Malang Post

Features


Matali, Sukses Kembangkan Aquascape Hingga 500 Jenis

Share
TAK banyak masyarakat dan petani yang mengembangkan tanaman Aquascape. Salah satunya adalah Matali, Warga Dusun Babaan, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso.Pria berusia 73 tahun ini sukses mengembangkan 500 jenis tanaman aquascape yang dikembangkan sejak tahun 1980. Kini telah diekspor ke berbagai negara di Benua Eropa.

Hamparan tanaman hijau tampak terlihat luas di lahan Dusun Babaan, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso. Membuat suasana di tempat tersebut tampak sejuk. Hamparan tanaman hijau itu, berbeda dari tanaman biasanya. Lantaran media pot yang digunakan sebagai tempat tanaman itu memakai ember plastik.
Di ember tersebut, terdapat air yang masih menggenang. Sedangkan isi dari ember plastik itu adalah tanah basah dan terdapat tanaman hijau berbagai ukuran. Ya itulah tanaman jenis aquascape atau biasa disebut tanaman air. Hamparan tanaman aquacape itu, adalah milik Matali. Tanaman itu dibudidayakan di tempat terbuka dan tertutup.
Untuk di tempat tertutup, menggunakan media jaring. Tujuannya, untuk mengurangi sinar matahari yang mengenai tanaman tersebut. Dari tampak kejauhan, di lahan tersebut terdapat seorang memakai kemeja putih yang sedang mengecek tanaman. Ya, dia adalah Matali, pemilik tanaman aquascape yang di atas lahan lebih dari enam hektare.
“Untuk tanaman aquascape yang ditanam di tempat terbuka, adalah teratai. Sedangkan Melati Air, adalah salah satu tanaman aquascape yang membutuhkan sedikit cahaya,” ujar Matali mengawali pembicaraan.
Sembari asyik mencabuti tanaman aquascape yang siap panen itu, dia terus melanjutkan pembicaraannya dengan wartawan Malang Post. Kali pertama mengembangkan tanaman jenis tersebut pada tahun 1980.
“Saat itu, saya diberi teman sebanyak tiga tangkai tanaman melati air dari Jepang. Kemudian, saya tanam di lahan dekat rumah,” ujarnya.
Melati air yang ia tanam tersebut, mempunyai bunga yang sangat cantik dan berwarna putih bersih.
Karena kecantikan bunga dari tanaman itu, ia mempunyai inisiatif untuk mengembangkannya. Apalagi tanaman itu juga bisa tumbuh di dalam air tawar. Lantaran sebagai hiasan akuarium maupun kolam ikan. Selain itu, tanaman aquascape tersebut dapat membunuh bakteri dan kuman yang mengganggu kesehatan ikan.
“Karena banyak manfaatnya, saya berupaya untuk mengembangkannya. Saya mencoba meyilangkan tanaman aquscape dengan tanaman lokal,” tuturnya.
Hasil penyilangan itu, ternyata sangat memuaskan. Seiring berjalannya waktu, jenis tanaman tersebut berkembang sangat banyak. Total saat ini terdapat 500 tanaman aquascape
Diantaranya Cryptocorine, Bucephalandra, cryptocoryne ideii, dan cryptocoryne pontederiifolia. Tanaman itu dikembangkan melalui penyilangan yang disengaja dan tidak disengaja. Penyilangan yang disengaja, yakni dengan bantuan manusia. Sedangkan penyilangan yang tidak disengaja, lantaran faktor alam.
“Contohnya kupu-kupu yang bermigrasi dari daerah lain menuju tempat ini, juga membawa serbuk bunga. Sehingga, bisa menimbulkan jenis tanaman aquascape yang baru,” kata pria asli Lumajang tersebut.
500 jenis tanaman aquascape itu, selanjutnya dipasarkan ke tingkat basional bahkan benua Eropa. Antara lain seperti Belanda, Jerman, Prancis, Inggris dan Italia. Sedangkan yang paling rutin memesan adalah dari Belanda dan Jerman.
“Sebelum dijual dan dikirim, tanaman ini harus dibersihkan terlebih dahulu. Tanaman jenis Aquascape ini bertahan hingga satu minggu. Sedangkan perjalanannya menggunakan pesawat, maksimal satu hari,” tuturnya.
Berkat keseriusannya menekuni budadaya tanaman Aquascape itu, saat ini memperoleh omset rata-rata Rp 60 juta per bulan. Dia juga dibantu oleh 20 orang karyawannya untuk mengembangkan usahanya tersebut. Selain itu, usahanya tersebut terus berkembang.
“Tentunya saya bersyukur atas kesuksesan usaha ini. Dari awalnya hanya dikasih bibit dari teman saya, sekarang ini malah bisa mengembangkan 500 jenis tanaman aquascape. Saya tidak melupakan jasa teman yang telah memberikan tanaman ini,” tuturnya.
Selain itu, tanaman aquascape yang dikembangkannya itu, ditunjuk satu-satunya oleh Pemkab Malang melalui Dinas Kelautan (DKP) sebagai percontohan pengembangan tanaman aquascape di Kabupaten Malang. (binar gumilang/ary)
comments

Serunya Diskusi Dewa Ruci Lewat Apa Kabar Komik Malang

Share
Ngaji Wayang Teguh berlangsung sejak 29 Agustus hingga 31 Agustus 2015 di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), kemarin. Berbagai kalangan mengapresiasi kegiatan ini. Siswa SMA, warga Eropa, Jepang hingga kalangan budayawan dan akademisi.

Salah satu apresiasidiwujudkan lewat diskusi “Apa Kabar Komik Malang” yang membincang Dewa Ruci. Ya, kisah Dewa Ruci, masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Diskusi itu digelar di pelataran DKM Minggu (30/8) lalu berlangsung hangat. Para budayawan yang hadir bersemangat membincang tokoh komik karya komikus Malang alm Teguh Santosa. Cerita bergambar yang dituangkan Teguh memuaskan hasrat pembaca. Lantas siapakah sebenarnya Dewa Ruci?
Dwi Cahyono, sejarawan dari Universitas Negeri Malang memiliki tafsiran tentang Dewa Ruci. Dewa Ruci adalah langkah awal untuk mengabarkan spiritualitas transformatif yang post-religion. Spiritualitas yang melampaui agama dengan menggunakan kearifan, kesederhanaan, keagungan dan perdamaian tradisi lokal. Hal itu memperkokoh agama untuk dapat “turun ke bumi” dan tidak melayang di atas langit belaka.
“Kisah Dewa Ruci menawarkan kepada kita sebagai sebuah bangsa untuk teguh berani menjadi orang-orang beragama dan sekaligus berbudaya lokal dengan bangga dan gembira,” tegasnya.
Dwi Cahyono menggambarkan Dewa Ruci sebagai perwujudan dari Bima. Bima adalah tokoh yang populer, karena kesaktiannya tak sekadar mampu meluluh lantakkan dunia. Bima juga mampu menyuburkan alam semesta. Bahkan, Bima sangat populer, itu sebabnya jejaknya pun masih dapat ditemui di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur.
“Jejak Bima di Jawa Timur bisa ditemui di Tengger, Wilis, Penanggungan. Bima sangat populer,’’ katanya.
Dwi memang tidak sekadar berucap. Dia juga membawa beberapa buku pendukung, terkait temuannya soal Bima dan perannya, di budaya dan area agraris. Bahkan bisa dikatakan Bima adalah tokohnya para petani. “Bima membantu petani,’’ tambah Dwi.
 “Bima hadir di seni arca. Dari gambaran itu dia dikultuskan sebagai sosok  yang banyak dicintai para petani. Salah satu tokoh itu bisa dilihat di Puncak Semeru,’’ jelasnya.
Dewa Ruci atau Nawa Ruci tidak bisa dilepaskan dengan kehadiran Bima. Sosoknya yang tegas dan memiliki pendirian teguh, Bima hadir di daerah pinggiran. Popularitas cerita Bima, menghadirkan sebuah budaya pinggiran yang apik dan suci.
“Cerita Bima di Nawaruci dapat dilihat di Candi Sukuh. Termasuk di Gunung Lawu, Mitos Bima dengan anaknya. Cerita Bima sangat berkembang, relief Bima ada di Dewaruci, dan tidak hanya bisa ditemukan di Candi Sukuh, tapi juga di Kendali Sodo,’’bebernya.
Diskusi tentang Apa Kabar Komik Malang makin gayeng dengan hadirnya Profesor Djoko Saryono. Malam itu, Djoko memang tidak mengulas soal komik Dewa Ruci. Sebaliknya, dia bercerita tentang kisah wayang dalam komik. Bahkan, dia juga menceritakan pengalamannya saat kecil, di mana menemukan gambar tokoh pewayangan itu pada permainan umbulan.  
“Saya kecil tahun 1970-an. Media saat itu tidak sebanyak sekarang. Permainan -permainan saat itu juga sangat minim. Tahun 70-an permainan paling populer adalah umbulan. Umbulan itu seni visual, komik wayang. Dan saya mengenal wayang dari umbulan,’’ katanya.
Kepada peserta diskusi, Djoko mengatakan cerita bergambar yang ada di umbulan, sebetulnya bisa memberikan efek kecerdasan pada anak-anak. Karena gambar-gambar yang tertera itu dapat merangsang otak kanan. Terkait dengan komik yang semakin surut, itu dikatakan Djoko karena kurangnya kajian tentang komik.
Djoko mengajak komikus untuk lebih aktif dalam penyebaran komik. Bahkan, jika memungkinkan, komik ciptaan komikus, termasuk di perpustaan kota dan perpustakaan kampus.
Selain dihadiri budayawan asal Malang, diskusi Apa Kabar Komik Malang? ini juga dihadiri oleh Prof Jan van der Putten, dari Jerman. Pria ini terlihat asyik dengan bahasan komik yang didiskusikan. Bahkan, dia juga sempat memberikan masukan terkait perkembangan komik.
Sementara Dhany Valiandra, putra dari almarhum komikus Teguh Santosa mengatakan sangat berterima kasih kepada peserta diskusi. Karena diskusi ini sangat bermanfaat. “Ngaji komik wayang Teguh, yang digelar di Dewan Kesenian Malang (DKM) sejak Sabtu (29/8) lalu banyak memberikan masukan. Karena di sini tidak sekadar komik karya bapak saja yang dibahas, tapi juga perkembangan komik di Malang,’’ urainya.
Dhany mengaku sangat puas. Karena kegiatan Ngaji Wayang Teguh sendiri merupakan salah satu amanah dari Teguh Santosa. “Bapak pernah berpesan, agar saya tidak berhenti, tapi meneruskan apa yang menjadi cita-citanya. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan karya ayah karena wasiat almarhum teruskan..teruskan,’’ tandasnya.
Tanggapan masyarakat juga luar biasa. Yang lebih membanggakan lagi siswa sekolah memasukkan pameran Ngaji Wayang Teguh sebagai salah satu jam pelajaran seni budaya. Siswa SMAN 3 Malang mengirimkan banyak siswa untuk mengapresiasi pameran.
“Kami mewakili keluarga besar Komikus Teguh Santosa.menghaturkan terima kasih kepada Dewan Kesenian Malang yang telah menjadi mitra Ngaji Wayang Teguh.Juga kepada masyarakat seni, pelaku seni pewayangan di Kota.Malang.Juga komikus di Malang Raya.Masyarakat umum,dunia pendidikan dan kawan kawan pers. Serta semua komunitas pendukung Ngaji Wayang Teguh,” pesannya.
Kata Dhany, acara ini masih preview menuju Pameran Besar Seni Komik Teguh Santosa, sekaligus even Teguh Santosa komik award. Di even Teguh Santosa Komik Award akan melibatkan para komikus Malang yang berlaga di Marvel Comic Kanada dan karya karyanya. Semuanya akan diadakan di Malang.
Sementara itua Johny Suhermanto, Sekjen Dewan Kesenian Malang mengakui bahwa tanggapan masyarakat lebih dari ekspektasi yang dibayangkan. Ada beberapa kelompok masyarakat, pegiat seni dan akademisi, ternyata bahwa mereka memiliki harapan yang besar terhadap kegiatan semacam Ngaji Wayang Teguh.
“Ya ini karena Ngaji Wayang Teguh berhasil menghadirkan sebentuk kebersamaan dari berbagai disiplin seni,” celetuknya.
Masih menurut Johny Suhermanto, komik Malang, komik Indonesia dapat dikatakan memiliki kesamaan yaitu bahwa wadah untuk berekspresi ternyata kurang tersedia, kalau tidak mau dikatakan tidak tersedia.Sehingga kenapa komikus Indonesia lebih memilih mempublish karyanya ke luar negeri seperti Admira Wijaya, ilustrator komik Hercules.
“Ada kendala kehendak politik dari pemerintah yang kurang memberikan manajemen dan pengelolaan yang baik.Yang memungkinkan tumbuh kembangnya komik termasuk di Malang,” kritiknya. (ira ravika/bagus ary wicaksono)
comments

H Abdul Fatah, Mantan Preman dan Aktivis yang Kini Insyaf

Share
Siapa yang tidak kenal dengan sosok H Abdul Fatah. Mantan aktivis ini, kerap memimpin aksi unjukrasa menyoroti kinerja dan kebijakan pemerintah yang dianggap bertentangan dengan harapan masyarakat. Saat itu, ia tergabung dalam aktivis PMII. Sekarang ia menjadi pejabat penyelenggara undang-undang, sebagai Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, yang harus siap didemo dan bahkan digugat.
 
H Abdul Fatah, adalah anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, sejak tahun 2014 lalu. Ia mendapat tugas sebagai Divisi SDM dan Organisasi. Sebelum menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah, panggilan akrabnya ini ternyata sosok pria yang pernah ditakuti oleh orang.
Saat masih muda, pada tahun 1998 – 2000 lalu, Fatah adalah seorang preman, di tempat tinggalnya Sampang Madura. Kesehariannya, selain membuat masalah, ia juga kerap berkelahi. Namun dengan perkembangan zaman, ia insyaf dan memutuskan untuk hijrah ke Malang pada tahun 2000. Ia menjadi kepala geng ‘LIAR’ (Lelaki Insyaf akan Rayuan Setan).
“Saya ini mantan preman. Dulu saat di Madura, saya pernah menjadi kepala geng,” kata pria kelahiran 2 Maret 1980 ini.
Di Malang, Fatah tinggal di Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang. Ia mulai memikirkan masa depannya. Selain menimba ilmu di perguruan tinggi, ia juga mencari pengalaman hidup. Mulai dari menjadi aktivis PMII, yang selalu melakukan aksi unjukrasa menyoroti kinerja dan kebijakan pemerintah yang dianggap bertentangan dengan harapan masyarakat.
Sampai ia menjadi Ketua Lembaga Kajian Hukum GP Ansor Kabupaten Malang, sampai sekarang ini. Sebelum mewujudkan cita-citanya menjadi pengabdi pada Negara, seperti saat ini sebagai anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah beberapa kali terpilih sebagai Ketua PPK (Panitia Pemilih Kecamatan) di Kecamatan Bululawang.
Mulai dari Ketua PPK saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, Pemilihan Legislative (Pileg) sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2014 lalu. Berbekal pengalaman itulah, pada saat pemilihan anggota Panwaslih Kabupaten Malang pada 2014 lalu, Fatah mencoba keberuntungan untuk mengabdi kepada negara.
Bersama 15 calon anggota Panwaslih Kabupaten Malang, saat itu ia mengikuti serangkaian tes. Mulai dari tes materi untuk dia diambil 12 besar, kemudian mengikuti fit and proper test oleh tim seleksi, untuk diambil 6 besar. Dan kembali mengikuti fit and proper tes oleh Bawaslu Provinsi Jatim untuk diambil 3 besar sebagai anggota Panwaslih Kabupaten Malang.
“Usaha untuk menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang itu, ternyata berhasil. Saya bersama M Wahyudi (Ketua Panwaslih Kabupaten Malang) dan George da Silva (anggota Komisioner) terpilih,” ujarnya.
Ketika terpilih sebagai anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah langsung bekerja sebagai penyelenggara undang-undang. Ia mengawasi setiap tahapan penyelenggaraan pemilu, mulai dari tingkat bawah sampai atas. Selama menjadi pengawas, ia dituntut harus bersikap adil, tidak boleh mengeluarkan kebijakan yang mendiskriminasi calon.
Dua metode sebagai anggota Panwaslih Kabupaten Malang, yaitu preventif dan reprensif harus dipegang betul. Preventif adalah melakukan suatu tindakan atau proses pencegahan dini, untuk meminimalisir adanya pelanggaran. Sedangkan reprensif adalah melakukan penindakan apabila tindakan pelanggaran sudah dilakukan oleh siapapun.
“Saya menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang, ini adalah untuk mencari pengalaman di bidang kepemiluan. Ingin mengawali proses demokrasi yang profesional. Sekaligus untuk mengabdi pada negara dan meningkatkan kualitas pemilu,” tuturnya.
Apakah ada pengalaman menari selama menjadi anggota Panwaslih ? Fatah, mengatakan bahwa banyak intervensi dari beberapa instansi terkait yang memiliki kepeningan.
“Tetapi kami di Panwaslih mampu mengantisipasinya dengan baik. Karena sejak menjadi anggota Panwaslih, saya berubah total. Dulu yang selalu menyoroti kebijakan pemerintah, namun sekarang sebagai penyelenggara undang-undang yang harus siap didemo dan digugat,” paparnya.(agung priyo/ary)
comments

Warga KWB Raih Penghargaan Yayasan Seni Rupa Indonesia

Share
SEDERET penghargaan  bergengsi  berhasil direbut warga Kota Wisata Batu yakni Lintang Pandu Pratiwi dalam bidang menulis,menggambar hingga membaca. Menariknya, alumni Universitas Negeri Malang ini telah berkiprah sejak masih duduk di bangku TK.

Peraih penghargaan dari Yayasan Seni Rupa Indonesia ini sengaja  mengaplikasikan hobinya ke dalam buku cerita dongeng anak klasik Indonesia. Awalnya saya menulis cerita dongeng anak yang di Nusantara, karena terinspirasi dari ibundanya, Widayati Wulandari dan ayahnya Mudjab Wijaya yang sering membelikan majalah Bobo semasa masih Lintang masih TK hingga SD.
“Karena setiap hari ibu menceritakan dogeng sebelum tidur dan sudah menjadi kebiasaan, ketika saya masih berusia 5 tahun menginjak sekolah (TK),” ungkap perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah ini kepada Malang Post.
Dipaparkan bahwa  ia  juga menggemari seni melukis mulai Sekolah Menengah Pertama (SMP), akhirnya dia sering mengikuti lomba melukis tingkat pelajar SMP se Jawa Tengah. “Alhasil saya mendapat juara 2 lomba tingkat propinsi, dengan bangga dia terus semangat bergelut di bidang seni,” terangnya.
Warga  di Jalan Gading Mas Regency, Kavling 20, RT 24 RW 4, Desa Mojorejo, Junrejo, Kota Batu   ini mengaku selalu merasa sangat  nyaman berkarya  dan terus menuangkan inspirasinya dalam hal menulis maupun menggambar.
Selain itu, perempuan yang  mengambil Program Studi Desain Komunikasi Visual ini, menciptakan sebuah karya berbentuk buku dongeng anak klasik Indonesia, yang dilengkapi ilustrasi berdasar alur cerita dongeng anak Indonesia. Dia sendiri yang mengerjakan ilustrasi gambar dongeng tersebut. Tak hanya itu, ia juga menerbitkan 6 buku dongeng cerita anak yang sudah tersebar di toko buku seluruh Indonesia yang sudah berlabel Elex Media Indonesia.
“Saya menulis buku cerita dongeng anak Tahun 2015 ini, supaya cerita dongeng tersebut tidak akan hilang pada anak-anak Indonesia, sehingga bisa diceritakan secara ulang. Apalagi saat ini kemajuan teknologi yang semakin pesat bisa menjadikan anak Indonesia lupa dengan cerita dongeng di nusantara in,” tegasnya.
Buku  bersampul Werkudara dan timun mas ini, didalam isi buku tersebut terdapat 12 cerita legenda-legenda yang terdiri dari berbagai di Indonesia, seperti Malin Kundang, Putri Kandita, Bawang Merah dan Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, Legenda Pesut Mahakam, Semangka Emas, Putri Sedoro Putih, Cindelaras, Joko Tarub dan Tujuh Bidadari, Pan Kasim dan Ular, Timun Mas, dan Si Leungli.
Proses pengerjaan buku ini, kurang lebih tiga bulan dengan 147 halaman. Paling membanggakan di buku ini, yakni mendapat respon dan diapresiasi khusus oleh Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, dan Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan pemerhati anak Seto Mulyadi alias Kak Seto.“Saat beliau hadir dalam kegiatan Konggres Anak Indonesia (KAI) di Kota Batu, beberapa minggu yang lalu,” katanya.
Para tokoh nasional tersebut, langsung memberi respek yang baik dengan membubuhkan tanda tangan dan testimoni di buku tersebut.  Kak Seto menuliskan’Patut dibaca oleh para pendidik untuk didongengkan kembali kepada anak-anak sebagai pembentukan karakter anak di Indonesia’.Kemudian, Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, juga memberi tanda tangan dan menulis pesan dibukunya. ‘Baik dibaca untuk membangun karakter anak’.Selanjutnya, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawangsa juga melakukan hal yang sama, dengan menuliskan, ‘Referensi substantif bagi pengayaan anak di Indonesia’
”Buku ini yang menurut saya punya sejarah dan kebanggaan tersendiri, karena mendapatkan tanda tangan serta testimoni langsung dari ketiga tokoh yang peduli terhadap anak Indonesia,” ujar perempuan hobi membaca majalah fashion ini.
Lebih lanjut dengan ramah dia menuturkan bahwa terkait buku cerita dongeng klasik anak Indonesia ini, pada tahun 2014 lalu dirinya   mengirim ke salah satu penerbit nasional yang sudah ternama. Setelah dikirim bukunya, dalam jangka satu minggu, pihak penerbit sudah mengasih respon yang positif.“Akhirnya buku saya sudah terbit dan sudah bisa untuk dibeli di toko buku yang tersebar di Indonesia,” tambah dia.
Disamping itu, Lintang sekarang ini, sudah mulai menggeluti dunia trend fashion blogger, dengan memperlihatkan hasil baju yang dipakai mix n match sendiri menggunakan gaya vintage yang elegan.“Alhamdulilah, sekarang ini blog saya sudah dibaca oleh para fashion blogger Internasional dari Indonesia sendiri dan Amerika Serikat, seperti Lucie Srbova dan Nancy Zhang. Berharap selain menggeluti dunia ilustrator menulis buku dongeng, bakat baru fashion blogger ini juga memberikan hal yang bermanfaat dan dapat diterapkan di Indonesia,” pungkas Lintang. (imam syafei/nug)
comments

Dipasarkan Sampai Malaysia, Kini Bajakan Sekarung Rp 500 Ribu

Share
Bambang Priadi alias Erost BP komikus Islami berdiskusi dengan Prof Jan Van Der Putten peneliti komik Indonesia, di Gedung DKM beberapa waktu lalu.

Membaca Lagi Masa Kejayaan Komik Islami di Malang

Malang pernah menjadi pusat pembuatan komik bernuansa Islam di Indonesia. Mulai kisah nabi-nabi, sampai cerita surga dan neraka. Komik Islami, dibaca tak hanya sebatas hiburan belaka, tapi juga dijadikan referensi untuk mengetahui nilai-nilai keislaman pada anak-anak. Distribusinya, bahkan tembus pasar internasional, ini menarik minat Prof Jan Van Der Putten, peneliti komik Indonesia.

Masa keemasan para komikus asal Malang ini, terjadi sekitar tahun 1980-an. Selama kurang lebih satu dekade, Malang menjadi sentra pembuatan komik Islami. Sedikitnya, ada 10 komikus Islami yang  menjadi pengkarya komik-komik Islam saat itu. Setelah komik 32 halaman itu selesai dibuat, langsung dikirim ke salah satu penerbitan di Surabaya, dan distribusikan ke toko-toko buku yang tersebar di penjuru Indonesia, bahkan dunia.
Sekali kirim, komik itu bisa dicetak sebanyak 400 ribu eksemplar. Dipasarkan dengan harga Rp 500 sampai Rp 1.000. Dibeli oleh kebanyakan anak-anak, sampai guru-guru sekolah, maupun guru ngaji. Menjadi bahan bacaan ringan bagi orang tua, sampai referensi para guru untuk diajarkan ke murid-muridnya.
Bambang Priadi alias Erost BP (nama pena, Red), merupakan saksi sekaligus lakon sejarah masa keemasan komikus Islam asal Malang.  Komikus ini melahirkan hampir 40 judul komik Islami saat itu, seperti cerita tentang Nabi Muhammad beserta para sahabatnya, Nabi Khidr, sampai komik berjudul Surga dan Neraka. Bambang lah, satu dari sepuluh komikus Islami yang berperan  menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui komik.
Malang Post menemui Bambang di markas Dewan Kesenian Malang (DKM) Jl Majapahit, Klojen, Kota Malang, beberapa hari lalu. Ia tengah berbincang-bincang dengan seorang ilmuwan sastra asal Jerman, Prof Jan Van Der Putten. Posisi Bambang di sana sebagai sumber informasi mengenai komik Islami di Malang, sementara Jan (baca: Ian) menjadi peneliti keberadaan komik Islami asal Malang, tepatnya Kepanjen.
Jan adalah seorang dosen sastra di Hamburg University, Jerman. Jan mulai sering ke Indonesia sejak 1979. Ia berkebangsaan Jerman, namun istrinya merupakan orang Medan.. Ia bersama anak tunggalnya, tinggal di Jerman. Kedatangannya ke Malang bertujuan meneliti keberadaan komik Islami yang konon para komikusnya berada di Malang. Dari perbincangan mereka berdua, banyak hal menarik dari keberadaan komik Islam di Malang terungkap.
Mulai dari karir Bambang di dunia komik Islam. Ia yang saat itu mengajak sejumlah teman senimannya, ditawari untuk jadi komikus Islami oleh salah satu penerbit di Surabaya. Pengalamannya sebagai komikus, serta keadaan finansialnya saat itu, membuat ia tertarik dengan tawaran tersebut. Tawaran itu diterima, diajak pula teman-temannya untuk terlibat ke dalam proyek tersebut.
Pasca dijalankan, ia menghadapi sebuah tantangan. Menggambar komik Islam, dirasa berbeda dengan membuat komik tema lain. Sebab, komik Islami harus didasari dengan referensi yang kuat agar tidak ditentang khalayak banyak. Ini mengharuskan ia untuk belajar, mencari, menambah dan memperkuat wawasannya.
Selama tiga sampai empat hari, rata-rata ia habiskan untuk membuat satu judul. Paling lama, ia bisa menghabiskan waktu selama satu minggu untuk menyelesaikan satu judul. Setiap judul, dibeli oleh penerbit sekitar Rp 50 ribu. Bambang sendiri, pernah membuat komik untuk dua penerbit, yakni penerbit Tamrin dan Balai Buku.
"Dua penerbit itu berada di Surabaya, saat itu, menjadi pusat toko buku religi di Indonesia,"  kata Bambang kepada Malang Post.
Bambang mengaku tak tahu, komik karya tangannya itu tersebar sampai ke mana. Meski begitu, yang ia tahu satu judul komik sekali cetak bisa 400 ribu eksemplar sekaligus. Baginya, itu jumlah yang sangat fantastis. "Bahkan, jumlah pencetakan itu lebih banyak dari pencetakan komik sekarang pada umumnya," kata Jan.
"Tapi saya tidak tahu, ke mana saja komik itu disebar," lanjut Bambang. Sambil menunjukkan komiknya, Bambang kembali menanggapi. "Paling tidak, saya pernah diceritakan oleh kenalan guru ngaji. Ia (guru ngaji) menggunakan komik saya untuk menyampaikan pesan keislaman kepada murid-muridnya," imbuhnya.
Setelah berucap begitu, Bambang melirik Jan, seolah mengisyaratkan kalau Jan tahu distribusi komik Bambang sampai ke mana.  Bambang juga tak tahu jika komiknya muncul dalam versi lain, diduga ada yang edisi bajakan. Ia tidak pernah mendapat informasi dari pihak penerbit.
"Ya, memang. Karena di Surabaya itu penerbitnya selalu menerbitkan dalam jumlah besar. Banyak distributor, ambil buku-buku religi dari sana. Karena saat itu sistem yang gunakan beli lepas, jadi saya tidak tahu sudah sampai ke mana saja. Ternyata kata pak Jan, sudah sampai Malaysia dan Singapura," jelas Bambang.
Terakhir, saat ia menemui pemilik penerbitan, si pemilik penerbitan sudah tidak meneruskan usaha penerbitannya dan beralih menjadi pengusaha rokok. Meski begitu, ia tidak mau menduga-duga, apakah komik itu bajakan atau bukan, yang pasti ia sudah tidak membuat komik Islami.
Bambang berkarir sebagai komikus Islami hanya sampai 1985. Setelah itu, ia beralih menjadi seniman lukis dan kaligrafi. Baru beberapa tahun belakangan ini, ia kembali menggeluti dunia komik. Namun, orientasinya sekarang bukan komersil, melainkan kepuasan batin.
Nah, mengenai laju komik milik Bambang itu, malah diketahui dari Prof Jan Van Der Putten. Jan pernah menemui beberapa komik Bambang di banyak daerah. Tak hanya di Indonesia, bahkan Jan menemui komik Bambang di  Malaysia dan Singapura.
"Awal saya menemukan komik pak Bambang, waktu saya berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya melihat-melihat di sana dan menemukan satu komik pak Bambang," jelas Jan menjawab lirikan Bambang.
"Saya temukan lagi komik itu di Sulawesi, Bima, sampai Tanjung Pinang. Waktu berkunjung ke Malaysia dan Singapura, ternyata saya temukan juga. Kalau begitu, artinya sangat luas," imbuhnya.
Terkait dugaan bahwa komik Bambang dibajak, Jan mengakui pernah melihat komik yang serupa tapi bukan karya asli Bambang. "Sekitar 2010 kemarin saya menemukan judul komik pak Bambang, tapi covernya berbeda. Judul dan isinya sama, saya yakin sekali itu komik pak Bambang," lanjutnya.
Apa artinya ada komik karya Bambang yang edisi bajakan sekarang masih beredar? Jan mengangkat bahunya. "Ya, tidak tahu juga, yang jelas covernya berbeda," ungkap Jan.
Jan mengaku akan terus melanjutkan penelitiannya tentang komik Islami di Malang. Dalam waktu dekat ini, ia bakal sering berkunjung ke Malang, akan menemui sekitar 15-20 komikus lain asal Kepanjen, Malang. "Saya ingin lihat, apa latar belakang komik Islam di Malang muncul, tujuan, serta bagaimana keberadaannya saat itu. Penelitian ini tak akan berhenti," pungkas Jan.
Pertanyaan mengenai komik Bambang yang dibajak, langsung terjawab di Gedung DKM. Ki Jembrong, perupa asal Tegal yang sedari tadi berada satu ruangan dengan Jan dan Bambang tiba-tiba berkata kalau ia baru saja menemukan komik karya Bambang.
"Jadi pak, saya belum lama ini lihat komik bapak (Bambang, Red) dijual. Waktu itu, saya sedang jalan-jalan di Pasar Malam (Rombengan Malam atau Roma) dan saya lihat buku bapak dijejer di antara buku-buku bekas lainnya. Saya tanya ke tukangnya, ini dapat darimana? Tukangnya jawab, kalau ia dapat dari Pasar Senen (Jakarta). Harganya, Rp 500 ribu satu karung!" ujarnya heboh.(muhamad erza wansyah/ary)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL