Features

Malang Post

Features


Pedagang Pasar Besar Pasca Kebakaran


Suasana hari ke dua dalam insiden kebakaran Pasar Besar Jumat (27/5/16), kemarin tampak lebih lengang dibandingkan dengan hari pertama. Tidak lagi terdengar a jeritan dan tangisan dari para pedagang pasar. Hanya suara mobil pemadam kebakaran dan sirinenya saja yang terus bergaung.

Namun begitu, masih terlihat beberapa pedagang pemilik lapak atau kios di dalam area pasar, yang sejak pagi kemarin nekat melakukan transaksi jual beli di sekitar area pasar. Pedagang yang didominasi oleh pedagang kebutuhan pokok itu melakukan transaksi jual beli di sepanjang Jalan Kiai Tamin, Wiromargo, Prof Moch Yamin dan sekitarnya. Meskipun sempat dilarang oleh petugas dengan alasan mengganggu lalu lintas, mereka tetap keukeuh menempati badan jalan.
“Kalau ndak jualan mau makan apa keluarga saya nanti, anak saya ada sepuluh,” ungkap Nuraini salah seorang pedagang ayam kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, setiap pukul 06.00 WIB sampai 14.00 WIB, ia selalu berdagang di area lapak dalam pasar yang saat ini terbakar. Selama lapaknya tidak dapat digunakan, ia memilih berjualan di pinggir jalan. Sementara menanggapi larangan petugas, ia dan para pedagang lain meminta untuk diberikan dispensasi.
“Biasanya saya jualan 150 ekor ayam seharinya, ini sampai siang masih terjual 25 ekor,” keluh perempuan berkerudung ini.
Keadaan serupa juga dialami oleh beberapa pedagang lain. Mulai dari pedagang sayuran, buah-buahan, ayam, hingga jajanan pasar yang biasanya berjualan di dalam terpaksa pindah ke area pinggir jalan. Bahkan mereka bertekad berjualan untuk waktu yang tidak sebentar. Sampai mendapat kejelasan dari pihak yang berwenang. Para pedagang ini membuat garis area dagang sebagai penanda lapak baru mereka. “Biar ndak sampai berebut sama pedagang yang lain,” tegasnya.
Tidak hanya itu, keterpurukan mendalam juga dialami oleh beberapa pedagang lain, terutama mereka yang memang sudah bersiap dengan stok lebaran. Salah satunya diungkapkan oleh Soraya, pemilik kios baju dan juga sepatu yang belum lama ini telah berbelanja dalam nominal yang sangat besar, mencapai angka Rp 200 juta.
“Minggu lalu saya masih sempat berbelanja persiapan lebaran,” kata warga Kecamatan Sukun ini.
Menurutnya, kebiasaan menambah stok baju sejak jauh hari memang selalu dilakukan setiap tahun.Selain untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan untuk kembali dijual lagi, harga yang didapatkan pun masih dalam kisaran normal. Karena setiap mendekati lebaran, harga kebutuhan sandang tersebut akan mengalami pelonjakan yang sangat luar biasa.
Dia bercerita, ketika hendak menyelamatkan barang-barangnya dari kobaran api, ia ditahan oleh petugas yang ada di lapangan. Sehingga, dalam masa kebakaran itu, Soraya bersama suami dan dibantu saudara-saudaranya hanya dapat pasrah saja. Tidak dapat berbuat apa-apa, karena waktu itu ia mendapat informasi bahwa api di dalam semakin besar.
“Sekarang pun (kemarin) saya masih belum diperbolehkan untuk masuk,” urai dia dengan suara lemas.
Kerugian juga dialami oleh para pemilik ruko yang berada di samping Barat dan Timur Pasar Besar. Tidak kurang dari 79 ruko terpaksa tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Namun beberapa di antaranya nekat membuka ruko. Semua dari mereka adalah pedagang kelontong yang menjual aneka kebutuhan mulai dari kebutuhan pokok hingga snack.
Berada pada zona police line, kurang lebih 32 ruko berjajar rapi di daerah Jl. Sersan Harun. Dua di antarnya masih melakukan aktivitas jual beli, sementara sisanya tutup tanpa ada transaksi apapun. Yang ada hanya petugas yang lalu lalang membersihkan arena dan memastikan tidak ada satupun yang boleh masuk. Meskipun sempat dilarang, toko yang berada pada area ujung depan dan ujung belakang itu masih tampak ramai mendapat kunjungan dari warga.
“Tidak boleh ada aktivitas apapun, sampai benar-benar clear,” ungkap Kapolsek Klojen, AKP Teguh Priyo Wasono yang tengah meninjau lokasi.
Sementara di sisi Jl. Kopral Usman, keadaan serupa juga tidak jauh berbeda. Sebanyak 47 ruko yang berjajar hampir semuanya tutup, dan hanya ada satu ruko saja yang buka di bagian paling tengah. Alasan mereka semua sama, tidak ada pilihan lain selain harus tetap berjibaku dan berusaha mengais rezeki.
“Kalau nggak nekat bagaimana anak dan isteri saya,” jelas pria berkaca mata yang tak ingin disebutkan namanya itu.
Suasana seperti ini bagi beberapa masyarakat yang ditemui, memiliki kesamaan dengan suasana pedagang pasca kebakaran pada beberapa tahun silam. Selama proses relokasi, pedagang pasar terlihat akan terus mencari cara untuk menjajakan dagangannya. Walaupun batasan dan larangan melanda. (Pipit Anggraeni/han).

Rajin Meneliti, Ciptakan 100 Varietas Baru Kentang


Kentang merupakan salah satu komoditi yang menjadi andalan para petani di Kota Batu. Namun dengan  sedikitnya varietas, tidak banyak petani kentang yang bisa bereksplorasi. Hasil yang diperoleh pun tidak maksimal. Kondisi inilah yang membuat Rudy Madiyanto bergerak dan menghasilkan varietas baru kentang.
Rudy Madiyanto bukan petani biasa. Warga Dusun Jurang Kuali, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini juga rajin melakukan berbagai penelitian. Hasilnya pun luar biasa. Sejak tahun 2007 lalu, bapak dua anak ini mampu menemukan dan mengkreasikan 100 varietas baru kentang.
Ditemui di salah satu tempat makan, Rudy pun banyak menceritakan proyek penelitiannya. Berawal di tahun 2006 yang menjadi tahun kegalauan bagi ayah Rizky Jaya Laksono ini. Itu karena kentang yang ditanam pada lahan pertaniannya tidak menghasilkan produk yang maksimal. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Kerugian pun diperoleh lantaran hasil panen tidak maksimal.
Dari situlah, Rudy yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini mulai berfikir keras. Ilmu genetika yang pernah diperolehnya di bangku kuliah kembali dipelajari. Dia mencoba mencari formula, untuk menciptakan varietas baru kentang.
Hingga akhirnya, tahun 2007. Bersama Sugeng adiknya Rudy mulai penelitiannya.  Dia mencoba menciptakan varietas baru kentang dengan trik persilangan.  Sampel yang diambil saat itu adalah kentang Arinsa dari Jepang dan kentang Raset Burbey dari Amerika.
“Awal penelitian saya lakukan di rumah. Memanfaatkan salah satu ruangan yang tak terpakai, saya dan adik membuat laboratorium kecil,’’ katanya. Dengan biaya seadanya, Rudy juga membuat aerophonik mini tidak jauh dari rumahnya. Di dua tempat inilah, Rudy berkarya. Genetika dari dua bibit sampel kentang itu disatukan.
Setiap hari dia melakukan percobaan, dan mencermati proses perkembangan dari hasil percobaan sebelumnya. Tanpa lelah, dia terus melihat proses penelitiannya. Setiap hari dia berkutat dengan mikroskop dan berbagai cairan kimia, untuk mendapatkan hasil yang betul-betul diinginkan. “Awal melakukan penelitian, saya sempat lupa dengan pekerjaan utama yaitu sebagai petani. Tapi sudahlah, karena saat itu cita-cita saya adalah menciptakan bibit atau varietas baru, yang bisa dimanfaatkan petani,’’ katanya sambil mengingat kejadian sembilan tahun silam.
Tiga bulan pertama, genetika baru yang diciptakan mulai menampakkan hasil. Bibit yang diperoleh dari persilangan mampu membuahkan umbi di atas bibit biasa. Tapi Rudy tidak puas. Meskipun umbinya banyak, warna kulit dan ketahanannya pada penyakit atau hama masih kurang. Imbasnya, ayah dari M Rafli Fareski ini kembali membuat percobaan. Begitu terus dilakukannya. Jatuh bangun, pada sebuah kegagalan, membuat Rudy kian bersemangat.
Tiga tahun kemudian, alumni SDN Ngaglik 2 ini baru mendapatkan hasil memuaskan. Persilangan genetika bibit kentang Arinsa dan Raset Burbey menghasilkan  bibit yang betul-betul sesuai dengan keinginannya. Ya, karena dari satu bibit tersebut, saat ditanam mampu membuahkan 25 umbi dengan berbagai ukuran. Kulit dari hasil persilangan ini juga keemasan, sehingga sangat menarik. Bukan itu saja, varietas baru kentang itu dalamnya juga berwarna kuning, dan memiliki kadar air yang rendah. Saat ditanam, kentang hasil ciptaannya juga tahan dengan penyakit, mampu mengurangi penggunaan pestisida dan masa penyimpanannya juga tahan lama.
“Varietas baru itu kemudian saya bawa ke Kemenristek, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan legalitas produk,’’ katanya. Meskipun harus menunggu beberapa bulan lantaran varietas baru itu harus dilakukan pengujian yang mendalam, tapi Rudy mengaku puas. Itu karena tiga kementerian yang didatanginya menyetujui. “Saya namakan produk atau varietas baru kentang ciptaan kami itu dengan nama Madisu AP4. Madisu itu singkatan, yaitu  Madiyanto Sugeng,’’ katanya.
Kentang Madisu AP4 sendiri sudah dikembangkan Rudy. Bahkan varietas baru ini juga sudah dimitrakan dengan kelompok tani. Tidak hanya di Batu dan Malang Raya, tapi kelompok tani di seluruh Indonesia. “Ada kepuasan, saat kita menciptakan produk dan itu direspon. Artinya hasil kerja keras kita ini ada artinya di masyarakat, terutama petani,’’ urai pria yang juga pernah mengenyam pendidikan di STIKI Malang ini.
Keberhasilan Rudy pun mendapat respon dari banyak pihak. Tidak hanya pemerintahan Kota Batu atau Dinas Pertanian Provinsi Jatim. Kemenristek juga merespon keberhasilan alumni SMPN 1 Batu ini. itu sebabnya tahun 2011 lalu, pihak Kemenristek memfasilitasi Rudy berangkat ke Vietnam. “Saya di Vietnam selama enam bulan, belajar membuat varietas baru dan ikut melakukan penelitian pertanian di sana,’’ katanya.
Setahun kemudian, Rudy kembali mendapat anugerah. Kali itu dia berangkat ke Australia dengan  difasilitasi oleh Kedutaan Besar Australia. Meskipun hanya tiga minggu di Australia, Rudy mendapatkan ilmu yang cukup.  Rudy memang enggan membandingkan teknologi di luar negeri dengan teknologi yang digunakannya untuk menciptakan varietas baru. Karena jelas, menurutnya teknologi di luar negeri lebih maju. Terlebih di Australia. Dengan tanah yang luas, bibit kentang yang disebarkan banyak, tenaga kerjanya juga sedikit, tapi hasilnya luar biasa.
“Kalau didukung dengan peralatan canggih dan teknologi canggih juga hasilnya pasti maksimal. Tapi di sini kan peralatannya tidak mendukung,’’ urainya.
Dia sendiri mengaku, berbagai peralatan yang ada saat ini adalah bantuan, baik dari pemerintah daerah, provinsi dan pusat. Untuk membangun sarana penelitian itu, Rudy mengaku cukup menguras uang pribadinya.
“Wah kalau dihitung total ya banyak. Tapi, hasil dari penelitian itu dapat dinikmati banyak petani saat ini,’’ katanya.
Setelah Madisu AP4, Rudy dan Sugeng terus menciptakan varietas baru. Model penelitiannya pun beragam, mulai dari persilangan, hingga memanfaatkan suhu udara. Hasil yang diperoleh pun lumayan. Lebih dari 100 varietas, dengan beragam keunggulannya.
“Ada kentang dengan kulit ungu, ada jenis RB yang kulit dan daging kentangnya berwarna hitam, ada juga jenis BSPRH kulit kentang berkarat tapi dagingnya sangat pulen, dengan kadar airnya juga sangat sedikit,’’ katanya. Selain itu juga ada jenis Atlantik merah dan PPT4 Zebra.
 “Saya sebut Atlantik Merah karena kulitnya berwarna merah. Juga PPT4 Zebra, kulitnya lorek mirip zebra. Tapi hasil masih berupa klun, belum menjadi varietas,’’ kata Rudy yang menyebutkan untuk mendapatkan legalisasi produk ciptaannya menjadi varietas cukup ribet. Bahkan dia mengaku pernah mendaftarkan lima varietas baru ke Kemekumham, tapi sampai saat ini belum mendapat jawaban.
Dari seluruh klun ciptaannya, Rudy mengatakan 60 persen masternya  dititipkan ke Puspitek, Serpong. Tujuannya jelas, selain agar tidak dijiplak orang lain, dengan teknologi yang dimiliki Puspitek Serpong, master tersebut tidak mati.
“Kalau ada yang disetujui, baru dilakukan pengembangan. Kalau bibit-bibit baru itu bentuknya masih koloni saja. Harapannya sih, semuanya bisa disetujui, sehingga petani kentang pun memiliki banyak pilihan bibit,’’ katanya.
Meski banyak bibit yang dititipkan, dia juga sudah pernah mencoba untuk dikonsumsi pribadi. Kentang-kentang ciptaannya pun luar biasa. “Rasanya enak, dan kadar airnya sangat sedikit. Penyimpanannya pun lebih lama, ada yang sampai setahun,’’ kata alumni SMAN 1 Batu ini.
Sekalipun masih menunggu jawaban atas varietas baru yang dia daftarkan, Rudy tidak putus asa. Dia terus menciptakan sesuatu yang baru, selain juga masih bergelut dengan dunia pertaniannya. Dia juga mengaku kerap mendapat undangan untuk menjadi pemateri dalam seminar atau workshop pertanian. Tidak hanya di Kota Batu, tapi di seluruh daerah di Indonesia.(ira ravika/han)

Jaket Anti Kantuk, Hasilkan Alarm dan Dilengkapi Terapi Listrik


Banyak inovasi dan kreativitas anak bangsa yang tidak dilihat di negara sendiri, namun malah mendapat pengakuan di negara lain.  Seperti karya sekelompok mahasiswa dari Universitas Brawijaya yang belum lama ini berhasil menyabet medali emas dalam The 3rd International Innovation Design Articulation (i-IdeA) 2016 di Malaysia.

“Proyek ini bermula dari ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tapi kami tidak sampai tahap Pimnas,” kata Captain kelompok SIJAR, Muhammad Nur Azis kepada Malang Post, kemarin.
Dalam ajang bergengsi yang berlangsung di negeri jiran itu, tim yang beranggotakan lima mahasiswa tersebut berhasil membawakan karya yang mampu menyita banyak perhatian orang. Yakni, jaket anti ngantuk yang mereka namai Smart Android Jacket for Safety Riding and Relaxation, atau yang mereka singkat SIJAR.
Menurutnya, inovasi SIJAR ini pada prinsipnya bertujuan untuk mencegah munculnya rasa kantuk ketika seseorang tengah mengendarai motor. Hal ini bermula dari besarnya angka kecelakaan yang didominasi oleh human error, salah satunya faktor lelah dan kantuk. Sehingga, muncullah inovasi ini dengan harapan akan dapat dimanfaatkan oleh para pengendara motor di Indonesia, bahkan dunia.
“Alat ini akan memberi peringatan kepada pengendara motor,” tambah mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2012 ini.
Azis menerangkan, sistem kerja jaket ini menggunakan sensor yang dapat membaca denyut nadi penggunanya. Denyut nadi yang kemudian terpantau dalam batas parameter ini selanjutnya akan menghasilkan bunyi alarm ketika tubuh dalam keadaan kurang fit atau ngantuk.
Hanya itu saja? Ternyata tidak. Jaket ini juga sudah dilengkapi dengan alat terapi listrik yang ada di bagian belakang jaket. Dengan adanya alat tersebut, maka pengguna akan merasakan efek relaksasi yang berfungsi menormalkan sirkulasi pada tubuh.
Menariknya lagi, inovasi yang merupakan pengembangan dari Smart Electric Jacket for Safety and Relaxation (Sejsar) yang mereka temukan sebelumnya itu, juga telah dilengkapi dengan penemuan teranyar. Yaitu oximeter untuk mengukur saturasi oksigen dan penambahan aplikasi android.
“Ketika hendak mengikuti ajang internasional, banyak inovasi yang kami kembangkan,” tambah pria kelahiran Juni 1994 ini.
Menurutnya, dengan penambahan aplikasi dalam smartphone itu maka jaket dapat langsung terkoneksi melalui bluetooth. Sementara parameter jumlah normalnya pun juga dapat dilihat melalui aplikasi dalam smartphone tersebut. Sehingga, pengguna dapat dengan mudah menggunakan dan memproses alat tersebut dengan smartohone. Selanjutnya berguna sebagai referensi bagi pengguna untuk menepi dan beristirahat ketika dalam keadaan kurang fit.
“Di dalamnya juga terdapat aplikasi untuk menuntun pemakaian jaket ini,” terangnya sembari menunjukkan aplikasi pada ponsel pintar miliknya itu kepada Malang Post.
Dengan penambahan Oximeter, pengguna akan dapat mengetahui kondisi dalam tubuhnya. Sehingga pengguna jaket akan dapat dengan mudah memutuskan untuk melanjutkan berkendara atau beristirahat memulihkan kondisi tubuh. Menurutnya, saturasi tidak normal berada di bawah 95 persen, di mana dalam istilah medis pengguna dalam hal ini memasuki kondisi OSA (Obstructive Sleep Apneu).
Untuk menghasilkan karya inovatif ini, tim SIJAR harus melewati fase dan perjalanan yang cukup panjang.  Yang menuntut kesabaran dan kesolidan seluruh anggota tim.
Menjelang kompetisi berlangsung misalnya, karya yang dibawa dari Malang ini sempat error. Meskipun dibayangi rasa panik luar biasa, pada akhirnya mereka berhasil menemukan letak kesalahan dan memperbaikinya secara cekatan.
Tidak disangka, ternyata karya mereka berhasil mengalahkan tidak kurang dari 106 inovasi lain dari tim yang datang dari Malaysia, Thailand dan Indonesia.
“Syukur Alhamdulillah kami berhasil membawa gold medal, dan menjadi satu-satunya juara dari total empat perwakilan Indonesia,” beber dia.
Tidak hanya berhenti dalam ajang kompetisi, tim yang juga beranggotakan Azis Yasir Naufal (Teknik Mesin 2012), Ahmad Fauzi (Teknik Mesin 2012), Novita Qurrota Aini (Pendidikan Kedokteran 2012) dan Nardo Golan (Teknik Elektro 2013) ini sekarang berlanjut mengembangkan riset untuk mewujudkan hasil karyanya ini menjadi produk komersil.
“Dalam jangka panjang, kami optimis inovasi kami ini dapat dinikmati masyarakat,” jelas pria berkacamata ini.
Untuk menuju pada tahap komersil, saat ini tim SIJAR tengah melakukan penelitian secara mendalam. Terutama pada beberapa komponen yang ada di dalam jaket untuk selanjutnya dapat diproduksi massal. Sebab, pada targetnya mereka berharap inovasi yang dihasilkan ini dapat dinikmati dengan harga terjangkau. Namun masih tetap mengedepankan keamanan serta kenyamanan para penggunanya.
“Targetnya sih harganya di bawah Rp 500 ribu,” pungkas Azis. (pipit/han)

Sukses Tanam Superfood yang Diburu Pelaku Diet


“Segala macam tanaman jika diberi perawatan yang baik, dan dikerjakan dengan senang hati, pasti akan tumbuh dengan baik dan bermanfaat pula”.
Ucapan dari gadis asal Malang ini tepat menggambarkan kesuksesan yang diraihnya dalam bidang pertanian. Dia adalah Fahmia Maratus Tsanie, pengusaha muda berbakat yang meraup keuntungan jutaan rupiah tiap harinya dengan membudidayakan sayuran yang dianggap tidak dapat hidup di Indonesia, Kale.
“Pernah mendengar sayur Kale?” tanya perempuan yang akrab disapa Mia ini kepada Malang Post. Saat menemuinya, Senin (23/5/16) di kebun miliknya yang berada di kawasan Bumiaji, Kota Batu.
Wartawan Malang Post tahu sayuran tersebut, lalu bagaimana dengan Anda?. Ya, memang masih belum banyak masyarakat yang mengetahui apa itu sayur bernama Kale, yang disebut-sebut sebagai “Ratunya Sayuran” di Eropa.
Sambil mengajak Malang Post berjalan di petak-petak kebunnya, Mia menjelaskan, sayur Kale memang belum cukup familiar di telinga masyarakat Kota Malang, bahkan Indoensia. Pasalnya, sayuran ini adalah sayuran yang berasal dari negara Eropa seperti Inggris, Rusia atau Italia.
Awal keluarganya mendapatkan bibit benih Kale, sang ayah Imam Ghozali langsung jatuh cinta dan ingin membudidayakan sayur yang juga dikenal sebagai superfood ini. Dikatakan superfood karena Kale sendiri terbukti memiliki lebih dari 15 vitamin per gramnya.
“Kale mengandung vitamin A, C, D, E, B1, B2, B3, B6,B9, K, kolin, besi, magnesium, mangan, fosfor dan garam seperti K, Na dan Zn. Dilihat dari kandungan vitamin, jelas bahwa Kale lengkap dengan makronutrien dan mikronutrien yang sangat diperlukan sekali dalam metabolisme tubuh,” jelas Mia yang saat ini sedang menempuh studi S2 Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini.
Lebih lanjut, Mia menerangkan, dilihat dari jumlah energinya, Kale memiliki kalori yang kecil yakni sekitar 28 kcal, gula 5.63 g, lemak 0.4 g, protein 1.9 g dan kandungan air 91.2 g. Nilai kalori dan gula yang kecil ini membuat sayuran Kale digemari sebagai santapan untuk diet.
Membudidayakan Kale pada awalnya pun tidaklah berjalan dengan mulus. Mia mengaku, dirinya dan keluarga harus rela gagal panen berkali-kali sampai mendapatkan formula perawatan yang pas untuk Kale tersebut.
“Ya, karena Kale ini tanaman yang agak bandel. Harus terjaga suhunya, sedikit terlalu dingin mati, jika terlalu panas juga akan gagal,” tutur gadis kelahiran 4 September 1990 ini.
Ia kemudian menceritakan, pada tahun 2013 ia dan sang ayah saling bekerjasama dalam “mengalahkan” sayur Kale ini untuk dapat dibudidayakan di kebunnya sendiri. Hal ini menurut Mia tidak lepas dari peran ayahnya yang selalu memberikan kepercayaan bahwa tanaman apapun pasti bisa ditumbuhkan asal mendapat perawatan yang tepat.
Dari situlah kemudian Mia yang saat itu masih berada di bangku S1 Jurusan Hama Penyakit Fakultas Pertanian UB mulai meneliti tanaman Kale di laboratorium kampusnya sendiri. Atas kerja kerasnya, akhirnya Mia mendapatkan formula racikannya sendiri yang berupa Pestisida Nabati.
“Pestisida nabati ini seperti formula penghalau hama yang saya racik dan buat sendiri. Ternyata ketika diaplikasikan ke bibit Kale, dia mau tumbuh. Ditambah juga dengan keahlian bapak dalam bertani, akhirnya Kale mau subur di kebun kami,” urai Mia.
Alumnus SMAN 1 Batu ini melanjutkan, pada awalnya pengaplikasian formula tersebut masih sempat mengalami kegagalan. Bahkan dirinya pernah mengalami gagal panen sebesar 50 persen dan rugi jutaan rupiah.
Namun, Mia melanjutkan, dengan ilmu pertanian yang ia dalami di bangku perkuliahan, perlahan dirinya dan keluarga belajar dan memahami sayuran yang kini dihargai Rp 100 ribu per kilogramnya itu. “Sekarang kami sudah bisa tanam Kale dengan subur di tujuh kebun milik keluarga. Per harinya, kami dapat menjual sekitar 40 sampai 50 kilogram,” imbuhnya. Atau, ia dapat membukukan omzet antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per hari atau hingga Rp 150 juta per bulan. Nominal yang tidak sedikit.
Dengan perkembangan pesat sayuran Kale di kebun milik keluarganya ini, permintaan pasar pun meningkat, dari yang hanya di kawasan Malang saja menjadi luas sampai ke luar daerah. Mia mengaku permintaan terbanyak datang dari Surabaya, Bandung dan Jakarta.
Mia yang saat ini sedang mengembangkan olahan Kale berupa kue ini menambahkan, usaha Kale yang dibangun dari hasil kerja keras keluarganya ini didapatkan karena ketekunan dan kesabaran. Pasalnya ia selalu memegang teguh sebuah prinsip.
“Prinsipnya ya, ketika kita mengerjakan sesuatu dengan tekun, iklas dan dengan hati yang senang, bahkan tanaman pun bisa merasakan itu. Pasti akan berhasil kok,” pungkasnya sambil tersenyum. (sisca Angelina/han)

Goran Gancev dan Performanya yang Kian Moncer


Pelan tetapi pasti, rekrutan anyar Arema Cronus menunjukkan kualitasnya. Satu per satu, mulai unjuk gigi, tak terkecuali Goran Gancev. Datang dengan iringan pesimisme Aremania, pemain asal Makedonia itu berubah menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan Arema.

Bergabungnya Goran belum genap tiga bulan. Pemain ini, datang ketika klub berjuluk Singo Edan tengah dilanda krisis defender. Bukannya tampil bagus ketika pertama kali bergabung, justru dia melakukan blunder. Alhasil, dia menjadi bulan-bulanan Aremania, yang kala itu masih mengidolakan sosok Kiko Insa.
Goran, tidak banyak berbicara. Dia yang di pertandingan berikutnya juga masih belum tampil maksimal, enggan mengomentari suara sumbang. Menurutnya, ketimbang meladeni lebih baik berfokus memperbaiki penampilan. Apalagi, mantan pemain PBFC ini terhitung lama tidak bermain sehingga masih memerlukan waktu mengembalikan performa.
"Saya lebih baik fokus untuk terus memperbaiki diri. Pertama kali gabung, kemampuan saya masih 50 persen dan akan terus meningkat," ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan dari pelatih, ketika berkomunikasi dengannya dan meminta dia untuk segera menjawab kritikan, membuat dia bersemangat. Goran King, begitu dia biasa disebut beberapa temannya, pelan namun pasti berbenah. Menjadi tembok kokoh di lini pertahanan Arema.
"Kamu tahu, setelah itu Arema mengalami banyak perubahan, salah satunya dalam bertahan. Arema sulit ditembus tim lawan," terang dia.
Ya, benar memang. Perubahan terjadi di lini belakang. Dari tim yang selalu kebobolan dalam setiap laga di Piala Gubernur Kaltim, Ongis Nade berubah di Piala Bhayangkara. Hanya kebobolan satu kali, dalam enam pertandingan dan itu pun di laga perdana. Selebihnya, berkat kesigapan pemain ini ketika berduet dengan Hamka Hamzah, banyak yang mengakui tangguhnya lini belakang Arema.
Seiring dengan itu, ketika tim sekelas Persib dan Sriwijaya tercatat hanya 1-2 kali melakukan serangan dalam 90 menit, Goran mulai percaya diri. Secara statistik pun, perbandingan di Piala Gubernur Kaltim dan Piala Bhayangkara, sangat besar. Misalnya, 22 sapuan selama Piala Bhayangkara, naik dari 15 kali. Begitu juga intersepnya, dia bisa menjadi pemain yang tangguh dalam hal ini. Berdasarkan catatan salah satu media statistik nasional, intersepnya naik dua kali lipat. Dari tujuh kali, menjadi 15 kali. Duel udara, dia sanggup memenangi sampai 92 persen di pertandingan terakhir klubnya di Piala Bhayangkara.
"Peningkatan sangat pesat. Semua sekarang sudah tahu buktinya. Ini karena semangat Aremania yang menginginkan saya untuk tampil bagus," papar dia.
Tren itu pun berlanjut hingga TSC memasuki pekan ketiga. Arema tetap menjadi tim yang perawan, susah ditembus lawan. Sekalipun tidak bisa naif menyebut semua karena Goran, namun diakui atau tidak, pemain ini memiliki kontribusi mengawal lini belakang.
Dia, yang sempat menghilang dari aktivitas di dunia maya, mulai muncul lagi. Akun Twitter dan Instagram, mulai aktif dia jamah. "Tetapi tidak selalu, saya hanya melihatnya dan berbagi ketika ada momen penting," bebernya.
Salah satunya, momen ketika dia mengupload video dia menyapa Aremania, dengan menunjukkan tanda cinta melalui gerakan tangannya. Pendukung setia Arema pun mulai memberikan dukungan yang sebenarnya, bukan lagi sindiran. Salah satunya turut menyebut King Goran pada bek berusia 32 tahun ini.
Goran pun tercatat, menjadi salah satu dari sedikit pemain yang memiliki website pribadi. Terlebih di sepak bola Indonesia, bisa dihitung dengan jari pemain yang memiliki website, yang akan menampilkan aktivitas atau prestasinya. Juga beberapa pemberitaan tentang dia.
Goran, mengontrol web-nya sendiri. Tidak jarang, dia mengupload kegiatannya sendiri di www.GancevGoran.com. Jika tidak, dia akan meminta bantuan kerabatnya di Makedonia. "Ada teman yang turut mengatur website saya. Kamu juga harus lihat ya," kata dia pada Malang Post, lantas tertawa.
Menurutnya, website itu banyak untungnya. Dia berpikiran maju, karena dengan alamat tersebut, banyak orang bisa mengakses dan mengetahui perkembangannya. Termasuk brand yang ingin mengontraknya menjadi ambassador. Tercatat, mantan bek Persebaya IPL ini juga menjalin kerja sama dengan Puma.
"Banyak untungnya saya punya website," tegasnya.
Menurut dia, berkarier di Arema ini adalah yang paling menyenangkan. Terutama dia merasakan bagaimana antusias dari Aremania, sehingga dia sangat termotivasi membuat banyak catatan bagus di klub yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan itu.
"Karier di Indonesia, Arema yang paling saya rasa bagus. Mulai dari suasana tim, manajemen hingga profesionalitas klub," imbuh mantan pemain FK Rabotnicki ini.
Sementara itu, dia ingin berkarier di Singo Edan dengan catatan gemilang. Termasuk membuat lawan kesulitan menembus pertahanan Arema, selama dia bermain. (stenly rehardson/han)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL