Malang Post

Features


Dr. Nour Athiroh, Tujuh Tahun Menjadi Pembimbing PKM

Kegigihan dalam melakukan penelitian dan riset membuat dosen Biologi MIPA Unisma, Dr. Nour Athiroh AS.S.Si.M.Kes terpilih sebagai penyaji terbaik seminar hasil penelitian desentraslisasi program hibah penelitian Ditlitabmas Dikti. Sebelumnya, pada 2013 lalu ia mendapatkan penghargaan the best oral presenter pada international seminar dan symposium di Fakultas Kedokteran Brawijaya 2013.


Bertamu ke rumah Athiroh, langsung disuguhi koleksi buku yang terpajang rapi di lemari, foto dirinya saat wisuda hingga beberapa piagam penghargaan yang pernah diterima.  Menurutnya, penghargaan tersebut tidak lepas dari kerja kerasnya selama ini. Meski apa yang ia lakukan tak diniati untuk mencari penghargaan, tapi memang tugas dan kewajibannya sebagai dosen. Namun ia ingin menjadi dosen yang kreatif dan mengajak mahasiswa untuk bisa lebih kreatif sehingga menghasilkan karya inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat.
Untuk mewujudkannya, Athiroh tak puas menjadi dosen yang ‘hanya’ mengajar, ia juga aktif menjadi pembimbing mahasiswa yang hendak mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang digelar Dikti maupun kompetisi lain.  “Pembelajaran bisa dalam kelas maupun luar kelas, karena mencetak generasi emas tidak saja di kelas, akan tetapi ada integrasi antara soft skill dan hard skill,” ujarnya.
Dia menyebut, selama 7 tahun menjadi pembimbing PKM bagi mahasiswa. Sudah ada sekitar 40 PKM yang diajukan ke Dikti, 12 di antaranya berhasil mendapatkan dana dan 6 lainnya berhasil masuk ke Pimnas. Bahkan, pada tahun 2013 lalu salah satu mahasiswanya meraih juara favorit PKMP Pimnas XXVI di Universitas Mataram, NTB.
Perempuan berkacamata ini menuturkan, pertama kali membimbing mahasiswa ia mengalami kegagalan. Akan tetapi, semangat mereka yang begitu menggebu untuk tampil di level tertinggi membuatnya kembali bersemangat.Tahun 2007, pertama kali mahasiswa bimbingannya berhasil tembus dan didanai oleh Dikti.
Pimnas, lanjutnya, merupakan event yang sangat didambakan oleh mahasiswa pecinta PKM. Bagi yang sudah didanai maka berpeluang masuk ke Pimnas. Semua mahasiswa pasti berkeinginan lolos ke Pimnas. “Saya tertantang untuk terus membimbing sehingga bisa masuk Pimnas,” ungkapnya.
Pengumunan Pimnas setelah dilakukan Monev (monitoring dan  evaluasi) dari DP2M (ditlitabmas). Saat monev inilah peran dosen sungguh-sungguh all out membina dan membimbing presentasi mahasiswa.  Dia menyebut, menjadi pembimbing PKM sangat berbeda jika dibandingkan dengan membimbing PKL maupun skripsi mahasiswa. “Saya senang jika mahasiswa aktif  berkreasi dan kreatif. Apalagi sampai berprestasi tingkat nasional,” sebutnya lebih lanjut.
Selain itu, karya yang pernah dibuat dan didanai oleh Dikti bukan lantas berhenti. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah tanaman pegagan yang diolah menjadi obat untuk meningkatkan daya ingat otak, karena semakin tua usia maka daya ingat semakin berkurang.
Penelitian lain, saat ini masyarakat juga banyak membudidayakan tanaman toga seperti jahe dan kunyit. Ditambah pula hasil penelitian pengembangan dari PKM sebelumnya, yaitu ramuan papaya dipakai untuk kesehatan dan kebugaran bagi hewan ternak. “Semua hasil penelitian mahasiswa dapat diserap secara baik oleh masyarakat,” paparnya sembari menyebut bakal mematenkan produk tersebut ke depannya.
Dia mengungkapkan, sudah 7 tahun lebih dirinya menjadi pembimbing bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian. Ia pun berharap ada regenerasi dan muncul dosen-dosen baru yang bersemangat untuk membantu mahasiswa dalam melakukan penelitian. “Saya ingin dosen-dosen muda ikut terlibat dan aktif dalam membina mahasiswa dalam proses penelitian. Makanya perlu adanya regenerasi,” ujarnya. (miski/han)
 

Hotel Tertinggi di Malang Raya, Serasa Tidur Diatas Bintang-Bintang

MENAKJUBKAN : Inilah hotel pohon diatas Gunung Banyak, sensasi menginap disini tidak kalah dengan menginap di hotel bintang 5.

Pernah merasakan sensasi seru menginap di rumah pohon ? Apalagi pohonnya berada di atas ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut (Mdpl). Sensasi menginap di hotel rumah pohon ini, bisa anda rasakan saat berlibur di Kota Batu. Penasaran? Berikut ulasan dari laporan wartawan Malang Post Muhammad Dhani Rahman.


Ruangan hotel ini seluruhnya terbuat dari kayu dan menempel di atas pohon. Lebih menarik lagi, pohon ini berada di atas Gunung Banyak 1.340 meter diatas permukaan laut, Songgoriti, hingga bila menginap di rumah pohon ini, kita bisa melihat langsung Kota Batu seperti sebuah hamparan permadani.    
Begitu eloknya pemandangan ditempat ini, membuat banyak wisatawan tertarik untuk menginap di tempat ini, bahkan konon ada wisatawan yang sudah terlanjur menginap di sebuah hotel berbintang, memilih pindah tidur di rumah pohon.
“Katanya seru menginap di rumah pohon, hotel bintang 5 kalah,” ujar Sunari, pegawai Omah Kayu. Pesona yang luar biasa ini membuat orang-orang berlomba-lomba untuk memesan kamar hotel ini jauh hari, jika tidak bisa dipastikan mereka tidak akan kebagian kamar.      
Karena hotel yang didirikan oleh Perhutani pada bulan Februari 2014 lalu ini jumlah kamarnya terbatas, hanya 4 unit saja. Setiap kamarnya, maksimal hanya bisa dihuni oleh 3 orang saja.
Untuk menginap di Omah Kayu ini pun tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, cukup mengeluarkan uang Rp 300 ribu untuk week day dan Rp 450 ribu untuk week end sudah bisa merasakan nikmatnya menginap di Omah Kayu yang suasananya sangat hening ini.    
Para tamu bisa mendapatkan breakfast dan bisa mandi dengan air hangat, tidak kalah dengan menginap di hotel berbintang lainnya.         
Menurut Sunari, rata-rata tamu yang menginap memilih datang pagi-pagi sekali, kemudian sore hari check out. “Rata-rata seperti itu, mereka ingin melihat pemandangan pagi hari, jarang-jarang ada yang menginap,” ujarnya.    
Kondisi sekitar Gunung Banyak yang gelap, menjadi salah satu keenganan tamu menginap di tempat ini, padahal menurut Sunari, pengelola Omah Kayu sudah menyiapkan keamanan diri maupun kendaraan yang digunakan para tamu.
Ditanya mengenai keamanan pohon jika ada angin yang sangat kencang, Sunari mengatakan pengelola sudah mengantisipasi hal tersebut, mulai dari memilih Pohon Pinus yang kuat, hingga menggunakan kayu pilihan untuk bahan kamar yang digunakan. “Ruangan itu terbuat dari kayu pohon Cemara Gunung sangat kuat,” ujarnya.    
Pengelola juga memberikan kesempatan untuk wisatawan yang hanya ingin berfoto ria di areal hotel, cukup merogoh kocek Rp 5 ribu perorang, mereka sudah bisa masuk areal hotel, hanya saja kesempatan ini hanya ada bila sedang tidak ada tamu hotel yang menginap.     
Budi Santoso, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu menuturkan pengalamannya menginap di Omah Kayu ini. “Luar biasa sekali, saya yakin obyek wisata ini akan menjadi andalan di Kota Batu,” ujar Tosi, panggilan akrab Budi Santoso.    
Omah Kayu menurut Tosi sangat cocok untuk digunakan orang yang membutuhkan inspirasi atau ingin merasakan suasana alam. Saat menginap itu, Tosi bertemu dengan tamu sebuah hotel berbintang yang memilih pindah tidur di Omah Kayu karena sensasinya.    
Tidur ditempat ini, bisa melihat keindahan pemandangan Kota Batu, terutama kalau malam hari. “Kelap kelip lampunya seperti hamparan permata, suara alamnya luar biasa, jadi kegemaran wisatawan mancanegara, mereka pasti berujar wow melihat semua ini,” kata mantan Kepala Dinas Pendidikan ini.    
Hanya saja menurut Tosi, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh pengelola. Seperti pengaman jalan menuju ke kamar, hingga pengaman kamar agar tidak dihempaskan angin.
Pasalnya untuk bisa mencapai kamar, tamu harus melewati jembatan kayu yang hanya bisa dilewati oleh seorang pengguna    
Tosi menyarankan kepada pengelola agar menambahkan tali baja untuk pengaman jalan menuju ke kamar sekaligus untuk menahan pohon ini agar tidak tumbang. “Tidak disarankan untuk orang yang punya penyakit jantung dan takut ketinggian,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski demikian, Tosi memuji langkah Perhutani mengembangkan wana wisata di daerah Gunung Banyak ini. Inovasi seperti ini yang dibutuhkan untuk mengembangkan pariwisata hingga wisatawan akan semakin nyaman rekreasi di tempat ini.(muh/ary) 

Ukir Prestasi, Jadi Lapangan Pekerjaan Baru untuk Warga

DELAPAN tahun terakhir, Bandulan berubah menjadi kampung musik patrol. Di kelurahan yang terletak di sebelah barat Kota Malang ini terdapat lebih dari 30 kelompok musik patrol berskala besar maupun kecil. Musik patrol pun jadi lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda di sana.
Rangka mobil yang telah  didesain ulang dan aneka rupa hiasan berbahan spon bagai jadi pelengkap di sejumlah rumah penduduk di Bandulan. Begitu pula berbagai jenis alat musik tradisional seperti gamelan, aneka rupa alat musik tabuh berbahan drum bekas dan bambu juga melengkapi halaman rumah warga.
Begitulah suasana di Bandulan yang memang akrab sekaligus identik dengan musik patrol. Dari 7 RW di kelurahan Bandulan, hanya satu RW saja yang hampir dipastikan tak memiliki musik patrol. Yakni di wilayah RW 07.
Maklum, RW 07 mencakup wilayah kawasan Dieng yang merupakan kawasan elit di kota pendidikan ini. Berbeda dengan RW 01 sampai RW 06 di Bandulan yang umumnya terdapat kawasan perkampungan. “Musik patrol mulai dikembangkan di Bandulan pada tahun 2006 atau sekitar 8 tahun lalu. Sekarang terus berkembang,” kata penggagas musik patrol di Bandulan, Choeroel Anwar, SP.
“Jika dihitung sekarang, terdapat 30-an kelompok musik patrol di sini,” sambung Asmari atau yang akrab Kacong, juga pegiat musik patrol Bandulan.
Untuk kelompok musik patrol berskala besar, setidaknya terdapat sekitar 10 kelompok. Di antaranya kelompok Bedhuk Prink, Al Hidayah, Plaketing, Permata Naga, Putra Manunggal, JBR, Sekar langit, Cakar Elang dan  Kereta Jawa. Musik patrol sendiri merupakan jenis musik kolaborasi antara gamelan, gong dan alat musik berbahan bambu seperti kentongan. Semua alat musik yang dimainkan itu disusun  di atas kerangka mobil yang sudah didesain ulang. Kerangka mobil lengkap dengan peralatan musik lalu dihiasi dengan berbagai tema.
“Jadi musik ini mobile, inspirasi awalnya  dari alat kentongan yang biasa digunakan untuk membangunkan orang sahur.  Tapi  musik patrol dimainkan dengan menggunakan nada-nada lagu,” urai Choeroel.
Ukurannya pun beragam. Mulai dari  panjang rangka mobil yang berukuran 6 meter sampai 12 meter dengan lebar 1 meter sampai 2,5 meter. Biaya pembuatannya pun beragam. Mulai dari Rp 6 juta sampai Rp 23 juta tergantung ukuran panjang rangka mobil bekas yang digunakan.
“Selain itu juga ditentukan oleh dekor dan pernak pernik yang dipasang sebagi pelengkap musik patrol,” katanya. Mahalnya biaya pembuatan musik patrol juga ditentukan oleh harga rangka mobil bekas yang berkisar antara Rp 6 juta sampai Rp 12 juta per unit.  
Choeroel merupakan generasi muda yang pertama kali mengenalkan musik patrol di Bandulan. Arek asli Bandulan yang kini duduk sebagai anggota DPRD Kota Malang ini memang memiliki darah seni. Apalagi ia pegiat teater sejak tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian UMM.
“Awalnya kami kenalkan dengan cara mengadakan festival musik patrol pada tahun 2006 di Bandulan,” kata Choeroel yang juga ketua Karang Taruna kelurahan Bandulan. Saat itu, ia dan teman-temannya generasi muda Bandulan terbilang nekat. Betapa tidak, hanya bermodalkan Rp 300 ribu saja, mereka menggelar festival tersebut.
Bahkan saking mepetnya anggaran, penyelenggaraan festival tertunda hingga tiga kali walau peserta dan penonton memenuhi lokasi acara di Bandulan. “Saat itu, tertunda hingga tiga kali karena hadiah untuk pemenang belum siap. Akhirnya kami tetap menggelar festival patrol pertama walau hadiah belum siap,” katanya.  Peserta pun kemudian diminta membuat kesepakatan secara tertulis. Yakni hadiah baru diberi beberapa bulan kemudian pasca festival digelar.
“Tapi sekarang festival ini terus berlangsung. Bahkan  tahun lalu, panitia memiliki anggaran sebanyak Rp 40 juta,” kenang Choeroel.  Tahun ini, lanjut pria duda ini, festival musik patrol bakal digelar kembali sekitar November mendatang.  
Dari festival itulah, lanjut Choeroel, musik patrol terus berkembang. Warga dan generasi muda tergerak untuk mengembangkannya. Apalagi musik patrol belakangan menjadi lahan berekspresi seni budaya, sekaligus menjadi lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda. Yang pasti, jadi tongkrongan kreativitas generasi muda Bandulan.
Kini musik patrol Bandulan dilirik sekaligus diapresiasi masyarakat luas dari berbagai kalangan. Bahkan pernah ditumpangi Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakrie dalam suatu kegiatan di Jalan Ijen, belum lama ini.
“Sekarang mulai diundang masyarakat untuk tampil. Mulai dari wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, bahkan hingga ke Sidoarjo saat acara BRI,” beber ayah satu anak ini.
Harga sewanya pun beragam untuk sekali tampil setengah hari. Mulai dari Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Lokasi tampil mempengarurhi sewa musik patrol. Pendapatan dari hasil penampilan biasanya digunakan untuk kas dan operasional.
Maklum, sekali tampil butuh 20 sampai 30 orang untuk memainkan musik patrol. Jenis musik ini memang butuh banyak orang saat tampil. Sebab selain sebagai pemain musik, juga butuh minimal enam orang untuk mendorong kereta musik ukuran raksasa ini.
“Jadi manfaatnya banyak. Selain untuk musik patrol sendiri, juga membawa manfaat untuk masyarakat luas. Misalnya penjual makan dan berbagai aneka jajanan masyarakat,” kata Choeroel. Pasalnya, saat tampil, pasti masyarakat berbondong-bondong menyaksikan musik patrol yang diarak keliling wilayah.
Kendati sudah duduk sebagai anggota dewan, Choeroel yang juga wakil ketua Karang Taruna Kota Malang ini memastikan tetap memberi perhatian terhadap keberadaan musik patrol Bandulan. Soalnya telah memberi manfaat kepada masyarakat luas.
Asmari, pegiat musik patrol Bandulan menambahkan, musik patrol di Bandulan telah menjadi lapangan pekerjaan baru. “Generasi muda memiliki kegiatan positif. Bakat kesenian pun tersalurkan,” katanya.
Tak hanya itu saja, mereka juga menoreh prestasi melalui musik patrol. Salah satu buktinya kata Asmari yakni pernah meraih juara 1 Festival Kendedes Kota Malang pada tahun 2012 lalu.
Hendra Taruna, generasi muda lain di Bandulan juga memanfaatkan musik patrol untuk mengembangkan bakatnya membuat kerajinan tangan. Kini Hendra punya aktivitas baru yang menghasilkan uang. Yakni membuat miniatur musik patrol yang dijual ke berbagai kawasan.
Hendra membuat miniatur musik patrol sesuai pesanan. “Sejak hampir setahun ini saya membuat 25 miniatur musik patrol. Ada yang saya kirim ke Jakarta. Satu miniatur minimal harganya Rp 500 ribu,” katanya. (vandri battu/han)
Last Updated on Saturday, 13 September 2014 12:33

Berangkat Haji Saat Usia Hampir 100 Tahun

CITA-CITA LAMA: Di usianya ke 98 tahun, Sa’un siap berangkat Rabu dinihari nanti

MALANG – Rasa syukur terus terucap dari bibir Sa’un, warga Dusun Sanan, Desa Watugede, Singosari. Bagaimana tidak, di usianya yang hampir seabad, 98 tahun, cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud. Bersama rombongan haji Kabupaten Malang, Sa’un siap berangkat Rabu (17/9) dinihari mendatang. “Alhamdulillah, saya bisa berangkat naik haji. Saya tidak mengira bisa berangkat,’’ katanya dengan mata berkaca-kaca.
Ditemui di rumahnya kemarin, Sa’un didampingi  cucunya Mohammad Soleh (48 tahun) terlihat sangat bahagia. Meskipun pendengarannya sudah mulai berkurang namun dia selalu menjawab pertanyaan yang diajukan Malang Post kepadanya.
Sa’un menceritakan, dia sebenarnya berkeinginan pergi haji sejak muda. Namun cita-cita itu terasa hanya sebagai angan saja, mengingat dirinya hanya bekerja sebagai penjual buah keliling, yang hidup sangat pas-pasan. Sa’un memang berusaha menabung dari hasil penjualan buahnya. Tapi dia pun sadar, jika butuh waktu sangat lama untuk mengumpulkan uang sebagai biaya haji.
Keinginan Sa’un kian menggelora kala istrinya Poniti (Alm) terus memberikan semangat. Tapi lagi-lagi, mendaftar haji masih sebatas angan karena memang tidak memiliki banyak uang. Hingga akhirnya, Sa’un pun berhenti berjualan buah, dia mulai mengerjakan lahan pertanian. “Ada tanah, kemudian saya kerjakan sendiri. Alhamdulillah, ini sedikit memberikan hasil,’’ katanya.
Di awal tahun 2000 lalu, kakek enam cucu ini memiliki uang yang cukup. Saat itu dia bertekad mendaftarkan diri. Tapi sayang, keinginan tersebut kembali urung, karena dia harus masuk rumah sakit, karena prostat. Alhasil, uang Rp 12 juta miliknya harus dikeluarkan untuk biaya rumah sakit.  Sa’un mengaku sangat sedih tapi bapak dua anak ini tidak putus asa. Dia kembali menabung mulai nol. Namun dalam perjalanan, Sa’un kembali masuk RS sehingga uang tabungannya kembali kandas untuk biaya RS. “Hanya selang dua tahun, saya kembali masuk RS sehingga saat itu saya tidak memiliki uang lagi,’’ urainya.
Sa’un tidak putus asa. Dia kembali mengumpulkan uang. Sembari berdoa agar diberi kesehatan supaya dapat pergi haji. “Haji selain kewajiban, juga nadzar saya kepada istri, jika saya masih ada umur, pasti pergi berhaji,’’ urainya.
Hingga akhirnya, Sa’un mendapat peluang. April 2013 dia mendaftarkan diri, melalui KBIH MCW Singosari.  Saat itu dia langsung membayar biaya awal Rp 27,5  juta. Pihak KBIH kala itu sempat keberatan dengan usia Sa’un yang sudah renta. Saat itu pihak KBIH meminta Sa’un membawa pendamping. Pria renta inipun menunjuk cucunya Mohammad Soleh. Hanya saja, saat itu Soleh membayar biaya awal dari dana talangan Rp 5 juta. “Totalnya saat itu kami menyetor Rp 32.5 juta,’’ kata Soleh.
Setelah mendaftar, Sa’un terus berdoa. Tentu saja, dalam doanya dia meminta agar dipercepat untuk pergi ke tanah suci. Doa tersebut terkabul. Akhir Juni lalu, Soleh mendapat kabar dari KBIH MCW jika Sa’un masuk dalam kuota haji 2014. Soleh yang bekerja sebagai sopir pun langsung pulang dan memberi tahu nya. “Bapak sangat senang saat itu. Dia langsung sujud syukur,’’ kata Soleh yang memanggil sang kakek dengan sebutan bapak.
Bahkan, keesokan harinya bersama Soleh, Sa’un pun mendatangi KBIH untuk menanyakan kepastian sekaligus melakukan pelunasan biaya haji. Saat itu KBIH MCW mengatakan jika Sa’un dan Soleh masuk dalam kloter 38 Kabupaten Malang. Keduanya akan berangkat Rabu (17/9) dinihari nanti.
“Bapak juga langsung urus akte kelahiran, serta KTP baru. Katanya untuk paspor,’’ kata Soleh.
Karena baru mendapat informasi, Sa’un pun mengaku hanya dua kali ikut manasik haji. Namun  itu tidak membuatnya gelisah. Selain telah belajar dengan keluarga yang sudah berhaji, dia juga sudah belajar banyak tentang cara-cara berhaji sejak cita-cita tersebut bersemi bertahun-tahun lalu.  “Kan ada kepala rombongannya, jadi saya juga tidak bingung,’’ katanya dengan terbata.
Saat ini semuanya sudah siap, mulai dari pakaian ihram, perbekalan dan segala keperluan lain.  Sa’un juga menyiapkan kondisi fisiknya dengan berolah raga jalan kaki keliling kawasan rumahnya setelah salat subuh. “Saya saat ini sehat, Alhamdulillah. Semoga di tanah suci nanti bisa menjalankan ibadah dengan baik,’’ katanya.
Sa’un pun mengatakan, doanya saat berada di tanah suci nanti adalah diberi kesehatan, diberi umur panjang, dan dikabulkan apa yang sedang diinginkan. “Saya tidak berdoa muluk-muluk, saya hanya berdoa agar keinginan saya terkabul, mau kemana saja bisa pergi,’’  tandasnya.(vik/han)
Last Updated on Friday, 12 September 2014 13:44

Gunakan Pendekatan Persuasif, Amazing Hadapi 31 Wartawan

Secuil Kisah di Balik Program Pengunduran Diri Karyawan Bentoel
Menghadapai seribu karyawan yang diminta untuk mengundurkan diri secara sukarela bukanlah perkara mudah. Itulah yang dirasakan dua jajaran manajemen Bentoel Group, Head of Corporate and Regulatory Affairs  Bentoel Group Shaiful Bahari Mahpar dan Corporate Affairs Managers Winny Soendaro.

Shaiful Bahari Mahpar sudah menduga program pengunduran diri secara sukarela itu akan menimbulkan dampak yang massif. Baik itu dari segi karyawan maupun pemberitaan di media. Namun dia mencoba untuk menjalankan program tersebut sesuai aturan yang berlaku dan dengan jiwa yang tenang.
“Saya sudah biasa menghadapai situasi seperti ini, terutama melayani media yang pastinya banyak bertanya,” ujar Shaiful kepada Malang Post kemarin. Namun, yang paling dia khawatirkan sat itu adalah psikologis karyawan. Apalagi berita tersebut sangat cepat berkembang dan pastinya akan menimbulkan keresahan karyawan,
Untuk itu, Senin (8/9/14) lalu, pria asal Malaysia ini langsung terbang dari kantor Jakarta menuju Malang untuk meredam situasi yang sedang berkembang. Dia juga langsung menemui media untuk melakukan konferensi pers, lalu melanjutkan dengan bertemu karyawan yang saat itu sedang menunggu sosialisasi program tersebut.
Menurut Shaiful, ia melakukan pendekatan persuasif kepada karayawan. “Karena tidak banyak karyawan yang tahu mengenai program kami. Ada pula yang menerjamahkannya secara salah, sehingga menimbulkan keresahan,” kata pria yang pernh bertugas di British American Tobacco (BAT) Bangladesh ini.
Pendekatan secara persuasif kepada karyawan yang dibantu Winny Soendaro menghasilkan sesuatu hal yang positif, hingga membuat program yang awalnya dipandang negatif itu  diminati oleh 970 karyawan. Padahal menurutnya hal itu tidak mudah dilakukan. Apalagi setiap karyawan mempunyai sifat dan psikologis yang berbeda-beda.
“Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan dan di luar perkiraan kami,” ucapnya penuh rasa syukur. Namun, yang paling tidak dia lupakan adalah mengumpulkan karyawan dari 11 pabrik yang ada menjadi satu di Pabrik Karanglo. Saat itu, disediakan 30 meja untuk melayani para karyawan yang mengurus pengunduran diri sukarela itu dan antre panjang berjejer menunggu  giliran untuk dipanggil.
Shaiful juga sangat berkesan pada media di Malang. “Saat konferensi pers Senin lalu, ada 31 wartawan yang meliput dan ini sesuatu yang amazing. Karena belum pernah saya temui sebelumnya,” urainya.
Menurutnya, dunia wartawan akrab dengannya. Di temapt dia bekerja sebelumnya, BAT Bangladesh, BAT Afghanistan dan BAT Pakistan dia selalu akrab dengan wartawan. “Sebelum di Indoensia, saya bertugas di tiga tempat rawan perang itu. Namun, tidak ada yang setegang ini menghadapi puluhan wartawan di Malang,” tuturnya.
Melalui pengalaman ini, menjadi pelajaran berharganya untuk bekerja lebih baik. Terutama untuk memberikan yang terbaik bagi para karyawan. Sekaligus menjalin komunikasi yang baik dengan media. “Saya menganggap wartawan itu teman,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. (binar gumilang/han) 

Page 1 of 54

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »