Batu Agropolitan

Malang Post

Batu Agropolitan

Berita terbaru dan terlengkap  Kota Batu dan sekitarnya

Satu Anak Ditangani Dua Terapis, Siswa Harus Mondok

TERAPI: Salah satu siswa ABK ASD mendapatkan terapi dari dua terapis di Malang Autism Centre (Foto: IRA RAVIKA/MALANG POST)
 

Pimpinan Smartfren Dirikan Sekolah Autis

MOCHAMAD Cahyadi sangat emosional saat memberi sambutan dalam launching Malang Autism Centre (MAC), miliknya. Dia tidak kuasa menahan air matanya, saat menceritakan alasan MAC di Jalan Manggar No 8 Dau, Kabupaten Malang ini berdiri.
”MAC ini berdiri karena anak saya Aldi. Dia adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Autism Spectrum Disorder (ASD),’’ katanya dalam sambutan.
Vice President Region for East Java Bali and Nusa Tenggara at PT Smartfren Telecom menceritakan, anak pertamanya autis diketahui saat berumur 2 tahun 4 bulan. Saat itu Aldi memiliki sifat hyperaktif yang sangat luar biasa. ”Saat itu tidak seperti sekarang, dimana internet bisa dibuka kapan saja. Melihat anak saya yang kondisinya seperti itu, saya pun mencari tahu, dan akhirnya menemukan klinik untuk pengobatannya,’’ katanya.
Upayanya tidak membuahkan hasil. Aldi kecil tetap memiliki sifat hyperaktif. ”Sebagai orang tua, saya memiliki kewajiban untuk membawa dia obat. Keluar dari klinik satu ke klinik lainnya sudah saya lakukan. Bahkan di Jakarta saya juga membawanya ke klinik paling bagus, tapi Aldi tidak menampakkan perkembangan,’’ urainya.
Delapan tahun berjuang, tapi Aldi tidak juga kunjung ada perkembangan. Kondisi inilah yang kemudian membuat Cahyadi bersama istrinya Ayuza Arianti Dewi, membawa Aldi ke Malang.
Dengan menerapkan metode Lovas yang dipelajarinya, saat Aldi mendapatkan terapi di klinik-klinik, Cahyadi merawat sendiri sang buah hatinya. ”Saya pilih Malang, khususnya Jalan Manggar No 8 Dau ini karena udaranya sejuk. Di sini tidak bising, sangat cocok untuk perkembangan anak-anak autis,’’ katanya. Dengan dua terapis dan satu mentor, Cahyadi pun menangani sendiri anaknya.
”Saat itulah ada perkembangan. Dia dapat memahami apa yang saya katakan,’’ katanya.
Perkembangan Aldi pun dikatakan kepada anggota komunitas yang diikutinya. Dan dari saran rekan-rekannya, Cahyadi pun mendirikan MAC. ”Sebetulnya MAC ini sudah ada sejak enam bulan lalu. Tapi baru sekarang ini kami launching,’’ katanya.
MAC, menurut Cahyadi, bukan sekadar tempat penitipan anak autis. Tapi MAC lebih pada tempat anak autis mendapatkan pendidikan. ”Systemnya adalah boarding (mondok/asrama). Jadi semua anak autis yang ke sini, mereka wajib mondok,’’ katanya.
Karena mondok atau tinggal, Cahyadi pun menyediakan kamar untuk siswa. Satu kamar diisi satu orang. Kamar tersebut berisi satu bed, satu lemari, dan satu kipas angin. Di kamar itu digunakan siswa untuk istirahat atau tidur saja.
Sedangkan di lantai dua adalah ruang belajar. Seperti kamar, ruangan untuk siswa belajar pun satu orang satu ruangan. Di ruangan itu, berbagai perlengkapan terapi ada, tidak terkecuali mainan.
”Di sinilah Aldi dan para siswa autis beraktifitas sehari-hari,’’ urainya.
Di MAC, satu siswa autis akan ditangani oleh dua terapis. Masing-masing terapis memiliki standar pendidikan minimal sarjana. Mereka adalah sarjana pendidikan dan sarjana psikologi.
”Terapi pertama yang dilakukan dalam metode Lovas ini adalah diet. Siswa harus diet ketat. Dengan diet tersebut, membuat siswa dapat mengurangi hyperaktif, mereka bisa mengontrol  emosinya,’’ katanya.
Para siswa ini mendapatkan pembelajaran delapan jam sehari. Tapi demikian aktifitas mereka dimulai mulai pukul 05.00-20.00. ”Semuanya ada jadwalnya, mulai bangun tidur, salat subuh, membersihkan tempat tidur hingga mereka tidur lagi. Mereka harus melakukan aktifitas, karena jika tidak mereka akan kembali ke dunianya dan beraktifitas sendiri,’’ tambahnya.
Bukan itu saja, fasilitas lain yang diberikan kepada para siswa adalah, seluruh makanan adalah organik. Tidak terkecuali sabun, pasta gigi dan shampo terbuat dari bahan organik.
”Mereka yang belajar di sini juga diberi pelajaran berkebun. Ini diberikan agar mereka tidak bosan. Termasuk dua gazebo ini dibuat bukan untuk mewah-mewahan, tapi juga menjadi tempat belajar mereka jika bosan belajar di lantai dua,’’ katanya. Selain itu siswa juga diajari untuk berkebun agar tidak bosan.
Karena sistem yang digunakan adalah boarding, maka seluruh siswa harus betul-betul ada di MAC setiap hari. Bahkan untuk kunjungan saja, orang tua hanya bisa mengunjungi sebulan sekali. ”Orang tua bisa mengetahui atau memantau perkembangan anaknya yang sekolah cukup dengan layar ponsel. Karena kami menggunakan sistem CCTV online,’’ tambahnya. Cahyadi mengaku cukup bangga, lantaran beberapa siswa yang sekolah di MAC menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa.
”Intinya, untuk anak autis, peran orang tua sangat diperlukan disini. Orang tua tidak sekadar menitipkan anaknya, tapi harus tahu juga proses dan perkembangannya,’’ urainya.
Di MAC, Cahyadi juga mengatakan ada dua sistem pembelajaran yakni klinik base dan home base. ”Klinik base, orang tua membawa terapi dari sini, sedangkan home base mereka yang datang ke sini,’’tambahnya.
Lalu berapa biaya untuk masuk MAC, Cahyadi mengatakan memang tidak murah. Dia menyebut angka Rp 30 juta untuk uang gedung, dan SPP per bulannya Rp 12 juta. Meskipun tidak murah, tapi Cahyadi menyebut angka itu sangat relevan, dan lebih rendah dibandingkan dengan tempat pembelajaran ABK ASD lainnya. ”SPP Rp 12 juta itu didalamnya sudah tempat boarding, makan tiga kali sehari dengan seluruh bahan makanannya organik, dan pembelajaran,’’ tandasnya. (ira/feb)

Dua Gagal Take off

TIDAK TEPAT: Atlit tidak bisa mendarat tepat di titik death center pada Kejurda di jalibar Kota Batu, kemarin. (Foto: Firman Arief Setyawan/Malang Post)

BATU - Sejumlah atlet paralayang gagal gagal take off dalam Kejurda Paralayang yang berlangsung di jalan lingkar barat (jalibar) Kota Batu, Sabtu (28/5) kemarin. Mereka pun harus mengulang take off untuk bisa mengudara dari lereng Gunung Panderman hingga take off di Jalibar.
Dari pantauan Malang Post, ada dua atlit yang gagal take off. Atlet-atlet tersebut melakukan take off dari lereng Gunung Panderman sebelah selatan. ‘’Atlit   gagal take off disebabkan beberapa hal, antara lain kontrol terhadap parasut kurang, saat take off posisi parasut tidak sejajar diatas kepala, serta lari kurang kencang,” ungkap Ketua Pengcab FASI (Federasi Aerosport Seluruh Indonesia) Kota Batu, Beny Marcell P kepada Malang Post, Sabtu (28/5) kemarin.
Tak hanya itu, beberapa atlit terlihat nyasar dari death center (titik ketepatan mendarat). Death center terletak di lapangan jalibar, bekas sirkuit motorcross, Oro-Oro Ombo, Batu. Mereka malah mendarat ke ladang atau sawah di bawah death center.
Kejurda Paralayang di Kota Batu ini berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu (28/5) kemarin hingga Minggu (29/5) hari ini. Kejurda ini bertajuk Danlanud Abd. Saleh Cup 2016. “Kami bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara menggelar Kejurda ini ini,” tegas Benny.
Benny menjelaskan, ada dua even selama dua hari ini, yakni Danlanud Abd Salaeh dan Kejurda Jatim. Danlanud Cup sifatnya open turnamen oleh Pilot 1 (yunior), Pilot 2 (senior) dan Pilot 3 (senior). Sedangkan Kejurda diikuti atlit-atlit U-21 dari seluruh wilayah Jatim. “Total 41 atlit ikut Danlanud Cup maupun Kejurda,” tegas Benny. (mgc/feb)

Bicarakan Kesejahteraan Dari Sektor Wisata

AKRAB: Peserta Takorna XIV FKPPI nampak akrab bersama Walikota Batu, Eddy Rumpoko, kemarin. (Pemkot Batu for Malang Post)

BATU - Rombongan berbaju doreng coklat terlihat memasuki Museum Angkut and Movie Star Kota Batu, Sabtu (28/5), kemarin. Sekitar 202 personil itu menumpang truk dan bis bertuliskan TNI AL saat memasuki areal parkir objek wisata berlokasi di Jalan Terusan Sultan Agung Kota Batu ini.
Sontak beberapa pengunjung kaget melihat kehadiran rombongan orang-orang berbaju doreng dengan sepatu boots lengkap tanda pengenal di seragamnya. Merela bukanlah anggota TNI AL yang masuk Museum Angkut.  Mereka adalah peserta Takorna (Penataran Kader Tingkat Purna) Angkatan XIV FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri) se-Indonesia. Mereka sedang mengikuti Takorna yang berlangsung di Surabaya hingga 31 Mei nanti.  
“Kami mendapat fasilitas dari Walikota Batu, Bapak Eddy Rumpoko untuk berkunjung ke Museum Angkut dan Jatim Park 1. Sebelunya, kami diterima beliau di Balai Kota Among Tani,” ungkap Dessy Silalahi, Pengurus Pusat GM FKPPI kepada Malang Post, Sabtu (28/5) kemarin.
Dia menjelaskan, sebelum mengunjungi Jatim Park 1 dan Museum Angkut, peserta Takorna diterima Eddy Rumpoko di Balai Kota Among Tani. Mereka banyak membahas banyak hal, salah satunya kesejahteraan warga Kota Batu melalui sektor pariwisata.
“Tadi Walikota juga menyebut kader FKPPI yang diciptakan menjadi pemimpin,” tegas perempuan berkacamata ini.
Kunjungan ke Kota Batu merupakan rangkaian TARKORNA. Tarkorna diselenggarakan di Surabaya mulai 22 hingga 30 Mei di Markas KOBANGDIKAL (Komandao Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut).
Tarkorna diselenggarakan untuk mencetak kader-kader FKPPI sebagai calon pemimpin bangsa, membentuk kader yang mandiri dan berkarakter. Sebagai salah satu contoh kader FKPPI yang menjadi pemimpin adalah Eddy Rumpoko, Walikota Batu. (mgc/feb)

Rebut Medali Emas O2SN

Dhia Larasati (Foto: Firman Arief Setyawan)

SISWI SMA Negeri 2 Kota Batu, Dhia Larasati berhasil menyumbangkan medali emas bagi Kota Batu pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Provinsi Jawa Timur 2016. Melalui cabang tenis meja tunggal putri, Dhia mengalahkan Ajeng dari Kabupaten Blitar dalam final yang berlangsung di Hotel Batu Suki, Kamis (26/5) kemarin.
Sebelum lolos ke final, Dhia mengalahkan atlit Surabaya dengan skor 3-2. Sedangkan di semifinal, Dhia mengandaskan perwakilan Kota Blitar. “Lawan terberat ada dibabak delapan besar, karena saya menghadapi perwakilan Surabaya. Wakil Surabaya memiliki kekuatan yang bagus dan memberikan perlawanan sengit,” ungkap Dhia Larasati kepada Malang Post.
Menuju O2SN ini, dia melakukan persiapan sangat mepet yakni satu bulan. Dia berlatih fisik, teknik dan melatih mental. “Alhamdulillah bisa mendapatkan emas untuk Kota Batu. Paling tidak prestasi ini mengobati kerinduhan Kota Batu yang beberapa tahun belakangan tidak mendapatkan medali,” tegas siswi kelas XII IIS 3 SMA Negeri 2 Batu ini.
Guru Olahraga sekaligus pelatih tenis meja Kota Batu, Sumadi sangat bangga atas keberhasilan muridnya bisa membawa pulang emas. “Ini mengarumkan nama Kota Batu pada gelaran O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur kali ini,” ungkap Sumadi.
Kelebihan Dhia adalah memiliki mental bagus dalam pertandingan. “Dia dapat mudah membaca strategi strategi lawan di samping ketenangan,” tegas guru Olahraga SMA Negeri 2 ini. (mgc/feb)

Kenaikan PBB 300 Persen Ikut Diangkat

KOMPAK: Anggota Kelompok Tani Bangkit Kota Batu berfoto bersama di aula Balai Desa Pandanrejo, kemarin. (Foto Yunindra Malang Post)
 
PAGUYUBAN Kelompok Tani Bangkit mengadakan workshop perpajakan dengan peserta petani Kota Batu, Kamis (26/5) kemarin. Sebelumnya, kelompok tani ini menggelar workshop Hukum Agraria.
“Workshop kedua kali ini membahas masalah perpajakan di kalangan petani. Kegiatan ini juga sosialisasi kepada agen hayati,” ungkap Ketua Paguyuban Kelompok Tani Bangkit, Winardi kepada Malang Post Kamis (26/5), kemarin.
Dalam workshop perpajakan dan pengenalan agen hayati yang diselenggarakan di Aula Balai Desa Pandanrejo, peserta berfoto bersama dengan mengepalkan tangan sebagai simbol kekuatan dan kekeluargaan. Workshop dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Seluruh peserta tampak hidmat dalam menyanyikan lagu kebangsaan tersebut.
Workshop  dibuka Pembina Paguyuban Tani Bangkit Kota Batu, Budi Santoso. Tossi, sapaan akrabnya menjelaskan, acara ini rutin digelar paguyuban petani. Tujuan kegiatan seperti itu adalah memberikan ilmu baru kepada  petani, khususnya anggota paguyuban.
Acara tersebut membahas perpajakan terhadap petani. Hadir Intan Dewayani, petugas Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Kota Batu menjadi pemateri dan mensosialisasikan masalah-masalah perpajakan. “Ini sekaligus memberikan penyuluhan kepada petani mengenai masalah perpajakan. Apalagi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kini naik sekitar 300 persen sehingga memberatkan petani,” ungkap Ketua Paguyuban Kelompok Tani Bangkit, Winardi.
Intan Dewayani menjelaskan, petani tidak usah ketakutan dengan pajak. KPP siap mendampingi petani jika mereka memiliki keluhan-keluhan adanya pajak.
Untuk materi workshop, petani juga diperkenalkan pestisida organik serta penjelasan mengenai pertanian Organik. “Ini bisa memberikan edukasi kepada para petani mengenai pertanian organik sehingga paling tidak ada keseimbangan antara pertanian kimia dan organik. (mgc/feb)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL