Malang Post

Features


Tamsin, Spesialis Pengawet Hewan dari Kepanjen

Share
Membuat kerajinan patung hewan dari kayu, atau bahan lainnya mungkin sudah biasa. Tetapi patung yang terbuat dari hewan asli, tidak semua orang bisa melakukannya. Tamsin, pria kelahiran 1943 ini ahlinya. Segala macam hewan, pernah dibuatnya menjadi patung.

Seorang pria tua, dengan membawa seekor macan rembah kecil dan burung tengkek berjalan di tengah panas terik matahari. Ia menawarkan hewan yang dipegangnya itu kepada setiap orang. Kendati setiap orang yang ditawari menolak membeli, namun pria tua ini tidak pernah putus asa. Ia terus menawarkan sembari sesekali mengumbar senyum.
Pria itu adalah Tamsin. Dari kejauhan, dua hewan yang dibawanya tersebut memang terlihat seperti hidup. Namun ketika didekati dan dipegang, hewan itu sudah mati dan menjadi patung.
“Ini buatan saya sendiri. Tidak akan mungkin membusuk atau rusak. Hanya Rp 150 ribu saja untuk macan rembang,” tawar Tamsin, kepada Malang Post.
Sembari menikmati sebatang rokok kretek, Tamsin bercerita pembuatan patung hewan asli ini, dimulai pada tahun 1991 lalu. Teori pembuatannya secara otodidak. Tidak ada yang mengajarinya sama sekali. Bapak satu anak dan dua cucu ini, belajar karena sering melihat temannya membuat.
Saat pertama kali belajar membuat patung hewan, Tamsin mencoba menjadikan luwak dan macan rembah yang didapat dari berburu. Pembuatannya dilakukan di dalam kamar rumahnya, di Desa Sukoraharjo, RT01 RW01, Kecamatan Kepanjen.
“Saat itu saya mencoba membuat pada jam satu malam. Ketika membuat itu, saya hampir mati, karena menghirup cairan obat untuk mengawetkan hewan. Beruntung saya cepat keluar kamar dan ditolong istri,” ujar Tamsin.
Pengalaman pertama itu, tidak membuat Tamsin putus asa dan kapok. Sebaliknya justru dijadikannya sebagai pelajaran. Ia mencoba mencari tempat terbuka, supaya obatnya tidak tercium. Setelah karya pertamanya jadi dan dibeli orang, Tamsin semakin yakin untuk menjadikannya sebagai usaha sampai sekarang.
Sudah berbagai macam hewan yang dijadikan patung. Mulai dari landak, trenggiling, ikan hias, kijang hingga kambing sekalipun. Hewan-hewan lainnya seperti macan rembang, burung, ular serta garangan juga sering.
Sebelum usianya lanjut, hewan-hewan yang dijadikan patung tersebut didapat dari berburu di hutan dan gunung. Seperti Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. “Ketika berburu dulu ada cerita lucu. Saat saya berburu hewan, ada orang mau mencuri burung. Sewaktu berpapasan, kami sama-sama takut dan lari. Saya lari karena mengira dia itu, mau menegur saya. Sedangkan maling kayu itu lari karena mengira saya petugas,” ceritanya sambil tertawa.
Cerita lain yang diingat Tamsin sampai sekarang, saat dia disuruh membuat patung hewan dari kambing. Tamsin diberi ongkos Rp 1 juta, namun disuruh menggantung kambing itu supaya mati. “Permintaan itu, saya tolak dan saya lari keluar rumah karena tidak tega. Akhirnya untuk menggantung, saya memanggil orang yang dulu memang dikenal raja tega membunuh hewan,” jelasnya.
Namun karena sekarang usianya sudah tua, Tamsin tidak lagi berburu. Ia sekarang hanya menunggu kiriman hasil buruan beberapa pemuda. Ia membeli hasil buruan itu seharga Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, baru kemudian dijadikan patung.
Setelah jadi patung, hasil karyanya tersebut dibawa keliling ke beberapa tempat untuk ditawarkan. Harganya tergantung dengan besar kecil dan kesulitan membuatnya. “Kalau laku ya alhamdulillah, tetapi kalau tidak laku yang dibawa pulang. Berbeda dengan dulu ketika masih banyak hewan yang dijadikan patung, sebab setiap bulannya ada orang Jakarta yang memborong,” paparnya.
Proses pembuatan patung hewan asli ini, dikatakan Tamsin tidak butuh waktu lama. Hanya 2 – 3 jam saja. Prosesnya hewan yang sudah mati, diboleng untuk diambil daging dan tulangnya. Setelah itu kulit dan bagian tubuh yang tersisa, direndam dengan formalin serta obat mayat. Baru setelah itu diberi kawat untuk rangka, dan kapuk serta serbuk kayu sebagai pengganti dagingnya.
“Daging hewan yang sudah saya boleng, ya dimasak sama istri. Kalau tidak begitu diminta dan dibeli oleh tetangga untuk dimasak. Karena dagingnya bisa untuk obat gatal-gatal,” bebernya.(agung priyo)
 
comments

Mahasiswa Universitas Gajayana Malang Ciptakan Keramik Koran

Share
Terinspirasi dari tumpukan koran bekas, Siti Hosi’ah dan kawan-kawannya mengubahnya menjadi barang bernilai. Siapa sangka, koran-koran bekas tersebut bisa dibuat sebagai keramik dinding rumah. Kreatifitas itu diciptakan oleh tiga mahasiswa Universitas Gajayana Malang itu adalah Siti Hosi’ah, Juma’ati Ningsih dan Yusuf Mulder.

Mereka berhasil menyulap tumpukan koran bekas yang tak banyak dilirik orang menjadi barang yang bernilai tinggi. Koran-koran bekas yang ia dapatkan dari pengepul itu ia olah sedemikian rupa menjadi kepingan keramik dengan berbagai macam warna. Hasilnya, peluang bisnis mereka ciptakan sendiri.
Siti Hosi’ah, ketua dalam kelompok ini mengaku harus melewati beberapa tahapan pengolahan seperti perendaman, penyaringan, pencetakan, pengeringan hingga pewarnaan.
Untuk membuat proyek pertama keramik dinding itu, Hosi dan kawan-kawannya membutuhkan koran bekas sebanyak 100 kilogram, lem fox kayu warna putih sebanyak 50 pcs, pemutih dan pewarna.
”Sementara ini kami hanya memiliki tiga warna keramik yakni Gold, Silver dan soft brown. Kedepannya varian warna akan kami tambah lagi,” ungkap mahasiswa jurusan manajemen tersebut.
Selain bahan-bahan pokok itu, Hosi tentunya membutuhkan cetakan keramik, kuas untuk mewarnai, ember besar dan sedang untuk merendam koran dan lain-lain. Hosi juga mengaku membutuhkan terpal untuk menyaring rendaman koran yang telah menjadi bubur yang selanjutnya akan dicetak.
”Ide kami ini telah kami ajukan ke Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) dan mendapatkan dana sebesar Rp. 4.350.000 awal Mei ini,” imbuh mahasiswa asal Probolinggo tersebut.
Karena tergolong masih baru beroperasi, produk Hosi dan kawan-kawan ini masih belum banyak dikenal masyarakat. Namun, beberapa upaya publikasi saat ini tengah mereka upayakan terlebih melalui media sosial, sebagai salah satu senjata ampuh.
”Kami sedang mengupayakan pengenalan produk kami ke masyarakat. Yang sudah kami lakukan yakni menyebar brosur, sticker, membuat blog sebagai promosi produk,” papar Hosi sapaan akrabnya.
Selanjutnya, menurut mahasiswa yang akrab disapa Hosi itu, ide kreatifnya ini bisa digunakan sebagai peluang usaha baru terlebih di kalangan mahasiswa. Selain itu, produk yang ia namai sebagai ”Keramik Gajayana” itu merupakan salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan keramik dengan harga yang terjangkau.
”Selama ini harga keramik dinding itu kan lumayan mahal. Dengan produk yang kami buat ini, masyarakat bisa membeli keramik dinding dengan harga yang murah. Kami menjualnya Rp. 35 ribu per lusinnya atau 12 keping ukurannya satu meter x setengah meter,” terang mahasiswa jurusan Manajemen tersebut.
Sebelum mencetuskan ide usaha keramik ini, Hosi dan kawan-kawan telah melakukan beberapa analisis terhadap prospek usaha keramik koran ini ke depan. Berdasarkan analisis itu, Hosi menyatakan produknya ini memiliki keunggulan yakni harga yang murah dengan desain yang bervariasi.
”Produk kami memiliki variasi yang unik dengan pola-pola tertentu. Selain itu, meski berasal dari bahan yang murah, tapi produk kami tahan air. Kami telah mencobanya dengan memberikan air di beberapa keramik dan memang nggak kenapa-kenapa,” urai Hosi.
Meski begitu, terdapat beberapa kelemahan yang dihadapi oleh Hosi dan kawan-kawan. Mereka masih belum bisa memproduksi keramik dinding itu dalam skala yang besar.
”Baru kalau nanti usaha kami sudah cukup berkembang, kami akan menambah jumlah tenaga kerja. Ini memang komitmen kami ikut membuka lapangan pekerjaan sehingga mengurangi jumlah pengangguran,” tuturnya.
Namun mereka optimis usahanya bisa berkembang karena masih belum adanya kompetitor lain khususnya dalam produk keramik koran.
Selanjutnya, Hosi dan kawan-kawan juga telah memasarkan produknya itu melalui broadcast Blackberry Messenger (BBM), facebook, blog, membuka stand juga melancarkan aksi direct selling. Untungnya, beberapa strategi itu memang ia pelajari dalam bangku kuliah. Hosi dan Yusuf yang merupakan mahasiswa jurusan manajemen telah mendapatkan mata kuliah manajemen pemasaran.
”Ini sekalian mengamalkan ilmu yang telah kami dapatkan dibangku kuliah. Jadi memang selain dari pemasaran online, untuk memperbesar profit margin, kami juga melakukan direct selling atau penjualan secara langsung,” tandas Hosi.
Untuk stand keramik, Hosi dan kawan-kawan memilih kawasan jalan mertojoyo sebagai stand pusat penjualan dan pemasaran keramik dinding tersebut. Letaknya tepat berada di depan Universitas Gajayana Malang dan berada dalam Kelurahan Merjosari Dinoyo, Malang. (Nunung Nasikhah/ary)
comments

Tata Kota Frankfurt Bisa Diaplikasikan di Kabupaten Malang

Share
Ir Romdhoni berfoto dengan latar belakang salah satu bangunan bersejarah di Jerman.

Dari Kunjungan Pemkab Malang ke Jerman
PEMKAB Malang patut berbangga diri. Lantaran baru-baru ini, Kabupaten Malang ditunjuk oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), untuk belajar tata kota di Jerman. Hanya ada tujuh kota dan kabupaten di Indonesia yang dipilih untuk mengikuti kegiatan ini. Kabupaten Malang, hanya satu-satunya daerah dari Provinsi Jawa Timur yang diutus ke Jerman.  

Bupati Malang H Rendra Kresna yang langsung terbang ke Jerman bersama tujuh kepala daerah lainnya. Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Malang ini, didampingi Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), Ir Romdhoni. Tujuannya, adalah Kota Frankfurt. Selama dua pekan lebih, keduanya belajar tata kota di negara tersebut.
Tepatnya mulai tanggal 2 Mei hingga16 Mei 2015 yang lalu. Selama berada di kota metropolitan terbesar kedua di Jerman itu, keduanya belajar banyak hal terkait tata kota. Mulai dari penataan pemukiman, penempatan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pembangunan sarana serta prasarana umum dan pengelolaan sampah.
“Kota Frankfurt tertata dengan rapi dan tidak ada kesan kumuh. Selain itu, setiap kawasan pemukiman padat penduduk, selalu ada taman maupun hutan kota,” ujar Kepala DCKTR Kabupaten Malang, Ir Romdhoni kepada Malang Post.
Area pemukiman pada penduduk yang selalu terdapat taman dan hutan itu, membuat kota tersebut asri.
Apalagi dalam penataannya, sudah dikonsep secara matang sebelumnya. Yakni setiap dua blok dari kawasan padat penduduk, selalu ada RTH. Masyarakat, juga bisa memanfaatkan RTH itu untuk melakukan berbagai aktivitas. Diantaranya olah raga, kumpul bersama teman-teman maupun keluarga, hingga belajar bersama.
“Sistem penataan kota seperti ini, sebenarnya bisa diterapkan di Kabupaten Malang. Apalagi di Kabupaten Malang, cukup banyak RTH dan lahan yang belum dimanfaatkan. Hanya RTH itu nantinya bisa dikonsep lebih modern lagi,” terangnya. Selain itu, kata dia, pengelolaan sampah di kota tersebut, sangat modern dan canggih.
Maklum, Jerman merupakan negara maju dari segi teknologi maupun industrinya. Sehingga, wajar saja bila pengelolaan sampahnya lebih canggih. Menurutnya, hal itu bisa diadopsi oleh Kabupaten Malang. Hanya saja, memang membutuhkan waktu. “Bila ada kemauan, saya yakin pengelolaan sampah di Frankfurt itu bisa diadopsi di sini,” imbuhnya.
Namun, yang tidak dia lupakan adalah masyarakat Kota Frankfurt yang sadar akan pelestarian lingkungan. Sehingga, masyarakat kota tersebut tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Sehingga, kenyamanan dari kota tersebut sangat terjaga. Lantaran tidak ada sampah yang berserakan maupun sampah yang dibuang ke sungai.
Masih kata Romdhoni, ada pengelolaan sampah di Kota Frankfurt, yang sama dengan pengelolaahan sampah di Kabupaten Malang. “Tepatnya pengolahan sampah menjadi gas metan. Di Kabupaten Malang, sampah sudah bisa diolah menjadi biogas,” tuturnya.
Sedangkan masyarakat dan pemerintah di Kota Frankfurt, Jerman, sangat menghargai tamu dari luar negara. Setiap Kepala Desa (Kades) yang ada di Kota Frankfurt, Jerman, memakai dasi dan jas, ketika menemui tamu dari luar negara, salah satunya Indonesia. Menurutnya, perlakuan yang ditunjukan seperti itu merupakan hal kecil dan sederhana.
“Intinya, dimulai dari diri sendiri dan kesederhanaan. Dengan begitu, bisa menghargai diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Kabupaten Malang ditunjuk belajar ke Kota Frankfurt, Jerman itu, atas prestasi yang diraih sebelumnya. Tepatnya yakni pengelolaan sampah melalui Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST).
TPST Talangagung, Kecamatan Kepanjen, yang mengolah sampah menjadi gas metan. Selain itu, mengubah sampah yang organik dan bermanfaat, diolah menjadi aneka produk berkualitas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. (Binar Gumilang/ary)
comments

Doni Suherman, Antar Arema Junior Juarai Jawa Bali League

Share
Saat Arema senior sedang lesu, tim junior tak mengendurkan semangatnya. Sabtu (16/5) lalu, Arema Junior mengangkat trofi juara Jawa Bali League, yang dihelat di Banyuwangi. Selain kerja keras dan semangat siswa Akademi Arema, sosok Doni Suherman sebagai pelatih, menjadi rahasia penampilan impresif Arema U-17.

Siapa yang bisa melupakan generasi emas Dendi Santoso-Sunarto-Alfarizi saat memenangkan Piala Suratin 2007. Joko “Gethuk” Susilo yang juga menjadi salah satu staf pelatih Arema Junior, menandai masa keemasan Akademi Arema era Bentoel.
Prestasi tertinggi di level junior yang dicapai Arema di Piala Suratin, menghasilkan tiga pemain senior jebolan Akademi Arema, yang masih aktif sampai sekarang. Namun demikian, silih berganti anak-anak muda terjun di Akademi Arema.
Belum ada generasi yang bisa menyamai prestasi Arema Junior era Suratin 2007. Beruntung, masa penantian bibit baru sepak bola Malangan, bisa saja segera berakhir. Baru-baru ini, Arema Junior U-17, merangsek ke papan atas klasemen Jawa Bali League, dan merebut gelar juara.
Bahkan, dua pemain Arema Junior, merebut gelar pemain terbaik dan topskor di liga junior Jawa Bali ini. Doni Suherman, pelatih Arema Junior, menjadi sosok penting dibalik gelar juara ini. Mantan pemain Arema era Ligina II ini mengatakan, Arema Junior baru mendaftar Jawa Bali League H-1 batas akhir registrasi.
“Sebenarnya saya tidak menyangka kita akan berangkat ke Jawa Bali League. Karena, kita baru tahu ada liga junior Jawa Bali ini H-1 batas akhir registrasi. Kita mendaftar atas instruksi manajemen Arema,” tutur Doni, saat bertemu dengan Malang Post, di Linud Jabung.
Menurut Doni, sebelum mendaftar, ada tim lain yang ingin meminjam pemain Akademi Arema di Jawa Bali League. Setelah ada pembicaraan dengan manajemen, Arema Junior tidak boleh meminjamkan pemain. Sebaliknya, seluruh skuad Arema U-17, harus mendaftar dan ikut dalam Jawa Bali League.
“Awalnya kita malah tidak tahu kalau ada liga junior ini. Ada tim lain yang ingin pinjam pemain Akademi. Tapi, manajemen langsung menginstruksikan kita berangkat untuk ikut liga ini. Daftar kurang sehari, kita berangkat Banyuwangi,” kata Doni.
Jawa Bali League ini menjadi liga junior debutan untuk Arema Junior. Dengan berangkat mendadak, Arema Junior seperti tanpa persiapan. Rombongan tim, berangkat pukul 20.00 WIB, H-1 pertandingan. Arema Junior, tiba di Banyuwangi pukul 02.00 WIB.
“Kita berangkat malam hari, sampai dini hari. Tidur sebentar, jam 10 pagi langsung menghadapi pertandingan pertama kita di Jawa Bali League menang 3-1. Lalu, menang atas unggulan dari Bali, Putra Tresna 1-0,” sambung pemain Arema era Ligina yang sempat satu tim dengan Gethuk dan Kuncoro itu.
Meskipun berangkat mendadak, dan tanpa persiapan spesifik untuk Jawa Bali League, Arema Junior sudah matang sejak latihan di rayon-rayon Akademi Arema. Latihan yang diterapkan pelatih rayon, adalah lima kali seminggu. Dengan frekuensi latihan yang tinggi, mental serta fisik pemain sudah terbentuk.
Secara teknis, mereka juga pemain yang telah disaring dari ribuan calon siswa Akademi Arema lainnya. Tak heran, Arema Junior mampu menggulingkan tim seperti Putra Tresna. Apalagi, kata Doni, tim asal Bali tersebut, adalah Banteng Muda versi Bali.
“Putra Tresna itu seperti Banteng Muda. Mengambil pemain-pemain terbaik dari klub lokal, dan dijadikan satu dalam klub. Namun, lawan kita bukan cuma itu. Ada tim juara lain, seperti Swada Banyuwangi Juara Liga Pendidikan,” tutur pria domisili Gadang ini.
Dengan lawan-lawan berpengalaman, Arema Junior mampu mencatatkan 14 poin, empat kali kemenangan dan dua kali imbang. Belum lagi, masa recovery untuk tim Jawa Bali League sangat minim. Sehari, mereka harus main dua kali. Fisik serta mental tim, diperas hingga habis.
Beruntung, Arema Junior mampu bertahan dengan rotasi 27 pemain. Doni menyebut, ia merahasiakan reputasi dan prestasi tim-tim lawan, seperti Putra Tresna, Jenggolo Sidoarjo dan Swada Banyuwangi. “Yang saya inginkan, mereka menghadapi tim yang ada di depannya. Satu per satu. Fokus melewati pertandingan demi pertandingan,” tuturnya.
Menurut bapak dua anak tersebut, permainan Arema Junior tak lepas dari sikap pemain yang tidak mengeluh ketika latihan reguler. Katanya, program lima hari seminggu dilahap dengan antusias. Tak heran, kemauan tinggi untuk memenangkan pertandingan, memberi hasil positif.
“Sebenarnya, mereka ini adalah tim proyeksi Piala Suratin. Namun, karena seluruh kompetisi di bawah PSSI berhenti, kita salurkan energi dan motivasi mereka untuk Jawa Bali League. Hasilnya cukup menggembirakan,” sambung Doni.
Meski demikian, langkahnya sebagai pelatih Arema U-17, tidak berhenti sampai di situ. Ia menyebut, mimpinya adalah mencetak pemain yang layak untuk menghuni skuad senior. “Saya rasa, semua pelatih Akademi Arema dan Arema Junior punya mimpi yang sama. Anak-anak didik kita, tembus tim senior, dan melanjutkan warisan Malangan dari pemain seperti Dendi-Sunarto-Alfarizi,” tutup Doni.(fino yudistira/ary)
 
comments

Panji Setiawan, Penderita Penyakit Langka Osteogenesis Imperfecta

Share
Hidup Panji Setiawan (16 tahun), tak anak-anak sebayanya. Sejak lahir, ia mengalami kelainan tulang yang disebut Osteogenesis Imperfecta. Penyakit langka itu membuat tubuh Panji kerdil selamanya. Ia juga tak bisa berjalan, karena tulang kakinya terlalu rapuh. Hebatnya, meski mengalami kekurangan fisik, Panji tetap semangat menjalani hidup seperti manusia normal umumnya.

Ditemui di kediamannya, Jl Wiroto II RT 2 RW 7, Polehan, Blimbing, Kota Malang, Panji tengah mencermati Blackberry Amstrong miliknya. Pemuda kelahiran 9 Desember 1999 ini, yang duduk di sudut rumah semi permanen itu. Matanya tajam menatap layar ponsel, Sedangkan jari-jarinya, terus menari-nari di atas keyboard QWERTY itu. 
Meski begitu, yang Panji lakukan, bukan sedang bermain games seperti anak lain lakukan bila sedang memegang handphone. Melainkan, ia sedang memantau stok handphone pada salah satu milis penjualan handphone di akun media sosialnya. Ia mencari gadget mana yang bisa dipasarkan, kemudian dijual secara online.
Tak lama kemudian, ponsel pintar itu ditaruh. Panji berpindah tempat menggunakan kedua tangan untuk memindahkan tubuhnya dari satu tempat ke tempat lain. Menggunakan kaki mustahil, karena kakinya sangat kurus dan tak akan kuat menopang tubuhnya.
Menggunakan kedua tangannya itu, Panji menghampiri sejumlah burung peliharaannya. Ya, ada belasan kandang burung yang digantung di dalam rumahnya. Akan tetapi, tubuh Panji terlalu kecil untuk meraih kandang-kandang burung ini. Akibat penyakit yang dideritanya, tinggi badan Panji tidak bertambah sejak bertahun-tahun lalu.
Karena itu, ia meminta bantuan ibunya, Sumiati, untuk menurunkan kandang burung tersebut. Setelah diturunkan, Panji langsung memberi pakan burung-burung ini. Setelah memberi pakan burung Kenari itu, Panji meminta ibunya untuk kembali menaiki kandang burung tersebut. Panji pun kembali mengutak-atik Blackberry Amstrong.
Ya, inilah rutinitas kakak dari Novandy Dwi Setiawan itu. Rutinitas tersebut sudah ia lakukan sejak sembilan bulan lalu. Saat itu Hari Raya Idul Fitri, dia mendapat uang sebesar Rp 700 ribu. Karena ingin memiliki handphone, akhirnya dibelilah satu ponsel tipe Evercoss A7T baru. Begitu senangnya ia saat memiliki handphone tersebut.
Dari handphone pertama tersebut, secara otodidak ia membuat akun facebook dan mengelolanya. Hingga pada suatu hari, saat masuk ke dalam sebuah milis penjualan handphone, Panji melihat ada penawaran menarik. Ada akun yang mengajak barter handphone, satu smartphone ditukar dengan dua handphone, satu smartphone satu lagi handphone biasa.
"Saat itu saya ambil tawaran, HP pertama saya tukar dengan dua handphone. Eh, tidak lama kemudian ada penawaran serupa. Smartphone yang saya dapat, saya tukar lagi dengan dua handphone, jadi saya saat itu punya tiga handphone. Satu smartphone dua lagi handphone biasa," ujar Panji kepada Malang Post di kediamannya itu.
Kemudian, salah satu handphone tersebut ia jual, lalu beli lagi. Di jual, beli lagi, begitu seterusnya sampai modal benar-benar cukup untuk membeli burung Kenari. Kebetulan saat itu ia punya pejantan, sehingga tinggal membeli si betina.
"Saya ternak untuk bertelur, sekarang sudah ada beberapa telur yang menetas," jelasnya.
Sesekali ketika mendapat untung, ia terus membeli burung untuk ternak burungnya. Sampai saat ini, ada sedikitnya 12 burung Kenari lokal yang ia pelihara sampai sekarang. Rencananya, burung-burung tersebut akan dijual semua, untuk satu tujuan.
Bagi masyarakat pada umumnya yang dilakukan Panji memang biasa. Apalagi bila melihat omzet Panji dalam berbisnis. Dalam sebulan, penjualannya hanya mencapai Rp 500 ribu. Sedangkan omzet bisnis burung dan ponselnya saat ini, baru sekitar Rp 4 juta. Akan tetapi, bagi Panji itu sangat luar biasa. Selain karena usianya yang masih belia, ada kelemahan fisik di balik upayanya tersebut.
Ya, Panji adalah seorang penderita Osteogenesis Imperfecta. Bagi penderita kelainan ini, tulang si penderita mudah patah hanya karena sedikit hentakan. Panji saja, semasa hidupnya sudah mengalami patah tulang sebanyak 14 kali. Sehingga, hampir setahun sekali, ia mengalami patah tulang. Rincinya, delapan kali di tangan kiri, enam kali di kaki, punggung dan lain-lain.
Bahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sendiri, bila jatuh satu kali lagi tangan kirinya patah, harus diamputasi. "Iya, waktu jatuh terakhir itu dokter bilang kalau satu lagi tangan kirinya patah, tangan kirinya harus diamputasi," kata ayah Panji, Sugiono.
Dikemukakan, penyakit yang diderita Panji menyebabkan ia didiagnosa akan bertubuh kerdil semasa hidupnya.Di balik segala kelemahan, ada upaya yang patut dibanggakan. Bisnis burung dan ponsel yang ia lakukan, bertujuan untuk membayar sewa rumah kontrakan. Ayah ibunya sekarang dalam kondisi ekonomi yang buruk.
Ayahnya Sugiono hanya seorang supir angkutan kota jurusan CKL. Pendapatannya tidak menentu, bahkan seringkali uang yang didapat Sugiono hanya cukup untuk membayar setoran. Sedangkan ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga. Jadi, saat ini hanya Panji yang memiliki tabungan. Semua burung dewasa yang ia miliki mau dijual demi membayar kontrakan.
"Sebenarnya ia saya suruh pakai hasil penjualan burung untuk les teknisi ponsel saja, tapi tidak mau dan memilih untuk membayar kontrakan," ujar Sugiono tersedu.
Dikemukakan, Panji berpendapat kalau pelajaran tambahan untuk menjadi teknisi ponsel masih bisa ditunda. Panji sendiri berharap, saat dewasa kelak, meski memiliki kelainan tulang ini, ia tetap optimis bisa menjadi pengusaha yang andal di kemudian hari.
"Saya harap Panji bisa sukses di kemudian kelak. Sebab, kami sangat bangga dengannya. Di usianya, ia sudah bisa membiayai hidupnya sendiri dan bahkan saat ini keluarga," tutup ibu Panji, Sumiati.
Sementara itu, Spesialis Ortopedi (Bedah Tulang) RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr Bambang Widiwanto Sp.OT mengatakan, kalau penyakit yang diderita Panji kemungkinan merupakan Osteogenesis Imperfecta tipe tiga atau empat, dimana gangguan fisik sangat tampak dengan tubuh penderita yang tidak bisa tumbuh dengan normal.
"Tipe pertama tubuhnya masih normal dan jarang patah, kalau tipe kedua biasanya meninggal di tahun kelahiran pertama. Jadi, kemungkinan tipe tiga atau empat," katanya. Kedua tipe ini hampir sama. Memiliki ciri-ciri fisik kerdil dan sering patah tulang. Tipe empat lebih ringan daripada tiga, namun untuk memastikannya memang perlu diperiksa.
Bambang mengatakan, kalau Osteogenesis Imperfecta merupakan kelainan pembentukan jaringan ikat yang membuat tulang mudah patah dan bengkok. Kasus ini terjadi 1:20.000 kelahiran. Penyakit ini merupakan penyakit keturunan yang disebabkan faktor genetik, sehingga tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa diterapi untuk memperkecil kemungkinan patah tulang.(muhamad erza wansyah/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL