Malang Post

You are here: Batu Agropolitan

Batu Agropolitan

Dihibur Hakim Tetap Kecewa Ogah Jualan

Masa HO Dua Hotel Habis Kena Tipiring Bareng 30 PKL
BATU- Sueb, 33 tahun pedagang angsle yang biasa berjualan di Jl Brantas, Kota Batu,  terlihat lemas di hadapan Hakim M Amrullah, SH. Pandangan matanya lesu, mulutnya sempat terkatup begitu mendengar sang hakim menjatuhkan vonis denda Rp100 ribu.
Siang kemarin, bapak tiga orang anak itu memang dihadapkan pada persidangan tipiring yang digelar di Ruang Panderman, Pemkot Batu. Dalam persidangan kemarin dia tidak sendirian, melainkan bersama 30 pedagang kaki lima dan pengusaha yang sama-sama terjaring razia Satpol PP.
Dia pun sempat termenung untuk membayar denda dari hasil jualan minuman angle, yang rata rata per harinya dapat Rp76 ribu. Dari nilai penghasilan tersebut, dia selama ini memang berusaha bertahan lantaran dituntut menghidupi istri dan dua anak.
Dengan penuh kekesalan, Sueb melontarkan kekecewaan kepada Hakim M Amrullah yang memimpin sidang tipiring tersebut. Yakni, tidak akan berjualan angle lagi karena kapok kena razia Satpol PP. Hakim pun berusaha memberikan semangat agar Sueb tak patah arang.
“Ya tetap saja berjualan seperti biasa. Datanglah ke Disperindag cari tahu dimana lokasi berjualan yang tidak dilarang, jangan sampai tidak berjualan,” pesan Amrullah. Namur yang diberi nasehat menggelengkan kepala.
Usai membayar denda, Sueb keluar dengan perasaan kecewa. Diapun  menyesalkan sikap Satpol PP yang langsung merazia, tanpa diawali pemberitahuan. “Semestinya kami diberitahu lebih dulu bolehnya berjualan dimana,” ujar Sueb.
Warga kelurahan Ngaglik, itu tidak mengelak memang berjualan di atas fasilitas umum, yakni trotoar. Hal itu dilakukan karena tidak ada tempat lagi untuk berjualan.
Menariknya, yang diajukan Satpol PP dalam persidangan itu tidak hanya PKL, melainkan sejumlah pengusaha di Kota Batu juga ikut terjaring operasi yustisi. Diantaranya ada Hotel Kusuma Agrowisata dan Hotel Paradise, yang masa ijin HO (Hinder Ordonantie) sudah habis. Selain itu ada beberapa tempat usaha lain, seperti dealer sepeda motor.
Robiq Yunianto, Kepala Satpol PP Kota Batu menjelaskan, operasi yustisi yang dilakukannya untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar. Kebanyakan para pelanggar itu menggunakan fasilitas umum untuk berjualan.
“ Kami harus menegakkan Perda, serta memberikan efek jera kepada semua pelanggar. Kalau ada yang tidak mau berjualan, mereka kan masih punya pekerjaan utama. Seperti Sueb,  menjadi PKL hanyalah pekerjaan sambilan saja,” ujarnya.
Agar tidak ditertibkan lagi oleh Satpol PP, Robiq menyarankan PKL untuk mencari tempat yang diperbolehkan. Bahkan dia menyarankan agar PKL berjualan secara berkelompok dan datang ke kantor Disperindag untuk menanyakan informasi terkait lokasi PKL yang diperbolehkan.
Dalam waktu dekat, tambah Robiq, pihaknya akan melakukan penertiban serupa. Seperti di sekitar kawasan terlarang berjualan sekitar Alun-Alun. “Selama melanggar aturan, tetap akan kami tertibkan,” tegas mantan Ka Humas Pemkot Batu ini.
Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan, dengan sasaran semua kegiatan masyarakat yang melanggar peraturan daerah. Ia membantah bila Satpol PP melakukan tebang pilih, karena razia yang dilaksanakan memang baru fokus pada beberapa kawasan aluas belum menyeluruh. (muh/lyo)

Page 1 of 1539

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »