Malang Post

Features


Di Kutai Kartanegara, Tarif Antar Kecamatan bak Ongkos ke Makkah

KOMPAK : Para elite redaksi dari daerah, berfoto bersama Bupati Kukar Rita Widyasari (tengah berjilbab) dalam Forum Pemred Jawa Pos National Network.

Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos National Network (Forum Pemred JPNN) berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada 26 Agustus hingga 28 Agustus 2014 lalu. Nilai sejarah yang tinggi atas JCC, membuat pertemuan rutin itu menjadi semakin berkesan. Koran kebanggaan kita ini, mengirim Bagus Ary Wicaksono Redaktur Pelaksana Malang Post menghadiri forum elite redaksi JPNN Se-Indonesia itu.

Acara ini adalah forum yang agung, dihadiri sejumlah pembicara penting secara bergantian. Mulai dari Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Dirut PT KAI Ignasius Jonan, Dirut BNI Gatot Soewondo, Panglima TNI Jenderal Moeldoko hingga Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Dalam pertemuan penting ini, saya hadir bersama Direktur Malang Ekspres (Grup Malang Post) Sunavip Ra Indrata. Avi, demikian inisial jurnalistiknya, sudah dikenal luas di kalangan para elite redaksi JPNN. Kami menginap di Hotel Sultan Jakarta (dulu Hilton International) yang berdekatan dengan Senayan.
Begitu tiba, kami langsung check in, kemudian meletakkan bawaan. Lantas turun ke lobi, bertemu Ketua Forum Pemred JPNN Don Kardono (Pemred Indopos). Ada pula Hasan Aspahani (GM/Pemred JPNN) dan Marlon Sumaraw Pemred Manado Post. Oleh mereka langsung diajak melihat kesiapan ruang pertemuan.
Dari hotel Sultan menuju JCC, kami tak perlu repot-repot naik kendaraan. Sebab akses kesana bisa ditempuh dengan melewati terowongan penghubung sepanjang sekitar 200 meter. Ini merupakan terowongan bawah tanah bersejarah.
Sebab, para pemimpin dunia dalam KTT Nonblok tahun 1992 juga melalui lorong ini. Pintu masuk terowongan bawah tanah itu berada di restoran Hotel Sultan. Dilengkapi dengan eskalator sangat panjang, untuk memperpendek jarak tempuh. Nilai sejarah JCC jelas terlihat di dinding terowongan.
Sambil naik di atas eskalator, kita bisa melihat foto-foto para pemimpin dunia. Mendiang Yasser Arafat serta mendiang Raja Kamboja.  Kala itu disebut sebagai kembaran Mantan Presiden RI Soeharto, yakni Norodom Sihanouk. Sekitar delapan menit,  menikmati foto bersejarah, tibalah kami di balai sidang.
“Nanti pertemuan akan digelar di ruang Merak, sedangkan makan siang dan makan malam di ruang makan yang dulu digunakan para pemimpin dunia,” ujar salah satu staff  event organizer.
Di balai sidang yang maha luas itu, Yasser Arafat pernah mondar mandir dengan pistol di pinggang. Nilai sejarah yang besar itu, makin memposisikan Forum Pemred sebagai sebuah agenda yang penting. Para elite redaksi JPNN yang hadir, harus pulang dengan membawa hal positif.
Hal itu pula yang langsung kami dapatkan pada pertemuan pertama. Dengan pembicara Dirut KAI Ignatius Jonan. Tampil di depan forum, Jonan membawa seluruh pegawai elite di KAI. Mereka inilah yang disebut Jonan, bisa membuktikan sepak terjang PT KAI.
“Karena berada di Forum Pemred, saya bawa semua Direktur, boleh dicek langsung ke mereka, apa yang dilakukan PT KAI selama ini,” tegasnya.
Jonan menyebut, dirinya memulai program Culture Change di PT KAI. Mengubah mindset feodal di PT KAI, dan mengajarkan konsistensi. Kala itu, dirinya memulai gerakan membersihkan 61 stasiun di Jabodetabek. Jurang menghadang di depan, karena ia harus berhadapan dengan anak buahnya.
“Ada pegawai KAI yang memiliki 100 kios dari total 8.000 kios yang kita bersihkan, ya akhirnya pegawai itu kita berhentikan,” ujarnya.
Pembersihan kios yang banyak ditentang itu, sukses menambah daya tampung penumpang hingga 600 ribu. Sebab, target Jonan, pada 2018 mendatang, KRL harus bisa menampung 1,2 juta penumpang sehari. Hingga 2014 ini, sudah bisa berkisar 650 ribu hingga 700 ribu per hari.
Program PT KAI mulai dari peningkatan KRL, redesain stasiun, peningkatan pendapatan, dan angkutan barang menghasilkan hal positif. Kepercayaan publik meningkat, bahkan mengalami lonjakan pendapatan. Tahun 2009 Rp 4,3 triliun meningkat menjadi Rp 8,2 triliun pada 2011. Tahun 2014 menjadi Rp 11 triliun.
“Program ini bisa berjalan apik karena konsistensi, dijalankan hingga jajaran bawah, karena terhadap staff ada reward dan punishment,” tegasnya.
Untuk organisasi, menurut Jonan harus ada sikap konsisten.  Dalam organisasi kerja, tidak ada hubungan sesama manusia, selain hubungan profesionalisme. Dia menghilangkan kultur permissive dan feodal.
“Jika ada direktur yang tak sukses menjalankan tugas ya langsung diberhentikan, dan mereka menerima karena sudah bagian dair profesionalisme, di luar itu, kita tetap bersahabat,” tandasnya.
Lain Jonan, lain pula dengan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. Pembicara paling cantik dari para pembicara lainnya ini, membedah kekayaan Kutai Kartanegara (Kukar). Meski menjadi kabupaten terkaya di Indonesia, Kukar ternyata masih memiliki kawasan yang terisolir. APBD Kukar mencapai Rp 6 triliun, separuhnya dipakai untuk belanja.
“Yang kita andalkan adalah dana bagi hasil migas dan batu bara, kita sangat tergantung terhadap dana itu, sebesar Rp 3,2 triliun, itu tak sampai dua persen dari total pendapatan migas Rp 123 triliun per tahun,” urainya.
Pekerjaan terbesar Rita saat ini, adalah membuka akses jalan, paling sedikit setahun butuh Rp 400 Miliar. Disana, bahkan masih ada kecamatan terisolir seperti Kecamatan Tabang. Karena ketiadaan jalan, maka warga kecamatan itu harus naik speed (perahu) ke pusat perekonomian. “Ongkos pulang pergi naik perahu itu, sama seperti biaya naik haji, karena satu kali Rp 16 juta,” celetuknya.
Lantaran memiliki sejarah besar sebagai kerajaan Islam tertua di Indonesia, maka Rita akan berupaya meningkatkan sektor pariwisata. Hal ini, agar Kukar tidak terlalu tergantung kepada dana bagi hasil migas. Tentunya, dia juga berharap agar pemerintah pusat menaikkan pembagian sektor migas.
“Kekuatan kami adalah blok Mahakam, kami yakin jika satu tahun saja tak perlu setor dana migas, maka kami sudah bisa melampaui Brunei Darussalam,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono/Bersambung)

Bina Anak Muda, Angkat Potensi Wisata di Singosari

KETEKUNAN mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya ini untuk melestarikan seni dan budaya Jawa  patut diacungi jempol. Diluar setumpuk kesibukan, ia tetap meluangkan waktu membina Sanggar Seni Singamulangjaya berpusat di Jalan Mojokerto 11 Kota Malang.

Dalam keseharian, penampilan Ki Kresna Soesamto Sastra Wijaya tak ubahnya dengan anak muda lain yang ‘’trendi’’. Maklum,ia baru berusia 23 tahun. Ia juga banyak bergaul dengan anak-anak muda,baik mahasiswa maupun siswa sekolah lanjutan atas. Tidak sekadar bergaul, tetapi Kresna, sapaan akrabnya, sekaligus mengajak kaum muda tersebut untuk terus ‘nguri-nguri’ sekaligus melestarikan beragam seni dan budaya  Jawa warisan leluhur.
“Saya senang sebab Sanggar Seni Singamulangjaya sekarang mempunyai banyak anggota para mahasiswa maupun siswa-siswi tingkat  SMA.  Baru-baru  ini, kami mementaskan pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandowo Mbangun Projo di sekretariat sanggar dan berlangsung sukses,” papar Kresna kepada Malang Post kemarin.
Cucu mantan Walikota Malang HM.Soesamto (almarhum) ini menuturkan mereka juga mempunyai berbagai  kegiatan demi mempertahankan seni dan budaya Jawa agar tidak punah di era globalisasi sekarang ini. Ia mengakui memang tidak sedikit kendala yang menghadang.Tetapi mereka tetap optimistis  keinginannya pasti dapat  terus berjalan bahkan kelak membuahkan hasil maksimal.
“Ya kami anggap inilah risiko perjuangan bagi anak-anak muda seperti kami. Apalagi kami sudah terbiasa dalam pergerakan.Jadi seluruh romantika kami hadapi dan laksanakan saja.Ibarat air yang harus terus mengalir,” urai Kresna yang berulang tahun setiap  tanggal 13 Februari ini.
Selain sibuk membina  Sanggar Seni Singamulangjaya bersama rekan-rekan mudanya,  ia selama beberapa waktu terakhir juga diminta tokoh budayawan Ki Djathi Kusumo untuk turut membina padepokan Wangon di Singosari Kabupaten Malang. Permintaan tersebut diterima dengan penuh rasa tanggungjawab oleh Kresna yang sebelumnya juga membina padepokan Suroloyo. Selain itu, ia juga mendapat amanah dari almarhum Ki Barata untuk melanjutkan  padepokan Wilujeng.
Karena itulah,Kresna bertekad untuk menyatukan tiga padepokan tersebut dalam suatu wadah diberinama Arya Saylendra Darma Dykhsa Para Pancasila berpusat di Singosari.Mereka ingin  agar Singosari setelah ini kembali ‘’bersinar’’ dan maju pesat dalam bidang seni, budaya,perekonomian dan juga pariwisata.Mereka siap mengangkat potensi wisata Singosari yang sangat besar yaitu  pariwisata alam dan kebudayaan.
Dipilihnya wilayah tersebut bukannya tanpa alasan.Sebab di   kawasan tersebut  pernah berdiri sebuah kerajaan besar dan raja-rajanya kelak melahirkan raja-raja di Bumi Nusantara yaitu Kerajaan Singosari.Bahkan sejarah mencatat,Kerajaan Singosari pernah jadi salah satu pusat perabadan manusia.
“Zaman memang sudah berubah. Tetapi kami yakin bahwa tekad kami mengembalikan kembali kejayaan kerajaan Singosari bukan mustahil akan dapat terwujudkan,” papar Kresna didampingi beberapa pengurus Sanggar Seni Singamulangjaya.
Satu hal semakin menebalkan tekad mereka adalah adanya dukungan dari berbagi pihak untuk mengembalikan kejayaan Singosari tersebut.  Termasuk dukungan dari jajaran Muspida dan tokoh budaya Bali kepada kami. Hal tersebut sesungguhnya tidak berlebihan. Sebab sesuai catatan sejarah, memang pernah ada benang merah antara kerajaan Singosari dengan kerajaan-kerajaan di Bali.
Menariknya, hingga sekarang cukup banyak jajaran pejabat maupun tokoh budaya dari Bali menghubungi  Kresna yang juga piawai mendalang. Mereka mendukung sepenuhnya keinginan anak-anak muda dari Malang ini.Bahkan mereka telah siap membawa berbagai kebudayaan Bali ke padepokan yang dibina Kresna dan nawak-nawak di Singosari tersebut.
“Kami semakin bersemangat terus maju. Bahkan dalam waktu dekat,kami juga segera menggelar beberapa program kerja,termasuk bakti sosial dan sebagainya, guna semakin mendekatkan kami dengan masyarakat luas di Singosari,”  demikian Kresna.(nugroho)
 

Jadi Tempat Wisata Rohani, Usulkan Mini Museum dan Teater

ISLAMIC Center yang dibangun di Kedungkandang digagas sebagai tempat yang multi fungsi. Di antaranya sebagai wisata rohani sekaligus berkonsep pemberdayaan masyarakat. Karena itulah perlu diseriusi juga konsep pengelolaan secara professional.

Dalam diskusi yang digelar Malang Post dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang itu, Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Malang, Dr EM Sangadji, MSi mengatakan, para prinsipnya Muhammadiyah   senang dengan rencana pembangunan Islamic Center tersebut. “Tapi jangan hanya membangun, mengisi dan mengelola itu juga penting. Pemeliharannya harus lebih baik,” katanya.  
Ia menambahkan, Islamic Center perlu memiliki konsep pemberdayaan masyarakat, yang salah satunya dengan membuka  area bisnis yang dibina dengan baik. “Sehingga fungsi untuk masyarakatnya juga ada,” sambungnya sembari berharap semakin cepat Islamic Center dibangun maka akan semakin lebih baik.
Sangaji mengusulkan agar Pemkot Malang perlu merancang  pengelolaan Islamic Center bersifat jangka panjang. Pengelolaannya pun harus dilakukan secara prosfesional. Bahkan tak harus mengandalkan APBD lagi.
Karena tersedia penginapan, pengelola sebaiknya membuat penginapan yang bernuansa Islami. Hal itu sebagai bagian dari layanan wisata yang disediakan, lantaran salah satu konsep menggagas Islamic Center adalah sebagai wisata religi yang lengkap dengan fasilitas pendukung.
Redaktur Pelaksana Malang Post Dewi Yuhana juga mendukung usulan area bisnis di Islamic Center dengan membuat konsep pemberdayaan UKM. Bentuknya konkret, yakni sebagai tempat oleh-oleh  khas Malang dan juga souvenir seputar Islamic Center. Agar pengunjung memiliki tanda mata sekaligus jadi ajang promosi kepada masyarakat luar daerah yang belum berkunjung.
Ia menambahkan, harus disiapkan area dan spot foto yang berkesan di area Islamic Center. Pasalnya wisatawan yang berkunjung pasti mencari tempat bagus dan berciri khas untuk foto sebagai salah satu tanda kenangan. “Apalagi di zaman teknologi sekarang ini, semua orang pasti senang berselfie ria. Saat itu memotret, saat itu pula meng-upload foto di media sosial yang akan disaksikan oleh follower dan teman-temannya, sehingga promosi Islamic Center semakin massif,” katanya.
Agar semkain menambah aksen wisata rohani, lanjut Hana, sapaan akrab Dewi Yuhana, pemkot perlu menambahkan peta sejarah dan diorama syiar Islam di Malang dan sekitarnya. Berbagai informasi tentang perkembangan Islam mestinya melengkapi Islamic Center.  Gagasan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan dan informasi pengunjung tentang Islam.
Diskusi yang digelar di ruang meeting Malang Post ini pun semakin gayeng dan hangat. Kepala Seksi Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Budie Heriyanto berpendapat, harus ada tiga S yang dimiliki sebagai syarat menjadi obyek wisata. “Pertama harus memiliki  something to see. Maksudnya harus ada yang bisa dilihat. Memiliki daya tarik, jadi selain bentuk Masjid Cheng Ho, juga harus digelar acara yang bernuansa Islami secara reguler yang menarik massa untuk datang dan melihat,” urai Budie.
Syarat kedua, lanjut dia, harus memiliki something to do, yakni apa yang bisa dilakukan di tempat tersebut. Tujuannya agar wisatawan yang berkunjung bisa berlama-lama di tempat yang dikunjungi lalu berminat untuk berkunjung lagi di lain waktu.  “Sedangkan yang ketiga yakni something to buy, apa yang bisa dibeli sebagai cindera mata untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” paparnya.
Karena itulah Budie mengusulkan Islamic Center dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk memenuhi tiga S yang disebutkannya itu, yang sebelumnya sudah diusulkan oleh peserta rapat yang lain. Namun ia menambahkan, jika memungkinkan, perlu dibangun mini museum tentang dunia Islam. Bahkan perlu juga mini teater sebagai tempat pemutaran film Islami.
Islamic Center pun diusulkan agar tak sekadar menjadi sebuah bangunan yang monumental.  Namun harus digagas agar bisa bermanfaat bagi umat Islam sehingga tak mangkrak. Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Malang KH Mas’ud Ali mengatakan, agar tidak mangkrak maka perlu didukung dengan kegiatan-kegiatan yang semakin melengkapi Islamic Center.
Selain itu dia mengusulkan agar disediakan pula perkantoran untuk organisasi-organisasi Islam. Apalagi selama ini pemkot belum menyediakan tempat atau kantor untuk berbagai organisasi Islam. Salah satu contohnya MUI  yang menempati rumah salah seorang tokoh walau sebenarnya pemkot sudah menyediakan tempat, namun dinilai kurang nyaman. Sekretaris MUI Kota Malang, Muhammad Qusairi mengatakan, selain tempat perkantoran perlu juga dilengkapi dengan tempat pertemuan yang representatif seperti hall. “Termasuk bagaimana mengaktifkan dengan kegiatan-kegiatan,” usulnya.
kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Drs H Imron MAg setuju jika Islamic Center dilengkapi dengan kantor organisasi Islam. Sebab menurut dia, selama ini beberapa organisasi Islam belum memiliki gedung sendiri. “Saya setuju jika ada kantor organisaasi Islam lainnya seperti dewan masjid atau MUI. Jika kantor berbagai organisasi Islam berada dalam satu kawasan di Islamic Center maka memudahkan koordinasi. Selain itu memungkinkan untuk berlangsungnya berbagai aktivitas yang bernuansa Islam di sana,” urainya.
Ketua PC NU Kota Malang, KH Dr Isroqunnajah MAg mengapresiasi gagasan Islamic Center yang memiliki banyak fungsi. Yakni kegiatan ibadah, pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, wisata religi, pemondokan haji dan landmark atau ikon Kota Malang.
Ia menyarankan konsep yang diwujudkan di Masjid Putra Jaya di Malaysia. Bahkan di Putra Jaya, bisa dikunjungi wisatawan non muslim asalkan tetap menjaga identitas Islamic Center. Sebelum memasuki area masjid, ada sebuah konter semacam resepsionis yang meminjamkan atau menyewakan busana muslim yang ‘harus’ dikenakan oleh pengunjung. Saat Malang Post berkesempatan untuk mampir di masjid ini, sempat terlihat pengunjung muslim asal Indonesia yang ditegur dan diminta untuk memakai baju (semacam gamis dan jubah, red) karena memakai celana dengan atasan kemeja yang sedikit ketat.
Di dekat masjid tersebut juga terdapat resto-resto yang menawarkan aneka macam makanan khas melayu seperti Nasi Lemak dan Teh Tarik. Di dekat situ, pengunjung juga bisa naik perahu dan ‘berlayar’ di danau meski saat siang hari cuaca begitu panas menyengat. Kala itu, pengunjung masjid ini tak hanya datang dari berbagai daerah di Malaysia tapi juga rombongan yang datang dengan bus-bus dari Indonesia.  
Sementara itu, pimpinan sementara DPRD Kota Malang Sahrawi menyarankan pentingnya mengkaji fasilitas penunjang. Salah satu contohnya yakni akses ke kawasan Kedungkandang, lokasi dibangunnya Islamic Center. Sebab selama ini kawasan Kedungkandang sudah sering dilanda kemacetan. Karena itulah perlu akses yang memadai sehingga kemacetan segera terurai dan pengunjung Islamic Center pun nyaman saat mengakses kawasan tersebut.
 “Tapi kami senang dan menyambut gagasan dibangunnya Islamic Center di Kedungkandang. Karena bisa memajukan kawasan Kedungkandang serta ikut mewujudkan masyarakat yang semakin religius,” kata wakil rakyat dari Kedungkandang ini.
Kepala DPUPPB Kota Malang, Dr Ir Drs Jarot Edy Sulistyono, MSi mengapresiasi semua masukan para tokoh Islam dan tokoh masyarakat itu. Dia mengakui, konsep yang telah dibuat DPUPPB belum sempurna. “Kami sangat senang diberi masukan dan pendapat seperti dalam diskusi ini. Kami masih butuh masukan sampai sempurna baru kemudian difinish-kan. Nanti juga akan dikaji lalu lintasnya dan kita akan ketemu lagi di Malang Post untuk membahas semuanya bersama-sama. Pertemuan ini memang yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” pungkas Jarot, sapaan akrab Jarot Edy Sulistyono. (van/han/habis)

Merasakan Hidup di Zaman ‘Purba’, Nyalakan Api dengan Batu

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ma Chung Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S. M.Si pernah hidup di zaman yang amat susah. Saat kecil, ia bahkan masih menyalakan api dengan menggunakan batu. Dua buah batu digesek sampai muncul api, lalu didekatkan pada kayu atau dahan kering. Peristiwa zaman purba yang banyak dikisahkan di buku-buku sejarah, pernah dialami oleh ahli ekonomi matrikuler itu.

Hidup di desa kecil Kaineno yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Soe, sehari-hari hanya makan Singkong, tak menghalangi niatan Yufra untuk bisa menimba ilmu di perguruan tinggi di luar Jawa. Bahkan ia sukses mendapatkan beasiswa pemerintah Jerman di UGM dan dilanjutkan beasiswa ke Belanda dan Inggris.
“Perkenalkan saya dari Timor Tengah Selatan, tepatnya saya lahir di Kaineno. Desa terpencil dan kering,” ujar Yufra memperkenalkan diri di hadapan para orang tua siswa SMAK Giofani Kupang, NTT.
Soe berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), wilayahnya berupa pegunungan tinggi. Tak heran kalau udaranya sedingin Kota Batu bahkan bisa jauh lebih dingin di malam hari. Karena medan yang menantang itulah, menurut Yufra, banyak atlet lari yang lahir dari TTS. Maklum saja, mereka setiap hari harus berjalan kaki berkilo-kilo karena akses kendaraan dan jalan raya yang minim.
”Dulu saya tidak pernah bercita cita menjadi dosen, hanya biasa pikul air waktu kecil. Saya yakin, dengan perencanaan panjang, anak mau jadi apa, mulai ditata agar arah perjalanannya jelas. Saya yang lahir di desa terpencil bisa berhasil, tergantung pada niat kemauan, doa dan belajar,” pesannya.
Fasilitas listrik dari PT PLN bahkan baru dinikmati warga desa Kaineno beberapa bulan terakhir. Menurut Yufra, fasilitas baru itu sempat membuat kaget penduduk karena terbiasa hidup hanya mengandalkan cahaya matahari dan bulan.
”Saya ditelepon kakak yang masih tinggal di Kaineno, katanya tidak bisa tidur malam hari karena desa kami sekarang terang benderang kalau malam,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah masa kecil yang penuh perjuangan itu sengaja dikisahkan Yufra saat berkunjung ke sejumlah sekolah di NTT dalam agenda pulang kampungnya. Program yang dirancang oleh tim marketing dan komunikasi Ma Chung ini diharapkan bisa menularkan virus positif kepada para siswa khususnya jenjang SMA yang akan lulus. Sehingga mereka mendapatkan gambaran mengenai perguruan tinggi di Indonesia, bagaimana mengaksesnya, dan peluang lain yang mungkin bisa dibangun. Tentunya berkaca dari sosok Yufra yang sejak kecil harus berjuang hingga akhirnya sukses di dunia pendidikan.
”Anak-anak sekarang wajahnya lebih cerah, dan saya yakin suasananya sudah tidak seperti saya dulu. Karena itu mereka pasti punya peluang lebih besar untuk maju, mengharumkan bangsa ini khususnya NTT,” tegas Yufra.
Pertemuan dengan orangtua siswa kelas XII di SMAK Giofani ini tak hanya berkesan bagi para orang tua karena mendapatkan wawasan luas, tapi juga membuat mereka tergerak untuk bisa menyiapkan anaknya sedini mungkin dalam menggapai cita-cita dan target pendidikan. ”Uang urutan kedua, yang pertama niat dan sungguh-sungguh belajar,” tegasnya.
Dengan bekal itu pula, Yufra dan keluarga besarnya sukses menjadi orang berpendidikan. Kakak Yufra, Daniel Taneo, adalah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan juga Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Daniel juga berhasil mendidik putra-putrinya hingga ada yang kuliah S1 di Universitas Negeri Malang (UM), di UGM Yogya, dan berbagai perguruan tinggi besar lainnya.
Kami juga sempat berkenalan dengan saudara Yufra yang menjadi dosen di Undana Kupang, Gomer Liufeto. Ia berpendapat, NTT sangat membutuhkan orang-orang kreatif yang tidak hanya berfikiran menjadi pegawai negeri saja. Potensi pariwisata dan bisnis di NTT seharusnya membuka peluang untuk lahirnya lebih banyak entrepreneur.
”Sekarang ini masih banyak yang hanya mengejar gelar, orientasi masyarakat yang menguliahkan anaknya di luar pulau hanya yang penting dapat gelar saja,” tukasnya.
Ide kreatif yang digagas divisi Marketing dan Komunikasi Ma Chung ini memang berdampak luar biasa. Tak sedikit orang tua yang merasakan suka cita dengan kedatangan rombongan dari Ma Chung. ”Saya sangat senang dengan informasi yang dibawa dari pulau Jawa ini, sehingga kami bisa memilih dengan tepat kampus mana yang cocok untuk anak saya,” ujar salah satu orang tua siswa SMAK Giofani, Rain Tukan.
Ide luar biasa yang dibawa Ma Chung ini memang baru kali pertama, dengan menghadirkan sosok sukses dan inspiratif dari daerah.  ”Kami ingin anak bangsa dari daerah juga bisa mengakses pendidikan berkualitas di Jawa, karena itu Ma Chung siap memfasilitasi mereka,” imbuh Manajer Marketing dan Komunikasi Ma Chung, Jasmin Samat Simon.
Meski datang membawa bendera Ma Chung, namun menurut pria berkebangsaan Singapura ini pihaknya siap memberikan informasi perguruan tinggi lain di Jawa terutama Malang. Karena itu agenda kunjungan ke NTT tak berhenti kemarin saja, tapi ada banyak program yang ingin mereka berikan untuk pendidikan di Timor Indonesia. (lailatul rosida/habis)

Waktu Kecil Pikul Air, Saat Kuliah Belajar Lagi Materi SMP

Perjalanan menuju Kota Soe adalah yang paling kami tunggu dalam agenda pulang kampung Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ma Chung, Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Si. Karena di kota yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu terdapat banyak kisah dan kenangan masa kecil yang membuat kami semakin mengagumi keluarga besar Taneo.

Perjalanan ke Kota Soe memakan waktu sekitar tiga jam dari pusat Kota Kupang. Medan yang kami tempuh cukup menantang, karena jalannya yang berkelok-kelok. Maklum saja, Kota Soe ini berada di pegunungan tinggi di NTT.
”Kita melewati perbukitan, dan lihat itu yang paling ujung di atas pegunungan itulah Kota Soe,” ujar Yufra saat mobil meliuk-liuk di sebuah tikungan tajam.
Untung saja jalanan beraspal masih mulus sehingga tidak menyulitkan sopir yang memang sudah sangat hafal dengan tiap sudut kota. Sopir harus sedikit ngebut selama perjalanan, karena kami mengejar waktu agar bisa bertemu dengan guru dan siswa di SMA Kristen 1 Soe, almamater Yufra. Sekitar pukul 13.00 WIB kami tiba di sekolah dan langsung disambut hangat. Rasa haru dan bahagia tergambar di wajah Yufra ketika seorang guru bertubuh tinggi menyapanya. Rupanya dia adalah guru Bahasa Indonesia Yufra kala masih menjadi siswa SMA.
”Dulu saya berjalan kaki setiap hari ke sekolah, dan kami belum punya gedung semegah ini karena masih menumpang di SD,” kata Yufra.
Setelah bersalaman dengan para guru yang baru selesai dengan tugas mengajarnya, Yufra pun mulai mengisahkan bagaimana ia membangun mimpinya di Pulau Jawa. Kisah bapak satu putra ini diawali ketika pada 1983 ia peri kuliah ke Malang, waktu itu ia sengaja memilih program diploma III dengan harapan bisa segera lulus. Pada 1986, ia berhasil mengisi lowongan kerja sebagai dosen Matematika, Kalkulus dan Aljabar di Universitas Katolik Widya Karya, almamaternya.
”Saya tidak pernah pulang kalau liburan kuliah, tapi saya sempatkan beli buku-buku SMP dan SMA. Karena ternyata saya sangat ketinggalan pelajaran itu,” ujarnya.
Awalnya, kata Yufra, ia sempat minder karena banyak materi yang tidak dikuasai saat kuliah. Sementara teman-temannya banyak yang mengaku materi tersebut sudah sering diajarkan di SMP dan SMA, padahal ia tak mengenal materi itu. Karena itulah ia bertekad untuk belajar sendiri dan mengulang pelajaran SMP dan SMA dengan membeli buku bekas.
”Sampai sekarang buku-buku tersebut masih tersimpan rapi di gudang rumah saya, dan tidak boleh dibuang karena ada historisnya,” kata dia.
Karena ketekunannya belajar, ia mendapat kesempatan beasiswa S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogya. Kemudian mendapatkan kesempatan beasiswa studi ke Belanda dan Inggris. Pada 2003-2007, Yufra pun dipercaya sebagai wakil rektor di Widya Karya dan kemudian ia mengajukan diri ke Universitas Ma Chung yang dibuka pada 2007.  ”Saya ingin membuka kesempatan dan mengajak agar anak-anak di wilayah TTS ini bisa belajar dengan baik, sehingga kesenjangan yang ada selama ini bisa terentaskan,” ujarnya.
Yufra mengaku sangat sedih karena informasi yang ia baca dari data Bappenas, hingga  2018 lama studi siswa di NTT berada di urutan dua bawah. Lebih tinggi satu tingkat dari Papua. Karena itulah ia berharap bisa menularkan pengalamannya dan menginspirasi mutiara-mutiara di NTT sehingga bisa mengejar ketertinggalan mereka.
”Dulu saya tidak pernah bercita-cita menjadi dosen, hanya biasa pikul air setiap pagi,” kata Yufra.
Wakil Kepala SMA Kristen 1 Soe Otnial Taloin, yang juga guru Bahasa Indonesia Yufra, menuturkan, ia mengagumi anak didiknya itu sejak dulu. Menurutnya Yufra terkenal paling rajin belajar, tekun dan tidak suka membolos. Walau setiap hari harus berjalan kaki puluhan km, tapi tidak membuatnya malas.
”Sekolah ini waktu itu berhadapan dengan toko, kalau istirahat anak-anak biasa jajan. Tapi Yufra lain, dia biasanya di kelas saja,” kata dia.
Manajer Marketing and Communication Universitas Ma Chung Jasmin Samat Simon di hadapan para guru SMA Kristen 1 Soe menegaskan, selain ingin melihat sekolah almamater Yufra, kedatangan rombongan dari Malang juga bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai pendidikan tinggi. Sehingga anak-anak SMA di TTS bisa mendapatkan akses pendidikan tinggi yang selama ini masih minim jumlahnya.
”Kami juga siap memberikan workshop jika guru-guru siap sharing teknologi terbaru dengan kami,” kata pria berkebangsaan Singapura itu.
Puas berkunjung, bernostalgia dan berfoto dengan warga sekolahnya, Yufra pun mengajak kami bertemu dengan keluarga besarnya. Rupanya keluarga besar Taneo sukses menyuntikkan virus belajar sehingga kini semuanya menjadi orang hebat. Perjuangan kala kecil terbayar dengan kesuksesan yang diraih saat ini.
”Soe itu kalau diartikan begitu saja artinya sial, sementara bapak Yufra ini lahirnya di desa namanya Kaineno yang artinya menangis setiap hari. Karena keadaan kami waktu itu sangat susah,” kata Daniel Taneo, kakak kandung Yufra ditemui di kediamannya. (lailatul rosida/bersambung)

Page 1 of 51

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »