladan. Tak kenal lelah dalam melaksanakan tugas. Sekarang, almarhum telah jadi pahlawan, dan kiranya kepergian ini diterima dengan lapang dada,” pekik Djoko.
Wajahnya yang sendu karena kehilangan dua prajurit Lanud Abd Saleh tak bisa disembunyikan. Begitu juga, prajurit yang ikut membantu prosesi pemakaman. Tak sedikit dari rombongan yang terisak. Seorang bintara di antara kerumunan membasahi pipinya dengan kepedihan.
Namun, kehilangan terberat dirasakan oleh keluarga Serma Syaiful. Sang istri, Skandaniati Lee Enviel linglung. Mata bengkaknya jadi tanda keperihan karena telah kehilangan sang suami. Dia hanya berdiri lemah, dibopong anggota keluarga lain yang sudah bercucuran air mata.
Dua anaknya, Aufrisya Raditya Rahman dan Natasha Almyra Rachman, mengenakan pakaian putih-putih. Sejenak kemudian, suara senapan peluru hampa terdengar. Cetar, bunyi drum langsung menandai turunnya peti jenazah. Sang ayah, Yusuf Wibisono yang sedari tadi diam seribu bahasa, langsung pecah.
Tangisnya tak tertahan ketika harus melemparkan tanah ke peti mati anak putra tercintanya. Yusuf didampingi Indriani, istri sekaligus ibu tiri dari almarhum. Sebab, ibu kandung Serma Syaiful, Endang Sulistyaningsih telah berpulang lebih dulu ke rahmatullah.
Indriani pun menitikkan pedih saat putra yang juga sangat dicintainya, kembali ke bhumi pertiwi. Dia mengaku sudah mendapat firasat bahwa putranya siap meninggalkan keluarga untuk selamanya. “Kita ketemu terakhir di hari raya kemarin. Dia ngomong, bagaimana kalau tahun depan saya tidak bisa pulang bu,” ujar Indriani.
Dengan air mata berurai, Indriani pun menceritakan bahwa dia merasakan matanya kedutan beberapa hari sebelum kejadian jatuhnya Super Tucano. Begitu juga, dia merasa mendapat firasat saat seekor burung mondar-mandir di rumahnya, yang dianggap sebagai penanda sang anak diambil oleh sang maut.
“Dia orangnya disiplin. Namun sayang kepada keluarga. Saya sendiri terus melihat album foto dia, mulai dari kecil sampai sekarang. Ternyata dia harus pergi duluan meninggalkan kami,” papar Indriani sesenggukan.
Duka Indriani, dirasakan oleh para awak media. Bahkan, salah satu awak wartawan yang meliput pemakaman ikut meneteskan air mata ketika mewawancarai Indriani. Sementara, dari jauh, terlihat Enviel, istri Serma Syaiful, hanya bisa memeluk para ibu Persit AU yang berbelasungkawa.
Suara lirih dari ujung bibirnya membalas pelukan duka dari rekan-rekannya di Persit. “Terimakasih, maafkan suami saya kalau ada salah,” ujarnya pelan. Enviel terpukul.  Dia terus mengingat-ingat ucapan terakhir suami tercintanya. Dia harus belajar menyetir mobil.
Sebab, akan ada masa di mana sang suami tak bisa menyetir mobil keluarga. “Dia bilang kepada istrinya kalau harus belajar menyetir mobil. Supaya, istrinya tak bergantung pada suaminya untuk kemana-mana,” sambung ayah Serma Syaiful, Yusuf Wibisono.
Yusuf, yang sudah tenang saat diwawancarai wartawan, menenangkan putra sulung Serma Syaiful, Aufrisya Raditya. Tangis bocah ini pecah begitu peti jenazah dikubur dan ditaburi bunga. Salah satu perwira TNI-AU, menenangkannya. Topi perwira dikenakan kepada sang putra sulung Serma Syaiful.
Kakek dari Aufrisya Raditya menyebut bahwa cucunya memang punya keinginan mengikuti jejak langkah sang ayah di karir prajurit AU. “Dia punya keinginan jadi prajurit seperti ayahnya. Semoga saja, TNI-AU bisa membantu cucu saya masuk prajurit, dengan mengingat jasa ayahnya,” tutup pensiunan PNS ini.(fino yudistira)

comments

Di Balik Tragedi Jatuhnya Super Tucano TT-3108 (2/habis)

Share

Serma Syaiful Arief Minta Istri Belajar Kemudikan Mobil
Memori dan kenangan semasa hidup almarhum Serma Syaiful Arief Rakhman tak akan lekang dari ingatan kolega terdekat. Meski mereka telah berpulang, keseharian dua prajurit TNI-AU itu masih tergambar jelas bagi keluarga. Haru biru orang terdekat mengiringi kepergian dua pahlawan gugur ini.

Mendung kelabu menggelayut di langit Kota Malang. Pagi kemarin, Taman Makam Pahlawan Untung Suropati hingar bingar dengan kedatangan jenazah Serma Syaiful Arief Rakhman. Iring-iringan kendaraan militer, menggaduhkan makan prajurit di Jalan Veteran.
Pengguna jalan berhenti. Kepala mereka melongok-longok di balik pagar. Jenazah Serma Syaiful Arief Rakhman, diturunkan dari mobil perkabungan. Enam prajurit TNI-AU berpakaian lengkap mengangkat peti. Dua prajurit lain di depan peti, membawa foto terbaru almarhum yang sudah berpangkat Serma.
Rombongan perwira yang sudah tiba duluan, langsung bergerombol di tanah lapang dekat lubang makam. Mereka berbaris, menyambut jenazah yang dikelilingi bunga-bunga dukacita. Anggota keluarga Serma Syaiful, melangkah gontai di belakang iringan.
Satu persatu, para prajurit menata barisan. Lainnya, ikut membantu di sekitar lubang makam. Suara Danlanud Abd Saleh, Marsma TNI RM Djoko Seno Putro menggaung saat memberi salam perpisahan buat prajurit yang kini jadi pahlawan.
“Kita merasa kehilangan. Semangat, serta juang baktinya patut jadi contoh dan teladan. Tak kenal lelah dalam melaksanakan tugas. Sekarang, almarhum telah jadi pahlawan, dan kiranya kepergian ini diterima dengan lapang dada,” pekik Djoko.
Wajahnya yang sendu karena kehilangan dua prajurit Lanud Abd Saleh tak bisa disembunyikan. Begitu juga, prajurit yang ikut membantu prosesi pemakaman. Tak sedikit dari rombongan yang terisak. Seorang bintara di antara kerumunan membasahi pipinya dengan kepedihan.
Namun, kehilangan terberat dirasakan oleh keluarga Serma Syaiful. Sang istri, Skandaniati Lee Enviel linglung. Mata bengkaknya jadi tanda keperihan karena telah kehilangan sang suami. Dia hanya berdiri lemah, dibopong anggota keluarga lain yang sudah bercucuran air mata.
Dua anaknya, Aufrisya Raditya Rahman dan Natasha Almyra Rachman, mengenakan pakaian putih-putih. Sejenak kemudian, suara senapan peluru hampa terdengar. Cetar, bunyi drum langsung menandai turunnya peti jenazah. Sang ayah, Yusuf Wibisono yang sedari tadi diam seribu bahasa, langsung pecah.
Tangisnya tak tertahan ketika harus melemparkan tanah ke peti mati anak putra tercintanya. Yusuf didampingi Indriani, istri sekaligus ibu tiri dari almarhum. Sebab, ibu kandung Serma Syaiful, Endang Sulistyaningsih telah berpulang lebih dulu ke rahmatullah.
Indriani pun menitikkan pedih saat putra yang juga sangat dicintainya, kembali ke bhumi pertiwi. Dia mengaku sudah mendapat firasat bahwa putranya siap meninggalkan keluarga untuk selamanya. “Kita ketemu terakhir di hari raya kemarin. Dia ngomong, bagaimana kalau tahun depan saya tidak bisa pulang bu,” ujar Indriani.
Dengan air mata berurai, Indriani pun menceritakan bahwa dia merasakan matanya kedutan beberapa hari sebelum kejadian jatuhnya Super Tucano. Begitu juga, dia merasa mendapat firasat saat seekor burung mondar-mandir di rumahnya, yang dianggap sebagai penanda sang anak diambil oleh sang maut.
“Dia orangnya disiplin. Namun sayang kepada keluarga. Saya sendiri terus melihat album foto dia, mulai dari kecil sampai sekarang. Ternyata dia harus pergi duluan meninggalkan kami,” papar Indriani sesenggukan.
Duka Indriani, dirasakan oleh para awak media. Bahkan, salah satu awak wartawan yang meliput pemakaman ikut meneteskan air mata ketika mewawancarai Indriani. Sementara, dari jauh, terlihat Enviel, istri Serma Syaiful, hanya bisa memeluk para ibu Persit AU yang berbelasungkawa.
Suara lirih dari ujung bibirnya membalas pelukan duka dari rekan-rekannya di Persit. “Terimakasih, maafkan suami saya kalau ada salah,” ujarnya pelan. Enviel terpukul.  Dia terus mengingat-ingat ucapan terakhir suami tercintanya. Dia harus belajar menyetir mobil.
Sebab, akan ada masa di mana sang suami tak bisa menyetir mobil keluarga. “Dia bilang kepada istrinya kalau harus belajar menyetir mobil. Supaya, istrinya tak bergantung pada suaminya untuk kemana-mana,” sambung ayah Serma Syaiful, Yusuf Wibisono.
Yusuf, yang sudah tenang saat diwawancarai wartawan, menenangkan putra sulung Serma Syaiful, Aufrisya Raditya. Tangis bocah ini pecah begitu peti jenazah dikubur dan ditaburi bunga. Salah satu perwira TNI-AU, menenangkannya. Topi perwira dikenakan kepada sang putra sulung Serma Syaiful.
Kakek dari Aufrisya Raditya menyebut bahwa cucunya memang punya keinginan mengikuti jejak langkah sang ayah di karir prajurit AU. “Dia punya keinginan jadi prajurit seperti ayahnya. Semoga saja, TNI-AU bisa membantu cucu saya masuk prajurit, dengan mengingat jasa ayahnya,” tutup pensiunan PNS ini.(fino yudistira/ary)
comments

Pelukis Asal Malang, Tembus Internasional

Share

Motivasi hidup itulah yang kini mengantarkan Luqman Reza Mulyono, pejuang seni lukis lulusan Universitas Brawijaya. Kurang beruntung di pasar Indonesia, Jongkie, sapaan akrabnya, mencoba melebarkan sayapnya ke pasaran Internasional melalui situs online. Kini, karyanya digilai oleh kolektor seni dari manca negara.

Jongkie sudah menggilai dunia seni lukis semenjak TK. Bakat itu terus ia kembangkan dan asah hingga kini menjadikan ia salah satu pelukis yang menempati posisi penting di dunia lukis Internasional. Bahkan, kolektor lukisannya berasal dari seluruh benua di dunia.
“Awal dari kecil suka ngelukis, orang tua juga mendukung, waktu jaman sekolah sering ikut kompetisi lukis, lomba mewarnai dan semacamnya,” kenang pria yang juga lulusan Universitas Brawijaya (UB) itu.
Hal yang membuat para kolektor tertarik untuk mengoleksi lukisan karya Jongkie adalah karena karakter ekspresionis yang melekat dalam setiap warna yang ia goreskan. Kenyataan tersebut dirasa benar, karena saat Malang Post menemui dan melihat lukisan karya pria baru saja berulang tahun 25 Januari lalu, sempat tertegun sejenak dan terbawa suasana di setiap pesan yang disampaikan oleh sang pelukis dalam karyanya.
“Saya kurang suka lukisan yang realistis, saya ingin setiap orang yang melihat karya saya terdiam sejenak dan berfikir, mencerna pesan yang ingin saya sampaikan dalam setiap lukisan saya,” ujarnya diplomatis.
Tidak hanya itu, Jongkie memperkuat karakternya dengan objek hewan sebagai tokoh utama dalam karyanya. Seperti salah satu lukisannya yang menceritakan tentang cinta, ia menggambarkan dua ekor singa yang kepalanya saling bersandar hingga membentuk tanda hati.
“Setiap lukisan saya pasti memiliki tema, kalau bulan Februari identik dengan bulan penuh cinta, maka saya menggambarkan hewan dengan konsep cinta tersebut,” ujarnya.
Ciri khas lain dari karya Jongkie adalah pemilihan warna yang kaya. Pria asal Situbondo yang kini memilih menetap di kota Malang itu menjelaskan jika sejatinya ia kurang menyukai warna-warna gelap.
“Saya pribadi berusaha menghindari warna-warna gelap, karena saya ingin membawa keceriaan kepada pemerhati lukisan saya,” ungkapnya.
Perjalanannya menemukan karakter untuk lukisannya bukanlah hal yang mudah. Ia memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan untuk riset dan memperhatikan karya pelukis-pelukis lainnya.
“Sama seperti artist lainnya, masing-masing pasti memiliki karakteristik, dan saya memilih karakter hewan yang ekspresionis melalui warna-warna yang kaya dan ceria, meskipun pesan yang disampaikan bisa saja mengandung unsur kesedihan,” kenang pria berusia 26 tahun itu.
Karakter lainnya yang juga memperkuat lukisan Jongkie adalah pemilihan cat air sebagai media untuk menyampaikan ide dan kreatifitasnya. Pria kelahiran Situbondo itu mengaku, lebih menyukai cat air dibandingkan media lain karena dirasa lebih cepat pengerjaannya, berbeda saat dia menggunakan cat minyak. Jongkie merasa tertantang ketika menorehkan karyanya menggunakan cat air.
“Cat air lebih cepat kering, medianya juga cuman kertas saja, kalau cat minyak medianya harus tebal seperti kanvas. Kalau kertas dan cat air mudah rusak dan robek, jadi sekali gambar sekali sapu, disitu tantangannya,” jelasnya.
Pria yang pernah kuliah di jurusan Arsitektur itu juga lulus sebagai wisudawan dengan gelar Cumlaud, itu mengaku kegemarannya melukis sempat terhenti saat dirinya disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang memakan waktu dan tenaganya. Malah, awal mulanya ia menggiati dunia lukis bermula saat kejenuhan melanda setelah pulang kerja. Merasa cocok di dunia itu, Jongkie memutuskan untuk resign dan menggeluti melukis.
Perjuangan pun dimulai, Jongkie mulanya menerima jasa melukis sketsa wajah manusia. Setelah perjalanan panjang mencari jati diri sebagai seorang pelukis, bulan November 2014 ia memutuskan untuk melukis hewan dengan tema ekspresionis.
Belum selesai sampai situ, karya-karya Jongkie dirasa tidak sesuai dengan pasaran Indonesia. Kemudian, ia mencoba untuk memperkenalkan lukisannya ke luar negeri melalui situs artfido.com. Bermula dari situlah karyanya berhasil dikenal oleh warga dari seluruh penjuru dunia.
Kini, Jongkie pun menjual karya nya dengan harga yang cukup fantastis, mulai dari 150 USD untuk ukuran terkecil hingga 400 USD untuk ukuran yang lebih besar dengan kerumitan yang berbeda. Ia mengaku, dalam kurun waktu satu bulan ia bisa menjual 10 hingga 30 karya.
“Alhamdulillah dari karya saya bisa bantu orang tua membangun rumah,” katanya. (Alfinia Permata Sari/ary)

comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL