Features

Malang Post

Features


Mengenal Putri Kartini 2016 Nadilla Ratunia Artyara


Flashback empat minggu lalu. Tatapan ragu sempat terpancar dari mata Nadilla Ratunia Artyara, siswi SMAN 4 Malang, saat tim Malang Post berkunjung untuk sosialisasi Pemilihan Putri Kartini 2016, salah satu event bergengsi tahunan yang digelar korane arek Malang ini.

Wajar jika Ella, demikian Nadilla biasa disapa, ragu. Ia tak pernah sekalipun ikut kompetisi kecantikan. Membayangkan menjadi peserta saja, juga tidak pernah. Ia benar-benar nol pengalaman tentang beauty pageant. Namun misi Malang Post yang mencari Putri Kartini yang dari semua kalangan pelajar, tanpa melihat background modeling, mulai membuka rasa penasaran Ella. 

Meskipun begitu, siswi kelas XI ini awalny mengaku tidak percaya diri, membayangkan teman-teman, sekaligus pesaingnya yang lebih unggul darinya. “Setelah sosialisasi Malang Post, aku jadi mikir lagi, nggak ada salahnya mencoba buat nambah pengalaman. Kalau nggak menang, setidaknya saya sudah berusaha,” kenangnya.
Siapa nyana, takdir baik berpihak kepadanya. Usaha dan latihan yang dilakukan Ella selama persiapan sebelum interview, karantina dan grand final, dengan terus menerus melatih kemampuannya membawakan acara dan membaca puisi membuahkan hasil. “Aku latihan ngomong dengan tenang, belajar mengendalikan perasaan gugupku,” katanya.
Kemampuan berbicara dengan pembawaan tenang berhasil memikat hati para juri, hingga ia pun berhasil lolos tahap awal seleksi dan masuk dalam 25 besar finalis Putri Kartini 2016. Tak berhenti sampai di situ, selama proses karantina, Ella berusaha untuk tampil apa adanya. Menjadi diri sendiri, seperti bagaimana ia bersikap dalam sehari-hari.  
Karena semua alasan itulah, putri pasangan H. Zainul Ariffin dan Hj. Prasetyaningtyas ini mengaku masih tak menyangka saat Putri Kartini 2015 Cloudia Shinta Bestari meletakkan crown ke kepalanya. Lagi-lagi dengan alasan ia menganggap pesaingnya, Nabilla Ayu memiliki kemampuan dan bakat serta kecerdasan lebih dibandingkan dirinya.
Tentang kiat-kiatnya sehingga bisa menjadi pemenang, Ella mengaku hanya berusaha menampilkan yang terbaik dari dalam dirinya. “Prinsipku, lolos nggak lolos urusan belakang, yang penting aku melakukan yang terbaik sehingga bisa bikin orang–orang di sekitarku bangga sama aku,” tegasnya.
Tak hanya itu, Ella juga mengaku selama ini ia minim prestasi. Tidak seperti teman-teman lainnya yang mempunyai rentetan prestasi. “Prestasi cuman sedikit, makanya aku nggak PD. Prestasiku cuman menang juara dua lomba cipta dan membaca puisi tingkat Kota Malang, beda sama teman-teman lain yang prestasinya segudang,” katanya.
Gadis yang meraih dua kali ranking paralel kedua di SMAN 4 Kota Malang itu menegaskan, motivasi utamanya mengikuti ajang ini adalah ingin menambah prestasi, teman, sekaligus keluarga baru. Terbukti, segala hal yang ingin ia tahu itu berhasil ia dapatkan selama proses karantina. “Aku jadi banyak belajar hal-hal diluar bidang yang aku tekuni selama ini, seperti modeling. Aku bersyukur banget ikut Putri Kartini karena akhirnya aku kenal sama Ko Andre dari Andre Modeling School yang ngajarin catwalk,” ungkapnya.
Selain itu, ia semakin tahu bagaimana cara memoles riasan sederhana di wajah saat beauty class selama proses karantina. Gadis yang sering ikut lomba di dunia broadcasting ini juga merasa bakat dan minatnya semakin tergali setelah mentas dari proses karantina.
“Kemarin dihipnotis dari tim Kaliwatu Group. Dari situ aku semakin tahu diriku sebenarnya bagaimana, dan siap menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” janjinya.
Belum lagi, selain menyukai rafting, salah satu kegiatan selama karantina, berbagai kegiatan lain dirasanya mampu melatih keberanian dan kepercayaan dirinya dalam menyelesaikan permasalahan. “Intinya mengikuti kompetisi ini sangat menyenangkan, kita bisa belajar sekaligus bermain, benar-benar akan menjadi moment yang sangat dirindukan ketika saya dewasa nanti,” ujarnya. (Alfinia Permata Sari/han)

Pionir Pop Up Market Pertama Bertema Wisata di Indonesia

Gilbert Setiawan memiliki semangat juang yang sangat tinggi. Prinsip hidupnya adalah berani mencoba dan melakukan apa yang menjadi keyakinannya. Sekarang, di usia yang terbilang masih muda itu ia sudah menjadi bos besar dari dua perusahaan yang berbeda.
Gilbert, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Malang, Februari 1990 ini memang menaruh konsentrasi yang cukup tinggi terhadap perkembangan bisnis anak muda. Itu sebabnya, meski sibuk dengan profesinya sebagai CEO Greenland at Tidar ia masih menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya dalam industri kreatif. Belum lama ini ia secara resmi mendirikan perusahaan dalam bidang event organizer bernama Ayo Organizer.
“Ayo Organizer ini memang berawal dari hobi sih,” katanya ketika ditemui Malang Post di kantornya yang terletak di kawasan Jl. Puncak Mandala, kemarin.
Melalui Ayo Organizer, ia mampu menularkan semangatnya kepada anak muda di Indonesia, khususnya Malang. Karena event perdana yang dia buat dengan bertajuk Ayo Lungo beberapa waktu lalu itu mampu menggairahkan bisnis pariwisata di Indonesia. Sebagian besar pemuda di Indonesia mulai berpartisipasi menunjukkan kebanggaannya memiliki Indonesia melalui media sosial. Sampai saat ini pun, efeknya masih sangat terasa. Karena semakin banyak destinasi wisata yang mulai terpublish dengan sangat cepat.
“Melalui media sosial ini maka ada kesempatan untuk memperkenalkan potensi yang kita miliki,” tambahnya.
Sebagai pionir acara Pop Up Market pertama di Indonesia yang bertemakan Pariwisata Indonesia, ia juga mendapat sambutan positif dari masyarakat hingga pemerintah. Langkah yang diambilnya itu mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Kota Malang hingga Kementerian Pariwisata Indonesia. Perlahan tapi pasti, ia optimis mampu membawa nama Indonesia hingga kancah internasional.
“Goal yang mau diraih adalah go internasional,” ujar Gilbert.
Di sisi lain, apa yang dilakukan pria berkacamata ini seakan menyentak kita para anak muda. Karena hanya dengan semangat yang tinggi dan berbagai ide gila itu tidak cukup untuk meraih kesuksesan. Terlepas dari itu semua, setiap pribadi harus memiliki analisa yang tepat untuk efek ke depan yang akan di dapat.
“Sharing is Caring,” kata alumnus SMA Dempo ini sembari diiringi senyum khasnya.
Apa yang dilakukan oleh Gilbert memang selalu berkaca dengan berbagai analisa. Tak sedikit pun ia melewatkan berbagai sisi yang harus dipertimbangkan dalam membangun sebuah bisnis. Namun dengan semangat mudanya ia tetap menunjukkan eksistensinya dengan berani mengambil setiap resiko yang ada di depan mata.
“Sempat dipertanyakan juga sih sama orang terdekat terkait keputusan ini,” jelasnya.
Gemericik air yang berada tepat di belakang tempat kami duduk sempat memecah konsentrasi kami. Sebelum akhirnya ia menghela nafas dan melanjutkan ceritanya. Ketika itu ia mengungkapkan bahwa tidak ada alasan baginya untuk tidak mencintai kekayaan yang dimiliki Indonesia. Itu sebabnya ia memutuskan untuk turut memperkenalkan potensi yang dimiliki Indonesia. Baginya, berkata tanpa ada tindakan adalah hal yang disayangkan, meskipun itu tak salah sama sekali.
“Sejak menimba ilmu di Singapura saya merasa kecintaan kepada Indonesia semakin kuat,” tambahnya.
Menurutnya, setiap pemuda pada dasarnya memiliki semangat dan juga ide gila yang patut diapresiasi. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada wadah yang tepat untuk menampung ide-ide itu. Keresahan itu juga lah yang pada akhirnya membuatnya melangkahkan kakinya mendirikan sebuah wadah dalam Ayo Organizer itu.
“Memang sangat tidak mudah awalnya, tapi kami enjoy,” ujar pria berusia 26 tahun ini.
Sementara itu ia mengungkapkan bahwa bisnis barunya itu telah memberi dampak dan efek lain pada bisnis properti yang dimulainya sejak tahun 2012. Ada beberapa strategi baru yang pada akhirnya ia terapkan setelah bertemu dengan banyak orang baru melalui hobinya itu. Dengan tanpa memecah konsentrasi bisnisnya, dua hal yang berbeda itu tetap ia jalankan dengan penuh semangat dan pertimbangan.
“Sebenarnya, hobi ini memberi efek yang besar pada bisnis properti saya,” beber Gilbert.
Memang sudah saatnya bagi anak muda untuk bangun dari tidurnya. Sekarang ini, era Masyarakat Ekonomi Asean sudah mulai merambah. Untuk sementara waktu, Malang memang belum mendapat dampaknya secara signifikan. Namun ini tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat persaingan akan semakin kompleks. Jadi, butuh keberanian untuk memerangi itu semua, dengan catatan ada perhitungan yang tepat sasaran.
“Beberapa perusahaan kenamaan di Jakarta sekarang dipimpin orang Singapura, Thailand, bahkan Malaysia,” jelasnya.(Pipit Anggraeni/ary)

Kisah Andono Joyo SH, Juara Pan Asia Boxing Association

Sosoknya kalem dengan tutur bahasanya yang sopan. Begitulah Andono Joyo SH, Kepala Seksi (Kasi) Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat (Tibum) Satpol PP Kota Batu. Di balik gayanya yang kalem, siapa sangka, bapak dua ini mantan atlet tinju profesional.  Dua kali, pria yang memiliki postur tinggi besar ini mendapatkan gelar juara internasional.
”Saya juara Pan Asia Boxing Association (PABA) tahun 1999 kelas ringan yaitu 61.2 kilogram. Waktu itu melawan petinju dari Australia. Tahun 2003 saya juga juara PABA kelas welter yaitu 63.5 kilogram,’’ kata Andono kepada Malang Post.
PABA diikuti oleh petinju dari negara Asia, Australia dan Selandia Baru. Olahraga tinju ditekuni Andono sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari kekagumannya terhadap Ellyas Pical, atlet tinju kebanggaan Indonesia. Hampir setiap pertandingan Ellyas Pical dirinya menonton. Dari rasa kagum itulah, Andono yang masih berusia 10 tahun pun mulai belajar tinju.
Kali pertama belajar, mantan pria kelahiran 22 Juni 1995 ini tidak langsung bergabung dengan sasana tinju. Tapi dia belajar kepada tetangganya, yang kebetulan memiliki ring tinju. Berbagai teknik bertinju diperolehnya dari temannya.
“Tidak ada pelatih waktu itu. Saya belajar dari teman,’’ kata ayah dari Taaruf Gundo Wijaya ini.
Karena tekadnya yang kuat dan latihan yang rajin, dalam waktu singkat dia bisa menguasai seluruh teknik tinju. Saat usianya 15 tahun, Andono bertekad untuk menseriusi hobinya tersebut. Dia bergabung dengan sasana tinju Taman Tirta Boxing (Gedung KNPI).


Selama bergabung, Andono terus berlatih. Berbagai teknik tinju dipelajarinya dengan baik. Mulai dari cara memukul hingga cara menghindari pukulan, dipelajarinya. Bukan itu saja, Andono yang duduk di kelas 3 SMP Widyagama Malang ini juga melatih fisiknya dengan lari dan beberapa olahraga lainnya.
Tidak hanya di Taman Tirta Boxing, Andono juga berlatih tinju di Arema Singo Edan Boxing dan Apache Boxing Camp. Hingga akhirnya tahun 1993 lalu, Andono mulai bertanding. Tidak seperti atlet tinju pada umumnya yang mengawali pertandingan di kelas amatir. Tapi Andono langsung terjun pada pertandingan tinju profesional.
”Kejuaraannya saya lupa namanya, yang jelas waktu itu dalam rangka HUT Kota Malang. Dan saya menjadi juaranya untuk kelas bulu yunior 55.5 kilogram,’’ jelasnya, sembari menyebutkan saat itu dia mengalahkan lawannya dari Surabaya di ronde ketiga pertandingan.
Prestasi gemilang yang diperoleh Andono membuat dirinya bersemangat. Hasilnya, dia pun makin giat berlatih. Bahkan, setiap event tinju, Andono juga meminta pelatihnya untuk menurunkan dirinya dalam pertandingan.
Luar biasa, hampir setiap event yang diikuti, Andono berhasil menyabet gelar juara. Bahkan, dia pernah dua kali menyabet gelar juara Brawijaya. Yaitu tahun 1995 dan tahun 1996. Selain itu tahun 1995, Andono juga menyabet juara nasional untuk pertandingan tinju bebas. Sementara tahun 1999, ayah dari Hanifah Zahra ini juga mendapat gelar juara nasional untuk kelas ringan, juara nasional untuk kelas welter yunior di tahun 2001.
”Hampir setiap kejuaraan tinju profesional yang saya ikuti saya menang dan menjadi juara,’’ tegasnya. Lantaran prestasi itu juga, tahun 1999 lalu, Andono pun dinobatkan sebagai atlet tinju terbaik oleh Wali Kota Malang. Saat ini, Andono mengatakan telah mengoleksi sembilan sabuk juara, puluhan medali serta piala.
Meski sudah banyak gelar juara diperolehnya, tapi saat itu pemerintah masih memandang sebelah mata terhadap prestasi atlet. Terbukti, satu-satunya penghargaan yang diperoleh Andono saat itu adalah uang pembinaan Rp 500 ribu serta piala saja. Hal inilah yang membuat Andono kecewa. Dia pun banting setir, yaitu menjadi pegawai di pemerintahan, yang dinilainya memiliki masa depan yang lebih jelas.
”Saya masuk Pemkot Batu ini tahun 2003. Diawali dari tenaga nonorer,’’ ujarnya.
Dia pun  memiliki cerita unik saat masuk menjadi tenaga honorer di Pemkot Batu. Yaitu dari awalnya dia menghadap Wali Kota Batu almarhum H Imam Kabul yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Tinju Indonesia (KTI) Malang Raya.
“Waktu itu saya menghadap untuk melapor jika saya menang dalam dua pertandingan tinju. Dan saat itu almarhum menawarkan saya untuk menjadi tenaga honorer dan ditempatkan di Satpol PP,’’ urai Andono.
Tawaran itupun langsung diterimanya. Ya, Andono yang saat itu sudah menikah dan memiliki satu orang anak tidak ingin menggantungkan hidupnya di tinju, yang tidak memiliki masa depan jelas. Sehingga dirinya pun menerima tawaran tersebut.
Andono sendiri tidak bisa lepas dari tinju. Dia tetap latihan hingga saat ini. ”Tahun 2007 saya ikut tes CPNS, dan tahun 2009 lalu saya resmi jadi PNS. Sekarang saya memiliki sasana tinju sendiri di rumah,’’ tambah Andono.
Darah tinjunya pun menurun kepada anak pertamanya, yaitu Taaruf. Bocah 14 tahun itu juga suka tinju, dan ingin seperti sang ayah. Bahkan, karena terus mendapatkan pelatihan intensif, Taaruf pun kerap ikut pertandingan. ”Tiga kali saya turunkan bertanding, tapi belum ada juara,’’ katanya.
Andono juga mengaku tidak melarang anaknya ikut tinju. Alasannya jelas, karena tinju bukanlah olahraga berbahaya. Jika dipelajari dengan baik dan benar, tinju bisa mencetak atlet yang profesional.
Andono juga berharap, pemerintah memperhatikan para atlet, terutama atlet tinju. Selama ini, banyak atlet tinju yang berprestasi, namun kecewa dan harus banting setir ke bidang lain lantaran tidak diperhatikan.
Bukan itu saja, dia juga berharap ada banyak pertandingan tinju digelar. Karena dengan banyaknya pertandingan akan merangsang atlet tinju untuk mencetak prestasi lebih baik.
Saat ini Andono telah menjabat sebagai Kasi Tibum. Tapi demikian, pria yang memiliki 41 anak buah ini sama sekali tidak pernah marah tanpa alasan. Dia juga tidak pernah main tangan dengan anak buahnya.
Sebaliknya, Andono mengatakan untuk menjalankan tugas, dia lebih memilih memberikan reward atau sanksi kepada anak buahnya jika melakukan kesalahan. Menurutnya hal tersebut lebih elegan, dan mendidik. ”Kebetulan meskipun saya mantan atlet tinju, bukan tipe yang temperamen. Saya mendidik anak buah dengan profesional,’’ tandas suami dari Istiani ini.(Ira Ravika/ary)

Kisah 52 Narapidana Lapas Lowokwaru luncurkan Buku

“Penyesalan, penyesalan dan penyesalan itu yang hanya saya rasakan berat menceritakan kisah ini karena pepatah ada yang mengatakan bahwa sebuas-buas harimau tidak akan pernah memakan anaknya”

Sepenggal paragraf tersebut menggambarkan sebuah perasaan menyesal. Penyesalan yang datang dari seorang warga binaan Lapas Kelas I Lowokwaru yang sebelumnya tidak pernah terdengar bahkan terucapkan sebelumnya.
Adalah Denny, seorang petani asal Sukun yang saat ini tengah menjalani masa hukuman penjara selama 10 tahun lamanya akibat tidak sengaja melakukan aksi kekerasan yang mengakibatkan kematian buah hatinya sendiri.


Penggalan kalimat penyesalan yang menyayat hati tersebut tertuang dalam sebuah buku kumpulan kisah Warga Binaan Lapas Kelas I Lowokwaru. Namun, kisah penyesalan tersebut tidak hanya datang dari Denny seorang. Sejumlah 52 warga binaan Lapas Kelas I Lowokwaru pun ikut menumpahkan isi hatinya dalam buku tersebut.
Sebuah kisah berjudul “Sebuah jati diri itu Kutemukan di Penjara” pun turut menggugah perasaan para tamu undangan Lapas Kelas I Lowokwaru saat peluncuran buku ini, Rabu (27/4). Sebuah kisah dari seorang warga binaan asal Lumajang bernama Sodikin tersebut menceritakan dengan jelas bagaimana jati diri yang sebelumnya tidak ia miliki, didapatkannya di balik jeruji besi.
Sama halnya dengan Denny, Sodikin pun memiliki kisah yang meyesakkan pula. Ia yang dulunya bekerja serabutan, tega mengakhiri hidup saudaranya sendiri akibat dituduh mengusir kedua orang tuanya. Tetapi, kehidupan penjara yang dijalaninya malah membuatnya semakin dekat dengan sang pencipta. Terbukti, saat ini di Lapas ia dipercaya menjadi pelayan pesantren lapas Lowokwaru.
“Orang yang tidak pernah menderita tidak akan pernah merasakan kebahagian, air mata yang menetes akan tergantikan dengan sesuatu kebahagiaan esok nanti bila kita ihklas menjalani. Rencana kita sangat indah namun rencana allah akan lebih indah pada waktunya” tulis Sodikin yang divonis 10 tahun lamanya.
Yang menarik lagi adalah sebuah kisah yang ditulis oleh mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri, Gama Mulya, yangbaru-baru ini dibui akibat tindakan asusila. Gama sapaan akrabnya di Lapas, menuliskan bagaimana kehidupannya berubah 180 derajat saat berada di lapas dan jauh dari kehidupannya yang dahulu.
Saat ditemui, Gama mengakui bahwa tidak pernah menjalani kehidupan sekeras saat dipenjara. Tetapi, ia kemudian menceritakan bahwa semua orang dapat berubah. Sesuai keahliannya dalam bidang studi IT dan Translator, dirinya dapat mengembangkan skillnya tersebut dalam membantu petugas lapas di bidang administrasi dan pengarsipan.
“Disini saya dapat belajar banyak. Walaupun dipenjara saya masih ingin meneruskan cita-cita melanjutkan studi pasca sarjana dan membangun dan melanjutkan perusahaan milik orang tua saya,” tutur pria yang dikenakan pasal 285 KUHP ini.
Kepala Lapas Kelas I Lowokwaru, Krismono, Bc. IP., SH., mengatakan begitu banyak kisah warga binaannya yang sebenarnya sangat inspiratif dan layak untuk dibagi kepada khalayak umum. Begitu pula dengan keingin warga binaan untuk berkreasi pun sangat besar.
Hal ini lah yang menginspirasinya untuk mewadahi warga binaannya dalam berkarya. Dengan membentuk tim creative terdiri dari 52 warga binaan, Krismono menggerakkan tim tersebut untuk berbagi kisah.
“Kebetulan bertepatan dengan hari bhakti permasyarakatan ke 52. Disini kami mau menunjukkan bahwa warga binaan juga dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat diluar sana. Hanya dalam waktu satu bulan buku ini dapat selesai,” tutur mantan Kalapas Banyuwangi ini.
Yang patut diapresiasikan adalah antusiasme warga binaan yang ingin berpartisipasi dalam pembuatan buku tersebut. Dengan senyum yang sumringah ia menceritakan bahwa pihaknya bersama tim creative sempat kewalahan dalam memilih cerita mana yang akan dipilih. Pasalnya sangat banyak warga binaan yang mengirimkan cerita dan kisahnya.
“Jadi kisah-kisahnya benar-benar di pilih yang menarik dan inspiratif supaya menginspirasi banyak orang,” tutur Krismono.
52 kisah Warga Binaan Lapas Kelas I Lowokwaru Malang menceritakan berbagai macam pengalaman mulai dari pasal yang menjadi perkara sampai kesan-kesan dan harapan yang diinginkan warga binaan selama berada dalam lapas.
Dan bagi lapas dapat menjadi “cermin” sebagai apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembinaan dan kegiatan kerja serta apa yang harus dikerjakan berdasarkan masukan 52 kisah warga binaan tersebut.
Anggara Sudiongko
Caption Foto: (1) Gama Mulya, yang menjadi salah satu tim penulis buku “52 Kisah WBP Lapas I Malang. (2) Warga binaan Lapas Kelas I Lowokwaru Malang yang memiliki 1001 kisah inspiratif.

Konser dan Pengajian di Renon, Kental Nuansa Ngalaman


Sejarah berdirinya Yayasan Arema Dewata ternyata sama tuanya dengan sejarah klub sepak bola Arema. Berdiri tahun 1987, Yayasan Arema Dewata lahir hampir berbarengan dengan Singo Edan yang didirikan mendiang Lucky Acub Zaenal. Memasuki usia 29 tahun, Yayasan Arema Dewata telah memiliki anggota resmi 1.400 orang. Berikut catatan fotografer Malang Post Ipunk Purwanto ke Pulau Bali bersama Frontman d’Kross Ade Herawanto.

Nyala kembang api memerah di bawah panggung silaturahmi d’Kross-Yayasan Arema Dewata, Minggu malam, 24 April 2016. Raungan suporter saling bersahutan. Festival sorakan seperti orang kesetanan terjadi di gedung wanita Narigraha, Renon Denpasar. Dari situ kadang hanya terdengar suara datar, keras dan sekelompok massa berteriak. Suara nafas dan semburan, seperti orang yang tercekik lehernya.

Ini bukanlah tentang kata-kata, tapi teriakan histeris dalam bahasa mistis. Edan. Mereka para pemuja singa bola yang berpesta tanpa rasa sesal, tanpa dukacita. Kaki Ade Herawanto memijak sound. Sholawat Bani Hasyim menggaung dari mulutnya. “Allaahumma shalli’alaannabiyyil hasyimiyyi, Muhammadiw wa’alaa aalihi wa sallim tasliima,” ujar Ade D’Kross yang membuat Aremania makin liar memekikkan keriuhan.
Silaturahmi d’Kross dan Yayasan Arema Dewata begitu kental dengan suasana Malangan. Pertemuan antara komunitas d’Kross dan yayasan Arema Dewata, menandai kerinduan pertemuan para saudara di bawah satu nama, Malang. Silaturahmi tersebut juga membuat Malang Post yang berada langsung di sana, terkesima.
Betapa Yayasan Arema Dewata telah mengakar dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Arek-Arek Malang yang hidup merantau di pulau dewata. Begitulah adanya. Yayasan suporter Arema tertua di Indonesia ini menyimpan berbagai kisah. Ketua Paguyuban Arek Malang sekaligus merangkap Ketua Yayasan Arema Dewata, Hari Ali Asrori alias Sam Dawir pun mengisahkan perjalanan kelahiran yayasan ini.
“Sesaat setelah klub sepak bola Arema lahir, Yayasan Arema Dewata ikut lahir. Kita sama-sama lahir pada tahun 1987,” kata Dawir kepada Malang Post.
Yayasan Arema Dewata lahir bukan tanpa sebab. Pada saat itu, Bali sudah dihuni begitu banyak Lembaga Swadaya Masyarakat, yang pada prakteknya tidak sah atau ilegal.
Para pendiri Yayasan Arema Dewata tidak mau Arek Malang mendapat stigma jelek dari masyarakat asli Bali. Sehingga, tahun 1987 kumpulan Arek Malang  di Bali membuat Yayasan Arema Dewata. Setelah hampir 25 tahun berdiri dan memakai payung yayasan, Arema Dewata resmi terdaftar di Kemenkumham pada tahun 2012.
“Kita meresmikan Yayasan Arema Dewata lewat notaris. Kita meresmikan Yayasan Arema Dewata dengan payung hukum, karena saat ini banyak LSM ilegal di Bali. Kita harus melegalkan status supaya tidak dianggap sama dengan LSM-LSM tidak jelas tersebut,” urai Dawir.
Pria kelahiran 1960 itu mengungkapkan, saat ini Yayasan Arema Dewata telah memiliki anggota resmi 1.400-an orang. Yayasan Arema Dewata terbagi menjadi 14 korwil untuk menampung 1.400 anggota tersebut. Mereka terbagi menjadi beberapa wilayah di seluruh penjuru Bali, mulai dari Kuta, Denpasar hingga Singaraja.
Menariknya, 40 persen dari anggota Yayasan Arema Dewata bukanlah orang Malang. Sebaliknya, hampir separuh Yayasan Arema Dewata merupakan orang luar kota yang mencintai Arema. “Sekitar 40 persen dari total anggota 1.400 adalah orang dari luar Malang. Mereka dari kota-kota lain, terutama Jawa Timur. Mulai dari Banyuwangi, Kediri hingga Situbondo,” kata Dawir.
Keikutsertaan warga dari kota lain dalam Yayasan Arema Dewata juga memiliki alasan khusus. Yayasan Arema Dewata mau memfasilitasi sesama perantau yang belum dapat pekerjaan. Mereka juga ikut membantu anggota yang terkena musibah. Dawir menyebut Yayasan Arema Dewata harus fungsional dan bermanfaat.
“Karena alasan ini juga, kami membuat Yayasan Arema Dewata resmi dan legal. Kami ingin yayasan semakin efektif membantu warga perantauan dan Aremania yang datang mencari pekerjaan di Bali. Mereka merasa diayomi dan dilindungi, sehingga akhirnya bergabung,” sambung Dawir.
Menurut pria asal Jodipan gang tiga tersebut, Arema bukan sekadar baju kostum sepak bola atau klub. Arema sudah menjadi identitas yang tak terpisahkan dari Arek-Arek Malang. Identitas Arema pun tak akan bisa lepas meski mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda di penjuru Malang Raya.
“Ketika berada di perantauan, asal kota atau desa tidak penting lagi. Arek Malang yang merantau, hanya disebut dengan satu nama, Arema. Tidak ada lagi Arek Jodipan, Gadang, Turen, Sumawe, Nenjap. Arek Malang di perantauan ya dipanggil Arema,” tambah pria sawo matang dengan kumis tebal itu.
Dawir menambahkan, silaturahmi dengan d’Kross ini menjadi obat rindu Arek Malang perantauan di Bali. Dengan musik rock khas d’Kross yang dibawakan di pulau dewata, Aremania yang ikut dalam silaturahmi, bisa sedikit menghirup atmosfer kandang singa yang lama tak mereka kunjungi.(Ipunk Purwanto/fin/ary)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL