Malang Post

Features


Mengungkap Hubungan Historis Hadramaut dan Nusantara (habis)

Share
Hubungan klasik antara Hadramaut dan Nusantara dibuktikan dengan fakta lain. Beberapa kata dari bahasa Indonesia, bahkan Jawa, menjadi bahasa prokem orang Hadramaut, sampai saat ini. Apa saja? Berikut ulasan terakhir Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi, Alumni Universitas al-Ahgaff, Yaman yang juga Pengurus Himpunan Mahasiswa dan Alumni al-Ahgaff Yaman (HIMMAH) di Indonesia, disampaikan khusus kepada Malang Post.
 
 “Susah-susah kita ngapalin bahasa Arabnya sarung itu izar, eh di sini yang dipakai kata ‘sarung’ juga,” kelakar teman saya dari Lombok, saat mendapati sebagian kata dalam bahasa Indonesia, ternyata dipakai oleh sebagian orang Hadramaut.
Selain kata ‘sarung’, bahasa Indonesia yang dipakai dalam bahasa sehari-hari oleh hadhrami (orang Hadramaut, red.) adalah kata ‘sambal’, ‘sandal’, ‘kerupuk’, ‘plafon’, ‘selimut’, dan sebagainya. Bahkan untuk kata terakhir (selimut), tidak hanya bahasa Indonesia yang mereka pakai, tapi juga bahasa Jawa, yakni ‘kemul’. Hanya saja, barangkali karena sulit melafalkan dengan tepat, mereka mengatakan ‘qanbul’. Bila selimutnya banyak, mereka mengatakan ‘qanabil’. Padahal menurut bahasa fushah (yang benar), ‘qanabil’ adalah bentuk plural dari ‘qunbulah’ yang berarti ‘bom’. Sangat jauh makna dan kegunaannya dengan selimut.
Bila orang Hadramaut mengajak berfoto bersama, biasanya mereka mengatakan, “Yallah, natagambar (ayo, kita berfoto)”. Mereka menyebut ‘kita berfoto’ dengan istilah ‘natagambar’. ‘Na’ berarti kita, sedang ‘gambar’; yang dimaksud adalah bahasa kita, yakni foto.
Fakta bahasa serapan dari bahasa Indonesia dan Jawa ini menjadi dalil bahwa ikatan historis Hadramaut dan Indonesia memang telah berlangsung lama. Dengan kata lain, kata-kata dari bahasa Indonesia atau Jawa itu tidak dipakai barusan saja, yakni saat pelajar Indonesia mulai membanjiri Hadramaut sejak 1995, namun memang sudah dipakai sejak baheula.
Setidaknya ada dua bukti untuk menjelaskan hal itu. Pertama, ada kata dalam bahasa Jawa yang dipakai orang Hadramaut, yang justru telah dilupakan oleh sebagian orang Jawa sendiri. Kata itu adalah ‘sengkeh’. Syaikh Muhammad Ali Ba'udhan, seorang Mufti Tarim yang juga dosen Universitas al-Ahgaff Hadramaut, saat menyampaikan perkuliahan, sering menyebut kata itu. Ketika saya tanyakan pada teman-teman dari Yaman –paling tidak setengah tahun kami harus ‘belajar’ bahasa-bahasa prokem Hadramaut untuk memahami ucapan dosen-, mereka justru balik bertanya, “Bukannya itu bahasa kalian (orang Jawa, red)?”
Setelah menggali informasi dari beberapa teman Indonesia, ternyata kata ‘sengkeh’ memang berasal dari bahasa Jawa agak kuno dan kini jarang dipakai. Di Hadramaut, kata itu justru masih diucapkan sehari-hari. ‘Sengkeh’ sendiri artinya ngeyel alias sulit diatur.
Kedua, pengguna kata-kata serapan dari Bahasa Indonesia dan Jawa itu ternyata bukan hanya masyarakat perkotaan. Orang-orang badui (Arab udik) pun menggunakan kata-kata itu. Hal ini mendalilkan bahwa penyerapan bahasa itu telah terjadi sekian lama dan meluas, karena pelajar Indonesia yang banyak datang ke Hadramaut, bermukim di daerah perkotaan, bukan di pedalaman.
Saya punya pengalaman unik ketika selama hampir dua bulan tinggal di sebuah desa bernama Khuraibah di wadi (lembah) Dou’an. Daerah ini masuk kategori Hadramaut ad-Dakhil alias pedalaman Hadramaut. Saya dan beberapa teman berada di sana untuk mengisi liburan musim panas dengan praktik mengajar anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).
Selama dua hari kami menempuh perjalanan dari Tarim untuk sampai ke Khuraibah. Bila memakai mobil pribadi mungkin tidak selama itu kami harus menempuhnya. Namun karena belum terdapat angkutan umum dan kondisi jalan kebanyakan makadam (belum diaspal), kami harus pindah dari mobil satu ke mobil yang lain. Terkadang menumpang mobil yang mengangkut barang dagangan. Terkadang menumpang mobil yang mengangkut hewan ternak. Terkadang juga harus berjalan kaki untuk menunggu mobil tumpangan. Wal hasil, desa yang kami datangi benar-benar di pelosok dan belum dimasuki aliran listrik.
Selama tinggal di daerah pedalaman inilah, kami dapati ternyata kata ‘selimut’, ‘qanbul’, ‘sarung’, juga dipergunakan masyarakat setempat. Kami juga memiliki pengalaman lucu terkait bahasa serapan ini. Selama di sana, kami tinggal di asrama ma’had atau pesantren yang ada di atas masjid yang berdiri di lereng bukit. Pesantren ini milik Sayyid Hamid al-Jailani, adik Sayyid Umar al-Jailani, pimpinan Majlis al-Umana’ (Majlis Amanah) Universitas al-Ahgaff. Sayyid Umar sendiri sering datang ke Indonesia, terutama pada acara Majlis al-Khidmah asuhan almarhum KH Asrari Al Ishaqi, Kedinding Surabaya.
Singkat cerita, di daerah pelosok Hadramaut itu, karena belum ada listrik, kami memakai petromak. Pada suatu malam, kaos petromak kami jatuh dan otomatis tak dapat lagi digunakan. Akhirnya, saya dan teman asal Lampung bermaksud membeli barang itu di pasar desa. Tapi, teman saya berpikir, “Apa bahasa Arabnya kaos itu?” Maklum, kaos di Indonesia kini jadi “barang langka” karena sudah jarang orang yang memakai petromak, dan saat di pesantren di Indonesia dulu, kami tidak pernah mempelajari maknanya dalam bahasa Arab.
Akhirnya kami putuskan, kita berangkat saja ke pasar. Urusan apa bahasa Arabnya ‘kaos’, kita terangkan saja sifat-sifatnya. Nanti orangnya juga bakal ngeh.
Sesampainya di salah satu toko yang terletak di dasar lembah, kami sampaikan ‘isi hati’ kami. Dalam bahasa Arab, kami jelaskan, “Pak, kami ingin membeli sebuah barang, warnanya putih, nempel di petromak, dari benda itu keluar cahaya, namun jika ia jatuh dan rusak, cahayanya mati.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, si penjual dengan ringan menyimpulkan, “Oh, batasytari kaos (Oh, kamu mau beli kaos).” Lah, ia menyebut ‘kaos’ dalam bahasa Arab itu juga ‘kaos’.
Hadharim memakai kata-kata bahasa Indonesia dan Jawa itu, salah satunya, karena hubungan dagang yang sangat lama. Pasalnya, kata-kata serapan itu rata-rata adalah komoditi perdagangan. Sejak ratusan tahun lalu, pedagang dari Hadramaut datang ke Nusantara untuk berdagang, dan kembali ke negerinya dengan membawa barang-barang dari Indonesia. Secara turun temurun, kata-kata itu digunakan, tidak hanya di daerah perkotaan, namun juga oleh orang Hadramaut pedalaman.
Fenomena ini menunjukkan timbal balik dari proses akulturasi budaya. Karena selain bahasa Indonesia diserap oleh Hadrami, banyak kata bahasa Indonesia (Melayu) yang juga merupakan kata serapan dari bahasa Arab.
Dalam proses akulturasi budaya bahasa inilah, kata-kata dari Indonesia dan Jawa melengkapi khazanah bahasa ‘amiyah di provinsi terbesar di Yaman ini. Jika bahasa menujukkan budaya, siapa bilang budaya kita tak mampu pengaruhi negara lain? (red/habis)
comments

Mengungkap Hubungan Historis Hadramaut dan Nusantara (1)

Share
Konflik Yaman berimbas pada ratusan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu, di berbagai lembaga pendidikan di negeri ujung selatan Jazirah Arabia tersebut. Sebagian pelajar telah dievakuasi, namun banyak yang masih bertahan di sana. Berikut tulisan Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi, Alumni Universitas al-Ahgaff, Yaman yang juga Sekretaris Jenderal Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman (2002-2003), disampaikan secara khusus kepada Malang Post.  

Memahami konflik yang terjadi di Yaman saat ini, harus dipetakan dua hal mendasar, yaitu peta geografis konflik dan peta ideologis Yaman. Kedua pemetaan ini berguna untuk menilai konflik tersebut secara tepat, karena terkait secara tidak langsung dengan pelajar dan warga negara Indonesia  (WNI) di negeri Ratu Bilqis itu.
Dilihat dari geografis Yaman, warga negara Indonesia di negeri ini pada umumnya berada di empat wilayah di Yaman, yaitu Ibukota Sana’a, Hudaidah, Hadramaut, dan Aden. Meski terdapat pelajar di wilayah selain keempat kota itu, namun jumlahnya tidak besar. Sementara dari semua wilayah tersebut, pelajar Indonesia banyak terpusat di Hadramaut. Dapat dikatakan, dari sekitar total empat ribu WNI di Yaman, 75 persen terfokus di Hadramaut.
Operasi Badai Penghancur (Ashifat al-Hazm) yang digelar aliansi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi, selama ini terjadi di Sana’a, Hudaidah, dan Aden. Oleh karena itu, WNI yang dievakuasi pada tahap pertama, adalah mereka yang tinggal di Sana’a dan Hudaidah. Sementara WNI yang berada di Aden, proses evakuasi tidak selancar penyelamatan WNI di Sana’a dan Hudaidah, karena kondisi keamanan di kota pelabuhan itu. Namun dikabarkan Senin (13/4), sekitar 90 WNI di Aden telah terevakuasi, melalui Jibouti yang ada di Afrika. Antara Aden dan Jibouti, ‘hanya’ dipisah oleh Laut Merah.
Bagaimana dengan pelajar Indonesia di Hadramaut? Secara geografis, sebenarnya letak Hadramaut jauh dari wilayah konflik, yaitu sekitar 1.300 Km. Namun, rupanya pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mengevakuasi pelajar yang berada di provinsi yang memiliki ikatan historis dengan Nusantara ini. Selama ini, pelajar Indonesia menuntut ilmu di tiga perguruan yang terdapat di Hadramaut, yaitu Rubath Tarim, Darul Mushthafa, dan Universitas al-Ahgaff.
Secara ideologi, ketiga perguruan di Hadramaut itu sama sekali tidak terkait dengan dua pihak yang bertikai. Baik Rubath Tarim, Darul Mushthafa, dan Universitas al-Ahgaff, memiliki paham Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang moderat, sehingga sejak lama menjadi tujuan belajar masyarakat Indonesia.
Dari ketiganya, perguruan yang paling tua adalah Rubath Tarim. Usianya lebih dari satu abad. Masyarakat Indonesia, terutama dari kalangan habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW), sejak lama menjadikan Rubath Tarim sebagai tempat belajar.
Beberapa ulama kesohor dari Indonesia merupakan alumni lembaga pendidikan yang berada di pusat kota Tarim ini. Sebut saja Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Jakarta. Sementara dari Malang, ulama masyhur yang merupakan alumni Rubath Tarim adalah Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, pendiri Ma’had Darul Hadits al-Faqihiyah Jalan Aris Munandar.
Pendidikan di Yaman sempat terhenti di masa komunisme di wilayah Selatan. Namun sejak paham ini tumbang dan negeri ini aman, sejak 1995, berdiri lembaga-lembaga pendidikan baru, misalnya Darul Mushthafa dan Universitas al-Ahgaff tersebut.
Meski secara geografis berjauhan dari wilayah konflik, dan secara ideologis tidak terkait sama sekali dengan kedua kubu yang bertikai, namun sebagian pelajar Indonesia memutuskan mengikuti evakuasi yang dicanangkan pemerintah dalam beberapa tahap.
Pelajar Indonesia di Fakultas Syariah Universitas al-Ahgaff, Tarim, yang mengikuti evakuasi sejumlah 325 orang. Sementara di Ibukota Provinsi Hadramaut, Mukalla, total mahasiswa yang dievakuasi, baik dari Universitas al-Ahgaff, Universitas Imam Syafi'i, dan pekerja Indonesia sekitar 150 orang.
Sedangkan dari Darul Mushthafa, pelajar yang mengikuti evakuasi sekitar 60 orang.  Itu artinya, masih lebih banyak yang memilih tetap tinggal dan belajar di perguruan Islam asuhan Habib Umar bin Salim bin Hafizh ini.
Alasan keikutsertaan pelajar dalam evakuasi adalah karena permintaan orang tua di tanah air. “Sebagian mereka memang ingin pulang, atau diminta pulang karena kekhawatiran orang tuanya,” kata Faiz Nur Kholis, Mantan Ketua PPI Yaman yang baru kembali ke tanah air sekitar satu bulan, dalam acara Temu Kangen Alumni Universitas al-Ahgaff, di Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Lebo Kota Sidoarjo Jatim, Ahad (12/4).
Menurut mahasiswa pascasarjana al Ahgaff asal Brebes Jawa Tengah ini, Rektor al Ahgaff Prof Abdullah Muhammad Baharun memang tidak melarang mahasiswa Indonesia untuk pulang ke tanah air. Menurut Faiz, mahasiswa yang khawatir, entah itu kekhawatiran dari pihak orang tua, memang dipersilakan pulang tanah air. Namun yang merasa tenang, hendaknya menunggu dan melanjutkan studinya di Hadramaut.
Hadramaut sampai saat ini pun kondisinya aman, termasuk ibukota provinsi Mukalla. Meski sempat ada pengeboman salah satu penjara di kota di bibir laut Arab ini, namun kejadian itu tidak ada kaitannya dengan konflik yang ada di Sana'a dan sekitarnya.
Ashfiyaurrahman, mahasiswa pascasarjana Universitas al-Ahgaff yang tidak mengikuti evakuasi, dalam pesan yang dikirimkan via ponsel menyatakan, kondisi di Mukalla saat ini kondusif dan warga pun beraktifitas seperti biasa.

Nasib Pendidikan Pelajar yang Dievakuasi

Pada Ahad (12/4), puluhan alumni Universitas al Ahgaff menggelar pertemuan di Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Lebo Kota Sidoarjo, Jatim. Pada pertemuan tersebut, diagendakan beberapa acara, yaitu evaluasi program kegiatan alumni dan pernyataan sikap terkait evaluasi sebagian pelajar Indonesia di Yaman.
Sebelumnya, Kamis (9/4), pelajar Indonesia di Hadramaut melayangkan Surat Terbuka kepada presiden, menteri, para cendekia, dan masyarakat Indonesia secara umum. Surat itu ditandatangani pimpinan lima organisasi pelajar Indonesia di Hadramaut, yaitu Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU), Front Mahasiswa Islam (FMI), Forum Lingkar Pena (FLP), Asosiasi Mahasiswa  Indonesia (AMI) al-Ahgaff, dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadramaut. Isinya memohon kebijakan pemerintah Indonesia untuk menjamin fasilitas dan biaya pelajar yang dievakuasi, yang akan kembali ke Yaman saat kondisi negara tersebut dinilai aman.
Menegaskan surat ini, Himpunan Alumni dan Mahasiswa al-Ahgaff (HIMMAH) di Indonesia, mengeluarkan surat permohonan senada kepada pemerintah Indonesia. Permohonan jaminan biaya kembali ke Yaman saat kondisi dinilai aman tersebut berdasarkan beberapa pertimbangan: pertama, keberlangsungan pendidikan mereka di Yaman merupakan hal penting, selain keselamatan jiwa mereka.
Kedua, tidak semua pelajar yang mengikuti evakuasi tersebut berasal dari keluarga mampu, sehingga diperlukan bantuan pemerintah untuk memfasilitasi keberlanjutan pendidikan mereka.
Ketiga, Hadramaut secara umum, dan Tarim secara khusus, memiliki hubungan historis-agamis dengan umat Islam Indonesia sejak era masuk dan berkembangnya Islam di tanah air, berdasarkan paham Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang rahmatan lil ‘alamin, tawazun (berimbang), tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), sehingga menjadi pertimbangan utama mereka untuk menempuh pendidikan di salah satu propinsi di Yaman ini.
Menurut ketua HIMMAH Jatim, Aria Muhammad Ali, poin ketiga ini perlu ditegaskan. Sebab, terdapat pihak yang mengarahkan para pelajar yang dievakuasi itu untuk melanjutkan pendidikan di tempat atau negara lain.
 “Pelajar Indonesia belajar di Hadramaut, Yaman itu memiliki pertimbangan sendiri. Selain masalah teknis, di mana mereka sudah melewati sekian semester masa studi, iklim dan lingkungan pendidikan di sana juga sangat kondusif. Antara Hadramaut dan Nusantara memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat,” jelas Aria.
“Paham keagamaan, bahkan tradisi keagamaan antara Indonesia dan Hadramaut juga punya banyak persamaan,” pungkas putra Gus Ali Tulangan Sidoarjo ini. (bersambung/udi)
comments

Dua Tahun Raih 80 Piala, Akhir Pekan Dipakai untuk Berlomba

Share
Jova Andarista selalu menolak ketika diajak orang tuanya untuk mengikuti lomba mewarnai di sekolahnya. Berbagai alasan dia lontarkan, mulai dari sakit perut, sakit gigi dan alasan-alasan lain yang sebenarnya orang tua dia tahu bahwa alasan tersebut dibuat-buat. Hingga pada suatu hari, Jova melakukan semacam transaksi kepada sang ayah, Joni Santoso. Jova meminta satu paket krayon yang baru dia lihat di televisi.

Deal! Permintaan Jova dipenuhi Joni. Warga Jl Pelabuhan Bakauheni 12, RT 5 RW 6, Bakalan Krajan, Sukun, Kota Malang ini, langsung membelikan Jova krayon, sesuai dengan permintaan anaknya. Dengan catatan, Jova mau mengikuti sanggar menggambar dan mewarnai yang berada di Ngaglik, Sukun, Kota Malang, yaitu Sanggar Ceria.
Permintaan Joni bukan tidak beralasan. Joni melihat bakat tersebut di putri kecilnya. Waktu pertama kali mengikuti salah satu lomba di TK-nya, TK ABA 28, Sukun, Kota Malang, Jova langsung mendapat juara, meski bukan juara pertama. Saat itu, sang juri menganggap bahwa Jova memiliki bakat di seni lukis.
Benar saja, sejak Jova rutin berlatih mewarnai dan menggambar, bakat Jova semakin hari semakin terasah. Bakat bawaan Jova, ditambah latihan dan pengembangan teknik Jova, membuat siswi kelas II di SDN Bandungrejosari 1 ini, kini memetik hasilnya. Kini, puluhan piala dari berbagai lomba menumpuk di rumahnya.
Jova memang baru berusia 8 tahun. Putri kelahiran 12 Februari 2007 ini juga baru 2,5 tahun menggeluti hobi mewarnai dan menggambar. Namun, Jova sekarang sudah berhasil meraih puluhan piala penghargaan.
Di rumahnya saja, ada sekitar 60 piala hasil dia mengikuti lomba. Belum ketambahan piala-piala yang dia berikan ke sekolah. Ada sekitar 15 piala yang dia berikan ke TK dan enam lainnya diberikan ke SD. Sertifikat penghargaan, juga menumpuk di rumah putri pasangan Joni Santoso (35) dan Suci Ponco (33) itu. Sekarang, mewarnai dan menggambar menjadi hobi Jova.
Saat ditemui Malang Post di kediamannya, Jova tampak malu-malu. Anak perempuan yang berperawakan kurus dan berambut sebahu ini, selalu bersembunyi di belakang ibunya, Suci Ponco. "Senang saja, emang hobi," kata Jova singkat saat ditanyai kenapa dia sering mengikuti lomba mewarnai dan menggambar.
"Sulit waktu menebalkan garis, capek," tambah dia menjelaskan apa kesulitannya saat menggambar. Meski mengalami kesulitan, tapi tetap saja hasil gambar Jova hampir selalu mendapat penghargaan. Bahkan, tidak hanya di Malang, Jova juga sering ikut lomba di luar kota, seperti Surabaya, Sidoarjo, sampai Jember.
Hampir setiap hari Minggu, dia menghabiskan waktu untuk mengikuti lomba. Ayahnya Joni, juga rajin mencarikan info lomba mewarnai di Malang, maupun luar Malang. Kemudian, dia tawarkan ke Jova, bila mau mereka siap untuk berjuang menjadi juara di lomba tersebut. "Tapi sebagian besar Jova selalu mau," kata Joni.
Jova sendiri, mengaku bingung kalau setiap akhir pekan tidak ikut lomba. Tangannya sudah terbiasa untuk mengarsir gambar dengan crayon kesayangannya. Setiap lomba, dia bisa menghabiskan waktu 1,5 sampai tiga jam. Hasilnya? Memuaskan. Dari berbagai lomba yang dia ikuti, hampir semua mendapatkan penghargaan.
Ya, Jova masih duduk di kelas II SD, tapi dia sudah bisa meringankan beban orang tua. Untuk membeli pakaian, buku-buku sekolah, sampai tablet sekalipun, dia beli dari hadiahnya saat menjadi juara. "Bahkan, dia pernah merayakan ulang tahunnya pakai hasil hadiah. Tapi memang sering dipakai untuk belanja. Jova senang belanja," kata Suci sambil tertawa kecil.
Setiap lomba, Suci selalu menemani Jova. Meski saat lomba berlangsung dia hanya bisa melihat dari kejauhan, tetap saja Suci selalu berharap anaknya bisa menjadi juara. Di antara pengalaman saat menemani Jova ikut lomba, ada pengalaman yang paling tak bisa dia lupakan.
Saat itu Suci mengantar Jova mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan dari Jakarta.  Lomba tersebut itu diselenggarakan di Malang Town Square (Matos). Saat itu Suci ingat sekali, batas waktu lomba mewarnai ini hanya satu jam.
"Waktu itu saya dengar, ada orang tua dari sanggar lain sedang membicarakan Jova. Dia meremehkan anak saya," jelas Suci. Dilanjutkan, orang tua itu meremehkan Jova yang mulai mewarnai dengan menggaris-garisi gambar. "Dia meremehkan. Dia mengatakan saat itu anak saya tidak akan menang," tambah Suci bernada emosi.
Tapi buktinya, kata Suci, saat diumumkan anaknya malah mendapat juara lebih tinggi. Jova saat itu mendapatkan juara II, sedangkan anak orang tua yang meremehkan Jova, hanya mendapat juara harapan II. "Saya hanya bersyukur, anak saya bisa sukses," kata Suci.
Lebih lanjut, dalam mengikuti lomba, Jova tidak selalu bersaing dengan anak-anak sepantarannya. Jova juga sering ikut lomba yang seharusnya baru bisa diikuti oleh anak kelas III, IV dan V. Tapi toh, saat itu Jova malah menjadi juara I. "Jova dipuji juri, katanya gambar Jova bukan gambar anak-anak," ungkap Suci.
Puluhan piala yang dikumpulkan Jova kini tersusun rapi di rumahnya. Saat mendatangi rumahnya ini, berjejer piala-piala, sertifikat, serta karya Jova yang dipigura. Setiap anak-anak yang berkunjung ke rumah ini, pasti kaget melihat prestasi Jova yang masih kecil itu.
Prestasi-prestasi Jova saat ini memang masih berskala kota/kabupaten saja. Meski begitu, jalan Jova masih panjang. Suatu saat, Jova akan membuktikan kemampuannya di skala yang lebih besar.
Sinyal itu pun sempat ada. Jova pernah dipilih menjadi perwakilan Kota Malang untuk mengikuti lomba skala yang lebih besar di Yogyakarta. Akan tetapi, karena saat itu akomodasi untuk ke sana ditanggung sendiri, akhirnya Jova batal. Pihak sekolah juga enggan memberi bantuan dana. Padahal, bila Jova menang dalam kompetisi di Yogyakarta, Jova berhak mewakili Indonesia di Singapura dan berkesempatan menjadi duta pelajar.
"Tapi sayangnya kami tidak bisa ikut, karena tidak punya dana. Pihak sekolah juga tidak memberi bantuan meski ketika Jova menang, nama baik sekolah akan dibawa. Ya sudah, masih ada kesempatan lain. Saya cuma ingin anak saya sukses," imbuh Joni seraya memeluk mesra anak satu-satunya itu.
Kini selain mewarnai di media kertas, Jova juga sudah mulai melukis di media seni rupa, seperti pot, maupun benda-benda dari tanah liat. Selain itu, Jova juga sudah  mulai belajar menggambar sendiri. (Muhamad Erza Wansyah/ary)
comments

Hangat Tanpa Sekat, Rapat Penuh Kekeluargaan

Share
Arema menorehkan tinta sejarah rekonsiliasi. Para pengurus Yayasan Arema Indonesia pemegang sah saham 93 persen PT Arema Indonesia berkumpul dalam satu ruangan. Sore kemarin, tembok-tembok ruangan tamu kediaman dinas H Rendra menjadi saksi bisu pertemuan rekonsiliasi H Rendra Kresna, Gunadi Handoko sebagai wakil M Nur, Bambang Winarno, Andi Darussalam Tabusala dan Iwan Budianto.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Hujan deras mengguyur kantor Bupati Malang Jalan Agus Salim 7. Rontokan dedaunan bercampur dengan gelontoran air yang mengalir di aspal halaman rumah dinas bupati. Di tengah bisingnya air yang menghantam genteng, para ajudan dan keamanan bupati, tampak duduk santai di kantor sebelah rumdin.
Di depan kantor ajudan, tampak mobil-mobil dinas dan plat hitam berjajar. Satu di antaranya, sebuah mobil mewah berwarna hitam milik CEO Arema Iwan Budianto. Para ajudan tampak santai di ruangan luar kantor. Mereka nonton laga hari terakhir QNB League, antara PSM lawan Sriwijaya FC. Pun, beberapa orang juga duduk-duduk di sofa ruang tamu kantor. Mereka semua tenang namun tetap waspada. Sebab, ada pertemuan penting yang terjadi di ruangan sebelah. Para pengurus Yayasan Arema Indonesia yang jadi pemegang saham terbesar PT Arema Indonesia, sedang rapat rekonsiliasi Arema.
Rapat digelar tertutup. Namun, saat Malang Post menunggu sejenak di luar ruangan H Rendra Kresna, CEO Arema Iwan Budianto tiba-tiba keluar bersama Manajer Legal Eko Prasetyo dan Ketua Panpel Abdul Harris. IB tampak serius berbincang dengan dua orang itu.
Setelah berbicara sebentar, dia masuk lagi ke dalam ruangan, meninggalkan Eko dan Harris di luar. Tak lama, IB keluar ruangan lagi. Meskipun wajahnya tenang, CEO Arema mondar-mandir keluar masuk ruangan yang menyaksikan pertemuan para pengurus Yayasan Arema Indonesia.
“Siapa ya, ada urusan apa ke sini?,” ujar IB, bercanda saat menyapa Malang Post di luar ruangan H Rendra. Cuaca hujan yang makin deras, masih mengiringi rapat. IB yang berbincang sesaat dengan Malang Post, menyebut dia tidak tahu menahu soal rapat ini.
“Saya baru datang ke Malang siang ini jam 11-an. Setelah itu, ditelepon ada rapat pengurus yayasan. Saya langsung siap-siap berangkat ke rumdin pak bupati,” tandas IB. Sesaat kemudian, IB masuk ke dalam ruangan dan melanjutkan rapat dengan para pengurus.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, tampak wajah Bambang Winarno Pengawas Yayasan Arema yang terlihat tenang. Begitu juga, Kuasa Ketua Yayasan M Nur, Gunadi Handoko dan Andi Darussalam Tabusala mantan Presdir PT Liga Indonesia.
Sedangkan, H Rendra Kresna sebagai Bendahara Yayasan, sesekali melongok keluar. Matanya memicing dari sudut kacamata, merasakan udara dingin dari hujan deras di luar.  ADT, sapaan akrab Andi di Malang, sempat keluar dari ruang rapat. Dia ingin buang air kecil.
Abdul Harris, memayungi ADT yang ingin ambil waktu sejenak untuk istirahat dari rapat. IB menyebut, M Nur tidak bisa hadir karena sedang berada di Aceh. “Pak Nur berhalangan hadir karena sedang di Aceh. Dia mantu, anaknya menikah. Karena itu, pak Gunadi datang sebagai kuasa pak Nur,” sambungnya.
Lalu, apakah rapat terasa berat dan panas? IB menampiknya. Perselisihan yang digembar-gemborkan terjadi ketika era dualisme, sama sekali tidak terasa dalam ruangan tersebut. Bahkan, mantan Exco PSSI itu menilai pertemuan sore kemarin sangat hangat dan penuh kekeluargaan.
Seiring hujan yang makin reda sekitar pukul 17.30 WIB sore, rapat rekonsiliasi pun usai. “Suasana sangat kekeluargaan. Tidak ada sekat. Semuanya punya semangat sama untuk menjaga eksistensi Arema. Tentu kita bergembira,” tandas IB.
Setelah rapat usai, semua pihak keluar. ADT, Gunadi Handoko, Bambang Winarno dan IB langsung memasuki mobil hitam yang terparkir di samping pendopo. “Setelah ini, saya langsung ke Jakarta. Besok pagi (hari ini) sudah terbang lagi. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di Jakarta,” tutup IB.(fin/han)
comments

Diminati Siswa dan Santri Luar Daerah, Saingi Kampung Inggris Pare

Share
BELAJAR : Siswa siswi SMP Baureno 1 Bojonegoro, asyik menyanyi bahasa Inggris, sebagai bagian dari pembelajaran di kampung Inggris.

Mengunjungi Kampoeng Inggris BRAVO VIEC Bululawang
TIDAK perlu jauh-jauh ke Kampung Inggris di Pare, Kabupaten Kediri, hanya sekadar untuk belajar Bahasa Inggris. Kunjungi saja Kampoeng Inggris BRAVO VIEC di Bululawang Kabupaten Malang. Tepatnya, berada di area Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang, mayoritas siswa dan santrinya, mahir berbahasa Inggris.

Puluhan Siswa-siswi SMP Baureno 1 Bojonegoro, tengah memadati aula di Kampoeng Inggris BRAVO VIEC Malang. Keberadaan mereka di tempat itu selama 12 hari, memang untuk belajar Bahasa Inggris, memanfaatkan waktu liburan. Mereka saling berbicara dalam bahasa Inggris. Gaya bicara mereka, seakan sudah fasih berbahasa Inggris.
Morning conversation (Percakapan pagi) itu berlangsung sekitar tiga puluh menit. Mereka bebas memilih tema obrolan asal tetap menggunakan bahasa Inggris. Malang Post datang bersamaan dengan hari terakhir mereka belajar di tempat itu. Pada siang harinya, diadakan kegiatan perpisahan. Puluhan siswa-siswa itu, harus pulang ke tempat asal, yakni Bojonegoro.
Acara perpisahan berlangsung sangat mengharukan. Para siswa menangis, lantaran berat untuk pulang. Selama 12 hari belajar Bahasa Inggris, dirasa mereka sangat cepat. Tangisan pecah, ketika para tutor dan perwakilan siswa, meyampaikan pesan perpisahan. Karena kedekatan mereka dengan para tutor, membuat tidak ingin berpisah.
Kampoeng Inggris ini rutin diadakan setiap liburan semester dengan kegiatan bermanfaat bagi siswa atau mahasiswa. Bagi anak-anak, belajar sambil bermain dapat meningkatkan motivasi belajar. Agar Bahasa Inggris mudah diingat, metode bernyanyi juga kerap digunakan. Selain itu, Bahasa Inggris juga dipergunakan sebagai percakapan sehari-hari.
 “Materi yang kami berikan, 70 persen merupakan praktikum dan 30 persennya teori. Banyaknya persentase praktek, membuat anak-anak yang belajar di sini tidak bosan,” terang Manajer Kampoeng Inggris BRAVO VIEC Malang Nur Hasyim M.Pd kepada Malang Post.
 Dijelaskannya, tutor asing juga mengajar di Kampoeng Inggris BRAVO VIEC Malang. Yakni Otto Ilmari Hannikainen dari Finlandia. Dipilihnya Otto, karena negaranya mendapatkan predikat pendidikan terbaik dari PBB tahun 2014 lalu. Tutor asing itu, selama 12 hari juga mengajar Siwa-siswi SMP Baureno 1 Bojonegoro.
 “Jadi, kualitas dari Mr Otto ini, tidak perlu diragukan lagi. Karena dia sudah berkompeten untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak di Kampoeng Inggris ini,” terang Direktur Kampoeng Inggris BRAVO VIEC Malang, Dr H Taufiqi SP P.Pd.
Menurutnya, Kaampoeng Inggris ini rutin diadakan setiap liburan semester dari anak sekolahan maupun kuliahan.
 Sedangkan serangkaian  kegiatannya, kata dia, bermanfaat bagi siswa atau mahasiswa. Bagi anak-anak, belajar sambil bermain dapat meningkatkan motivasi belajar. Agar bahasa Inggris mudah diingat, metode bernyanyi juga kerap digunakan. “Orang umum, karyawan perusahaan, instansi pemerintahan, juga bisa belajar di tempat ini,” imbuhnya.
 Melalui porsi praktek yang lebih banyak kata dia, membuat pembelajaran lebih banyak terserap. Selain itu, juga terdapat penambahan ilmu agama yang membuat tempat ini berbeda. Anak-anak pun, dikontrol dalam hal seluruh kegiatannya. Juga sering kali, diadakan kegiatan outbond, yang membuat peserta lebih senang dan ceria.
“Sehingga, melalui kegiatan semacam itu, timbul rasa kedekatan. Sehingga, mereka serasa menyatu dengan tempat ini,” terangnya.
Saat ini, banyak pesertanya berasal dari luar daerah, Diharapkan kedepannya, menarik minat masyarakat Malang Raya, terutama anak-anak sekolah, mahasiswa dan santri untuk datang ke tempat tersebut.
Pasalnya, tidak  perlu jauh-jauh ke Kampung Inggris di Pare, Kabupaten Kediri untuk balajar bahasa Inggris. Melainkan di tempat itu, sudah bisa dirasakan bahkan mendapatkan manfaat yang lebih banyak lagi. (Binar Gumilang/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL