Malang Post

Features


Meratakan Distribusi Pendidikan di 54 Wilayah di Indonesia

Share
Teachers Quality Improvement Program (TEQIP) yang merupakan unggulan Universitas Negeri Malang (UM), memunculkan nama Dr. Isnandar M.T. Ia adalah inisiator pertama yang menghubungkan UM dengan sang donatur, PT Pertamina Persero. Program yang berhasil mendapatkan Millennium Development Goals (MDGs) Award 2014 ini telah sukses menyisihkan 443 program lain se-Indonesia.

Bisa jadi, program TEQIP memiliki popularitas tinggi atas penghargaan yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations) 2014 lalu. TEQIP dianggap sebagai implementasi pas ala Millennium Development Goals (MDGs), delapan rangkaian tujuan mulia yang menjadi kesepakatan internasional sejumlah 192 negara di dunia tersebut.
Sejak kali pertama beroperasi tahun 2010, TEQIP ini telah dijalankan di 20 provinsi yang meliputi 54 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Program dijalankan dari wilayah Sabang sampai Merauke dan merengkuh wilayah terpencil di pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua.
Seluruh proyek mendapatkan sokongan dana langsung dari Pertamina. Untuk tahun pertama Pertamina menggelontorkan dana sejumlah Rp 14,5 Milyar, tahun kedua sebanyak Rp 6 Milyar, tahun ketiga sebanyak Rp 16,5 Milyar, tahun keempat mendapatkan dana hingga Rp 29,5 Milyar dan tahun kelima menurun drastis hingga mencapai Rp 5,5 Milyar saja.
Pria asal Tulungagung ini menyatakan, TEQIP telah memberdayakan ribuan guru di beberapa wilayah terpencil dengan kualitas pendidikan di bawah standar. Setiap guru dilatih mendidik yang baik dan dibiasakan membuat karya tulis ilmiah yang berguna untuk kenaikan pangkat.
”Setiap guru yang telah dibimbing harus bisa membimbing guru lainnya lagi sejumlah yang telah ditentukan. Jadi bentuknya seperti Multi Level Marketing,” jelas pria yang juga menjadi Dosen di Fakultas Teknik UM tersebut.
Kendati seluruh rancangan program dibuat secara tim, namun Isnandar adalah sang inisiator program yang bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Kepada Malang Post, Isnandar bercerita, awalnya ia bertemu dengan pihak Pertamina karena mewakili Rektor yang berhalangan hadir pada acara peresmian Gedung Pertamina Universitas Brawijaya.
Saat itu, Isnandar tengah menjabat sebagai Wakil Rektor IV di UM dan diminta untuk melobi hibah untuk pembuatan kolam renang dari Pertamina.
”Dari pertama kali pihak pertamina itu datang, saya membuntuti terus di belakang. Akhirnya pada saat makan-makan saya memperkenalkan diri. Karena tahu saya dari IKIP (UM dulu IKIP, Red) pak Frederick yang menjabat sebagai Direktur Keuangan Pertamina meminta bantuan untuk membuatkan program pengembangan 1000 guru,” urai Isnandar.
Saat itu Pertamina tampak sangat tertarik dengan program yang dikembangkan oleh UM. Bahkan awalnya Pertamina memberikan dana sekitar Rp  16,5 Milyar untuk pelaksanaan perdana. Namun,  setelah dihitung-hitung kembali, program awal itu hanya membutuhkan Rp  14,5 Milyar saja.
"Saat saya diminta presentasi di Jakarta oleh Pertamina, saya presentasi dua proyek yang pertama soal kolam yang kedua soal TEQIP itu. Nah kebetulan yang disetujui program TEQIP nya. Rektor saat itu malah nggak tahu soal TEQIP itu," ceritanya.
Setelah disetujui,TEQIP mulai dioperasikan tahun 2010 di lima provinsi, 15 kabupaten. Dilanjut pada tahun 2011 di dua provinsi, empat kabupaten. Tahun 2012 di tiga provinsi, enam kabupaten, tahun 2013 di 12 provinsi 22 kabupaten. Sedangkan tahun 2014 Isnandar dan tim menginisiasi adanya seminar nasional dan penerbitan jurnal yang dibuat oleh guru-guru yang telah dibimbing.
"Selama ini banyak guru yang kesulitan menulis karya ilmiah karena tidak terbiasa. Maka dari itu kami ajarkan mereka menulis dan harus dipresentasikan di aeminar nasional dan dipublikasikan dalam bentuk jurnal. Untik TEQIP tahun ini dilakukan di lima provinsi dan enam kabupaten," jelasnya.
Isnandar dan kawan-kawan sadar betul bahwa program TEQIP tidak akan langgeng. Untuk itu, ia bersama rekan lain membuat Asosiasi Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia (APPPI). Kendati APPPI baru setahun berdiri, namun asosiasi ini telah memiliki wilayah binaan di kawasan industri Morowali Sulawesi.
"Kalau dari APPPI ini programnya lebih bagus lagi. Yang dikembangkan tidak hanya guru, namun juga siswa dan manajemen pendidikannya," tegasnya.
Karena inisasinya itu, Isnandar mendapatkan kehormatan untuk menjadi koordinator TEQIP dan Ketua APPPI hingga saat ini. (nunung nasikhah/ary)
comments

Malang Raya Paling Rentan Termakan Isu (2/habis)

Share
Pada 2 Februari 2000, Samsuliyono saat masih wartawan desk kriminal di Kabupaten Malang, Red) diwawancarai oleh Nicholas Herriman peneliti dari Australia. Hasil penelitian kemudian termuat dalam buku “Violent conflicts in Indonesia; Analysis, representation, resolution” yang diedit Charles A. Choppel. Tulisan berikut adalah kilas balik isu ninja dan dukun santet dari redaktur berinisial jurnalistik Lyo itu.


Dalam kurun tahun 1998-2000, darah terus menggenang di Kabupaten Malang. Massa masih liar tak peduli ada jeritan pilu. Sudut-sudut  kampung berubah menakutkan, seiring adanya pembantaian korban isu dukun santet menyusul  korban isu Ninja pada Oktober 1998. Sejauh itu, arsitek penebar isu pun tak pernah diungkap. Berganti tahun, sasaran beralih pada penjarahan hutan jati, perkebunan cokelat, pembakaran pabrik yang endingnya penguasaan tanah.
 Desember 1999, kondisi fisik aparat Polres Malang plus Brimob bisa diibaratkan telah kehabisan tenaga. Betapa tidak, dalam rentang kurang dua pekan telah terjadi pembantaian terhadap orang-orang yang diisukan sebagai dukun santet. Peristiwa itu berlangsung di wilayah kecamatan berbeda, dengan kondisi medan cukup sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat.
Tak beda dengan polisi, kondisi fisik saya pun sama bahkan teman-teman meledek saya mengalami lesu darah. Lantaran siang dan malam harus memacu motor Yamaha Force -1 mendatangi semua tempat kejadian perkara (TKP) di kawasan Malang Selatan. Pembunuhan berkedok isu dukun santet di Desa Sumberkerto Kecamatan Pagak, Kamis (23/12) 1999 menjadi pamungkas tewasnya 8 orang dan dua orang luka-luka korban isu dukun santet pada penghujung tahun itu.
Peristiwa Sumberkerto, Pagak, menyusul pembantaian sama di Desa Pitrang Kecamatan Kalipare, dan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Beruntung polisi bergerak cepat sehingga tokoh-tokoh pelaku utama di Kalipare tertangkap salah satunya adalah berinisial  M pemuda asli Desa Pitrang, yang sudah lama menjadi preman di Jakarta. Dialah yang menjadi ujung tombak menggerakkan massa hingga tersulut membantai tiga orang korban isu dukun santet.
Secara sembunyi sembunyi, saya berhasil mewawancarai M ketika ditahan di Mapolres. Dari keterangannya, massa mendapatkan daftar siapa saja yang dicurigai sebagai dukun santet dari bocoran seorang petugas keamanan. Hasil wawancara  saya dalami, dan dua hari berikutnya saya tulis. Responnya gempar, saya dicari banyak orang  dan beruntung saya mendapat pengawasan dari Dandenpom Malang yang saat itu dijabat Letkol CPM Djayusman.
Di sisi lain, dari hasil pemeriksaan polisi disebutkan bahwa preman M yang saat itu kebetulan menjadi buron di Jakarta dan terpaksa mudik ke Pitrang, justru dibayar oleh pentolan preman lainnya di wilayah Si Pitung itu. Bahkan, Kapolda Jatim yang saat itu dijabat Mayjen Pol  Drs M Dayat, SH, MBA, MM, bahwa pelaku pembantaian di Kalipare dibayar Rp3 juta.
 
MEMBUJUK PERWIRA JAGA

Peristiwa di Malang Selatan itu, diawali pembantaian  di Dusun Sumberasih Desa Harjokuncaran Kecamatan  Sumbermanjing Wetan pada 9 Desember 1999 dengan korban keluarga Martawi. Yakni  Martawi sendiri, mbok Bugimah dan Buchori. Polisi sempat menangkap tiga tersangka, dan massa  menyerbu Mapolsek Sumbermanjing Wetan (10/12/1999) untuk membebaskan tersangka yang sudah lebih dulu ditahan di Mapolres.
Kemudian disusul satu korban lagi, yakni mbok Arni di Kecamatan Ampelgading, yang tewas dibakar massa. Kejadian itupun merebak  ke tiga desa di Kalipare secara serentak. Yakni, pada 15 Desember.
Dari semua TKP itu, paling mengesankan adalah liputan di Kalipare. Informasi adanya kejadian saya terima sekitar pukul 23.30. Lantaran menjelang larut, saya pun harus gambling untuk berangkat ke TKP dengan menghitung kancing baju, berangkat-tidak..berangkat-tidak akhirnya hitungan kancing baju terakhir berpihak pada berangkat.
Tengah malam pun saya berangkat dari Batu, dan selama perjalanan rasa bimbang pun muncul karena begitu nanti  keluar dari Kepanjen, kondisi jalan pasti sangat senyap apalagi selepas melintasi Bendungan Karangkates, harus menerobos hutan jati, serem dech. Tak kurang akal, saya pun mampir ke Mapolres Malang di Kepanjen melakukan pendekatan dengan perwira jaga.
‘’ Bang, kalau saya berangkat ke TKP sendirian pasti akan ada korban baru, yakni saya, entah itu dihadang begal (rampok) ataupun tindak kriminalitas lainnya,’’rajuk saya kepada seorang perwira polisi letnan dua (Ipda) yang asli Sumenep ini.
’’Mau  sampeyan?,’’ tanyanya termakan rajukan.’’ Ya tolong bisa diantar anggota dong,’’ timpal saya.
‘’Anggota piket sudah habis berada di TKP semua, tinggal yang jaga mako dan polisi tahanan provos,’’bisiknya. ‘’Mantap, ‘ngebon’ yang di dalam dong (tahanan provos),’’bujuk saya agak memaksa.
Cukup lama untuk mendapat persetujuan itu, namun melihat keseharian saya berada di Mapolres, perwira tersebut akhirnya percaya. ’’Ada syaratnya, sebelum jam enam pagi anggota ini harus sudah berada di tahanan provos,’’ujarnya dengan agak ragu.
’’Siapp..’’jawab saya cepat agar persetujuan itu tak berubah.
Menariknya, polisi berpangkat pembantu letnan satu (Peltu) yang ditugasi mengawal saya itu malah girang bukan main. Bahkan, dialah yang menawari mengendalikan motor saya. Apes, begitu saya tuntas mengikuti polisi olah TKP, wawancara saksi-saksi maupun keluarga korban, Wakapolres Mayor (Kompol) Joko Irtarto bergabung dengan saya untuk ngobrol sambil menunggu waktu subuh.
Saya menjadi salah tingkah lantaran di samping saya ada tahanan provos.  Namun sang Peltu itu buru-buru menutup kepalanya dengan kain sarung berpura-pura kedinginan. ’’Gawat, ada Wakapolres. Kamu temui Beliau, aku tak ngilang,’’bisiknya sambil berlahan-lahan berlalu.
Apesnya lagi, sang Peltu justru meninggalkan saya balik ke Mapolres dengan motor saya. Saya sendiri kelimpungan karena tertahan di Kalipare hingga siang hari lantaran teman-teman reserse yang akan saya tumpangi harus TKP ulang plus menunggu evakuasi yang lokasinya sangat sulit.(samsuliyono/habis)
comments

Malang Raya Paling Rentan Termakan Isu (1)

Share
Dalam rangka 17 tahun Malang Post, mari sedikit kilas balik ke masa 1998, masa awal koran ini berdiri. Di tahun 1998 itu, koran ini benar-benar leading di pemberitaan kriminal, menggambarkan karakteristik warganya yang gampang termakan isu. Charles A. Coppel peneliti Australia, tahun 2006 bahkan memakai Malang Post sebagai obyek penelitian isu ninja hingga dukun santet. Tulisan ini dipersembahkan Samsuliyono, Redaktur Malang Post.

Oktober 1998. Malam itu sekitar pukul 20.30, ruang redaksi Malang Post  yang nebeng di paviliun Jawa Pos Perwakilan Malang, sudah penuh personil  sirkulasi pimpinan almarhum Patmono yang sibuk menerima order koran dari agen maupun loper untuk terbitan esok hari. Sementara redaksi selain berkutat menulis berita terkini maupun  pengembangan sambil antre komputer bermodal  disket dan dos untuk membuka program WS 7.
Di  ruangan mungil yang tak layak disebut kantor itu, memang sarana dan prasarana serba terbatas bahkan semuanya pinjaman. Maklum, harian pagi anak sulung Jawa Pos di awal reformasi itu usianya belum genap tiga bulan yang didirikan dengan modal semangat plus nekat. Saya sendiri  tak kalah tegangnya lantaran diburu deadline, walaupun  yang sedang saya ketik hanyalah peristiwa biasa namun bisa jadi luarbiasa.
Judul yang saya buat  Lindungi Kiai, Santri Tewas Termakan Perangkap. Lima menit lagi berita dari wilayah Singosari itu, harus di tangan Sugeng Irawan redaktur Hankam yang sudah melotot minta secepatnya dikirim. Saya makin tegang apalagi terus-terusan  diganggu Patmono sang ‘Komandan Sruntul’.’’ Sip Om.. beritane, besok Sruntul biar jualan ke Singosari,’’ucap Patmono penuh semangat.
Tiga menit kemudian, telepon kantor berdering dan Bambang TL pemasak foto memanggil  saya  untuk menerima. Saya makin keruh, karena walaupun sekadar telepon, tetap mengganggu pada jam-jam rawan tersebut.’’ Assalammualaikum Mas,’’ucap suara seorang perwira polisi yang sudah saya kenal.’’ Mohon dengan sangat dan tolonglah saya, berita yang tadi jangan sampai dimuat,’’rengek perwira polisi itu di sambungan telepon.
Saya pun kebingungan  lantaran sulit mengabulkan, namun Cak Nun ( Husnun ) Pimpred dan  para redaktur lainnya tetap bijak sehingga  mengamini setelah saya jelaskan persoalannya. Peristiwa yang sedang saya tulis saat itu memang sepele, yakni seorang santri di sebuah Ponpes di Singosari, tewas dan tubuhnya terjatuh dari lantai dua akibat tersengat listrik.
Peristiwa itu menjadi sangat menarik, lantaran para santri  sengaja memagari gedung Ponpes dengan aliran listrik dengan maksud melindungi Pak Kiai oleh serbuan Ninja yang diisukan bisa menghilang sekaligus membidik tokoh-tokoh agama untuk dijadikan mangsa. Ditambah lagi dalam sepekan itu, Malang Raya sedang heboh oleh  ulah Ninja tersebut.
Saya pun pulang ke Batu tidak tertarik untuk melanjutkan kasus  santri tersengat listrik, dan nyampek rumah sekitar pukul 22.30. Belum sempat ganti baju, pesawat pager berbunyi ngik..ngik.. dan setelah saya baca pesan itu dari warga Sumberpucung memberi info di Desa Jatiguwi ada Ninja tertangkap massa dan kepalanya dipenggal di pinggiran jalan.
Rentang 10 menit saya pun ngebut lengkap dengan kamera Pentak meluncur ke lokasi kejadian, dan sampai  di TKP massa masih berkerumun berhadap-hadapan dengan petugas Dalmas. Lettu (sekarang disebut Iptu, Red) Suroto Kasat Reskrim Polres Malang, berteriak menghalau massa yang beringas. Kamera saya pun action, dan warga bersorak bersemangat begitu melihat ada kilatan lampu blitz wartawan.
Namun hardikan Suroto yang asli orang Madura , jauh sakti dari kilatan lampu kamera sehingga massa berangsur balik kanan meninggalkan  sosok mayat pria tergolek di pinggiran jalan dengan tubuh berlumur darah. Mayat yang ditutup kertas koran itupun saya foto. Sekitar pukul 02.15, saya gabung ke ruang Reserse Polres untuk tidur, lumayan sudah ada berita peristiwa untuk terbitan besok.
Esok harinya, pager kembali menyalak memberi info bahwa di Jalan Raya Langsep Kota Malang, massa massa sedang memburu bayangan Ninja.’’ Itu..bayangannya masuk pohon palem,’’teriak salah seorang ketika saya sudah sampai di lokasi. Arus lalu lintas macet total, Wakapolresta Malang Mayor (Kompol) Luky Hermawan langsung memerintahkan memotong pohon palem yang berdiri tegak di pinggiran Jalan Raya Langsep.
Saat itu siapapun terpengaruh dengan omelan Ninja bisa masuk pohon, karena diisukan bisa menghilang dan berubah wujud. Gergaji senso pun dengan cepat beroperasi memotong pohon itu menjadi beberapa bagian, namun Ninja yang dicari pun tak terpotong.’’ Ninja beralih masuk pohon Cary,’’teriak salah seorang warga yang berkerumun. Mendengar itu, perintah Luky Hermawan berbalik arah.’’ Tangkap yang ngomong !!,’’teriak Luky, massa pun semburat berlarian takut diringkus polisi.   

SINDIRAN
Kasus Ninja, Oktober 1998 saat itu benar-benar mampu menjadi konsumsi publik Malang Raya. Tak hanya masyarakat awan, orang-orang berilmu dan alim pun termasuk saya termakan oleh isu yang dirangkai secara sistematik dan dahsyat ini. Di mana-mana ada orang yang tak dikenal  dicurigai sebagai Ninja, lalu dibunuh berjamaah. Setidaknya di wilayah Kabupaten Malang ada lima orang termasuk di Desa Gondanglegi Kulon, dan seorang lagi di Kebalen Wetan, Kedungkandang Kota Malang. Faktanya, korban-korban pembunuhan secara sadis itu hanyalah orang-orang gila dari daerah lain lalu sengaja  didrop ke wilayah tertentu.
Ada ungkapan Kapolres Malang Letkol H Suhartono, yang sampai sekarang membekas di kalbu saya. Saat itu, wilayah Kabupaten Malang benar-benar kacau oleh isu Ninja. Bahkan, sejumlah ulama dan kiai pun tak sedikit merasa  resah oleh isu dijadikan sasaran Ninja.
‘’Apakah Pak Kapolres berani menjamin keselamatan kami dari aksi Ninja  ?,’’tanya seorang ustad ketika bersama-sama sejumlah kiai berdialog dengan kapolres di Ruang Rupatama Polres Malang. Pertanyaan itu juga mendapat dukungan dari yang hadir lainnya.’’ Yang terhormat para alim ulama, mohon jangan merasa ketakutan melebihi rasa takut kita kepada Alloh SWT,’’jawab Kapolres Suhartono, dan yang hadir di ruangan itupun terdiam seribu bahasa.
Rentang lima menit, dari ruangan pertemuan itu terdengar suara yel-yel massa disusul suara berondongan peluru karet.’’ Bapak-Bapak, mari kita lihat bersama apa yang terjadi di luar,’’ajak Kapolres kepada peserta pertemuan.
Para tokoh masyarakat, tokoh agama siang itu bisa menyaksikan langsung pasukan Dalmas sedang menghadang ratusan orang yang konvoi mengarak penggalan kepala yang ditancapkan pada potongan kayu berujung mirip mata tombak. Mereka berniat memasuki pintu gerbang Mapolres, namun dihadang polisi.
Kepala tersebut baru dipenggal dari tubuhnya di Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Waktu itu ada dua orang tak dikenal yang dicurigai massa sebagai Ninja. Kemudian, satu orang langsung dibunuh dan seorang lagi diselamatkan polisi menggunakan truk. Namun di tengah perjalanan massa menghadang truk tersebut, lalu menurunkan korban untuk dibunuh dan dipenggal kepalanya. Setelah itu, dari Turen kepala berlumuran darah itu diarak menuju Wajak, Bululawang, Pakisaji hingga Mapolres. (samsuliyono/bersambung)
comments

Siap Pentas Tiga Negara, Diawali Manggung Keliling Pulau Jawa

Share
Azis Suprianto (bertopi) berlatih peran dengan seorang rekannya. Latihan ini untuk persiapan pementasan di tiga negara yaitu Jerman, Belanda dan Perancis

Lebih Dekat Dengan Azis Suprianto, Aktor Teater Asal Malang
Kecintaannya terhadap seni peran membawa Azis Supriyanto bisa keliling Indonesia. Bahkan, sebentar lagi, seniman ini bakal keliling Eropa. Bersama kelompok Teater Keliling, pria asal Kota Malang ini akan pentas di tiga negara, yaitu Jerman, Belanda dan Perancis pada awal Oktober – 15 November 2015 mendatang.

Seorang pria kurus menggunakan jaket kulit dengan celana jeans warna hitam kemarin tampak duduk di salah satu sudut ruangan kantor Dewan Kesenian Malang (DKM). Menggunakan topi ala pelukis almarhum Tino Sidin, pria tersebut tersenyum ke arah Malang Post.
Azis mengaku mencintai seni peran sejak ia duduk di bangku sekolah. Berkembang hingga kelas 3 SPG Jurusan IPS Kesenian, ketika sekolah mewajibkan siswa membuat karya. Yaitu karya musik, karya  drama, dan karya tari.
Azis mengerjakan satu persatu karya yang menjadi syarat kelulusan tersebut. Dimulai dari karya musik dengan menciptakan lagu. Serta mengarasemen sendiri lagu ciptaannya.
Lantas membuat naskah drama. Azis tidak sekadar membuat dialog sederhana. Tapi ia mampu menciptakan membuat dialog absurd. Memadukan unsur simbolik di dalamnya. Alhasil, karya seni yang baru diciptakannya itupun mendapat apresiasi para guru. Itu sekitar tahun 1980-an.
“Tahun itu teater sudah ada. Tapi untuk bermain saya tidak pernah. Dari naskah yang saya kerjakan sendiri itulah kali pertama main teater,’’ katanya.
Bak menemukan dunianya, Azis yang dibantu beberapa temannya memainkan peran dengan karakter yang diciptakannya sendiri. Adegan yang diciptakan mampu menghanyutkan perasaan siapapun yang melihatnya. Tak jarang penonton menangis dengan lakon yang diperankannya, tapi tidak jarang pula aksi panggungnya mengundang gelak tawa.
Dari aksi panggung pertamanya itulah, jalan menuju sebagai aktor dalam seni teater terbuka bagi Azis. Terbukti, dia pun langsung diterima saat bergabung dalam komunitas Teater Pandansari, Madiun.
“Di Teater Pandansari, saya terus belajar, mengasah bakat dan kemampuan,’’ akunya. Ia terus mengasah kemampuannya, bahkan juga kursus pendidikan seni drama dan film Perintis di Surabaya.
Tahun 1990, Azis yang sudah berulang kali manggung tiba-tiba mendapatkan tawaran masuk Teater Keliling, Jakarta. Saat itu Azis tidak langsung mengiyakan. Itu karena dia berpikir, saat bergabung ia hanya mendapatkan kesenangan saja. Sedangkan kesejahteraannya akan terabaikan.
Tapi begitulah, pemikiran realistis itu terpatahkan dengan keinginan serta dukungan dari rekan-rekannya. Terbukti, selah beberapa saat setelah tawaran tersebut, bersama empat temannya yaitu Dodok, Alm Yuwono, Alm Mulyadi Harsono dan Alm Endik Sarkara, Azis pun mulai bergabung.
Entah itu adalah berkah, yang pasti begitu bergabung Azis langsung diajak keliling ke seluruh nusantara. Dimulai dari Malang, Jember, Banyuwangi, Bali, Papua Kalimantan, Sumatera, Jakarta dan Jogyakarta.
Rasa lelah dalam perjalanan tur Indonesia, Azis menemukan banyak kesenangan. Bermain lebih dari 1.000 pentas, dengan sedikitnya 15 judul naskah, membuat Azis merasa puas. Apalagi dari naskah yang dimainkan, banyak karya penulis terkenal, diantarannya Arifin C Noer, Iwan Simatupang, dan D Jah Kusuma.
Rasa lelah, dan gaji yang tidak seberapa kala itu terkalahkan dengan dinamika kehidupan, sebuah permainan peran di panggung. Seakan khilaf dengan obsesi hidup, Azis muda memilih mengabdi dalam dunia teater.
“Gaji pertama saya Rp 40 ribu. Sedikit memang, tapi kepuasan yang saya dapatkan tidak  bisa dibandingkan dengan apapun,’’ ungkap pria yang pernah kuliah di STKIP Yuwana Madiun.
Azis kian bangga, karena setelah berhasil melakukan tur nusantara ia diajak bermain di luar negeri. Ada empat negara yang diingatnya. Yaitu Malaysia, Korea, Thailand dan Mesir. Di Mesir, Azis dan grup Teater Kelilingnya mentas di sebuag gedung teater yang usianya 100 tahun. Gedung yang memiliki nilai sejarah itu ditaklukkan Azis dkk dengan riuh gema tepuk tangan para penonton.
“Salah satu kebanggaan saya adalah bisa bermain di gedung kesenian itu. Luar biasa,’’ uangkapnya sembari tersenyum.
Beberapa kali saat bercerita, Azis mengubah gaya duduknya. Dia sangat bersemangat kemarin. Selain keliling yang membuat ia berkesan adalah rekan kerjanya. Di Teater Keliling, pemain teater memiliki profesi all around. Artinya, setiap orang memiliki profesi berbagai macam. Seperti dirinya, ia sebagai pemain, penata kostum, artistik, penata musik dan lain-lainnya. Dalam menghafalkan naskah, Azis tidak butuh waktu lama. Karena dialog naskah itu juga diucapkan saat perjalanan tur dengan teman-temannya.
Yang membuat Azis kian cinta dengan teater adalah dalam cerita yang dibawakan selalu ada pesan yang disampaikan. Tidak menutup kemungkinan, bahwa cerita yang dibawakan berisi sindiran-sindiran. Tapi banyak pula cerita komedi yang dibawakan. “Ada dialog naskah yang hingga saat ini berkesan bagi saya. Yaitu dari naskah berjudul Mega. Dalam dialog tersebut ada sebuah pertanyaan Kenapa Kamu Tidak Menjadi Penyanyi, yang kemudian dijawab Segala Bisa ada Mau, apalagi cuma Jadi Penyanyi,’’ katanya. Dialog tersebut mengisyaratkan, bahwa semua bisa dikerjakan asal ada kemauan.
Kendati berada di Malang, Azis tidak susah dalam mendapatkan seni peran. Komunikasi melalui email, dan media sosial dilakukan dengan anggota Teater Keliling yang berbasis di Jakarta. Bahkan, naskah untuk penampilan di tiga negara juga sudah diterimanya.
“Karena kami kumpul sudah lama, chemistry-nya (baca:kemistri) sudah ada, ya kami tidak kesulitan,’’ tandasnya. Ia dan grup teater kelilingnya akan mulai melakukan latihan pertengahan Agustus mendatang. Bukan hanya bertemu, tapi langsung mentas keliling Jawa.(ira ravika/ary)
comments

Merangkap Penasehat Hukum, 10 Kali Menangkan Gugatan Praperadilan

Share
Nama Iptu Sutiyo, SH, Mhum di kalangan penegak hukum, terutama polisi sudah sangat dikenal. Apalagi penjahat-penjahat Kabupaten Malang, pasti mengenal sosok penyidik senior ini. Pria ramah ini dikenal dengan sebutan SDSB (Sutiyo Datang Semua Beres, Red). Selain menjabat Kanit Idik IV, dia juga merangkap Penasehat Hukum Polres Malang Kabupaten.

Menjadi penegak hukum, tidak semudah dibayangkan. Terlebih menegakkan keadilan. Penuh tantangan dan risiko yang dihadapi. Polres Malang sebagai instansi penegak hukum, beberapa kali mendapat gugatan praperadilan dari kuasa hukum tersangka yang ditahan.
Namun dari beberapa gugatan praperadilan, Polres Malang selalu memenangkan. Menangnya gugatan praperadilan tersebut, tak lepas dari sosok Iptu Sutiyo, SH, Mhum. Ketua Tim Penasehat Hukum Polres Malang ini, sudah 10 kali memenangkan gugatan praperadilan.
"Ada 10 gugatan praperadilan yang sudah kami menangkan. Terhitung sejak saya ditunjuk menjadi kuasa hukum Polres Malang," ujar Sutiyo.
Kanit Idik IV Reskrim Polres Malang ini, ditunjuk menjadi kuasa hukum sejak 2007 lalu, ketika Kapolres Malang masih dijabat oleh AKBP Jamaludin. Saat menjadi kuasa hukum, pangkatnya masih bintara, yaitu Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu), dengan titel sarjana hukum (SH).
Kali pertama menjadi kuasa hukum Polres Malang, gugatan praperadilan yang dihadapi adalah terkait masalah perebutan lahan. Polres Malang menangkap seorang tersangka warga Kecamatan Tumpang. Namun penangkapan, penahanan dan penyitaan barang bukti dipermasalahkan oleh kuasa hukum tersangka dengan dalil tidak sesuai prosedur.
"Saat itu kuasa hukum lawan dari Surabaya. Namun berdasarkan bukti-bukti yang kami tunjukkan di Pengadilan Negeri, gugatan praperadilan saat itu berhasil kami menangkan," tuturnya.
Dari gugatan praperadilan yang dimenangkan itu, Sutiyo semakin dipercaya untuk menjadi kuasa hukum Polres Malang. Nama Sutiyo pun semakin dikenal oleh penegak hukum. Akhirnya untuk semakin menambah ilmu hukum, Sutiyo menempuh pendidikan lagi untuk mendapat gelar magister hukum (Mhum).
"Ketika pertama ditunjuk menjadi kuasa hukum, saya harus menunjukkan kepercayaan. Untuk bisa menjawab kepercayaan, saya membaca referensi buku-buku soal praperadilan. Mempelajari putusan-putusan praperadilan," jelasnya.
Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apa yang dilakukan penyidik tidak sampai melanggar KUHAP. Termasuk untuk menjawab dalil-dalil pemohon yang diajukan dalam gugatan praperadilan.
"Menghadapi gugatan praperadilan ini, sebenarnya bukan hal yang menyenangkan. Sebab ini menyangkut institusi dan ada konsekuensi hukumnya. Sebab kalau kalah, maka penyidik dianggap tidak profesional," ungkap bapak dua anak ini.
Selama menjadi kuasa hukum, sudah beberapa kali gugatan praperadilan yang dihadapi. Pada 2015 ini, ada empat gugatan praperadilan terhadap Polres Malang. Semua gugatan tersebut dimenangkan Polres Malang.
Pertama gugatan praperadilan yang dilayangkan oleh pengacara Sugeng SH, terkait masalah pencurian tebu terhadap Polsek Bantur. Sutiyo yang ditunjuk untuk menjadi kuasa hukum, bisa mematahkan semua dalil pemohon gugatan.
Kedua gugatan praperadilan yang diajukan pengacara Kusdaryono SH, kepada Polsek Kepanjen. Gugatan terkait tuduhan anggota melakukan penganiayaan terhadap tahanan. Namun setelah pembuktian di Pengadilan Negeri Kepanjen, gugatan dinyatakan tidak diterima.
Selanjutnya gugatan praperadilan yang diajukan oleh pengacara Sumardhan, SH terkait kasus pencurian tebu di lahan PT Margosuko. Polres Malang digugat karena dianggap tidak sesuai prosedur dalam melakukan penangkapan. Namun setelah melalui persidangan, gugatan pemohon kembali dimentahkan.
Yang terbaru adalah gugatan praperadilan yang diajukan tersangka Gonggom Napitupulu alias Daud, melalui kuasa hukumnya asal Medan dan Surabaya. Penangkapan, penahanan dan penyitaan barang bukti, dinyatakan tidak sesuai prosedur. Namun lewat pembuktian di PN Kepanjen, dalil-dalil pemohon tidak bisa diterima.
"Begitu memenangkan gugatan praperadilan, kami sangat bersyukur. Dan gugatan praperadilan ini, menjadi sebuah kontrol bagi polisi dalam proses penyidikan supaya tidak semena-mena dan arogan. Sehingga menjadikan kami untuk berbenah dan berbuat baik, dalam melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat," papar Kanit UPPA Polres Malang ini.
Terkait dengan fenomena banyaknya gugatan praperadilan ini, Sutiyo mengatakan bahwa kesadaran masyarakat tentang hukum mulai meningkat. Sehingga penyidik harus berhati-hati dalam menetapkan tersangka. Harus ada minimal dua alat bukti. Tanpa ada dua alat bukti, jangan ditetapkan dulu sebagai tersangka.
"Menjadi kuasa hukum Polres Malang ini tidak ada honornya. Ini adalah tantangan dan kepercayaan. Ini adalah tugas yang harus dipertanggungjawabkan," ucapnya.(agung priyo/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL