Malang Post

Features


Ketemu Acub Zaenal di Perkesa, Paling Jengkel Sama Gresik United

Share
Suharno saat merayakan juara Piala Trofeo Persija bersama Arema, setahun lalu.

Kilas Balik Karir Perak Pelatih Arema, Suharno
Jelang akhir tahun 2014, karir kepelatihan Suharno memasuki usia lebih dari 25 tahun. Pelatih Arema Cronus itu sudah seperempat abad malang melintang di dunia sepak bola. Karir peraknya pun penuh dengan lika-liku. Suka cita, getir pahit dan pedih air mata, mengantarnya hingga ke puncak seperti sekarang, sebagai pembesut Singo Edan, tim besar di Indonesia.

Tahun 1975. Masa-masa yang sukar untuk bisnis sepak bola Indonesia. Tak ada kemewahan maupun kucuran uang bagi atlet bola. Meski demikian, rentetan prestasi ditorehkan oleh Indonesia, baik timnas maupun klubnya. Suharno muda, masih berusia 14 tahun, terpukau oleh indahnya seni mengolah si kulit bundar.
Sepak bola masa Suharno muda, adalah sepak bola hati. Hanya orang-orang gila bola, yang benar-benar mencintai olahraga ini. Para gibol juga yang rela hati terjun di dunia sepak bola Indonesia yang masih kere secara finansial. Pemuda Klaten kelahiran 1 November 1961 ini melihat betapa bangganya pemain bola saat angkat piala, meskipun harta pun mungkin tak punya.
Niat Suharno sudah bulat. Suharno muda yang berposisi sebagai defender, mengadu nasib di tengah bersinarnya legenda-legenda seperti Ronny Paslah sampai mendiang Ronny Pattinasarany. “Awal karir junior, saya masuk klub PSIK  Klaten. Saya dua tahun main di klub masa kecil saya,” kata Suharno kepada Malang Post.
Klub masa kecilnya, tak mampu menampung bakat besar Suharno dalam sepak bola. Selama setahun, dia berkostum Persis Solo, tahun 1977-1978. Masa ini adalah momen Suharno muda mengasah diri. Secara finansial, kata Suharno, tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. Zaman dulu pemain bola tidak bisa bermewah-mewah, apalagi sampai memacari artis.
Kesan glamour dan borjuis, sangat jauh dari penampilan pesepak bola masa lalu.Tapi, karena sudah merasa ini adalah dunia yang dicintainya, Suharno melangkah terus. Tahun 1978, dia mulai mendapat sorotan di dunia sepak bola junior nasional.
Dia masuk Galasiswa Ragunan, yang jadi patokan timnas junior Indonesia saat itu. Tiga tahun lamanya, Suharno mengenyam kerasnya perjuangan di dunia sepak bola. Karir profesionalnya, dimulai tahun 1982. Suharno masuk klub Perkesa 78 yang juga didirikan oleh pendiri Arema, Jenderal Acub Zaenal.
Klub yang pernah dibela oleh pemain seperti Freddy Mulli itu, memberi tempat bagi skill Suharno. Lima musim lamanya, Suharno berkostum Perkesa 78 dan mulai dikenal sebagai pemain nasional. Namun Suharno mencantumkan namanya dalam tinta emas ketika memasuki masa-masa akhir karirnya sebagai pemain.
Setelah lima musim bersama Perkesa, dia berpindah ke klub terakhir dalam karir sebagai pemain. Klub ini klub paling besar yang pernah dibelanya, yakni Niac Mitra. Tahun 1987, Suharno yang sudah memasuki usia matang 26 tahun, ikut bersinar dengan Niac Mitra.
Dia ikut membawa Niac Mitra jadi juara Galatama tahun 1987. Pada partai final, Niac Mitra mengalahkan klub paling kaya di Galatama pada masa itu, Pelita Jaya. Dalam pertandingan final, Suharno membawa Niac Mitra menang 3-1, atas klub yang juga pernah dibela oleh asisten pelatih Arema saat ini, I Made Pasek Wijaya.
Begitu gelar juara sudah diraihnya, Suharno tidak melihat lagi ada arah untuk meneruskan karir pemain. Tahun berikutnya, dia dapat kesempatan jadi asisten pelatih di Niac Mitra. Dua tahun, dia merangkap jadi pemain dan asisten pelatih. Setelah magang di Niac Mitra, Suharno mengawal karir kepelatihannya dengan merapat ke Gelora Dewata, akhir tahun 1989.
Sejak ini, Suharno menjalani liku-liku karir perak 25 tahun jadi pelatih. Pada tahun-tahun pertamanya di Gelora Dewata, Suharno berprestasi. Tahun 1993, dia sukses membawa tim asal Bali mampir di final Galatama. Namun kali ini Suharno tak bisa berbuat apa-apa saat I Made Pasek Wijaya bersama Pelita Jaya mengalahkannya 1-0 di babak final Galatama.
Meskipun gagal juara Galatama, nama Suharno semakin dikenal sebagai pelatih karena mempersembahkan Piala Indonesia Galatama musim 1993 untuk Bali Dewata. Setelah enam tahun membesut Gelora Dewata, Suharno bertemu dengan Arema untuk kali pertama. Dia jadi pelatih Singo Edan, era 1996-1997 saat main di Liga Kansas. Satu tahun bersama Arema era Galatama, dia masuk babak 12 besar kompetisi.
Dua tahun berikutnya, dia pergi melatih Persikab Bandung. Tahun 1999, dia tak bisa lepas dari Malang, dan membesut Persema Malang. Dia pun menjelajahi banyak klub sebagai pelatih. Mulai dari PSS Sleman, Deltras Sidoarjo, Persiba Bantul, PKT Bontang, Persipura Jayapura, Persibat batang, Persis Solo hingga Persiwa Wamena.
“Dalam sepak bola saya merasakan banyak hal. Suka cita jadi juara, tapi juga ada rasa sedih karena perpisahan, juga rasa jengkel karena kekalahan. Semuanya sudah saya kecap selama 25 tahun menjadi seorang pelatih,” kata pelatih yang domisilinya di Sengkaling itu.
Setelah membela Arema tahun 2011/2012 untuk menghindari degradasi dan membesut Arema di tahun 2014 dan 2015, Suharno pernah merasakan getirnya noda dalam karir kepelatihannya. Mungkin, sepanjang perjalanan hidup sebagai pelatih, baru kali ini Suharno berada pada titik terendah.
Musim 2012/2013, Gresik United mengontraknya pada Agustus 2012. Karir Suharno hanya bertahan enam bulan, setelah dipecat secara tidak hormat oleh manajemen Gresik United, tepatnya Februari 2013. Begitu ada ‘voting’ yang dibikin oleh pemain GU sendiri, Suharno yang saat itu sukses menjaga Gresik United di papan atas, peringkat 5, dinyatakan harus mundur dari kursi pelatih.
“Saya pun sampai sekarang masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin tim yang masih peringkat atas, masih di posisi lima dan bisa bersaing, malah memaksa saya mundur. Tapi, bagaimanapun itu adalah lika-liku, pengalaman,” sambungnya.
Sekarang, pada tahun keduanya berturut-turut bersama Arema, Suharno ingin mencapai prestasi yang belum pernah dikecap olehnya bersama tim penguasa Malang Raya itu. “Tidak ada kata lain. Ini adalah kesempatan kedua saya dari manajemen. Tentu, musim ini kita harus mendapatkan gelar juara,” tutup Suharno.(fino yudistira/han) 
comments

Melihat Kiprah Taman Baca Lentera Negeri Gunung Kunci-Jabung

Share
Di saat banyak anak kota yang dengan mudah membeli dan mengakses buku, pemandangan beda justru terlihat di taman baca Lentera Negeri di Dusun Gunung Kunci, Desa/Kecamatan Jabung. Taman baca yang didirikan secara patungan antar relawan itu, perlu banyak sentuhan untuk terus  memotivasi pengunjung yang rata-rata pelajar di dusun itu.

Jauh dari sederhana. Begitulah kondisi yang ada di taman baca yang didirikan dari keprihatinan bersama relawan yang tergabung dalam Saver (Sahabat Volunteer Semeru). Berlatar belakang dunia pendidikan yang jauh, yang harus dilampaui berkilo-kilo meter ke SDN Jabung 1 dan hanya memiliki MI swasta Al Marhamah, relawan yang beranggotakan sekitar 15 orang itu akhirnya secara patungan membuat taman baca.
Taman baca ini diharapkan dapat memotivasi semangat membaca, menulis, berhitung hingga belajar Bahasa Inggris para anak-anak usia sekolah yang ada di daerah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga diharapkan dapat mengikuti kegiatan praktek di lapangan dengan mengoptimalkan lokasi sekitar taman baca.
Fachroel Alamsyah, salah satu relawan mengatakan, kemampuan siswa kelas IV di sana sangat minim. Selain kesulitan dalam membaca secara lancar layaknya siswa-siswa di sekolah lain, kemampuan berhitung bocah-bocah di Dusun Kunci pun jauh dari bagus.
“Jika di sekolah atau tempat lain, anak seusai mereka (kelas IV) sudah lancar baca dan berhitung, maka di sini jauh dari itu. Bahkan, seperti berhitung mereka hanya mampu pada satu digit atau 1 hingga 9. Artinya, ketika harus diajarkan penambahan 11 ditambah 11, maka mereka akan kesulitan. Salah satu kondisi inilah yang terus dimotivasi melalui taman baca,” kata seorang pendiri taman baca Lentera Negeri, Han Sonny Firman Zakky.
Yang menarik, meski kondisi taman baca terbilang jauh dari sederhana, hanya berukuran sekitar 4 meter x 4 meter, berbahan dasar kayu dari kelapa dan berbentuk bangunan panggung, tidak memiliki rak untuk menyimpan buku hingga harus belajar dengan lesehan, seolah bukan menjadi kendala relawan hingga pelajar untuk menuntut ilmu. Terlebih, munculnya dukungan dari warga dan pihak MI, untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai taman baca.
“Sejak didirikan Juni 2014 lalu, memang banyak kekurangan di taman baca ini. Namun, semua tidak menjadi kendala buat kami. Karena yang terpenting, tenaga pengajar dari relawan untuk membantu siswa, selalu ada dan stand by di lokasi,” tambahnya.
Bercerita mengenai pendirian taman baca, Sonny mengatakan, begitu izin memakai lahan diberikan pihak MI, maka secara otomatis buku untuk membantu siswa, pun harus disediakan. Buku-buku inilah, yang kemudian dicari secara patungan bersama relawan. Begitu terkumpul hingga 50 buku dari total empat dus yang didapat, selanjutnya mereka mulai menyosialisasikan diri kepada masyarakat.
“Sebagai tahap awal setelah taman baca didirikan, kami masih memakai sistem simpan dan bawa pulang buku bacaan. Artinya, buku-buku yang ada sekarang, tidak dikumpulkan jadi satu di taman baca. Namun, begitu selesai memberikan pelajaran membaca hingga berhitung, buku selanjutnya dikumpulkan kembali untuk dibawa pulang ke bace camp di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung. Sebab saat itu taman baca tidak ada yang mengelola,” terangnya.
Begitu memasuki bulan keempat masa aktif taman baca, sejumlah pengunjung yang rata-rata pelajar, mulai diberikan kepercayaan. Caranya, buku tetap disimpan di taman baca. Namun, pengunjung tidak boleh membawa pulang atau hanya memanfaatkan sebagai bagian belajar di taman baca.
“Dari usaha memberikan kepercayaan ini, kemudian mulai muncul tenaga-tenaga baru relawan untuk bergabung dalam mengembangkan taman baca. Hingga akhirnya, sistem pengelolaan secara mandiri diserahkan kepada relawan muda,” tambahnya.
Disinggung mengenai minimnya fasilitas di taman baca, Sonny menjelaskan, memang selama ini selalu berusaha sendiri sesama relawan. Dengan alasan, pengajuan proposal tidak akan merampungkan segalanya.
“Kami tidak pernah meminta bantuan ke luar selain donasi yang ada dan terbatas. Karena kami berpikir, pasti prosesnya lama dan belum tentu dibantu,” imbuhnya seraya mengatakan, pengelolaan konsep yang sama juga tengah dikembangkan di Desa Ranupare, atau dusun terakhir registrasi pendakian ke Semeru.
Koordinator taman baca, Noval Aditya mengaku keberadaan taman baca terbuka untuk umum. Karenanya, taman baca tidak dikunci. Sementara relawan, siap mengajarkan dengan keinginan pengunjung yang terkadang sudah dijadwalkan.
“Di sini juga dipakai untuk mengaji. Sementara dalam mendukung untuk kegiatan belajar, juga ada praktek yang lokasinya adalah lingkungan sekitar. Mengenai minat baca, taman baca tengah berusaha terus mengumpulkan majalah-majalah bacaan anak kecil dalam usaha meningkatkan minat baca. Karena dengan cara itu atau majalah yang di dalamnya diberi gambar-gambar, akan menjadi motivasi pengunjung,” ujarnya. (sigit rokhmad/han)
comments

Abdul Wahid, Sulap Ban Bekas Menjadi Onderdil Mobil

Share
Ban bekas yang selama ini terbuang percuma, di tangan Abdul Wahid bisa disulap menjadi kerajinan onderdil mobil dengan nilai jual cukup menjanjikan. Hasilnya, cita-citanya naik haji tercapai berkat menjual onderdil ini.

Sebuah rumah di Jalan Rambutan Dusun Sukoyowono Kecamatan Ngajum, tampak dipenuhi aneka ban bekas tidak terpakai. Mulai ban bekas sepeda pancal berukuran kecil hingga ban bekas alat berukuran besar ada di rumah tersebut. Beberapa saat kemudian kakek paruh baya menggunakan kaos berwarna biru menyapa Malang Post.
Ya, dia adalah Abdul Wahid yang menekuni kerajinan onderdil dari bahan ban bekas. Kakek berusia 62 tahun ini langsung mempersilakan Malang Post untuk duduk di sebuah ruangan depan bengkel tempat dia biasa bekerja. “Keadaanya ya seperti ini, berantakan. Maklum, tempatnya juga dipakai membuat onderdil,” ujarnya kepada Malang Post.
Di dalam ruangan itu, terlihat tumpukan kardus berisi onderdil mobil yang sudah dikemas dalam karung dan kardus yang siap untuk dipasarkan. Onderdil itu ada berbagai macam. Mulai karet pir, stopper, hell pir, tampel dan sebagainya. Sedangkan di sebelah ruangan lainnya, terdengar bunyi mesin dan aktivitas bekerja karyawannya.
“Onderdil yang saya buat adalah non mesin. Jadi, seperti bantalan skok, karet pir dan semacanya terbuat dari karet,” kata dia yang membuat usaha ini sejak tahun 1987 silam.
Awalnya, dia bekerja sebagai pembuat onderdil mobil di sebuah perusahaan di Kalimantan. Setelah menguasai cara membuat onderdil sendiri, Abdul Wachid tertarik untuk membuka usaha sendiri. ”Saya izin keluar dari perusahaan kemudian pulang ke Malang dan mendirikan usaha ini sendiri,” kata bapak dua anak itu.
Saat itu ia memulai usaha bermodal Rp 1 Juta yang didapat atas pinjaman seorang temannya. Modal itu, dibuatnya untuk membeli ban bekas. Mulanya, dia membeli ban mobil dan dan truk. Setelah mendapatkan bahan dasar dia pun berkreasi sesuai dengan ilmu yang didapatkan saaat bekerja di perusahaan Kalimantan itu.
Produk pertama yang dia buat adalah karet pir karena mudah dan tidak banyak memerlukan bahan baku ban bekas. Kemudian diapun memberanikan diri untuk membuat bermacam onderdil lain. Otomatis, lebih banyak lagi ban bekas yang dibutuhkan. Hingga Abdul Wachid mengambil ban bekas truk konteiner dan alat berat di Kalimantan.
“Kalau ban berukuran biasa, seperti bekas mobil dan sepeda motor, bisa didapat di Malang. Saya juga sudah punya pengepul ban bekas,” urainya. Selain onderdil, dia juga menghasilkan karya lain. Seperti sandal, tong, ember, maupun alat-alat dari karet.  Dia pun meningkatkan kreativitasnya, hingga usahanya terus berkembang.
Kini usaha membuat onderdil mobil miliknya, mampu dijadikan topangan hidup keluarganya termasuk bagi tujuh pekerjanya. Omzetnya dalam sebulan berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 17 juta. “Alhamdulillah berkat kerja keras, saya sudah bisa naik haji,” tuturnya.
Beberapa daerah dari luar Jawa Timur dan luar Pulau Jawa, memesan onderdil buatannya. Mulai perseorangan hingga beberapa perusahaan. Selain itu, yang penting kata dia, mengurangi limbah ban bekas. Karena bila dibuang begitu saja, akan mencemari lingkungan. Seperti dibakar akan menimbulkan polusi udara. Bila ditanam di tanah, tidak bisa terusai dengan baik dan sempurna.
“Tujuan saya membuat kerajinan ini prihatin banyak ban bekas yang terbuang percuma dan berpotensi merusak lingkungan. Melalui kerajinan yang saya buat, bisa meminimalisir perusakan lingkungan itu,” pungkasnya. (binar gumilang/han)
comments

Bahas Binter, Menulis di Sela-sela Tugas

Share
Sebagai anggota TNI AD, Letkol Inf Riksani Gumay S.I.P tidak hanya jago dalam tembak menembak atau menyusun strategi peperangan. Tapi Dandim 0818 Malang-Batu ini juga cakap dalam hal tulis menulis. Bahkan bapak dua anak ini menjadi pemenang karya tulis teritorial tingkat TNI AD kelompok Perwira Menengah (Pamen).

“Alhamdulillah juara satu. Penghargaan tersebut diberikan oleh KASAD saat apel Komandan Satuan, di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Saat itu saya tidak hadir, karena bertugas melakukan PAM RI 2,’’ kata Letkol Inf Riksani Gumay S.I.P kepada Malang Post dengan mimik bahagia.
Mantan Danyonif Linud 502/18/2 Kostrad ini mengatakan penghargaan tersebut menjadi kado terindah di peringatan HUT ke 69 Hari Juang Kartika. Sebetulnya, ini bukan kali pertama Riksani menerima penghargaan. Sejak berkarir menjadi anggota TNI AD dia acap kali menerima penghargaan. Tapi penobatan sebagai juara satu dalam lomba karya tulis berkategori esai, yang diadakan oleh Mabes TNI AD ini paling berkesan bagi dirinya. Meski tak menjelaskan alasan hingga menjadikan penghargaan tersebut paling berkesan, tapi ia tidak memungkiri dirinya bahagia menjadi juara satu lomba karya tulis itu. “Saya berterima kasih kepada Allah SWT pertama, Panglima TNI, KASAD, seluruh anggota jajaran TNI dan keluarga yang selama ini banyak memberikan dukungan,’’ katanya, tersenyum.
Dia pun menceritakan, tulisan yang diikut sertakan dalam lomba tersebut berjudul Perwujudan Transformasi Teritorial TNI AD Guna Menghadapi Tugas Masa Depan.  Karya setebal 24 halaman ini, berisi tentang tugas TNI AD dalam melakukan Pembinaan Teritorial (Binter).
“Intinya, dalam tulisan ini TNI AD lebih menyesuaikan atau mengikuti perkembangan zaman, serta berpartisipasi secara optimal membangun wilayah teritorial untuk kemajuan masyarakat. Tolok ukur yang digunakan dalam Binter ini adalah kesejahteraan masyarakat, menjaga keutuhan NKRI dan menjaga hubungan baik antara prajurit TNI dengan masyarakat,’’ katanya.
Dia menyebutkan, Binter sudah dilakukan TNI AD sejak tahun 1957. Binter ini diaplikasikan anggota TNI AD dengan pendekatan langsung kepada masyarakat. Binter  yang diterapkan anggota TNI AD membuahkan hasil. Bahkan tidak hanya di dalam negeri tapi juga saat diterapkan dalam operasi di luar negeri. “Sudah terbukti, Bina Teritorial yang kami terapkan saat terlibat dalam operasi di luar negeri juga membuahkan hasil,’’ urai suami dari RA Sri Ayu Irawati ini sembari menyebutkan tugas dan komponen Binter semuanya tertuang dalam tulisannya.
Riksani menjelaskan, keberhasilan TNI AD dalam Pembinaan Teritorial tak lain karena tidak lupa dengan sejarah. Anggota TNI AD tidak boleh lupa dari mana mereka berasal, yaitu dari rakyat. Karena berasal dari rakyat, anggota TNI AD pun memiliki dasar semangat kerakyatan, semangat semesta dan semangat kewilayahan. Tentu saja, Binter ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan. “Transformasi Binter ini akan optimal jika didukung oleh pemerintah, elemen masyarakat dan masyarakat secara luas. Dengan Binter yang diterapkan dan didukung pemerintah, akan mampu menanggulangi berbagai ancaman di masa depan,’’ tambahnya, menceritakan sekelumit isi dari tulisan yang dibuatnya.
Tulisan esai yang diserahkan oleh Riksani Mei lalu, mendapatkan apresiasi dari tim penilai yang terdiri dari anggota Markas Besar (Mabes) TNI AD dan anggota Pusat Teritorial AD. Itu terbukti, November lalu, Riksani kembali dipanggil untuk memaparkan seluruh isi tulisannya. Paparan yang dibuat pun mendapat pujian dari tim juri. Sehingga di akhir November lalu, dirinya pun diputuskan sebagai pemenang dalam lomba tersebut.
Pria yang cakap berbahasa Inggris, Jepang dan Prancis ini menyebutkan, saat menulis ia sama sekali tidak mengalami kendala. Itu  karena Binter merupakan pekerjaan sehari-hari yang diterapkan oleh anggota TNI AD. “Tidak ada kesulitan, kan idenya sudah ada, tinggal menuangkan dalam tulisan,’’ katanya.
Ia menulis di sela-sela menjalankan tugas. Begitu mendapatkan ide, Riksani langsung menulis konsepnya. “Menulis konsep tidak harus di komputer atau laptop kan, bisa juga di HP, bahkan di kertas,’’  tambah pemilik tanda jasa PBB Monuc 1 dan PBB Monuc Ulangan 2 ini. Konsep itu kemudian dikembangkannya dalam tulisan panjang tentang teritorial.
Kepada Malang Post, Riksani mengungkapkan awalnya ia dulu tidak memiliki cita-cita menjadi anggota TNI AD. Sebaliknya, dia bermimpi menjadi dokter. Tapi takdir berkata lain. Saat orang tuanya menyarankan masuk AAD 1994, dia langsung mendaftar dan diterima. “Sebelumnya saya juga sempat ikut UMPTN. Diterima di Fakultas Tehnik Mesin, Universitas Indonesia  (UI). Tapi tidak saya ambil dan memilih menjadi anggota TNI AD,’’ kata pria yang pernah terlibat dalam
Kontingen Garuda  XX/8, tahun 2009 lalu ini.
Lulusan AAD tahun 1997 ini tidak pernah kesulitan dalam menjalankan tugas. Pria yang pernah menjabat Danyontar Madya Mentar Akmil ini selalu mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT. Tidak mengeluh menjadi prinsip utama dirinya selama menjalankan tugas.
Sebagai anggota TNI AD, Riksani pun tidak luput dari berbagai tugas. Tidak pulang dan tidak bertemu keluarga sering dialaminya. Tapi pria yang pernah bertugas dalam Operasi Pengamanan Aceh  2013 ini memiliki formula tersendiri untuk membuat keluarganya tetap harmonis. Menurut pria kelahiran Jakarta 1 April 1976 ini, komunikasi adalah kunci utama dalam membangun keluarga.
“Kalau tugas di luar kota atau di luar negeri jangan menunggu kangen dulu kemudian menghubungi.Setiap saat jika ada waktu bisa berkomunikasi, ya harus dilakukan. Sehingga meskipun bertugas jauh, tetap dekat dengan anak istri,’’ tambahnya dengan tersenyum.
Tidak terkecuali dengan anggota. Pria ini juga memiliki formula tersendiri untuk dekat dengan anggotanya. “Kebetulan saya hobi olah raga terjun payung dan sepak bola. Jadi ya sering kumpul juga dengan anggota untuk olah raga bareng,’’ katanya.
Di akhir wawancara, Riksani pun tidak lupa mengucapkan Dirgahayu ke 69 Hari Juang Kartika, tahun 2014. “Bersama Rakyat TNI AD kuat, Bersama TNI AD rakyat damai dan sejahtera,’’ tandasnya.(ira ravika/red/han)
comments

Mengenal Lebih Dekat Somen Alfred Tchoyi

Share
NAMA Somen Alfred Tchoyi tak begitu populer di kalangan pecinta sepak bola Indonesia saat ini. Namun ia sangat dikenal di Liga Inggris sebagai striker West Brom Albion era 2010-2012. Marquee player asal Kamerun tersebut, harus melalui banyak hal untuk tiba di Malang dan menjadi pemain Arema Cronus. Berikut kisah di balik pemain asing Singo Edan ini.

Somen Alfred Tchoyi. Tingginya 191 sentimeter, perawakannya besar, wajahnya tenang. Dengan cukup santai, Tchoyi menghadapi puluhan wartawan dalam press conference perkenalan dirinya sebagai pemain baru Arema Cronus untuk ISL 2015.
Dia menjadi pemain pertama Singo Edan yang diperkenalkan secara resmi kepada publik sepak bola Malang. Dengan status sebagai pemain Kamerun, dia lolos administrasi serta kelengkapan identitas. Apalagi pemberlakuan screening administrasi super ketat diberlakukan tim Clearing House (CH) Imigrasi terhadap pemain dari negara Kamerun.
Tak heran, kedatangannya ke Indonesia sudah melalui proses yang rumit dan njelimet. Namun, pemain ini memiliki reputasi yang besar. Dia adalah mantan striker West Brom Albion, tim Liga Inggris kasta tertinggi. Sehingga, segala proses administrasi dan kelengkapan identitasnya sangat valid.
Dengan riwayat sebagai pemain kelas dunia, Somen Tchoyi punya latar belakang tersendiri untuk gabung di Arema. Awalnya, Tchoyi tidak pernah berpikir untuk bermain di Asia, apalagi di Indonesia. Pasalnya, dia sempat dibidik oleh tim asal Major League Soccer, Red Bull New York.
“Saat itu awal tahun 2014. Negosiasi tidak berjalan bagus. Pihak Red Bull tidak serius pakai Tchoyi. Sampai akhirnya, bursa transfer MLS tutup, dan Tchoyi belum dapat klub,” tegas Jules Denis Onana, agen Tchoyi kepada Malang Post, kemarin.
Setelah digantung klub Amerika dan gagal transfer di MLS, Tchoyi akhirnya memilih untuk tetap di Kamerun dan bermain dengan klub lokal untuk jaga kondisi. Dia tidak memilih Eropa karena pemain sepak bola usia 31 tahun sangat sulit bersaing.
Kesempatan untuk membela tim Asia, datang pada awal November. Tchoyi, mendapat telepon dari Onana, bahwa ada klub yang ingin mencari pemain marquee, atau pemain kelas dunia di Indonesia. Dia tertarik menerima tawaran tersebut. Proses negosiasi berjalan cepat.
Tapi, dia harus mengurus segala administrasi secara lengkap, selama satu bulan. Tchoyi, sebenarnya punya kesempatan untuk membela klub negara Asia lain, misalnya Malaysia. Tapi, dia mencari referensi dari pemain lain yang sudah pernah bermain di Indonesia.
Usut punya usut, Tchoyi adalah sahabat dekat dari Pierr Ndjanka mantan kapten Arema era juara dan Alain N’kong, gelandang Arema era 2011. “Sebelum dia putuskan main di Indonesia, dia bicara dengan Ndjanka, mereka seperti saudara di timnas. Ndjanka yang rekom  Arema untuk Tchoyi. Selain itu, dia juga dekat dengan N’Kong. Mereka bicara sama soal suasana Arema,” kata Onana.
Begitu mantan striker Red Bull Salzburg itu setuju, dia langsung berangkat dari Kamerun. Tanggal 4 Desember, Tchoyi terbang, dan transit di dua kota besar, yakni Istanbul dan Singapura. Tanggal 6 Desember, ia sudah tiba di Jakarta dan memastikan kesepakatan dengan Arema.
Tiga hari kemudian, dia berangkat ke Malang dan bertemu dengan manajemen Arema. Tchoyi mengungkapkan, dia membenarkan jika dapat referensi dari teman-teman dekatnya yang berasal dari negara Kamerun. “Saya sudah bicara dengan beberapa pemain yang pernah di Indonesia. Mereka bicara soal Arema. Pemain yang saya tanyai sangat terkesan dengan suasana di Arema,” kata Tchoyi.
Dia pun siap bekerja keras untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sepak bola Arema. “Saya mungkin akan pakai bahasa Inggris pada awal latihan. Tapi, lama kelamaan saya pun harus belajar bahasa di sini,” tutupnya.(fino yudistira/han)
comments

Page 1 of 60

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »